"Armin, aku menyukaimu."
Sore itu aku benar- benar merasa sangat terkejut. Sejujurnya aku sangat mengingat dirimu sejak pertama kali kita bertemu. Tipikal pria yang sangat kasar dan pemarah, juga tidak berpikir panjang. Saat kau berseteru dengan Eren di jam makan malam, aku benar- benar sangat ketakutan, walaupun akhirnya Mikasa dapat menghentikan Eren yang sulit ditenangkan jika dia naik pitam. Walaupun kau terlihat mengerikan, entah kenapa aku terus memikirkanmu hingga buku favoritku pun tak bisa meredam rasa penasaranku terhadapmu. Siapa lelaki itu? Yang sebenarnya terlihat cukup tenang saat berlatih penguasaan 3DMG, atau membuatku susah payah menahan tawa saat kau dikalahkan dengan mudah oleh teman sparingmu. Walaupun hingga saat ini pun aku tak memiliki keberanian untuk menyapamu, tetapi kau mulai sering mengajakku bicara; bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan. Tetapi hal yang terjadi hari ini merupakan hal yang benar- benar jauh diluar perkiraanku.
"Jean?" aku menatapnya penuh keraguan. Dapat kurasakan hawa panas menyergap wajahku. Tenang, Armin. Kau hanya salah dengar, "Aku… Sepertinya aku salah dengar…"
"Tidak, Armin. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu."
Ya Tuhan. Ini bukan imajinasiku. Ia benar- benar berkata seperti itu. Bahwa dia menyukaiku. Ini pertama kalinya seseorang yang aku sukai menyatakan perasaannya padaku. Buku yang sedari tadi kupegang untuk mengalihkan perhatian (agar mata ini tidak selalu memandang sosokmu) seakan menambah berat sendiri dengan seenaknya, hingga aku tak dapat menahannya lagi hingga buku itu terjatuh ke tanah berpasir.
Hening.
Bagaimana aku harus menjawab? Apa kau serius menyukaiku yang lemah, jelek dan tidak bisa diandalkan ini? Kutatap wajahnya yang tertunduk. Tangannya bergegar tidak karuan, sungguh sangat manis. Sangat terlihat bahwa kau juga sangat gugup; aku pikir pria yang selalu terlihat gentar sepertimu tidak akan pernah gugup karena seorang pria. Ya, cukup aneh kan? Aku pria, kau pria, dan aku menyukaimu. Karena itulah aku merahasiakan hal ini dari semua orang termasuk Eren dan Mikasa. Sekali lagi kulayangkan pandanganku kearah kau, pria yang kukagumi. Sosokmu yang begitu rupawan, dengan sedikit kelemahan seperti ini membuat jantungku berdegup kencang.
"Ke… Kenapa? Aku ini lemah. Tidak seperti Eren dan yang lainnya, saat melihat titan di depan wajahku saja… Rasanya aku sudah mau pingsan."
Ah… Sudahlah, jangan begitu berharap, Armin. Dia pasti hanya mengusiliku.
"Padahal… Padahal Jean adalah orang yang hebat… Tidak sepertiku, kau adalah seorang yang kuat. Sedangkan aku, hanya bisa termangu dan membaca- baca buku… Aku tak pantas bersamamu."
Kau menatapku tajam. Tanpa sadar, seluruh tubuhku bergidik dibuatnya. Kenapa? Ada yang salah dengan kata- kataku? Itu semua benar. Aku yang lemah ini tidak pantas bila disandingkan dengan pria sehebat kau, Jean. Walaupun kau mudah sekali membuat kesal orang di sekitarmu, jika kau dihadapkan dengan masalah yang berkaitan dengan rekanmu, aku yakin, kaulah orang pertama yang akan menghapuskan kesusahan itu. Sama seperti kau yang menghancurkan kerasnya dinding hatiku saat ini. Kalimat yang dia lontarkan setelahnya adalah hal yang mungkin akan menjadi hal yang paling membuatku terkejut sepanjang hidupku.
