Fallen

Pair:

Kim Seokjin x Kim Namjoon

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Park Jimin x Min Yoongi

Rate: T (probably)

Genre: Fantasy, Drama, Romance.

Summary:

Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.

Warning:

Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.

Notes:

Harap baca notes yang aku tinggalkan di bawah part ini!

.

.

.

.

.

.

.

Part 6: Vicious Circle

Jika hidup adalah sebuah pilihan,

Mana yang akan kau pilih?

Apakah hidup penuh warna-warna pastel ceria, aroma manis permen kapas, dan juga senandung ceria dari para peri?

Atau..

Apakah hidup penuh warna gelap, tanpa cahaya, begitu gelap hingga kau bahkan tidak bisa melihat bayanganmu sendiri? Sebuah hidup yang akan membuatmu buta dan terus jatuh ke kerikil yang kasar.

Atau..

Tidak keduanya?

Jika diberikan pilihan..

Apakah kau akan memilih untuk tidak hidup saja?

.

.

Jika aku, diberikan pilihan..

Maka aku akan memilih untuk tidak hidup saja.

Karena bagiku, kehidupan tidak pernah membuat kita memilih.

Dia hanya membuat kita melakukan sesuatu dan nantinya akan menyesal kemudian.

.

.

Hidup yang aku jalani bukanlah pilihan.

This is like some coffee that I never ordered

.

.

Bitter and Cold


Tebing itu begitu tinggi dan terjal, terpaan angin kuat yang menampar tempat itu akan sanggup menerbangkan apapun yang menempel di badanmu. Dan itu terbukti dengan mantel yang dipakai ketiga pria itu, kelihatannya kain itu hanya akan membuat mereka terbawa angin begitu saja.

Itu jika kau adalah manusia biasa.

Sayangnya, ketiga orang ini bukanlah manusia biasa. Bahkan disebut makhluk yang pantas ada di bumi ini saja tidak.

Mereka hanya makhluk terbuang. Dibuang oleh neraka dan dilaknat surga.

Mungkin tidak akan ada yang menerima mereka, entah itu di belahan bumi ini atau di belahan galaksi yang lain.

Suara debur ombak yang memecah pinggiran tebing karang disahuti dengan hembusan angin kuat mungkin adalah satu-satunya pengisi suara di tebing itu. Karena sejak mereka bertiga berdiri di sana, tidak ada satupun dari mereka yang berniat membuka suara.

Mereka tetap diam, diam tidak bergerak, seolah mereka adalah manekin hidup yang sengaja diletakkan di pinggir tebing. Bahkan ketiga pasang sayap yang ada di punggung mereka pun tidak bergerak, sayap-sayap kuat itu diam, hanya bulu-bulunya yang akan bergerak tertiup angin, tapi posisinya tidak bergerak sedikitpun, tetap kokoh, dan sangat kuat.

"Kurasa kita harus melakukan sesuatu." Jimin berujar akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi suara deburan ombak dan raungan angin.

"Apa yang bisa kita lakukan? Menghindari hukuman kita? Membawa mereka pergi dari sini? Kau tahu itu tidak bisa. Kita sudah pernah mencobanya!" ujar Taehyung. Dia mengacak surainya yang sudah berantakan karena angin menjadi lebih berantakan lagi, "Kita sudah melakukan segalanya. Tapi mereka tetap mati."

Namjoon memejamkan matanya, di kepalanya masih terngiang jeritan ketakutan Seokjin saat tangannya retak secara mendadak. Namjoon panik, yang dia ingat dia hanya membentangkan sayapnya dan melompat dari jendela, mencoba sebisa mungkin menjauh sejauh mungkin dari Seokjin agar dia tidak lagi terluka.

Banyak orang mengeluh menderita hingga rasanya hampir mati. Dan Namjoon merasa dia memang sudah lama mati, menjalani hukuman ini seperti mati berulang untuk kemudian dihidupkan kembali secara berulang.

Tiap kali belahan jiwanya mati, maka dia juga akan ikut mati, dan ketika mereka kembali, maka dia akan hidup lagi. Hanya untuk melihat senyumnya selama sekejap mata, dan kemudian dia akan mati lagi.

