TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

HAPPY READING

.


Chapter 2


.

"Hyung, mungkin kau lupa fungsi pintu untuk diketuk." Ujar Haechan pada si pelaku yang dengan lancang memasuki kamarnya tanpa ijin. Taeyong –si pelaku hanya meperlihatkan deretan gigi rapinya tanpa dosa.

Haechan menghela napas berat. Hyungnya datang. Pastilah ada yang tidak beres terjadi setelah ini.

"Apa salahnya? Aku hyungmu." Bela Taeyong.

Dengan antusias Taeyong mendekat ke Haechan yang tengah membaca buku tebalnya di ranjang kesayangannya."Jadi bagaimana dengan Mark?"

Tuh kan

Haechan sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Tapi dia dengan cepat mengendalikan raut wajah dan nada bicaranya agar tidak terlalu kentara bahwa dia gugup. Ya setelah acara makan malam keluarga tadi Haechan masih saja tidak dapat mengendalikan detak jantungnya. Dia merasa gelisah setiap mengingat si pria asing yang telah diketahui bernama Mark itu. "Bagaimana apanya?"

Bersyukur karena buku yang Haechan baca saat ini mampu menutupi wajahnya sehingga memudahkan Haechan untuk menyembunyikan diri dari hyung tersayangnya.

Taeyong menarik buku yang dibaca Haechan turun agar dia bisa langsung membuat kontak mata dengan adiknya. "Oh ayolah Haechanie, kau tidak bisa membohongi hyungmu ini. Aku mengenalmu dengan baik meskipun dengan mata terpejam."

"Dan perhatikan hyung ketika berbicara. Abaikan buku tebal kesayanganmu sementara." Protes Taeyong jengah melihat sang adik yang sepertinya mencoba menghindar dari pertanyaannya. Ya Taeyong sangat tau itu.

"Tidak ada yang perlu ku jelaskan hyung." Haechan menghela napas sejenak dan memberanikan diri menatap Taeyong. Meskipun dirasa akan sangat percuma menyembunyikan sesuatu dari hyungnya itu. Ya benar apa yang dikatakan Taeyong. Dia sangat mengenal Haechan dengan baik, sangat baik malah, meskipun dengan mata terpejam sekalipun.

"Eiy, mengakulah. Kau tertarik pada Mark bukan?" Jangan sebut dia Lee Taeyong kalau mengalah begitu saja. Taeyong terus saja menggoda Haechan. Dari awal dia mengambil langkah ini, dia sudah berjanji untuk terus melanjutkannya, apapun yang terjadi.

Melihat gelagat Haechan yang semakin gusar nampaknya menjadi hiburan tersendiri untuk Taeyong.

"Hyung ini tidak seperti yang kau bayangkan" Haechan masih tetap dengan pendiriannya, mengelak dari semua tuduhan hyungnya.

"Haechanie wajahmu memerah"

"Hyung!" Haechan mulai memekik kesal. Tapi wajahnya benar-benar tidak sejalan dengan perkataannya. Lihatlah bagaimana wajah itu memerah malu tanpa bisa di tahan. Bahkan mungkin merahnya sudah menyaingi bunga-bunga yang gemar ditanam eomma mereka di taman depan rumah. Oke ini berlebihan. Kena kau Lee Haechan. Taeyong tidak dapat menahan tawa gelinya.

"Baiklah baiklah. Jika kau tidak mau mengaku." Taeyong memutuskan untuk mundur dari acara 'mari menggoda adik tersayangnya'. Dia sudah cukup puas menggoda Haechan dan membiarkan adiknya untuk bernapas lega –ya setidaknya untuk malam ini. "Tidurlah"

Setelah mengecup pucuk kepala Haechan dan membenarkan selimut adiknya, Taeyong turun dari ranjang dan keluar dari kamar sang adik. "Selamat malam, Haechannie" ucap Taeyong yang dijawab hanya dengan gumaman oleh Haechan. Perlahan dia tutup pintu kamarnya dan melangkah menuju kamarnya sendiri tepat disamping kamar Haechan.

"Mungkin aku perlu melakukan sedikit dorongan." Otak Taeyong mulai berpikir ide-ide cemerlang yang dapat membuat Haechan dan Mark lebih dekat lagi. Dan jika Taeyong beruntung mungkin saja mereka berdua bisa disatukan dalam kisah percintaan.

"Lihat saja nanti adikku sayang." Taeyong memunculkan smirk misteriusnya. Ya Haechan harus tau kalau hyungnya begitu luar biasa.

Beda halnya dengan si pemilik kamar –Haechan. Sepeninggal Taeyong, Haechan merasa makin runyam dengan pikiran dan hatinya. Sejujurnya baru kali ini dia merasa buku yang coba dia baca dari tadi sangatlah tidak menarik untuknya. Entah kenapa.

Haechan menenggelamkan badan mungilnya ke dalam selimut dan bergulung-gulung kesana kemari. Jangan lupakan gerutuannya yang mulai tidak jelas.

"Arrgh!"

Haechan terlentang dengan selimut yang sudah dia lemparkan asal sampai ke kaki. Perlahan dia angkat tangannya menuju langit-langit kamar. Memandang tangan itu sedikit lama.

"Aku masih bisa merasakannya. Sangat bisa merasakannya."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

"Chan!" Teriak Jaemin sambil berlari dari lorong menuju pintu keluar gedung fakultas mereka.

"Oh hai Jaemin." Sapa Haechan sekenanya saat melihat pelaku yang memanggilnya adalah sahabatnya. Dan berhenti di tempat menunggu Jaemin menghampirinya.

Jaemin memegang dadanya sejenak ketika berhenti untuk menormalkan napasnya. Hah berlari segitu saja sudah membuatnya kelelahan seperti ini. Payah. Tau begini harusnya dia iyakan saja ajakan dari pacar tercintanya untuk olah raga tiap akhir pekan.

"Kau ke kampus hari ini kenapa tidak bilang. Tau begitu kan aku menjemputmu." Jaemin mulai dengan nada merajuknya.

