Inspired by Aiesu © Chiyo Rokuhana
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I.S [Inter Sexual]
Vanille Yacchan, Eun bling-bling, and nyan-himeko
.
.
Warning (Gender bender, OOC, OC, AU, Typo and Mistypo)
DLDR!
Bagian Kedua
PERMULAAN
Setiap aku bertanya pada kaa-sanku.
"Kenapa tubuhku begitu aneh?"
Ia selalu diam.
Dan hanya tersenyum ke arahku.
Aku sangat yakin dalam senyuman itu—
terselip rasa kesedihan.
...
...
"Kau akan tahu seiring berjalannya waktu nak."
.
.
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menguap lebar sembari merentangkan kedua tangannya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi malam saat ia berhasil melumpuhkan laki-laki tua brengsek itu yang membuatnya kehilangan pekerjaan. Gadis itu terkekeh sebentar, tersirat rasa bangga di wajahnya walau ia tak menerima ucapan terima kasih.
Ia bangkit dari tidurnya, merapikan tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi. Baginya seberat apapun masalah yang ia hadapi kemarin, tidak akan membuatnya berhenti untuk bertahan hidup. Kemarin adalah masa lalu dan besok adalah masa depan. Yang terpenting adalah bagaimana menjalani hidup saat ini, karena apa yang dilakukan hari ini, saat ini dan detik ini akan menentukan bagaimana masa depan kelak. Percuma kalau hanya memikirkan kejadian yang sudah berlalu karena sekeras apapun kita pikirkan hal tersebut tidak akan berubah.
Sakura memposisikan dirinya senyaman mungkin. Ia dengan sabar menunggu bus yang akan mengantarkannya ke tempat dimana ia akan menimba ilmu. Ia memainkan layar smartphonenya, mencari lagu yang pas untuk ia senandungkan hari ini. Dan pilihannya berhenti pada sebuah lagu berirama beat milik Perfume. Lagu itu mampu membuat bibir mungilnya menggumam dan kakinya menghentak-hentak pelan sesuai ritme lagu tersebut.
Terlalu asyik dengan lagu yang ia dengar hingga ia tak menyadari seseorang tengah duduk di sebelahnya.
"Sakura!" si pemuda menepuk pundak gadis itu.
"Eh?" Sakura menoleh, mendapati seorang pemuda yang sangat ia kenal tengah tersenyum kepadanya.
"Me-Menma-kun!" Ia segera melepas headset yang menempel pada kedua daun telinganya.
"Ohayou!" ucap Menma tak lepas dari senyum manis yang mampu membuat semua gadis jatuh cinta padanya tak terkecuali Sakura.
"O-ohayou," balas Sakura agak kikuk, segan akan perlakuannya dengan tiket Menma yang berakhir di tempat sampah itu.
"Menunggu bus?" tanya Menma basa basi. Bukankah sudah jelas? Mereka sekarang sedang berada di halte bus. Jika bukan bus apalagi yang mereka tunggu?
"Ya," sahut Sakura seraya mengangguk. Dan setelah itu keheningan melanda keduanya.
Menma sibuk berkutat dengan pikirannya, sedangkan Sakura entah apa yang gadis itu lakukan dengan ponselnya. Hingga pada akhirnya apa yang mereka tunggu datang, apalagi kalau bukan bus. Melihat bus yang mereka tunggu berhenti di depan mereka, keduanya bernafas lega bersamaan, tanpa mereka sadari.
"Bus datang! Sebaiknya kita cepat naik!" ucap Menma seraya berdiri.
Sakura menganggukan kepalanya dan mengekori Uzumaki Menma yang telah naik terlebih dahulu.
Sesampainya di dalam bus, mereka memilih untuk duduk berjauhan. Dan situasi ini membuat Sakura semakin tak nyaman. Entah mengapa ia merasa sesuatu yang buruk akan menimpa hubungannya dengan Menma, semoga saja pikirannya salah.
.
.
Angin menghempaskan pelan helai-helai rambut halusnya. Matanya terpejam, merasakan angin musim semi dan aroma bunga yang menenangkan hati. Kicauan burung yang terdengar bagai orkestra indah mengalun untuknya.
Ia menatap lautan bunga di depannya dengan berbagai warna bak pelangi. Tak heran jika taman belakang sekolahnya ini memakan banyak biaya untuk mengurusnya. Seharusnya taman seindah ini dikelilingi oleh banyaknya orang yang menikmatinya bukan? Tapi yang terlihat hanya seorang gadis yang tampak begitu menikmati indahnya taman ini. Dan gadis itu tak lain adalah Haruno Sakura.
Klik!
Ia mengabadikan indahnya potret alam di depannya dengan kamera ponselnya.
