Konichiwa! Gomenasai atas 'lamanya' chapter baru dari ff gaje ini maklum, kebanyakan tugas sekolah, hoho #plak!#. Hontouni arigatou gozaimasu bagi para readers yang sudah meng review dan menjawab pertanyaanku, hehe. Daripada banyak cincong, langsung saja ke storynya!
Chapter 2 : A War and the past time
Pagi-pagi sekali, saat sang mentari masih menunjukkan setengah singgasananya, Yukiko dengan santainya menyiapkan sarapan untuk putranya dan 'calon menantu' nya (walaupun Ran agak 'Maskulin', tapi Yukiko sudah mengklaim Ran sebagai menantu). Baru saja dia menuangkan segelas susu untuk bagiannya Ran, suara gaduh yang berfrekuensi sampai melebihi frekuensi audiosonik –readers pasti mengerti suara apa maksudnya- membuat telinga Yukiko tuli sekejap, serta membuatnya kaget setengah mati dan menumpahkan susunya. Dengan kesabaran ekstra, Yukiko menaiki anak tangga menuju kamar Ran.
Baru saja dia akan mengetuk pintu, sang Onihime langsung keluar dari ruangan dan mengambil langkah seribu menjauhi kamarnya dengan wajahnya yang sangat pucat. Yukiko hanya bengong melihat Ran berlari dan karena penasaran, dia menengok isi kamar Ran dan sweatdrop sendiri melihatnya.
5 tikus putih dengan gajenya berada di kasur tempat tidur Ran dan mencicit-cicit ria tanpa rasa berdosa.
Yukiko langsung mendelik tajam ke arah Shinichi yang baru membuka pintu dan memasang arloji hitam pemberian Ayahnya. Shinichi pun hanya bisa mengangkat sebelah alis melihat sang ibu mulai terbakar amarah. "Shin-chan! Kenapa kamu menyabotase kamar Ran-chan dengan tikus-tikus itu?" tanya Yukiko dengan suara yang menggelora.
Yang ditanya hanya membelalak kaget dan dengan cepat menengok kamar Ran. Dia pun kaget sendiri melihat tikus-tikus itu. Tentu saja, karena memang bukan dia yang seenak jidat menyabotase kamar Ran. Dan sudah jelas siapa tersangka utama yang ada dibenaknya kan, setelah melihat ekspresi kesalnya?
"Doushite, Shin-chan? Apa kamu pikir Okaa-san tidak tahu apapun tentang ulah jahilmu yang kelewatan itu?" tanya Yukiko sinis., Api-api amarah langsung menguar begitu saja.
Shinichi pun tak bisa apa-apa ketika ibunya menceramahinya dari A-Z dalam kurun waktu 10 menit. Bahkan dia sendiri pun tak diperbolehkan membela dirinya. Selesai sang ibu menceramahinya habis-habisan, Shinichi baru bisa turun dan memulai sarapan paginya. Tidak sengaja Shinichi melihat Ran yang mengambil sebuah cola dingin di kulkas sambil meliriknya. Shinichi juga mendadak menjadi panas sendiri begitu melihat sang Onihime menghampirinya seraya berbisik pelan dengan senyum penuh kemenangan. "Kau seharusnya tak perlu sarapan pagi karena aku yakin kau pasti sudah kenyang melahap kobaran amarah dari ibumu, hihi." Ejeknya usil.
Tanpa rasa bersalah, Ran langsung mencomot roti yang seharusnya menjadi bagiannya Shinichi dan melenggang pergi menikmati musim panasnya. Shinichi yang melihat kepergian Ran langsung mengambil piringnya seraya menggerutu pelan. "Lihat saja, Akan kubalas si Onihime itu! Berani sekali dia mempermainkanku. Dia pikir aku ini siapa? Baka!"
Jam olahraga telah usai, namun Ran masih harus olahraga ekstra dengan push-up sebanyak 150 kali. Wajar saja, karena secara tidak sengaja Ran mengotori tongkat kesayangan sang guru killer yang awalnya dia kira sebagai ranting. Bagaimana bisa? Mari kita flashback kejadiannya.
