Fallen

Pair:

Kim Seokjin x Kim Namjoon

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Park Jimin x Min Yoongi

Rate: T (probably)

Genre: Fantasy, Drama, Romance.

Summary:

Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.

Warning:

Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.

.

.

.

.

.

.

.

Part 4: Shattered Memories

Seokjin tidak ingat pernah melihat tempat ini sebelumnya. Dia tidak pernah melihat bangunan seperti kastil dengan hamparan bunga tulip aneka warna yang menghiasi bagian depan kastil.

Dia tidak ingat.

Tidak.

Jadi apa yang dia lakukan di sini?

Apa yang dia lakukan di kastil ini? Kenapa dia bisa berada di sini? Dan kenapa dia merasa familiar dengan kastil ini?

Apa ini kehidupan masa lalunya?

Jika iya, apa itu berarti hal-hal penuh mitos seperti reinkarnasi itu nyata?

Seokjin melangkah keluar dari kastil untuk melihat hamparan bunga tulip anek warna yang sedang bergoyang lembut tertiup angin. Suara gemerisik antara angin yang bertemu dengan rumpun bunga tulip itu menimbulkan suara gemerisik pelan yang Seokjin kenal betul dalam telinganya.

Dia sering mendengar suara gemerisik ini.

Tapi kapan?

Dia tidak mengenal kastil ini.

Kaki Seokjin bergerak lagi, dia baru sadar kalau sejak tadi dia bertelanjang kaki dan hanya mengenakan pakaian berupa kemeja putih longgar dan sebuah celana kain tipis berwarna sama. Rambut pinknya bergerak-gerak tertiup angin yang berhembus kuat tapi Seokjin tidak peduli. Dia bergerak menuruni tangga serambi kastil itu dan kakinya langsung bertemu dengan hamparan rumput yang keras dan agak kasar.

Rumputnya terasa kasar karena sepertinya rerumputan itu mulai kering. Dan kelihatannya gesekan antara rumput dan kaki telanjangnya mungkin akan menimbulkan lecet kecil nantinya. Tapi Seokjin tidak peduli, ada hasrat yang menggebu dari dalam dirinya untuk berjalan masuk ke dalam padang penuh bunga itu.

Kaki Seokjin meneruskan langkahnya, dia menyibak rumpun bunga yang menghalangi jalannya dan berjalan dengan cepat menyusuri bunga-bunga itu. Seokjin bergerak dengan sendirinya seolah dia memang sudah hapal mati dengan tempat ini, kakinya bergerak secara otomatis tanpa sempat pikirannya kendalikan.

Dia melangkah semakin cepat, semakin cepat, mengacuhkan kakinya yang mungkin saja lecet dan terluka karena berjalan-jalan tanpa alas kaki apapun. Seokjin menyibak rumpun bunga berikutnya dan langkahnya terhenti.

Seokjin tertegun saat melihat dirinya..

Itu dia..

Itu sosoknya..

Hanya saja dengan penampilan yang berbeda.

'Seokjin' yang ada di depan Seokjin memiliki rambut berwarna hitam kelam, dia mengenakan sebuah kemeja berwarna putih tulang dengan sebuah dasi dari pita halus di sekitar kerahnya, celananya berwarna hitam dengan sepatu boots kulit berwarna coklat.

Sosok 'Seokjin' itu terlihat tengah berjalan-jalan dengan tangan yang selalu menyentuh kelopak bunga yang ada di bawah telapak tangannya yang dihiasi kulit putih.

Seokjin tertegun, itu benar-benar dirinya. Itu benar-benar sosoknya karena bagaimana mungkin dia melupakan dirinya sendiri?

Tapi masalahnya adalah bagaimana bisa?

Seokjin ada di sini, bagaimana mungkin dirinya bisa menggandakan diri? Itu sangat tidak mungkin.

Seokjin memperhatikan sosok dirinya yang lain yang sedang berjalan-jalan mengitari padang bunga hingga akhirnya dia terhenti saat melihat 'Seokjin' berhenti menyentuh bunga-bunga itu dan dia berlari kecil menghampiri sesuatu.

