Fallen

Pair:

Kim Seokjin x Kim Namjoon

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Park Jimin x Min Yoongi

Rate: T (probably)

Genre: Fantasy, Drama, Romance.

Summary:

Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.

Warning:

Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.

.

.

.

.

.

.

.

Part 2: Déjà vu?

Jungkook memainkan botol obat anti-depresan yang ada di meja belajarnya. Dia sudah memutuskan untuk membohongi orangtuanya dan berhenti mengkonsumsi obat anti-depresan itu sejak satu bulan lalu. Jungkook tidak merasa kejiwaannya terganggu jadi untuk apa dia mengkonsumsi obat yang dapat membuat ketergantungan itu?

Keputusan untuk dikirim ke sekolah semacam ini juga berdasarkan keinginannya sendiri. Jungkook tidak tahan melihat ibunya yang semakin hari semakin mengurus karena memikirkan kondisi kejiwaan Jungkook.

Yah, sebenarnya Jungkook hanya sering mimpi buruk, tapi mimpinya selalu sama dan terasa begitu nyata.

Jungkook mati,

Di dalam mimpinya,

Berkali-kali..

Cara kematiannya selalu berbeda, kadang dia mati karena sakit, kadang karena kecelakaan, dan kadang karena seseorang membunuhnya. Dan belum lama ini Jungkook mimpi dia mati karena sakit dalam pelukan seseorang yang tidak dia kenal. Mimpi ini terasa sangat nyata bahkan saat Jungkook terbangun dia melihat banyak bercak darah di kasurnya dan juga di bibirnya.

Jungkook muntah darah karena mimpinya.

Karena itulah ibunya menjadi panik, Jungkook adalah putra satu-satunya dan satu-satunya keluarga ibunya yang tersisa. Ayah Jungkook sudah meninggal karena kecelakaan kerja dan seluruh keluarga ibunya berada sangat jauh dari mereka.

Mulanya ibu Jungkook membawanya ke dokter, psikiater dan psikolog yang memberinya banyak terapi namun mimpi buruk Jungkook tidak juga pergi. Akhirnya dokter menyerah mengobati Jungkook dan Jungkook sendiri yang menyarankan untuk memasukkannya ke sekolah ini.

Sekolah ini dibiayai oleh pemerintah dan Jungkook tidak akan menyulitkan ibunya untuk membayar biaya konsultasi dan terapi psikiater yang mahal. Dokternya memang tidak yakin dengan memasukkan Jungkook ke sini akan menyembuhkan Jungkook. Tapi karena Jungkook sendiri yang memohon padanya, akhirnya pskiaternya setuju.

Mulanya Jungkook yakin mimpi buruknya hanya sekedar bunga tidur semata, tapi ketika dia bertemu sosok asing di lift tadi, Jungkook mulai meragukan kalau semuanya adalah mimpi.

Karena jika itu hanya sekedar bunga tidur, bagaimana mungkin suara dari mimpinya bisa dimiliki oleh pria tadi?

Kriiinggg

Jungkook tersentak kaget mendengar suara bell keras di kamarnya. Dia melirik jam dinding dan menghela napas lega saat ternyata bell itu hanya menandakan waktu makan malam sudah tiba. Sekolah ini memang selalu membunyikan bell untuk saat-saat tertentu seperti bangun pagi, sarapan, makan siang, makan malam, dan juga waktu tidur.

Jungkook berdiri dari meja belajarnya kemudian meraih jaket dan membuka pintu kamarnya.

"Fuck! Bell sialan itu benar-benar bisa membuatku tuli!"

Jungkook menoleh saat mendengar umpatan dan dia melihat penghuni kamar di sebelahnya sedang mengacak rambutnya seraya mengunci kamarnya. Jungkook mengerjap, umpatan yang keluar barusan sangat tidak cocok untuk wajah pemuda di sampingnya. Karena wajahnya manis sekali, dengan kulit putih pucat dan rambut hitam kelam, serta mata sipit dan bibir tipis berwarna kemerahan.

Sosok yang sejak tadi diperhatikan Jungkook menoleh ke arah Jungkook. "Kau juga murid di sini?"

