AoKi's life

Cast : Aomine Daiki, Kise Ryouta, Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya, Midorima Shintarou, Takao Kazunari (Kuroko no Basket). Akabane Karma, Shiota Nagisa (Ansatsu Kyouhitsu). Kaidou Haru, Kaidou Ren (Super Lovers. Haruno Sakura (Naruto). Keita Kamogari (OC. Karakter di dorama Love in Tokyo Season 2 dan anime Itazurana Kiss)

Dics : karakter bukan milik saya, tapi cerita ini asli milik saya nanodayo :v

Chap 2 update... gomen keterlambatan updatenya ya.. Joy ngeditnya ketika jam istirahat saat disekolah jadi lama, kalau dirumah ga bisa ngedit2 FF karena banyak kerjaan -_- maklum anak sulung, cewek lagi, matih kitah -_- (curcol :v)

Karakter Kise disini makin OOC yak, maaf atuh untuk kelangsungan cerita :D

Nah Joy mau balas review di chap 1 kemarin dulu yakk..

.

24AkasaVinka20

Jadi ini settingnya kayak Itazura na Kiss yaaaa?! Aku suka bangett drama ituuu! Update ASAP yaaakkk! Ganbatteeee!

= iya.. Joy juga suka banget sama dorama itu.. walau fujo tapi kalau nonton dorama itu Joy berasa jadi cewek yang sebenarnya yg suka drama romantis antara lelaki dan wanita :v ini udah update kok.. arigato udah baca daan review FF Joy.. review lagi ne.. semoga suka sama chap 2 nya :)

.

Kyuuta Shin MT

Posisinya Kise jadi Kotoko yak xD

Aomine jadi Irie xD

Kalo dipikir pikir.. Kotoko ama Kise emang punya sifat yg sama :3 bego-bego gimana gituu xD #dilempar tapi imutt x"D

Aomine juga.. xD

Nice fict! (y)

Ditunggu kelanjutannya~ xD

= betul sekalii.. kan Kise sama Kotoko Cuma beda jenis kelamin, kalo sifat mah 11 12 :v

Aomine sekali-sekali bolehlah jadi lelaki cool nan pendiam seperti Irie, walau rada ga cocok karena Aomine kan mesum :v #ditabokAaomine

Ini udah lanjut.. arigato udah baca dan review FF Joy.. semoga suka sama chap 2 nya.. review lagi ne :)

.

hagane runa

lanjutkan.. semua readersmu menunggu :)

= ini udah lanjut.. arigato udah baca dan review FF Joy.. semoga suka sama chap 2 nya.. review lagi ne :)

.

Yukiya92

Pas baca summary nya kupikir ceritanya bakal gaje karena banyaknya pemain dari fandom lain. Eh ga nyangka ceritanya bagus banget. Langsung suka

Dilanjut ya ceritanya. Jangan putus ditengah jalan. Fighting!

= Hehe gomen kalau banyak couple dari fandom lain.. Joy suka masukin otp Joy di setiap FF walau beda fandom :3 arigato udah baca dan review FF Joy.. semoga suka sama chap 2 nya.. review lagi ne :)

.

R.A

wah update chap 2 nya dong ,

Aomine jahat bgt dah -,-

= ini udah update.. Aomine mah gitu orangnya :v

arigato udah baca dan review FF Joy.. semoga suka sama chap 2 nya.. review lagi ne :)

.

shiroo

kise perawat? gue kesian ama pasiennya wkwkwk. yak dasar aomine kasar, ditinggal kise tau rasa lo. hiks gue kangen ff aokise. ayo authorsan lanjutttt yaaa

= Ahaha iya makin sakit malahan pasiennya :v

Aomine mewek ntar kalo ditinggal Kise :3 Sesama AoKise shipper mari lestarikan FF AoKise hahaha :D ini udah lanjut yaa.. panggil Joy aja gitu biar akrab :3

arigato udah baca dan review FF Joy.. semoga suka sama chap 2 nya.. review lagi ne :)

.

Joy mengucapkan terima kasih sebanyak2nya untuk yang udah baca dan review FF abal2 Joy ini.. Joy jadi makin semangat nulis FF kalau banyak yang respon :D

Sekali lagi terima kasih semuanyaaaa :) :* :*

.

.

Maaf kalau masih ada typo ya~

.

.

Mengandung konten Yaoi/Gay/Homo

HOMOPHOBIC JUST GO

.

DLDR

.

HAPPY READING

CHAP 2

"Eumm Keitacchi panggil aku Kise atau Ryouta saja ssu. Aku belum pantas di panggil dengan marga itu ssu." Ucap Kise menunduk sedih.

"Em ok. Ryouta."

.

.

Kise dan Keita pun mulai berlatih. Dengan suara ramai dan melengking milik Kise yang tiap saat terdengar, tentu saja.

"Yak baka jangan lupa disterilkan dulu baka Ryouta !" Bentak Keita kesal karena Kise lagi-lagi melupakan itu.

"Tehehe gomen ne ssu. Disterilkan ssu." Kise menyengir sungkan. Namun tetap mematuhi perkataan pria tampan itu.

Mereka terus berlatih hingga ketiga anggota yang lainnya datang, mungkin berempat karena di belakang Ren terlihat Haru-sensei yang mengekori.

"Wow wow Keita-kun kedua lenganmu tampak berseni haha." Karma tertawa melihat kedua lengan Keita yang membiru sana sini.

"Keita kau terlihat keren." Komentar datar Ren yang membuat Haru cemberut.

"Lebih keren aku Ren." Ucap Haru merangkul pinggang Ren posesif.

"Wakakak seni yang luar biasa Keita." Takao berkomentar sembari tertawa lebar.

"Gomen ne. Aku memang tidak berbakat." Kise menyudahi latihannya. Ia menundukkan kepalanya dalam.

"Urusai kalian. Dan Ryouta kau hanya perlu berlatih, masih ada waktu dua hari lagi sebelum terjun magang mengawasi pasien. Aku akan membantumu." Keita berdiri tegap lalu mengangkat dagu Kise sembari mengelus pipi Kise yang telah dibasahi air mata.

"Wow sudah akrab ternyata. Cuit cuit." Karma bersiul jahil. Tapi karena memang dasarnya Kise tak peka ia malah tak terganggu, justru ia menatap Keita berbinar.

"Nah nah sudah. Sebaiknya kalian makan. Ini aku bawakan makan siang. Makanlah diluar, nanti akan ku permisikan pada Haruno-san." Takao menyerahkan nampan berisi makan siang pada Kise dan Keita yang langsung diambil keduanya.