"Dan kembali menjadi obat nyamuk antara kau dan Jeno hyung. Tidak terimakasih." Haechan menjawab sambil melanjutkan langkahnya keluar dari gedung. Jaemin tentu saja mengikuti. Berjalan beriringan. Bersyukurlah kampus sedang sepi hanya di isi beberapa mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk-sibuknya mengurusi kewajiban terakhirnya sebelum kelulusan. Sehingga tidak ada yang berteriak tidak jelas melihat mereka berjalan. Haechan sering merasa terganggu karena hal itu, berbeda dengan Jaemin. Asal kalian tau Jaemin itu terkenal dikalangan adik tingkat. Orangnya yang supel dan suka menyebar senyum ramah membuatnya mudah disukai oleh orang lain. Lalu bagaimana dengan Haechan? Well, itu hal yang sangat tidak penting untuk Haechan pikirkan.

"Ish! Aku sendiri hari ini. Jeno hyung sedang sibuk di kantor." Protes Jaemin sedikit curhat.

"Sedang apa kau ke kampus?" Tanya Jamin pada Haechan. Pasalnya Haechan adalah tipikal orang yang akan muncul jika dia benar-benar merasa ada kepentingan di sana.

"Menemui Profesor Kang."Jawab Haechan santai sambil memperlihatkan kumpulan map-map di tas jinjingnya.

"Apa sudah selesai." Tanya Jaemin lagi dengan antusias dan sedikit gelisah.

"Ya tinggal sedikit lagi." Haechan mengulum senyumnya membayangkan dirinya semakin dekat pada kelulusan. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain kelulusan baginya saat ini. Membayangkan apa yang bisa dia lakukan setelahnya benar-benar membuat Haechan ingin segera menyelesaikan semuanya.

Tapi nampaknya berbeda dengan orang di sampingnya. Bahu Jaemin seketika terkulai lemas disamping tubuhnya mendengar kabar dari Haechan.

"Hu enak sekali. Andai Profesor Song sebaik itu."

"Kau yang malas kenapa menyalahkan Profesor Song."

"Iya iya ini sedang aku usahakan." Ucap Jaemin sambil mempoutkan bibirnya.

"Jadi kau mau pulang sekarang?" Jaemin kembali bertanya dengan antusias. Ck anak ini! Kemana larinya mood jeleknya barusan. Haechan seringkali heran dengan kemampuan sahabatnya yang dapat merubah moodnya dengan begitu cepat itu.

"Ya, urusanku sudah selesai."

"Pulang bersamaku ya. Tapi kita jalan-jalan dulu. Bagaimana?" Tawar Jaemin. Dia sudah rindu sekali dengan sahabatnya satu ini. Padahal baru sehari tidak bertemu. Tapi baginya Haechan adalah moodbooster nya. Jaemin akan otomatis lari pada Haechan apapun yang terjadi. Entah dia senang, sedih, kesepian atau bosan.

"Maafkan aku sepertinya hari ini tidak bisa. Aku ada janji dengan Taeyong hyung." Haechan menatap Jaemin dengan perasaan bersalah. Haechan mengerti bahwa Jaemin selalu ingin mendempetinya. Bagai suatu kebiasaan. Meskipun Jaemin itu terkadang sangatlah menyusahkan. Tapi Haechan akan selalu mengusahakan ada untuk sahabatnya –untuk Jaemin.

"Yah tidak seru." Ucap Jaemin dengan wajah ditekuknya. "Baiklah kalau begitu lain kali saja."

"Kau di jemput?" Tanya Jaemin yang melihat Haechan melihat pintu gerbang fakultas mereka seperti menunggu sesuatu.

"Harusnya begitu." Jawab Haechan dengan nada yang tidak yakin. Taeyong janji menjemputnya tapi kenapa tidak datang juga? Biasanya hyungnya tidak pernah terlambat seperti ini.

Tin

Mobil putih berhenti di depan mereka berdua. Membuat keduanya mengernyit heran menebak-nebak siapa pemilik mobil tersebut. Tak lama kemudian seseorang keluar dari dalam.

"M –mark hyung?" Haechan kaget melihat sosok Mark yang keluar dari mobil itu.

"Eh siapa?" Berbeda dengan Haechan, Jaemin malah memandang Mark dengan penasaran. Radar dikepalanya seperti mengatakan kalau pasti ada yang tidak diketahuinya di sini.

"Haechan. Ayo pulang." Ucap Mark menghampiri Haechan.

Mark hyung. Mark hyung menjemputku.

"Ta –tapi Taeyong hyung .." Oke ini terlalu mendadak. Dan Haechan masih tidak dapat mengendalikan dirinya dengan kemunculan Mark yang tiba-tiba.

Mulut bodoh kenapa kau tergagap. Haechan meruntuki dirinya yang masih saja gugup sejak kejadian semalam.

"Taeyong hyung menghubungiku untuk menjemputmu karena mendadak ada urusan di butik." Jelas Mark masih dengan nada tenang terlampau datar. Sama dengan wajahnya yang juga datar dengan tatapan khasnya yang tajam tertuju lansung pada mata Haechan. Mata itu lagi.

"Kenapa harus Mark hyung. Aku bisa minta tolong sopir keluarga untuk menjemputku." Haechan mulai bisa menguasai dirinya agar tidak terlihat gugup di depan Mark –ya setidaknya sedikit.

"Tak apa. Kantorku ada di dekat sini dan kebetulan aku sedang istirahat makan siang. Jadi sekalian."

"Begitu .." Haechan masih senantiasa terpaku pada mata tajam Mark. Jika saja dia tidak ingat pada sahabatnya yang sejak tadi disampingnya. Ah!

"Jaemin, hey jaemin! Kau melamun." Haechan menyadarkan Jaemin yang senantiasa memandang Mark tanpa kedip dengan pandangan menyelidik miliknya. Menerka-nerka kira-kira siapa sosok tampan ini. Dan apakah sahabatnya dan sosok tampan itu saling mengenal. Sepertinya iya. Oh tidak, iya. Memang iya.

