Fallen
Pair:
Kim Seokjin x Kim Namjoon
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Park Jimin x Min Yoongi
Rate: T (probably)
Genre: Fantasy, Drama, Romance.
Summary:
Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.
Warning:
Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.
.
.
.
.
.
.
.
Part 1: First Meet
"Aku tidak gila."
Seokjin mendesah lelah saat untuk kesekian kalinya dia mencoba menjelaskan pada psikiaternya kalau dia tidak gila. Dia hanya sering mengalami mimpi buruk dan sleepwalking beberapa kali. Yah, itu semacam kebiasaan anak kecilnya yang terus terbawa sampai berusia dewasa.
Psikiaternya menatap mata Seokjin, "Jadi maksudmu kau tidak sengaja membunuh seseorang saat sedang sleepwalking?"
Seokjin mengerang, kasus itu lagi. Kasus aneh yang membuatnya harus terperangkap di terapi kejiwaan selama empat bulan belakangan. "Aku tidak membunuhnya. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa ada di taman saat itu."
Ya, sekitar lima bulan lalu Seokjin mengalami kejadian paling aneh di hidupnya. Dia bermimpi, dia ingat dia bermimpi berjalan keluar dari rumahnya dan ketika dia keluar, dia diserang oleh makhluk aneh dengan wajah yang sangat menyeramkan seperti monster. Tubuh makhluk itu tinggi, mungkin sekitar dua kali tinggi tubuh Seokjin dan kulitnya berwarna hitam kelam, wajahnya dihiasi dua taring yang mencuat keluar lengkap dengan liur yang menetes. Di dalam mimpinya Seokjin berlari cukup jauh untuk menghindar hingga dia tiba di taman dan terjatuh, saat Seokjin nyaris saja ditebas oleh kuku panjang monster itu, sesuatu menolongnya. Seokjin tidak ingat apa yang menolongnya, dia hanya ingat bulu berwarna hitam dan setelahnya Seokjin pingsan di dalam mimpinya.
Ketika dia terbangun keesokkan harinya, Seokjin sedang berbaring di taman dengan sesosok mayat pria berlumuran darah di sekitarnya. Polisi menyelidiki kasus itu dan akhirnya membebaskan Seokjin karena kurangnya bukti. Seokjin tidak membawa senjata dan pria itu mati karena tebasan di lehernya. Dan Seokjin yang mengaku dia melihat kejadian itu dalam mimpinya menimbulkan tanda tanya tambahan dalam kasus aneh itu.
Akhirnya setelah satu bulan penyelidikan polisi memutuskan kasus itu sebagai pembunuhan geng dan Seokjin sebagai seseorang dengan mental terganggu dan harus mendapat perawatan dari psikiater.
Psikiaternya menutup map berisi data Seokjin, "Aku sudah meminta polisi untuk memindahkanmu ke sebuah sekolah khusus untuk anak-anak sepertimu."
Dahi Seokjin berkerut, "Anak-anak sepertiku?"
Psikiaternya mengangguk santai, "Ya, anak-anak bermasalah."
Seokjin terperangah, "Aku tidak bermasalah!" sentaknya. Tuhan, dia bosan dianggap gila hanya karena mengalami mimpi aneh dan déjà vu berulang.
Psikiaternya menggeleng pelan, "Ini keputusanku sebagai doktermu dan orangtuamu sudah setuju. Kau akan segera diantar ke sekolah itu hari ini."
Gila, apa yang diperbuat Seokjin di masa lalu sampai dia harus mengalami ini?
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menggerutu untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang diharapkan dari orangtuanya dengan mengirimkannya ke sebuah sekolah khusus untuk anak-anak bermasalah seperti dirinya. Dia tidak gila, maksudku mana mungkin dia dinyatakan gila ketika dia membunuh seseorang yang jelas-jelas menyerangnya dengan mengayunkan pisau perak aneh.
Terlebih lagi sosok itu bertaring dan sangat mencurigakan. Tapi anehnya polisi justru lebih mementingkan dirinya yang dinyatakan membunuh orang daripada mengidentifikasi pria yang dibunuh Yoongi lebih lanjut.
Yoongi mengacak rambutnya yang berwarna hitam kelam, ibunya terlihat berdiri dengan gugup di sebelahnya. Ayahnya hanya cemberut karena dia pasti kesal anak satu-satunya justru berperilaku seperti ini.
