Fallen
Pair:
Kim Seokjin x Kim Namjoon
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Park Jimin x Min Yoongi
Rate: T (probably)
Genre: Fantasy, Drama, Romance.
Summary:
Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.
Warning:
Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.
.
.
.
.
.
.
.
Part 5: Begin
Yoongi membuka matanya perlahan dan menarik napas dalam. Dia melihat sebuah lampu terang yang memancarkan cahaya berwarna putih menyorot tepat di atas kepalanya. Yoongi menghembuskan napasnya dan dia menggerakkan bola matanya untuk menatap keadaan sekitarnya dan yang dilihat Yoongi adalah sekat berupa tirai berwarna putih.
Ah, dia di klinik.
Yoongi menghela napas lagi dan berusaha mengingat-ngingat apa kiranya yang menyebabkannya bisa terbaring di klinik. Yoongi itu jarang sakit, sangat jarang bahkan hingga semua orang curiga pada daya tahan tubuhnya yang begitu kuat.
Kepala Yoongi penuh dengan potongan-potongan ingatan mengenai apa yang dia lakuka kemarin dan dia teringat akan satu hal yang dia lakukan sebelum pingsan. Dia bersama Jimin dan mendadak kepalanya sakit sehingga dia pingsan. Yoongi tidak ingat kenapa, tapi dia ingat sayap besar di punggung Jimin.
Apakah itu nyata?
Apakah sayap itu nyata?
Mata Yoongi bergerak lagi menatap sekeliling dan dia tertegun saat merasakan kalau kondisi di sekitarnya sangat-sangat sepi. Bahkan Yoongi tidak mendengar apapun selain suara tarikan napasnya sendiri.
"Yoongi?"
Kepala Yoongi bergerak menuju asal suara, seseorang baru saja memanggilnya dari balik sekatnya.
"Yoongi? Apa itu kau?"
Yoongi berdehem, dia perlahan bisa mengenali si pemilik suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jeon Jungkook. "Jungkook?"
Terdengar helaan napas lega dan juga tawa kecil. "Sudah kuduga itu kau. Aku memang tidak bisa mengenalimu saat Park Jimin menggendongmu, tapi ketika kau diperiksa oleh dokter, aku sempat melihat wajahmu sekilas."
Dahi Yoongi berkerut, Park Jimin menggendongnya?
"Jimin yang membawaku ke sini?"
"Ya, kenapa? Apa yang terjadi padamu? Apa kau sedang tidak sehat?"
"Aku baik-baik saja, aku justru bingung kenapa aku bisa terdampar di sini."
Jungkook tertawa mendengar kata 'terdampar' yang digunakan oleh Yoongi. "Hei, kau tahu. Kurasa aku tidak gila soal ingatan kaburku soal Kim Taehyung."
Yoongi menoleh ke arah sekat tirai sialan yang menghalanginya dan Jungkook. "Kurasa kita harus membuka tirai sialan ini. Aku merasa seperti sedang berbicara sendirian dan isi kepalaku menjawab ucapanku."
Tawa Jungkook terdengar lagi, Yoongi mendengar suara gerakan dan tak lama kemudian tirai yang membatasi mereka terbuka dengan suara keras karena Jungkook menyentaknya.
"Lebih baik?" ujarnya dengan senyum lebar pada Yoongi.
Yoongi tersenyum kecil dan pandangannya tidak sengaja jatuh pada lengan Jungkook yang terbalut perban. "Apa yang terjadi pada dirimu?"
Jungkook melirik lengannya, "Aku terkena pecahan kaca. Dan Taehyung ada di sana."
"Dia melukaimu dengan pecahan kaca?!"
Jungkook menggeleng cepat, "Tidak, segerombolan siswa memecahkan kaca dengan bola basket saat aku berada di sebelah jendela."
Dahi Yoongi berkerut, "Dan Kim Taehyung bersamamu?"
"Yap,"
"Tidakkah ini aneh? Maksudku aku ingat kau pernah menceritakan soal kau yang mendadak mimisan hebat saat sedang bersama Kim Taehyung dan sekarang kau terluka akibat pecahan kaca saat Kim Taehyung juga berada di sekitarmu. Apa dia Dewa Kematian atau semacamnya?"
Jungkook menggigit bibirnya, "Kurasa inilah yang membuat semuanya menjadi jelas. Jadi, Taehyung menjengukku, dan dia menceritakan sesuatu soal cinta terlarang kami atau apalah dan dia terdengar begitu hancur. Dia bahkan menangis."