Jungkook mengangguk ragu-ragu kemudian mengulurkan tangannya, "Aku Jungkook."

Si pemuda berkulit pucat menyambut tangannya, "Yoongi," ucapnya singkat kemudian dia mengacak rambutnya lagi. "Sialan, tadi aku sedang tidur saat bell sialan itu berbunyi dan membuatku terbangun dengan keras."

Jungkook tersenyum, "Bellnya memang keras sih. Katanya juga ada bell untuk bangun pagi dan waktu tidur kan?"

Yoongi mengangguk, "Yeah, sekolah ini benar-benar seperti penjara."

"Uhm, permisi. Tapi kalian menghalangi jalan.."

Suara lembut itu membuat Yoongi dan Jungkook menoleh dan mereka melihat pemuda berambut pink lembut sedang menatap mereka dengan senyum ragu-ragu.

"Hai, tapi bisakah aku lewat?" ujar pemuda itu.

Yoongi bergeser sedikit, "Kau juga murid di sini?"

Si pemuda mengangguk, "Ya, aku baru masuk hari ini."

Yoongi mengangkat sebelah alisnya, "Hebat, aku juga."

Jungkook membulatkan matanya, "Aku juga!"

Si pemuda berambut pink tersenyum lebar, "Sungguh? Tadinya aku sudah khawatir aku akan dibully karena menjadi murid baru. Namaku Seokjin."

"Yoongi,"

"Jungkook,"

Seokjin tersenyum lebar, kemudian perlahan-lahan senyumnya luntur. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Yoongi mengangkat sebelah alisnya, "Tadinya kupikir aku saja yang merasa seperti itu."

Jungkook mengangguk, "Aku juga. Apa kita pernah berpapasan di suatu tempat?"

Yoongi terkekeh, "Kalau kalian pernah beberapa kali masuk kantor polisi Seoul maka aku ada di sana."

"Aku pernah ditahan saat masa penyelidikan, tapi itu bukan di Seoul." Seokjin menyahut.

"Aku tidak pernah masuk kantor polisi. Mungkin kita pernah bertemu di dalam rumah sakit? Aku pasien terapi kejiwaan untuk beberapa bulan." Jungkook berujar jujur.

"Aku juga pasien terapi itu, tapi aku dimasukkan ke rumah sakit polisi." Seokjin berujar dengan dahi berkerut, kelihatannya berusaha mengingat apakah dia pernah bertemu Jungkook di sana.

Jungkook menggeleng, "Aku tidak dirawat di sana."

Yoongi menggeleng pelan, "Aku bukan pasien kejiwaan."

"Jadi, dimana kita pernah bertemu?" tanya Seokjin, "Aku sangat yakin wajah kalian familiar."

Yoongi mengangkat bahunya acuh kemudian merangkul Seokjin dan Jungkook, "Nah, tiga pemuda gila merasa pernah bertemu. Mungkin saja ini semacam takdir gila diantara sekian hal aneh yang terjadi dalam mimpiku."

"Yeah, mungkin kita pernah bertemu saat aku sleepwalking."

"Hmm, bisa jadi. Aku kurang ingat isi mimpi burukku. Mungkin disana aku bertemu kalian." ujar Jungkook kemudian dia terkikik pelan.

.

.

.

.

.

.

.

"Kalian sudah bertemu dengannya?" ujar pemuda berambut abu-abu pada pemuda berambut dark blonde dan blonde di hadapannya.

Si pemuda berambut blonde mengangguk, "Ya, dan kurasa dia mengenaliku. Aku melihat matanya membulat lucu saat bertatapan denganku tadi."

"Aku juga, dia menatapku dalam-dalam. Aku gugup sekali sampai aku nyaris saja menjatuhkan kunciku tadi." Si pemuda berambut dark blonde menghela napas pelan, "Dan karena itu aku justru membiarkannya melihat pisau malaikat miliknya. Aku bisa melihat dahinya berkerut ketika melihat pisau malaikatnya. Aku yakin dia mengenali benda itu."