Ibunya berbicara pada seorang petugas wanita paruh baya gemuk yang berada di meja depan. Wanita itu gemuk sekali dengan rambut berwarna kemerahan, bahkan saking gemuknya lehernya sampai memiliki lipatan lemak. Wajahnya gembung seperti roti yang diberi ragi dan kemerahan seperti wajah babi. Yoongi mendengus malas saat wanita itu menatap Yoongi dengan pandangan jijik.
Huh, dia yakin sekali wanita gendut jelek di hadapannya ini selalu menatap murid yang masuk ke sekolah ini dengan pandangan yang sama.
"Anda bisa ke ruang tata usaha untuk mengurus administrasi. Sedangkan anak ini," si wanita gendut menunjuk Yoongi, "Dia bisa langsung masuk ke gedung sekolah untuk mencari asramanya."
Yoongi mendecih, dia menyandang ranselnya lalu menyeret kopernya dan berjalan ke arah pintu otomatis yang berlabelkan 'STUDENTS HOUSE' di atas pintunya yang ditulis di sebuah plang berwarna silver dengan huruf melingkar yang rumit.
Pintu itu terbuka dan Yoongi langsung disambut sebuah meja panjang di sisi kanannya dengan sesuatu seperti ratusan loker di belakang meja itu. Seorang wanita yang kelihatannya masih berusia pertengahan dua puluhan menyapanya dengan senyum tipis.
"Selamat datang di SHIELD, apa ada yang bisa kubantu?" tanya wanita itu ramah.
Yeah, nama sekolah ini SHIELD. Entah apa kepanjangan dari nama sekolah aneh itu karena Yoongi tidak pernah memperhatikan brosur yang diberikan pada ibunya oleh penyidik kepolisian saat itu.
"Aku murid baru." Yoongi berujar malas-malasan.
Sang wanita tersenyum ramah, dia menarik keluar sebuah kertas yang dijepit di clipboard. "Silakan cari namamu di sini."
Yoongi menarik kertas itu dan memeriksa tiap nama yang ada dan menunjuk namanya. "Nah, ini namaku. Nomor 42, di bawah nama.." Yoongi menunduk untuk membaca nama diatas namanya, "Kim Seokjin, dan sebelum nama Jeon Jungkook."
Wanita itu melihat nama yang ditunjuk oleh jemari kurus Yoongi, "Ah, benar." Kemudian dia mengeluarkan sebuah tray plastik berwarna hijau neon dan meletakkannya di atas meja. "Silakan letakkan barang elektronik seperti ponsel, music player, PSP atau alat bermain game lainnya, dan juga benda tajam seperti pisau lipat. Serta benda-benda terlarang seperti narkotika, rokok, dan lainnya."
Yoongi membulatkan matanya, "Apa?"
"Ini peraturan sekolah."
"Bahkan ponsel pun tidak boleh?"
Wanita itu mengangguk dengan senyum santai di wajahnya, "Ya, kalian diberi kewenangan untuk menelepon tiga orang di tiap minggunya. Satu panggilan berdurasi lima menit."
"Kau gila? Ini sekolah atau penjara?!" bentak Yoongi.
"Ini peraturan, Yoongi-ssi.."
Sret
Pintu otomatis yang berada di sebelah tubuh Yoongi terbuka dan masuklah sosok pria dengan tubuh kekar dan rambut berwarna dark blonde. Sang wanita yang berdiri di belakang meja tersenyum, "Ah, selamat datang kembali, Jimin-ssi. Jalan-jalanmu menyenangkan?" sang wanita bertanya ramah sementara dia mengambil tray plastik lainnya untuk Jimin.
Sosok yang bernama Jimin itu mengangguk dan berdiri di sebelah Yoongi. Bahu mereka berdua tidak sengaja bersentuhan dan Yoongi tersentak saat dia merasakan sesuatu seperti sengatan listrik yang mengagetkannya. Yoongi mendongak dan menatap Jimin yang memang sedikit lebih tinggi darinya.
Jimin menatap Yoongi dengan datar dan dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan barang-barangnya dan melemparkannya ke dalam tray plastik lainnya yang berwarna coklat susu.