"Itu aneh,"
Jungkook mengangguk menyetujui, "Memang, dan aku tidak bisa berhenti memikirkannya, aku terus-menerus memikirkannya dan aku mendapat mimpi aneh."
"Mimpi?"
"Mimpi soal kau, aku dan Seokjin adalah malaikat dan Taehyung, Park Jimin, dan Kim Namjoon adalah pasangan kita dan mereka adalah iblis."
Yoongi mengeluarkan tawa tertahan, "Itu gila."
"Ya, tapi kurasa tidak segila itu juga. Maksudku, kita memang aneh kan? Seperti memiliki ingatan akan kehidupan sebelumnya dan bagaimana kita merasa begitu familiar dengan mereka. Tidakkah menurutmu ini sesuai?"
Yoongi melirik Jungkook, "Dan jika itu benar, maka sayap yang kulihat di punggung Jimin juga nyata. Begitu?"
Jungkook membulatkan matanya, "Kau melihat sayap?! Di punggung Park Jimin?!"
Yoongi mendesah pelan, "Ya, kelihatannya begitu. Sayapnya besar, dan berwarna hitam."
"Mungkin sebaiknya kita menanyakan ini pada mereka. Maksudku, potongan memori-memori yang semulanya hanya berupa mimpi terasa semakin jelas seiring waktu saat kita berada dekat dengan mereka."
Yoongi menoleh menatap Jungkook yang duduk di brankarnya. "Kau benar,"
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, semuanya berlalu dengan normal bagi Yoongi. Itupun dikarenakan dia tidak bertemu Jimin. Dia melalui harinya dengan menghabiskan waktu bersama Seokjin dan Jungkook untuk mencari tahu soal kebenaran dari apa yang mereka lihat dalam mimpi.
Tapi setelah menghabiskan waktu mereka untuk membolak-balik lembaran buku tua kering dengan kertas berwarna kekuningan, keterangan yang mereka dapatkan tidak banyak. Hanya berupa legenda dimana dikatakan seorang iblis jatuh cinta kepada malaikat yang dia temui saat fajar dan setelahnya Tuhan murka pada mereka dan menjatuhkan hukuman berupa siklus kehidupan cinta tragis yang tidak akan bisa dipatahkan.
"Apa ini cerita kita?" gumam Seokjin.
Jungkook mengangkat bahunya, "Aku tidak yakin."
"Tapi kelihatannya hanya ini yang masuk akal." Yoongi menyahut.
Jungkook mengerutkan dahinya semakin dalam dan samar dia melihat bayangan Taehyung yang berjalan diantara rak perpustakaan. "Kurasa sebaiknya aku memastikannya sendiri."
"Hah? Apa?" ujar Seokjin bingung tapi Jungkook sudah berdiri dan setengah berlari mengejar Taehyung.
Yoongi yang melihat itu berdecak pelan, "Kurasa Jungkook benar. Cara terbaik adalah dengan menanyakan kepada mereka. Mereka yang mengingat itu, kan?"
.
.
Kaki Jungkook bergerak semakin cepat mengejar sosok Taehyung yang baru saja mendorong pintu perpustakaan dan melangkah pergi. Jungkook menguatkan larinya dan akhirnya dia berhasil menyambar ujung jaket yang Taehyung kenakan.
Taehyung berhenti melangkah dan berbalik. Matanya membulat penuh keterkejutan saat Jungkook berdiri di belakangnya dengan napas terengah.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku harus bicara denganmu."
"Oke, katakan."
"Aku mendengarmu, hari itu.." ujar Jungkook, masih mencoba mengatur napasnya. Sial, dia hanya berlari sedikit dan kenapa napasnya begitu kepayahan seolah dia baru saja melakukan marathon?
"Apa maksudmu?"
Jungkook mendongak, "Kau mendatangiku hari itu. Saat aku terbaring karena luka di lenganku, kau ada di sana. Aku tahu, aku tidak tidur saat itu. Aku mendengar semuanya."
Taehyung menegang, dia mencoba mempertahankan ekspresi datarnya. "Lalu?"
"Jadi, apa itu benar? Apa semua yang kulihat di mimpi selama ini adalah kenyataan?" Jungkook meraih lengan Taehyung dan mencengkramnya, "Apa itu benar-benar terjadi?"