Kepala Seokjin bergerak mengikut dan dia melihat sosok 'Seokjin' itu berlari ke arah seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut pirang terang. Dia memeluknya erat-erat dan Seokjin membulatkan matanya terkejut saat melihat sayap besar berwarna hitam yang ada di punggung sosok yang sedang dipeluk oleh 'Seokjin'.

'Seokjin' melepaskan pelukannya dan mata Seokjin semakin melebar saat dia mengenali sosok bersayap itu sebagai Namjoon.

Namjoon itu tersenyum pada 'Seokjin' dan mengelus rambut hitamnya dengan penuh sayang. Seokjin yang sejak tadi memperhatikan pun bisa merasakan aura penuh romansa yang menguar di antara mereka berdua.

Namjoon mencintai sosok 'Seokjin'. Tidak diragukan lagi.

Seokjin melihat Namjoon menangkup wajah 'Seokjin' dan kemudian dia menciumnya. Sosok 'Seokjin' dalam pelukan Namjoon balas menciumnya dan melingkarkan lengannya di sekeliling leher Namjoon, mulanya tidak ada yang aneh tapi ketika ciuman itu semakin dan semakin panas, Seokjin mulai merasakan sesuatu yang membakar hatinya.

Dia.. cemburu.

Melihat Namjoon yang mencumbu sosok 'Seokjin' itu dengan begitu bernafsunya.

Mereka berdua bercumbu dengan sangat mesra dan panas. Dia bisa melihat Namjoon yang mendorong tubuh 'Seokjin' hingga jatuh ke rerumputan dan meneruskan cumbuan panasnya.

Suara robekan kain terdengar ke gendang telinga Seokjin dan Seokjin memalingkan pandangannya seraya menahan rasa panas cemburu dalam hatinya.

Tapi.. kenapa dia cemburu?

Namjoon hanya mencumbu sosok 'Seokjin' dan Namjoon bukanlah siapa-siapa untuk Seokjin saat ini.

Jadi kenapa dia cemburu?

Seokjin kembali memalingkan pandangannya menatap mereka saat mendengar suara desisan daging yang terbakar dan saat dia menatap ke arah mereka lagi, dia melihat sosok 'Seokjin' terbakar.

Terbakar dalam artian sesungguhnya karena Seokjin jelas-jelas melihat api yang membungkus tubuhnya.

Mata Seokjin membulat penuh keterkejutan sementara dia melihat Namjoon yang menunduk dalam dengan bahu bergetar.

Namjoon menangis.

Seokjin sangat yakin untuk itu.

Sosok 'Seokjin' terbakar habis dengan cepat menyisakan gumpalan abu kering berwarna hitam di depan Namjoon yang bersimpuh.

Dan ini terasa menyadarkan Seokjin akan sesuatu.

Alasan kenapa dia merasa begitu terikat dengan Namjoon. Alasan kenapa dia merasa begitu mengenal Namjoon.

Dan alasan kenapa dia merasa cemburu melihat Namjoon mencumbu sosok 'Seokjin'.

Itu karena Namjoon miliknya.

Dia dan Namjoon.. terikat oleh suatu takdir aneh yang tidak bisa Seokjin mengerti.

Dan kelihatannya takdir itu sedang terulang kembali.

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook menghembuskan napas pelan seraya menatap langit-langit ruang klinik tempatnya dirawat saat ini. Berdasarkan keterangan dari dokter yang merawatnya, Jungkook pingsan karena kehilangan banyak darah akibat luka pecahan kaca yang menancap di sepanjang lengannya.

Murid-murid yang tidak sengaja melemparkan bola ke arah jendela mendapatkan detensi dan Jungkook harus terjebak untuk dirawat di klinik sendirian disaat murid lain sibuk memenuhi ruang makan bersama untuk makan malam.

Jungkook menghela napas pelan dan dia tertegun saat mendengar suara pintu klinik yang terbuka. Dia terdiam namun dua detik berikutnya Jungkook langsung memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.