Yoongi melirik barang berharga yang dilempar Jimin dan dia melihat ponsel, rokok, pemantik, music player lengkap dengan headset, dan terakhir adalah sebuah belati yang dibungkus dengan sarung kulit hewan berwarna coklat muda. Yoongi hanya bisa melihat gagang dari belati itu dan dia melihat bahwa belati itu berwarna silver terang dengan ukiran rumit di bagian gagangnya.
Dahi Yoongi berkerut, dia merasa dia pernah melihat belati itu. Tapi dia benar-benar tidak bisa mengingat dimana dia pernah melihatnya.
Si wanita dibalik meja memeriksa barang yang dilemparkan Jimin dan kelihatannya dia mencocokkannya dengan kertas lainnya kemudian dia mengangguk puas. Si wanita membuka laci dan mengeluarkan sebuah kunci pada Jimin, Yoongi bisa melihat angka 13 menggantung di kunci itu.
"Oke, silahkan kembali ke kamar anda, Jimin-ssi."
Jimin mengangguk, dia menatap Yoongi lagi dan Yoongi bisa melihat bias berwarna keunguan dari matanya dan itu membuat Yoongi tanpa sadar menahan napasnya.
Yoongi sudah hendak mengucapkan sesuatu tapi Jimin berbalik dan berjalan meninggalkan meja panjang itu, dia berdiri di depan pintu otomatis lainnya dan menempelkan ibu jarinya di mesin detektor sidik jari dan pintu otomatis itu terbuka.
"Siapa dia?" tanya Yoongi langsung.
Si wanita mengangkat alisnya, kelihatannya dia agak kaget mendengar nada menggebu dari Yoongi. "Dia murid di sekolah ini juga." Wanita itu mengambil tray berisi barang-barang milik Jimin dan membawanya ke deretan loker di belakangnya. "Selain kewenangan untuk menelepon, kalian juga diizinkan untuk pergi satu kali setiap bulan. Durasinya selama delapan jam."
Yoongi terkesiap, "Apa? Bahkan perjalanan dari desa terdekat dengan tempat ini saja memakan waktu satu jam. Dan itu berarti dua jam perjalanan akan terbuang begitu saja, kan? Dan kalian memberikan waktu untuk keluar hanya delapan jam?!"
Si wanita kembali dari balik deretan loker, dengan senyum masih bersarang di wajahnya. "Ini peraturan. Nah sekarang silakan letakkan barang pribadi anda."
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook berjalan memasuki gedung asrama sekolah barunya dengan langkah ragu. Sekolah ini tidak ada bedanya dengan penjara, Jungkook sudah menyerahkan barang-barang pribadi seperti ponsel dan lainnya saat baru tiba dan sekarang dia harus berjalan mencari kamarnya.
Menurut wanita ramah yang berjaga di pintu depan asrama, karena dia ada di urutan ke-43 maka kamarnya ada di lantai lima dan di depan pintunya terdapat angka 43. Asrama di sekolah ini terdiri dari empat gedung berbeda dimana tiap gedungnya terdiri dari sepuluh lantai dengan sepuluh kamar di tiap lantainya.
Jungkook menempati gedung A, untuk masuk ke gedung A, setelah melewati bagian depan gedung asrama dan menyerahkan barang-barang seperti ponsel dan lainnya, dia harus melewati pintu otomatis yang menggunakan mesin pendeteksi sidik jari.
Saat masuk ke balik pintu itu, dia harus berjalan lurus sekitar 100 meter sampai akhirnya akan tiba di empat pintu berbeda dengan label A, B, C, dan D di atas pintunya. Jungkook harus berjalan menuju pintu A yang dilengkapi dengan mesin pendeteksi sidik jari lagi. Pintu A itu akan membawanya ke sebuah lorong panjang yang dibuat dari kaca hingga akhirnya dia sampai di gedung A, asrama tempatnya berada.
Menurut staff tata usaha yang mengurus tempat ini, gedung A adalah untuk anak-anak yang tidak terlalu bermasalah, sedangkan gedung B untuk anak-anak yang lebih parah dari anak-anak di gedung A dan begitu seterusnya.
Jungkook memperhatikan lorong tempatnya berada sekarang. Dinding dan atap lorong ini terbuat dari kaca keras dan Jungkook bisa melihat halaman penuh rumput di sisi kiri kaca, sedangkan di sisi kanan adalah deretan pepohonan tinggi yang mungkin digunakan sebagai pagar tanaman untuk membatasi lorong A dan B.
