TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

HAPPY READING

.


Chapter 3


Hari itu berakhir dengan Yuta yang menjadi tour guide bagi Haechan dan Mark dalam acara Business Fair yang dipromotorinya. Menurut Haechan itu merupakan sebuah kehormatan. Lagi pula sudah lama Haechan tidak bertemu dengan seniornya itu. Hitung-hitung melepas rindu. Yuta merupakan sosok yang dikaguminya. Menurut Haechan, Yuta dapat terlihat ramah namun tetap berkarisma di waktu yang bersamaan. Selain otaknya yang cemerlang, dia juga merupakan striker sepak bola andalan.

Waktu itu awal Haechan memasuki klub jurnalistik, tak ada satupun anggota yang berani menyapanya. Kecuali Jaemin tentunya. Ya Haechan akui auranya sungguh tidak bersahabat. Namun kemudian Yuta mendekat mulai membagi pikiran-pikirannya seolah dia dan Haechan sudah lama mengenal. Haechan sempat berpikir bahwa itu merupakan kewajiban sebagai seorang ketua klub untuk dekat dengan semua anggotanya. Haechan menghargainya dan mencoba membuka diri. Tapi setelah lama mengenal, Haechan merasa Yuta sangat cocok dengannya. Cocok dalam artian mereka dapat membentuk kerja sama yang baik dalam klub. Yuta dan Haechan memiliki ketertarikan di bidang yang sama dan pikiran mereka selalu sejalan. Membuatnya betah berlama-lama dengan Yuta sama halnya ketika dia bersama Jaemin.

Yuta tak henti-hentinya melempar candaan dengan riang sedikit mengenang masa lalu mereka. Dan Haechan menanggapinya dengan cukup antusias. Tanpa mereka sadari bahwa aura gelap semakin pekat dibelakang mereka. Katakanlah Mark merupakan orang yang paling tidak peduli akan dunia sekitarnya. Namun entah kenapa Mark merasa terusik kali ini. Merasa menjadi obat nyamuk antara Haechan dan Yuta. Dan kenyataan itu benar-benar membuatnya kesal. Hey di sini Haechan datang bersamaku. Lalu apa hakmu merebut perhatian Haechan dan mengabaikanku seolah aku tak ada di antara kalian. Sialan.

Yuta dan Haechan yang berjalan di depan Mark mendadak berhenti membuat Mark juga ikut menghentikan langkahnya. "Sudah masuk waktu makan siang. Apa kau lapar? Mau makan siang bersamaku?" Tanya Yuta setelah melihat jam yang melingkar di lengan kirinya menunjukkan pukul 12 tepat.

"Mm kurasa aku perlu bertanya pada Mark hyung dulu" Haechan mengingat Mark yang sejak tadi hanya mengikuti di belakangnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Haechan membalikkan badannya menatap Mark. "Mark hyung, Yuta hyung mengajak kita makan siang bersama. Apa hyung mau?" Ijin Haechan dengan hati-hati pada Mark.

"Kita bisa makan siang di Seocho nanti." Jawab Mark dengan nada yang terlampau dingin dan tidak mau dibantah.

Yuta sebenarnya tidak peduli dengan Mark. Toh dia hanya berniat mengajak Haechan. Hanya saja karena nampaknya Haechan tidak mau pergi tanpa Mark, maka yang dilakukannya adalah ikut membujuk Mark. "Tapi Seocho akan memakan waktu. Akan lebih baik jika kalian mengisi perut di sini saja."

"Tidak aku mau pulang." Jawab Mark lagi dengan nada yang semakin tak terbantahkan.

Yuta terkekeh menyadari memang benar ada sesuatu tentang pria yang datang bersama Haechan ini. Mencoba sedikit bermain-main dengan Mark. "Baiklah kalau kau tidak mau. Bagaimana kalau Haechan makan siang bersamaku sementara kau pulang. Jangan khawatir aku akan mengantarkannya pulang dengan selamat."

Jackpot

Mark melemparkan tatapan tajam terbaiknya pada Yuta. Yang dia yakin dapat membuat semua orang bergidik ngeri karena melihatnya. Semua orang cenderung akan menghindari berurusan dengan Mark yang seperti ini. Namun nampaknya hal itu tidak berlaku untuk Yuta. Tentu saja Yuta tak akan mundur semudah itu. Yang Yuta lakukan hanyalah menanggapinya dengan santai. Menerima tatapan tajam yang tertuju padanya.

"Tidak. Haechan datang bersamaku dan dia juga harus pulang bersamaku."

"Begitukah?" Tanya Yuta dengan senyuman yang telah berganti smirk diwajahnya.

Sejenak Mark dan Yuta saling melempar pandangan tajam tak mau kalah. Membuat Haechan bingung harus melakukan apa pada keduanya. Yuta terkekeh setelahnya dan kembali dengan wajah ramahnya.