"A –ah maaf." Ucap Jaemin setelah sadar dari pikirannya tentang sosok asing nan tampat dihadapannya.

"Aku pulang dulu ya." Pamit Haechan

"Oh oke." Jaemin hanya menjawab sekenanya. Tapi kemudian ingat akan sesuatu yang harusnya Haechan jelaskan padanya.

Jaemin menarik lengan Haechan terlampau kuat sehingga Haechan harus menghadapnya lagi.

"Ada apa .." Tanya Haechan heran sedikit kaget

Jaemin mendekatkan diri pada Haechan, berbisik penuh penekanan di telinganya dengan mata yang tidak pernah lepas dari sosok tampan yang baru dilihatnya. "Kau berhutang penjelasan padaku."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Ddrrt drrrtt..

Haechan yang sedang membaca buku tebalnya melirik ponselnya yang bergetar di meja nakas samping ranjangnya.

Na Jaemin is calling…

Tanpa berpikir panjang Haechan mengangkat panggilan tersebut.

"Halo jae–"

"Yak! Aku menunggu kau menghubungiku" Teriak Jaemin di seberang sana membuat Haechan meringis dan menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga kanannya.

"Jaemin jangan berteriak." Haechan memperingatkan

"Kau di mana sekarang?" Tanya Jaemin masih dengan nada tidak sabarannya.

"Rumah." Jawab Haechan sekenanya

"Aku kesana."

Pip

Sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Jaemin. Membuat Haechan menghela napas jengah. "Hah dia mulai seenaknya"

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Brak

Haechan sudah menduga hal ini akan terjadi. Jaemin akan berubah menjadi sosok buas tidak sabaran yang tidak tau aturan jika sudah penasaran. Dan sudah dapat dipastikan Haechan akan dibombardir dengan banyak pertanyaan oleh sahabatnya itu sebentar lagi.

"Jadi ceritakan" Desak Jamin setelah melepas ransel dan coatnya. Manaruhnya asal di sofa yang terdapat pada kamar Haechan dan beringsut naik ke ranjang tempat Haechan membaca buku dengan nyaman.

"Cerita apa Jaemin?" Masih dengan kegiatannya dengan buku kesayangannya, Haechan hanya menanggapi asal Jaemin.

"Tentang pria tampan tadi."

"Tidak ada yang perlu ku ceritakan."

"Oh ayolah Chan. Aku menunggumu dari siang tadi tidak untuk jawaban seperti ini. Aku tidak mau tau pokoknya cerita." Jaemin itu seperti anak kecil. Dan Haechan sangat tau itu. Lihatlah bagaimana dia mengeluarkan nada merajuk dengan menggoyangkan badan gusar. Terlihat begitu menggelikan dimata Haechan.

"Selain manja kau juga pemaksa rupanya."

"Chan!"

"Baiklah baiklah. Namanya Mark." Ditatapnya Jaemin yang masih memandangnya dengan mata penasaran miliknya, seperti masih menunggu penjelasan selanjutnya.

"Dia anak teman appa itu saja." Haechan mengakhiri dengan singkat, padat dan jelas. Haechan memang tidak ahli dalam urusan jelas menjelaskan. Jaemin memutar matanya sekilas.

"Jadi dia siapamu?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tidak ada apa-apa antara aku dan Mark hyung. Kami kenal saja baru kemarin malam."

"Oh jadi namanya Mark. Apa kau dijodohkan?"

"Yak! Mulutmu Na Jaemin benar-benar." Kini giliran Haechan yang mulai gusar dengan pertanyaan mendadak Jaemin yang menurutnya sangatlah tidak mendasar dan menyebalkan.

"Lalu apa kalau bukan dijodohkan?" Masih dengan nada yang sama tidak mau mengalahnya, Jaemin makin mendesak Haechan untuk cerita.

"Kami hanya dikenalkan. Sebatas itu saja tidak lebih."

"Dan tadi orang yang hanya dikenalkan menjemputmu. Whoa masuk akal sekali." Jaemin mulai menjauhkan sedikit tubuhnya. Melipat tangannya di depan dada dan memandang Haechan dengan tajam yang dibuat-buat.

Hah ini tak akan semudah yang dipikirnya. Haechan mulai melipat kakinya yang tadi dia luruskan. Duduk tegap dengan menatap lurus kearah Jaemin untuk memulai menjelaskan.

"Jaemin, dengar. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku sungguh-sungguh soal hanya sebatas kenal. Yang tadi siang itu ulah dari Taeyong hyung."

"Ah kurasa aku tau maksudnya." Jaemin berujar lirih yang dengan smirk tipis yang masih dapat didengar oleh Haechan.

"Eh?" Haechan heran dengan pernyataan Jaemin barusan. Apa maksudnya?

"Ah tidak tidak. Oke ku ganti pertanyaannya. Jadi kau tertarik padanya?"

"Pertanyaan macam apa lagi itu? Tentu saja tidak Na Jaemin." Haechan beringsut mundur dan mengalihkan pandangannya ke mana saja asal tidak ke Jaemin.

"Aey. Lihat wajahmu memerah." Goda Jaemin puas dengan reaksi Haechan.

"Kau benar-benar tak ada bedanya dengan Taeyong hyung."

"Ya mungkin aku dan Taeyong hyung akan melakukan koalisi yang luar biasa."

Jaemin memang bukan orang yang ahli dalam membuat ide. Tapi jika urusan seperti ini, ditambah dengan adanya Taeyong, menurutnya, dia bisa melakukannya dengan sempurna. Mari kita pikirkan itu untuk nanti. Dia butuh menghubungi Taeyong dulu bukan?

"Aku menginap di sini."

