Fallen
Pair:
Kim Seokjin x Kim Namjoon
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Park Jimin x Min Yoongi
Rate: T (probably)
Genre: Fantasy, Drama, Romance.
Summary:
Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.
Warning:
Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.
Notes:
And for my dear guest 'Book addicts' and 'Basher', that said this one copied Fallen by Lauren Kate. It is not true.
Plagiat itu kalau samanya sampai 90-100%. Sama persis.
Dan aku juga sudah mencantumkan ini terinspirasi dari novel itu di warningnya, mas/mba. Lucu deh kalian suka main asal sebut aja. Aku udah tulis di warning terinspirasi dari FALLEN BY LAUREN KATE, makanya dibaca dulu. Terus kamu bilang ini alurnya sama persis? Yakin?
Di novel Fallen cowoknya yang malaikat ceweknya manusia. Terus ceweknya selalu ngeliat bayangan hitam yang akhirnya disebut 'Para Pemberitahu'. Di novelnya si ceweknya gak sakit-sakitan tiap ketemu Daniel (si malaikatnya).
Di sini pasangan mereka iblis, merekanya malaikat. Jungkook selalu sakit tiap ketemu Taehyung, Jin juga mendadak kesakitan di sini. Dan alasan mereka ada di sekolah ini juga beda sama alasannya Lucinda di novel.
Aku juga punya novelnya mas/mba. Bahkan caraku jabarin sekolahnya aja beda ya, yg mirip paling cuma kamera pengawas sama larangan pake ponsel di sekolah -_-"
Tolong lah ya, baca dulu yg bener kalo mau bilang ini MENYALIN. Harap diingat kalau TERINSPIRASI dan MENYALIN itu BERBEDA.
Buat yang lainnya, jangan lupa baca warningnya dulu ya sebelum asal bash orang lain. Kalau sampai diklarifikasi kaya gini kan kalian juga yang malu karena asal tuduh.
Oke, sekian dari Black Lunalite. Terima kasih atas perhatiannya untuk meluangkan waktu kalian demi membaca ini.
I still love you my beloved readers
.
.
.
.
.
.
.
Part 3: Impossible Things
"Apa kalian percaya kehidupan sebelumnya?"
"Hah?" ujar Yoongi langsung, dia tidak mengerti kenapa Jungkook tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Apa maksudmu?" tanya Seokjin kalem.
Jungkook mengangkat bahunya, jarinya mengaduk-aduk sup ikan di nampan makan siangnya. "Entahlah, maksudku apa kita pernah dilahirkan di kehidupan lalu dan menjalani hidup kemudian dilahirkan kembali di masa sekarang?"
Yoongi berdecak, "Kook, aku tahu kau baru saja mengambil kelas sastra pagi tadi. But please, that's impossible."
Seokjin tersenyum geli, "Apa kelas sastramu membahas tentang drama romansa? Biasanya hal-hal semacam 'kehidupan yang lalu' ada di drama romansa."
Jungkook mendengus jengkel, "Bukan! Aku serius! Maksudku, apa kalian pernah merasa begitu familiar pada satu sosok padahal kalian yakin kalian belum pernah bertemu dengannya seumur hidup kalian?"
Kali ini Seokjin dan Yoongi terdiam. "Maksudmu semacam déjà vu?" ujar Yoongi.
Jungkook menggeleng, "Bukan itu, lebih kuat dari itu. Rasanya seolah kau begitu mengenalnya tapi tidak di sini, tidak di waktu yang sekarang."
"Oke, siapa sebenarnya yang sedang kita bicarakan? Siapa yang kau temui dan merasa 'sangat familiar' dengannya?" sela Seokjin.
Jungkook menggigit sudut bibirnya, "Aku.. bertemu seseorang. Namanya Taehyung dan aku bersumpah dia begitu.." Jungkook mengangkat bahunya, "I don't know, he is just too familiar for me. Like I've known him for centuries."
Yoongi tertawa kecil, "That's impossible."
Jungkook mengangguk, "I know, but.."