Sakura menghirup udara sebanyak-banyaknya, membiarkan aroma musim semi ini masuk ke paru-parunya. Kembali ia melukiskan senyum cantik di bibir mungilnya, entah sudah berapa kali hari ini ia tersenyum.
"Ahh…" ia merentangkan tubuhnya. Menatap birunya langit dan gumpalan awan putih di atas sana.
"Fighting! Hari ini kau harus bisa mendapatkan sebuah pekerjaan!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Ia merogoh ponselnya dan mengabadikan langit cerah saat ini.
"Sedang apa di sini?" Menma menghampiri Sakura yang tengah berdiri mematung memandang lautan bunga di depannya.
"Mereka akan mekar dengan indah di musim semi nanti," sahut Sakura mengabaikan pertanyaan Menma dengan pernyataan baru, membuat Menma terkekeh.
"Yah, itu sudah pasti!" Ucap Menma berdiri di samping Sakura.
"Kenapa kau masih di sini? Pelajaran sudah dimulai."
"Aku bosan," sahut Sakura membuat Menma menatapnya.
"Aku bosan dengan hidupku. Pagi hari bersekolah. Pulang dan kerja sampai malam. Tidur, kemudian bangun dan memulai aktifitas yang sama seperti kemarin. Untuk apa hidup jika hanya untuk mengulang apa yang telah kita lakukan kemarin. Benar-benar membosankan!" Mendengar ucapan Sakura barusan, Menma hanya berdecak lidah.
"Kau lihat benda putih di atas sana?" Menma menunjuk gumpalan putih yang mengambang di antara birunya langit.
"Ya, memang kenapa?"
"Kau tau apa itu?" lanjutnya sok misterius.
"Awan!" jawab Sakura mantap.
"Bukan! Itu gumpalan kapas putih yang terbang di langit!" Tak urung, sang gadis terpingkal begitu mendengar sanggahan milik lawan bicaranya itu.
"Kenapa?" tanya Menma kebingungan.
"Gumpalan kapas? Menma-kun, itu gumpalan hidrogen yang terbentuk akibat penguapan air!"
"Aku berhasil bukan?"
"Eh?" Sakura menghentikan tawanya dan memandang wajah tampan orang di sebelahnya itu dengan muka heran.
"Membuatmu tertawa!" Gadis itu tertegun begitu mendengar penuturan Menma.
"Menurutmu awan itu bisa kau pegang?"lanjut si jangkung itu lagi.
Sakura menggendikkan bahunya, "Entahlah… Aku belum pernah memegang awan."
Menma kembali melihat gumpalan awan yang tengah terbang melintasi mereka, "Bukankah awan-awan itu terlihat seperti gumpalan kapas? Lemah dan rapuh. Bahkan seekor burungpun tak bisa bertengger di atasnya. Tapi walaupun mereka lemah, mereka berani mendekati matahari. Bahkan batu yang lebih kuat dari mereka tak berani mendekati matahari dan memilih berada di bawah mereka."
Sakura mengernyitkan dahinya. Masih tak mengerti maksud dari kata-kata Menma.
"Mereka terbentuk dari air, kemudian terbang di langit melintasi berbagai negara bahkan benua hingga akhirnya menguap dan kembali menjadi air. Terus seperti itu setiap harinya. Tapi apa mereka merasa bosan? Tidak! Karena mereka tahu, mereka akan terbentuk dan menguap di tempat yang berbeda.
"Sama halnya dengan kehidupanmu. Kau memang menjalani rutinitas yang sama setiap harinya. Tapi apa yang terjadi hari ini juga akan terjadi besok? Misalkan,jika hari ini kau berkenalan dengan pemuda tampan sepertiku! Apa besok kau akan berkenalan lagi denganku? Tidak bukan? Jadi kau tidak perlu merasa bosan! Karna sesuatu yang terjadi hari ini tidak akan terulang besok hari," tutur Menma panjang lebar kemudian menyentil hidung Sakura.
"Tch. Pemuda tampan katamu?" sindir Sakura menepis tangan Menma yang membuat si jangkung terkekeh kemudian beradu pandang dengan Haruno Sakura.
"Dengar! Kau tau kenapa awan rela melakukan kegiatan berulang-ulang itu?"
"Tentu saja karena itu merupakan tugas dan takdirnya!"
Menma menggeleng, "Bukan! Karena awan yakin bahwa ia diharapkan ada. Bahwa ia ditunggu kehadirannya. Bukan hanya sebagai penghias langit yang luas, tetapi juga sebagai penyejuk tanah yang kering, penyubur tanaman yang tumbuh dan tetesan lembut yang membasahi bumi. Begitu juga denganmu, kau juga harus melakukan kegiatan berulang-ulang itu karna kau diharapkan ada."
