Konichiwa! Saya balik lagi dengan FF yang gaje ini! Ini Chap 1 nya! Entah bagi Readers ini bagus atau nggak, tapi semoga kalian menikmati saat membaca FF ini.
HAPPY READING!
Dream Summer
Chapter 1 : Baru ketemu langsung berantem?
Di pagi menjelang siang, alias jam 9 pagi, Ran sudah selesai bersiap dengan gaun yang 'setengah' feminim. Sebuah rok dengan warna hitam, kaos putih polos yang dirangkap dengan kemeja kotak-kotak berwarna hitam-merah. Jangan lupa dengan whirst brand di pergelangan tangan.
"Ran-chan? Kamu sudah si..." ucapan Eri langsung terputus begitu saja ketika dia masuk ke kamar putrinya dan sweatdrop sendiri melihat penampilan putrinya yang benar-benar masih kentara ketomboyannya. "Ran-chan, apa-apaan cara berpakaianmu itu?! Cepat ganti baju atasanmu itu!" pinta Eri tegas, Tapi dengan mudahnya Ran menggeleng.
"Iie. Aku tidak mau ganti baju apapun lagi. Sudah cukup aku berkorban demi perjodohan ini dengan memakai rok. Seharusnya aku sekarang ini memakai celana training saja." Tolak Ran, setengah menggerutu. Dia mengambil sepatu olahraganya dan kaus kaki panjangnya dan langsung saja pergi menuruni tangga menuju ruang makan.
Eri hanya terbengong sesaat melihat kelakuan Ran itu. Dan sekejap Eri kembali ke ekspresi profesionalnya sebagai Ratu Pengacara. "Benar-benar keras kepala. Keputusanku mungkin ada benarnya untuk membuat Ran-chan 'tinggal' di rumah Yukiko sekarang." Gumamnya pelan.
Eri langsung beranjak turun dari lantai dua dan pergi menuju ke ruang makan untuk menyediakan sarapan. Baru selangkah Eri memasuki kawasan ruang makan dan dia kembali sweatdrop untuk kedua kalinya, melihat putrinya duduk dengan santainya di bangku meja makan sambil memakan buah apel dan membaca bukunya. Biasa saja memang, tapi bagaimana kalau kedua kaki gadis itu dengan tidak elitnya berada di atas meja makan? Wajar kalau Eri sweatdrop melihat putrinya sudah setingkat menuju perilaku ala yankee.
Dua menit kemudian, Eri kembali ke alam sadarnya dan langsung menggebrak meja makan di dekat Ran. Braak!
"Cukup, Ran-chan! Kamu ini perempuan, jadi bersikaplah selayaknya seorang gadis! Caramu duduk di meja makan ini benar-benar sangat tidak sopan!" Tegur Eri tegas, untuk kedua kalinya.
Ran mengalihkan pandangannya dari buku menuju ke wajah cantik ibunya. Ekspresi datarnya masih terukir diwajah manisnya. Dengan tenangnya, Ran bangkit dari duduknya dan kembali menggigit apelnya. "Okaa-san, Okaa-san tahu sendiri kan? Aku lebih suka duduk seperti itu. Lagipula apa salahnya sih? Kita kan masih ada waktu sebelum kesana." sahut Ran enteng.
Tanpa babibu lagi, Eri langsung menarik tangan putrinya keluar rumah dan pergi menghampiri mobil benz silver kesayangannya. Eri dan Ran masuk kedalamnya. Tanpa memedulikan Ran yang kebingungan, Eri langsung tancap gas dan melesat membelah jalan kota Tokyo.
"O, Okaa-san membawaku kemana?" tanya Ran, antara takut dan cemas.
"Kamu diam saja. Okaa-san membawamu pergi menemui anak yang Okaa-san maksud. Jadi cepat pasang sabuk pengamanmu karena kita akan mengebut untuk sampai kesana." Jawab Eri, berusaha menahan luapan amarahnya.
"Nani?! chotto matte, Okaa..."
Gats! Eri langsung menambah kecepatan begitu mendengar putrinya ingin protes. Ran hanya bisa mengelus pelan keningnya yang memerah akibat terbentur dashboard mobil dan merintih kesakitan. "Itai..."
