Konnichiwa! akhirnya Author bisa up ini FF setelah sekian lama! #deritaanaksmpmaululus# gomenasai karena kalian sudah menunggu FF ini untuk waktu yang lama gara-gara Author yang keranjingan belajar untuk Ujian, hiks. sekilas info, FF ini akan tamat 2-3 chapter lagi, kenapa? karena Auhtor harus fokus UNBK dulu, setelah dapat SMA idaman Author bakal buat sequel cerita ini, jadi gomenasai jika ending cerita ini kurang memuaskan, hiks. ada yang minat dengan sequelnya? tunggu aja, hehe
HAPPY READING!
CHAPTER 6 : Dukungan
Berbulan-bulan setelahnya, sebuah legenda yang paling ditakuti seisi SMA Teitan akhirnya tiba juga. setelah seisi kelas 2-B cengo dengan Shinichi Ran yang tiba-tiba jadi sangat akrab, mereka harus kembali jawsdrop untuk sebuah persiapan. CAMP PELAJARAN MUSIM PANAS TEITAN GAKUEN. memang benar itu hanya sekedar kamp pelajaran selama empat hari disebuah villa ditengah hutan biasa. tapi yang menakutkan adalah bagaimana perlakuan pembimbing, tempat dan pembelajarannya. konon tempat itu bekas tempat penyiksaan pada zaman Oda Nobunaga, pembimbing yang dikenal merupakan saudara kembar yang terlihat menyeramkan, dan pembelajarannya yang dipastikan membuat banyak siswa dikirim ke rumah sakit setelah Kamp. sungguh jangan anggap itu hanya sekedar legenda kosong karena kakak kelas semuanya sudah membuktikan.
seperti sekarang, dengan perasaan campur aduk mereka tertatih-tatih naik gunung untuk mendatangi villa. ada yang memberi pesan terakhir untuk keluarga, ada yang terus merapalkan mantra mengusir kesialan, ada yang sampai nyaris kehilangan jiwa dan ada yang bahkan sampai berkali-kali pingsan saking takutnya. tapi tentu semua itu tidak berlaku bagi Shinichi dan Ran. kedua remaja itu justru santai menanggapi masalah itu.
"Akhirnya kamp juga! aku sudah bosan dengan tetap berada di rumah selama musim panas!" seru Ran riang, diantara suasana yang tegang itu.
"Hei, Ran -chan! kenapa kau bisa bicara begitu?! ini bukan kamp dimana kau bisa main sesukamu!" gerutu Suzuki Sonoko setengah kesal setengah cengo. "Lagipula, Kamp ini terkenal dengan keangkerannya lho! apa kau sama sekali tak takut?"
Ran mengedikkan bahu dengan wajah tanpa dosa. "Biasa saja, tuh."
'Oh Tuhan, sebenarnya Engkau buat dari apa ciptaanmu yang satu ini?' batin Sonoko syok nan sweatdrop. "Terserah apa katamu. tapi jangan salahkan aku jika kau akan koma di rumah sakit Ran -chan."
"Sudahlah Suzuki -san, kau berlebihan! mana ada orang yang sampai segitunya cuma gara-gara Kamp kan?" Shinichi ikut bicara, memberi tatapan datar pada Sonoko. segera setelahnya ia memberi senyum manis yang agak 'sadis'. "Yah, kalaupun ada orang yang begitu sedari awal dia tidak pantas disebut sebagai 'Siswa SMA' kan?"
"Shinichi -san, ucapanmu itu terlalu menusuk sekali..." celetuk Eisuke cengo.
"Mau bagaimana lagi? remaja tanggung itu memang dilahirkan dalam kulkas, makanya dia sanggup bicara begitu." tambah Shiho, seraya melirik meremehkan ke arah Shinichi.
"Bukannya itu justru lebih cocok untukmu ya?"
"Sudahlah. Wah, itu dia tempatnya!"
DOOOONGGG
Hening seketika melanda seluruh siswa kelas 2 disana. melihat villanya saja sudah membuat mereka merinding, apalagi isinya? gedung tua bergaya barat kuno yang agak lusuh dibagian luar dan berdekatan dengan danau yang konon punya sejarah mengerikan disana. di tambah ada pemakaman tua dan desa yang telah terlantar yang hanya tinggal berjalan sepuluh menit ke barat, sukses membuat sebagian siswa disana ketakutan dalam hati.
"Serius? ini tempat Kampnya?"
"Aku sudah dengar tentangnya. ternyata memang bukan sekedar bualan."
"Pasti kita bisa melihat setan disini."