"Tidak. Banyak keindahan dalam dirimu, Armin. Kau hanya terlalu pesimis. Bahkan lemah atau uh, apalah… Kau sebenarnya tidak lemah! Aku tahu… Aku tahu itu. Memutuskan untuk bergabung dengan Pasukan Penyelidik berarti kau berhasil melawan ketakutanmu. Tidak sepertiku yang dari awal sudah sangat egois dan memilih untuk menjadi Polisi Militer… Kau… Mungkin kekuatan fisikmu memang tidak seberapa, tapi hatimu sangat kuat…"
Sejujurnya aku benar- benar sangat tersentuh akan kata- kata tulusmu, Jeanku tersayang. Kau tahu, tanpa kusadari bulir air mata yang entah darimana asalnya meluncur deras dari kedua mataku. Baru kali ini ada yang mengatakan begitu banyak kebaikan tentangku (selain Eren dan Mikasa tentunya), dan saat kau mengatakan bahwa kau mengerti sesuatu yang bahkan tidak aku sadari… Aku pun merasa sangat beruntung dapat dicintai oleh pria berhati lembut sepertimu. Dua tangan kecil milikku ini, apakah aku bisa melindungimu dengan ini? Aku menutup wajahku yang pasti terlihat sangat bodoh karena air mata yang berlinang, tetapi kau memegang tanganku erat. Tanganmu sangat besar, terasa hangat, kuat, dan aku sangat menyukainya. Kuberanikan diri untuk menyingkirkan tangan ini, dan sesaat setelah aku menganggukkan kepala dan memutuskan untuk menerima kebaikanmu, kau mendekapku cepat dengan tubuh kokohmu. Saat itu, kau membisikkan kata- kata yang membuatku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini.
"Terimakasih telah menerimaku, Armin. Aku berjanji akan membuatmu bahagia."
"Jean. Kau tahu, walaupun pergi keluar tembok dan meneliti titan secara langsung adalah hal yang cukup mengerikan, tapi aku sangat bersyukur bisa bergabung dengan Pasukan Penyelidik."
Yah, pada awalnya aku memang sempat menyesali keputusanku untuk bergabung dalam pasukan penyelidik. Tapi tahukah kau, apa yang membuatku masih dapat berdiri tegak dengan bangga di senja hari ini? Dirimu, Jean.
"Benarkah? Aku juga," kau seperti biasa; tersenyum manis dan menjawab pertanyaanku dengan tulus. Hari itu aku merasa sangat lelah karena latihan yang sangat berat. Komandan Erwin dan Hanji sempat memanggilku sebentar untuk menyusun rencana ekspedisi esok hari sesaat sebelum latihan berakhir, dan otakku pun ikut kelelahan karenanya. Tetapi selain itu ada hal yang lebih penting, yaitu peringatan satu tahun aku menjalin hubungan denganmu, Jean. Rasanya setahun berlalu dengan sangat cepat bagiku. Kita berjalan menuju ruang penyimpanan maneuver 3D dan entah kenapa aku merasa khawatir. Aku ingin sekali memegang tangan lelaki disampingku ini. Ingin sekali; tetapi aku sangat malu sampai tidak mampu untuk melihat kearahmu. Kurasakan sebuah tangan kokoh yang menggenggam tanganku lembut, tetapi dengan cepat aku menepisnya. Tidak. Jangan disini.
"Armin?"
Aku tidak mampu melihat wajahmu. Sungguh, aku meminta maaf, Jean. Bukannya aku tidak ingin bermesraan denganmu. Sejak pertama kali kita menjalin hubungan, kaulah yang selalu membanjiriku dengan cinta kasih. Kaulah yang selalu menjadi penopang dan motivasi hidupku. Kaulah yang selalu muncul di pikiranku saat aku membuka mataku. Terlebih saat kau meninggalkan bunga di depan kamarku, atau tiba- tiba menggenggam tanganku; kau seperti mengerti apapun yang kuinginkan tanpa harus kuucap dalam kata. Sesungguhnya, Jean cintaku, aku merasa bahwa tak pernah sekalipun aku menjadi pelipur laramu. Tak pernah sekalipun aku mencoba memahami dalamnya samudera kehidupanmu. Karena aku adalah seorang pengecut kecil yang tak bisa menjadi ksatria seorang pangeran rupawan seperti dirimu. Kuberanikan diri untuk menatapmu, dan aku pun mulai membulatkan tekad. Dengan tangan yang gemetar, kugenggam tangan yang selama ini menjadi sandaran jiwaku.