"Baiklah baiklah aku tidak akan memaksa." Yuta mengangkat tangannya menyudahi acara mari bermain dengan Mark. Mengalihkan atensinya pada pria manis diantara mereka berdua.

"Haechan boleh aku pinjam ponselmu?"

Tanpa pikir panjang Haechan menyerahkan ponselnya pada Yuta. Terlihat Yuta mengetik sesuatu pada ponsel Haechan. Kemudian mengembalikannya pada si pemilik.

"Nah aku sudah menuliskan nomor ponselku di sana. Jangan lupa hubungi aku nanti oke?"

Yuta melirik Mark dengan ekor matanya sekilas. Memastikan bahwa reaksi mark sesuai dengan harapannya.

Mata Mark terlihat semakin tajam memandang tidak suka pada Yuta. Dan Yuta mengabaikannya seolah tidak melihat apapun. Mengalihkan pandangannya pada Haechan kembali.

"Mungkin kita bisa membuat janji untuk makan siang dilain hari, berdua." Sambil menghadiahi Haechan dengan kerlingan matanya yang mempesona.

Oke Mark benar-benar merasa terusik oleh pria baru ini. Apa-apaan yang dia lakukan barusan. Tebar pesona seolah Haechan tertarik dengannya saja. Cih.

"Baiklah Yuta hyung." Jawab Haechan dengan antusias. Nampaknya Haechan tidak sadar bahwa jawabannya barusan semakin menyulut emosi seorang Mark Lee. Membuat auranya semakin gelap.

"Ayo pulang." Itu bukan sebuah ajakan tapi lebih terdengar seperti perintah.

Haechan mengangguk menuruti perkataan Mark. Melihat ke arah Yuta dan berpamitan pada seniornya itu. "Yuta hyung aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi. Dan terimakasih atas tour guide singkatnya. Aku benar-benar merasa terhormat."

"Apapun untukmu." Ucap Yuta dengan senyum manisnya sambil membenarkan topi lebar yang Haechan pakai.

Mark jengah. Dia merasa tidak tahan berada di sini lebih lama lagi. Terutama dengan keberadaan Yuta. Berakhir dengan Mark yang pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan Haechan. Membuat Haechan terburu-buru mengejar Mark menuju mobil yang akan membawa mereka berdua pulang.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Malamnya Haechan merasa gelisah karena terus mengingat kejadian tadi siang. Apakah aku melakukan kesalahan? Menurut Haechan, Mark memang dingin. Tapi ada hal yang tidak Haechan ketahui karena apa yang membuatnya merasa dinginnya Mark kali ini berbeda dari biasanya. Perjalanan pulang tadi benar-benar terasa mencekam bagi Haechan

"Ah bagaimana ini?" Haechan gelisah dalam posisi duduknya dan menggingit jarinya sambil berpikir keras mengingat-ingat apa kesalahannya. Apakah Mark marah karena dirinya? Lalu apakah dia harus meminta maaf akan hal yang Haechan sendiripun tidak tau apa alasannya?

Ddrrtt ddrrt

Haechan melihat cepat pada ponsel di sebelahnya yang berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

Na Jaemin is calling…

"Jaem!" Teriak Haechan segera setelah menggeser ikon hijau pada ponselnya.

"Astaga Chan suaramu!" Protes Jaemin di seberang sana. Haechan yakin pasti Jaemin menjauhkan telinganya dari ponsel karena teriakannya barusan.

Tanpa merasa bersalah Haechan mengabaikan protes Jaemin dan langsung mengutarakan hal yang membuatnya gelisah dari tadi. "Jaemin bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku ta –"

"Hey hey pelan-pelan oke." Potong Jaemin mendengar Haechan terlalu tergesa-gesa. Dan Jaemin merasa kalau pastilah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. "Ada apa? Kau kenapa?"

"Jaemin ada yang harus ku ceritakan padamu. Dan ini penting. Sangat penting." Haechan berbicara dengan nada seriusnya. Apakah seserius itu? –pikir Jaemin.

"Baiklah baiklah, tapi kurasa hanya dengan panggilan tidak akan membantu. Jadi bagaimana kalau kita bertemu saja?"

"Call!" jawab Haechan antusias. Tapi kemudian Haechan teringat akan sesuatu bahwa sangatlah tidak mungkin baginya untuk keluar rumah saat ini.

"Eh tapi ini sudah malam. Pasti Taeyong hyung akan melarangku keluar."

"Mm benar juga. Baiklah aku saja yang ke sana."

"Na Jaemin aku tau kau yang terbaik!" Mata Haechan seketika berbinar mendengar Jaemin akan ke rumahnya. Baginya ini masalah sulit. Sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari pada tugas professor Kang tentang pasar saham yang pernah dikerjakannya. Dan Haechan tak dapat menyelesaikannya sendiri. Jaemin sangat dibutuhkan saat ini.