"Aku? Diharapkan ada? Siapa yang akan mengharapkanku? Aku tidak mempunyai ayah, ibu dan juga keluarga! Aku tidak diharapkan siapapun!" balas Sakura dengan suara serak. Ia tahu ia tak mempunyai seseorang yang mengharapkannya ada.
"Kau salah! Ada seseorang yang sangat mengharapkan kau ada! Seseorang yang membutuhkanmu di sampingnya! Seseorang yang menghargai keberadaanmu! Seseorang yang menginginkanmu untuk hidup bersamanya!" jawab Menma dengan intonasi menggebu.
"Si..apa?" tanya Sakura penasaran.
"Orang itu adalah aku!"
"Hhh…" Sakura menghela nafas. Entah kenapa bayangan sosok jangkung Uzumaki Menma itu terlintas dibenaknya.
Gruussaakk
Mendengar suara aneh, tubuhnya refleks terangkat dan iris emerald Sakura memproyeksikan seekor kelinci.
"Hei, kelinci lucu! Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Sakura sejurus mengulurkan tangannya, bermaksud mengelus bulu lebat si kelinci. Tapi kelinci itu malah berlari menjauh, meninggalkan Sakura.
"Tunggu!" seru Sakura, dengan cekatan ia memasang sepatu dan mengejarnya.
"Hhh…hhh…hhh…kemana kelinci tadi?" gumamnya sembari menyesuaikan ritme nafasnya. Pandangan Sakura mengedar ke segala tempat, mencari keberadaan si kelinci.
"Men-maa .."
Sakura tertegun, samar-samar ia mendengar suaara sopran dengan nada centil tengah memanggil sebuah nama yang sering melewati gendang telinganya. Gadis itu mempertajam pendengarannya, sembari kakinya menuntun dirinya mengikuti sumber kegaduhan.
"Menmaaaaa…" ia terus mendekati sumber suara.
Sakura menutup mulutnya sendiri. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang terpampang di depannya sekarang. Jelas, ia melihat Uzumaki Menma tengah bercumbu mesra dengan seorang gadis yang tak diketahuinya siapa. "Menma," ucapnya tanpa sadar.
Menma menoleh, terkejut mendapati Sakura yang memandanginya seperti orang semaput. Tertangkap basah, Uzumaki Menma segera menjauhkan diri dari gadis di depannya.
Uzumaki Menma segera berjalan menghampiri Sakura. "Berhenti! Jangan mendekat!" Sakura membuat tanda stop dengan tangan kirinya. Tapi Menma mengacuhkannya, ia tetap menghampiri gadis itu.
Haruno Sakura melangkah mundur dan berlari menjauhi Menma. Entah kenapa melihat hal tadi membuat dadanya sesak. Hanya satu kata yang sejak tadi terus terngiang-ngiang di otaknya 'Kenapa?'
Ia terus berlari, mengacuhkan Menma yang sejak tadi memanggil namanya. Gadis itu tidak peduli kemana langkahnya akan terlampaui. Yang ia pikirkan sekarang, hanya berlari sejauh mungkin dari si Uzumaki Menma brengsek.
"SAKURA!" suara baritone Menma kembali terdengar, namun gadis yang dipanggil tak menggubris sedikitpun.
Uzumaki Menma mengumpulkan seluruh tenaganya dan mengejar dengan cepat langkah kecil gadis itu.
GREP!
Ia berhasil menahan lengan Sakura tapi gadis itu memberontak. Meminta Menma melepaskan cengkramannya.
"Dengarkan aku dulu!" ucap Menma sembari mengatur nafasnya.
"Lepaskan aku!" berontak Sakura. Ia terus memukul-mukul tangan Menma yang mencengkram erat lengan kurusnya.
"Tidak! Sampai kau mendengarkan penjelasanku!" ucap Menma tegas. Ia mencengkram kedua lengan gadis itu hingga Sakura hanya bisa menunduk pasrah. Ia tahu tenaganya tak akan mungkin mengalahkan si Uzumaki Menma.
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Bagiku semuanya sudah jelas," Sakura menyahut dingin membuat Menma meremang, baru kali ini Sakura berbicara sedingin ini dengannya.
"Kau membenciku Haruno Sakura?"
"Haruskah ku ucapkan?"
"Sebesar apa kau membenciku?"
"Sebesar yang kau bayangkan Uzumaki-san!"
"Kalau begitu, sebesar itu juga aku membencimu!" ucapan Menma membuat Sakura membulatkan matanya menatap pemuda di depannya tersebut.
"Kenapa? Kau tidak percaya jika aku membencimu? Oh ya! Bukankah kau hanya mengenal sosok Uzumaki Menma yang mencintaimu."
