BRIDE OF THE DARK

Chapter 1 – Amnesia

Copyright By : Justin Seagul

[Kookmin Fanfiction]


Warnings!

If you hate Yaoi or you doesn't like the couple. Please close this page!


Genres

Dark Romance – Supernatural – Mystery


Main Cast

Jeon Jungkook

Park Jimin


Support Cast

Min Yoongi

BTS's Members

and Other.


Disclaimer

Para cast hanya milik Tuhan, Orangtua, dan Agensi masing-masing.

Cerita sepenuhnya milik saya.


Summary

Park Jimin menghadiri pemakaman kakaknya, Park Chinmie yang meninggal secara misterius. Namun, setelah seminggu ia sendiri menghilang tanpa kabar. Karena khawatir, Min Yoongi pergi menyusulnya ke Jeongson. Tiga hari setelahnya Jimin muncul kembali dengan keadaan luka-luka dan tak mampu mengingat apa yang terjadi selama ia menghilang. Satu-satunya hal yang dia ingat adalah Ruangan gelap, mawar biru, dan Jeon Jungkook.


Chapter 1 – Amnesia

"Kau benar-benar akan pergi ke Jeongson?" Namjoon meletakkan se-cup kopi hitam tanpa gula di atas meja rekannya yang sibuk dengan berkas-berkas.

Pria putih yang duduk dikursinya itu hanya menjawab seadanya dan menyambar kopi yang dibawa Namjoon. Meneguknya, lalu kembali ke kertas-kertas yang berhamburan di atas meja. "Besok pagi. Karena itu aku harus menyelesaikan semua ini hari ini juga."

Namjoon menghela napas, dan duduk di depan Yoongi. "Jangan terlalu memaksakan dirimu. Mungkin dia hanya lupa memberi kabar."

Min Yoongi menatap pria di depannya dengan pandangan kesal. "Kau kira Jimin sebodoh itu untuk tidak memberi kabar selama seminggu? Aku hanya takut terjadi sesuatu padanya." Ujar Yoongi, menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Aishh… kau itu terlalu berlebihan. Jangan berprasangka yang tidak-tidak." Namjoon bangkit dan menepuk bahu Yoongi. "Setidaknya biarkan dirimu sedikit bersantai. Aku tak bisa banyak membantu." Ujarnya sebelum berbalik pergi.

Yoongi memandang punggung Namjoon yang menghilang dibalik pintu. Mungkin saja yang temannya katakana itu benar, ia hanya terlalu cemas. Bisa saja Jimin kehilangan ponselnya atau ia tanpa sengaja merusaknya. Mengingat Jimin itu ceroboh, hal itu bisa saja terjadi. Tapi, apakah ia tidak bisa meminjam ponsel kerabatnya untuk memberinya kabar? Rasanya, sulit bagai Yoongi untuk tetap berpikir bahwa Jimin baik-baik saja.

"Aishh… aku bisa gila! Dimana kau Jimin-ah…"


Jimin merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya remuk. Perlahan ia membuka mata dan silau matahari menyambutnya. Untuk sesaat ia tidak tahu dimana ia berada dan siapa dirinya. Jimin panik, ia segera bangkit, walaupun tubuhnya begitu kesakitan.

Sejauh mata memandang, ia hanya bisa melihat pohon-pohon lebat, ranting kayu, dan bebatuan. Ia juga bisa mendengar suara aliran air sungai. Tapi Jimin benar-benar asing dengan tempat ini, ia bahkan asing dengan dirinya sendiri. Sungguh. ia bahkan tidak ingat namanya.

Hati-hati, ia mencoba bangun. Kaki dan tangan kanannya terasa sangat nyeri namun dia tidak menyerah. Bertumpu pada batang pohon, akhirnya ia bisa berdiri walaupun rasa sakit di tubuhnya membuat ia ingin pingsan. Jimin bernapas pelan-pelan, menyandarkan tubuhnya pada sebuah batang kayu besar dan mencoba terlebih dahulu untuk mengingat apa yang ia lakukan di tempat ini, dan yang paling penting, siapa dia sebenarnya.