Jungkook juga tidak tahu kenapa dia melakukan itu, seolah itu adalah gerakan yang dikontrol dari alam bawah sadarnya.

Jungkook bisa mendengar suara langkah yang semakin dekat dengan tempatnya berbaring sekarang dan Jungkook berusaha keras untuk berpura-pura tidur dengan baik. Dia mengeluarkan hembusan napas teratur disertai dengan dengkuran lembut.

"Jungkook.."

Jungkook ingin sekali mengerutkan dahinya saat dia mendengar suara berat memanggil namanya. Dia merasakan beban yang bertambah di sebelahnya dan kelihatannya sosok yang baru saja memanggilnya itu ikut naik ke tempat tidurnya.

Jungkook diam, menunggu sosok itu untuk bicara karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan.

Detik berlalu dan masih tidak ada suara yang keluar dari sosok itu, Jungkook hampir merasa takut karena jika dia tidak bersuara dan dia duduk di sebelah Jungkook, apakah itu artinya sosok itu mengamatinya?

Mengamatinya yang sedang tertidur?

Detik berlalu dan disaat Jungkook ingin mengakhiri aktingnya, dia merasakan sebuah sentuhan lembut di poninya. Dia merasakan sosok asing itu mengelus rambutnya dan jari yang terasa hangat serta agak kasar itu bergerak turun menyusuri kontur wajah Jungkook hingga akhirnya berhenti di rahang bawahnya.

"Maafkan aku.."

Jungkook semakin bingung, siapa sosok asing ini? Apakah dia salah satu diantara murid asing yang melempar bola ke jendela?

"Seharusnya kau tidak berdekatan denganku, malaikatku.."

Tunggu,

Malaikatku?

Jungkook ingat dia pernah mendengar seseorang memanggilnya seperti itu sesaat sebelum dia pingsan dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kim Taehyung.

Jadi..

Sosok asing ini adalah Kim Taehyung?

"Maafkan aku.. ini semua salahku. Seandainya saja aku tidak melihatmu saat kau turun ke Bumi, maka kita tidak akan mungkin bernasib seperti ini.."

Apa? Apa maksudnya?

"Kenapa hukuman kita seperti ini? Kenapa?"

Hukuman apa?

"Kenapa kau selalu sakit saat bertemu denganku? Kenapa aku selalu menjadi penyebab kau merenggang nyawa? Kenapa aku yang selalu saja menimbulkan kesulitan untukmu? Apa cinta kita begitu salah?"

Cinta?

Hukuman?

"Aku tidak bisa melihatmu mati secara perlahan, Kookie. Aku tidak bisa."

Jungkook merasakan Taehyung bergerak dan dia merasakan elusan lembut di sekitar wajahnya.

"Aku tidak bisa.."

Jungkook bisa mendengar suara isakan pelan dan dia tertegun.

Taehyung.. menangis?

Untuknya?

"Maafkan aku yang mencintaimu sampai sebegitu dalamnya. Seandainya saja aku mengingat statusku sebagai iblis dan tidak menggodamu yang seorang malaikat, kau pasti tidak akan terjebak dalam pusaran takdir yang menyedihkan ini."

Tunggu,

Apa?!

Taehyung adalah iblis?!

Dan dirinya adalah seorang malaikat?!

"Aku sudah menghilangkan sayapmu dan kau masih begitu mencintaiku, aku sudah menghilangkan keabadianmu dan kau juga masih mencintaiku. Dan aku juga masih mencintaimu, terlalu mencintaimu hingga aku tidak peduli berapa kali rasa sakit itu akan menghantamku, aku tetap menunggumu."

"Menunggumu muncul kembali dengan senyum manismu, menyapa hatiku yang mengering karena kembali ditinggalkan olehmu untuk kesekian kalinya. Dan mungkin aku memang benar-benar iblis, karena tidak peduli seperti apa resikonya, seperti apa rasa sakit yang akan aku terima, aku tetap jatuh cinta padamu, lagi. Untuk yang kesekian kalinya, untuk giliran hidup yang kesekian kalinya."

