+Konichiwa! Gomenasai atas 'lamanya' chapter baru dari ff gaje ini maklum, kebanyakan tugas sekolah, hoho #plak!#. Hontouni arigatou gozaimasu bagi para readers yang sudah menunggu dan mengreview FF ini, hehe. Daripada banyak cincong, langsung saja ke storynya!
Chapter 3 : Perseteruan dimulai
"Kenapa kau menanyakan pertanyaan seaneh itu padaku? Mana mungkin aku mengerti perasaan cowok ceroboh itu. walaupun sebenarnya daripada disebut 'suka', aku malah menganggap Eisuke melihat bayangan seseorang dari diri Ran-san, entah siapa." Jawab Shiho sekenanya.
Shinichi hanya mengalihkan pandangannya dan memasang ekspresi yang sama sekali tidak bisa dimengerti Shiho. Shiho mengangkat sebelah alisnya seraya mendekati Shinichi dan menegang bahunya cemas. "Doushite? Kenapa kau diam saja? Apa ada sesuatu yang membuatmu cemas? Katakanlah." Tanya Shiho cemas, kali ini wajah cantiknya jelas memperlihatkan ekspresi khawatirnya.
Shinichi memandang Shiho penuh arti. Dia lalu tersenyum tipis dan melepas pegangan tangan Shiho dibahunya. "Daijoubu, jangan mencemaskanku sampai seperti itu. Ore wa hontouni daijoubu." Jawab Shinichi lirih. Dia lalu berjalan pergi meninggalkan Shiho yang terus memandangi punggungnya yang mulai menjauh.
Shiho memandangnya penuh arti, dengan eskpresi cemas yang masih bersarang diwajahnya. "Kudo-kun, sebenarnya kau menganggap Ran-san musuh atau justru ..." Shiho tidak melanjutkan gumamannya. Ia justru menempelkan kedua tangannya ke dada, berusaha menghentikan debaran jantungnya yang berdebar kencang.
'Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh begini, tidak boleh!'
Jam istirahat kedua, Ran memakan roti dan sekaleng soda sambil duduk santai diatas dahan pohon taman belakang sekolah. Pikirannya masih mengarah pada ucapan Eisuke dan ekspresi Shinichi saat itu. Dua hal yang sama-sama membuat Ran kebingungan.
"Apa sih yang dipikirkan kedua cowok itu? Disatu sisi, ekspresi musuh abadiku itu sangat tidak bisa tertebak, disisi lain teman baikku sejak SMP mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Haaah, hari ini kenapa sih?" gumam Ran bingung. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dengan tidak acuhnya dia kembali memakan rotinya, tidak ingin memikirkan itu terlalu jauh.
Pandangannya tiba-tiba jatuh pada sosok remaja cowok yang duduk melamun di tepi danau tak jauh darinya.
(sekedar informasi, taman belakang sekolah Ran itu sangat luas, sekitar 2 hektar. Jadi jangan heran kalau ada danau disana.)
Ran membelalak begitu dia bisa melihat jelas sosok Shinichi yang berada disana. Sejenak dia memandang heran sosok itu. Ran bisa menangkap jelas ekspresi Shinichi. Tanpa ekspresi dan tatapan sedih yang tertuju pada permukaan danau yang tenang.
Angin tiba-tiba berhembus, membuat sapu tangan Ran yang tadinya mau dipakai untuk mengelap tangannya yang terkena selai roti itu terbang. Ran memekik pelan, namun seolah tak mendengar Ran, sapu tangan itu terus terbang dan tepat mengenai wajah Shinichi.
Shinichi tersentak begitu sapu tangan itu menyentuh wajahnya. Dia mengambil sapu tangan merah muda itu dan menatapnya heran.
"Aaahh! Hei! Itu sapu tanganku!" pekik Ran, sambil setengah berlari ke arah Shinichi. Shinichi menoleh dan memandang datar Ran yang terengah-engah menghampirinya. Dia lalu bangkit dan memberikan sapu tangan itu. "Ini. Lain kali pegang dengan benar sapu tanganmu ini! Ceroboh sekali." Ujar Shinichi datar, seraya menyodorkan sapu tangan Ran.
