Fallen

Pair:

Kim Seokjin x Kim Namjoon

Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Park Jimin x Min Yoongi

Rate: T

Genre: Fantasy, Drama, Romance.

Summary:

Tiga malaikat jatuh yang terlahir kembali karena jatuh cinta pada iblis kembali bertemu di satu tempat. Takdir mengatakan bahwa ketika ketiga malaikat jatuh itu bertemu dengan iblis yang sudah menariknya ke bumi dan kembali saling jatuh cinta, maka perpisahan yang menyakitkan tidak akan terelakkan lagi. / NamJin, VKook, MinYoon. AU.

Warning:

Fiction, AU. Inspired by Fallen by Lauren Kate and BTS Blood, Sweat and Tears Music Video and lyrics.

BGM:

Ailee – I will go to you like the first snow

Kim Kyung Hee – Stuck in Love

.

.

.

.

.

.

.

Part 7: Gone

Hidup diciptakan hanya untuk menghadapi kematian.

Kenapa?

Itu dilakukan agar kita menghargai tiap jam, tiap menit, dan tiap detik yang kita habiskan untuk hidup.

Lalu bagaimana dengan kami?

Kami tidak mati.

Atau mungkin belum.

Karena sesungguhnya kami bisa mati.

Hanya saja, kematian itu akan terasa terlalu menyakitkan bagi kami.

Dan juga bagi mereka.

.

.

.

Jungkook tidak pernah merasa sehancur ini sebelumnya. Bohong jika dia mengatakan semua yang telah dia alami tidak membuatnya sakit, hancur, dan juga sedih. Tapi kali ini, ketika dia melihat Taehyung yang lemah dan pucat dalam pelukannya, Jungkook merasa seolah jantungnya diremas dari dalam dengan kuat.

Napas Taehyung masih terengah, wajahnya pucat pasi, dan dia terlihat begitu lemah. Efek air suci memang sangat kuat untuk tubuh iblis, organ mereka terasa seperti dibakar dari dalam namun mereka tidak mati.

Ya, iblis tidak akan mati hanya karena itu.

Tapi menerima semua rasa terbakar itu dalam kondisi hidup, pasti akan membuat siapa saja merasa ingin mati. Bahkan Jungkook sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Taehyung. Jungkook memang tahu dia sudah mengalami puluhan atau mungkin ratusan kematian dalam kehidupan-kehidupannya yang sebelumnya.

Jungkook memang pernah mati, berkali-kali, tapi dia tidak pernah merasakan kematian itu merenggutnya, dia tidak mengingat apa yang dia rasakan saat dia mati untuk kesekian kalinya. Kematian itu hanya terasa seperti mimpi yang berulang dalam kepalanya. Karena ketika dia kembali hidup, dia tidak akan mengingat bagaimana rasa dari kematiannya.

Taehyung terbatuk keras dan itu membuat Jungkook agak panik, dia memeluk kepala Taehyung erat-erat di dadanya.

"Jangan lakukan ini.. kumohon.. jangan pernah melakukan ini lagi.."

Jungkook nyaris menangis lagi saat membisikkan kalimat itu. Dia tahu Taehyung tersiksa, dan dia benar-benar tidak mengerti kenapa Taehyung sampai melakukan ini.

Hanya untuk bertukar rasa sakit dengannya.

Jungkook itu manusia, rasa sakit yang dia terima tentunya masih jauh di bawah rasa sakit yang Taehyung buat untuk dirinya sendiri. Karena Jungkook yakin jika rasa sakit yang dia terima jauh lebih parah daripada apa yang sudah dia alami sejauh ini, maka dia pasti sudah akan mati. Lagi.

Taehyung membuka matanya perlahan dan Jungkook meregangkan pelukannya karena Taehyung bergerak pelan. Jungkook menunduk untuk menatap Taehyung, dia memperhatikan Taehyung yang tengah tersenyum padanya dan perlahan mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata yang ternyata sudah kembali mengalir di pipi Jungkook.

"Jangan menangis.."

Bisikan Taehyung justru membuat Jungkook menangis hebat. Dia tidak mengerti apa dosa mereka. Dan kenapa Tuhan memberikan hukuman terlampau berat untuk mereka.

Tidakkah Dia melihat kalau mereka sudah cukup menderita?

"Jangan.." Jungkook berkedip dan airmata itu kembali lolos dari matanya, menetes tepat di tulang pipi Taehyung dan perlahan menuruni wajahnya.

"Jangan pernah meninggalkanku.."

Taehyung terdiam, dia bisa merasakan tangan Jungkook yang mencengkram pakaiannya erat-erat. Dia bisa merasakan perasaan takut Jungkook. Jungkook tidak mau kehilangan dirinya.

Tapi Taehyung tahu hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa menghilangkan rasa sakit di tubuh malaikatnya.

