Mengenalmu Dengan Perbedaan
Story by: RedPapillon
.
.
.
[ CHAPTER 2 ]
Happy Reading!
Hai guys, maaaf bgt ini latereplay aduhh-_-
aku baru banget ada inspirasi maaf yaa ini dia CHAPTER KE DUA
yang kalian nantikan wkwk maaf disini aga random-_- dan..
aga pendek hehe. but i swear, chapter kedua ini ga kalah semenarik
dengan chapter 1 nya tenang ajaa, disini aku bakalan bawa
kalian kedunia yang membuat kalian tersenyum Happy Reading!
.
.
.
Pria berambut hitam dengan satu mata terturup benda kasar ini mengeratkan mantelnya. Musim dingin masih sangat menjalar dikota Tokyo. Bodohnya, pria ini tidak pernah menggunakan sarung tangan untuk melindungi tangannya dari hawa dingin ini. Ia menggosok kencang kedua tangannya, sesekali mengeluarkan embun yang keluar dari mulutnya.
Ia memasukan kedua tangannya di kedua kantung mantel. Dingin sekali. Benaknya sambil menatap langit kota Tokyo. Kota ini adalah kota yang membuatnya nyaman, dan juga menjadi kota dimana umat manusia merasa ketakutan. Rize, Seandainya kau tidak membuat cacat mata pemuda yang begitu polos dan dungu ini.
"Ohayou" katanya begitu ia memasuki sebuah kafe yang mempunyai ciri khas beraroma kopi kenikmatan itu.
"Ah! Kaneki-kun" sapa gadis berambut cokelat kehitaman, Irimi.
Kaneki hanya tersenyum menanggapinya, kemudian matanya beralih—mencari sosok yang ia cari. Kemana gadis itu? Sebelah alisnya terangkat, mencari sosok yang ia cari tidak dijumpanya.
"Kemana Touka-chan?"
"hm? Kau mencari Touka-chan,huh?"
"A-ah tidak,hanya bertanya. Tumben sekali ia tidak ter—"
"Ohayou."
Mata hitam itu beralih kebelakang Irimi, menatap gadis berambut biru keungu-an yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Kau mencari ku,huh?"
Senyuman mengembang dikedua pipinya begitu melihat gadis itu. Dengan gigih, ia mengangguk. Benar, memang benar Kaneki mencarinya. Mencari gadis itu. Entahlah, sepertinya memang Kaneki ingin sekali rasanya berada didekat gadis itu. Ingin lebih dekat dan ingin lebih jauh mengenalnya. Mengenal gadis berwajah datar itu.
"Jadi, kenapa kau mencari ku?"
"Bi-bisakah kau menemaniku mencari buku di toko buku kemarin?"
"ha? Buku lagi? Kau benar benar gila ya? Baru kemarin kau membeli sebuah buku dank au menginginkannya—lagi?" gadis berambut biru keungu-an itu menatapnya kesal.
"Aku bosan, sudah ku selesaikan buku itu kemarin. J-jadi… kau mau menemaniku?"
Gadis itu tidak langsung menjawabnya, yang ia lakukan hanya menatap Irimi
"Oh, ayolah Touka! Katakan saja ya, dan kaupergi dengannya. Selesai bukan?"
Touka menghela nafasnya disertai anggukkan kecil
"Baiklah, tapi tunggu sebentar aku akan mengambil mantel dan sarung tangan ku"
"B-baik" senyuman mengembang di kedua pipi pemuda itu.
"Kau menyukainya?"
"A-apa?"
"Kau menyukainya, dan itu jelas"
"A-apa maksudmu Irimi-san?"
"tidak usah basa basi dan itu sudah jelas."
"yare yare.. Kaneki-kun menyukai Touka-chan?"
"T-tidak! Aku.. aku tidak menyukainya"
"Kalau begitu kau mencintainya huh?"
"Kau frontal sekali, bodoh! Lihatlah apa yang kau buat! Kau lita rona merah itu koma? Ahhh, lucu sekalii"
"K-kalian berhentilah!" Kaneki menutup rona merah yang memancar diwajahnya dengan lengan kirinya.
"Aku sudah siap" Touka berjalan menuju pintu keluar café itu.
"Pst, kaneki ken!"
Suara itu menghentikan langkahnya, dan membuatnya berbalik
"SUKSES!" acung-an kedua ibu jari dari kedua makluk teraneh itu
Kaneki hanya menggelengkan kepalanya, dan berjalan kembali menuju Touka
"Jadi, buku apa yang akan kau beli?"
"Ka…"
"Kanji, ya aku tau itu haha" Touka sedikit terkekeh, kemudian tersenyum tipis.