Seokjin menggeleng pelan dan mengambil susu kotak di nampannya, "Kita memiliki gangguan halusinasi, ingat? There's something wrong inside our heads. So.."
"But, I am not crazy." Jungkook bersikeras, "I am not losing my mind."
Yoongi meneguk air mineralnya, "So do I." ujar Yoongi acuh kemudian dia mengangkat bahunya, "Tapi untuk urusan familiar pada satu orang, ya aku juga mengalaminya."
Jungkook tersenyum gembira, "Siapa dia?"
Yoongi memainkan sisa selada di piringnya, "Someone in my class. His name is Jimin,"
"Sudah kuduga aku bukan satu-satunya! Ini terlalu aneh dan tidak bisa dijelaskan, tapi sudah kuduga aku tidak gila dan ternyata aku benar, kau juga mengalaminya." Jungkook berujar gembira.
"Aku juga merasa begitu, tapi kupikir itu hanya bagian dari halusinasi sinting yang selalu kualami." Seokjin berujar pelan, "Kalian yakin ini bukan bagian dari trik di dalam kepala kita?"
"Jin, aku tidak gila." Jungkook menegaskan, "Aku yakin ini bukan halusinasi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ujar Seokjin. "Kita hanya tahu kita merasa pernah mengenalnya, tapi mereka kelihatannya tidak mengenal kita, kan?"
Yoongi mengerutkan dahinya, "Kalian kenal Jung Hoseok?"
Dahi Seokjin berkerut, "Maaf, siapa?"
"Well, dia hacker. Salah satu dari black hats ternama, dan dia ada di sini. Tertangkap karena meretas akun bank di Seoul dan mencuri beberapa ratus juta dolar."
"Dan bagaimana kau bisa mengenal orang semacam itu?" ujar Jungkook tidak percaya.
Yoongi mengangkat bahunya, "Internet? Ah, sudahlah, itu tidak penting. Yang penting adalah, mungkin kita bisa meminta bantuannya untuk melihat profil orang-orang yang kita rasa familiar itu."
"Tapi kita bahkan tidak mengenal si Tuan Hacker ini, Min Yoongi."
Yoongi menjentikkan jarinya, "Nah, karena itulah kalian seharusnya bersyukur berteman denganku. Aku dan Hoseok berada satu kelas di kelas olahraga tadi dan kami berteman."
Seokjin berdecak, "Kau langsung berteman dengannya begitu saja?"
Yoongi mendecakkan lidahnya, "Eeyy.. dia baik, dan menurutku dia jelas bisa membantu kita. Seharusnya kalian bersyukur."
Jungkook tertawa kecil, "Oke, katakanlah dia mampu membantu kita. Tapi, apa dia mau? Dan bagaimana caranya kita bisa meretas situs sekolah ini? Kita bahkan tidak punya komputer sendiri."
"Kurasa sebaiknya itu kita tanyakan padanya." Seokjin berujar ragu kemudian dia menoleh pada Yoongi, "Bagaimana menurutmu?"
Yoongi tersenyum puas, "Aku akan segera menemuinya."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin membuka matanya, hari ini dia dibangunkan tanpa raungan berisik bell dan ini membuatnya bingung. Biasanya Seokjin selalu terbangun karena bell yang selalu dibunyikan jam enam pagi. Seokjin bergerak bangun dan melirik jam dinding di kamarnya, jarum panjang di jam menunjukkan angka delapan dan jarum pendek di angka tujuh.
"Oh my God!" pekik Seokjin, jam sarapan dimulai jam tujuh dan biasanya mereka dibangunkan jam 6 oleh raungan bell.
Seokjin menyibak selimutnya dan bergegas membuka pintunya, ketika dia membuka pintu kamarnya, dia melihat Jungkook sedang berdiri seraya menatap ke bawah jendela. Di depan kamar mereka memang ada deretan jendela yang membentang di sepanjang koridor.
"Jungkook?" ujar Seokjin bingung.