Taehyung terdiam cukup lama sampai akhirnya dia mengangguk pelan, "Apa yang akan kau lakukan jika itu kenyataan?"
Jungkook melepaskan tangannya dari lengan Taehyung untuk mencengkram dadanya sendiri, napasnya masih terasa sesak. "Uuh.."
"Itu semua kenyataan. Kau dan aku terikat dalam siklus yang tidak bisa diputuskan dimana kau akan mati, dalam hitungan hari, apabila aku berada di dekatmu." Taehyung berjalan menghampiri Jungkook dan menangkup wajahnya, "Maafkan aku."
Jungkook bisa melihat raut terluka dari mata Taehyung dan tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan mengelus wajah Taehyung. Ujung jari Jungkook menyentuh permukaan kulit Taehyung dan sensasi hangat yang dia dapatkan di ujung jarinya terasa begitu familiar untuknya.
Teramat familiar hingga Jungkook merasa dia seharusnya melakukan ini sejak lama.
"Kau akan mati dalam hitungan hari jika terus berada sedekat ini denganku."
Jungkook mendongak, dan ketika dia menatap Taehyung, dia merasa mengerti kenapa dia bisa jatuh cinta berulang kali pada sosok pria di hadapannya ini.
"Kalau begitu kita masih punya beberapa hari, kan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi berjalan memutari bangunan sekolah untuk mencari Jimin dan dia tidak juga menemukan pria itu di mana pun dan ini mulai membuat Yoongi kesal. Dia berdecak dan akhirnya berjalan menuju pintu keluar asrama dimana terdapat wanita penjaga yang menunggunya.
"Apa Park Jimin keluar dari asrama?" tanya Yoongi langsung. Karena jika memang Jimin keluar dari asrama, maka sudah pasti dia akan melewati tempat ini.
Si wanita menatap Yoongi dan mengangguk, "Ya, dia keluar sekitar satu-dua menit lalu."
Yoongi menatap keluar pintu kaca, berusaha menemukan bayangan Jimin dan dia melihat rambut abu-abu Jimin yang sedang berjalan memasuki hutan di depan gedung asrama.
"Aku juga mengajukan waktu keluarku." Yoongi berujar cepat.
Si wanita mengangguk ramah, "Tentu, silakan isi form ini dan serahkan kunci kamarmu." Wanita itu menyodorkan sebuah form yang dijepit di clipboard pada Yoongi. Yoongi meraih pena terdekat dan mulai mengisi data-data yang dia butuhkan.
Yoongi menunggu beberapa saat dan tak lama kemudian wanita itu sudah muncul dengan sebuah tray plastik berwarna hijau neon jelek berisi barang-barang Yoongi.
"Oke, ini barang pribadimu. Selamat menikmati waktumu."
Yoongi mengangguk, mengambil semua barangnya dalam satu tarikan tangan dan menjejalkannya ke dalam saku jaket. Kaki Yoongi bergegas bergerak mengejar sosok Jimin dan tanpa pikir panjang dia juga berjalan masuk ke hutan.
Kepala Yoongi menoleh ke sana-sini, berusaha menemukan sosok Jimin. Dia meneruskan langkahnya dan terus berjalan menyusuri hutan dengan langkah berisik. Yoongi tidak pernah melakukan hiking sebelumnya makanya dia sangat awam dengan urusan berjalan-jalan di hutan seperti saat ini.
Yoongi melangkah semakin jauh dan jauh dan dia terhenti saat mendengar suara gemerisik daun tak jauh darinya. Yoongi menoleh ke arah asal suara, "Jimin? Apa itu kau?" bisik Yoongi.
Yoongi tidak mendengar balasan apapun sehingga dia memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Yoongi terus berjalan dan akhirnya dia melihat sosok sesuatu yang terlihat menyembul dari balik pohon.
Helaan napas lega keluar dari sela bibir Yoongi. Dia berjalan menghampiri sosok itu dan saat dia sudah dekat, sosok itu berjalan keluar dari balik pohon dan Yoongi langsung menyesal dia berjalan menghampiri sosoknya.
Karena sosok itu bukanlah manusia, mendekati saja bukan. Sosok itu memiliki kulit berwarna hitam kelam yang tipis seperti kelelawar, lengkap dengan sesuatu seperti lapisan tipis agak transparan yang menyambung sisi dalam lengannya dengan sisi tubuhnya. Jika dia membuka tangannya, dia akan terlihat seperti tupai terbang. Wajahnya jelek, seperti perpaduan antara wajah anjing dan kelelewar dengan taring tajam yang mengintip dari sela bibirnya diikuti dengan liur putih yang lengket.