Hal itu membuat dahi Kaneki mengernyit, bingung. Pertama, yang ia gambarkan tentang Touka adalah gadis cantik berwajah datar. Tapi ternyata, perkiraannya salah. Touka bisa juga tersenyum, dan dijamin siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
"Kaneki? Kau tidak mau masuk?"
"e-eh? Tentu saja mau"
Keduanya memasuki toko buku itu, sesekali mondar mandir mencari sebuah buku. Touka mendapatkan sebuah buku, buku yang membuat wajahnya sedikit memanas setelah membaca synopsis novel yang ia pegang. Hal itu membuatnya teringat dengan Kaneki.
"Ohayou nona, wow! Pilihan yang sangat tepat untuk memberikan buku itu kepada kekasih mu."
"T-tunggu, apa? Kekasih? Yang benar saja!"
"Benarkah? Sepertinya laki-laki berbalut kanvas itu adalah pacarmu, kau bisa memberinya jika kau mau. Menghadiahkan sebuah buku itu jarang sekali dilakukan, dan bukan kah buku yang kau pegang sangat manis?"
Touka melihat buku yang ia pegang,sesekali melirik Kaneki dan kembali menatap buku itu. Ia ragu, tapi ada rasa tersendiri yang menyemangati dia untuk memberikan sebuah buku itu untuk Kaneki. Lagi pula, ia juga bosan melihat buku yang kaneki baca mengenai bermacam buku tentang kanji. Ia harus menunjukan buku ini, agar Kaneki tau betapa pentingya sebuah bacaan tanpa membuat otak mu meledak.
Ugh, ayolah. Apa harus sekarang? gumamnya. Rona merah memancar, membuat ia memedamkan wajahnya dibalik mantel.
"Aku akan menggratiskannya untuk mu, dan kebetulan buku ini tinggal yang terakhir"
"benarkah?"
"tentu"
Touka menyeringai, sesekali membungkuk untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya. Kemudian ia berlari menuju kaneki. Menghampiri pria itu dan membuatnya terkejut.
"Sudah kau dapatkan buku yang kau cari, Touka-chan?"
Touka mengangguk singkat, matanya beralih ketangan sang pemuda itu. Gila, ia sama sekali tidak pernah menggunakan sarung tangan untuk menyelimuti tangannya, padahal di Tokyo sangat dingin belakangan ini.
"Kenapa kau tidak pernah menggunakan sarung tangan untuk menyelimuti tangan mu yang memucat itu, huh? Baka" yang ia tatap hanya terkekeh pelan, dan menggeleng singkat
"Aku tidak menyukainya. Lagi pula, aku suka musim dingin di Tokyo. Jadi aku membiarkan tubuhku untuk terbiasa dengan suhunya."
"begitukah? Kau tidak kedinginan?"
"tentu dingin, tapi aku sudah terbiasa dan aku menyukainya. Kau harus mencobanya Touka-chan! Suhu dingin itu sangat menakjubkan!"
"hm, aku tidak yakin.."
"Tenang saja, kau tidak akan sakit setelah kau tau sensasi menakjubkannya. Setelah dari sini, kau harus ikut aku Touka-chan. Bersama, kita akan merasakan suhu dingin yang menakjubkan di kota Tokyo"
Kaneki PoV
Aku benar benar tidak menyangka bahwa aku akan mengucapkan sedemikian kata-kata yang membuat ku ragu, dan membuat jantungku berdegup. Untung saja, gadis berambut biru keungu-an ini berhasil membuat jantungku berhenti berdegup dengan jawaban yang ingin aku dengar, yaa walaupun ia hanya mengangguk singkat.
Entah kenapa, rasanya aku ingin mengenalnya lebih jauh.
menjadi satu-satunya orang yang berada disampingnya
dan menjadi satu-satunya orang yang bisa bersamanya
Tunggu, apa ku bilang? Tidak. Ah sudahlah, abaikan saja. Pembicaraan ini hanya membuat pipiku memanas.
"Jadi Kaneki, kita akan kemana?"
Aku tersenyum "Kau akan tau nanti nee, Touka-chan"
Senyumku mengembang begitu melihat wajahnya cemberut tidak sabar, menandakan bahwa ia tidak bisa menahan untuk menunggu lebih lama lagi. Kemudian, aku menarik tangan kanannya yang terbalut sarung tangan itu. Membawanya berlari kecil menyusuri trotoar yang sedang kami lewati.
"Touka-chan?" Aku melihatnya sedikit mendongak untuk menatapku.
"Percepatlah langkahmu, jika kau ingin tau tempat apa yang akan aku tunjukkan kepadamu" aku menatapnya lembut, dan tersenyum
Jangan Tanya kenapa, tapi aku memang seperti ini. Selalu tersenyum kepada semua orang walaupun orang itu memiliki ekspresi wajah seperti Touka-chan.