"Maaf Jean. Aku tak ingin kau malu karena mengencaniku. Dan kejutan- kejutan itu… Terimakasih, aku sangat bahagia. Aku… jadi sangat mencintai Jean…"
"E- eh?" kau balik bertanya dengan gugup. Aku sangat, sangat menyukai dirimu yang polos seperti itu.
"A- aaaaa… Maafkan aku! Karena aku sudah lebih dari menyukai Jean, jadi, jadi… Mungkin sekarang ini aku sangat mencintaimu- be- begitu…"
Sebenarnya jika saat ini bisa kembali ke asrama dengan segera, aku tentu saja akan memilih pulang dan menenangkan diri sambil membaca buku favoritku. Tapi saat melihatmu yang tiba- tiba saja tertawa lepas, kepenatan yang sejak pagi kurasakan mendadak sirna. Walaupun aku tahu bahwa dia menertawakanku dan beribu pasang mata menatap dengan curiga, melihat sosokmu yang penuh keceriaan ini saja sudah membuatku bersyukur telah hidup sedikit lebih lama.
"Ja- jangan tertawa dong," aku hanya bisa tertunduk malu karena kata- kata yang tidak biasa aku ucapkan. Huh, dasar Jean!
"Maaf… Maafkan aku, Armin. Kau terlihat sangat menggemaskan," ucapnya sambil mengelus kepalaku pelan. Ingin rasanya kutepis tangan itu (karena sepertinya memang banyak orang yang memerhatikan kami), tetapi aku mengurungkan niatku dan memegang tangannya.
"Jean, kau tidak malu menjadi kekasihku?"
Kau terdiam memandangku.
"Kenapa harus malu, Armin?"
"Kita sama- sama pria… Terlebih lagi, aku ini…"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, sebuah sensasi tak biasa kurasakan di bibirku. Aku sempat khawatir dan baru menyadari bahwa lingkungan di sekitar kami telah sepi; hanya ada kita berdua. Serangan terburu- buru itu bagaikan kejutan listrik, membuatku terpaku dalam diam bahkan membuatku lupa tentang apa yang sebelumnya kukatakan padamu, sayangku. Tetapi ciuman panas itu terhenti; karena kecerobohanmu yang terlalu agresif dan membuat gigi kita saling terbentur. Jika dalam keadaan normal, mungkin sekarang akulah yang akan menertawakanmu. Kau sangat payah dalam hal berciuman, Jean. Rasanya ingin sekali aku tergelak dihadapanmu, tetapi kuurungkan niatku untuk mendengar apa yang akan kau ucapkan setelah ini.
"Kau lebih berharga dari apa yang kau kira, Armin. Berhenti menjelek- jelekkan dirimu. Bahkan kekurangan yang kau sebut itu merupakan kelebihan di mataku, jadi tolong hentikan…"
Mengapa, Jean? Padaku yang tak ada apa- apanya, mengapa…
"Ma- maafkan aku, Armin! Ta- tadi itu pertama kalinya aku melakukannya, jadi maafkan aku kalau tadi gigi kita-"
Bukan, Jean. Bukan karena itu. Aku kembali tersanjung dan dimanjakan oleh kebaikanmu. Aku harus membalasmu, apapun caranya. Kuberanikan diri mendekat ke wajahmu. Akan kuajarkan bagaimana cara mencium yang benar, ingat ini baik- baik ya, sayangku yang ceroboh. Cukup lama kami menautkan bibir hingga melupakan waktu, melupakan dunia yang mengerikan ini untuk sementara. Entah darimana keberanian yang aku dapatkan untuk menatap irismu lekat seperti saat ini, dan saat melihat wajah indahmu, entah mengapa aku merasa sangat khawatir. Khawatir akan kehilanganmu. Kemudian kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Kau memandangku terkejut. Kau kira aku tidak bisa seperti ini, sayang?