Dengan sengaja, Shinichi menendang bolanya tepat ke arah Ran dan sukses mengenai punggungnya. Dia tersenyum licik melihat Ran yang sangat marah. Senyumnya itu pun tambah lebar saat Ran melempar tongkat itu –yang sudah Shinichi lumuri dengan lumpur- yang berada didekatnya dan melempar tongkat itu. Dengan mudahnya, Shinichi menghindarinya dan alhasil, tongkat itu tepat mengenai sang guru killer –yang tiba-tiba muncul dibelakang Shinichi- yang sangat shock melihat baju dan tongkatnya kotor. Saat itulah, semua siswa menutup telinga karena mendengar ledakan amarah sang guru.
"MOURI RAN! KAU TELAH MEMBUAT KESALAHAN BESAR DENGAN MENGOTORI BENDA KESAYANGANKU!" Teriaknya penuh amarah.
Jadilah Ran yang harus sedikit menguraskan tenaganya untuk hukuman akibat perbuatan yang sama sekali tidak dia lakukan. Ran pun juga tahu siapa 'biang kerok' yang membuatnya terkena hukuman itu.
"Sialan. Dia mulai berani bermain-main denganku? Akan kuhajar dia!" umpatnya lirih.
Ancaman Ran pun terbukti kebenarannya.
Begitu bel tanda istirahat pertama berbunyi, Ran dengan cepat menghampiri Shinichi yang asik mengobrol dengan dua orang teman sekelasnya. Saking marahnya, tak tanggung-tanggung Ran langsung memukul meja Shinichi sampai si meja itu retak dan nyaris saja oleng karena beberapa kaki mejanya yang hampir remuk.
Kedua orang yang awalnya mengobrol santai dengan Shinichi langsung segera melengos pergi, takut ikut terkena amukan sang Yankee Queen. Hanya Shinichi yang masih berada disana, dengan wajah datar dan malasnya. "Hei Ojou-san, apa kau pikir ini pasar apa? Kalau mau memalak seseorang jangan dikelas! Kau pikir aku takut dengan ancaman standarmu itu?" tanyanya dingin.
"Cih, aku juga enggan untuk memalak seseorang disini. Lagipula, aku memukul benda tak berdosa ini bukan untuk mengancam, tapi sebagai awalan untuk menghajarmu!" seru Ran emosi.
"Hei? Memangnya kau bisa apa, sampai berani menghajarku segala? Kalau kau mau menantangku sekarang saja! Aku tidak takut dengan Onihime sepertimu!" balas Shinichi sinis.
Mendengar pernyataan Shinichi, semua warga kelas 2-B itu hanya meneguk ludah susah payah sambil memandang takut Shinichi. Mereka tahu benar satu hal, membuat salah satu dari dua sejoli itu marah berarti mencari mati. Dan sekarang mereka melihat dua orang itu akan beradu fisik di depan mereka. Wajar mereka takut kan?
Belum sempat berbuat apapun, tiba-tiba pintu kelas digebrak dengan keras, membuat kaget semua orang, minus Ran dan Shinichi yang memandang datar si pembuka pintu.
Hondou Eisuke. Anak yang dikenal ceroboh tapi sangat jago dalam bidang memanah dari kelas 2-C lah yang menggebrak pintu, dengan ekspresi lelahnya yang sangat memprihatinkan. Untuk pertama kalinya, semua orang dikelas 2-B itu berutang budi –setelah sering dibuat repot oleh Eisuke-
Eisuke langsung berjalan cepat menghampiri Ran yang justru mendelik kesal padanya.
"Hei, apa yang kau lakukan disini, Eisuke-kun?! Kau tahu, gara-gara kau aku jadi batal menghajar orang ini!" sembur Ran kasar, seraya menunjuk-nunjuk Shinichi.
Yang ditunjuk pun langsung melangkahkan kaki meninggalkan lokasi. Namun sebelum keluar dari kelasnya, Shinichi menoleh ke arah Eisuke sambil tersenyum meremehkan padanya.
"Selamat berjuang ya, Hondou. Kuharap kau tidak sampai terkena amukan si Onihime yang nyasar kesini itu. Jaa~" ujarnya.