Jika ini memang hukuman untuk mereka yang dibuang dari neraka dan dilaknat surga, maka mungkin tidak akan ada satu makhluk pun di dunia ini yang bersedia menjalani hukumannya. Karena ini terlalu berat. Hukuman yang terlampau berat tanpa adanya penawar sedikitpun.

"Namjoon, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Jimin.

Taehyung menoleh dan menatap Namjoon yang hanya berdiri diam dengan kedua tangan yang dimasukkan dalam mantel panjangnya.

Namjoon tertawa miris, "Apa yang harus kukatakan? Bukankah kita sudah terlalu sering mengalami ini?"

Jimin memejamkan matanya, dia mengangguk dan melipat bibirnya ke dalam mulut. Kepalanya bergerak untuk berpikir dan matanya perlahan terbuka. "Pernahkah kalian berpikir mengenai apa yang akan terjadi kalau kita ikut mati?"

Taehyung mendengus, "Kita selalu mati tiap kali mereka mati. Tiap kali mendengar detakan mungil di jantung Jungkook berhenti, aku juga merasa mati."

"Ya, tapi hanya 'merasa'. Kita tidak pernah benar-benar mati. Tapi bagaimana jika kita benar-benar mati? Apakah kita juga akan mengakhiri lingkaran setan ini?" ujar Jimin.

"Maksudmu?" ujar Namjoon, mulai tertarik pada arah pembicaraan Jimin.

"Ya, maksudku, mereka mati dan muncul lagi adalah untuk memberikan hukuman pada kita, kan? Jadi bagaimana jika kita mati juga? Kita iblis, menurutmu iblis akan bereinkarnasi menjadi manusia? Jelas tidak, kan?"

"Kau berniat mengelabui Tuhan? Kurasa itu tidak akan berhasil." Taehyung berujar setelah akhirnya dia memahami maksud Jimin. "Kita ditakdirkan untuk menjalani hukuman ini selamanya. Tidak ada yang bisa memutusnya."

"Apa yang menyebabkan kita bisa mati?" ujar Jimin.

"Tidak ada yang bisa membuat kita mati, Jim." Namjoon menyahut akhirnya. "Iblis tidak bisa membunuh kita, malaikat pun tidak. Manusia juga tidak."

Taehyung mengangguk, "Ya, tidak ada seseorang atau makhluk apapun yang memegang sesuatu yang bisa dijadikan cara untuk membunuh kita."

Jimin tersenyum miring, "Kurasa aku tahu apa yang bisa benar-benar membunuh kita."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seokjin memperhatikan kulitnya dengan pandangan serius, lengannya terangkat di depan wajahnya dan sejak tadi hal yang dia lakukan hanyalah menggerakkkan lengannya, memutarnya, membaliknya dan begitu terus seraya mengamati kulitnya.

Bekas retakan aneh yang tiba-tiba saja muncul di tangannya mendadak menghilang begitu saja. Tepatnya dia langsung menghilang tepat ketika Namjoon terbang menjauhinya.

Retakan itu memang menghilang, tapi Seokjin mendengar retakan baru yang berasal di hatinya saat Namjoon pergi dari hadapannya. Rasanya hatinya begitu sakit hingga dia terjatuh, mendadak rasa sakit di lengannya tidak lagi sebanding dengan perasaan sakitnya saat Namjoon meninggalkannya dengan begitu terburu-buru.

Hanya karena tidak ingin melihat Seokjin kesakitan.

Seokjin tidak mengerti, dia memang ingat mengenai kepingan kehidupan masa lalunya.

Tapi dia tidak ingat kenapa dia bisa jatuh cinta pada Namjoon.

Kenapa dia dan Namjoon harus terjebak di hukuman ini? Kenapa?

Apa kesalahan mereka?

Kelopak mata Seokjin berkedip dengan lambat, dia masih terpaku menatap lengannya yang disinari bias oranye matahari senja. Dulu ketika dia masih kecil, ibunya selalu mengatakan bahwa masa senja adalah masa dimana iblis dan makluk kegelapan lainnya akan muncul dan berkeliaran di bumi. Dulu, Seokjin kecil sangat takut mendengar itu, tapi sekarang, Seokjin benar-benar berharap seorang iblis menghampirinya saat ini.