Jungkook merasakan Taehyung mengusap dahinya dan mendaratkan kecupan di sana.

"Aku mencintaimu, Jungkook, malaikatku.."

Entah kenapa tapi Jungkook merasa ingin menangis. Dia tidak mengerti apa yang sedang Taehyung bicarakan tapi hatinya mengerti. Hatinya tahu dan dia ikut merasakan luka Taehyung dan membuat Jungkook merasakan luka yang sama dengan Taehyung.

Jungkook tahu ini tidak masuk akal, tapi dia merasa mengerti dengan kesedihan Taehyung, dengan rasa putus asa dan depresi yang dirasakannya.

Karena entah kenapa, hati Jungkook juga merasakan perasaan yang sama.

"Aku mencintaimu, dan aku ingin sekali kita memulainya dari awal lagi. Walaupun singkat, tapi itu akan menjadi sesuatu yang akan terus aku ingat selama puluhan tahun ke depan. Itu adalah sesuatu yang membuatku terus ingin menunggu hari dimana kau muncul lagi dan tiba di depanku."

"Hari dimana siklus hukuman kita akan kembali dimulai."

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi mengaduk supnya dengan malas-malasan. Sekarang jam makan malam tapi dia tidak bisa menemukan Jungkook dan Seokjin dimana-mana. Dia sudah mencari ke kamar mereka berdua tapi mereka tidak ada di sana, Yoongi juga sudah berkeliling tapi hasilnya nihil.

Dan disaat seperti ini, Yoongi sangat mengutuk peraturan sekolah yang melarang mereka membawa ponsel.

Jari kurus milik Yoongi menggerakkan sendoknya untuk mengaduk sup lagi. Kemudian gerakannya terhenti saat dia melihat sosok Park Jimin baru saja masuk ke dalam ruang makan bersama. Pria berambut grey ash itu berjalan seraya mengacak rambutnya kemudian dia berdiri di belakang antrian para siswa untuk mendapatkan makanan.

Bola mata Yoongi mengikuti pergerakan pria itu dalam diam hingga pria itu duduk di sebuah meja kosong dan mulai menikmati makan malamnya.

Ingatan Yoongi berputar ke belati aneh yang dimiliki Jimin yang entah kenapa begitu diingatnya.

Yoongi tidak ingat pernah memiliki sesuatu semacam belati unik itu.

Lantas kenapa dia merasa begitu mengenalnya?

Kenapa dia begitu merasa jika itu adalah miliknya? Miliknya yang sangat dekat dengannya hingga Yoongi merasa itu bagian dari jiwanya?

Yoongi masih terus memperhatikan Jimin dan dia segera berdiri saat dilihatnya Jimin sudah menyelesaikan makan malamnya dan akan keluar dari ruang makan bersama.

Kaki kurus Yoongi bergerak mengikuti Jimin yang melangkah dengan ringan menyusuri koridor. Dia tidak tahu kenapa dia melakukan ini, tapi mungkin saja dia akan mendapatkan satu jawaban dari semua kilasan masa lalu dan déjà vu bodoh yang terus saja menggelayuti kepalanya.

Dia melihat Jimin berhenti berjalan dan berbalik menatapnya. Yoongi tersentak kaget, dia tertegun dan mendadak lupa apa yang harus dia lakukan.

"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Jimin.

Mereka berjarak kurang lebih dua puluh meter dan Yoongi bergerak canggung untuk melangkah lebih dekat. Mencoba menghapus suasana canggung yang mengudara.

"Aku.."

"Jangan mendekat," ujar Jimin langsung saat Yoongi memutus jarak diantara mereka.

"Kenapa aku tidak.." kalimat Yoongi terputus saat dia merasakan kepalanya berdenyut.

Dia seperti pernah mendengar hal yang sama diucapkan padanya, tapi kelihatannya itu sudah lama sekali.

"Jangan mendekat, malaikatku. Aku tidak ingin melukaimu.."

"Kau tidak akan melukaiku.."

"Ya, aku akan."