"Jean, aku mencintaimu."
Sejenak kau terdiam, wajah rupawanmu yang terkesan sangat kuat diliputi semburat merah; dan mungkin wajahku juga. Kita tetap berpelukan dan berbagi kehangatan dibawah mentari senja dan hawa dingin kota dalam tembok ini. Saat mata kita saling bertatapan, dan jemari ini saling bertautan, aku tak bisa menahan tawaku. Pada awalnya kau terlihat terkejut, tetapi akhirnya kau ikut tertawa renyah.
"Selamat ya, ketua sub kelompok 2."
"Hah, kau membicarakan formasi pasukan untuk besok ya?" ia bertanya sambil bercanda, "Kita berada di tim yang sama kan? Mungkin kau harus sedikit lebih maju ke depan dan bertukar posisi dengan Marco."
"Apa- apaan sih. Aku menyusun formasi itu dengan serius, tahu. Tadi kan sudah aku jelaskan saat rapat strategi. Tempat yang ideal untuk Marco memang disebelahmu, Jean. Ada- ada saja."
Sejujurnya, aku ingin sekali mewujudkan candaanmu itu. Aku yang lemah ini selalu mencari sosokmu, walaupun dalam ekspedisi sekalipun. Maafkan aku yang tidak bisa berdiri sejajar denganmu, sayang. Saat aku mendengar candaanmu, terkadang aku takut. Apakah kau memang bercanda atau sebaliknya; kau serius. Aku sangat takut jika datang hari saat kau akan meninggalkanku dan berjalan dengan seseorang yang lebih hebat dariku.
"Hahaha, aku hanya bercanda. Aku juga akan melakukan tugas ini dengan benar," ucapnya.
"Sebaiknya kau ingat baik- baik hal itu, ketua."
"Baik, baik."
Kau tahu, Jean? Jika sekarang aku teringat kembali akan hari itu, aku berharap hari esok tidak akan pernah datang. Bukan karena hal pahit yang akan terjadi selanjutnya, tapi karena sejak hari itu, aku tak bisa merasakan Jean yang sebahagia hari ini. Tekadku untuk lebih kuat darimu mungkin memang tidak pernah mungkin terjadi.
Jika saja aku adalah seseorang yang lebih tangguh, mungkin keadaan tidak akan menjadi seperti saat ini.
Ekspedisi keesokan harinya adalah sebuah mimpi buruk bagi umat manusia. Rencana yang sudah berkali- kali kupikirkan dengan matang hancur berantakan hanya karena keterlambatan kami mengevakuasi seekor titan. Aku merasa gagal sebagai ahli strategi. Tak henti- hentinya terngiang dalam otakku deretan kepercayaan yang telah kudapat; yang telah kuhancurkan harapannya. Aku bahkan tak sanggup untuk sekedar pulang kedalam tembok dan menatap keluarga para kadet yang pada akhirnya hanya menjadi korban dari ketidakmatangan strategiku. Rasanya ingin kubuang jauh- jauh nyawa ini, tetapi kembali ku teringat tekadku semalam. Aku masih punya satu tugas. Aku harus melindungimu yang telah banyak berkorban untukku, Jean sayang. Sambil terus memacu kudaku kearah tembok sesuai dengan perintah Komandan Erwin, aku mencari- cari sosokmu diantara kuda- kuda yang berderap salip menyalip. Tetapi alangkah terkejutnya diriku saat mendengar teriakan para kadet dibelakangku. Kuputar balik kudaku, dan akhirnya aku menemukanmu; yang terlihat lemah tak berdaya terkulai di tanah berpasir. Dengan jarak titan yang sudah sangat dekat denganmu, sangat mustahil untuk melarikan diri. Seluruh tubuhku gemetar. Kupacu kudaku dengan kecepatan tinggi kearah titan itu. Tunggulah, Jeanku sayang. Bertahanlah. Kumohon, Tuhan. Buatlah aku sampai tepat pada waktunya.