Ya, iblis kesayangannya.

Helaan napas panjang keluar dari bibir Seokjin, dia masih tidak mengerti apa kiranya yang akan terjadi ke depannya. Dia sudah mengingat semuanya, dan dia tahu sekarang dia tidak akan bisa berjauhan dari Namjoon. Rasanya, bahkan jika itu membunuhnya, Seokjin tidak akan merasa keberatan menghabiskan sisa waktunya dengan Namjoon.

"Seokjin,"

Mata Seokjin melebar dengan cepat, "Namjoon?"

Seokjin mendengar suara tawa kecil, "Kau bahkan sudah langsung mengenali suaraku."

"Kau dimana?" tanya Seokjin dengan kepala yang bergerak menatap seisi kamarnya.

"Di luar jendelamu."

Seokjin berdiri, bermaksud untuk melongok keluar jendela namun suara Namjoon yang melarangnya menghentikan gerakannya.

"Kenapa?" lirih Seokjin.

"Begini saja sudah cukup untukku. aku tidak mau melukaimu."

"Kau tidak akan melukaiku."

Namjoon terkekeh, "Ya, baiklah, aku akan membiarkanmu berpikir seperti itu."

Seokjin tersenyum, dia naik ke atas meja belajarnya yang memang diletakkan menghadap jendela. Seokjin menggeser beberapa benda di atas meja dan akhirnya dia bisa duduk seraya melipat lututnya ke depan dada serta bersandar ke jendela yang tertutup.

"Apa aku tidak boleh membuka jendelanya?"

"Jangan, biarkan saja begini."

Seokjin mengangguk, dia meletakkan telapak tangannya di atas lututnya dan menggosoknya pelan. Dia dan Namjoon memang berdekatan, tapi mereka bahkan tidak melihat satu sama lain, mereka hanya mendengar suara masing-masing, tapi entah kenapa ini terasa begitu menyenangkan dan menenangkan untuk Seokjin.

"Seokjin.."

"Ya?"

"Apa kau merasa sakit?"

Seokjin diam, dia mencoba meresapi apa yang tubuhnya rasakan saat ini dan dia tidak merasakan apapun selain perasaan nyaman. "Tidak,"

Seokjin mendengar helaan napas panjang dari Namjoon. Dan entah kenapa tapi Seokjin juga merasa dia mendengar suara Namjoon yang terengah serta sesekali dia menangkap ringisan pelan dari suara Namjoon.

"Namjoon, kau baik-baik saja?"

"Ya, aku.. baik-baik saja."

"Tidak bisakah aku melihatmu?"

"Jangan, aku tidak ingin kau kembali merasakan sakit." suara Namjoon terdengar bergetar entah karena apa dan dahi Seokjin berkerut.

"Namjoon, kau yakin kau baik-baik saja?"

"Ya, sayang. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mendengar suaramu sekarang." Namjoon menarik napas dengan berat. "Ceritakan harimu."

Seokjin melirik ke jendela di belakang tubuhnya, Namjoon terdengar aneh. "Hariku.. baik."

"Kau suka sekolah ini?"

"Ya, aku suka."

Namjoon berdehem pelan, "Bagus.."

"Namjoon,"

"Ya?"

"Kenapa kau mencintaiku?"

Terdapat jeda hening yang cukup lama sampai akhirnya Namjoon membuka belah bibirnya dan menjawab dengan nada pendek-pendek. "Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu. Kau sudah berulang kali terlahir kembali, bahkan kau beberapa kali terlahir sebagai wanita, tapi aku tetap mencintaimu. Karena tidak peduli bagaimanapun sosokmu, kau tetaplah malaikatku." Namjoon menghembuskan napas pelan, "Ugh.."

Rintihan itu tertangkap jelas oleh telinga Seokjin, "Namjoon, kau kenapa?"

"Tidak, aku.. baik-baik saja."

Seokjin memutar tubuhnya, kepalanya bergerak menoleh ke kanan kiri, mencoba mencari sosok Namjoon dan dia melihat sosok Namjoon di sebelah kiri jendelanya. "Namjoon, aku akan membuka jendela ini."

