Konichiwa! Hontouni arigatou gozaimasu bagi para readers yang sudah menunggu dan mengreview FF ini, hehe. Gomenasai juga karena super lemotnya updatenya FF ini. Hiks, hiks.
walau telat tapi saya mau mengucapkan HAPPY NEW YEAR untuk semua pembaca FF ini, Arigatou!
Chapter 5 : Tetap benci atau sayang?
Jam makan malam di rumah keluarga Kudo hari ini adalah satu-satunya acara rutin yang pertama kali membuat Yukiko begitu kewalahan dan super repot, karena duo sejoli dihadapannya terus saja berdebat heboh tanpa henti. Yang satu debat dengan cara kasar alias berteriak-teriak lantang ala berandalan kelas kakap dan yang satu debat dengan cara elit alias bicara dengan super santai dan cuek. Sudah jelas siapa yang bicara dengan cara kasar dan siapa yang bicara dengan nada cuek kan?
"Kenapa kau ini selalu saja mengejekku sih?! Dengar ya, walaupun aku payah soal Matematika tapi setidaknya aku mahir dalam Karate! Jadi jangan terus-terusan membuatku naik pitam selama aku disini, ngerti!?"
"Hei, kau sedang ada dirumah orang, Barou. Lagipula percuma saja menghajarku, karena aku berani jamin kalau kau nggak akan bisa mengenaiku sedikitpun. Ingat saat pelajaran Olahraga kemarin? Justru kemarin aku yang membuatmu bungkam kan? Kau begitu bangganya sampai lupa kau sedang berhadapan dengan siapa. Dasar gadis aneh!"
"Nani?! Ulangi lagi ucapanmu itu biar aku bisa menyumpel mulutmu itu dengan Onigiri ini!"
"Terserah. Paling juga aku akan membalasmu dengan melaporkanmu pada Eri baa-san atas tuduhan telah melakukan penganiayaan dirumahku sendiri."
Skakmat. Ran tidak bisa membalas untuk yang satu itu. Dia hanya bisa menahan perasaan jengkelnya dengan menatap tajam cowok yang masih makan dengan nikmatnya disebelahnya. Seperti itulah kira-kira yang selalu dilihat oleh Yukiko semenjak Ran tinggal dirumahnya.
'Haahhh, kalau mereka begini mana bisa jadi teman dekat.' Batin Yukiko pesimis.
"Aku ke kamar dulu." Pamit Shinichi tiba-tiba.
Yukiko mendongak dan mengernyit heran menatap putranya yang 'berbeda dari biasanya'. "Eh? Setidaknya makanlah camilan sedikit dulu disini, kenapa sudah ingin langsung ke kamar begitu?" tanyanya heran.
"Daijoubu, aku hanya ingin cepat-cepat tidur saja. Aku sudah agak mengantuk." Shinichi langsung bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menjauhi meja makan.
"Tapi..."
"Apa apa denganmu?" tanya Ran tiba-tiba, memotong ucapan Yukiko. Shinichi berhenti melangkah dan berbalik menatap Ran yang balas menatapnya tanpa ekspresi. "Tadi di Sekolah kau juga begitu, diam seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Kau ada masalah?"
"Bukan urusanmu."
"Wakatta, tapi kalau kau diam seperti patung begitu aku juga jadi merasa sedikit janggal saja."
Shinichi masih memandang Ran kosong. Tiba-tiba dia menyeringai meremehkan. "Ha? Sebegitu pedulinya kau padaku?"
Ran tersentak. Dia baru mengerti sekarang, Cowok didepannya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Dia menolak Ran. Geram dan kesal, Ran langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri Shinichi yang masih berdiri ditempatnya dengan pandangan datar. "Dengar, bukannya aku mau peduli atau apapun padamu! Apa kau sadar kalau tingkahmu ini membuat Ibumu khawatir?! Memang apa yang sedang kau sembunyikan, hahh?!"
"Aku sudah bilang ini bukan urusanmu kan? Jadi berhentilah bertanya seperti itu padaku!"
"Memang kenapa?! Terserah aku mau tanya, mau nangis atau mau teriak kan?! Itu juga bukan urusanmu!"