Jaemin merebahkan tubuhnya di ranjang Haechan. Membuat si pemilik ranjang beringsut untuk membagi tempat sama luasnya dengan sahabat tersayangnya. Jaemin memang sering menginap di sini jika akhir pekan. Tentunya jika pacarnya tidak bisa menemaninya. Dan Haechan berani bertaruh bahwa Jeno pastilah sedang sibuk di akhir pekan ini sehingga membuat Jaemin berkeliaran mencari penampungan.

"Terserahmu saja."

Haechan menyudahi acara membacanya yang memang sudah terganggu sejak Jaemin datang. Meletakkan buku itu di meja nakas samping ranjangnya dan ikut berbaring bersama Jaemin.

"Aku kesepian dan Jeno hyung sangat sibuk belakangan ini."

Keduanya sama-sama memandang langit-langit kamar Haechan. Dan mulai berceloteh sekenanya.

"Dan aku menjadi pelarianmu saat kau bosan begitu?"

"Tentu saja tidak! Kau kan sahabatku tersayang mulai dari kita memakai popok. Jadi jelas sekali aku akan selalu ingat padamu." Jaemin memiringkan dan mendekatkat tubuhnya kearah Haechan. Haechan itu enak dipeluk menurut Jaemin.

Haechan terkekeh dengan rayuan dan kelakuan jaemin. Membiarkan sahabatnya itu memeluk tubuhnya dengan nyaman. "Aku bercanda. Kau benar-benar perayu ulung Na Jaemin. Pantas saja Jeno hyung jatuh ke pelukanmu."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Taeyong telah rapi dengan sweater turtle neck kebesarannya. Membuat dia terlihat sangat mungil dan semakin menggemaskan dengan wajah cantiknya. Menuruni tangga dengan gembira menuju meja makan untuk sarapan sebelum menyusul sang eomma di butik dan kemudian menghabiskan akhir pekannya dengan tunangan tercintanya. Ya setelah lulus dari kuliahnya. Taeyong yang kebetulan mewarisi bakat dan ketertarikan dari eommanya, mulai turun ambil andil dengan urusan butik milik sang eomma.

"Selamat pagi. Oh ada Jaeminie." Sapa Taeyong dengan riang menuju meja makan yang sudah terdapat adik tersayangnya dan Jaemin.

"Selamat pagi Taeyong hyung. Aku menginap semalam." Sapa Jaemin balik dengan antusias.

"Yah tau begitu aku tidur di kamar Haechanie juga. Kan kita bisa pajama party." Rajuk Taeyong sambil mengoleskan selai cokelat kesukaannya pada roti tawar.

"Mungkin lain kali."

"Haechanie, hyung antar jam 10 seperti biasanya kan?" Atensi Taeyong mengarah ke adik tersayangnya.

"Mm sepertinya tidak hyung. Ada penyesuaian jadwal. Guru privatku tidak bisa mengisi pagi hari lagi sekarang jadi les pianonya di undur jam 6 sore."

Bermain piano merupakan kesukaan Haechan selain membaca. Menurutnya dengan bermain piano akan membuat dirinya merasa tenang. Dan Haechan tipikal orang penggila ketenangan.

"Begitu ya. Baiklah."

Taeyong sangat sayang pada adik kecilnya. Kemanapun itu, pasti dia usahakan untuk mengantar sendiri sang adik. Dari pada membiarkan Haechan mengendarai mobil sendiri yang belum tentu aman, ataupun dengan diantar sopir sekalipun, Taeyong lebih suka memastikan keselamatan adiknya dengan usahanya sendiri. Dengan begitu dia juga dengan mudah memantau sang adik dan merasa lebih dekat dengannya.

"Hari ini kalian kemana?" Taeyong mengamati adiknya dan Jaemin yang telah nampak rapi.

"Jalan-jalan. Hyung mau ikut?" Tawar Jaemin.

"Mm sepertinya menyenangkan. Tapi aku sudah ada janji dengan Jaehyun. Lain kali oke." Tatap Taeyong dengan sedikit menyesal. Tapi memang ajakan dari tunangan tercintanya tidak pernah dapat dia tolak. Mereka berdua sama-sama sibuk jadi wajar waktu luang untuk berdua sangatlah berharga untuk Taeyong.

"Baiklah kalau begitu kami berangkat dulu hyung. Sampai nanti." Pamit Haechan setelah menyudahi acara sarapannya.

"Mm. Hati-hati di jalan."

"Jaemin jangan mengebut! Bawa Haechan –ah ani, bawa diri kalian dengan selamat!" Teriak Taeyong mengingatkan dari meja makan yang hanya dibalas acungan jempol dari Jaemin yang hampir hilang di pintu depan.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Terhitung sudah lewat 2 minggu sejak terakhir kali Haechan melihat Mark saat pria itu menjemputnya di kampus. Dan entah kenapa bayangan seorang Mark tidak pernah absen dari pikiran Haechan meskipun dia sudah berusaha keras untuk mengenyahkannya. Kenapa sulit sekali?

Mark itu orang asing. Dan harusnya Haechan bisa mengabaikannya. Ya seharusnya seperti itu.

Ini terasa lancang sekali. Berani-beraninya seorang pria asing membuat Haechan jadi seperti ini. Memangnya dia siapa?

"Ini buruk. Benar-benar buruk."

Ku mohon otakku yang cemerlang. Berhentilah memikirkan hal yang tidak penting. Ingat dia orang asing. Tak seharusnya aku gelisah hanya karena orang asing. Tapi dia tampan. Ah tidak tidak hentikan.

Dia memiliki aura yang ntahlah aku tidak tau kenapa terasa begitu mengundangku untuk masuk lebih dalam.

Taeyong hyung pasti punya nomor ponsel Mark. Tapi untuk apa? Mau apa aku dengan nomor ponsel itu? Hah yang benar saja Lee Haechan! Sadarkan dirimu!

Ya Haechan tau. Sangatlah tau bahwa semenjak malam perkenalan itu seluruh aturannya telah runtuh di bawah kakinya dengan tidak berguna.

"Ini bukan diriku. Benar-benar bukan diriku." Haechan semakin memejamkan matanya dan menelungkupkan wajahnya ke dalam bantal.