"Tidak, jangan. Jangan."

"Tapi kau terdengar aneh."

"Tidak, aku baik-baik saja." Namjoon berdehem, "Matahari sudah tenggelam, kau harus bersiap untuk makan malam."

"Tapi.."

"Seokjin, kau tidak mau tidak mendapatkan tempat duduk bagus di ruang makan, kan? Bersiaplah, aku yakin Jungkook atau Yoongi mungkin akan mengajakmu makan malam sebentar lagi."

Seokjin menggigit bibir bawahnya ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. "Baiklah, sampai ketemu di ruang makan."

"Ya.." ujar Namjoon pendek dengan nada lemah.

Seokjin masih menatap jendela sekali lagi kemudian dia melompat turun dari meja.

Namjoon mendesah lega saat dia bisa mendengar langkah Seokjin yang menjauh. Dia menunduk menatap tangan kirinya yang sejak tadi dia tusuk dengan pisau perak. Pisau itu adalah pisau malaikat yang dulu pernah Namjoon ambil dari salah satu malaikat yang menyerang Seokjin. Mereka selalu mengatakan pisau malaikat adalah satu-satunya yang bisa menandingi pedang iblis, dan sepertinya mereka benar.

Namjoon memperhatikan luka besar di telapak tangan kirinya, dia menusukkan pisau itu hingga menembus ke dalam telapak tangannya. Darahnya mengalir deras dari luka besar itu dan terus menetes ke permukaan tanah di bawah kakinya.

"Ternyata.. cara ini benar-benar ampuh." Namjoon menggumam pelan.

Dia mendengar Seokjin membuka pintu dan keluar dari kamarnya, dan bersamaan dengan itu, Namjoon menarik pisaunya. Luka lebar di tangannya tidak akan bisa sembuh dengan pengobatan macam apapun. Luka akibat pisau malaikat di tubuh iblis memang tidak akan bisa sembuh, luka itu akan terus terbuka dan berdarah.

Tapi Namjoon tidak peduli. Walaupun sesungguhnya luka ini akan membuatnya melemah secara perlahan.

Dia tidak peduli, selama dia bisa mengobrol dengan Seokjin dalam jarak dekat tanpa membuatnya tersakiti.

.

.

.

.

.

.

.

Jimin memperhatikan pisau malaikat Yoongi yang berada di antara kedua tangannya. Bilah pisau itu terlihat mengkilap namun tidak memantulkan bayangan. Jimin menghela napas pelan dan menatap ke langit yang sudah gelap sepenuhnya, hanya meninggalkan warna gelap dengan beberapa titik bintang kecil yang menyebar sembarangan.

Rambutnya tertiup angin lembut khas malam hari, tapi Jimin justru membiarkannya. Kakinya yang tergantung di atap gedung itu bergerak-gerak pelan. Jimin masih menunggu, menunggu lewat tengah malam sehingga dia benar-benar yakin Yoonginya tertidur.

Dia memainkan pisau malaikat di sela tangannya dan bersenandung pelan. Dia terus melakukan itu hingga akhirnya jam dua belas tepat telah terlewati dan Jimin berdiri, membuka sayapnya dan terjun bebas ke udara untuk pergi menemui Yoonginya.

Jimin melayang tepat di depan jendela kamar Yoongi yang terbuka sedikit. Ya, Jimin tahu kebiasaan Yoongi yang selalu membiarkan jendelanya terbuka sedikit di malam hari. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membuka jendela itu dengan hati-hati.

Ketika akhirnya jendela itu terbuka sepenuhnya, Jimin bisa melihat sosok Yoongi yang meringkuk di atas tempat tidurnya seperti bayi. Senyum Jimin muncul begitu saja, dia memperhatikan raut damai di wajah Yoongi dengan senyum yang terus berada di bibirnya.

Jimin bergerak semakin dekat ke jendela Yoongi, dan ketika dia sampai di bibir jendela itu, Jimin mengangkat pisau malaikat Yoongi dan menusuk lengan bawahnya dengan itu.