"Tapi.. tidak biasanya ini terjadi, kan? Biasanya mereka akan melupakan kita dan kita akan memulai segalanya dari awal. Kita menunggu lima puluh tahun untuk kelahiran mereka saat ini. Bahkan aku sudah merasa mati menunggunya kembali." Si pemuda berambut abu-abu meremas rambutnya frustasi.

"Aku tahu, Namjoon. Aku juga merasakannya, kita terjebak di bumi untuk menunggu mereka. Kita tidak bisa kembali ke dunia bawah dan kita juga merana di bumi. Aku tidak tahu hal apa yang lebih berat dari ini." si pemuda berambut dark blonde menghela napas pelan, "Lalu apa tindakan kita sekarang? Aku tidak bisa membunuh Yoongiku untuk yang kesekian kalinya."

"Kau pikir aku tidak? Aku tidak mau Jungkook mati lagi. Aku menunggu lima puluh tahun hanya untuk melihatnya. Aku tidak bisa menunggu lima puluh tahun lagi hanya untuk menatap matanya."

Namjoon, si pemuda berambut abu-abu, menghela napas keras. "Seokjinku akan terbakar tiap kali kami bersentuhan. Dan aku sendiri selalu lapar akan dirinya, tadi saja saat aku membantunya berdiri, aku benar-benar merasakan perasaan kuat untuk merengkuhnya saat itu juga. Aku selalu kelaparan akan Seokjin tapi dia akan terbakar tiap kali aku menyentuhnya lebih jauh."

"Apakah sebaiknya kita terus berpura-pura tidak mengenali mereka?" tanya si pemuda berambut dark blonde.

"Aku tidak tahu, Jimin." sahut Namjoon, seraya menatap si pemuda berambut dark blonde. "Aku tidak tahu apa aku bisa berjauhan dengan Seokjin."

"Aku juga tidak, tapi aku lebih penasaran pada apa yang menyebabkan Jungkook berada di sini." ujar si pemuda berambut blonde.

"Entahlah, Taehyung. Aku juga merasa aneh, kita bertiga dimasukkan ke sini karena kesalahan kita sendiri yang mengacau di dunia manusia. Tapi kenapa mereka juga bisa ada di sini?" ujar Jimin.

Namjoon tertawa miris, "Apakah ini semacam hukuman baru dari Tuhan untuk kita? Apa semua siklus menyakitkan yang kita lewati itu belum cukup untuk hukuman?"

.

.

.

.

.

.

.

Kelas pertama Yoongi adalah kelas biologi. Dia, Seokjin dan Jungkook mendapat jadwal kelas yang berbeda dan mereka hanya bisa bertemu saat jam makan dan waktu senggang setelah sekolah. Sekolah untuk penghuni asrama gedung A berada di belakang gedung A itu sendiri.

Berdasarkan keterangan Jungkook dan Seokjin (yang diterima dengan baik oleh staff tata usaha, berbeda dengan Yoongi), sekolah ini memang terbagi menjadi empat bagian yang disimbolkan dengan A, B, C, dan D. Di bagian A, ada satu gedung asrama, satu gedung sekolah, satu gymnasium, satu gedung serbaguna, dan satu taman yang luas.

Di dalam gedung asrama, lantai berisi kamar para siswa dimulai dari lantai dua. Sedangkan lantai satu berisi kantin bersama, perpustakaan, ruang depan sekaligus ruang kunjungan orangtua, lalu teras dan gazebo di halaman samping asrama.

Dari gedung asrama menuju gedung sekolah, mereka harus keluar dari pintu belakang asrama dan berjalan sekitar 300 meter di lorong yang terbuat dari tanaman rambat hingga sampai di gerbang besi berwarna hitam yang merupakan gerbang menuju gedung sekolah. Gedung sekolah mereka terdiri dari lima lantai dengan berbagai kelas di dalamnya.

Untuk olahraga dan sebagainya, mereka akan melakukannya di gymnasium yang isinya sangat lengkap mulai dari lapangan indoor dan track field untuk berlari, gym biasa, kolam renang, ruang senam, ruang dance, dan lainnya. Sedangkan taman milik bersama berada di halaman belakang gedung sekolah dan gymnasium berada di sisi kiri sekolah.