Ran memandangnya sengit seraya mengambil sapu tangannya kasar. "Aku tahu, cerewet! Lalu, apa yang kau lakukan disini?"
"Apa pedulimu? Itu bukan urusanmu."
"Hei, aku bertanya baik-baik tahu! Kenapa kau malah bicara begitu?!"
"Aku tahu, tapi memang kenyataannya bukan urusanmu kan?"
Tanpa mereka sadari, Eisuke memandang mereka dari kejauhan. Seulas senyum sedih terpampang dari wajahnya. Dia merogoh saku celananya dan membuka lipatan sebuah foto. Dia memandang foto itu lekat-lekat. Senyum sedihnya pun kembali terlihat. Dia lalu kembali melayangkan pandangannya pada duo sejoli yang masih asik berdebat panjang.
"Seseorang punya takdirnya sendiri dan harus bisa menentukan seperti apa nantinya kan, Hidemi nee-chan? Lalu, kenapa Shinichi-san tidak bisa menentukan takdirnya sendiri?" gumam Eisuke lirih, seraya memandang prihatin Shinichi.
Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar bel masuk yang berdentang, membuat Eisuke cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Di tengah angin pagi yang berhembus pelan yang menerbangkan kelopak-kelopak bunga Sakura, di taman belakang sekolah Shiho duduk di bangku taman yang ada disana seraya menjawab soal-soal di buku Teka-Teki-Silangnya. Tiba-tiba dia menghentikan aktivitasnya dan menghela nafas pelan. Dia kembali teringat ekspresi Shinichi yang membuatnya cemas kemarin. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa terus dan selalu saja teringat hal tidak mengenakkan itu. Namun dia mengerti tentang debaran jantungnya dan perasaan cemasnya itu. Dia sangat mengerti kalau dia...
"Miyano-san,"
Shiho berbalik, begitu namanya dipanggil oleh seseorang. Dia mengernyitkan dahi begitu melihat Ran yang datang dan menghampirinya. Shiho bangkit dari bangkunya dan heran melihat ekspresi Ran yang terlihat sangat kesal setengah mati.
"Miyano-san, kenapa tetangga sekaligus teman baikmu itu sangaaat menjengkelkan sekali? Apa dia dulu dilahirkan di kutub sehingga sifatnya itu sangat dingin begitu? Sudah begitu, dia pun suka cari gara-gara pula!" oceh Ran panjang lebar, amarahnya pun berkobar sampai-sampai muncul kobaran api imajiner ditubuhnya.
Shiho hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Ran yang terlampau sangat tidak wajar sebagai perempuan itu. Dia lalu menarik Ran duduk bersamanya di bangkunya tadi. "Ran-san dengarkan aku, sifat anak itu sudah dari dulu sedingin itu. Dia juga hanya bisa bersikap begitu kalau merasa sangat kesal pada seseorang. Kalau kau bisa bertenggang rasa dengannya, aku yakin kau akan sadar kalau si Sherlockian itu punya sisi positif yang tak terduga." Ujar Shiho menjelaskan.
"Miyano-san, kamu tidak mengerti! Tampilan luarnya saja dia seperti itu, tapi dalamnya dia sungguh menjengkelkan! Tadi saja dia sukses membuatku dimarahi Yukiko-san karena dia menuduhku menumpahkan susu di blus kesayangannya ibunya!"
"Ran-san,"
"Hai! Dia itu sangat-sangat menjengkelkan! Aku heran sekali, orang sepertinya bagaimana bisa terpilih sebagai ketua kelas dikelasku?!"
"Ran-san,"
"Sudah begitu, kenapa juga dia harus sok cuek padahal sebenarnya dia itu sangat suka sekali diperhatikan layaknya superstar! Benar-benar munafik!"