"Aaaargh!" Menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.

Klek

Jaejong masuk ke dalam kamar anak bungsunya dan melihat kondisi anaknya saat ini dengan heran "Haechanie kau baik-baik saja?"

"Ah eomma. Aku baik." Dengan salah tingkah Haechan bangun dari posisinya dan duduk dengan merapikan keadaannya yang tampak berantakan. Mengenaskan.

"Makan malam sudah siap. Ayo ke bawah."

"Aku akan menyusul sebentar lagi eomma."

"Baiklah kalau begitu eomma kebawah dulu. Jangan lama-lama, appa menunggu."

"Baik eomma."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Yunho, Jaejong dan Taeyong telah berkumpul di meja makan. Mennunggu satu anggota keluarga lagi –si bungsu untuk kemudian memulai makan malam mereka. "Taeyongie, apakah ada perkembangan?" Jaejong memulai pembicaraan.

"Masih belum eomma. Tapi kurasa Haechan sudah mulai tertarik."

"Benarkah? Itu bagus. Benarkan appa?" Jaejong berbinar dan bertepuk tangan mendengar kabar tentang anak bungsunya.

"Ya kurasa Mark orang yang tepat. Dia bisa diandalkan." Berbeda dengan dua pria manis yang tampak antusias. Sang pria dewasa nan tampan –Yunho cenderung masih dengan berwibawa mengutarakan pendapatnya.

"Suamiku kau yang terbaik." Jaejong meraih tangan sang suami dan mengusapnya dengan lembut.

"Jadi selanjutnya apa lagi Tae –" Jaejong berniat melanjutkan mengorek informasi dari anak sulungnya sebelum ekor matanya melihat si bungsu mendekat ke meja makan.

"Kenapa berhenti?" Tanya Haechan heran melihat ketiganya terdiam. Haechan menarik kursi di samping sang hyung dan mulai mempersiapkan piringnya.

"Kalian sedang membicarakan apa?" Lanjut Haechan yang masih penasaran. Pasalnya dia melihat ketiganya dari tangga tadi seperti tengah membicarakan sesuatu.

"Ah tidak, kami hanya berbicara tentang bisnis butik eomma. Benarkan appa, taeyongie?" Ujar Jaejong sedikit berskenario. Memandang Yunho dan Taeyong bergantian dengan mata yang memberikan kode untuk merahasiakan perihal yang mereka bahas tadi.

"A –ah ya tentu saja eomma."

"Appa dan eomma akan berangkat lagi ke China besok pagi, Haechanie." Yunho mulai mengalihkan pembicaraan agar fokus Haechan teralihkan.

"Kenapa cepat sekali?" Rajuk Haechan pada sang appa.

"Maafkan appa. Tapi urusan di sana benar-benar harus appa pantau dengan baik."

Yunho memang sangat menyayangi putra bungsunya. Dia sangat menyesal tidak pernah bisa menyediakan waktu luang untuk Haechan seperti saat Taeyong masih kecil dulu. Dulu saat Taeyong masih kecil, mendiang ayahnya masih ada sehingga Yunho bisa membagi pekerjaannya dengan baik. Tapi berbeda setelah adanya Haechan. Ayahnya sudah tiada dan mengharuskan Yunho untuk mengambil alih semua pekerjaan dan meneruskannya dengan baik sesuai harapan. Menyebabkan waktunya terkikis habis untuk bercengkrama lebih lama dengan putra bungsunya.

"Selalu saja seperti itu." Wajah Haechan tertekuk dengan tangan yang sudah tidak berniat melanjutkan kegiatannya menyantap makanan di depannya.

"Haechan .." Jaejong berniat memberi pengertian pada putranya.

"Iya aku mengerti eomma. Appa juga tidak perlu khawatir. Aku mengerti dan sudah bisa menyesuaikan diri. Lagi pula masih ada Taeyong hyung. Jadi ku rasa tidak masalah."

Katakanlah Haechan anak yang tau diri. Karena di saat hati kecilnya berteriak untuk egois. Pikirannya selalu berjalan rasional memahami bahwa apa yang dilakukan sang appa –dilakukan kedua orang tuanya, adalah semata-mata untuk kebahagiaannya dan hyungnya.

Haechan tau bahwa kedua orang tuanya pasti juga merasa tersikasa dengan hal itu. Oleh karenanya, sebagai bungsu di keluarga, yang perlu dia lakukan hanyalah mengerti. Ya mengerti dan memaklumi. Sampai nanti saatnya dia –paling tidak bisa mengurangi beban sang appa untuk ikut andil dalam urusan perusahaan. Agar mereka bisa memiliki waktu luang yang cukup untuk keluarga.

Haechan menyukai bisnis bukan tanpa sebab. Mungkin dia memang menyukainya karena terbawa sang appa. Tapi juga tak dapat dipungkiri bahwa dia menyukainya karena ada tujuan yang ingin diraihnya.

Toh Haechan masih memiliki Taeyong yang selalu ada untuknya. Dan itu sudah sangat lebih dari cukup untuk Haechan.

"Terimakasih sayang." Ucap Jaejong meraih tangan Haechan dan memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Haechan melihatnya tidak tega. Dia merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya sedih dengan tidak sengaja. Maka yang dia lakukan setelahnya adalah mencairkan suasana dengan nada merajuk dan cerewet khas si bungsu miliknya. "Asal jangan lupa menghubungiku setiap hari. Jangan lupa menjaga kesehatan kalian. Dan pulanglah paling tidak sebulan sekali."

Yunho terkekeh mendengarnya. "Iya appa tau sayang. Terimakasih. Appa menyayangi kalian berdua."

"Jadi Taeyong bagaimana dengan persiapan pernikahanmu dan Jaehyun?" Yunho mulai mengalihkan pembicaraan pada hal yang lebih serius menyangkut si sulung.