Di sisi kanan sekolah merupakan hutan besar yang sebenarnya terlarang untuk siswa karena hutan itu sangat lebat dan rumit. Lagipula hutan itu merupakan satu-satunya penghubung antara wilayah A, B, C, dan D. Wilayah A hanya berisi beberapa anak nakal pembuat kejahatan kecil seperti pecandu, mereka yang memiliki kondisi kejiwaan tidak stabil, dan juga pencuri. Sedangkan gedung B berisi pembunuh, pengedar narkoba, dan mereka yang setingkat dengan mereka. Lalu di gedung C adalah anak mafia, gangster jalanan, dan juga pembunuh sadis, sedangkan di gedung D adalah untuk serial killer, psikopat, dan juga lainnya.

Seokjin dan Yoongi dimasukkan ke dalam gedung A adalah karena mereka dianggap memiliki gangguan kejiwaan. Dan ketika mendengarkan cerita Jungkook soal isi sekolah ini secara keseluruhan, Seokjin sangat bersyukur dia dimasukkan ke gedung A. Sedangkan Yoongi terlihat tidak peduli.

Yoongi membuka pintu ruang kelas biologinya, karena ini kelas biologi, maka pelajaran dilakukan di lab biologi. Yoongi bisa melihat semacam tanaman dalam pot yang diletakkan dalam kotak kaca di pojok ruangan, sebuah rak berisi banyak sekali tanaman kecil di sisi kiri, lalu rak berisi bola dan kotak kaca berisi bagian tubuh binatang yang diawetkan di sisi kanan, papan tulis putih bersih di depan kelas, meja guru, lemari penuh buku di sebelah meja guru, dan juga dua baris meja panjang berwarna putih lengkap dengan mikroskop. Yoongi menempati kursi kedua di baris kedua yang bersebelahan dengan jendela. Tiap meja dikhususkan untuk dua orang dan itu berarti kelas ini hanya berisi dua puluh orang karena Yoongi hanya melihat sepuluh meja di sini.

Kelas Yoongi akan dimulai sepuluh menit lagi dan murid-murid pengisi kelas ini mulai berdatangan. Yoongi menopang dagunya dengan wajah bosan, dia tidak pernah suka sekolah.

Waktu berlalu dan kelas semakin penuh, tapi masih belum ada yang menempati kursi di sebelah Yoongi. Yoongi melirik arlojinya dan kelas akan dimulai dua menit lagi. Yoongi membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kemudian dia mendengar suara pintu kelas yang dibuka.

Tadinya Yoongi yakin itu adalah gurunya, namun dia tersentak saat melihat sosok berambut dark blonde masuk ke kelas. Mata pemuda itu mengitari seisi kelas dan dia terlihat terkejut saat melihat Yoongi, apalagi saat melihat bahwa satu-satunya kursi kosong yang tersisa adalah di sebelah Yoongi.

Yoongi memalingkan pandangannya ke depan saat pemuda itu berjalan menuju mejanya dan duduk di sebelahnya. Dia mengeluarkan buku dari dalam ranselnya, mengusap rambutnya ke belakang, lalu menopang dagunya dengan pandangan kosong ke depan.

Yoongi menggigit bibirnya ragu, tapi akhirnya dia membuka bibirnya. "Hai," sapanya.

Si pemuda berambut dark blonde menoleh dan menatap Yoongi.

Dan sumpah demi apapun, Yoongi pernah melihat mata itu sebelumnya. Yoongi yakin, sangat yakin.

"A-aku Yoongi.."

Yoongi mengulurkan tangannya, ada jeda cukup lama sampai si pemuda berambut dark blonde menyambut uluran tangannya.

"Aku Jimin," sahutnya datar kemudian dia kembali melepaskan tangannya dari tangan Yoongi.

