Konichiwa! Hontouni arigatou gozaimasu bagi para readers yang sudah menunggu dan mengreview FF ini, hehe. Daripada banyak cincong, langsung saja ke storynya!
Chapter 4 : Masa lalu pahit
"Mi, Miyano-san, jadi kamu menyukai Shinichi-kun?" tanya Ran kaget.
Shiho terdiam. Dia menunduk dengan wajah menyesal. Seharusnya dia tidak mengatakan yang sebenarnya hanya karena 'marah sesaat' pada Ran. Dia tidak mau kalau kejadian 'itu' terulang lagi padanya. Dia juga tidak berani menatap Ran. Ran masih menunggu jawaban Shiho, tapi sesaat kemudian dia tersenyum tipis dan memegang bahu Shiho seraya tersenyum cerah.
"Wah, wah, ternyata gadis elit sepertimu bisa suka sama cowok aneh sepertinya! Aku kaget sekali tadi! Kalau kamu suka, aku akan bantu kamu supaya bisa dekat dengannya. Bagaimana? Kamu mau?" ujar Ran sumringah. Yang ditanya justru memandang cepat kearahnya dengan penuh tanda tanya dikepala. "Cho, chotto matte, a, apa yang kamu katakan tadi? Apa maksudnya?"
"Hei, masa kamu nggak ngerti? Maksudku, kalau kamu suka dia, aku akan bantu kamu supaya bisa melakukan 'pendekatan secara bertahap' padanya! Begitu sudah yakin, kamu bisa nyatakan perasaanmu padanya!"
"Matte, Ran-san! Aku, aku tadi memang bilang suka padanya. Iya, aku bilang begitu karena aku marah padamu. Aku marah karena kamu terus memaki-maki orang yang sudah kuanggap adikku sendiri! Tidak lebih! Kamu hanya salah paham saja!"
"Hei? Yakin hanya itu?"
"Te, tentu saja! Mana mungkin aku suka pada cowok yang bagaikan es di kutub itu!"
Ran mengernyitkan dahi. Dia merasakan dengan jelas kalau Shiho tadi serius sekali mengatakan perasaannya, tapi kenapa dia malah bilang begitu?
Yang ditatap pun hanya memandang Ran dengan wajah sedikit merona sekaligus takut-takut. Dia takut kalau Ran tahu dia berbohong tentang perasaannya selama ini pada Shinichi. Dia juga takut kalau Ran akan berusaha membuatnya dekat dengan Shinichi dan mengulangi kembali kejadian 4 tahun yang lalu. Ya, Shiho takut sekali soal itu.
"Mi, Miyano-san? Jadi begitu ya?" celetuk Ran, seraya tersenyum cerah.
"Ha? Apanya?" tanya Shiho bingung.
"Seorang Onee-san pasti marah kalau adiknya dimaki-maki kan? Jadi kamu bilang begitu karena aku memaki-makinya tadi kan? Aah, Gomenasai Miyano-san, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Hontouni gomenasai, Miyano-san." Sesal Ran pelan, sambil membungkuk 90 derajat pada Shiho.
Shiho hanya memandang Ran tanpa eskpresi. Ia pun lalu tersenyum kaku dan memegang kedua bahu Ran. "Daijoubu. Kamu tidak perlu sampai seperti itu. Kudo-kun sering bilang kalau kamu ini adalah musuh abadinya. Yah, yang namanya saling bermusuhan pasti tidak lengkap tanpa saling mengejek dan bertengkar kan?"
"Miyano-san..." Ran memandang Shiho takjub. Dia lalu tersenyum sumringah dan memeluk erat Shiho. Shiho sendiri menjadi bingung dengan perilaku tidak jelas Ran.
"Kamu ini ternyata sangaaat bijak dan dewasa sekali! Rasanya aku jadi seperti punya seorang Onee-san!" seru Ran sumringah, membuat Shiho terbelalak dan kaget mendengarnya.
'Seperti punya seorang Onee-san? ' batinnya kaget. Dia sama sekali tak menyangka kalau Ran akan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang persis sama seperti yang pernah dikatakan seorang gadis kecil padanya dahulu. Tapi siapa? Shiho tidak mengingatnya.
"Ho, Hondou... jadi kau... SUKA PADA CEWEK TOLOL ITU?!" tanya Shinichi kaget.
Hati Eisuke mencelos. Gawat! Keceplosan!
"Hondou, kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Shinichi lagi.
"Eeh, aah, itu, sebenarnya ya aku memang menyukai Ran-san karena... dia sangat mirip dengan Onee-chan ku! Ingat tentang Hidemi –neechan? Kalau tersenyum dia mirip sekali dengan Ran-san! Ma, makanya aku tidak ingin dia menderita karena dengan begitu aku bisa merasa seolah Hidemi –neechan ada bersamaku, begitu. Haha." Jawab Eisuke sembarangan. Saking sembarangannya sampai dia terpeleset dan terjungkal ke belakang.