"Kurasa ada sesuatu di bawah." Jungkook menuding dengan jari telunjuknya, "Banyak sekali yang berkumpul di sana."
Seokjin mengikuti arah pandang Jungkook dan dia melihat banyak orang berkerumun di taman yang memang berjarak tak jauh dari gedung asrama mereka. "Aku akan mengambil jaketku, sebaiknya kau bangunkan Yoongi."
Jungkook mengangguk, masih terlihat bingung.
.
.
Tak lama kemudian mereka bertiga sudah berlari-lari menyusuri jalan setapak menuju tempat orang-orang itu berkerumun. Yoongi yang bertubuh lebih mungil dari mereka bertiga berhasil menyeruak kerumunan dan tiba di bagian paling depan.
"Astaga!" pekik Yoongi saat melihat apa yang sejak tadi dilihat oleh banyak orang.
"Permisi, maaf.." Seokjin mendorong lengan seorang gadis dengan cardigan merah dan dia berhasil menyelip ke bagian depan. Dan mata Seokjin langsung terbelalak saat melihat yang tersaji di hadapannya.
Jungkook mengeluarkan pekikan terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Saat ini di depan mereka berdua terpampang mayat yang jatuh di atas patung malaikat membawa pisau yang diacungkan ke atas. Mayat itu tertusuk di bagian perut, tepat di bagian pisau malaikat itu mengacung. Patung itu terlumuri darah dan Seokjin mengerutkan dahi karena mual.
Tadinya Seokjin ingin langsung menyeruak ke belakang barisan, tapi dia tertegun saat bisa mengenali siapa sosok yang tertusuk itu.
Dia adalah pelatih olahraga yang kemarin berada di kelas Seokjin.
Seokjin terperangah, dia menunduk menatap pergelangan kakinya yang tersembunyi dibalik celana piyama, kakinya masih dibebat walaupun Seokjin sudah merasa lebih baik karena dia hanya keseleo. "Apa yang terjadi?"
Beberapa siswa yang berkerumun membicarakan soal anak gedung D yang menyelinap masuk dan melakukan pembunuhan ini. Seokjin bergidik, baginya jika dia sekejam itu, maka dia sudah jelas sangat berbahaya. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal sekeji ini?
Seokjin bergidik, dia berbalik dan mendorong kerumunan siswa untuk keluar dari barisan padat mereka yang menonton hal sadis itu. Ketika Seokjin berhasil keluar dari kerumunan, dia melihat Namjoon sedang berdiri di sudut taman dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.
Seokjin tertegun, dia hanya diam memperhatikan Namjoon. Namjoon terlihat sangat santai seolah melihat pembunuhan adalah satu hal yang biasa baginya. Seokjin masih memperhatikannya dan Namjoon yang tadinya menatap patung itu dari kejauhan memalingkan pandangannya karena merasa ada yang memperhatikan dan matanya langsung bertatapan dengan mata Seokjin.
Namjoon terdiam, matanya terfokus pada Seokjin dan Seokjin sendiri tidak bisa memalingkan pandangannya dari Namjoon. Mereka berdua hanya diam dengan mata yang terfokus satu sama lainnya.
'Jangan tinggalkan aku..'
Seokjin memegang kepalanya saat suara itu bergaung dalam kepalanya.
Siapa?
'Aku tidak akan meninggalkanmu..'
'Kau akan terbakar..'
'Cium aku..'
Semakin banyak suara yang berputar dan Seokjin tidak sanggup menahannya lagi. Kepalanya sakit, seolah-olah suara itu memaksa untuk keluar dari kepalanya dan menyadarkan Seokjin. Seokjin jatuh terduduk seraya mencengkram kepalanya.
"Seokjin! Oh Tuhan, Seokjin!"
Seokjin bisa mendengar suara panik Jungkook dan sepasang tangan yang memegang bahunya serta bisikan yang menanyakan kondisinya. Tapi Seokjin tidak bisa merespon apapun, suara-suara itu masih berputar dalam kepalanya, Seokjin mengangkat kepalanya dan dia melihat Namjoon sedang menatapnya dengan sedih, tapi kemudian pemuda itu berbalik dan meninggalkan taman.