"Kalau kau nggak ingin aku mencampuri urusanmu itu, kau juga jangan ikut campur urusanku!"
"Aku mencemaskanmu tahu!"
Shinichi dan Yukiko –yang sedari tadi cuma mendengarkan sambil berharap-harap cemas- terdiam dan heran sendiri dengan ucapan Ran tadi. Shinichi tidak salah dengar kan? Ran mencemaskannnya?
Merasa ditatap dengan tatapan –apa-maksudmu- itu membuat Ran memutar otak untuk membuat penjelasan dari ucapan yang tanpa sadar keluar dari mulutnya begitu saja.
"Ma, maksudku aku hanya merasa nggak enak saja. Ya, ya maksudku aku merasa bosan kalau tidak bicara apalagi bertengkar denganmu seperti biasanya."
Pernyataan itu justru membuat Shinichi lebih terkejut lagi. Itu sama saja dengan artian kalau Ran selama ini memedulikannya kan?
"Aaah, sudahlah! Pokoknya berhenti membuat orang khawatir, sumimasen!"
Ran langsung pergi begitu saja, tanpa sadar kalau Shinichi terus memandang kepergiannya dengan pandangan takjub. Yukiko yang menyadari sikap putranya yang mulai sedikit memperhatikan Ran tersenyum-senyum sendiri. Ia lalu menghampiri Shinichi.
"Waaah, Shin-chan! Ada apa? Kamu mulai suka pada Ran-chan ya?" goda Yukiko, membuat Shinichi terperanjat dan langsung pergi dari tempat.
"Shin-chan, matte kudasai,"
Shinichi menoleh, menatap Yukiko yang memandangnya sayu. "Okaa-san tahu benar apa yang menjadi satu-satunya hal yang terus membuatmu kepikiran sampai seperti ini. Kamu pasti teringat dengan Ari-chan kan?"
"Begitulah. Dia benar-benar gadis bodoh..."
"Shin-chan, dengarkan Okaa-san dulu. Ari-chan sebenarnya tidak seperti yang ka-"
"Sudahlah Okaa-san, aku tidak mau membahasnya lagi. Oyasumi."
"Aaah, Shin-chan!"
Shinichi langsung saja melesat pergi ke kamarnya begitu saja, tanpa menyadari adanya Ran di dekat tangga karena sudah terlalu muak dengan...
Ran menatap Yukiko yang sudah terduduk di kursi dengan wajah sedih. Merasa penasaran sekaligus iba, Ran lalu mendekati Yukiko dan bermaksud menghiburnya.
"Yukiko-san, tenanglah." Hibur Ran pelan nan lirih.
"Haah, anak itu benar-benar tidak bisa melupakannya. Andai saja Ari-chan mau mengerti perasaan Shin-chan dan tidak melakukan hal itu sejak awal, mungkin saja Shin-chan tidak akan membenci Ari-chan sampai seperti ini. Shin-chan juga tidak perlu merasa menderita begini." Keluh Yukiko lirih hingga nyaris tidak terdengar. Namun Ran masih bisa mendengar jelas ucapannya.
Ari-chan? Dare ka?
"Ngg anu, siapa Ari-chan yang Yukiko-san maksud?"
Yukiko menatap Ran dalam. Sepertinya tidak ada salahnya memberitahu Ran perihal luka batin Shinichi yang membuat Shinichi jadi sedingin es. Tentang sebuah Kasus yang tanggal kadaluarsanya tinggal satu bulan lagi sejak hari itu. Kasus yang melibatkan putri kesayangannya. "Begini, sebenarnya Shin-chan punya seorang Onee-san. Namanya Arisa-chan. Mereka hanya selisih 2 tahun saja dan mereka juga punya kesukaan dan hobi juga sifat yang bertolak belakang. Meski begitu, mereka tetap saling menyayangi satu sama lain. Sampai 4 tahun lalu, Shin-chan harus terpaksa memutuskan hubungannya begitu saja dengan Ari-chan."
"A, apa yang terjadi saat itu?"