"Tak perlu. Aku yang tugas hari ini, jadi pergilah dan kembali sebelum jam 1." Haru-sensei memberi izin.

"Hai Sensei. Arigato gozaimasu." Ucap Kise dan Keita serempak.

"Tentu cantik." Haru berkedip genit pada Kise.

Tuk

Ren menginjak kaki Haru kuat. Lalu melenggang pergi menuju meja yang berisi alat suntik.

"Yak ittai Ren !"

"Sengaja."

Kise dan yang lainnya tersenyum kecil. Lalu Kise dan Keita pun berjalan keluar, namun saat keluar mereka berpapasan dengan Aomine.

"Ah Aominecchi sudah mak-" Ucapan Kise terputus karena Aomine melewatinya begitu saja tanpa melihat kearah Kise sedikit pun.

"Ma ma sebaiknya kita ke atap. Aku lapar. Sini aku bawakan makanan mu." Ucap Keita cepat lalu menaruh nampan Kise diatas nampannya.

"Ah ne ayo." Kise menjawab seperti orang linglung.

Mereka pun meneruskan jalannya menuju atap untuk menyantap makan siang.

Aomine POV

Jadi mereka makan bersama? Apa-apaan itu. Membuatku kesal saja. Awas saja kau berani merebut istriku Kamogari.

Aomine POV end

Aomine melirik jam tangannya berkali-kali, ia tampak gusar. Pasalnya sang istri belum juga kembali semenjak setengah jam yang lalu, ini terlalu lama.

Puk

"Mereka akan kembali sebelum jam 1. Tenanglah." Ujar Haru sembari menepuk bahu Aomine.

"Aku tidak menunggu mereka. Tapi mengapa lama sekali sebelum jam 1?" Tanya Aomine datar.

"Karena aku yang menyuruhnya tadi. Ku lihat istrimu begitu tertekan. Hehe aku baik bukan." Haru berkata sembari tertawa bangga akan dirinya. Sedangkan Aomine hanya menatap Haru datar.

"Dasar bodoh." Ren bergumam menatap kakak sekaligus kekasihnya itu.

Namun tak lama setelah itu Kise dan Keita kembali, tepat lima menit sebelum jam 1.

"Gomen lama minna-san." Kise memasuki ruangan itu sembari membungkuk hormat diikuti Keita.

"Tak apa Aomine-san. Haru-sensei telah menjelaskannya padaku. Lanjutkan tugasmu." Perintah Haruno-san.

Latihan pun berlangsung hingga jam 5 sore. Dan belum ada satu pun tanda ceklis pada buku kerja Kise. Itu membuat Kise murung dan lesu.

Saat ini Kise berada di loker bersama Kuroko, Keita, Ren dan Karma. Takao telah lebih dulu keluar karena ingin menemui Midorima dahulu.

"Sudahlah Kise-kun. Besok kita berlatih lagi." Kuroko memberi semangat pada Kise.

"Huwaaa Kurokocchi." Kise mengeluarkan tangisan buayanya.

"Yak suara mu seperti lumba-lumba baka." Keita memprotes Kise.

"Hidoi ssu hiks."

"Bagaimana kita minum-minum dulu? Aku masih menunggu istriku selesai tugas." Karma memberi ide.

"Aku tidak bisa. Akashi-sensei menyuruhku ke ruangannya setelah ini." Kuroko.

"Ikut saja ssu. Akashicchi kan pulangnya nanti malam sama Aominecchi juga kan." Kise.

"Aku ikut." Keita.

"Aku akan pulang." Ren.

"Keita kau tahu apa yang ku pikirkan?" Karma.

"Tentu. Aku si es." Keita.

"Ok. Ayo." Karma memberi perintah.

Hup

Hup

Karma memanggul Kuroko di pundaknya, dan Keita memanggul Ren.

"Karma-kun turunkan aku. Akashi-kun bisa memarahimu." Kuroko memberontak.

"Yak hanase baka. Aku ingin pulang !" Disambut Ren memberontak dipunggung Keita.

"No komen. Aku yang akan bertanggung jawab. Aomine susul lah Takao lalu seret dia ke kedai minum terdekat." Ucap Karma final sembari berjalan menelusuri koridor tanpa menghiraukan suara penolakan dari uke yang dipanggulnya. Begitu pula Keita.

"Wow Karmacchi seperti titisan Akashicchi kedua. Sugoi." Kise berdecak kagum. Lalu berlari kecil menyusul keempat temannya.

.

.

Another Side

"Yak hanase hanase !"

Sayup-sayup Haru mendengar suara Ren.

"Itu suara Ren ku bukan?" Tanya Haru pada keempat (Akashi, Aomine, Midorima, Takao) orang disana.

"Itu memang Ren Kaidou." Takao bersuara sembari menunjuk belakang Haru. Sontak semua menatap arah itu. Seketika itu pula aura Akashi menjadi hitam dan menyeramkan.

"Takaocchi ayo minum ssu !" Teriak Kise melengking sehingga membuat orang disana protes.

"Ini rumah sakit. Berhenti berbuat bising." Aomine berkata datar.

"Ehehe Gomen Aominecchi." Setelah sampai didepan Aomine Kise tersenyum polos.

"Akabane Karma." Suara berat Akashi tersengar mistis.

"Ah warui niisan. Aku meminjam istrimu untuk minum sembari menunggu Nagisa selesai.." Ucap Karma santai sembari menurunkan Kuroko.

"Tidak. Tetsuya akan di ruanganku." Perintah Akashi mutlak sembari langsung merangkul pinggang Tetsuya.

"Are? Pelit sekali. Hanya sampak kalian selesai. Istrimu tak akan lecet saat bersamaku. Dari pada dia sendiri di ruanganmu." Karma berkata santai sembari tersenyum jahil khasnya.

"Aku janji tak akan aneh-aneh Sei-kun." Kuroko membujuk sang suami.

"Ren ku." Haru ikut bersuara seram. Keita yang baru sadar segera menurunkan Ren. Ren pun berlari memeluk Haru erat.

"Sudah aku disini." Haru berkata lembut sembari balas memeluk tubuh mungil Ren.

Semua terpelongo melihat itu. Sebab mereka mengira Ren tidak akan manja seperti itu kepada Haru.

"Ah gomen Ren aku membuatmu takut." Keita membungkuk maaf.

"Are? Bocah es ini ternyata hot juga." Karma tersenyum iblis.