Seokjin mengerang saat denyutan di kepalanya perlahan mereda.
"Jin, kau baik-baik saja?" tanya Yoongi khawatir.
Seokjin menarik napas dalam dan mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Ya, aku baik-baik saja."
Jungkook menatap Yoongi yang berjongkok di sisi kiri Seokjin, "Kurasa sebaiknya kita bawa dia ke klinik."
Seokjin menggeleng, "Aku hanya butuh berbaring. Antarkan aku ke kamar, tolong."
Mereka berdua mengangguk kemudian mereka bergerak untuk memapah Seokjin.
.
.
.
.
.
.
.
Karena kondisi Seokjin sedang tidak memungkinkan, akhirnya yang menemui Hoseok adalah Jungkook dan Yoongi. Untungnya kegiatan sekolah diliburkan sementara karena banyak polisi yang sibuk menyelidiki kasus pembunuhan di taman tadi pagi.
Yoongi mendorong pintu perpustakaan kemudian dia menarik Jungkook untuk ikut masuk. Dia dan Hoseok sudah berjanji untuk bertemu di perpustakaan siang ini. Yoongi berjalan menyusuri rak-rak tinggi perpustakaan dan akhirnya dia berhasil menemukan sosok pemuda berambut cokelat muda yang sedang sibuk dengan sebuah buku di pojok perpustakaan.
"Hoseok!" panggilnya.
Hoseok mendongak, dia tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Yoongi segera menempati kursi di depan Hoseok dengan Jungkook di sebelahnya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Yoongi.
"Kau benar-benar bisa meretas sistem sekolah ini?" tanya Jungkook agak ragu.
Hoseok terkekeh, dia menatap sekeliling dan setelah memastikan semuanya aman, dia menarik keluar sesuatu dari balik jaketnya, sebuah tab.
"Bagaimana mungkin kau bisa memiliki itu?" ujar Yoongi tidak percaya.
Hoseok tertawa kecil, "Seorang hacker tidak akan meninggalkan peralatan elektroniknya begitu saja. Aku menyelundupkan ini saat aku diterima di sekolah ini."
Jungkook berdecak, "Kau gila."
Hoseok mengangkat bahunya, "Kalau tidak begitu, kurasa aku bisa mati bosan berada di sini." Hoseok menyalakan tabnya dan kelihatannya dia mulai mengerjakan sesuatu.
"Aku sudah meretas sinyal wifi di tempat ini. Sekolah ini memang berengsek, mereka punya koneksi internet terbaik tapi mereka malah melarang kita membawa ponsel dan lainnya."
Yoongi terkikik sementara Jungkook tersenyum.
Hoseok tersenyum lebar, "Nah, ini dia. Data lengkap seluruh murid sekolah, siapa yang namanya ingin kau ketahui?"
"Park Jimin," sahut Yoongi cepat. Untung saja gurunya di kelas biologi memanggil nama Jimin sehingga Yoongi bisa mengetahui siapa nama lengkapnya.
Hoseok mengangguk, "Park.. Jimin.."
Yoongi menunggu dengan cemas dan dia melihat binar-binar ceria di wajah Hoseok perlahan memudar dan berganti dengan raut wajah bingung. "Kenapa?"
"Hmm, ini aneh. Di sini tertulis Jimin menyerang sekelompok orang karena mencuri belati miliknya.. 10 tahun lalu." Hoseok berdecak, "Apa data ini salah? Bagaimana mungkin setelah sepuluh tahun berlalu Jimin masih ada di sini?"
Yoongi ikut mengintip tulisan di layar tab dan dia tertegun saat melihat gambar belati yang diperjuangkan Jimin. "Hei, aku kenal benda itu."
Hoseok dan Jungkook serempak menatap Yoongi, "Belati itu?"
Yoongi mengangguk, "Aku pernah melihatnya dalam mimpiku. Belati itu milikku, aku benar-benar mengingatnya karena desainnya yang rumit."