Dia tahu cara ini berhasil.

Dan dia akan meneruskannya.

Dia harus mati. Demi Jungkook.

.

.

.

Seokjin melangkah menyusuri hutan dengan langkah pelan. Hari ini dia mengambil jatah keluar dari gedung asrama dan dia memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri hutan.

Dia juga tidak tahu kenapa. Tapi Seokjin merasa bahwa dia harus pergi ke hutan hari ini. Seperti ada suatu kekuatan tak kasat mata yang begitu menarik Seokjin untuk pergi. Seokjin tidak pernah menyukai tempat yang terlalu sepi sebelumnya, tapi dia merasa keputusannya untuk menyusuri hutan hari ini adalah keputusan yang paling tepat.

Kakinya terus melangkah, menginjak tumpukan daun kering, ranting, dan juga tanah lembab khas dari hutan. Seokjin bisa mendengar suara gemerisik dedaunan yang bergerak lembut tertiup angin. Seokjin mengangkat kepalanya, senyumnya terbit saat melihat sinar matahari yang menerobos dedaunan lebat di atas kepalanya.

Seokjin melanjutkan langkahnya dan dia terhenti saat mendengar suara gemerisik seolah seseorang baru saja menerobos semak-semak. Kakinya terhenti secara refleks dan kepalanya berputar menuju arah asal suara.

"Siapa?" gumam Seokjin. Dia berdiri diam di posisinya selama sepuluh detik hingga akhirnya dia mencoba mendekati asal suara.

Seokjin terus melangkah dan akhirnya dia terhenti saat melihat punggung seseorang yang berdiri membelakanginya. Matanya mengerjap, dia mengenal visual tubuh itu dengan terlampau baik.

Itu Namjoon. Kim Namjoon.

Tanpa sadar bibir Seokjin membentuk sebuah senyum lebar. Dia berjalan menghampiri Namjoon dengan langkah lebar.

"Na.."

Ucapan Seokjin terpotong begitu saja di ujung lidahnya saat dia melihat Namjoon tidaklah sendirian. Ada satu sosok yang memiliki sayap hitam kelam sama seperti Namjoon dan sedang berdiri di hadapan Namjoon.

'Siapa?'

Seokjin mendekat dengan hati-hati dan akhirnya bersembunyi di balik sebuah pohon yang besar dan berlumut. Dia menyandarkan tubuhnya ke sana dan bergerak untuk mendengarkan percakapan Namjoon dan si sosok asing karena dia mendengar Namjoon menghela napas tertahan dan mengucapkan sesuatu.

"Darimana kau yakin idemu akan berhasil?"

Seokjin tidak mengenal suara itu jadi dia menduga itu adalah suara dari sosok asing di hadapan Namjoon.

"Aku rasa ini akan berhasil. Aku sudah mencoba melakukan test dan hasilnya sesuai ekspektasi." Namjoon bersuara dan dahi Seokjin berkerut saat mendengar kalimat yang diucapkan Namjoon.

'Test? Test apa?'

"Apa hasil test itu adalah luka besar di tanganmu?"

Seokjin semakin bingung, dia mencoba bergeser tapi dia takut dia akan menimbulkan suara jadi akhirnya dia hanya bisa diam dan mencoba menerka-nerka apa maksud pembicaraan kedua orang itu.

"Ya, aku berhasil. Seokjin tidak merasa kesakitan lagi. Aku sangat yakin kematianku akan memutus kutukan bodoh ini."

"Ck, bahkan setelah dibuang surga dan neraka kau masih saja berani menghina Dia, huh?"

"Surga dan neraka seharusnya tidak ikut andil dalam kehidupanku."

"Jadi? Bagaimana? Kau mau aku yang menusukkan pedang ini padamu?"

Apa?

Pedang?

Seokjin tidak tahan lagi. Terlebih lagi tadi dia jelas-jelas mendengar Namjoon mengatakan sesuatu soal kematiannya yang akan membuat kutukan mereka terputus. Seokjin bergerak keluar dari balik pohon dan berseru memanggil nama Namjoon.

Namjoon terlihat terkejut, tapi sosok di hadapan Namjoon terlihat santai.

"Wah, pasanganmu." Sosok asing di hadapan Namjoon berujar santai.

"Seokjin, apa yang.." Namjoon menatap Seokjin dan Seokjin melihat keterkejutan di sana.

"Apa maksudmu?" ujar Seokjin, dia mengambil langkah semakin dekat dengan Namjoon dan akhirnya berdiri di hadapannya. "Apa maksudmu soal kematianmu?"

"Seokjin, aku tidak.."

"Hei, bukankah ini bagus? Kau bisa meminta dia menusukmu dengan ini."