Yoongi menggeleng, mencoba mengenyahkan suara-suara yang bergaung dalam kepalanya.

"Jangan mendekat. Kumohon."

"Kenapa tidak?" tanya Yoongi menantang walaupun kepalanya terasa semakin sakit.

Jimin menatap Yoongi dengan pandangan sendu, "Karena aku akan menyakitimu."

"Memangnya apa yang akan kau lakukan padaku?"

Jimin menggeleng, "Yoongi, kumohon.."

"Kenapa? Apa yang akan.. uhuk!" Yoongi menghentikan langkahnya mendekati Jimin karena tiba-tiba saja dia merasakan sakit di dadanya.

Jimin menggeleng sedih, dia berjalan menghampiri Yoongi dengan langkah pelan.

Dan katakanlah Yoongi gila atau mungkin sakit kepala hebatnya membuatnya berhalusinasi.

Tapi apakah Yoongi benar-benar melihat sayap di punggung Jimin?

Sayap itu membentang lebar dan berwarna hitam kelam. Dan sayap itu menempel di punggung Jimin. Punggung Park Jimin.

Apakah ini halusinasi Yoongi di tengah kesadarannya yang mengabur?

"Maafkan aku.." bisik Jimin kemudian dia menarik Yoongi dalam pelukannya, membungkus tubuh Yoongi dengan sayapnya.

"Tapi mereka yang berasal dari Dunia Bawah tidak akan berhenti untuk memburumu. Apalagi setelah kau bertemu denganku." Jimin berujar dengan mata yang tertuju pada sudut gelap koridor, dia mencabut satu bulu sayapnya dan melemparkannya ke arah sosok itu.

Sosok monster dengan wajah menyeramkan yang berada di sudut itu mengeluarkan jeritan melengking saat bulu sayap Jimin menancap di kepalanya. Sosok iblis menyeramkan itu mengeluarkan suara tercekik kemudian musnah menjadi abu.

Jimin masih memeluk sosok Yoongi, iblis tadi berhasil menyerang Yoongi dengan melemparkan jarum beracun yang berasal dari tubuhnya.

Jimin agak berbeda dengan iblis lainnya, kastanya sedikit lebih rendah dan tugasnya adalah mengurus para makhluk Dunia Bawah agar tidak melakukan kekacauan di dunia manusia. Tapi sejak hukumannya diturunkan, semua yang tadinya mematuhi Jimin akan berbalik memburunya dan mencoba membunuh Yoongi.

Makanya tiap mereka bertemu, Yoongi akan mati karena para makhluk Dunia Bawah yang tidak akan berhenti mencoba membunuhnya. Jimin ingat hari dia menolong Yoongi dari serangan makhluk itu adalah hari yang membuat Yoongi meragukan kewarasannya dan membuatnya berurusan dengan polisi.

Serta membuatnya harus kembali bertemu Jimin dan terjebak dalam sekolah ini.

Jimin melonggarkan pelukannya, Yoongi sudah terkena racun iblis dan dia tidak sadarkan diri. Wajahnya memucat dan denyut nadinya semakin lemah. Jimin mengulurkan tangannya dan mencabut jarum beracun yang menancap di lengan atas Yoongi, jarum itu begitu kecil dan wajar jika Yoongi tidak merasakan saat jarum itu menancap.

Jimin menunduk dan menghisap luka kecil bekas tusukan jarum itu dengan perlahan, mencoba mengisap keluar racun yang masuk ke dalam aliran darah Yoongi. Dia memiliki kekebalan terhadap racun iblis apapun sementara Yoongi tidak memilikinya.

"Maafkan aku, Yoongi.." bisik Jimin lemah. Dia memeluk Yoongi lagi, membungkus tubuh Yoongi dengan sayapnya.

"Seandainya saja kita tidak jatuh cinta, maka semua ini tidak akan terjadi."

To Be Continued

.

.

.

.

.

.

Hai, aku kembali~

Aku tidak tahu mau bilang apa.

Ceritanya memang begini. Hehehe

.

.

.

Tapi semoga kalian sukaa~