Akhirnya aku berdiri memunggungimu. Akhirnya setelah sekian lama tenggelam dalam lemahku, aku mampu berdiri. Aku mampu merangkak keluar dari ketakutan tak berujung ini untuk menjadi perisaimu. Hei, Jean, pria yang kucintai. Apakah aku sudah cukup keren untuk menjadi kekasihmu? Apakah aku sudah dapat membuatmu merasa dicintai? Kupalingkan wajahku kearahmu yang menatapku nanar tanpa suara, seolah menyuruhku untuk pergi. Tapi aku tetap tersenyum seperti biasa. Aku tidak akan lari lagi, sayang. Tidak akan.
"Maafkan aku ya."
Air mata mulai mengalir dari pelupuknya; mungkin dari pelupukku juga.
"Aku mencintaimu, Jean Kirstein."
Tuhan.
Apakah waktuku hanya sampai disini?
Aku tersadar dari tidur yang cukup panjang. Sungguh sangat tidak terduga. Kau tahu, Jean? Hal pertama yang kucari saat siuman adalah dirimu. Tapi saat itu tak ada yang dapat kutemukan selain kegelapan tak berujung. Apa ini? Apa mataku ditutupi sesuatu? Jean, dimana dirimu? Aku berusaha menggerakkan tanganku, tetapi ia mangkir dari tugasnya; dan menjadi kaku bagaikan batu. Ingin kugerakkan kakiku, tapi aku juga tak dapat merasakan apapun dibawah sana. Disini juga sangat hening, hanya ada suara tit-tit-tit; suara stagnan yang bergema dan membuatku takut. Saat itulah aku mendengar bisikan suara yang sangat kukenal.
"Kadet Armin Arlert, kau bisa mendengarku?" ucapnya di telingaku, "Bisa mengenaliku?"
Komandan Erwin.
"O…a…a…e…i…"
Komandan Erwin!
"O…a..a…"
"Kadet Armin Arlert, jangan memaksakan diri."
Memaksakan diri? Memaksakan diri apanya? Kenapa disini gelap sekali, Komandan Erwin? Ini dimana? Kenapa aku tak bisa menggerakkan tangan dan kakiku? Kenapa aku tidak bisa mengucap sepatah katapun? Kemana Jean?
"Dengarkan aku," ucap Komandan Erwin setelah menghela nafasnya berat. Aku merasakan hal yang sangat tidak baik, "Kau, Kadet Armin Arlert, selamat secara ajaib dari serangan titan beberapa minggu lalu. Tetapi kau menderita malfungsi organ yang sangat fatal, meliputi nyaris lumpuhnya kelima panca inderamu dan beberapa organ dalam. Maafkan aku, hidupmu tidak akan lama setelah ini. Kau akan aku berhentikan dari Pasukan Penyelidik secara terhormat dan dapat menghabiskan sisa hidupmu untuk menjalani rehabilitasi di pusat kesehatan ini."
Ah, begitu ya… Pantas saja semua ini terasa sangat aneh.
"Sebenarnya Kadet Jean Kirstein sangat terpukul karena kejadian ini. Aku sudah mengizinkannya untuk bertemu denganmu beberapa minggu kemudian. Kau juga pasti sangat ingin bertemu dengannya, bukan? Aku akan mengusahakan jadwal pertemuan kalian, jadi kau harus berjuang keras dengan rehabilitasimu," ucap Komandan Erwin yang suaranya makin memudar diiringi dengan langkah kaki yang kian menjauh.
Yang pertama kalinya aku lakukan setelah mendengar kabar itu adalah menangis. Ya Tuhan, aku benar- benar bersyukur karena kau masih hidup, Jean. Apakah kau baik- baik saja? Aku yakin kau yang selalu menjadi penyelamatku pasti akan baik- baik saja. Aku benar- benar bahagia; tubuh kecil dan jiwa rapuh sepertiku ini akhirnya dapat menjadi pelindungmu. Walaupun harus menghabiskan hidupku dalam gelap sekalipun, jika itu untukmu, apapun akan kulakukan, sayang. Dengan sisa hidupku ini, aku akan mencoba untuk terus membahagiakanmu; seperti yang telah kau lakukan kepadaku.