"Apakah Ren mau ikut mereka? Tak apa. Aku akan menyusulmu ketika selesai nanti." Haru memberi izin. Ren hanya mengangguk.

"Sei-kun?" Panggil Kuroko.

"Baiklah. Tunggu aku disana. Dan kau liar, jangan sampai Tetsuyaku lecet." Tukas Akashi pada Karma.

"Shinchan boleh?" Tanya Takao pada sang kekasih.

"Hm nanti ku jemput disana." Midorima memberi izin.

"Aku duluan." Aomine berbalik pergi meninggalkan mereka.

"Kau bahkan tak bertanya pada istrimu?" Keita berujar tajam.

Aomine berhenti sejenak, namun kembali berjalan tanpa menoleh atau bersuara.

"Aominecchi." Kise berlari kecil mengejar Aomine. Lalu menahan jas dokter Aomine, hingga Aomine berhenti.

"Aku menunggu bersama mereka ya ssu. Aomine tak perlu khawatir ssu. Semangat Aominecchi. Daisuki." Kise yang telah sampai di hadapan Aomine berkata demikian. Lalu mencium pipi Aomine setelahnya. Namun Aomine hanya menatap datar Kise lalu melanjutkan jalannya tanpa berkata apa pun. Meninggalkan Kise tertawa miris menatap lantai.

"Ah ayo pergi." Keita segera mendekati Kise lalu menuntunnya berjalan. Diikuti oleh yang lain setelah berpamitan pada pasangan masing-masing.

Skip Time

Kise beserta teman sekelompoknya telah sampai di kedai khas jepang. Mereka memesan minuman masing-masing. Awalnya mereka menghibur Kise yang tengah bersedih. Kuroko melarang Kise minum karena ia tahu Kise tak pandai minum.

Setelah memesan makanan lalu mereka bercengkrama. Namun Kise hanya melamun hingga makanan merwka datang. Ia hanya memakan sedikit sembari menatap kosong makanannya. Keita yang mengajaknya berbicara hanya ia acuhkan.

Beberapa saat kemudian Kuroko berdiri dan oamit untuk ke toilet. Namun karena Kuroko pamit ke toilet Kise menyambar gelas milik Keita lalu meminumnya. Kise yang tak tahan alkohol baru sekali teguk sudah mabuk, meracau tak jelas tentang isi hatinya. Jadilah mereka semua menjadi pendengar Kise.

"Hik Aominecchi ssu hik jahat.." Racau Kise bergelayutan pada lengan Keita. Keita hanya diam sembari mengelus tengkuk Kise menenangkannya.

"Hik menurut kalian apa dia hik mencintaiku ssu hik?"

"Tentu saja Aomine-kun." Takao.

"Pertanyaan bodoh." Karma menyeringai.

"..." Ren diam.

"Tidak." Keita.

"Ehh? Benarkah hik Keitacchi hik? Hidoi hiks ssu. Hiks aku membencinya hik hiks.." Kise menangis sembari memeluk leher Keita.

"Kau dalam masalah bung." Karma berkata serius. Sedangkan Takao dan Ren diam tak tahu harus menjawab apa. Mereka baru mengenal Kise tadi pagi. Lalu Kise? Oh tampaknya ia nyaman memeluk leher Keita, begitu juga Keita yang tengah menenangkan Kise dengan mengusap punggung pria cantik itu.

"Kise-kun? Dia minum?" Kuroko yang baru tiba kaget melihat Kise.

"Begitulah. Hubungi suaminya, bocah ini berisik. Jam tugas mereka akan usai sebentar lagi." Kata Karma santai sembari meminum minumannya.

"Tak perlu. Aku akan mengantarnya pulang." Keita berdiri lalu memapah Kise hendak menggendongnya, namun terhenti oleh suara asing.

"Dia pulang bersamaku."

"Aomine-kun?" Kuroko membeo.

"Kemarikan istriku." Aomine mendekati Keita lalu memegang lengan Kise.

"Tidak mau ! Hiks Keitacchi hik hikss.." Kise mengentakkan tangan Aomine lalu beralih memeluk leher Keita erat.

"Lihat dia tak mau denganmu." Keita tersenyum meremehkan sembari memeluk pinggang Kise.

"Aomine Ryouta !" Aomine membentak Kise keras hingga Kise kaget lalu melepaskan pelukannya pada Keita.

"Hiks Aominecchi hiks hik hidoi hik ssu.." Dengan cepat Aomine meraih pinggang Kise lalu berjongkok dan menggendong Kise dipunggungnya.

"Gomen. Kita pulang ya." Aomine berkata lembut pada Kise. Yang dibalas anggukan dari Kise. Setelah nyaman dipunggung Aomine, Kise memeluk erat leher suaminya sembari wajahnya ia sembunyikan dipundak pria tan itu.

"Ingatlah dia sudah menikah." Aomine berkata tajam pada Keita. Ia mengambil tas Kise dan tas nya lalu berjalan keluar.

"Wow kau kalah bung." Komentar Karma yang langsung di cubit oleh sang istri. Entah sejak kapan Nagisa ternyata juga telah berada di samping Karma.

"Diamlah. Ayo pulang." Nagisa menarik Karma berdiri.

"Cikuso." Keita mengumpat lalu mengambil tas nya dan berlalu pergi.

"Kurasa dia dalam masalah telah menantang Aomine nodayo." Midorima berkomentar sembari duduk di samping Takao.

"Memangnya Aomine itu berbahaya?" Haru bertanya heran sembari duduk di belakang Ren dan memeluk tubuh adiknya itu dari belakang.

"Dia termasuk predator liar saat miliknya disentuh yang lain." Akashi menjawab sembari mendekati Kuroko.

"Are menarik." Karma berkomentar lagi. Karma mengambil alih tas yang disandang Nagisa lalu mengambil tas nya lalu menyelampaikan kedua tas itu dipundaknya.

"Ah kami pulang duluan minna." Pamit Nagisa membungkuk hormat.

"Tidak makan dulu Nagi?" Tanya Akashi.

"Tidak nii. Aku masih kenyang. Kami pamit dulu minna. Jaa." Nagisa langsung menyeret Karma keluar.

"Niisan bayar makananku tadi ne, matta ne minna," Teriak Karma berpamitan. Ia tampak kesusahan akibat tarikan sang istri. Lalu keduanya menghilang dibalik keramaian.