Namun sekeras apapun ia mencoba, Jimin tidak mendapat sedikitpun bayangan dan mulai menjadi panik. Apa yang bisa ia lakukan saat ini, ia bahkan tak tahu identitas dirinya sendiri.

Jimin mulai berjalan pelan menyusuri hutan. Setidaknya ia harus menemukan pemukiman terlebih dahulu, dan meminta bantuan orang-orang. Ia melewati jalan setapak kecil yang menjorok turun. Jalan ini penuh dengan semak, yang menandakan sangat jarang dilewati manusia. Ia terus mengikuti jalan setapak itu hingga berakhir di sebuah tebing. Dari tebing itu Jimin bisa melihat, bahwa pemukiman berada tepat di bawahnya.

Mengabaikan rasa sakit yang mencekam di seluruh tubuh, Jimin perlahan menuruni tebing rendah itu dengan merangkak, jika saja ia dalam keadaan normal, Jimin pasti tidak akan kesusahan untuk melompatinya. Ia mencengkeram bebatuan di sepanjang terjal agar mencegah dirinya merosot ke bawah. Nyeri di pergelangan kakinya sudah sampai pada batas, sehingga ketika kakinya menyentuh aspal jalan ia segera jatuh pingsan.


Park Chanyeol dan mobil tuanya melesat kencang di sebuah jalanan di pinggir hutan yang sepi, seolah-olah jalan itu miliknya. Jam duduk digital diatas dashboard masih menunjukkan bahwa waktu masih begitu pagi untuk memulai aktivitas. Jadi ia memutuskan untuk sedikit menurunkan kecepatan mobilnya dan mendadak menginjak pedal rem ketika melihat seseorang tergeletak mengenaskan di pinggir jalan.

Tidak memedulikan kepalanya yang terantuk setir. Chanyeol memarkir mobilnya asal tak peduli itu di tengah jalan. "Astaga!" Pekiknya terkejut dan menghampiri orang itu.

Chanyeol mendadak panik melihat pemuda yang sepertinya berada pada pertengahan 20-an itu sangat pucat pasih. Ia segera meraba leher pemuda itu dan baru bisa mendesah lega ketika menemukan bahwa ia masih hidup. Tak membuang waktu, Chanyeol segera memapahnya untuk masuk ke mobil, dan memutar haluan.

"Baekhyun!" Chanyeol berseru keras di depan pintu rumahnya. Memanggil istrinya yang mungkin tengah berada di dapur.

Terdengar suara 'bak buk' pelan dari dalam sebelum pintu terbuka dan seorang pemuda putih yang mungil membuka pintu dengan wajah galak, "Apa yang— oh Tuhan! Siapa dia?!"

"Aku tidak tahu. Aku menemukannya tergeletak di jalan."

Baekhyun membukakan pintu lebih lebar, "cepat bawa masuk!" Ujarnya yang segera dipatuhi Chanyeol.

"Aku akan mengambil air." Baekhyun segera menuju ke dapur dengan tergesa-gesa ketika suaminya berhasil membaringkan pemuda itu di sofa.

Tak lama kemudian, Baekhyun kembali dari dapur dengan se-baskom air di tangannya dan handuk bertengger di bahunya. Ia duduk di samping pemuda itu dan mulai membasahi handuknya lalu menyapukan handuk basah itu kepermukaan wajah yang kini terlihat sangat lusuh dan pucat. Bahkan ada beberapa bekas memar keunguan di wajahnya.

"Apa yang terjadi padanya?" Lirih Baekhyun.

Chanyeol yang mendengar perkataan istrinya itu hanya bisa menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Aku hanya menemukannya tergeletak di pinggir jalan. Kukira dia sudah mati."

Istrinya hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia dengan telaten memeras handuk basah yang baru saja dicelupnya ke dalam air, namun pergerakannya mendadak berhenti ketika Baekhyun melihat pemuda itu melenguh pelan, disusul dengan matanya yang terbuka secara perlahan.

"Oh! Dia sadar!"

Chanyeol segera merangsek ke samping istrinya. Ia membantu pemuda itu untuk duduk bersandar pada kepala sofa. "Kau baik-baik saja? Ada yang sakit?"