Hari pertemuan itu pun datang dengan cepat. Aku benar- benar sangat menunggu- nunggu hari ini. Tetapi saat suara pintu berderit tertangkap oleh telingaku, mendadak aku merasa sangat takut. Bagaimana jika setelah ini kau tidak mencintaiku? Bagaimana jika setelah ini kau berpura- pura buta, memalingkan wajahmu dariku yang telah menjadi makhluk nista yang tak bisa melakukan apapun. Aku terus mendengarkan langkah yang kian mendekat dengan harap- harap cemas. Sungguh, Jean, saat itu yang ingin kudengar hanya suaramu. Suara bahagiamu. Bukan suara tangisan ini yang ingin kudengar. Rasanya tak dapat kutahan air yang terbendung di pelupuk mataku, tapi di saat seperti ini aku tak ingin meneteskan air mata barang sedikitpun. Aku tahu, sekarang ini kau pasti sedang mengutuk dirimu sendiri, kan? Kau sedang menyesali hari itu kan? Kau merasa bersalah hingga tak mampu berkata apapun, kan? Maka disinilah aku, mempersembahkan senyuman terindah untuk sekedar mengobati gores luka di batinmu. Dapat kurasakan sentuhan tanganmu yang lebih dingin dari biasanya, kemudian berpindah ke wajahku. Ah, betapa aku merindukan sentuhanmu, cintaku. Andai saja aku tahu, kearah mana aku harus melayangkan tatapanku. Karena disini begitu gelap, walau dapat kurasakan cahaya terpancar dari dirimu.
"Sentu…han ini… je..an?"
Ah, aku bahkan tidak bisa menyebut namamu dengan benar seperti sedia kala.
"I…ni… be… nar… j… jean?"
Ia terdiam sebentar menahan isakannya.
"Ya, ini aku, Armin… Ini Jean…" bisiknya lembut di telingaku, "Maafkan aku."
Aku tak kuasa. Tak kuasa mengetahui bahwa kau telah begitu terpuruk. Kuputuskan untuk menggerakan tanganku sedikit (saatnya untuk mengetes hasil terapiku selama ini). Beberapa perawat menyuruhku untuk berhenti melakukannya, tapi mereka salah jika mengira bahwa aku akan mendengarkan mereka. Aku tidak yakin dengan apa yang kupegang pertama kalinya; karena kontur yang begitu halus disana, kemudian ada rambut- rambut kecil… Hahaha, rupanya dahimu. Aku masih harus mengenal struktur wajahmu sedikit lebih keras ya? Saat itu menyadari, saat aku akhirnya dipertemukan lagi denganmu; tak dapat kubayangkan betapa hancurnya hidupku jika tidak bersamamu. Betapa aku tak bisa dengan yang lain, selain dirimu. Betapa beruntungnya aku bertemu denganmu.
"Bu…kan… sa…lah…jean…" ucapku dengan susah payah, "Jean…pri..a…yang…he…bat…"
Setelah itu, entah mengapa kehidupanku menjadi sedikit lebih mudah. Komandan Erwin selalu datang beberapa hari sekali untuk mengecek perkembanganku (karena itu, kini Komandan Levi dan Hanji juga jadi sering mengunjungiku). Aku pun semakin giat melakukan rehabilitasi berupa terapi dan semacamnya; hanya untuk kembali bertemu denganmu di usiaku yang sudah tidak lama ini. Perlahan tapi pasti, fungsi panca inderaku meliputi tangan dan mulut sudah berangsur pulih (walaupun tidak persis seperti sedia kala, tapi sekarang memegang sendok selama beberapa menit pun sudah menjadi sebuah kebanggaan bagiku). Aku resmi berhenti dari Pasukan Penyelidik, jadi mungkin aku akan menghabiskan waktu di pusat kesehatan. Tetapi tiba- tiba Komandan Erwin mengatakan bahwa kau mengajakku tinggal bersama di sebuah rumah yang kau beli dengan hasil keringatmu sendiri, dan Komandan Levi pun telah memberikan izin untuk kita. Betapa bahagianya aku hari itu, cintaku; saat kau dengan bangganya menggendongku ke istana kebahagiaan kita, bercerita tentang bagaimana kau dengan susah payah mengejar Eren dan menanyakan informasi tentang buku- buku favoritku, kau yang dengan percaya dirinya memainkan musik sumbang untukku, dan betapa lembutnya sentuhan tanganmu di pucuk kepalaku… Aku benar- benar merasa hidup kembali saat merasakan kebahagiaanmu, kau tahu?