"Ada apa dengan mereka?" Haru bertanya heran. Namun tak ada yang menjawabnya karena semua sibuk dengan pasangan masing-masing. Itu membuat Haru cemberut.

.

.

.

Dijalan Aomine masih menggendong Kise dipunggungnya. Kise masih menangis tanpa suara. Namun Aomine tahu karena ia merasakan nafas Kise tak teratur dan bahunya basah akibat air mata Kise. Namun Aomine tetap diam selama perjalanan hingga sampai di apartemen mereka.

Aomine membuka apartemen mereka lalu mendudukkan Kise di ranjang. Membuka sepatu dan coat pemuda cantik itu. Sedangkan Kise masih tertunduk dengan bahu bergetar.

"Mandilah dulu." Aomine berbalik ingin pergi.

"Aominecchi hiks gomen." Kise menahan tangan Aomine dan bersuara pelan.

"Mandilah." Aomine melepaskan tangan Kise lalu berjalan keluar kamar. Meninggalkan Kise yang tengah menangis.

Beberapa saat kemudian setelah puas menangis Kise pun mandi. Setelahnya iya kembali ke ranjangnya. Tanpa memakai baju, hanya dengan memakai bathrobe nya. Ia kembali menangis karena Aomine tak kunjung muncul. Pikiran buruk pun muncul bergantian diotaknya.

Kise POV

Aku menyesal. Bagaimana jika Aominecchi menceraikanku nanti? Hiks tidak mau. Aku sangat mencintai Aominecchi ssu. Hiks gomen ne Aominecchi. Daisuki ssu hiks.

Kise POV end

Sedangkan tanpa Kise ketahui kini Aomine juga sama kacaunya dengan Kise. Aomine duduk di kursi makan sembari menjambak surai navy nya. Ia marah pada dirinya sendiri yang telah membuat sang istri menangis kecewa. Namun tak dapat dipungkiri ia merasa amat kesal karena Keita hari ini.

Aomine POV on

Oh Tuhan aku tak sanggup melihat wajah penuh air mata itu. Saat dialtar aku berjanji tak akan membuatnya bersedih, tapi lihatlah sekarang ia menangis tanpa henti karena kebodohanku. Egoku sangat menyiksa Kise. Maafkan aku sayang, sungguh maafkan aku.

Aomine POV end

Setelah bercamuk dengan pikirannya, Aomine memutuskan untuk mandi. Setelah mandi ia kembali duduk termenung di sofa. Ia hanya memakai celana training dan singlet tipis. Aomine masih butuh waktu untuk bertemu Kise, walau ia tahu sang istri pasti kini tengah menangis menunggunya.

Aomine pun memasuki kamarnya saat jam dinding menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Ia dapat melihat Kise yang masih menangis menatap Aomine penuh rindu. Langsung saja Aomine menaiki ranjangnya lalu memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu. Yang tentu saja langsung dibalas Kise berbalik memeluk sang suami.

"Hiks gomen Aominecchi hiks gomen hikss ssu." Kise merapalkan kata maaf didada Aomine. Aomine yang mendengar itu merasa sangat jahat. Sungguh suami macam apa dia membuat istrinya sampai begini.

"Maaf sayang, aku tak marah. Sudah jangan menangis. Tidurlah sayang." Aomine berbaring membawa Kise tiduran diatas dadanya.

Kise masih menangis namun tetap memeluk erat tubuh besar suaminya itu. Aomine dengan sabar menenangkan Kise dengan mengusap punggung Kise sesekali juga mengecup surai pirang itu.

"Tatap aku sayang." Aomine mengangkat dagu Kise perlahan. Lalu menatap netra madu itu lembut penuh cinta. Aomine meringis mata yang biasanya menyipit ketika tersenyum itu kini memerah dan membengkak. Dan itu semua salah Aomine. Sungguh Aomine tak bisa memaafkan dirinya yang membuat sang kekasih begini.

"Aku mencintamu Aomine Ryouta. Sangat mencintaimu. Istriku yang cantik." Aomine mengatakan itu dengan nada lembut penuh cinta. Tanpa membiarkan Kise membalas, Aomine langsung melumat bibir tipis istrinya dengan lembut.

"Euummhh Aominecchi.." Kise mendesah pelan ketika lidah Aomine memasuki mulutnya.

Lama mereka berciuman hingga Kise jatuh tertidur karena lelah menangis. Jadinya Aomine membenarkan posisi sang istri agar nyaman. Lalu menarik selimut untuk mereka berdua.

"Oyasumi sayang. Gomen ne. Daisuki." Aomine mengecup bibir dan kening Kise. Lalu menyusul Kise menuju alam mimpi.

.

.

Esoknya pasangan Aomine ini sudah kembali rukun seperti biasanya. Terlihat saat ini tampak mereka berjalan bersama menuju Rumah Sakit dengan bergandengan tangan. Senyum cerah tak pernah lepas dari wajah Kise, walau matanya masih terlihat membengkak namun tak menurunkan keceriaan Kise pagi ini. Sedangkan Aomine hanya tetap memasang wajah datar.

Setibanya di Rumah Sakit mereka berpapasan dengan pasangan Kaidou.

"Ohayou/Ohayou Aomine." Sapa Ren dan Haru bersamaan ketika melihat pasangan Aomine itu.

"Hm Ohayou/Ohayou Harucchi-sensei dan Rencchi," balas Aomine dan Kise.

"Sudah baikan ya? Ah bahagianya~" Ujar Haru menggoda Kise.

"Ahaha ne Sensei. Aominecchi memang tak bisa marah lama-lama dengan ku ssu." Cengir Kise.

"Baguslah kau bisa fokus," Ren berkomentar datar.

"Tentu saja ssu ahaha," Kise tertawa senang.

"Demo Aomine, mengapa kau memanggil suamimu dengan marga nya? Ku kira kalian akan sangat akrab dengan memanggil nama kecil," Haru bertanya kepo sembari merangkul Ren. Sedangkan Ren hanya melanjutkan jalannya menuju loker mereka, yang diikuti oleh ketiga orang itu.

"Em karena nama Aominecchi itu seperti sudah menjadi mantera untukku ssu. Sejak awal aku memang memanggilnya Aominecchi, bukan berarti Daikicchi itu nama panggilan yang buruk sih. Tapi aku lebih suka memanggilnya Aominecchi, sudah menikah bukan berarti harus memanggil nama kecil kan ssu." Kise menjelaskan panjang lebar sembari memeluk manja lengan Aomine.

"Baka," Aomine berkomentar.