Hoseok menatap Yoongi dan Jungkook bergantian, "Oke, ini mulai terasa sedikit aneh."
"Kim Taehyung, cari dia." Jungkook menyela dengan cepat. Dia berhasil mengetahui nama Taehyung setelah bertanya pada petugas perpustakaan yang untungnya mau memberitahu nama Taehyung dengan sukarela.
Hoseok mengangguk, "Hmm, dia dimasukkan ke sini karena merampok minimarket." Hoseok mendengus, "Sepele sekali."
Jungkook memperhatikan tulisan yang tertera, di situ tertera tanggal penangkapan Taehyung dan tanggal masuknya ke sekolah ini. "Tapi dia sudah berada di sini cukup lama. Lima tahun."
"Wait, apa sekolah ini semacam neraka tak berdasar yang sekalinya kau masuk kau tidak akan bisa keluar lagi?" sela Hoseok.
Yoongi menggeleng, "Bodoh, tentu saja tidak. Mungkin saja data ini salah karena hal semacam itu tidak mungkin kan?"
Hoseok berdecak, "Yah, terlalu banyak hal gila jika terkait dengan hal semacam ini."
"Selanjutnya Kim Namjoon." Yoongi berujar.
"Kim.. Namjoon.. ah! Ini dia." Hoseok memperhatikan deretan kalimat yang tertera, "Dia ditangkap karena diduga melakukan penyerangan karena saat ditangkap bajunya berlumuran darah."
Hoseok meneruskan membaca, "Dan dia juga ditahan karena sudah berhasil melarikan diri dari penjara enam kali." Hoseok bersiul kagum, "Ini baru rekor."
"Ada kesalahan data juga pada dirinya?" tanya Yoongi.
"Ya," sahut Jungkook, jarinya menunjuk barisan kalimat lainnya, "Menurut data dia ada di sini dua puluh tahun lalu."
Hoseok menggeleng-geleng, dia menutup data siswa itu dan memasukannya ke balik jaketnya. "Terlalu banyak hal sinting di sekitar kalian."
Yoongi mendengus, "Ya, kurasa juga begitu."
Hoseok berdiri, "Tapi, senang bertemu dengan kalian. Setidaknya aku bisa merasakan rasanya menjadi hacker lagi."
"Terima kasih," ujar Jungkook.
"Hmm, sama-sama. Selamat memecahkan misteri kalian dengan ketiga orang tadi."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin menghembuskan napas keras seraya berbaring di tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing dan entah kenapa suara seseorang yang terus mengatakan kalau dia mencintai Seokjin selalu bergaung dalam kepalanya, seolah-olah terus dibisikkan ke telinganya secara terus-menerus.
Pandangan Seokjin terarah ke jam dinding di kamarnya yang bergerak lambat. Karena di sini melarang penggunaan ponsel, maka pada saat jam kosong seperti ini Seokjin benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Kaki Seokjin bergerak-gerak menendang selimutnya dan akhirnya dia berdiri, dia bisa mati kebosanan kalau terus berdiam diri di kamar seperti ini.
"Aku bosan.." keluh Seokjin, matanya melirik ke jendela, hari belum terlalu sore dan jam makan malam juga masih lama. Yaah, mungkin berjalan-jalan sebentar bukanlah hal yang buruk.
Seokjin meraih jaketnya dan berjalan keluar dari kamarnya, koridor asrama terlihat sepi karena memang hari ini sekolah diliburkan dan sebagian besar siswa memilih untuk melakukan hobi mereka masing-masing dan rata-rata mereka memenuhi gymnasium.
Seokjin melangkah cepat keluar dari gedung asramanya dan berjalan-jalan di taman tengah, ada banyak polisi yang berkeliaran karena memang mereka masih menyelidiki kasus pembunuhan sadis yang baru saja terjadi. Seokjin menjauhi kerumunan itu dan tanpa pikir panjang dia berjalan memasuki jalan setapak menuju hutan.