"Akh," Jimin meringis pelan. Rasa sakit yang diberikan pisau malaikat akan memberikan sensasi terbakar dan nyeri luar biasa di sekitar tempat yang terkena.

Tapi khusus untuk kali ini, Jimin mencoba mengacuhkan rasa sakit itu. Dia menarik napas dalam dan mencoba mengatur napasnya sementara pisau malaikat itu tetap dia biarkan menancap di lengannya.

Darah hitam kelam milik Jimin terlihat menetes di lantai kamar tidur Yoongi dan Jimin mencoba mengingatkan dirinya untuk membersihkan itu nanti. Kaki Jimin sudah semakin mendekati Yoongi dan ketika Yoongi terlihat melenguh tidak nyaman, Jimin menekan pisau malaikat itu semakin dalam, dia menahan rasa sakit itu dengan mengeluarkan geraman rendah.

Lengannya terasa kebas, tapi Jimin mencoba membiarkannya dan terus berjalan menghampiri Yoongi. Hingga akhirnya ketika dia berhasil tiba di sebelah Yoongi, senyum kecil muncul di bibir Jimin. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus lembut pipi Yoongi.

"Yoongi.." bisik Jimin pelan.

Rasa sakit di lengannya benar-benar membuatnya nyaris kehilangan kesadaran, tapi Jimin mencoba bertahan, dia mencoba menguatkan dirinya dan perlahan-lahan dia menunduk dan memberikan kecupan di dahi Yoongi.

Jimin tersenyum lebar, "Aku.. bisa menyentuhmu.." Jimin memejamkan matanya, perlahan menggeser wajahnya hingga dahinya menempel dengan dahi Yoongi. "Aku bisa menyentuhmu tanpa menyakitimu."

Napas Jimin mulai tersengal dikarenakan darah yang mengaliri lukanya semakin deras. Dia berusaha agar darahnya tidak menetes di tempat tidur Yoongi. Jimin mempertahankan posisi mereka untuk beberapa detik selanjutnya, mencoba menikmati wajah Yoongi dan aroma tubuhnya lebih lama.

Walaupun tiap detik yang berlalu membuatnya harus terus menusukkan pisau itu dalam dan lebih dalam lagi ke lengannya, Jimin mencoba menahannya. Karena baginya, tiap detik ini terasa terlalu berharga untuknya.

"Aku bisa menyentuhmu.." bisik Jimin lagi, dia membuka matanya perlahan dan akhirnya menjauhkan wajahnya dari wajah Yoongi. Yoongi tidak bergerak sedikitpun, dia tetap tertidur dengan damai di atas tempat tidurnya.

Jimin tersenyum memperhatikan wajah tertidur Yoongi dan akhirnya pandangannya turun ke lengannya. Luka akibat pisau malaikat itu mulai meninggalkan bekas kehitaman panjang di lengannya. Dan lengannya juga terasa sangat kebas, mungkin dia tidak akan bisa menggunakan lengan kirinya untuk beberapa hari ke depan, atau mungkin selamanya, mengingat luka akibat pisau malaikat tidak akan bisa sembuh untuk iblis sepertinya.

"Cara ini.. benar-benar berhasil."

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook baru saja menyelesaikan kelasnya sore itu. Kakinya melangkah menyusuri koridor dengan lambat dan perlahan. Otaknya terasa berdengung memikirkan soal cerita Yoongi dan Seokjin tadi siang. Yoongi bilang dia bermimpi Jimin datang menemuinya di kamarnya dan yang anehnya, dalam mimpinya Jimin terlihat kesakitan.

Seokjin juga menceritakan soal mimpinya yang sama, dia juga bermimpi Namjoon mendatanginya ke kamar dalam kondisi terluka karena sesuatu seperti perak yang menancap di tangannya.

Jungkook tidak mengerti sama sekali. Dia tidak bermimpi apapun semalam, tapi dia tidak bertemu Taehyung seharian ini. Taehyung, Namjoon, dan Jimin tidak muncul di kelas mereka seharian ini. Mungkin bagi yang lainnya itu biasa, tapi bagi Yoongi dan Seokjin, terutama setelah mengalami mimpi aneh itu, ini menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Dan Jungkook, sebagai yang tidak mengalami apa-apa, juga merasa bahwa mungkin sebaiknya dia pergi berbicara dengan Taehyung. Jungkook berbelok di koridor dan dia melihat sosok Taehyung yang sedang berdiri di bawah sebuah pohon besar.