Seokjin menoleh dengan gerakan cepat ke arah asal suara dan dia melihat sosok asing di hadapan Namjoon dan di belakangnya itu sedang mengangkat sebuah pedang berukuran besar di tangannya, bilah dan gagang pedang itu seluruhnya berwarna hitam dan terlihat sangat tajam.

"Apa.. itu?" gumam Seokjin.

"Ini? Ini pedang iblis, Angel. Kau tidak tahu? Ini pedang milik iblismu."

"Hentikan," Namjoon berujar rendah namun sosok asing itu malah tertawa.

"Oh, kenapa kau terdengar tidak suka? Bukankah ini akan sangat menarik?"

Seokjin semakin bingung, tapi ketika dia menatap mata sosok asing itu, Seokjin merasakan perasaan ketakutan yang amat sangat menggerogoti aliran darahnya.

Sosok itu adalah iblis.

Seokjin bisa menebaknya.

"Atau kau membutuhkan sedikit bantuan? Baiklah." Sosok itu mengambil satu langkah lebih dekat dan mengangkat dagu Seokjin. "Lihat mataku baik-baik."

"Berhenti!" Namjoon berteriak namun terlambat, Seokjin sudah menatap mata iblis asing itu dan setelahnya tubuhnya limbung.

Si iblis itu menangkap tubuh Seokjin dan memutarnya untuk menghadap Namjoon, dan Namjoon melihat mata Seokjin yang sudah berubah menjadi hitam pekat seluruhnya.

"Kau.."

Iblis itu menyeringai, dia memberikan pedang milik Namjoon kepada Seokjin yang diterimanya dengan langsung. "Kurasa malaikatmu membutuhkan sedikit dorongan. Oh, untung sekali dia sudah bereinkarnasi ratusan kali sehingga darah malaikatnya sudah tidak terlalu kuat. Karena jika iya, aku tidak akan bisa mempengaruhi pikirannya."

"Seokjin.." mata Namjoon terfokus pada Seokjin yang berjalan limbung untuk menghampirinya dengan pedang terhunus ke arah Namjoon.

"Kau tahu, Namjoon? Aku sudah sangat lama menantikan ini, aku bosan melihatmu selalu berada di atas, bahkan setelah kutukan sial itu menimpamu. Kau selalu saja menjadi yang terkuat, maka dari itu aku sangat bersyukur kau mengatakan padaku kalau kau berniat untuk mati." Iblis asing itu terkekeh pelan, "Baiklah, selamat tinggal." Dia melangkah maju dan memantapkan lengan Seokjin yang memegang pedang kemudian menusukkannya ke dada Namjoon dengan kuat.

Namjoon terbatuk, darah hitam kental keluar dari bibirnya dan iblis asing itu tertawa. Dia melepaskan tangannya dari Seokjin kemudian melebarkan sayapnya dan pergi dari tempat itu.

Seokjin mengerjapkan matanya saat iblis asing itu melayang pergi dan dia menjerit saat melihat pedang yang menancap di dada Namjoon dan juga tangannya yang memegang gagang pedang itu. Seokjin segera melepaskan pegangannya dan Namjoon jatuh terduduk di tanah basah hutan di bawahnya.

"Namjoon, Namjoon astaga, apa yang sudah kulakukan?" Seokjin ikut berjongkok di hadapan Namjoon dan meraba sekitar bahu dan dada Namjoon dengan tangan bergetar dan mata yang dibanjiri air mata.

Namjoon mengangkat kepalanya, "T-tidak apa.. ini.. ini akan sebentar.."

"Tidak, tidak, apa yang sudah kulakukan?" gumam Seokjin berulang, tangannya basah terkena darah Namjoon tapi Seokjin bahkan tidak peduli.

"S-Seok.. Seokjin.."

Seokjin mengangkat pandangannya, menatap wajah Namjoon yang perlahan mulai memucat dengan urat-urat berwarna biru tua yang menjalari wajahnya. "Maafkan aku.." Seokjin terisak hebat, dia benar-benar tidak sadar apa yang sudah dia lakukan. Dia hanya ingat dia menatap mata merah milik iblis asing itu dan setelahnya semuanya memburam di ingatan Seokjin.

Namjoon memaksakan sebuah senyum di bibirnya, darahnya mengalir menuruni sudut bibirnya dan menetes ke tanah.

Dia akan mati.

Akhirnya.

"A-aku.." Namjoon menarik napas dalam dengan wajah berkerut menahan sakit dan isakan Seokjin terdengar semakin keras. "A-aku.. aku.. mencintaimu.. m-malaikatku.."

"Tidak, tidak, jangan berbicara seperti itu." bisik Seokjin, "Apa yang harus kulakukan agar kau tidak merasakan sakit?"

Namjoon tersenyum, dia bisa merasakan tenaganya untuk hidup terus berkurang di tiap detik yang menyiksanya. Dia terbatuk dan memuntahkan darah lagi, menimbulkan teriakan ketakutan Seokjin.