Tanpa memerdulikan Ran, Eri terus berkonsentrasi menyetir dan memandang penuh jalan raya yang terbentang didepannya. Walaupun sempat terlintas sesuatu dibenaknya. 'Ran-chan gadis yang tomboy dan berandal, sedangkan Shinichi-kun anak yang sangat dingin dan cuek. Saat Ran-chan tinggal disana nanti, apa mereka bisa akur nantinya?' batinnya cemas.
"Nani?! Kalian akan sampai setengah jam lagi? Bukannya kalian bilang akan datang jam satu?" tanya Yukiko kaget, hampir saja dia membanting ponselnya begitu mendengar kabar dadakan dari sahabatnya.
'Gomenasai Yukiko, aku terpaksa. Aku bisa saja akan membunuh putriku sendiri kalau aku sudah kehabisan kesabaran menghadapi sikapnya yang sangat keterlaluan itu. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya ditempatmu kan? Jadi kurasa tidak masalah kalau dia tinggal dirumahmu hari ini juga.'
"Eri-chan, aku bisa mengerti. Tapi semendadak ini? Aku bahkan belum sempat memberitahu hal itu pada Shin-chan!"
'Sudah kuputuskan, Yukiko. Hari ini juga Ran-chan akan tinggal dirumahmu. Aku tidak peduli dengan pendapat Shinichi-kun nanti.'
Yukiko terdiam. Tidak tahu harus berkata apalagi pada sahabatnya yang pasti sudah kelewat naik pitam karena putrinya sendiri. Wajah cantiknya menyiratkan kecemasan. Bukannya dia mengkhawatirkan keadaan Eri, tapi dia mencemaskan Ran dan Shinichi. Mereka tidak saling kenal tapi seenaknya dijodohkan. Lalu nanti Ran akan tinggal bersama Shinichi serumah. Selain itu mereka punya pribadi yang jelas bertolak belakang. Jelas saja kalau Yukiko cemas kan? Cemas kalau takut mereka tidak akan cocok dan selalu bertengkar di rumah?
"Eri-chan aku tahu itu. Tapi yang sekarang sedang kucemaskan itu... "
'Jangan terlalu mencemaskan masalah mereka cocok atau tidak. Biarkan itu jadi urusan waktu saja.'
PIP!
Telepon terputus, membuat Yukiko gundah. Dia senang tapi juga khawatir. Senang karena 'calon menantunya' akan tinggal dirumahnya, gelisah karena mungkin Shinichi akan sering beradu mulut dengan Ran. Walaupun sebenarnya Yukiko merasa familiar dengan Ran dan sedikit mencurigai ekspresi Shinichi waktu dia menceritakan detail tentang perjodohannya dengan Ran.
Baru sekali menyebut nama Ran, Shinichi langsung terlonjak kaget seolah dia mengenal Ran. Ketika ditanya, dengan cepat dan tentu terlihat panik (ketahuan dari air mukanya) Shinichi menyangkal dugaan Yukiko.
"A, aku tidak kenal gadis itu. Sa, sama sekali tidak kenal, kok." Jawab Shinichi waktu itu. Benar-benar membuat Yukiko penasaran.
Saking asyiknya melamun, Yukiko sampai terkejut setengah mati begitu Shinichi memanggilnya dengan wajah penuh tanya. "Okaa-san, doushite? Okaa-san baik-baik saja kan?" tanya Shinichi, sedikit cemas.
"Daijoubu, Okaa-san baik-baik saja." Jawab Yukiko lirih.
Shinichi mengangkat sebelah alisnya, tentu disertai dengan wajah datarnya. Dia tahu jelas kalau ibunya sedang menyembunyikan sesutu darinya. "Okaa-san, aku tidak semudah itu ditipu tahu. Jawab saja, apa ada masalah tentang sahabat SMA Okaa-san itu?"
Yukiko mendengus pelan. 'persis seperti Ayahnya, mudah sekali dia membaca pikiran ibunya ini.' Batinnya menggerutu. "Shin-chan, cepatlah bersiap. 30 menit lagi mereka akan datang, dan jangan pernah protes terhadap sikap Ran-chan nanti, mengerti?"
Shinichi hanya membalas dengan wajahnya yang kaget setengah mati. Dia menoleh cepat pada jam dinding yang menunjukkan jam 9 lebih 5 menit. "Matte! Bukannya mereka akan datang jam 1 siang? Kenapa sekarang mereka malah mendadak datang jam setengah 10?" tanya Shinichi memekik heboh.