"Ahaha pasangan unik. Apakah kau juga begitu sensei? Memanggil istrimu dengan marga lamanya?" Haru kembali bertanya pada Aomine.

"Hm begitulah," Aomine yang telah sampai di loker membuka lokernya.

Setelah percakapan kecil itu selesai, mereka pun mulai berganti seragam. Lalu mulai menuju ruangan masing-masing untuk bertugas.

Skip Time

Jam makan siang telah tiba, Kise dan teman-temannya memutuskan untuk makan di kantin.

"Kalian mau pesan apa? Aku akan mengantre," Takao menawarkan diri.

"Aku ikut," Ren menyela datar.

"Sama seperti pesananmu saja." Karma menjawab sembari duduk dikursi paling pojok.

"Aku juga." Keita menyambung.

"Juga sama ssu. Lagi malas makan juga ssu," Kise menjawab lesu sembari duduk di samping Karma dan melipat tangannya di meja.

"Ok cotto mate ne," Takao dan Ren berlalu pergi.

"Oi ada apa denganmu?" Keita yang duduk di samping Kise mengelus lembut kepala Kise.

"Bosan ssu, ngantuk juga." Kise menjawab lesu.

"Nagi disini !" Karma berteriak memanggil Nagisa sebelum Keita sempat bertanya lagi.

"Ah kalian disini? Pantas saja aku dan Tetsuya-kun tak melihat kalian di ruangan." Nagisa duduk di samping Karma sembari meletakkan bekalnya di meja. Nagisa datang bersama Kuroko dan keempat dokter pelangi.

Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang tengah menahan amarah melihat tangan Keita di kepala Kise.

"Aomine-kun tidak menyapa Kise-kun? Tadi mencari-cari," Kuroko yang telah duduk bersama Akashi pun bertanya datar.

"Eh Aominecchi?!" Kise sontak berdiri dan berbalik lalu memeluk Aomine setelah melihat Aomine berdiri dibelakannya.

"Tidak jadi. Aku pergi," Pamit Aomine setelah melepas pelukan Kise padanya.

"Eh Aominecchi tidak makan?" Kise menahan tangan Aomine.

"Hn." Aomine melepaskan tangan Kise sedikit kasar, kemudian berlalu pergi.

Kise tampak kaget melihat tangannya yang dilepaskan Aomine. Keita yang melihat itu sontak berdiri dan membalikkan badan Aomine secara kasar.

"Teme ! Kau membuatnya menangis lagi !" Keita berteriak keras didepan wajah Aomine sembari mencengkram kerah seragam Aomine.

"Aku tak menyuruhnya menangis." Kata Aomine datar ketika ia melihat Kise berkaca-kaca.

"Kau tadi menyakitinya ! Apa ini sikap seorang suami hah?!" Keita berteriak lagi hendak memukul Aomine namun ditahan Kise.

"Daijobu Keitacchi. Aku tidak apa-apa," Kise mencoba tersenyum sembari menarik Keita menjauh dari Aomine.

"Lagi pula dia laki-laki bukan, tak akan menangis hanya karena perlakuanku tadi." Aomine kembali berkata datar. Lalu kembali berjalan menjauhi mereka. Ia berjalan santai tanpa memedulikan tatapan dari pengunjung lain.

"Ah aku akan kembali duluan ssu. Gomen ne minnacchi," Pamit Kise lalu segera berlari berlawanan arah dari jalan Aomine. Melihat itu Keita pun segera menyusul Kise.

"Jaa ayo makan~" Suara jahil Karma terdengar memecah keheningan.

"Bodoh !" Nagisa memukul kepala Karma. Karma hanya cemberut menatap Nagisa.

"Mereka akan baik-baik saja?" Kuroko bertanya.

"Mungkin tidak. Aomine tipe pemarah jika menyangkut Kise nodayo," Midorima menjawab sembari memperbaiki letak kacamatanya.

Skip Time

Hari telah semakin gelap. Wajar saja karena waktu setempat telah menunjukkan pukul 6 sore.

Kise berjalan sendiri menuju apartement nya dan Aomine. Ia berpisah dari teman-temannya saat menyeberang tadi. Namun tak disangka ternyata Keita masih mengikuti Kise dari belakang.

"Cotto matte Ryouta !" Keita berteriak dari belakang sembari mengejar Kise.

"Keitachhi? Nande?" Kise menoleh dan berhenti untuk menunggu Keita.

"Ayo ke taman sebentar," Keita yang sudah sampai di hadapan Kise langsung menggenggam tangan Kise dan menuntunnya berjalan kearah taman yang tak jauh dari sana.

"Sebentar saja ne, nanti Aominecchi marah lagi kalau lama-lama," Kise menurut dan mengikuti Keita. Keita diam hingga sampai di taman.

Sesampainya ditaman tampak cukup sepi. Mereka mencari kursi untuk duduk.

"Jadi ada apa Keitachhi? Apa Keitachhi butuh teman curhat?" Kise yang mengira Keita ingin curhat dengannya itu menatap polos Keita.

"Bercerailah dengan Aomine," Ujar Keita tiba-tiba sembari menatap lembut Kise. Kise terdiam kaku menatap Keita. Melihat itu Keita menggenggam tangan Kise lali kembali berucap.

"Kau hanya akan tersakiti bersamanya. Aku menyukaimu. Aku bisa membahagiakanmu Ryouta," Ujar Keita serius sembari mengelus tangan Kise yang digenggamnya.

"Keitachhi bercanda ya ssu? Hehe lucu sekali," Kise mengibaskan tangannya didepan wajahnya lalu tertawa kaku.

"Aku serius Ryouta. Aku mencintaimu," Keita kembali menggenggam tangan Kise lalu mendekatkan wajah mereka, hendak mencium Kise. Tinggal beberapa senti lagi bibir mereka bertemu namun Kise memalingkan wajahnya. Lalu berdiri dengan cepat.

"Gomen Keitacchi. Aku pulang duluan. Ja ne ssu," Kise pamit lalu bergegas pulang tanpa melihat Keita lagi. Keita yang melihat itu hanya menatap punggung Kise sendu.

"Aku mencintaimu Ryouta. Aku ingin membahagiakanmu." Lirik Keita masih tetap menatap kepergian Kise.

.

.

Dua minggu berlalu. Hubungan Keita dan Ryouta masih tetap biasa karena Kise maupun Keita tak mengungkit masalah ditaman itu. Namun hubungan Kise dengan Aomine sangat buruk. Selama dua minggu ini bahkan mereka tak saling berkomunikasi. Melakukan skinship pun hanya ketika malam saat tidur. Keduanya bertahan dengan ego masing-masing.