"Namjoon, please.." Seokjin menangkup wajah Namjoon. "Jangan.. jangan tinggalkan aku.."

Namjoon masih tersenyum, "T-tid..tidak apa.." Namjoon menelan darah yang terasa mengganjal di tenggorokannya, "K-kau.. ka-u, a-akan.. baik.. b-baik s-s-saja.."

"Namjoon, please.." Seokjin terisak lagi, pandangan mata Namjoon semakin meredup dan entah karena apa, Seokjin justru memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Namjoon.

Seokjin merasakan rasa pahit dan panas yang kuat dari bibir Namjoon yang berlumuran darahnya sendiri tapi Seokjin tidak berhenti. Dia terus mencium Namjoon dan memeluknya, dia merasakan Namjoon membalas ciumannya dan memberikan kecupan lemah dan setelahnya bibir Namjoon berhenti bergerak.

Isakan dari Seokjin membuat ciuman itu terlepas, Seokjin bisa merasakan Namjoon semakin berat di pelukannya. Seokjin membuka matanya dan dia melihat mata Namjoon yang tertutup.

"Tidak, tidak.. please.. Namjoon.. please.." Seokjin menggeleng berulang kali, menangkup wajah Namjoon dan mengusap-usap pipinya. Mata Namjoon tertutup dan Seokjin melihat percikan api yang perlahan muncul di wajah Namjoon.

"Namjoon! Tidak!"

Seokjin pernah membaca mengenai iblis yang akan menjadi abu ketika mati, dan dia tidak bodoh untuk menyadari bahwa proses itu lah yang sedang terjadi pada Namjoon.

Seokjin menarik Namjoon dalam pelukannya, matanya terpejam dengan tangan yang gemetar, berusaha terus memeluk Namjoon walaupun tubuh Namjoon terasa semakin panas.

"Tidak, tidak, kumohon.. kumohon.. Namjoon.. kumohon.. tidak.. please.."

Seokjin tidak melonggarkan pelukannya sama sekali walaupun rasa panas itu semakin terasa dan tubuh Namjoon terasa mulai memudar dalam pelukannya. Seokjin masih memeluknya, hingga akhirnya dia jatuh menghantam tanah basah di bawahnya saat tubuh Namjoon hilang seutuhnya.

"Tidak, tidak! Namjoon! NAMJOON!" Seokjin membuka matanya dan dia tidak melihat apapun selain udara kosong di hadapannya. Seokjin menutup mulutnya dengan kedua tangan dan tangisannya keluar tanpa terkendali. Napasnya sesak dan tubuhnya gemetar hebat, dia terisak keras dan perlahan matanya terpejam.

Seokjin sangat berharap ini mimpi buruk, dia sangat berharap ini adalah mimpi buruk dan nanti dia akan terbangun di atas tempat tidurnya dan Namjoon masih berada di sekitarnya seperti biasanya. Seokjin membuka matanya perlahan namun yang dia lihat masih sama.

Udara kosong.

Tanpa Namjoon.

Seokjin terdiam, dia mendongak dan setelahnya berteriak kuat. Tangisannya semakin keras dan dia terus berteriak, tanpa mempedulikan tenggorokannya yang sakit ataupun napasnya yang habis. Seokjin jatuh ke tanah di hadapannya, dia kembali menangis seraya meremas tanah di hadapannya.

'Namjoon..'

.

.

.

Jimin yakin. Sangat yakin bahwa keputusannya untuk pulang ke Dunia Bawah adalah keputusan terburuk sekaligus paling bodoh yang pernah dia lakukan.

Dia sudah tidak berkuasa di Dunia Bawah, seisi Dunia Bawah yang dulunya mematuhinya berbalik membencinya. Terlebih lagi pemimpin baru mereka bukanlah seseorang yang membela Jimin, dia membenci Jimin sejak dulu dan dia adalah orang yang tertawa paling keras saat Jimin dijatuhi hukuman karena mencintai malaikat.

Tapi jika ini bisa dilakukan untuk memutus kutukan mereka dan membuat baik Jimin ataupun Yoongi tidak lagi menderita, maka Jimin rela melakukan apa saja untuk mewujudkannya.

Sebenarnya Jimin tidak berniat memilih proses kematian yang menyakitkan, tapi dia agak ragu tusukan pedang malaikat milik Yoongi benar-benar sanggup menghilangkan jiwanya.

Karena itulah Jimin berada di sini, mencoba sesuatu yang ekstrim, menerima hukuman yang seharusnya diterima iblis sepertinya karena menyentuh makhluk surga.

Hawa panas yang terasa membakar menyambut Jimin ketika dia menginjakkan kakinya kembali ke Dunia Bawah. Jimin memperhatikan sekelilingnya, banyak iblis dengan kasta di bawahnya yang menatapnya dengan pandangan tidak suka dan benci.