"Shin-chan, Eri-chan sengaja memajukan waktu pertemuannya karena sudah pusing mengurusi putri satu-satunya yang amat sangat tomboy nan berandal itu. Dia sangat yakin kalau kamu bisa mengontrol sikapnya itu. Saking yakinnya dia sampai ingin Ran-chan tinggal dirumah ini denganmu."
"HAAAHH?!" untuk kedua kalinya, Shinichi memekik heboh dan dibuat kaget setengah mati. "Okaa-san, yang benar saja! Tetangga kita nanti bisa menyangka yang bukan-bukan soal itu! Lagipula, kenapa Okaa-san tidak memberitahuku kemarin?!" protes Shinichi kesal.
"tidak ada kata 'protes'! kamu harus menerima keberadaannya disini nanti, menger-"
Belum sempat Yukiko menyelesaikan ucapannya, sebongkah suara klakson mobil dengan nyaringnya membuat kebisingan dirumah bergaya eropa itu. Dengan gesit, Yukiko membuka pintu rumahnya dan berlari menghampiri gerbang rumahnya. Wajah cantikmya berseri-seri melihat Eri dan putri tunggalnya sudah datang.
Begitu mobil itu masuk ke pekarangan rumah keluarga Kudo dan si pemilik mobil keluar, tanpa peringatan Yukiko langsung memeluk sahabat masa SMA nya itu sambil memekik girang. "Kyaa! Eri-chan, akhirnya kamu sampai juga!" pekik Yukiko senang.
"Hai, aku tadi sengaja mengebut untuk cepat-cepat sampai kemari dan menemuimu juga putramu itu." Sahur Eri, dengan seulas senyum manis yang terukir diwajahnya.
"cepat-cepat ingin bertemu mereka atau cepat-cepat ingin segera 'membuangku' disini bersama mereka?" celetuk Ran sinis. Dia berpangku tangan dan memasang wajah datar, muak melihat ibunya yang 'sok' baik ala wanita umumnya dimatanya.
"Ran-chan!" bentak Eri keras. Melihat keadaan ibu dan anak itu, Yukiko segera menyela. "Sudahlah. Kita masuk saja ya? Putraku sudah menunggu di dalam." Ajaknya ramah.
Belum sempat Eri, Yukiko dan Ran menginjakkan kaki mereka ke dalam ruang tamu, mereka semua serentak membatalkan niat mereka begitu melihat putra keluarga Kudo itu turun dari tangga seraya mengancingkan kemeja yang ia pakai. Yukiko dan Eri tersenyum geli melihat bergantian Shinichi dan Ran yang terbengong melihat Shinichi. Tidak ada yang salah, tapi kalian juga pasti akan bereaksi sama jika melihatnya.
Warna pakaian Shinichi persis sama dengan Ran. Kemeja kotak-kotak berwarna hitam-merah, kaos putih polos dan celana panjang berwarna hitam. Benar-benar pasangan serasi.
Entah darimana datangnya, hawa-hawa panas langsung muncul begitu Ran dan Shinichi saling pandang. Listrik statis imajiner pun tiba-tiba muncul dan bertabrakan dari kedua mata mereka. "KAU!" Teriak mereka serentak, dengan amarah menggebu.
Eri dan Yukiko langsung terlonjak kaget mendengar mereka berteriak. Ran langsung saja mendekati Shinichi dan mulai berdebat panjang. Masalah-masalah sepele pun langsung saja mereka besar-besarkan. Dan dua orang wanita dewasa disana hanya bisa aling pandang melihat mereka. Salah satu dari mereka mendekat dan langsung memukul kepala mereka. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Kisaki Eri yang melakukan?
"Apa-apaan kalian? Baru sekali ini kalian bertemu kalian sudah bertengkar! Ini tidak benar!" tegur Eri tegas.
"Bukan sekali ini kami bertemu Okaa-san! Aku sudah berkali-kali bertemu dengan si pemikir bodoh ini!" sahut Ran kesal.
"Eh? Apa maksudnya?" giliran Yukiko yang bertanya.
"Okaa-san, si Onihime ini adalah teman sekelasku di sekolah!" jawab Shinichi datar.
"Lho? Itu artinya..."
"Ya! Kami berdua adalah teman sekelas sekaligus... MUSUH ABADI!" lanjut Ran marah, kobaran api imajiner mulai muncul diseluruh tubuhnya
"NANI?!"
To Be Continued