"Seminggu sebelumnya, berturut-turut terus saja terjadi kasus pembakaran dari Kota Haido, Okuho sampai kemudian sampai di Beika. Saat itu entah bagaimana saat aku dan Shin-chan pergi ke daerah Kyoto, aku mendapat kabar kalau rumah kami terbakar hebat. Saat itu Yusaku terluka parah dan menjadi korban dalam kejadian itu. Tapi saat itu, Arisa-chan tidak ada di rumah. Dia menghilang entah kemana. Begitu diselidiki, ternyata dialah pelaku dari kasus pembakaran beruntun itu. Polisi menemukan bukti berupa sebuah rekaman video di ponsel milik Arisa-chan."
"Rekaman Video? Apa saat itu Arisa nee-san membuat rekaman video itu sebelum dia pergi? Lalu untuk apa dia melakukan itu?"
"Soal itu-"
"Dia membuat Rekaman itu agar semua orang tahu siapa dalang dibalik kasus itu."
Ran dan Yukiko tersentak seketika. Mendengar suara dingin yang terasa sendu itu, mereka sudah tahu jelas siapa yang menyelutuk tadi. Mereka berbalik dan menatap Shinichi yang balas menatap mereka, dengan sebuah ponsel berwarna silver yang diberi case plastik berwarna biru keunguan. Itu adalah ponsel milik Arisa.
Shinichi lalu mendekati mereka dan mengotak-atik ponselnya sejenak. Dia lalu menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan video seorang gadis cantik berambut ikal kecoklatan yang tersenyum sinis dengan latar belakang rumah Kudo yang terbakar hebat.
"Oyasuminasai minna! Lihat, ini adalah rumah terakhir yang kubakar untuk tahun ini. Aku akan hiatus sebentar sampai 4 tahun lagi untuk persiapan aksiku selanjutnya. Bagaimana? Hasil karyaku yang bercahaya ini indah kan? Tentu saja karena ada darah dan jeritan yang ikut mewarnai semua karyaku ini, hahahaha!"
Ran meneguk ludahnya susah payah. Tentu saja karena si gadis saat itu baru 15 tahun dan sudah berani berbuat kriminal, bahkan dirumahnya sendiri dan pada keluarganya sendiri. Benar-benar gadis psikopat sejati bagi Ran.
"Oh iya, gomenasai untuk Okaa-chan dan Shinichi karena aku telah membakar rumah kita bersama dengan Otou-chan didalamnya. Mau bagaimana lagi? Tidak ada tempat yang lebih baik dari ini sih. Dan untuk Adikku tersayang, jangan khawatir karena aku tidak akan mengikutsertakan kamu dalam karyaku nanti. Aku harap kamu bisa menghentikkan aksiku, kalau kamu bisa. Catch me if you can, okay? Bye bye all!"
Video itu berakhir, bersamaan dengan Shinichi yang tiba-tiba membanting ponsel tak bersalah itu hingga casenya berpisah dari body ponsel itu. Ya Shinichi tak mungkin membantingnya lebih keras lagi hingga membuat ponsel itu hancur karena itu adalah benda yang menjadi petunjuk dari kasus itu walaupun dia sangat ingin melakukannnya.
Ran memandang Shinichi penuh arti. Dia memang tidak punya Kakak, tapi entah kenapa dia bisa merasakan perasaan sakit yang teramat sangat dalam batin Shinichi. Sedangkan Yukiko justru mendekati Shinichi dan mengambil ponsel beserta casenya itu, memasangnya kembali dan menyalakannya.
"Shin-chan, Ari-chan punya penjelasan untuk melakukan semua itu. Sebenarnya Ari-chan melakukan semua itu untuk-"
"Apapun alasannya, tidak seharusnya Onee-san melakukan semua itu!" seru Shinichi lantang. Dia mengepalkan kuat-kuat tangannya untuk menahan amarahnya dan mulai melanjutkan kata-katanya. "Yang dilakukan Onee-san itu keterlaluan! Dia menyakiti semua orang yang tak bersalah, membakar rumah, dan bahkan berani menyakiti keluarga ini dengan membakar rumah dan melukai Otou-san! Sudah jelas kalau Onee-san melakukan semua itu hanya untuk senang-senang kan?! Dia memang gadis psikopat yang sudah hilang akal!"