Mata Jungkook membulat seketika dan sebelum dia memproses lebih jauh, dia sudah berlari menuju pintu keluar terdekat untuk menghampiri Taehyung. Jungkook berlari kecil menyusuri rerumputan dan saat dia semakin dekat dengan Taehyung, dia melihat pria itu menenggak sesuatu dalam botol kemudian memasukkan botolnya ke dalam saku mantelnya.

"Taehyung!" ujar Jungkook saat dia tiba di depan Taehyung.

Taehyung tersenyum, sama sekali tidak mendorongnya menjauh seperti biasa. Dan anehnya, Jungkook juga tidak merasakan perasaan apapun seperti sesak napas, nyeri, atau lainnya. Dia merasa tubuhnya baik-baik saja dan ini pertama kalinya untuknya.

"Hei.." sapa Taehyung.

Jungkook tersenyum menatap Taehyung, "Kenapa kau tidak ke kelasmu hari ini?"

Taehyung menarik napas dengan mata terpejam kemudian dia menatap Jungkook. "Aku.. ada urusan."

"Urusan apa?" tanya Jungkook penasaran.

Taehyung terkekeh, dia mengulurkan tangannya dan mengusap-usap kepala Jungkook. "Kau terlihat baik."

"Ya, aku makan banyak siang tadi." Jungkook tertawa mendengar ucapannya sendiri sementara Taehyung hanya tersenyum.

"Jungkook.."

"Ya?"

"Aku.. ingin mencoba melakukan sesuatu."

Jungkook memiringkan kepalanya, "Apa?"

"Apa aku boleh menciummu?"

Mata Jungkook membulat, wajahnya perlahan-lahan memanas dan dia menunduk seraya menggerakkan kedua kakinya dengan gugup. "Uhm.. kenapa bertanya seperti itu?"

Taehyung menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar di belakangnya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Mencoba bersikap santai.

"Bolehkah, Jungkook?"

Jungkook mengangkat pandangannya, menatap Taehyung, dan akhirnya mengangguk kecil.

Taehyung menegakkan tubuhnya dan bergerak mendekati Jungkook. Dahi Jungkook berkerut saat menyadari langkah Taehyung terlihat limbung, tapi tangan Taehyung sudah lebih dulu menangkup wajahnya. Jungkook agak mendongak dan Taehyung menunduk sedikit untuk menciumnya.

Rasa ciuman Taehyung benar-benar tidak bisa dideskripsikan. Jungkook hanya merasa seolah sesuatu meledak dengan menyenangkan di dalam dadanya. Ciuman itu benar-benar bukan ciuman panas atau agresif, Taehyung hanya mengecupnya dengan lembut kemudian melepaskan bibirnya.

Taehyung tersenyum dengan tangan yang masih menangkup wajah Jungkook, "Aku.. berhasil."

Jungkook membuka matanya dan tersenyum, tapi senyuman itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja Taehyung ambruk. Jungkook menahan tubuh besar Taehyung dengan panik.

"Taehyung? Kau kenapa?" tanya Jungkook dengan panik. Dia jatuh terduduk bersama dengan Taehyung dalam pelukannya.

Taehyung membuka matanya dengan perlahan dan tersenyum pada Jungkook, "Aku.. berhasil menciummu. Dan kau tidak mati…"

Dahi Jungkook berkerut, "Apa yang kau lakukan pada dirimu?"

Taehyung menutup matanya, "Aku hanya mencoba bertukar rasa sakit denganmu."

Jungkook memeluk Taehyung erat-erat, dia ingat dia melihat Taehyung menenggak sesuatu sebelum Jungkook menghampirinya. Jadi apa? Apa yang akan menyebabkan iblis melemah setelah dia meminumnya?

Jungkook berusaha memutar otak semampunya sementara Taehyung dalam pelukannya tengah tersenyum seraya bersandar dengan nyaman di dadanya.