Hingga habis sudah kesabaran Kise. Ia kembali teringat kata-kata Keita yang menyebutkan Aomine tak mencintainya lagi. Maka malam itu setelah selesai makan malam Kise memutuskan untuk bertanya pada Aomine.

"Aominecchi bisa bicara sebentar?" Kise yang memasuki kamar bertanya pelan pada Aomine yang tengah membaca buku kedokterannya diatas ranjang.

"Hm," respon Aomine tanpa melepas pandangan dari bukunya.

"Besok aku ada janji bersama Keitacchi ssu. Boleh tidak ssu?" Kise bertanya lagi. Berharap Aomine menatapnya.

"Ok," Respon Aomine datar.

"Lupakan saja. Ayo bercerai ssu," Kise berkata dengan nada bergetar menahan tangis.

"Apa maksudmu?" Aomine langsung menatap Kise tajam.

"Iya bercerai. Aominechi kan tidak mencintaiku ssu. Selama ini hanya aku yang mencintaimu ! Kau bahkan tak peduli aku akan bertemu Keitacchi besok ! Dan juga kau tak menganggap aku ada selama 2 minggu ini !" Kise berteriak nyaring di hadapan Aomine.

"Oi Kise ap-"

"Aku membenci Aominecchi hiks ! Benci sekali !" Ucap Kise lagi sembari berlari keluar kamar. Melihat itu Aomine langsung mengejar Kise namun Kise telah lebih dulu meninggalkan apartemen mereka.

"Oh shit bocah itu," Aomine mengumpat kesal lalu kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket, ponsel dan kunci mobil. Lalu menyusul Kise hendak mencari sang istri.

Sedangkan Kise yang telah jauh berlari mulai memelankan langkahnya. Ia berjalan menunduk sembari menangis tersedu-sedu. Jalan terasa sepi karena memang cuaca malam itu cukup dingin dan mendung, membuat orang enggan keluar rumah.

Kise terus berjalan menunduk dan menangis. Beberapa kali berpapasan dengan pejalan kaki lainnya yang menatap aneh Kise, namun tak ia pedulikan. Bagaimana tidak ditatap aneh, Kise berjalan menunduk sambil menangis juga hanya memakai celana separuh pahanya dan kemeja kebesaran yang tipis. Penampilannya itu menarik perhatian preman yang tengah berkumpul di tepi jalan.

Kise POV

Apakah begini akhir pernikahanku? Aominecchi sudah tak mencintaiku lagi, atau memang tak pernah mencintaiku? Kenapa kau sangat jahat Aominecchi, kau jahat ssu. Tapi bodohnya aku mencintaimu yang jahat itu.

"Hai cantik, sendirian saja seksi?"

Sontak aku mendongakkan kepalaku. Aku melihat segerombolan preman yang mengepung ku. Dan ini dimana? Aominecchi tolong aku ssu.

Kise POV end

"Hai cantik, sendirian saja seksi?" Salah seorang preman disana mencengkeram tangan Kise lalu mengelus pipi Kise.

"Gomen hiks aku mau lewat ssu," Kise yang masih menangis itu mencoba melepaskan diri dari preman itu.

"Are? Mengapa menangis? Logatmu lucu sekali cantik," Ucapnya lagi sembari mengelus bibir Kise.

"Dan kau seksi," Lanjutnya sembari mengelus paha Kise.

"Aominecchi !" Kise yang ketakutan langsung berteriak nyaring dan lantang. Hingga membuat para preman disana menutup telinga karena efek teriakan Kise.

"Lepaskan dia !"

.

.

Malam ini Keita memutuskan untuk makan malam diluar. Ia berniat mengajak Karma namun ia ingat Karma telah mempunyai istri, jadinya ia terpaksa mengurungkan niatnya. Hingga akhirnya ia pergi sendiri untuk makan malam.

Setelah kenyang Keita pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan bermaksud menemui temannya yang pasti sekarang sedang berkumpul bersama. Dari kejauhan Keita dapat melihat teman-temannya tengah mendapat mangsa baru. Namun tak lama semakin dekat ia mengenali mangsa yang tengah dijahili teman nakal nya itu, terlebih saat sang mangsa berteriak nyaring dan memekakkan telinga.

"Aominecchi !"

"Lepaskan dia !" Keita segera berlari mendekati Kise, lalu menarik pemuda itu ke pelukannya.

"Keitachhi hiks ssu," Kise langsung menangis keras dan memeluk erat leher Kise.

"Are? Kau mengenali dia Keita?" Tanya Hanamiya, preman yang tadi menjahili Kise.

"Dia teman seangkatan ku di RS, kau masih saja suka menjahili orang terlalu kejam Hana," Keita menjawab sembari mengelus punggung Kise.

"Keitachin teriakan temanmu sangat nyaring," Suara malas Murasakibara yang tengah duduk dimotor terdengar. Sesekali ia mengunyah snack yang ada ditangannya dan menatap datar Kise dan Keita.

"Lupakan. Padahal aku masih ingin menjahilinya, lagi pula mengapa dia menebar aurat dimalam hari begini?" Hanamiya berdecak kesal.

"Keitacchi pulang ssu hiks," Kise kembali merengek.

"Mengapa keluar dengan pakaian begini Ryouta? Dimana suami mu?" Keita bertanya heran sembari melepaskan pelukannya. Lalu ia membuka winter coatnya lalu memakaikannya kepada Kise hingga menutupi paha Kise yang terekspos.

"Hah suami? Siapa?" Tanya Kiyoshi teman Keita yang lain bertanya heran.

"Aomine Daiki, suam-"

Brug

"Naniii?!" Semua teman-teman Keita termasuk Hanamiya dan Murasakibara berteriak nyaring dan berdiri tegap.

"Kise/Kise-kun/Ryouta !" Teriak beberapa orang dari kejauhan.

Sontak semua berbalik dan menatap kerumunan lain yang tengah berlari mendekati mereka. Terlihatlah Aomine, Akashi, Haru dan Karma mendekati mereka. Melihat itu Kise segera memeluk leher Keita lagi. Sedangkan Hanamiya beserta teman-temannya menatap takut kearah Aomine.

"Kise !" Aomine berkata kasar sembari ia menarik tangan Kise lepas dari Keita.

"Hei bung kau menyakitinya," Keita menapik kasar tangan Aomine dari Kise.