Yoongi mengangguk kecil dan kembali menatap ke depan karena gurunya sudah masuk ke dalam kelas.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kelas pertama Seokjin adalah kelas olahraga dan Seokjin benci olahraga. Dia adalah anak introvert yang lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, Seokjin jarang keluar untuk bermain karena semua anak akan mengejeknya gila karena kebiasaan sleepwalkingnya.

Pagi ini dia sudah berada di dalam gymnasium tepatnya di track field. Seokjin duduk di pinggir lapangan dalam ruangan itu dengan kedua kaki tertekuk dan bibir yang cemberut. Seokjin benci olahraga dan karena sekolah ini tidak menentukan seragam, maka sekarang Seokjin hanya memakai celana training warna biru gelap bergaris putih di sisinya, dengan sebuah hoodie besar berwarna abu-abu.

Beberapa anak di kelasnya sudah mulai bersiap untuk berlari dan katanya test hari ini adalah sprint sejauh 300 meter untuk pria dan 200 meter untuk wanita. Seokjin memperhatikan mereka yang sedang melakukan pemanasan, Seokjin murid baru jadi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan karena dia tidak mengenal mereka yang sekelas dengannya.

Tapi Seokjin melihat dia lagi.

Si pemuda berambut abu-abu yang kemarin tidak sengaja bertabrakkan dengannya. Kali ini dia memakai sebuah kaus tanpa lengan berwarna biru dan sebuah celana pendek hitam. Rambutnya ditata berantakan diatas kepalanya. Dan dia beberapa kali mengacaknya dengan jemari panjangnya.

"Kim Namjoon!"

Suara pelatih olahraga mereka membuyarkan lamunan Seokjin dan dia melihat si pemuda berambut abu-abu berdiri dan berjalan ke arah garis start.

Ah, jadi namanya Kim Namjoon?

Pelatih memberi aba-aba dan setelah peluit dibunyikan, Namjoon mulai berlari. Seokjin terkesima melihat betapa cepatnya pemuda itu berlari. Seokjin menganga kagum dan kemudian dia mengerjap cepat saat dia merasa seolah melihat sayap besar di belakang tubuh Namjoon. Seokjin menggosok matanya dan kembali menatap Namjoon, dia bersumpah dia sekilas melihat sayap besar berwarna hitam di punggung Namjoon.

Suara peluit yang keras menyentakkan Seokjin dan ternyata Namjoon sudah menyelesaikan larinya. Dia berdiri di dekat garis finish tanpa terengah sedikitpun, dia hanya mengangguk pada pelatih yang mengacungkan jempol padanya kemudian duduk di pinggir track field.

"Kim Seokjin!"

Seokjin nyaris saja terlonjak saat pelatih meneriakkan namanya dengan keras. Dia berjalan dengan gugup menuju garis start dan pandangan semua anak mengarah padanya, termasuk Kim Namjoon. Pelatih memberikan aba-aba dan peluit itu berbunyi bahkan sebelum Seokjin siap. Seokjin berlari dengan canggung dan dia berusaha sekuat tenaga mengayunkan kakinya, kemudian matanya tidak sengaja melihat Namjoon dan dia kembali melihat sayap itu di belakang tubuh Namjoon.

Seokjin kehilangan fokusnya dan sebelum dia sempat memproses, Seokjin sudah terjatuh dan dia mendengar bunyi 'krak!' yang berasal dari pergelangan kakinya.

"Akh!" jerit Seokjin. Tubuhnya terbanting cukup keras di track field. Seokjin meringis kesakitan dan memegangi pergelangan kakinya.

Pelatihnya segera berlari ke arah Seokjin dan memapahnya berdiri.

"Ck, bodoh. Apa yang ada di otakmu?!" bentak pelatihnya.

Seokjin menunduk dan menggumamkan permintaan maaf, pelatihnya menyuruhnya untuk pergi ke klinik tanpa membantunya sedikitpun. Seokjin menunduk dalam dan berjalan dengan terseok, pergelangan kakinya terasa sangat sakit tiap kali menyentuh lantai dan Seokjin menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.