"Uwaaa, jangan sampai itu terjadi!"
begitulah omongan para siswa yang mengalir disana. sementara dengan tenang dan santainya Ran dan Shinichi kompak menatap seluruh sudut villa tempat kamp mereka.
'Benar-benar tempat yang tepat untuk uji nyali.' batin mereka kompak.
"Nah, semuanya!" Wali kelas 2-A, Shirakawa Azuki, menepuk-nepuk kedua tangannya meminta pehatian seluruh siswa yang asik dengan dunia mereka. "Seperti yang kalian tahu, selama disini kita akan melakukan pembelajaran selama 4 hari, jadi selama itu mohon agar kalian aling membantu dan jangan melakukan sesuatu yang dilarang sebagaimana yang ada dalam tata tertib sekolah. jadi semoga berhasil dan selamat menikmati!"
'selamat menikmati apanya!' batin seluruh siswa kompak, minus ShinRan.
KRIIEEETTTT
Pintu villa terbuka, memperlihatkan dua wanita kembar dengan penampilan serba putih menyeramkan dengan rambut panjang kehitaman yang tergerai bebas. "Konnichiwa, semuanya..." sapa mereka bersamaan.
"UWAAA!/KYAAA!" Begitulah kia-kira jeritan mereka.
"Selamat datang siswa-siswi kelas 2 SMA Teitan, saya Sachiko dan adik saya Michiko akan menjadi pembimbing kalian selama 4 hari ke depan." sambut wanita -yang dilansir adalah Sachiko - yang sukses menimbulkan suasana ngeri disana.
"Kami sebisa mungkin akan mengurus kalian dengan baik. semoga tidak ada kemalangan atau jumlah kalian yang bertambah atau bekurang atau peristiwa mistis yang dapat mengganggu pembelajaran ke depannya." ganti Michiko yang memberi sambutan dengan gaya 'angker'nya.
SIIIINGGGG
Tidak ada yang merespon.
"Hanya satu peringatan kami. seperti yang kalian lihat, ada danau, pemakaman tua dan desa yang telah lama ditinggalkan di dekat sini. tidak ada yang boleh mendekati area-area itu, karena akan menyebabkan kemalangan bagi kalian. kalian yang tidak sayang nyawa bisa datang kesana jika kalian mau, tentu kalian harus melanggar aturan dulu baru akan kami usir kesana."
"Ngg, a, arigatou gozaimasu atas peringatannya dan sambutannya. jadi anak-anak, kalian bisa masuk ke dalam. INGAT, bagi yang berani melanggar aturan akan mendapat hukuman, mengerti?! Nah mulai dari sekarang, KAMP DIMULAI!"
"Benar-benar deh, Kamp ini sangat menyiksa sekali, huhuhuu..." Keluh Sonoko, sembari menyuapkan sesendok kare ke dalam mulutnya.
"Sudahlah Suzuki -san jalani saja Kamp ini. kalau Ran -san yang juga perempuan bisa, kau juga pasti bisa." sahut Eisuke menyemangati.
"Ran -chan sih lain lagi! dia itu tipe orang yang tidak punya rasa takut!"
"Sama saja dengan teman serumahnya." tambah Shiho.
"Tolong jangan buat perkara hari ini, aku sedang tidak mood sekarang." peringat Shinichi, lalu menyuapkan makanannya ke mulut dengan wajah datar
"Hahaha, tumben sekali. ada apa denganmu hari ini, Tuan Maniak Analisis?" sindir Ran, memberi pandangan remeh.
"Kau juga jangan ikut-ikutan, Baka!"
"Hei! siapa tadi yang sebut Baka, hahh?!"
pertengkaran pun berlanjut, membuat gaduh seisi kantin Villa. ada yang memanas-manasi, ada juga yang berusaha meredakan. tanpa tahu ada 4 orang gadis yang memandang tak suka pada Ran.
"Lihat dia, sok sekali! mentang-mentang tinggal serumah dengan Kudo -kun, dia bisa seenaknya seperti itu. Menjijikkan."
"Benar! dia benar-benar menyebalkan sekali! gadis tomboi aneh itu harusnya kita beri pelajaran!"
"Ide bagus! kita beri saja pelajaran padanya!"
"bagaimana caranya?"
"Dengar, begini rencananya,"
Oh iya, Author mau kasih pengumuman, FALLING BUTTERFLY akan tamat 2 chapter lagi, gomenasai karena dua FF ini harus tamat dengan cara yang -tidak elit- huhuhuu...
Itu saja, JAA NA~