Ketika tiba di ujung lorong, Jungkook disambut oleh pintu kaca tebal dengan gagang pintu yang terbuat dari besi. Jungkook mendorong pintu itu dan dia langsung disambut dengan sebuah ruangan luas dengan langit-langit yang tinggi. Ada empat buah set sofa di sisi kiri dan kanan ruangan besar itu dan Jungkook menduga ini adalah ruang tamu untuk orangtua yang datang menjenguk anaknya.
Jungkook menyeret kopernya lebih jauh dan kali ini dia melihat tangga besar yang menuju lantai atas di tengah ruangan luas. Dia menoleh ke arah kiri dan menghembuskan napas lega saat melihat dua buah lift di sana. Kaki Jungkook bergerak dengan semangat menuju lift, dia cuma ingin segera mencari kamarnya dan tidur. Hari ini benar-benar melelahkan karena perjalanan menuju gedung sekolah ini sangat jauh.
Ketika Jungkook tiba di depan pintu lift, pintu itu terbuka dan seseorang keluar dari sana denga cepat dan menabrak Jungkook.
"Ow!" ujar Jungkook dan dia terhuyung ke belakang. Untungnya sosok yang menabraknya berhasil menangkap lengan Jungkook dan membantunya untuk menyeimbangkan posisinya.
"Kau baik-baik saja?"
Jungkook mendongak, suara berat itu terdengar begitu familiar untuknya. Jungkook mendongak dan melihat seorang pria berambut blonde tengah menatapnya, mata pria itu berwarna biru gelap dan Jungkook bisa melihat mata itu mengeluarkan bias warna abu-abu.
"Ya, aku.. baik." Jungkook berujar ling-lung karena dia merasa kepalanya mendadak pusing seolah semua darahnya tersedot ke bawah kakinya.
Pria yang baru saja menabrak Jungkook menahan pintu lift yang hampir menutup dengan tangannya, kemudian dia menarik Jungkook untuk masuk ke dalam lift.
Jungkook yang masih dalam masa trans sama sekali tidak sadar. Namun ketika pintu lift hampir menutup, dia melihat pria di hadapannya tersenyum tipis padanya dan mendadak Jungkook ingat dimana dia pernah mendengar suara pria itu.
'Malaikatku..'
Suara pria itu adalah suara yang selalu datang ke mimpinya!
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin tersenyum puas saat semua barang-barangnya sudah tersusun rapi dalam kamarnya. Kamar barunya di asrama ini tidak terlalu buruk juga walaupun isinya sederhana sekali. Masing-masing kamar hanya berisi sebuah tempat tidur di sisi kiri, jendela di tengah ruangan, dan meja belajar di sisi kanan. Sementara tepat di sebelah pintu masuk adalah lemari dan berseberangan dengan lemari adalah sebuah space kosong untuk meletakkan barang-barang tambahan dan disanalah Seokjin meletakkan boneka Mario Bros kesayangannya.
Seokjin mengusap rambut pink lembutnya dengan jari, membersihkan kamar membuat tubuhnya kotor dan Seokjin perlu mandi. Kamar mandi yang ada di asrama ini merupakan kamar mandi bersama dan terletak di ujung koridor. Seokjin membuka lemarinya dan mengambil handuk serta peralatan mandinya, namun ketika dia akan keluar, dia menyadari kalau jendela kamarnya masih belum tertutup. Seokjin berjalan menuju jendela dan menutupnya.
Langit yang mulai berubah warna menjadi oranye gelap sangat menarik perhatian Seokjin sehingga dia hanya berdiri diam di sana seraya menatap langit. Seokjin masih menatap langit ketika tiba-tiba saja dia melihat satu sosok bersayap yang terbang melintas dengan cepat.
Mata Seokjin membelalak, dia mengusap matanya dan membukanya kembali tapi dia tidak melihat apapun selain langit senja. Dia yakin sekali itu bukan burung karena mana ada burung sebesar itu?
Seokjin ketakutan, bisa gawat kalau dia benar-benar berilusi aneh. Dia sudah menolak obat-obatan yang diberikan psikiaternya karena dia yakin kalau dia tidak gila. Dan sekarang dia justru berhalusinasi melihat sosok yang tidak mungkin ada.