Seokjin mengangkat kepalanya dan dia melihat Namjoon berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan mengepal kuat, pandangan mata pria itu terlihat marah dan Seokjin tidak mengerti kenapa. Seokjin melihat Namjoon menatap pelatih mereka dengan pandangan membunuh kemudian keluar dari ruangan itu seraya membanting pintu dengan keras.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menggerutu pelan dengan kedua tangan yang memeluk setumpuk buku tebal. Kelas pertamanya adalah sastra dan belum apa-apa gurunya sudah meminta kelas mereka untuk mencari sajak sastra dari berbagai bahasa sebanyak mungkin.

Karena itu di hari pertamanya sekolah Jungkook harus merelakan waktu istirahatnya yang berharga untuk mengunjungi ruangan membosankan semacam perpustakaan demi tugasnya. Jungkook menarik buku tebal lainnya dan dia tertegun saat melihat pemuda yang kemarin ditemuinya di lift berdiri berseberangan dengannya.

Pemuda itu tengah membaca buku dan ketika Jungkook melirik covernya dia menyadari kalau pemuda itu membaca sebuah cerita tentang malaikat. Jungkook terdiam dan tanpa sadar dia terpaku di sana seraya menatap pemuda itu.

Dia melihat bagaimana mata itu terfokus pada lembaran buku, rambut blondenya yang bergerak perlahan tertiup udara dari pendingin ruangan, dan bagaimana wajahnya bersinar karena cahaya yang berasal dari jendela di belakang tubuhnya. Jungkook memperhatikan cahaya yang jatuh ke arahnya dan partikel debu yang beterbangan di sekitarnya.

Dan dahi Jungkook berkerut saat dia menyadari sesuatu yang aneh, partikel debu itu tidak beterbangan di wilayah sekitar punggung pemuda itu. Seolah ada sesuatu disana yang menghalangi partikel debu untuk jatuh ke belakangnya.

"Apa yang kau lihat?"

Jungkook mengeluarkan pekikan terkejut dan semua buku yang dipeluknya jatuh begitu saja. Jungkook berjongkok dan bergegas membereskan bukunya dengan panik. Saat dia sibuk menyusun bukunya, sepasang tangan ikut membantunya membereskan bukunya dan saat Jungkook mendongak, dia melihat pemuda tadi sedang ikut berjongkok dan membantu membereskan bukunya.

"Te-terima kasih.." lirih Jungkook.

Si pemuda mengangguk dan menumpuk buku yang dia bereskan diatas buku yang dibereskan Jungkook. Jungkook mengulum senyumnya, "Aku Jungkook."

Si pemuda mendongak dan menatap Jungkook yang tersenyum padanya.

"Taehyung," sahut pemuda itu datar.

Jungkook mengulurkan tangannya dengan senyum kekanakkan khasnya. Namun sebelum Taehyung menyambut tangannya, Jungkook merasa kepalanya mendadak pusing. Dia memegangi kepalanya dan mengerang pelan, dia menunduk dan merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya dan menetes di cover buku yang berada di bawahnya.

Itu darah.

Jungkook menutup hidungnya dengan telapak tangan sementara Taehyung hanya menatapnya dalam diam. Seandainya saja Jungkook memperhatikan, maka dia akan melihat wajah Taehyung yang menatapnya dengan sedih.

Sebuah saputangan disodorkan pada Jungkook, "Cepat periksa dirimu ke ruang kesehatan."

Jungkook mengangguk, dia menggunakan saputangan itu untuk menutup hidungnya dan tertegun saat menghirup aroma familiar dari saputangan itu.

Jungkook sangat mengenal aroma ini..

Tapi.. dimana?

Dan kenapa dia mendadak mimisan padahal dia tidak sedang demam atau sakit lainnya?

To Be Continued

.

.

.

.

.

So, sudah terjawab kan soal alasan kenapa ketiga malaikat jatuh kita ada di sekolah itu?

Dan sebenarnya ketiga iblisnya tidak lupa, mereka cuma takut malaikat jatuhnya mati lagi.

Begituuu~

.

.

.

Semoga ini menjawab pertanyaan-pertanyaan di part kemarin ya. huehehe

Love yaa /hug

.

.

.

Do not forget to review, pleasee :3