Jimin adalah iblis yang sudah menyentuh makhluk surga, bahkan penampilannya pun akan terlihat berbeda dan itu membuatnya semakin dibenci para kaum Dunia Bawah. Jimin melangkah semakin jauh memasuki Dunia Bawah dan akhirnya dia tiba di tempat yang sejak tadi ditujunya.

"Jimin? Apa yang membawamu kemari?"

Jimin tersenyum tipis, menatap iblis yang saat ini menggantikan posisinya, "Aku ingin mengambil hukumanku."

Sebelah alis iblis itu terangkat, "Maksudmu?"

"Aku menerima hukumanku, aku tidak akan lari lagi. Aku menerima hukumanku sebagai iblis pengkhianat yang sudah menyentuh makhluk surga."

Dahi iblis itu berkerut, kemudian dia menyeringai, seringaian yang terlampau bengis dan kejam. "Kau yakin?" bisiknya, terdengar begitu antusias.

"Ya,"

"Aku yakin kau tahu dengan pasti apa hukumanmu, kan?"

"Ya, sayapku akan dicabik dan jantungku akan dibakar, kan?" Jimin mengangguk, "Itu bisa kuterima."

Seringaian di bibir iblis itu semakin melebar, "Aku akan segera siapkan eksekusimu."

"Oke, tapi aku ingin meminta satu permintaan terakhir."

"Apa itu?"

.

.

Yoongi menghela napas pelan seraya menatap jendela kamarnya yang terbuka. Hari ini penuh dengan kejadian aneh, dimulai dari Jungkook yang tidak bisa ditemui, dan sekarang Seokjin yang menghilang dari gedung asrama.

Bahkan saat ini pihak sekolah sedang mencoba mencari Seokjin yang masih belum kembali padahal waktu keluarnya sudah habis sejak tiga jam lalu. Dan menurut Yoongi ini aneh sekali, dia ingin mendiskusikan ini dengan Jungkook, tapi sialnya Jungkook juga tidak bisa ditemui.

Sebenarnya kemana perginya orang-orang yang dikenalnya?

Yoongi mendengus keras, memikirkan kehidupan sekolahnya yang suram membuatnya merasa semakin stress saja. Dari awal dia memang tidak mudah akrab dengan orang lain dan sekarang, disaat dia sudah menemukan mereka yang 'senasib' dengannya, orang-orang itu justru tidak bisa ditemui. Yoongi benar-benar benci situasi ini.

"Yoongi.."

Suara seseorang yang memanggilnya membuat Yoongi mendongak, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Jimin, sedang melayang di dekat jendelanya dengan sayap yang terbuka.

"Jimin?"

Yoongi hanya pernah melihat sayap Jimin satu kali, dan kini ketika dia melihatnya lagi, Yoongi tidak bisa berhenti untuk tidak merasa kagum.

"Jimin, apa yang kau lakukan di sana? Bagaimana kalau orang lain melihatmu? Cepat masuk!" ujar Yoongi panik, dia menggapai-gapai Jimin dengan panik dan Jimin terkekeh pelan seraya melayang mendekati ambang jendela dan mendarat dengan mulus di sana.

Yoongi melangkah mundur, memberi ruang untuk Jimin agar bisa melompat turun dan masuk ke dalam kamarnya.

Jimin melompat ringan dan dia mendarat tepat di hadapan Yoongi. Yoongi tersenyum kecil, "Kau kemana saja?"

Jimin tersenyum, meraih Yoongi dan menariknya dalam pelukan, "Aku? Mengurus sesuatu."

Yoongi agak tersentak saat dia merasakan bahwa tubuh Jimin sangat dingin. Dahinya berkerut bingung, tapi dia mencoba mengabaikan perasaan buruknya dan membalas pelukan Jimin, "Mengurus apa?"

"Kita."

"Aku tidak mengerti."

Jimin terkekeh, "Kau akan mengerti nanti."

"Jimin, aku benci rahasia."

Jimin tertawa, dia mengusapkan wajahnya ke puncak kepala Yoongi, "Aah, aku benar-benar merindukan ini. Aku lupa kapan terakhir kalinya aku menyentuhmu sedekat ini."

Perasaan buruk itu terasa semakin kuat dan Yoongi mulai ketakutan, "Jimin.. apa kau baik-baik saja?"

"Aku? Ya, aku baik. Sangat baik."

"Kau yakin?" tanya Yoongi

"Hmm.. tidak ada yang jauh lebih baik daripada berada dalam pelukanmu."

Yoongi memukul punggung Jimin dengan keras, membuatnya mengaduh pelan. "Jangan bicara yang aneh-aneh!"