"Aku dan Jaehyun sepakat untuk tidak terburu-buru appa. Setidaknya sampai proyek resort Jaehyun di Jeju selesai dan eomma bisa kembali menangani butik lagi di sini." Terang Taeyong menjelaskan.

"Kami berdua benar-benar tidak punya waktu senggang untuk persiapan pernikahan kami."

"Sayang eomma bisa mengurus segalanya untuk kalian. Jangan memaksakan diri." Jaejong memberi pengertian.

"Tidak eomma. Aku dan Jaehyun ingin mengurus segala keperluan pernikahan kami sendiri. Jadi eomma hanya perlu mempersiapkan diri."

Taeyong adalah orang yang mandiri. Menolak dengan halus tawaran eommanya berharap sang eomma mengerti bahwa dia dan Jaehyun masih bisa mengurus semuanya sendiri tanpa merepotkan kedua keluarga.

"Jika itu keputusan kalian. Baiklah."

"Tapi jika perlu sesuatu, hubungilah appa. Appa bisa melakukan apapun untukmu." Semandiripun putranya kini, bagi Yunho mereka tetaplah putra kecilnya yang dapat bertumpu pada pundaknya kapanpun mereka mau.

"Iya aku tau. Terimakasih appa." Taeyong tersenyum menenangkan.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Rutinitas Haechan di akhir pekan seperti biasanya, les piano. Jam di pergelangan tangan kanannya sudah menunjukkan pukul 8 tepat. Dan biasanya sang hyung sudah menunggu –bersandar di kap mobil merah kesayangannya dan tersenyum menyambut Haechan disertai lambaian tangan antusias di depan gerbang tempat privatnya.

Haechan pun memutuskan untuk melakukan panggilan ke nomor hyungnya. Tak perlu waktu lama, Taeyong langsung mengangkat panggilannya.

"Hyung aku sudah selesai. Hyung di mana?" Tanyanya langsung sambil memandang jalanan dengan khawatir takut terjadi sesuatu dengan hyungnya.

"Oh maafkan hyung lupa memberitahumu Haechanie." Sesal Taeyong di sambungan telepon seberang sana. "Ada yang harus hyung urus di butik."

"Kau tunggu di sana ya hyung sudah minta tolong Mark untuk menjemputmu."

"Apa? Kenapa harus Mark hyung lagi. Halo –halo hyung? Ish selalu saja seenaknya." Haechan kaget dengan perkataan Taeyong yang mengatakan bahwa Mark akan menjemputnya –lagi. Hyungnya ini benar-benar tidak tau situasi. Bagaimanapun Haechan masih belum siap untuk bertemu dengan Mark lagi. Ya paling tidak sampai dia bisa membersihkan pikirannya dari pria itu dan menormalkan detak jantungnya yang semakin menggila tanpa alasan.

Haechan mulai resah sambil meremas ponsel yang digenggamnya. Aku harus bagaimana kalau Mark hyung datang?

Tin

Mobil Putih yang sama seperti satu bulan lalu kembali berhenti di depannya.

"Mark hyung." Sapa Haechan dengan tenang.

"Lama menunggu?" Tanya Mark dari dalam mobil yang hanya membuka kaca kemudinya.

"Ah tidak." Jawab Haechan sedikit salah tingkah.

"Baguslah. Ayo masuk ku antar pulang."

Haechan masuk ke dalam mobil –duduk tepat di samping Mark. Memakai sabuk pengaman dengan segera. "Hyung maafkan aku sudah merepotkanmu lagi." Ujar Haechan mengutarakan isi hatinya dengan memandang Mark.

Kalau diamati. Mark malam ini berpenampilan sangat berbeda. Tidak seperti malam perkenalan waktu itu dan siang hari pada saat menjemputnya waktu itu. Mark malam ini terlihat lebih santai dan seperti pria rumahan. Mark hanya mengenakan kaos polo bergaris cerah dengan celana pendek selutut yang pastinya tampak lebih pendek jika digunakan dalam keadaan menyetir seperti sekarang ini. Membuatnya terlihat lebih segar dan hangat. Tidak sekaku sebelumnya –ini menurut Haechan.

"Tak apa." Tenang dan terkesan dingin, khas Mark sekali. Rupanya dengan penampilan yang sedikit berubah tidak merubah kepribadian pria itu.

Haechan terkekeh dengan sekelebat pikirannya sendiri tentang Mark.

"Lain kali kalau Taeyong hyung meminta tolong lagi, tolaklah. Aku bisa pulang sendiri." Haechan memberi pengertian kepada Mark.

"Tidak masalah. Aku tidak merasa direpotkan."

Haechan melirik Mark yang tengah fokus melihat ke depan. Tanpa disadari Haechan memandang Mark penuh minat yang tampak serius dengan kegiatannya. Bagaimana bisa pria yang tengah menyetir bisa terlihat semenarik ini.

"Lagi pula orang tua mu menitipkanmu pada keluargaku. Dan tentu saja tugas itu terlimpah padaku." Lanjut Mark yang membuat Haechan terkejut bukan main.

Oke kenyataan baru lagi. Dan aku sungguh tidak mengetahuinya. Bagus sekali. Haechan mulai gusar di tempatnya duduk. Membenarkan sabuk pengaman yang entah kenapa terasa mencekik erat tubuhnya hingga sulit bernapas.

"Masih ada Taeyong hyung kenapa repot-repot menitipkanku padamu. Lagi pula aku bisa menjaga diri sendiri." Timpal Haechan terkesan tidak terima dan salah tingkah.

"Ku dengar Taeyong hyung mengurus butik selama eomma kalian pergi jadi mungkin dia akan sibuk." Perkataan Mark membuat Haechan terdiam.

Ini tidak beres. Pasti ada yang tidak beres.

Apapun yang sedang dilakukan keluarganya pasti bukanlah hal baik untuk Haechan ketahui. Dan apapun yang nantinya akan terjadi diantara dia dan Mark, Haechan tidak akan tau akan sangat menyalahkan ataukah berterimakasih akan hal itu.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Siang itu Taeyong dan Haechan melakukan movie marathon di ruang keluarga diakrenakan keduanya yang sama-sama memiliki waktu senggang. Haechan tidak ke kampus hari ini dan Taeyong tidak ada kegiatan di butik.