"Apa urusanmu, dia istriku !" Aomine kembali menarik Kise kasar.

"Aku ingin cerai hiks ! Kau tidak pernah mencintaiku !" Kise tiba-tiba berucap keras dan melepaskan pelukannya pada Keita lalu menatap Aomine dengan wajah penuh air mata. Melihat dan mendengar itu Aomine tersulut emosi.

"Apa maksudmu? Kau ingin cerai agar kau bisa bersama dia hah?"

"Aku ingin cerai karena Aominecchi tidak mencintaiku ! Aku membenci Aominecchi !"

"Bilang saja kau ingin bersama Kamogari kan Kise hah?!" Aomine berujar kasar sembari mencengkeram erat lengan Kise. Melihat itu Keita hendak melerai namun ditahan oleh Haru.

"Disini saja," Haru menegaskan.

"Hiks aku mencintai Aominecchi, sangat ssu. Tapi Aominecchi yang tidak cinta padaku. Hatiku lelah Aominecchi hiks. Aominecchi bahkan sudah dua minggu ini tidak menganggap aku ada hiks. Aku mencintai Aominecchi ssu hiks. Aku-"

Grep

Cup

Belum sempat Kise melanjutkan perkataannya Aomine telah lebih dulu memeluk dan membungkam Kise dengan ciuman yang lembut. Ciuman lembut tanpa ada lumatan. Hanya sekedar menempelkan bibir untuk menyalurkan betapa besarnya cinta mereka.

Beberapa saat kemudian Aomine melepaskan ciumannya lalu menangkup wajah penuh airmata Kise. Ia mencium kening, mata, hidung, pipi lalu terakhir bibir Kise.

"Aku mencintaimu Aomine Ryouta, sangat mencintaimu. Alasanku mengabaikanmu selama dua minggu ini karena perasaan kesalku saat melihatmu dan Kamogari bersama dan tertawa lebar. Aku membenci itu. Dan aku baru menyadari bahwa aku sudah cemburu saat tadi kau berteriak padaku dan berlari keluar. Sungguh maafkan aku sayang," Aomine menjelaskan panjang lebar sembari menyatukan kedua kening mereka. Mendengar itu maka pecahlah tangis Kise. Ia tak menyangka sang suami akan cemburu padanya. Terlebih Aomine berkata sangat romantis membuat Kise kembali jatuh cinta untuk ke sekian ribu kalinya kepada Aomine.

Aomine tertawa kecil melihat tingkah Kise. Ia memeluk sang istri erat. Begitu pula Kise, ia membalas pelukan Aomine tak kalah eratnya. Aomine melepaskan pelukannya lalu menatap Kise dalam.

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, jangan pernah ragukan itu ne?" Aomine bertanya lembut sembari mengelus pipi Kise.

"Hiks Aominecchi hiks," Kise mengangguk dengan tetap mengeluarkan airmata.

Aomine tersenyum lembut lalu kembali mencium Kise. Kali ini disertai lumatan-lumatan gairah dibibir Kise. Dan dengan senang hati Kise membalas lumatan sang suami sembari tangannya ia kalungkan pada leher Aomine.

"Yare-Yare, sabarlah kawan," Celetuk Karma pada Keita yang tampak menatap kosong Kise dan Aomine.

Mendengar itu sontak Kise menjauhkan wajahnya untuk melihat keadaan sekitar. Betapa kagetnya ia melihat banyak orang termasuk teman-temannya, ia malu dan langsung memeluk Aomine lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang Suami. Aomine membalas pelukan itu.

"Maaf Kamogari, tapi aku tak akan melepaskan istriku untukmu," Aomine berkata datar pada Keita.

"Aku tahu. Berhati-hatilah jika ia menangis lagi karena mu, maka aku takkan segan-segan merebutnya darimu," Keita membalas dengan senyum miris.

"Tak akan pernah," Jawab Aomine yakin.

"Demo mengapa kalian berada disini Kiyoshi?" Haru yang menyadari kelompok jahil itu beranggota lengkap berada disana.

"Ah iya Aominecchi, mereka menggangguku, tadi pahaku dipegang ssu," Kise melepas pelukannya lalu mengadu pada Aomine.

Mendengar itu Aomine menggeram marah lalu berbalik menatap Hanamiya. Yang ditatap pun hanya cengengesan sembari berlindung dibalik badan besar kekasihnya, Kiyoshi.

"Ah Aomine santai kawan, Hana-chan ku hanya bercanda," Kiyoshi berusaha bernegosiasi dengan Aomine.

"Hajar Aomine, dia menyentuh propertimu haha," Karma tergelak keras.

"Aku setuju dengan Karma," Haru menimpali.

"Lupakan Daiki. Ryouta hanya memakai pakaian tipis, segeralah pulang dan biar aku mengurus mereka." Akashi memberi perintah. Mendengar itu Aaomine segera berbalik dan menatap Kise. Ia baru ingat sang istri tadi keluar dengan hanya memakai pakaian tidur.

"Lepaskan itu. Dan pakai ini," Aomine melepas coat Keita dari tubuh Kise dan memakaikan Kise jaket kepunyaannya.

Kise menurut. Lalu berjalan mendekati Keita.

"Terima kasih Keitacchi. Kita masih berteman bukan?" Kise menyerahkan coat Keita, lalu bertanya ramah.

"Tentu Ryouta. Datanglah padaku jika dia membuatmu menangis lagi," Keita menerima coatnya lalu tersenyum manis pada Kise.

"Sudah kita pulang Kise, dan Akashi terima kasih untuk bantuannya," Aomine menyeret Kise untuk pulang setelah mengucap terima kasih pada Akashi yang diangguki Akashi. Lalu berjalan bersama Kise meninggalkan tempat itu.

"Lalu apa gunanya kita disini?" Tanya Haru dengan wajah bodoh.

"Ck tak tahu terima kasih. Tahu begini lebih baik aku bersama Nagi ku dirumah," Karma ikut menggerutu kesal.

"Kalian ingin merasakan gunting ku atau berhenti menjahili orang lain?" Tanya Akashi pada gerombolan kelompok Hanamiya.

"Kami tak akan mencari masalah dengan anggota mu Akashi," Jawab Kiyoshi sedikit gugup, diangguki teman-temannya.

"Aku pulang," Keita berucap pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi Keita meninggalkan mereka disana dan berjalan santai untuk pulang.