"RAN-SAN! CUKUP! JANGAN MENGHINA KUDO-KUN LAGI! KAU TIDAK MENGENALNYA LEBIH JAUH KAN? JADI, JANGAN SEENAKNYA MENGHINANYA! KAU PIKIR AKU SUKA MENDENGARMU MEMAKI-MAKI DIA SEPERTI ITU? TIDAK SAMA SEKALI!" bentak Shiho marah, dia berdiri dan mengepalkan kuat-kuat kedua tangannya. Dia berusaha keras untuk tidak menampar gadis didepannya.
Ran terdiam. Dia memandang Shiho heran dan bingung. Begitu tersadar, dia mengerti kalau gadis dihadapannya benci sekali kalau Shinichi dihina. Karena dia tahu kalau Shiho...
"Miyano-san, apakah kamu... suka pada Shinichi-kun? "
"Aakkhh..." Shiho terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dan kembali mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Ba, baka, ma, mana mungkin aku menyukai cowok Sherlockian itu. Ka, kami cuma teman baik, tidak lebih."
"Bohong. Kamu memang suka kan?" Ran bangkit dari bangkunya. Dia memegang pundak Shiho dan mengguncangnya pelan. "Kamu memang suka cowok es itu kan? Iya kan? Jawab aku, Miyano-san!"
"Hai! Hai! Aku memang menyukai Kudo-kun! Aku benar-benar suka padanya!" jawab Shiho lantang. Dia mencengkeram sengit Ran. Yang dipandang pun hanya tercengang dan tanpa sadar melepaskan cengkeramannya.
"Mi, Miyano-san..."
Di ruang Kelas 2-B, Shinichi membaca bukunya seraya sesekali meminum kopi kalengannya. Tiba-tiba, seseorang mengambil bukunya. Shinichi berdecak kesal dan mendongak, dia melihat Eisuke yang memandangnya tajam. "Shinichi-san, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Haah? Tentang apa? Dan kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Shinichi, sambil bangkit dari bangkunya dan memandang datar lawan bicaranya.
"Kamu... kamu sebenarnya menaruh hati pada siapa? Ran-san atau Miyano-san?" tanya Eisuke, masih bertahan dengan tatapannya.
"Eh? Apa yang kau bicarakan?"
"Kemarin seharian penuh kamu terus melamun memikirkan sesuatu kan? Aku yakin itu ada hubungannya dengan Ran-san, makanya aku sekarang bertanya untuk memastikan."
"Hondou, aku tidak mengerti maksud-"
"Tidak! Kamu pasti mengerti! Aku tahu kalau kamu memikirkan sesuatu kemarin. Dan aku juga mendengarkan pembicaraanmu dengan Miyano-san diatap kemarin. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Sebenarnya kamu itu menyukai Ran-san atau tidak?!"
"Chotto matte, kau bertanya apa aku suka Ran atau tidak? Matte, masaka sebenarnya kau menanyakan ini untuk memastikan perasaanku padanya?"
"Memang itu niatku!"
"Lalu, untuk apa kau menanyakannya? Itu kan bukan urusanku!"
"Tidak! Itu jadi urusanku!" Eisuke mengepalkan erat-erat kedua tangannya sebelum akhirnya dia berkata... "Apapun yang berhubungan dengan Ran-san itu jadi urusanku juga! Karena aku tidak ingin dia menderita lagi! Karena aku sangat menyukai senyumnya! Karena aku suka padanya!"
"Na, nani, Kau suka padanya?" ulang Shinichi tercengang.
To Be Continued
Akhirnya kelar juga chapter 3 ini, hoho! Gomenasai bagi para readers yang sudah menanti-nanti FF gaje ini, juga atas cerita chapter ini yang 'lebih pendek' dari chapter sebelumnya. #membungkuk 90. Author juga kebanyakan kegiatan di sekolah sehingga hampir menelantarkan FF ini, telat update pula! Hiks, jadi hontouni gomenasai atas kesalahan besar ini.
Pokoknya, Arigatou gozaimasu bagi kalian semua! Jaa na!