"Jean… kenapa kau… menghabiskan uangmu… demi aku?"
Suatu saat aku bertanya, saat kita sedang duduk berdekatan di halaman kecil yang kau dekorasi dengan bunga- bunga di buku favoritku. Bahkan saat aku tak mampu melihatnya pun, kau masih melakukan itu, ya? Penciumanku ini bisa mengenali bau bunga, tahu. Dasar romantis.
"Hahahaha!" kau tertawa renyah sambil mengelus kepalaku, "Karena aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersama denganmu."
Ah, kamu. Selalu membuatku sangat bahagia hingga aku lupa diri, "Aku… aku punya… masalah pendengaran sedikit…"
"Dasar, kau bohong ya? Aku tahu kau tidak bisa mendengar sesuatu dengan radius yang cukup jauh darimu, tapi kalau sedekat ini tidak bisa… yang benar saja?"
Dan kembali aku merasakan kecupan lembut di pipiku, sangat menyayatku ketika menyadari bahwa aku tak bisa menatapnya dengan benar, tak bisa memberinya kebahagiaan seutuhnya. Tapi aku tahu ia berpikiran sama, dan aku tersenyum; entah melihat kearah mana. Kau tahu bahwa senyum ini kupersembahkan padamu kan, cintaku?
"Jean… selalu tahu… apapun… tentangku ya… Aku… tidak menyesali… setiap detik hidupku… bersamamu…"
"Armin Arlert," ucapmu tiba- tiba, "Maukah kau menjadi teman hidupku dalam suka dan duka hingga ajal menjemput?"
Mengapa… Mengapa kau masih bisa berkata seperti itu tanpa ada rasa jijk terhadapku, sayang? Mengapa kau mempersembahkan hal sepenting ini kepada manusia cacat seperti aku? Dapat kupastikan benda apa yang hendak kau berikan padaku. Ya Tuhan, pria ini benar- benar membuatku merasa sangat beruntung. Kuanggukkan kepalaku, sama persis dengan jawaban saat pertama kali kau menyatakan perasaanmu. Aku merasakan dinginnya cincin yang merayap perlahan di jariku, kemudian ia membimbing tanganku untuk menyematkan cincin pasangannya di jari manisnya. Saat aku tak bisa menghentikan air mataku ini pun, kau membantuku menyekanya dengan penuh kasih.
"Jean… memangnya… sesama pria… boleh… menikah?"
"Kalau tidak boleh, kita akan jadi pasangan pria pertama untuk meresmikan hukum pernikahan baru di Shiganshina."
"Aku… tidak sabar… menjadi suami… Jean…"
"Hei, hei. Siapa bilang kau suaminya, hah?"
"Haha… jadi istri pun… aku… tidak keberatan… asalkan… bersama Jean-"
Ah… Kenapa justru pada saat ini, kepalaku tidak ingin berkompromi? Rasa sakit yang amat sangat ini membuatku menyandarkan kepalaku di bahu kokohmu. Aku begitu khawatir, apa kau saat itu tahu apa yang sedang kurasakan?
"Kau kenapa, Armin?"
"Hanya… sedikit… pusing…"
"Mungkin kau terlalu banyak membaca buku. Ayo kuantar ke kamar tidur."
Sudah beberapa bulan kami tinggal bersama, dan inilah hari dimana malaikat mungkin akan menjemputku. Hari ini pun aku melihat sosok priaku yang mengunyah roti dengan penuh semangat. Baiklah, demi detik- detik terakhir bersamamu, aku juga harus bersemangat.
"Jean, jangan lupa minum air."