Seokjin berjalan seraya menendang kerikil dan juga gumpalan lumut di kakinya. Dan kira-kira setelah 30 menit berjalan, Seokjin berhenti karena melihat sosok seseorang berdiri cukup jauh darinya. Tidak ada yang dilakukan sosok itu, dia hanya berdiri di jalan setapak dan Seokjin hanya bisa melihat punggungnya karena dia membelakanginya.
Tiba-tiba sosok itu berjalan masuk ke dalam hutan dan entah kenapa Seokjin dengan bodohnya justru ikut berjalan ke dalam hutan, keluar dari jalan setapak yang menjadi satu-satunya jalan untuk kembali ke wilayah gedung A dan tidak tersesat ke wilayah lainnya.
Seokjin bergerak dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Dia melihat sosok pria dengan jaket kulit hitam itu berdiri di tengah hutan dan agak menunduk. Mulanya tidak ada yang terjadi sampai Seokjin melihat sosok itu membuka pakaian atasnya dan melemparkannya ke tanah berumput di bawah kakinya.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Seokjin.
Dia melihat sosok itu menarik napas dalam dan perlahan, tiba-tiba saja sesuatu muncul dari punggungnya dan perlahan semakin melebar dan melebar hingga akhirnya menjadi sepasang sayap hitam besar. Seokjin nyaris saja menjerit karena terlalu terkejut melihat itu. Dia bergerak mundur dan tidak sengaja menginjak ranting kering di dekatnya.
Jantungnya berpacu dan dengan panik dia menoleh ke arah sosok tadi yang sialnya menyadari kehadiran Seokjin. Seokjin bergerak mundur dengan panik dan dia tersandung akar pohon hingga jatuh terduduk. Kakinya yang masih cedera berdenyut nyeri saat dia terjatuh. Seokjin meringis kesakitan dan sosok itu sudah melayang semakin dekat padanya dan mata Seokjin membulat saat melihat siapa sosok itu sebenarnya.
"Kim Namjoon?" pekiknya tidak percaya saat menyadari kalau sosok dengan sayap hitam besar itu adalah Kim Namjoon.
Namjoon melayang mendekatinya dan saat Namjoon semakin dekat, Seokjin merasa matanya perih. Begitu perih hingga rasanya matanya seperti terbakar. Seokjin mengerang kesakitan seraya menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
Airmata menetes dari mata Seokjin karena sensasi panas membakar yang terus dia rasakan.
"Menjauhlah dariku.."
Seokjin mendengar suara berat bicara padanya.
"…karena aku tidak mau melihatmu mati.. untuk kesekian kalinya."
Hah? Apa maksudnya?
Seokjin ingin membuka matanya tapi rasa panas itu benar-benar membakar matanya. Seokjin merasakan pukulan di belakang kepalanya dan setelahnya dia tidak merasakan itu lagi, karena kegelapan sudah menjemput kesadarannya.
.
.
.
.
.
.
.
Jungkook duduk diam menunggu hasil diagnosa dokter di sekolah ini akan masalah mimisan yang kemarin tiba-tiba menyerangnya. Dia tidak mengerti kenapa tapi kemarin hidungnya berdarah begitu banyak hingga Jungkook merasa pusing karena terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Dokter sekolah juga panik sehingga dia memutuskan untuk memeriksa Jungkook lebih lanjut.
"Bagaimana?" tanya Jungkook setelah sang dokter meletakkan kertas yang sedari tadi dibacanya dengan dahi berkerut ke meja.
"Kau sehat."
"Ya?"
"Kau sehat, Jeon Jungkook. Kau tidak sakit dan tidak memiliki riwayat penyakit berat."
"Lalu apa yang salah dari diriku kemarin?"
Dokter itu mengerutkan dahinya dan menggeleng, "Aku juga tidak tahu apa yang salah dengan dirimu. Tapi kau sehat, semua tanda vitalmu baik dan hasil tes lab menyatakan kau sehat."
Jungkook terperangah tidak percaya, dia mimisan sehebat itu tanpa alasan? "Maksudmu hidungku cuma mengalami pendarahan?"