Kali ini, Shinichi langsung melesat keluar rumah. Dia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja dan langsung pergi menghampiri motornya dan langsung melesatkan motornya, membelah jalan dan menghilang di tengah kegelapan malam. Yukiko pun tidak bisa melakukan apapun selain terdiam sembari terisak pilu. Benar-benar sudah terlambat untuk memberikan penjelasan pada Shinichi tentang kepsikopatan Onee-san nya yang beralasan kuat. Tapi begitu Ran terus berusaha menghibur seraya menggenggam pelan kedua punggung tangan Yukiko yang terasa dingin, Yukiko merasa Ran adalah harapan satu-satunya untuk meredakan masalah yang sudah menjadi luka batin Shinichi.
"Ran-chan, aku akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya padamu. Tolong kamu katakan ini pada Shin-chan, ya. Aku mengandalkanmu, Ran-chan." Ujar Yukiko lirih.
"Eh? Kenapa harus aku yang melakukannya?" tanya Ran heran.
"Sudahlah. Pokoknya kamu dengarkan baik-baik penjelasanku."
Sudah sejam Ran berlari mencari keberadaan Shinichi ditengah udara malam yang dingin menusuk yang menandakan hujan akan segera turun. Benar-benar tidak ada harapan untuk mencari Shinichi membabi buta di tengah Kota kalau tidak tahu persis tempat favorite Shinichi. Tapi Ran beruntung karena dia menemukan motor Shinichi yang ada di dekat taman tua di daerah Okuho, jarak yang terpaksa Ran tempuh setelah mengingat bagaimana sedihnya ibunya Shinichi tadi.
Ran masuk ke taman tua itu, melewati ranting-ranting dan semak-semak yang tumbuh liar disana. Awalnya Ran berpikir kalau taman tua itu benar-benar taman tua yang sudah sangat parah keadaannya. Tapi dia langsung memandang takjub begitu melihat pemandangan dibalik pepohonan rimbun yang dedaunannya menutupi pandangannya didepannya. Dia menyingkap dedaunan itu dan langsung bengong saking takjubnya melihat pemandangan hijau dengan bunga-bungaan mawar biru dan putih yang tumbuh subur nan indah disana. Jangan lupa juga dengan danau kecil tenang yang memantulkan sinar rembulan beserta kunang-kunang yang berterbangan di sekitar semak belukar.
Pandangannya tiba-tiba jatuh pada sosok cowok yang duduk tenang di atas rerumputan dan memandang sayu danau kecil itu. Ran menghampiri cowok itu dan menapuk pelan pundaknya. "Shinichi-kun?" panggil Ran lirih.
Shinichi terperanjat. Dia menoleh menatap Ran yang balas menatapnya penuh arti. "Ba, bagaimana kau bisa berada disini?"
"Aku mencarimu tadi. Kau tahu, benar-benar sulit sekali mencarimu. Beruntung saja aku menemukan motormu dan langsung saja kesini. Tak kusangka kau tahu tempat yang indah seperti ini."
Shinichi terkekeh pelan. "Lalu, untuk apa kau mencariku?"
"Pesan dari Yukiko-san. Dia belum memberimu penjelasan tentang Arisa nee-san. Sebenarnya ada alasan kenapa dia melakukan itu. Dia melakukannya karena-"
"Aku tidak mau dengar apa-apa tentangnya."
"Dengarkan aku dulu, baka! Dia melakukannya karena Miyano-san."
Shinichi tersentak dan langsung mendelik tajam ke arah Ran. "Apa maksudmu?"
"Sebenarnya Arisa nee-san sudah sejak dulu menderita masalah psikologis alias psikopat itu. Saat kau masih SMP ada anak-anak jahil yang sengaja membuat tanganmu terbakar kan? Saat itu Arisa nee-san marah sekali sehingga dia berniat untuk membuat keluarga anak-anak itu menderita dengan cara yang lebih kejam lagi, yaitu dengan membakar rumah mereka. Dia juga lebih marah lagi karena orang tuamu sama sekali tidak begitu memedulikan masalah itu karena itu masalah sepele. Tapi tidak bagi Arisa nee-san, makanya dia melakukannya."