Melihatnya, Shinichi hanya menghela nafas lega seraya tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangannya pada Eisuke yang sedang mengelus-elus kepalanya yang terasa pusing. Shinichi menyadarinya dan mengernyit heran memandang Shinichi. Dia pun dengan ragu meraih tangan Shinichi dan membereskan bajunya yang kotor akibat debu-debu lantai.
"Hmm, begitu ya. Memang cocok denganmu, aku juga dekat dengan seorang cewek yang punya senyum yang sama dengan Onee-chan ku." Ujar Shinichi, dengan seulas senyum lembut diwajahnya.
"Lho? Shinichi-san, memang kamu punya Onee-chan ya?"
Shinichi memandang Eisuke kosong. Ekspresi wajahnya pun sekejap berubah sedih. Tapi dia langsung mengibaskan tanyannya seraya tersenyum kaku. "Ah, bukan apa-apa kok. Lupakan saja ucapanku tadi, oke? Aku mau ke toilet dulu. Jaa~"
Eisuke memandang kepergian Shinichi dengan segurat ekspresi heran sekaligus penasaran diwajahnya. Tapi dia tak mau ambil pusing dan langsung kembali ke asalnya berada (?)
Di toilet, Shinichi dengan kasar mengusap-usap wajahnya dengan air dan terus-menerus menyiramkan banyak air kewajahnya. Dia benar-benar sangat sedih sekaligus sangat marah jika harus ingat tentang Onee-chan nya. Dia bahkan sangat frustasi hanya dengan membayangkan ekspresi sinis dan palsu darinya. Tapi entah bagaimana dia justru merasa tenang jika membayangkan senyumnya. Singkatnya, dia bingung antara mau membencinya atau tidak.
Setelah puas terus menerus menyiramkan air kewajahnya, Shinichi mengusap wajahnya dan memandang kesal dan benci pada cermin dihadapannya. Deru nafas memburu terdengar jelas disana. Deru nafas akibat rasa marahnya pada Onee-chan nya.
"Che! Kenapa aku harus ingat tentang gadis itu! Doushite! Doushite! Kenapa Onee-chan melakukan itu? Kenapa Onee-chan? Doushite..."
Jam pulang sekolah, Ran mengambil semua barangnya di loker dan memasukannya dalam tasnya dengan kasar. Entah bagaimana, tiba-tiba pandangannya jatuh begitu saja pada Shinichi yang sedang membereskan barang-barangnya di loker. Karena jarak lokernya dengan loker Shinichi tidak jauh, Ran bisa melihat jelas wajah Shinichi yang sayu dan terlihat seperti menahan rasa sakit yang kuat karena trauma akan sesuatu. Tapi dia mengabaikannya karena menurutnya itu tak penting. Tapi akhirnya dia penasaran juga dan mendekati Shinichi yang duduk di sebuah bangku untuk mengikat tali sepatunya. "Hei, ada apa denganmu? Tumben sekali kau tidak cari perkara denganku beberapa jam ini, ada masalah?" tanyanya datar.
Shinichi mendongak. Dia memandang datar gadis tomboy didepannya dan dengan cueknya kembali mengikat tali sepatunya. "Tidak ada. Aku hanya malas berdebat ataupun bertengkar denganmu. Pergi sana!" jawabnya singkat, disertai nada bicara yang terdengar –sedikit- bergetar.
"Oh, begitu ya? Baguslah, setidaknya aku bisa tenang hari ini." Balas Ran datar.
Selesai mengikat sepatunya, tanpa memerdulikan Ran yang ada didepannya, Shinichi langsung saja berjalan cepat meninggalkan ruang loker, dengan wajahnya yang sayu. Kejadian ini sukses membentu tanda tanya besar di kepala Ran. "Ada apa sih? Kenapa dia jadi secuek itu? Hmm, kelihatannya ada masalah. Aku harus cari tahu!"
Ran langsung berlari menyusul Shinichi yang sudah agak jauh meninggalkannya, tanpa sadar ada Shiho yang sejak tadi mendengarkan dialognya dengan Shinichi tadi. Rasa bersalah pun kembali menyergap kuat didadanya. Dialah penyebab dari segalanya. Dialah penyebab dari putusnya suatu hubungan kuat yang mestinya tidak boleh diputuskan.
Dialah penyebab hancurnya hubungan Shinichi dengan Onee-chan Shinichi yang sebenarnya sangat Shinichi sayangi.
"Hiks, gomenasai Kudo-kun, gomenasai. Gomenasai... ARISA NEE-SAN." Isak Shiho sedih, dengan deraian airmata yang sudah membentuk seperti air sungai dipipinya.
gomenasai atas lamanya update chapter ini dan pendeknya story cerita ini, readers! biar feel dramanya dapet, Author sengaja bikin kaakter OC yang merupakan Onee-chan dari Shinichi! sudah ketahuan kalau namanya Kudo Arisa dan punya hubungan erat dengan Shiho kan? stoory selanjutnya, tunggu updatenya ya!
Jaa na~