Keita POV

Ternyata begini rasanya patah hati? Sakit sekali haha. Bodohnya aku mencintai isteri orang lain. Oh Tuhan bagaimana bisa aku melupakannya jika esok dan seterusnya harus bertemu dengan si cantik itu.

Keita POV end

Keita masih merutuki kebodohannya yang mencintai seseorang yang telah bersuami. Terus berjalan dengan menunduk hingga ia menabrak sesuatu.

Brug

"Ouch itte..," Keita mendengar rintihan seseorang setelah ia menabrak sesuatu.

"Eh ada orang?" Tanya Keita linglung pada orang yang kini terduduk di jalanan.

"Tentu saja ada, kau pikir aku apa tampan !" Sentak orang itu kesal. Seseorang itu pun mengangkat kepalanya dan menatap Keita nyalang.

"Cantik," Ucap Keita tiba-tiba setelah melihat wajah seseorang yang ditabraknya tadi.

"Aku tahu aku cantik, biasa saja huh. Tolong aku cepat," Masih dengan kesal seseorang itu mengulurkan tangannya.

Keita langsung menyambut uluran tangan itu lalu menariknya untuk berdiri. Seketika itu Keita melotot menatap dada seseorang itu.

"Kau lelaki?!" Sembur Keita cepat dan melepaskan tangan pemuda itu.

"Tentu saja. Maaf saja jika aku lelaki yang cantik !" Semprot pemuda cantik itu kesal. Lalu berbalik pergi meninggalkan Keita dengan kesal.

Tanpa sadar Keita tersenyum lebar. "sepertinya aku mendapatkan penggantimu Ryouta," iner Keita senang.

"Cantik siapa namamu?!" Teriak Keita pada pemuda itu untuk bertanya namanya.

"Mako-chan !" Balas pemuda itu berteriak. Lalu menghilang masuk ke dalam taksi dan meninggalkan Keita. Keita semakin tersenyum lebar mengetahui nama pemuda itu. Lalu melanjutkan perjalanan pulangnya dengan senyum lebar. Ia seakan lupa baru saja patah hati tadi.

AoKi side

Setelah di mobil perjalanan pulang keduanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Aomine fokus menyetir sedangkan Kise tampak gugup memainkan jarinya disebelah Aomine.

Tiba-tiba Aomine menepikan mobilnya di area yang cukup sepi ditepi taman. Ah mungkin sangat sepi karena berada dipojokan taman.

"Aominecchi kenapa berhenti disini? Kita tidak pulang ssu?" Tanya Kise heran.

"..." Aomine diam.

"Aominecchi?" Panggil Kise lagi.

"..." Aomine tetap diam sembari menatap lurus kedepan.

"Aominecchi marah? Gom-gomen ne, aku-"

Srekk(?)

Tiba-tiba Aomine memegang pinggang Kise lalu mengangkat Kise untuk duduk di pangkuannya. Mereka berhadapan. Aomine menyetel tempat duduknya sedikit ke belakang untuk memberi ruang agar bagian belakang Kise tidak sakit mengenai setir mobil.

"Aominecchi?" Panggil Kise pelan.

Aomine memeluk pinggang Kise erat. Wajahnya ia tenggelamkan didada Kise. Kise yang bingung hanya diam dan memeluk leher Aomine dan mengelus kepala suaminya itu.

"Kupikir aku akan kehilanganmu malam ini," Ujar Aomine teredam dada Kise.

"Aku tak tahu apakah bisa hidup atau tidak jika itu terjadi," Lanjut Aomine.

"Gomen Aominecchi. Aku tak tahu Aominecchi secemburu itu pada Keitacchi," Kise berujar lembut sembari menjauhkan wajah Aomine dari dadanya. Lalu mengelus pipi suaminya itu.

"Tentu saja aku cemburu. Istriku sering didekati pria lain," Aomine menjawab kesal.

"Ehehe gomen ssu. Makanya Aominecchi kalau cemburu bilang. Nah mulai sekarang jika ada apa-apa Aominecchi bilang ne? Jangan mengabaikanku ssu," Kise menatap Aomine sendu.

"Itu menyakitkan ssu," Lanjut Kise cemberut. Aomine tertawa kecil, namun sedetik kemudian ia menatap Kise sendu. Wajah sang istri kini sangat berantakan, hidung yang memerah, mata yang membengkak parah karena terlalu lama menangis. Namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya.

"Maafkan aku. Aku membuatmu menangis sepanjang waktu," Aomine berkata sendu dan mendekatkan wajah mereka. Ia mengecup bibir Kise pelan.

"Jangan begitu lagi ne? Janji ssu?" Kise mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Aomine.

"Janji sayangku," Aomine mengaitkan jari kelingkingnya pada jati kelingking Kise. Lalu menggesekkan hidungnya pada hidung Kise, membuat ciuman kelinci. Hingga Kise tertawa geli.

"Ah aku baru ingat," Ujar Aomine tiba-tiba.

"Eh?apa ssu?" Tanya Kise penasaran.

"Kau harus dihukum," Aomine melepaskan jaket yang dipakai Kise, lalu meletakkannya di kursi belakang.

"Kenapa ssu?" Kise bertanya kesal.

"Karena telah membiarkan orang lain melihat pahamu," Aomine menyeringai tampan. Ia mengelus paha Kise yang terekspos karena celananya terlalu pendek.

"Eum ano Aominecchi ah aku mengantuk ssu. Ayo pulang ne," Kise tertawa kaku sembari ingin kembali ke tempat duduknya namun dengan cepat Aomine memeluk pinggangnya erat menahan Kise.

"Tak bisa sayang, hukuman dulu," Aomine berujar sing a song. Tangannya bergerak memasuki bagian celana Kise untuk membelai pantat Kise.

"Kyaaaa tidaakkk ssu umhh!" Kise berteriak nyaring namun langsung saja Aomine membungkam bibir Kise dengan bibirnya. Lalu mulai melumat bibir manis itu sementara tangannya sibuk dengan pantat Kise dibawah sana.

Tampaknya Aaomine berencana menghukum Kise didalam mobil. Ia tak peduli jika masih ditaman, untuk pengalaman bercinta baru mungkin. Semangat Kise menghadapi suamimu ne :v

END

Selesai ssu... gomen endingnya absurd dan gantung ya.. kepanjangan yak? Haha kebiasaan Joy nambah scene saat ngeditnya :v

Review yak minna.. kritik dan saran Joy terima.. maklum Joy masih pemula yang butuh belajar lagi :)

Sampai Jumpa di FF Joy yang lainnya minna..