"Lalu apa hubungannya dengan Shiho-san?"
"Miyano-san adalah orang yang meminta anak-anak jahil itu untuk membuatmu seperti itu karena dia sangat marah padamu karena sesuatu, entah apa itu."
"Nani?! Jadi Shiho-san yang meminta orang-orang itu untuk menyakitiku hanya karena masalah sesepele 'itu'?!"
Ran mengangguk. "Aku nggak tahu apa masalah kalian, tapi itulah duduk perkara yang sebenarnya. Lalu bagaimana? Apa kau tetap akan membenci Onee-san mu itu, setelah mendengarkan penjelasanku ini?"
Shinichi terdiam, dia menggeleng lemah. "Entahlah, aku belum tahu harus membencinya atau tetap menganggapnya sebagai Onee-san ku. Tapi kurasa aku tetap saja akan membencinya."
"jadi, kau akan menjawab seperti itu kalau dia bertanya padamu?"
"Haahh?"
"Terkadang perempuan butuh penjelasan kenapa dirinya dibenci. Jadi kupikir Onee-san mu butuh alasan juga untuk masalah ini. Tapi kalau aku jadi kau, aku mungkin akan memaafkannya."
Ran menerawang jauh danau yang tebentang indah dihadapannya dia mengepalkan tangannya dan bicara dengan tegas. "Dia Onee-san ku, jadi aku tidak mungkin membencinya. Dia sayang padaku, karena itu aku juga akan tetap sayang padanya. Apapun yang terjadi, kami tetap saudara kandung. Tak peduli dengan apapun kata orang, aku tetap akan menghargainya sebagai Onee-san ku walaupun dia berbuat kesalahan sebesar lautan."
Shinichi memandang Ran takjub. Baru kali ini dia mendengar sang Onihime bisa mengucapkan kata seperti seorang wanita dewasa yang bijak. Melihat kedua manik mata Ran yang teduh dan juga mencerna ucapan Ran yang penuh arti itu, Shinichi tersenyum simpul dan mendesah lega.
"Begitu ya? Tetap menyayanginya meskipun dia berbuat kesalahan sebesar itu. Kurasa kau ada benarnya."
Tiba-tiba Shinichi bangkit, membuat Ran mendongak dan heran melihat Shinichi mengulurkan tangannya untuk Ran. "Cepat berdiri dan kita pulang sekarang. Aku yang akan kena kalau sampai terjadi sesuatu denganmu kalau kita berlama-lama disini." Kata Shinichi, sembari tersenyum cerah.
Ran balas tersenyum manis. Dia membalas uluran tangan Shinichi dan bangkit berdiri. "Arigatou."
Shinichi mengangguk. Dia menarik tangan Ran dan langsung berlari meninggalkan taman tua itu. "Ayo cepat! Sudah jam 9 malam nih!"
"Uwaaa! pelan-pelan larinya, Baka!" pekik Ran setengah kesal.
Shinichi melirik Ran seraya tersenyum usil, lalu kembali fokus dengan jalan setapak didepannya. Sekejap, hati Ran serasa menghangat. Baru kali ini dia melihat senyum Shinichi.
'Ma, manis sekali.'
TBC
Aaaahhh! Akhirnya kelar juga! Baru kali ini saya buat FF dengan panjang 2k begini! Arigatou bagi readers yang sudah menunggu dengan setia untuk FF satu ini. Gomenasai bagi penggemar Shiho karena disini dia kubuat agak 'pendendam'. Hontouni gomenasai!
(Sekedar informasi, mungkin FF 'FALLING BUTTERFLY' akan hiatus untuk beberapa saat dikarenakan author sibuk untuk persiapan Ujian Praktek dan kesusahan untuk mencari inspirasi untuk kelanjutannya. Gomenasai minna-san!)
Baiklah, sampai ketemu di chapter berikutnya! Jaa na~