Pemuda itu tidak mendenagarkan Chanyeol, ia memandang nyalang ke sekitar dan bernapas lega ketika menyadari bahwa ia tidak berada di tengah hutan mengerikan yang biasa ia lihat pada saat ia pertama kali siuman.

"Ini dimana?" Pemuda itu berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.

"Jeongson." Baekhyun menjawab dengan cepat. "Kita berada di Jeongson."

"Jeongson…"

Kata itu meluncur refleks, dan secara bertahap, potongan-potongan memori menyerbu kedalam otaknya dan memberi sensasi seperti kesemutan. Perlahan, satu persatu ingatan itu muncul, ia bernama Jimin, bekerja sebagai editor naskah dan tinggal di Seoul. Marganya Park, dan ia lahir dan besar di Jeongson. Orang tuanya meninggal saat ia berumur 14 tahun dan dia punya kakak yang tinggal disini bernama Park Chinmie.

Jimin ingat, Ia kesini untuk menghadiri pemakaman…

Kakaknya sudah meninggal…

Jimin juga ingat bahwa ia telah mengambil penerbangan pagi yang mendadak pada tanggal 6 April setelah mendapat kabar tentang kematian kakaknya, lalu…

Ingatannya berhenti disitu.

"Ini tanggal berapa?" Gumamnya lebih kepada diri sendiri.

Baekhyun mengernyit heran. "13 April." Jawabnya. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"

Jimin memalingkan wajahnya ke arah Baekhyun. Ia berkedip perlahan lalu mengalihkan pandangannya ke Chanyeol. Ia terlihat bingung.

"Kgggrrhhh…" Jimin mengerang ketika tiba-tiba rasa sakit menyerbu kepalanya. Suara panik disekitarnya terdengar seperti dengungan lebah, dan itu tidak membantunya sama sekali. Sesuatu memasuki kepalanya seperti jarum akupuntur. Namun, kali ini Jimin tidak yakin jika itu salah satu ingatannya. Bayangan itu muncul satu persatu seperti ilusi, seolah-olah sengaja ditanamkan di kepalanya.

Ruangan ini sangat gelap…

Baunya seperti hutan pinus…

Jimin tidak tidak tahu ia berada dimana…

Ia mendengar suara kepakan sayap dan geraman pelan…

Ia tak bisa merasakan kakinya, dan tangannya terluka…

Ia menggenggam sesuatu…

Tangkai bunga…

Durinya melukai tangannya…

Mungkin bunga mawar…

"Jeon Jungkook…" Ia bergumam. Jimin tidak yakin apa yang ia katakan. Tapi suaranya terdengar ketakutan. Kepakan sayap itu terdengar semakin dekat. Dan ia bisa mencium bau musk yang kental. Makhluk itu memiliki sayap? Mungkinkah burung? Tapi burung apa yang berukuran sangat besar hingga kepakan sayapnya terdengar begitu jelas.

Jimin tidak ingat. Ia jatuh pingsan.


To Be Continue…


Halo! Ini cerita saya yang baru. Dengan Kookmin sebagai pasangannya. Genrenya Dark Romance, kkekeke… Sebenarnya cerita ini terinspirasi dari novel Dark Memory karya Jack Lance. Bahkan pembukaan chapternya bisa dibilang sama. Tapi tenang, ceritanya berbeda kok.

Review nya saya tunggu okay. Semoga Responnya sebagus respon di cerita saya yang sebelumnya. Oh ya, saya juga mau tanya, kira-kira posisi Yoongi cocoknya jadi apa? Teman? Sahabat? Kekasih? Karena saya sendiri masih nulis satu bab jadi saya belum bisa memikirkan gimana kedepannya. Review kalian bisa jadi sangat membantu lho. So, jangan lupa di Review ya kalau memang mau tahu cerita selanjutnya okay? Thanks sebelumnya^^

P.s Ceritanya sudah sedikit saya edit ya. Tidak terlalu kentara kok. Saya belum tahu kapan bisa update chapter 2 nya. Karena saya lagi dalam masa sibuk ujian. Tapi nanti kalau udah ada waktu pasti saya update kok. Eitss, tapi kalau seandainya jumlah Review nya melebihi ekspektasi, mungkin saya akan update asap lho, jadi jangan malas untuk review^^