Jimin tertawa, dia menghela napas dan memejamkan matanya, mencoba menikmati tiap detik yang dia lewati dalam pelukan Yoongi.

Yoongi sendiri hanya diam, pikirannya sibuk memikirkan kenapa Jimin bertingkah aneh dan kenapa mereka baik-baik saja padahal sudah beberapa menit berlalu sejak mereka melakukan kontak fisik.

"Jimin.."

"Ya?"

"Kenapa badanmu terasa dingin?"

Jimin terdiam, dia tahu Yoongi pasti akan menyadari itu. "Tidak apa-apa."

"Jimin, kenapa? Apa kau sakit?"

Jimin terkekeh pelan, "Iblis tidak bisa merasakan sakit, sayang."

"Oh, begitu ya?"

"Ya.."

Yoongi terdiam, dia masih memeluk Jimin dengan kepala yang bersandar di bahu Jimin. "Kau tahu? Seokjin dan Jungkook menghilang. Aku tidak bisa menemukan mereka sejak siang tadi."

"Benarkah?"

"Ya, aku tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba menghilang dan meninggalkanku."

Jimin tersenyum, "Mereka tidak meninggalkanmu.."

Yoongi terkekeh, "Aku tahu, aku hanya kesal aku tidak memiliki teman bicara sejak siang."

Jimin tersenyum, suara tawa Yoongi adalah sesuatu yang paling dia cintai sejak awal pertemuannya dengan Yoongi.

Yoongi menarik napas kemudian mengusap punggung Jimin, dan ketika dia melakukan itu, dia melihat tubuh Jimin yang tadi disentuhnya mendadak melebur menjadi debu berwarna hitam. Yoongi tersentak, dia melepaskan pelukannya dan membelalakkan matanya saat melihat wajah Jimin yang sudah pucat pasi dengan garis-garis berwarna hitam di sekitar wajahnya.

Wajah jimin retak.

Retak seperti wajah boneka porselen yang dihancurkan.

"A-apa yang.. terjadi?" bisik Yoongi, dengan gemetar dia meraba pipi Jimin dan pipi itu melebur di bagian yang disentuhnya.

"Jimin! Apa yang terjadi?!" seru Yoongi.

Jimin tersenyum, dia menangkup wajah Yoongi walaupun itu membuat ujung jarinya melebur menjadi debu. "Ternyata waktu yang kudapatkan sudah habis.."

"Jimin.."

"Aku.. memohon pada mereka untuk menemuimu.. dan mereka mengabulkannya. Hanya saja aku tidak tahu waktunya sesingkat ini.."

"Jimin.. Jimin aku tidak mengerti.." bisik Yoongi, dia ingin menolak pemikiran yang bersarang di kepalanya. Dia ingin mempercayai bahwa Jimin baik-baik saja.

Jimin baik-baik saja.

Dia akan baik-baik saja.

"Jimin kau tidak boleh meninggalkan aku.."

"Aku tidak akan meninggalkanmu.."

"Jimin, jangan berbohong." Yoongi menatap Jimin walapun matanya mulai berkabut karena air mata. "Jimin, jangan berbohong padaku.."

Jimin tersenyum, dia menangkup wajah Yoongi, "Maafkan aku.."

"Jimin, tidak.."

"Yoongi.. aku ingin melakukan sesuatu." Jimin tersenyum, "Kau tahu? Kita belum pernah melakukan ini sebelumnya. Bahkan setelah puluhan reinkarnasi yang kau alami."

Yoongi terdiam, dia tidak mampu mengucapkan apapun, matanya bergerak liar, memperhatikan Jimin yang semakin memudar bersama debu. "Jangan pergi.."

Jimin menggeleng, "Aku tidak akan pergi.."

"Jimin, jangan pergi.."

Jimin menggeleng, "Tidak akan, sayang.."

"Jimin.."

Dan Jimin membungkam mulut Yoongi dengan mulutnya sendiri. Yoongi terkesiap, tapi dia langsung memejamkan matanya dan bergerak menyambut bibir Jimin. Bibir Jimin terasa dingin, tapi tekstur lembut itu tetap terasa. Yoongi berusaha untuk terus mencium Jimin walaupun dia merasakan kontur bibir Jimin yang semakin memudar setiap detiknya.

Dan akhirnya, ketika sentuhan itu menghilang, Yoongi membuka matanya, dan Jimin tidak lagi berada di hadapannya.

Yoongi mencoba menguatkan dirinya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ini semua hanya mimpi buruk, ini bukanlah kenyataan. Jimin akan kembali padanya, berkeliaran di sampingnya tanpa bisa tersentuh.

Yoongi menggeleng kuat, dia masih ingat bisikan dalam kepalanya sebelum sentuhan bibir Jimin benar-benar menghilang. Dan bisikan terakhir Jimin itu benar-benar menamparnya dan menyadarkannya kalau ini bukan mimpi.