"Haechanie, appa mendapat undangan di acara Business Fair milik rekannya." Ujar Taeyong disela kegiatannya memakan chips kesukaannya.

"Lalu kenapa hyung?" Tatapan keduanya masih senantiasa pada film action barat yang tengah diputar dilayar lebar ruang keluarga mereka.

"Kau tau kan kalau appa sedang dalam perjalanan bisnisnya dan hyungmu ini sangat tidak tertarik dengan bidang itu." Memakan chips nya lagi. Kemudian duduk tegap dengan menatap adk tersayangnya yang sedang berselonjor nyaman di sofa sampingnya.

"Kau kan sama sukanya dengan appa dengan hal-hal berbau bisnis."

Haechan melirik hyungnya dengan ekor matanya.

"Jadi bisakah kau saja yang datang? Ya ya" Taeyong mulai membujuk adiknya dengan mata bulat menggemaskan miliknya.

"Tidak masalah untukku. Kurasa itu tawaran yang menarik." Haechan mengangguk dengan santai dan membuat Taeyong berselebrasi kecil-kecilan. Lagi pula memang tidak ada ruginya juga untuk Haechan datang. Itu menarik.

"Tapi hyung, apakah aku akan datang sendiri?"

"Tentu saja tidak. Mana mungkin hyung membiarkan kau berkeliaran kesana sendiri tanpa ada yang mengawasi." Taeyong kembali ke posisinya semula. Duduk bersandar dengan nyaman dan meluruskan kakinya. Kemudian matanya memicing tajam pada Haechan berbisik mengingatkan.

"Kau tau, bisnis itu tempat orang-orang jahat. Dan pandanganku tak berubah tentang hal itu."

Haechan terkekeh dengan pernyataan Taeyong barusan. Hyungnya itu benar-benar. "Kalau begitu katakan itu pada Jaehyun hyung."

Taeyong melempar chips yang hendak dimakannya kearah Haechan karena sedikit kesal. "Ish! Kalau Jaehyunku sih tidak begitu tau!" belanya terhadap tunangan tercintanya.

"Kau akan datang bersama Mark. Bagaimana?"

Uhuk!

Taeyong berujar santai yang membuat Haechan tersedak corn ring yang tengah dimakannya. Dia meminum jus jeruk di meja yang telah Taeyong siapkan sebelumnya dengan tergesa-gesa untuk mendorong corn ring yang terasa tersangkut pada kerongkongannya.

"A –apa hyung bilang?" Tanya Haechan memastikan. Berharap bahwa dirinya hanya salah dengar.

"Bersama Mark." Ulang Taeyong dengan mantap dan tenang tanpa bersalah. Padahal Taeyong sedang mati-matian menahan tawanya meihat adiknya yang mulai gelisah tanpa sebab karena Mark. Benar-benar respon yang sangat memuaskan untuk Taeyong. Ah sepertinya usahanya membuahkan hasil.

"Hyung aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang hyung rencanakan?" Tanya Haechan yang saat ini duduk dengan tegap menghadap Taeyong dengan pandangan menyelidik miliknya. Ini memang tidak beres.

"Aey, adikku. Kenapa kau berprasangka buruk pada hyungmu ini." Taeyong mencoba membela diri.

"Tentu saja hyung tidak merencanakan apa-apa. Hyung hanya memastikan kau berada di tangan yang tepat untuk membantuku menjagamu." Bagus sekali alasanmu Taeyong. Bagus.

"Dan ku rasa Mark pria yang tepat."

Haechan tetap tidak terima gagasan hyungnya tetang pergi bersama Mark. Mencoba untuk bernegoisasi berharap hyungnya itu dapat merubah keputusannya. Tidak masalah bagi Haechan pergi sendiri. Asal tidak dengan Mark. Demi Tuhan Haechan sangat ingin menghindari Mark untuk saat ini.

"Tapi hyung –"

"Hyung tidak mau tau kau harus tetap menghadiri acara itu. Bersama Mark." Final Taeyong dengan nada tegasnya yang tidak mau dibantah. Bagus Taeyong. Bagus.

Hah, kalau sudah seperti ini Haechan tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerimanya. "Terserah hyung saja."

Apapun yang terjadi nanti, Haechan pasrah. Ya dia hanya bisa berdo'a semoga saja kali ini dia bisa mengontrol pikiran dan detak jantungnya dengan baik. Ya semoga saja.

Tapi tampaknya tidak akan semulus sesuai harapannya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Di sinilah Haechan. Di Minggu pagi bersama dengan Mark di acara Business Fair yang diadakan di Gangnam. Mark mengenakan setelan semi formalnya berwarna biru tua yang tampak sempurna dimata Haechan. Bahkan mengundang Haechan untuk senantiasa mencuri pandang pada wajah tampan dan tegas itu. Haechan sendiri mengenakan kemeja putih dengan kerah berdiri dilengkapi dengan blazer bermotif. dan jangan lupakan topi lebar yang dikenakannya menambah kesan manis dan menarik perhatian padanya.

Awalnya Haechan pikir Mark datang karena sebuah keharusan sebagai calon penerus perusahaan untuk membangun relasi dengan rekan-rekannya. Karena kebanyakan orang di sini melakukannya. Kecuali Haechan tentu saja. Tapi setelah Haechan melihat sorot mata ketertarikan dari pria itu yang sama akan dirinya, Haechan tau bahwa mereka berdua memiliki ketertarikan yang sama di dunia bisnis. Bukankah ini menyenangkan? Setidaknya Haechan tau bahwa dia dan Mark memiliki satu kecocokan.

Apa Haechan bilang barusan?

Lee Haechan pabo apa yang kau pikirkan? Haechan memukul kepalanya sendiri dengan pelan. Membuat Mark heran dengan kelakuannya.