"Bicara apa kau? Lepaskan aku!"
"Kenapa sakura! Kenapa? Kenapa kau selalu menolakku? Kau anggap aku ini apa, hah? Semua yang kuperbuat untukmu itu seakan tidak ada gunanya? Kau tahu berapa lama aku menunggumu kemarin? Kau tidak datang? Kenapa? Jika kau tidak mau datang sebagai orang yang kucintai setidaknya kau datang sebagai teman yang menemaniku menonton film. Dan satu hal lagi. Perlukah kau merobek tiket itu?"
Sakura membelalakkan matanya.
'Bagaimana Menma bisa tahu?' batinnya.
"Baiklah jika kau memang terganggu dengan kehadiranku. Aku akan menjauhimu! Kau puas?"
Uzumaki Menma melengos pergi meninggalkan Sakura yang berdiri mematung dengan wajah pucat.
.
.
Sakura menengadah menatap langit yang menampilkan untaian kanvas biru pucat dengan aksen kehitaman sebagai pendampingnya. Udara semakin mendingin. Ia merapatkan blazer seragam yang dikenakannya. Baginya hari ini bukan hari keberuntungannya. Sama seperti cuaca kali ini. Gelap, suram, dan dingin. Tak tahukah bahwa ia mengawali hari ini dengan senyuman?
'Baiklah jika kau memang terganggu dengan kehadiranku. Aku akan menjauhimu! Kau puas?'
Ia mendengus kala mengingat hal itu. Rasanya sedikit menyakitkan.
Jika aku sempurna. Tetap saja kau tak pantas untukku, Menma. Kau terlalu baik. Tapi sayangnya—
"Baka!" Ia terkekeh, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam lima. Ia melengos melangkahkan kakinya menuju apertemen.
"Hey!" Sebuah suara cempreng menginterupsi gendang telinga Sakura. Merasa tidak terlalu penting, ia tetap melanjutkan perjalanannya.
"Hey! Gadis blazer coklat!" Kali ini Sakura menghentikan langkah kakinya. Atensinya mengarah ke sumber suara.
Di seberang jalan, tepatnya seorang gadis berambut pirang melambai ke arahnya. Ia menyipitkan matanya guna memperjelas pandangannya pada objek di seberang jalan. Gadis di klub malam, rupanya. Gadis itu berlari kecil menuju ke arah Sakura yang menampakkan ekspresi terkejut.
"Wah! Takdir mempertemukan kita!"
-To Be Continued-
Big thanks to
Xiuka07, hayaaeeh, Ranindri, Luca Marvell, CEKBIOAURORAN, rainacherry, xx, rosaca
Seneng banget baca komentar kalian hehe.
Yuk para siders komen juga hayuuk..
Aku bales reviewnya jadi satu di sini ya.
Mungkin ada yang bingung dengan istilah Intersexual, sebenarnya pada chapter satu telah dijelaskan bahwa intersexual itu adalah kelainan genetik yang mengakibatkan si penderita memiliki dua kelamin ganda dalam satu tubuh. Jadi dia bukannya ga punya kelamin, malah punya dua kelamin, hehe. Istilah kasarnya ini lho banci yang sesungguhnya. Tapi setau aku lho ya, penderita ini biasanya kelaminnya itu hanya berfungsi salah satu. Jadi yang satunya cuma hiasan doang lah ya. Nanti diliat hormon mana yang lebih dominan buat nentuin gendernya kelak. Duh kira-kira begitu, fyi ini ilmu gugel dan baca baca artikel waktu nyari bahan. Aku bukan dokter atau tenaga medis, btw.
Jadi kalo reader-san yang bingung dengan timelinenya. Waktu ibu Sakura meninggal itu dia masih kelas X, di timeline sekarang Sakura kelas XI. Kalau untuk sekarang Sakura masih menggunakan identitas asli sebagai perempuan. Kenapa ada warning gender bender di atas, bcs Sakura bakal kerja sebagai pelayan di semacam butler café-eh elu malah spoiler/kemudiandytavok- dan dia bakal gunain identitas laki-laki. Dan interaksi dengan salah satu cowo utama memakai identitas Sakura sebagai cowo tadi, hm. Isi fic ini kira-kira bakal ngurusin pilihan sakura buat jadi cewe ato cowo jadi ya aku ga bisa jawab dia cowo atau cewe hehe.
Fyi, cover story udah aku upload di twitterku cek aja di (twit (ter) dot com)/meirin_lyn/status/880050174671765508 jangan lupa depannya tambahin https(:) dengan garis miring dua kali dan kata yang dikurung ubah ke format penulisan seperti biasanya pada address bar ya.