"Sering-seringlah bersikap manis seperti ini padaku." Ucap Jaemin setelahnya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Klek

Pintu kamar Haechan terbuka dan menampakkan sosok Jaemin dengan coat panjangnya.

"Jadi ada apa?" Tanya Jaemin segera setelah menutup pintu kamar Haechan kembali.

"Jaemin!"

Haechan yang melihatnya langsung turun dari ranjangnya menghampiri Jaemin yang masih berdiri di depan pintu. Menarik Jaemin yang baru datang untuk duduk di sofa yang berada dalam kamarnya.

"Kau tampak gelisah sekali." Ucap Jaemin melihat tingkah Haechan yang tampak tak biasa baginya.

Haechan itu tipikal orang yang tenang dan dapat mengendalikan situasi dengan sangat baik. Tapi nampaknya tidak untuk malam ini. Jaemin pernah menghadapi Haechan yang seperti ini. Tapi dulu sekali. Saat mereka masih kecil kala itu Haechan tanpa sengaja menabrak kucing –yang menurutnya sangat malang dengan sepeda barunya. Atau saat dia harus pulang malam tapi lupa menghubungi keluarganya. Karena ya sebagai seorang bungsu disuatu keluarga membuat Haechan kebanjiran dengan perhatian dan juga kekhawatiran.

"Jaemin kau benar-benar harus membantuku." Desak Haechan dengan tidak sabaran sambil menarik-narik tangan Jaemin.

"Membantu apa?" Tanya Jaemin heran. Pasalnya Haechan sangat jarang meminta bantuan pada Jaemin. Biasanya malah Jaemin yang meminta bantuan pada Haechan. Bukankah ini aneh?

"K –ku rasa, ku rasa Mark Hyung marah padaku." Cerita Haechan dengan nada lirihnya. Dan lihat bagaimana wajahnya menunduk sedih masih dengan menggenggam tangan Jaemin.

"Apa?" Tanya Jaemin meyakinkan.

Haechan mengangkat wajahnya dan memperlihatkan sorot mata sedihnya. "Mark hyung marah padaku."

"Dan kenapa Mark hyung harus marah padamu?" Tanya Jaemin penasaran tidak mengerti.

Haechan menerawang, mencoba memikirkan alasan yang tepat tapi tetap tidak menemukannya. "Karena –entahlah aku juga tidak tau." Jawab Haechan dengan ragu sedikit lama setelah dirasa otaknya tidak dapat berpikir alasan kenapa dia merasa seperti itu.

Pletak

"Akh! Sakit Jaem!" Protes Haechan yang mendapat jitakan sayang di kepala oleh Jaemin.

"Kau itu benar-benar –Chan! Kemana larinya otak cemerlangmu!" Jaemin menatap Haechan geram sambil berkacak pinggang.

Haechan kembali gelisah dibuatnya dan mulai mengutarakan isi pikirannya dengan tergesa-gesa. Bahkan matanya terlihat tidak fokus melihat ke lantai asalkan tidak bertemu pandang dengan Jaemin. "Jaem aku benar-benar tidak tau apa kesalahanku tapi tadi itu aku benar-benar merasa kalau Mark hyung itu marah padaku sikapnya yang memang dingin terasa semakin dingin setelah Yuta hyu –"

"Apa kau bilang!" Potong Jaemin dengan segera. Jaemin menarik bahu Haechan agar menghadap ke arahnya dan memaksa Haechan untuk menatap matanya.

"Ish jangan potong ucapanku aku jadi lupa." Kesal Haechan yang tanpa sadang mempoutkan bibirnya lucu. Membuat Jaemin hampir tidak tahan untuk mencubit pipi Haechan dengan gemas. Tapi mengingat ada hal yang jauh lebih penting untuk segera diklarifikasi, Jaemin mengabaikan niatnya itu.

"Sebentar. Tadi kau menyebut Yuta hyung bukan?" Tanya Jaemin tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

"Iya. Yuta hyung." Jawab Haechan dengan tenang . Lihatlah bahkan mata itu berkedip polos tanpa dosa.

"Kita sedang membicarakan Yuta hyung yang sama kan?" Jaemin bertanya lagi memastikan.

"Tentu saja. Memangnya ada berapa Yuta hyung yang kita kenal?" Haechan menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memutar matanya malas menanggapi pertanyaan Jaemin yang berulang-ulang.

"Oke sepertinya ada hal yang terlewat yang belum kau ceritakan Chan."

Jaemin mulai berpikir kemungkinan-kemungkinan yang telah terjadi pada sahabatnya itu.

"Ceritakan dari awal." Desak Jemin sambil menatap serius ke arah Haechan.