Kami sampai disebuah tempat yang kami tuju. Kami berada disebuah danau, jaraknya dua blok dari kedai Anteiku. Danau itu adalah kesukaan ku. Disini cukup ramai, karena orang-orang sedang asik bermain ice skate. Aku merasakan sebuah geseran disampingku, aku menatap Touka dan benar,ia bergerak mundur selangkah dari sampingku
"Ada apa ne, Touka-chan?" gadis itu menggeleng cepat. Bisa aku jamin, ia pasti takut.
"Tunggu sebentarlah disini ne, Touka-chan" Aku menghampiri tempat penyewaan sepatu seluncur es dan menyewa 2 sepatu, kemudian aku kembali menghampiri gadis berambut biru keunguan itu yang sudah pasti adalah Touka-chan.
"Ini, pakailah. Seperti ini" Aku mengajarinya, dan dia menuruti
Setelah sepasang sepatu itu terpakai olehnya, aku menarik tangan kirinya, dan menuntunnya ketengah danau.
"T-Tunggu, aku.. aku tidak bisa.."
"Tenanglah, aku disini akan membantu mu. Biar aku yang akan mengajarkannya untukmu. Oh ya, Touka-chan?" kedua bola mata itu menatapku dengan penuh harap, dan sedikit pandangan bertanya tentunya
"Berjanjilah untuk tidak melepaskan tanganmu dari ku" lanjutku
Dengan sorak sorak penduduk kota, dengan ditemani lantunan music klasik oleh beberapa pemain orchestra didanau ini, kami bermain ice skate bersama. Dia ragu, tapi kakinya bergerak dengan gemulai mengikuti permainan ku.
"K-kaneki.. aku tak.."
"Tenang saja, tidak lama lagi kau akan merakasan sensasinya Touka-chan" Aku berusaha menenangkannya dengan senyuman ku.
Tanganku menggenggamnya dengan erat, perlahan tangan ku bergerak menuju pinggang kecil itu, mengeratkannya agar ia tidak terjatuh, menjaganya agar tetap aman berada dalam genggaman ku
"Sekarang ikutilah gerakan ku"
Alunan music dari para pemain orchestra itu terdengar, semua orang yang berada disini membentuk sebuah barisan. Memutar dan menjadikan kami sebagai sentralnya.
Aku menatap kedua mata itu, aku tau ia masih merasa ragu. Tapi kali ini dia berhasil, berhasil mendapatkan sebuah sensasi dan dapat mengendalikan semua gerakan permainanku.
Kini, orang orang menatap kami. Dengan beberapa pasangan yang menyenderkan kepala dibahu pasangannya sambil menatap kami. Semua orang terkagum dengan gerakan kami. Aku tersenyum, mendekatkan diriku lebih dekat lagi dengannya, dan mendekapnya erat sambil menyesuaikan tarian diatas es dengan lantunan music.
Aku bisa merasakan bahwa jantungku telah berdegup dengan kencang, entahlah tapi aku juga bisa merasakan hal yang sama dalam diri Touka. Gadis ini… jantungnya.. benar benar berdegup dengan kencang. Aku dapat menatap kedua pipi mulusnya, rona merah terpampang jelas diwajah itu. Dengan sentuhan kecil, aku mengelusnya. Mengelus pipi halus nan mulus itu.
Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang menggelitik perutku. Rasanya aku ingin berteriak, dan rasanya aku ingin memeluknya lebih lama lagi. Mungkinkah.. apa benar jika.. jika aku jatuh cinta? Atau kau adalah orang yang tepat untuk membuatku jatuh cinta? Tepuk tangan dari para penonton terdengar begitu gerakan kami dan musiknya berhenti.
Sedikit demi sedikit, semua orang pergi dan ada beberapa orang yang tetap bermain ice skate. Aku menatap gadis disampingku, dan tersenyum. Ia tersenyum kepadaku, dan tepat dugaan ku! Rona merah dipipinya masih terpancar.
"Bagaimana? Kau bisa bukan, Touka-chan?"
Gadis itu mengangguk, aku tersenyum melihat jawabannya
"Kaneki…" ia menunduk
"Ada ap—" aku tercengang, dengan satu gerakan cepat yang ia lakukan kepadaku. Aku merasa wajahku memanas, dan aku yakin wajahnya pun juga begitu. Dia, Touka Kirishima. Telah merebut ciuman pertamaku.
"T-terimakasih untuk hari ini, dan semua pengalaman ini" ia tersenyum. Baru kali ini, aku melihatnya tersenyum lebar seperti itu.
Aku merasa berada disampingnya membuatku nyaman, berada disampingnya benar benar membuatku bahagia, berada disampingnya benar benar membuatku semakin yakin bahwa aku mencintainya, setulus hatiku.
.
.
.
To be continued
Komen ya jangan lupaaa! :D