Ini bukan mimpi, dan Jimin tidak akan kembali lagi.

'Yoongi, I love you..'

.

.

.

Mereka bilang, tidak ada yang sanggup membunuh iblis, kecuali jika itu adalah pedangnya sendiri.

Tapi Taehyung akan mematahkan pemahaman itu.

Dia sudah menenggak banyak sekali air suci bahkan sampai sayapnya pun mulai rontok karena ulahnya.

Prosesnya terasa sangat menyiksa. Sangat.

Dia bahkan harus membuat Jungkook menjauh darinya dengan pergi dari hadapan pemuda itu dengan mengandalkan kekuatan terakhirnya. Jungkook sangat histeris, dia bahkan mencoba berlari mengejar Taehyung yang terbang meninggalkannya.

Dan akhirnya, di sinilah Taehyung sekarang, berdiri di pinggir tebing dengan napas terengah dan tubuh gemetar karena menahan sakit.

Sakit sekali.

Organ dalam tubuhnya terasa terbakar, bahkan dia tidak bisa berhenti mengeluarkan darah dari mulutnya.

Sakit.

Rasanya benar-benar sakit.

Tapi mungkin inilah yang dirasakan Jungkook saat dia harus berulang kali tewas di hadapan Taehyung.

Taehyung tidak pernah tahu bagaimana rasanya jika dia mati, tapi jika dia tahu prosesnya menyakitkan seperti ini, Taehyung jadi menyesal telah membiarkan Jungkook harus mati berulang kali karena kutukan bodoh yang menyelubungi mereka.

Sial, tubuhnya terasa semakin sakit dan Taehyung bisa merasakan sayapnya semakin menghilang dari tubuhnya.

Sakit.

Sakit sekali.

Tapi jika dia tidak melakukan ini, maka Jungkook lah yang akan mati.

Jungkook lah yang akan merasakan ini.

"Taehyung!"

Suara itu..

Tidak mungkin.

Taehyung menoleh dengan perlahan dan dia melihat Jungkook di sana, berdiri dengan napas terengah dan penampilan berantakan. Kelihatannya pemuda itu baru saja berlari menerobos hutan dengan sembrono, terbukti dari betapa berantakannya penampilannya.

Jungkook melangkah cepat menghampiri Taehyung dan berdiri di hadapannya. "Kau tidak boleh pergi sendiri."

"Jungkook, aku melakukan ini.."

"Untuk kita. Aku tahu." Jungkook berhenti tepat di hadapan Taehyung, dia meraih tangan Taehyung yang besar dan menggenggamnya. "Aku tahu, aku tahu kau melakukan ini untuk kita."

Jungkook mendongak, "Tapi kau harus tahu, bahwa jika kau berniat untuk pergi, maka aku akan pergi bersamamu."

Taehyung membulatkan matanya, "Tidak! Kau tidak boleh melakukan itu!"

"Kenapa tidak?"

"Karena aku melakukan ini untuk membiarkanmu hidup lebih lama.."

"Dan kau pikir aku mau hidup lebih lama jika kau tidak ada di dunia ini? Mungkin, mungkin jika kita tidak dipertemukan saat usiaku masih semuda ini, aku yakin aku akan menunggumu, terus menunggu tanpa tahu siapa yang ditunggu hingga aku menua dan mati. Karena aku tahu, cinta ini akan selalu menuntunku padamu."

Jungkook tersenyum menatap Taehyung dengan mata berkaca-kaca, "Aku tidak keberatan selalu merasakan kematian, asalkan di tiap kematian itu, aku bisa bertemu denganmu lagi. Lagi. Dan lagi."

Taehyung terdiam, tangannya terulur menghapus butiran airmata Jungkook yang jatuh dari sudut matanya dengan tangannya yang sudah kotor oleh darah.

"Jadi, apa rencanamu untuk mati? Aku akan ikut denganmu."

Taehyung terdiam, "Aku tidak bisa membiarkanmu mati. Tidak lagi."

Jungkook tersenyum, dia meraih tangan Taehyung dan menariknya menuju bibir tebing. Jungkook melirik ke bawah, ombak yang memecah tebing terdengar sangat menyeramkan, Jungkook agak bergidik mendengarnya.

"Mati karena dihantam ombak kelihatannya menyakitkan. Tapi baik kau dan aku tidak ada yang memiliki alat membunuh yang praktis. Benar, kan?"

Taehyung terengah-engah, dia merasa semakin kesakitan di tiap detik waktu yang berlalu.

Jungkook tersenyum, tangannya terulur dan mengusap darah yang mengalir di sudut bibir Taehyung. "Tapi aku tidak takut, karena aku akan ikut bersamaku, kan?"

Taehyung menggeleng, "Jungkook.. jangan.."