Yang merasa diledek pun langsung terbakar amarah dan mendelik tajam pada sang Pangeran Es itu. Sedangkan Eisuke hanya tersenyum simpul. "Tenang saja, Shinichi-san. Ran-san kan temanku dari SMP, dia tidak mungkin bisa menyakitiku kok, haha." sahutnya tenang.
Shinichi hanya memandangnya aneh. Pandangan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Eisuke. Shinichi pun langsung pergi meninggalkan tempatnya berpijak tadi.
Ran menoleh ke arah Eisuke. Dia takut sahabat baiknya itu menjadi kebingungan melihat tingkah aneh musuh abadinya. Sesuai dugaan, Eisuke benar-benar kebingungan dengan ekspresi Shinichi. "Hei, kau tidak perlu terlalu memikirkan sikap aneh si cowok es itu. Dia Cuma orang bodoh yang sok aneh saja, kok." Ucap Ran meledek.
Bukannya menjawab, Eisuke justru memandang penuh arti pada Ran dan tersenyum kecil padanya. "Ran-san, sepertinya Shinichi-san bukan musuhmu. Malahan dia adalah orang terdekatmu, lebih dari aku." Katanya lirih, seraya mengedipkan sebelah matanya.
Eisuke langsung melengos pergi, tanpa memerdulikan Ran yang terbengong melihat Eisuke. Gadis itu tidak mengerti sama sekali ucapan Eisuke yang satu itu.
"Kenapa dengannya ya? Apa maksudnya? Dia tidak menganggap aku dan si cowok es itu sebagai teman akrab kan?" gumamnya bingung.
Atap sekolah, tempat favorit Shinichi untuk menyendiri setelah taman belakang sekolah yang sepi. Dia memandang jauh suasana kota Tokyo yang tidak pernah bisa berhenti kesibukannya, seraya bersandar di pagar atap itu. Masih terngiang jelas di kepalanya tentang ucapan Eisuke. Ran tidak akan bisa menyakiti Eisuke? Lalu kenapa waktu kejadian 'itu' Ran malah menghajar Eisuke mati-matian? Apa yang...
"Kudo-kun, lagi-lagi kamu membolos ya?"
Suara perempuan yang amat dia kenal itu sukses membuyarkan lamunannya. Dia langsung berbalik memandang seorang gadis cantik berambut pendek kecoklatan yang memandangnya datar. Miyano Shiho, gadis dari Kelas 2-Akselerasi itu –sekaligus sahabat baiknya- menghampirinya sambil berpangku tangan. "Perlu aku ingatkan apa resiko dari membolos di sekolah ini?" tanya Shiho datar.
Shinichi hanya memutar bola matanya malas. Tak ada gunanya berdebat dengan gadis blasteran Amerika didepannya. "Aku juga tahu itu. Aku Cuma sedang ingin sendirian saja." Jawabnya seadanya.
"Bohong. Ada yang mengganggu pikiranmu kan? Apa kau sedang memikirkan Ran-san?" tanya Shiho, tersirat nada cemas dari suaranya.
Shinichi menggeleng. "Kali ini bukan dia penyebabnya. Aku sudah pernah cerita tentang anak bernama Hondou Eisuke kan?"
Shiho mengangguk. "Hai. Lalu?"
"Aku juga pernah cerita tentang kejadian 'itu' kan? Kejadian yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa?"
"Hai. Memangnya kenapa? Bukannya itu sudah lama ya?"
"Hai, tapi hari ini aku ingin menanyakan satu hal padamu."
"Katakan saja."
Shinichi menghela nafas panjang. Dia kembali melempar pandangannya ke arah langit biru yang membentang luas didepanya. "Shiho, apa kau merasa kalau Hondou itu... punya perasaan pada Ran?" tanya Shinichi lirih.
"Eh?"
To Be Continued
Akhirnya kelar juga chapter 2 ini, hoho! Gomenasai bagi para readers yang sudah menanti-nanti FF gaje ini, juga atas cerita chapter ini yang 'lebih pendek' dari chapter sebelumnya. #membungkuk 90# Author sudah memutuskan untuk mengupdate FF ini setiap hari minggu saja, biar konsisten begitu. Author juga kebanyakan kegiatan di sekolah sehingga hampir menelantarkan FF ini, hiks.
Pokoknya, Arigatou gozaimasu bagi kalian semua! Jaa na!