"Kau baik?"

"A –ah iya. Tentu saja." Jawab Haechan tergagap menyadari bahwa Mark melihat tingkah konyolnya. Pabo!

"Haechan" Seseorang memanggil dari balik punggung Haechan. Membalikkan badan untuk melihat di pelaku pemanggilan dan sedikit memicingkan matanya ketika merasa mengenali sosok itu.

"Sunbae?"

"Ternyata benar kau. Lama sekali tidak melihatmu. Kau kesini juga?" Sosok pria yang terbalut setelan tanpa lengan dengan potongan leher rendah yang menampilkan sedikit dada bidangnya itu semakin mendekat menghampiri Haechan.

"Iya. Melihat-lihat." Jawab Haechan dengan senyum yang tidak dapat ditahan. Siapa sangka dia dapat bertemu kembali dengan seniornya di klub kampus dulu. Satu? Ah Haechan rasa sudah dua tahun dia tidak melihat seniornya ini sejak kelulusan.

Tidak ada yang berubah tetap menjadi pribadi yang hangat dengan senyum cerahnya yang mampu membuat orang disekitarnya ikut menarik bibirnya. Tapi dilihat lagi perawakannya, pria itu terlihat lebih matang sekarang. Tubuhnya mulai terbentuk meskipun kesan kurus masih melekat padanya.

"Wah kau tidak berubah rupanya. Masih suka dengan buku-buku tebal?"

"Di sana spot untuk buku-buku bisnis kalau kau tertarik." Seniornya ini memang paling mengerti Haechan. Membuat Haechan tertawa senang mengiyakan.

"Hyung tau?"

"Aku promotor acara ini. Tentu saja tau." Kata pria itu sambil menepuk dada bidangnya pelan. Haechan melihat ada tanda pengenal yang menggantung di lehernya. Ah ternyata benar.

"Oh ya kau dengan siapa?" Tanya pria itu melihat ada pria lain di samping Haechan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Haechan menepuk keningnya pelan. Kenapa dia bisa lupa dengan keberadaan Mark dari tadi di sampingnya. Sebelum menoleh dengan pandangan menyesal pada Mark dan mulai memperkenalkan.

"Oh aku hampir saja lupa. Ini Mark hyung. Mm te –temanku."

Sejujurnya Haechan bingung harus menyebut Mark sebagai siapa untuknya. Karena Haechan merasa dia dan Mark belum begitu dekat. Terhitung baru empat kali mereka bersama dan itu pun tanpa disengaja. Haechan tidak tau saja bahwa ternyata ini sudah di rencana sebelumnya oleh keluarganya.

"Mark hyung, ini sunbaeku di klub kampus dulu. Yuta hyung." Haechan beralih mengenalkan pria itu kepada Mark.

Mark yang memang sedari tadi memperhatikan pria itu sejak pemanggilan nama Haechan, terus saja menatap tajam. Demi menjaga etika dan dalam rangka mengenali calon musuhnya –mungkin, maka yang Mark lakukan setelahnya adalah menjulurkan tangannya untuk berjabat dengan pria yang baru diketahuinya bernama Yuta itu.

"Mark Lee." Ucapnya dingin dan tenang seperti biasanya. Namun apabila dilihat lebih seksama lagi, terlihat pandangan tajam Mark mengarah langsung pada mata Yuta dengan pandangan yang tidak biasa.

"Nakamoto Yuta." Timpal Yuta dengan tenang menjabat tangan Mark masih dengan senyum ramah miliknya. Yuta terkekeh sekilas menyadari bahwa ada sesuatu dengan pria di depannya ini. Kelihatannya akan menarik.

.

.

.

TBC

Cuap-cuap Author

Holla~ slitherginger kembali. Terimakasih pada reader-deul yang sudah menyempatkan baca ff abalku ini. Terimakasih yang udah berbaik hati menekan ikon hati di bawah dan terimakasih banyak banyak sama yang udah meninggalkan cuap-cuapnya di kolom komen. Author terharu /huweee/

Aku diserbu, maafkan aku mungkin mataku yang kurang jeli. Jadi boleh deh bagi kalian yang punya referensi banyak soal momen-momen MarkHyuck berbagi banyak sama aku. Ayo ayo racuni aku yeorobeun-deul! Aku instagram addict. Akan sangat bahagia sekali kalau ada akun ig MarkHyuck yang aktif, uptodate, peka tingkat dewa peke bingo. Kasih tau ya kalau ada hihi

Anyway, selamat datang Bakamoto Yuta kuuuu~ wkwwkwk

Aku suka banget nistain dia. Abis dia ganteng-ganteng menggelitik/?

Dia aku datengin buat merangsang foreign swagger Mark Lee biar ada pergerakan sedikit gitu ke Haechannya. Yang biasnya Yuta, jangan benci aku ya kalo nanti dia tak buat nista. Aku gak punya dendam ke Yuta kok. Cuma untuk memuluskan jalan Mark menuju Haechan terpaksa aku harus menghadirkan orang ketiga. /smirk/

Pada penasaran gak? /plis bilang iya/

Aku cuma memunculkan sedikit kepribadiannya Mark, soalnya titik beratku dari awal adalah si maknae bontot yang ogu ogu /Haechanie come to noona~/ Eh udah pada tau belum kalau aku yeoja? Wkwkwkwk

Entah kenapa selalu sempet update nya di pagi hari macam alarm aja. Niatnya sih update malem jam 10-an gitu tapi selaluu aja ada halangannya. Huhu maafkan ya. Ah ya satu lagi, kali ini aku edit dan upload lewat mobile karena gak tau kenapa PC ku gak bisa. Jadi mungkin bakal terdapat kesalahan-kesalahan di chapter ini. Gpp deh ya pokok udah update wkwkwkw. Semoga gak mengecewakan huhu

Okedee sampai bertemu di chapter depan. Semoga imajinasiku lancar biar bisa update secepatnya. Byebye yeoreobeun-deul~ Saranghae pyeong~