"Tidak apa, aku lebih memilih cara ini.. daripada harus sendirian di dunia ini. Lagipula, awalnya baik kau dan aku tidak berasal dari dunia ini." Jungkook menangkup wajah Taehyung, "Tidak apa, mungkin dengan ini kita bisa bersama selamanya. Tanpa harus terpisah lagi."

"Jungkook.."

"Sst.." Jungkook berdesis pelan,kemudian dia memberikan sebuah kecupan di bibir Taehyung. "Jika memang hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa bersamamu, maka aku akan melakukannya."

Jungkook tersenyum, mencium Taehyung sekali lagi, kemudian mendorong tubuh mereka berdua dari tebing.

'Ya, jika dengan ini kami bisa bersama, maka kami akan melakukannya.'

The End


.

.

.

.


Yeah, akhirnya salah satu on-going fict milik saya tamat :')

Saya sedang berusaha mencicil menyelesaikan on-going fict, huhu T^T

Dan akhirnya salah satu bisa tamat. T^T

Btw, ini endingnya tragis ya? iya, emang plotnya gini sih /ditabok.

.

.

.

Ditunggu selalu tanggapannya~

Dan, gak ada sequel! /ditabok lagi


.

.

.

.

.


Epilogue

Jika manusia mati, kemana mereka akan pergi?

Akankah mereka pergi ke surga?

Ataukah mereka pergi ke neraka?

Atau mungkinkah mereka tidak akan pergi ke manapun?

Mungkinkah mereka tidak akan sampai di tempat lain?

Mungkinkah mereka hanya akan tinggal dalam kehampaan?

.

.

Lalu, jika 'mereka' mati, kemanakah mereka akan pergi?


.

.


_South Korea, 50 years later_

Dia menghela napas pelan, menjadi iblis memang tidak pernah menyenangkan.

Rutinitas yang dia lalui hanyalah sesuatu yang sama dan monoton. Sama sekali tidak memiliki esensi yang membuatnya merasa bersemangat atau tertarik.

Semuanya datar, monoton, dan membosankan.

Dia menghela napas. Lagi.

Matanya memperhatikan bagaimana matahari mulai tenggelam, menyisakan bayang-bayang berwarna oranye kemerahan di langit. Malam sebentar lagi tiba, dan itu berarti, sudah waktunya bagi dia dan kedua temannya, untuk pergi mengganggu manusia. Membuat mereka terjebak semakin dalam pada dosa duniawi.

Membuat manusia itu menderita karena dosa mereka.

"Hei, kau sudah siap? Matahari sudah turun."

Dia menoleh, melihat kedua temannya yang baru saja mendarat dengan mulus di atap gedung.

Dia mengangguk ringan, "Ya, ayo pergi."

Mereka bertiga membuka sayap mereka, sayap besar berwarna hitam kelam yang menjadi ciri khas iblis.

Mereka bertiga berdiri di pinggir gedung, bersiap untuk melompat, ketika mereka melihat sesuatu, sedang melintas dengan gerakan cepat menuju langit.

Seberkas cahaya putih keperakkan yang menyilaukan, namun juga terlihat sangat indah.

Mereka bertiga terpaku, apalagi saat mereka mendapatkan visualisasi lebih jelas, mereka baru menyadari bahwa cahaya itu berasal dari kepakkan sayap malaikat.

Kepakkan sayap tiga malaikat yang sedang tergesa-gesa terbang menuju langit sebelum matahari benar-benar menghilang dari muka bumi.

Dan di tengah langit yang dipenuhi semburat oranye itulah, untuk pertama kalinya, keenam makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda bertemu, dan berpandangan untuk pertama kalinya.

Mereka tahu ini terlarang.

Surga dan neraka tidak boleh bertemu,

Lalu kenapa mereka justru mengabaikan larangan itu dan justru menikmati satu sama lain melalui pandangan mata?

Surga dan neraka sangat bertolak belakang.

Dan mereka tidak boleh bertemu.

Lalu kenapa mereka justru mengabaikan larangan terbesar mereka dan justru menikmati perasaan berdebar yang terasa begitu nyata di dalam dada?

Kenapa?

Ini nyaris terasa seperti mereka pernah mengalami ini sebelumnya.

Ya, mereka hanya tidak tahu.

Jika takdir mereka memang seperti itu.

Tidak akan berubah.

Tidak peduli sebesar apa mereka mencoba.

Tidak peduli sebesar apa mereka melakukan perubahan.

Lingkaran hukuman mereka tidak akan pernah berakhir.

Mereka hanya tidak tahu, bahwa dengan membiarkan debaran itu menguasai mereka,

Mereka sudah membuka jalan baru menuju lingkaran hukuman yang baru.

Lingkaran hukuman tanpa ujung dan tidak bisa terputus.


.

.

Siklus mereka baru saja dimulai..

.

.


End