Yoongi melangkah mundur, dia jelas tidak bisa mendefinisikan makhluk apa yang berada di depannya. Tapi makhluk ini jelas berbahaya, taringnya terlihat begitu tajam dan kukunya terlihat bisa mengoyak kulit halus Yoongi hanya dengan satu ayunan.
Kaki Yoongi terus melangkah mundur namun sialnya dia justru tersandung akar pohon yang menyembul keluar dan jatuh terduduk dengan suksesnya. Mata Yoongi membulat ketakutan dan dia melihat makhluk itu sudah bersiaga untuk mengayunkan cakarnya pada Yoongi. Namun sebelum sosok aneh itu menyentuhnya, sesuatu sudah menyerangnya lebih dulu dan melukai makhluk itu, membuatnya mengeluarkan jeritan yang menyakiti telinga.
Yoongi membelalakkan matanya saat melihat Jimin berdiri di hadapannya. Sayapnya terbuka dan dia terlihat menyerang makhluk itu dengan sebuah belati berwarna perak. Yoongi tertegun, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan jadi dia hanya diam memperhatikan sampai akhirnya Jimin menusuk makhluk itu tepat di dada dan makhluk itu lenyap menjadi butiran abu.
Jimin berbalik tepat setelah abu makhluk itu terbang terbawa angin, "Apa kau tidak bisa menjauhi masalah sebentar saja?" ujarnya kesal pada Yoongi.
Yoongi tergagap, "A-aku bahkan tidak tahu makhluk semacam itu ada."
Jimin menghela napas, dia menatap belati di tangannya dan mengambil beberapa helai daun untuk membersihkan belati itu dan menyimpannya kembali ke dalam sarung kulitnya.
"Apa benda itu milikku?" ujar Yoongi saat melihat Jimin memasukkan belati yang sudah terlapisi sarung kulit ke dalam jaketnya.
"Kenapa?"
"Aku pernah melihat itu di mimpiku. Apa itu milikku?"
Jimin terdiam, dia menatap Yoongi yang masih duduk di rumput. "Ya, ini pisau malaikat milikmu."
"Pisau.. malaikat?"
Jimin mengangguk, "Kau. Kau agak berbeda dibandingkan dengan dua teman malaikatmu. Kau adalah malaikat petarung, pejuang, makanya kau memiliki pisau malaikat sebagai perlindungan. Dan karena itulah kau memiliki daya tahan tubuh sangat baik dibandingkan yang lainnya."
Jimin menghela napas pelan dan mengulurkan tangannya, membantu Yoongi berdiri. "Karena itu menjauhlah dariku, Yoongi. Mereka akan terus memburumu, apalagi sekarang saat ingatanmu sudah kembali."
Dahi Yoongi berkerut, "Siapa? Makhluk aneh tadi?"
Jimin mengacak rambut abu-abunya frustasi, "Dia iblis, makhluk dari duniaku."
Yoongi tersenyum, "Kau lancar sekali menceritakan ini. Padahal sebelumnya kau selalu menutup-nutupinya."
Jimin mendengus, "Apalagi yang bisa aku tutupi jika kau sudah mengingat semuanya bahkan melihat makhluk itu menyerangmu secara terbuka?" Jimin menghela napas keras, "Dan aku terlalu takut dia behasil melukaimu. Jaraknya denganmu sudah sangat dekat. Dia bisa membunuhmu dalam hitungan detik kalau aku tidak datang secepat mungkin."
"K-kalau begitu seharusnya kau berada di sekitarku terus, kan? Menjagaku darinya?"
Jimin menatap Yoongi, "Yoongi, hukuman kita tidak sesederhana itu."
"Apa maksudmu?"
"Kalau aku berada di dekatmu, selain makhluk itu yang mencoba membunuhmu, aku juga akan mengikis umurmu. Tubuhmu akan kehilangan kemampuan daya tahan tubuhnya dan perlahan-lahan akan mati, rusak dari dalam secara perlahan."
Yoongi membulatkan matanya, "Benarkah?"
Jimin menghela napas pelan, "Sudahlah, kembalilah ke asrama." Jimin berbalik meninggalkan Yoongi namun Yoongi mengejarnya dan menangkap ujung sayapnya.
"Tunggu!"
Jimin berhenti melangkah, dia berbalik dan Yoongi melepaskan ujung sayap Jimin dari tangannya.
