It's Tought Being a Boss!

Story © Hanyo4

Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

Tidak ada Keuntungan komersil yang didapatkan oleh penulis. Fanfiksi ini dibuat untuk kesenangan semata.

Drabble R27, mention of allx27, boss!Tsuna.

Alternative Reality, 9YL!

WARN : OOC, agak ambigay, receh


[Drabble 2 : Teacher and Lover]

DOR!

Tsuna berhasil melumpuhkan lawan, tanpa menghilangkan nyawa. Di sisi lain para penjaganya nyaris berhasil menghabisi jumlah musuh.

Bos mafia itu menghela napas panjang sebelum keluar dari mode hyper dying will-nya.

"Dame-Tsuna, keakuratanmu dalam menembak masih buruk." Ujar Reborn yang berada tak jauh dari dirinya.

"Yang penting kan tidak mengenai organ vital."

Pria berjas hitam itu mendecih kesal. "Kau membuat pertahananmu penuh celah. Jika kau terlalu lembut pada lawan, ia bisa menghabisimu dalam sekejap. Kau tahu, meski terluka mereka masih bisa mengambil senjata."

Tsuna berdiri menyandar pada dinding. Kedua lengannya terlipat depan dada. Ia bisa melihat Gokudera dan yang lainnya sedang sibuk mengikat lawan mereka yang sudah terkapar tak berdaya. "Tapi instingku tidak berkata demikian, Reborn. Mungkin mereka sudah pesimis menang, makanya tidak menyerang lagi sekalipun bisa."

"Dasar naïf." Reborn beranjak pergi, meninggalkan Tsuna yang menatap punggungnya dengan tatapan heran.

.

.

"Jadi, kau dan Reborn-san bertengkar lagi, Tsuna-kun?" Tanya Kozato Enma, pewaris kesepuluh Shimon family.

Tsuna meneguk habis wine yang tersisa di gelasnya. "Tidak tahu! Dia marah tanpa alasan yang jelas! Kemudian mengacuhkanku beberapa hari ini!" wajahnya merona merah, terbuai pengaruh alkohol.

"Tsu—Tsuna-kun, jangan minum lagi. Kau sudah mabuk!" Enma menghentikan tangan Tsuna saat pria berambut coklat itu bermaksud menuang wine ke gelasnya.

Tsuna mengerucutkan bibirnya. "Kau jadi sama seperti Reborn, mengesalkan."

"Bukan begitu! Kalau kau mabuk, bagaimana aku harus menjelaskannya ke penjagamu nanti?"

"Tenang saja, mereka semua sedang sibuk dengan misi masing-masing."

"Eh?" sepasang manik crimson itu melebar. "La—lalu bagaimana caranya kau ke sini?" Enma panik. Bagaimana bisa bos mafia yang jadi incaran banyak pembunuh bayaran dibiarkan keluar tanpa penjagaan?

"Keluar lewat jendela… lalu meminjam motor milik Gokudera…" desis Tsuna lirih. Kelopak matanya terasa berat, rasa kantuk mulai menyerang dirinya.

"Bukan meminjam namanya kalau kau tak izin! Lagipula mana mau Gokudera-san meminjamkan motornya—"

DOR!

Ucapan Enma terhenti ketika terdengar bunyi tembakan. Seketika bar damai itu langsung penuh dengan teriakan panik. Pengunjung serta pelayannya kocar-kacir, begitu melihat sekelompok pria berjas hitam memblokir pintu masuk.

"Tsu—Tsuna-kun…" desis Enma.

Tsuna masih setia di posisinya. Kepalanya menempel pada meja, matanya tertutup rapat. "Jangan melakukan gerakan yang mencurigakan, Enma-kun." Bisik Tsuna sepelan mungkin.

Enma mengangguk.

"Dimana Vongola Decimo dan Shimon Decimo?!" gertak salah satu dari pria bersenjata itu. seluruh orang yang ada di bar dijadikan sebagai sandera.

Tsuna mendecih, diam-diam mengarahkan pistolnya ke sumber suara.

DOR!

Tepat sasaran.

Kawanan pria itu langsung menyadari keberadaan orang yang mereka cari. Tanpa aba-aba, Enma langsung masuk ke mode hyper miliknya. Sementara Tsuna dengan wajah datar menggenggam dua pistol di tangan kanan dan kirinya.

Sesuai dengan firasatnya, tempat itu sudah dikepung musuh. Beberapa pengunjung adalah musuh yang sedang menyamar. Tsuna menyuruh Enma untuk mengevakuasi orang-orang terlebih dahulu, sementara dirinya akan menjadi umpan.

"Jangan bodoh Tsuna-kun! Aku tidak mau ditembak mati Reborn-san di tempat." Keluh Enma.

"Akan kubuktikan pada tutor sadis itu kalau aku jago menembak."

DOR!

Satu tembakan melesat, menghancurkan pistol lawan dan melukai tangannya.

Dengan kekuatan gravitasinya, Enma menerbangkan orang-orang itu sekaligus membuat barrier anti peluru di sekelilingnya.

Satu kesalahan yang ia lakukan adalah, sempat meragukan kekuatan seorang Sawada Tsunayoshi. Orang itu meraih titel Vongola Decimo bukan tanpa apa-apa. Walau tanpa mode hyper-nya Tsuna mampu melumpuhkan puluhan lawan, membuat mereka tidak berkutik.

"Heh, sudah kubilangkan kalau aku ini jago menembak…" Tsuna berdiri sempoyongan kemudian runtuh tak sadarkan diri.

Enma langsung meraih tubuh sahabatnya sebelum pria itu mencium dinginnya marmer. Si rambut merah menghela napas lega di kala mendapati tubuh Tsuna tak terluka sedikit pun.

Hanya tidur rupanya.

Tak lama ia mendengar decit sepatu mendekatinya. Enma siap siaga menyerang, meski kedua lengannya sedang menggendong Tsuna dalam dekapan.

"Serahkan murid bodoh itu padaku, biar aku yang akan memberinya pelajaran." Ujar orang itu dengan suara bariton yang sangat Enma kenal.

Enma menghela napas, lalu menatap wajah tidur Tsuna yang polos. "Kau membuatnya uring-uringan, Reborn-san."

Bibir Reborn membentuk seringaian sambil menerima tubuh Tsuna ke dekapanya. "Jika itu bisa membuatnya jauh lebih kuat, seharusnya kulakukan saja dari dulu."

Ada kalanya dimana Enma tidak mengerti pola pikir orang-orang Vongola. Ah tidak, ia memang tidak pernah mengerti pikiran absurd orang-orang Vongola.

Reborn beranjak meninggalkan Enma. "Oh iya, aku sudah menghubungi Adelheid. Dia bilang akan datang menjemputmu, Enma-kun."

Enma bisa merasakan bulu kuduknya berdiri.

Benar kata Tsuna, Reborn adalah orang yang sadis.


Terima kasih telah membaca!