Betapa terkejutnya aku saat kau tiba- tiba merampas mug yang kupegang dengan susah payah itu. Nada bicaramu berubah, dan aku tahu ini adalah permulaan dari omelanmu tentang 'jangan melakukan pekerjaan seperti itu' (seperti itu apanya? Itu kan memang tugas seorang istri, sayang). Hanya karena segelas mug itulah, kini kau juga ikut membantuku mencuci piring sambil bersungut- sungut. Ah, setelah aku meninggal nanti pun pasti aku akan merindukan omelanmu, Jeanku. Setelah ini kau pun bersiap pergi ke medan perang yang mengerikan itu sekali lagi, tapi aku tak dapat merasakan kegentaran dalam dirimu.
"Jean keren sekali," kuucapkan kata itu sambil menahan air mataku, "Aku jadi ingin terus berdampingan dengan Jean walaupun sudah meninggal sekalipun."
"Darimana kau mempelajari kata- kata itu?" Hah, lagi- lagi nada bicaranya berubah, "Hentikan."
"Aku hanya ingin bilang kalau aku ingin dimakamkan berdampingan denganmu, Jean. Salahkah?"
Kau kembali terdiam. Salahkah aku menyampaikan keinginan terakhirku? Saat aku sibuk berpikir untuk memohon maafmu, kau menautkan jemarimu di sela jemariku.
"Akan lebih baik jika saat ajal tiba, ia menjemput kita berdua bersamaan. Iya kan?" aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapannya. Tak dapat kutahan lagi air mata yang telah terbendung sejak tadi, "Karena aku tidak mau meninggalkanmu sendirian. Sendirian itu tidak enak."
"Maafkan aku yang pernah meninggalkanmu, Jean," aku terisak. Kenapa aku tidak menyadarinya. Setelah ini aku akan meninggalkanmu lagi. Maafkan aku karena tidak mengerti kesulitan dan kesakitan yang telah dan akan kau hadapi, "Aku juga… Sampai nanti pun ingin bersama denganmu."
"Tidak, aku yang harus meminta ribuan maaf padamu, Armin Arlert."
Atmosfir pagi ini terasa sangat berat. Betapa beratnya aku melepas pelukanmu, Jean. Betapa sulitnya aku tersenyum dan melambaikan tangan dari dalam rumah, dan menutup pintu gerbang istana kecil kita. Tetapi hari ini tugasku telah selesai. Aku hanya harus menunggu siapa yang akan datang padaku terlebih dahulu; kau, Jeanku tersayang, atau ajal yang telah menghantuiku.
Tik, tok, tik, tok.
Waktu terasa sangat lama… Jean sedang apa ya? Mungkin saat ini dia sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke tembok dengan arak - arakan megah. Ingin sekali aku pergi menjemput dan menunggunya di baris depan. Tetapi saat aku berusaha menggerakan kursi roda, kepalaku merasakan sakit tak terkira. Dunia yang gelap kini semakin gelap. Tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk dengan keras disertai sebuah teriakan yang sudah tidak dapat kudengar dengan jelas. Ingin rasanya aku bangkit untuk membuka pintu, tetapi tubuh ini sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, dan membuat tubuhku dengan keras menghantam permukaan lantai.
Sudah tiba waktunya, ya?
Jean Kirstein, suamiku tersayang. Maafkan aku. Maafkan aku yang tidak dapat menjadi menyejuk hatimu. Maafkan istrimu yang tidak jujur dan tidak mampu membahagiakan dirimu. Sampai nanti pun… Aku ingin selalu bersama denganmu.
Halo! Author nista yang hobi procras datang lagi hehe. If you wonder why am I decide to update this fic again, jawabannya karena... besok puasa. /kicked
NOPE HAHAHAH JK. Sebenernya sih ku kembali kesini karena ada yang minta dilanjut kemarin. And gdi, Tuhan kembali mempertemukanku dengan doc yang udah berlumut ini di akun DropBox ku so yeah. Alasan kedua, karena dengan tayangnya season 2 anime ini mungkin bisa kembali mengobarkan hype dari fandom yang dulu sempat jadi nomor satuku ehe. Gimana? Ikaga desu ka? /weeb
P.S: Masih ada epilogue setelah ini, buat sum up dua chap yang sudah terpublish. Happy reading!