Jimin menatap Yoongi dengan pandangan memohon, "Yoongi, kumohon. Aku tidak bisa berdekatan denganmu. Kau begitu memikat, aku bisa langsung menyentuhmu begitu saja."
Yoongi terdiam, dia menunduk malu karena entah kenapa dia merasa begitu malu dan wajahnya merona hanya karena Jimin mengatakan dirinya memikat.
"Well, bukankah sebaiknya kau memang tidak berjauhan denganku? Agar aku terlindungi dari makhluk-makhluk itu."
.
.
.
.
.
.
.
Seokjin menutup buku yang baru saja dibacanya dan kepalanya berputar ke arah jendela. Hari sudah beranjak sore dan langit mulai berubah warna menjadi penuh dengan semburat jingga. Seokjin tersenyum menatap perubahan langit, dia mengambil bukunya dan mengembalikannya ke rak tempatnya mengambil kemudian dia melangkah keluar dari perpustakaan.
Kaki Seokjin melangkah menyusuri koridor dan ketika dia melewati kelas kosong, dia melihat seseorang yang duduk di bingkai jendela yang terbuka. Tadinya Seokjin ingin mengacuhkannya, tapi dia langsung terhenti saat menyadari bahwa sosok itu adalah Namjoon.
Seokjin memutar arahnya dan membuka pintu kelas kosong itu, "Namjoon."
Namjoon yang tadinya sedang bersantai di bingkai jendela langsung menoleh menatap Seokjin. "Seokjin?"
Seokjin melangkah masuk dan menghampiri Namjoon tapi Namjoon menggeleng, "Don't."
"Apa?" ujar Seokjin.
"Jangan mendekatiku, Seokjin. Menjauhlah."
Seokjin menatap Namjoon, "Kenapa? Apa aku akan terbakar?"
Namjoon tertegun, "Kau mengingatnya?"
Seokjin menggigit sudut bibirnya, "I remember.. everything."
Namjoon memejamkan matanya dan membukanya perlahan, "Kalau begitu kau sudah tahu akibatnya kalau kau berdekatan denganku, kan?"
Seokjin terdiam, dia mendongak menatap Namjoon, "Apa kau mencintaiku?"
Namjoon mengeluarkan tawa miris dari bibirnya, "Pertanyaan macam apa itu? Jelas aku mencintaimu, kita dihukum karena itu, ingat?"
Seokjin melangkah lebih dekat dan Namjoon sudah benar-benar tidak bisa melangkah mundur lagi. "Kalau kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak mau berdekatan denganku?"
Namjoon terdiam dan setelahnya sebuah tawa kecil keluar dari mulutnya. "Astaga, tidak peduli seberapa banyak kau terlahir kembali, kau tidak pernah berubah."
"Apa maksudmu?"
"Seokjin, aku juga tidak pernah berubah. Aku tetap mencintaimu, hanya saja hukuman ini menyiksaku, menyiksa kita."
Seokjin berdecak, "Memangnya apa yang akan terjadi jika aku menyentuhmu seperti ini?" Seokjin mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Namjoon.
Namjoon tertegun tapi setelahnya dia menyandarkan wajahnya ke telapak tangan Seokjin, menikmati tangan halus itu mengelusnya.
Seokjin tersenyum, bergerak untuk mengelus Namjoon lagi namun dia tertegun saat pergelangan tangannya terasa sakit. Sangat sakit hingga Seokjin menarik tangannya dari wajah Namjoon.
"Seokjin?" ujar Namjoon bingung.
Seokjin memegangi tangannya, menekuknya di depan dada dan matanya membulat saat melihat kulitnya retak. Retak seperti tangannya adalah tangan dari boneka porselen.
"A-apa yang terjadi?!"
To Be Continued
.
.
.
.
.
Hai, kembali lagi dengan Luna dan Fallen. Hehehe
Aku bingung sih mau berkomentar apa soal chapter ini. Tapi rencananya satu-dua chapter lagi ff ini akan tamat.
Aku memang tidak banyak merencanakan part konflik mereka. Lebih kepada pencarian mereka soal jati diri mereka yang sebelumnya kemudian penyelesaian siklus yang ini. hehehe
.
.
.
.
Yap, sampai ketemu di chapter depan~
.
.
P.S:
Imprintnya dipending dulu ya. Aku masih menunggu inspirasi untuk buat itu. hehehe