Dokter itu mengangguk pelan, "Mungkin.."
"Ini tidak masuk akal."
Dokternya mengangguk setuju, "Aku juga berpikiran begitu."
Jungkook mendengus keras, "Ini gila, tidak mungkin aku sampai seperti kemarin tanpa alasan."
Dokternya mengangkat bahu dan menyerahkan kertas berisi hasil tes kesehatan Jungkook, "Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Besok sekolah sudah dimulai kembali."
Jungkook mengambil kertas di meja dan menjejalkannya ke saku jaket. "Terima kasih,"
Dokter sekolahnya mengangguk pelan, "Hati-hati."
Jungkook keluar dari klinik dan berjalan menyusuri koridor dengan cepat. Dia tidak yakin kalau dia sakit tanpa sebab. Sebelumnya Jungkook pernah muntah darah karena mimpinya, tapi itu karena mimpinya. Dan sekarang kenapa dia bisa mimisan hebat tanpa alasan? Jungkook tidak sedang tidur, dia seratus persen sadar karena saat itu dia sedang di perpustakaan, mengumpulkan buku yang tidak sengaja terjatuh karena melihat Kim Taehyung.
Tunggu,
Kim..
Taehyung?
Apakah penyebab mimisan hebatnya adalah Kim Taehyung?
Jungkook melebarkan matanya saat melihat objek pikirannya baru saja lewat di koridor yang jaraknya tidak jauh dari dirinya. Jungkook menggerakkan kakinya dan berlari mengejar Taehyung yang berjalan dengan sangat cepat menyusuri koridor.
"Taehyung-ssi!" seru Jungkook.
Dia berlari semakin cepat menyusuri koridor yang berbatasan dengan lapangan dan terlihat beberapa siswa sedang bermain basket di sana.
"Kim Taehyung-ssi!" teriak Jungkook lagi namun sebuah bayangan menimpa sisi wajahnya dan saat dia menoleh, sebuah bola basket langsung menghantam kaca jendela yang berada tepat di sebelah tubuhnya.
"ARGH!" teriak Jungkook dan untungnya dia berhasil melindungi wajahnya dengan lengannya di detik terakhir. Senasi pedih dan panas langsung terasa di sekujur lengannya dan sekitar pelipisnya. Jungkook jatuh dan dia mengerang sakit seraya memegang lengannya.
Darah membasahi lengan dan menyebar hingga ke lantai di bawah tubuhnya. Jungkook terengah-engah dan dia berusaha mengintip ke lengannya yang terluka. Terdapat sekitar lima sampai enam pecahan kaca yang menancap di sana dan Jungkook meringis kesakitan, darah yang mengalir keluar dari lukanya semakin banyak dan dia merasa pandangannya mulai berkunang-kunang.
Jungkook mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya dan dia memaksakan diri untuk mendongak, mencoba meminta tolong pada siapapun yang menghampirinya.
Di tengah pandangan buramnya, Jungkook masih bisa mengenali sosok Kim Taehyung yang berdiri di dekat tubuhnya yang berlumuran darah. Napas Jungkook terengah dan dia mencoba meminta tolong tapi yang keluar hanyalah erangan kesakitan.
"Kau harus menjauh dariku, malaikatku.."
Apa?
Apa katanya?
"Atau kau akan mati secara perlahan."
Lalu semuanya menjadi gelap untuk Jungkook.
To Be Continued
.
.
.
.
.
Hai, aku kembali. Hehehehe
Aku bingung mau bilang apa, plot untuk ini ternyata hasilnya lebih rumit daripada yang aku rencanakan. Huhuhu T^T
.
.
.
P.S:
Yang mengharapkan happy end…
Aku..
Tidak bisa janji /dihajar
Habisnya konsep awalnya kan begini. Huhuhu T-T
Tapi aku usahakan nanti ada sedikit momen-momen manisnya deh. Hehehe
.
.
.
.
.
.
.
Review pleaseee~