"Aku bisa.. mendengar detak jantungmu.." bisik Taehyung.

Jungkook menunduk menatap Taehyung yang bersandar dengan nyaman di dadanya, "Apa yang kau lakukan pada dirimu?"

Taehyung menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Tidak ada.."

Jungkook menunduk, tangannya bergerak menangkup pipi Taehyung. Sementara Taehyung justru tersenyum damai dengan wajah menikmati. Jungkook terus berusaha mengingat-ingat mengenai hasil risetnya soal iblis yang berhasil dia temukan. Ya, dia memang membaca banyak hal berkaitan dengan iblis tepat ketika dia tahu Taehyung adalah iblis.

Dan seingatnya, iblis tidak akan melemah karena meminum sesuatu, kecuali satu.

"Taehyung apa kau meminum air suci?" bisik Jungkook pelan.

Taehyung membuka matanya dan dia tersenyum seraya menatap Jungkook. "Ah, malaikatku pintar sekali."

Dan tangisan Jungkook pun meledak, "Why?" bisiknya. Iblis yang meminum air suci sama saja seperti membakar organ tubuhnya dari dalam, tidak heran Taehyung bisa menjadi selemah ini.

"Itu tidak akan membunuhku.."

"Memang tidak, tapi itu menyakitimu!" Jungkook nyaris berteriak saat mengatakannya. Ya, hal itu memang tidak akan membunuh Taehyung, tapi hal itu akan memberinya rasa sakit yang teramat sangat bagi iblis sepertinya. Dia memeluk Taehyung erat-erat di dadanya, berharap pelukannya dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan Taehyung.

"Jungkook, aku tidak apa-apa. Aku sudah mengerti inti hukuman ini sekarang."

"Apa?" bisik Jungkook parau.

"Ini hanya antara kau atau aku yang mati.." bisik Taehyung. "Aku bertukar rasa sakit itu denganmu dan kau tidak merasakan apapun saat ini, kan?"

Jungkook mengangguk, isakan pelan keluar dari sela bibirnya. "Kau tidak harus melakukan ini.."

"Aku.." Taehyung terbatuk keras, ".. lebih kuat dalam hal menahan rasa sakit.."

"Why are you trying to kill yourself?" Jungkook terisak keras dan airmatanya jatuh ke wajah Taehyung di dalam pelukannya.

"Because, maybe, If I die, we can break this curse." Taehyung berbisik rendah. "Maybe we can break this vicious circle.."


It's about you or me.

One of us should die, so the others can life.

And I'll be the one that left this world this time.


To Be Continued


.

.

.

.

.


Hah akhirnya aku ada waktu untuk nyelesaiin ini. hahaha

Ini ngetiknya lama lho. Hahaha

Dicicil sedikit-sedikit.

.

.

Part depan adalah part terakhir untuk ff ini~

.

.


P.S:

Untuk The Beauty Siders, yang komen di The Deity's Bride dengan komen kalau aku nelantarin ff ini.

Aku cuma mau bilang 'LOL'.

Tahu apa kamu soal aku nelantarin ff ini atau tidak? hahaha

Lucu, kamu lucu sekali. FF tidak update sebulan itu dihitung masuk FF terlantar? Iya?

LOL, definisi dari mana itu? XD

Kalau kamu tidak mau membaca ff-ff yang kutelantarkan ini, aku sih tidak masalah. Hahaha

Terserah kamu. Toh, aku juga tidak menulis khusus untuk kamu. Hahaha

Aku menulis untuk yang mau membaca ini, untuk yang mau dan bersedia 'mengerti' kalau aku itu kerjaannya bukan cuma ngetik fanfik doangan. Dan untuk yang memang tertarik dengan ceritanya.

.

.

Oh, sekedar informasi, aku lagi sibuk skripsian.

Jadi mungkin aku bakal nelantarin ff-ff yang ada, karena kan bisa jadi aku gak update sebulan.

Aku sih, cuma ngikutin definisinya si The Beauty Siders aja, kan dia bilang ff gak diupdate sebulan itu 'ff terlantar'. Hahahahaha

Yaudah berarti on-going fictku yang ada itu calon ff terlantar semua. Haha XD

.

.


See you next part!