Kaki Seokjin bergerak menuju pintu kamarnya dan membukanya, namun karena terlalu terburu-buru, Seokjin justru menabrak sosok yang berjalan di koridor. Tabrakan itu cukup keras karena Seokjin jatuh terduduk. Erangan pelan keluar dari Seokjin, bokongnya terasa berdenyut nyeri karena terbanting cukup keras ke lantai.
"Kau baik-baik saja?"
Seokjin mendongak, seorang pria berambut abu-abu tengah mengulurkan tangannya padanya dan Seokjin meraih tangan itu. Dahi Seokjin berkerut saat merasakan perasaan hangat yang familiar saat pria di hadapannya menggenggam tangannya.
Rasanya dia pernah menggenggam tangan ini..
Tapi dimana?
'Aku suka berjalan-jalan di taman seperti ini..'
'Ya, Venice memang indah, malaikatku..'
Seokjin mengerjap dengan cepat, kilasan dari mimpinya seminggu lalu masuk ke dalam ingatannya. Saat itu di mimpinya Seokjin sedang berjalan bersama seseorang yang sayangnya tidak bisa dia ingat sosoknya. Tapi Seokjin ingat rasa hangat yang dia rasakan saat sosok itu menggenggam tangannya dan perasaan hangat itu sama persis dengan apa yang Seokjin rasakan saat ini.
"Hei, aku bicara padamu."
Seokjin tersentak, dia menatap mata berwarna abu-abu yang sekilas terlihat mengeluarkan bias cahaya biru itu dengan kaget. "Maaf, aku baik-baik saja."
Si pria melepaskan tangannya dan jemari Seokjin bergerak secara refleks untuk mengejar tangan itu yang untungnya berhasil dihentikan oleh akal sehat Seokjin.
Seokjin memperhatikan pria itu berbalik dan ketika Seokjin memperhatikan punggungnya, Seokjin merasa suatu perasaan familiar kembali merasuk ke dalam tubuhnya. Dia merasa kenal dengan bentuk tubuh itu, bahkan rasanya Seokjin bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya jika lengan kekar itu memeluknya.
Lintasan pikiran itu menyentakkan Seokjin dan dia menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya. Dia menatap pria berambut abu-abu yang semakin menjauh dan lidah Seokjin terasa gatal untuk bertanya.
"Hei!" seru Seokjin.
Si pria berambut abu-abu berbalik dan menatap Seokjin.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Seokjin langsung.
Si pria berambut abu-abu terdiam cukup lama sampai akhirnya dia menggeleng, "Tidak, kita tidak pernah bertemu."
Seokjin terdiam, dia kehilangan kata-kata dan tidak bereaksi apa-apa saat si pria berambut abu-abu berbalik dan kembali berjalan menyusuri koridor.
Tidak pernah bertemu?
Benarkah?
To Be Continued
.
.
.
.
.
.
.
Delapan puluh review untuk prolog!
You guys rock! Hahaha
.
.
Dan sesuai dengan suara terbanyak, akhirnya fanfiksi ini diputuskan sebagai fanfiksi BL. Votenya beda tipis sih, tapi setelah aku hitung yang vote BL lebih banyak daripada GS. So, kuharap tidak ada yang keberatan. Hehehe XD
Btw, yang kemarin berhasil menebak dengan benar soal urutan narasi prolog itu cuma satu orang. Hahaha
Urutannya itu MinYoon, NamJin, sama VKook. Hahaha XD
.
.
.
Aku ingin sekali menggambarkan denah gedung asrama dan denah kamar dengan lebih detail. Tapi sayangnya di ffn tidak bisa memasukkan gambar dalam cerita. Huft
Kira-kira kalau hanya berdasarkan penjelasan narasi, kalian sudah terbayang atau belum sama gedungnya?
.
.
Btw, kalian yang sudah lama baca fanfiksiku pasti tahu lah ya kalau aku memang tidak pernah menulis satu chapter lebih dari 3k+. hehehe
Jadi jika kalian minta ini dipanjangin ya aku tak sanggup. Hahahaha
.
Terima kasih atas respon positifnya!
Maaf tidak bisa menyebutkan nama kalian satu-persatu, tapi aku tahu siapa yang sering muncul di kolom review dan siapa para pembaca baru kok. Hehehe
Love ya!
.
.
.
Do not forget to leave some review, pleasee~