Haechan mulai menceritakan kronologi bertemunya dia dan Yuta hyung –Mark juga tentu saja. Semuanya. Tanpa ada satupun yang tertinggal. Bagaimana dia merasa antusias bertemu dengan Yuta setelah lama tak bertemu. Sampai dengan Mark yang pergi mendahuluinya tanpa mengatakan sepatah katapun dan berakhir dengan suasana mencekam sepanjang perjalanan mereka pulang. Membuat Haechan kembali merasakan perasaan tidak enak akan hal itu.

Jaemin menganga tidak percaya mendengar cerita Haechan. Otaknya yang pas-pas an itu –menurut Haechan mulai menganalisa dengan baik dan kemudian menepukkan tangannya tampak seperti bahwa dia sudah mulai menemukan benang merahnya.

"Ah sepertinya aku mulai mengerti Chan." Jaemin menepuk tangannya dan mulai memperlihatkan senyum misteriusnya yang entah kenapa membuat Haechan merinding kali ini. Oke itu membuat Haechan sedikit takut.

Masih dengan polosnya Haechan memastikan apa yang dikatanyan Jaemin barusan. "Kau mengerti? Padahal aku sendiripun tidak mengerti apa yang telah ku lakukan." Menurutnya Jaemin itu pemilik otak pas-pasan. Dan bagaimana bisa otaknya yang cemerlang ini kalah dengan otak pas-pasan milik sahabatnya itu? Sangatlah tidak mungkin.

"Pabo."

"Yak!" Haechan jelas tidak terima dikatai bodoh. Apalagi dengan orang sekelas Jaemin. Haha kau bercanda? Benar-benar bosan hidup ternyata. Dia jengkel, tentu saja. Tapi untuk malam ini Haechan memutuskan untuk memberikan toleransi bagi Jaemin. Berakhir dengan dirinya yang sedikit merendahkan egonya yang setinggi langit dan bertanya dengan polosnya.

"Jadi apakah aku melakukan kesalahan?"

"Tidak tidak. Tentu saja tidak!" Jaemin menggeleng mantap dengan tangan yang ikut dikibas-kibaskan.

"Kau sudah melakukan hal yang tepat Chan." Lanjut Jaemin meyakinkan Haechan dengan tatapan matanya yang memancarkan kesungguhan.

Oke itu memang tampak meyakinkan. Tapi Haechan masih saja belum bisa menerimanya. "Tapi Mark hyung –"

"Chan sebenarnya aku penasaran tentang hal ini dan ingin memastikannya." Jaemin kembali memotong perkataan Haechan. Mulai berbicara secara serius dan memaksa Haechan memberikan atensi secara penuh padanya.

"Apa kau menyukai Mark hyung?" Tanya Jaemin tiba-tiba dengan hati-hati namun tanpa keraguan di dalamnya.

Haechan melebarkan matanya kaget. Apa-apaan sahabatnya ini. Itu sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal. Membuatnya sedikit tergagap karena ya –kembali lagi, setiap bahasan tentang Mark akan selalu membuat seorang Lee Haechan gelisah dan berakhir tergagap dengan sendirinya. Ini benar-benar tidak masuk akal. "A –apa? Tentu saja tidak Jaemin! Kau mulai melantur."

"Jika tidak kau tidak akan segelisah ini hanya karena Mark hyung bersikap dingin. Dengar Chan, aku sangat mengenalmu dengan baik. Kita sudah sangat dekat bahkan sejak kita masih mengenakan popok. Tentu saja aku tau." Ucap Jaemin sangat yakin bahwa tebakannya tentang Haechan sangatlah benar adanya.

"Kau menyukai Mark hyung." Jaemin berkata dengan mantap sekali lagi.

"Jaem itu tidak benar. Ku –kurasa ka –kau hanya melantur. Iya benar hanya melantur." Haechan mulai tidak tenang dalam duduknya. Matanya beralih kesana-kemari tak tentu arah. Mencoba mengelak apa yang telah Jaemin katakan barusan.

"Baiklah jika kau tidak mau mengaku juga. Sekarang jawab pertanyaanku." Jaemin menarik tangan Haechan agar kembali fokus pada dirinya.

"Apa Mark hyung selalu mengusik pikiranmu?"

Oke ini terlalu mendadak. Dan pertanyaan Jaemin benar-benar membuat Haechan merasa gugup bukan main. Ini bahasan yang sensitif baginya tentu saja. "Se –sebenarnya Jaem–"

"Jawab saja!" Jaemin memotong perkataan Haechan dengan tidak sabaran. Haechan sangat bertele-tele sedari tadi dan Jaemin mulai gemas pada sahabatnya itu.

"I –iya." Jawab Haechan dengan wajah yang kini mulai memerah panas.

"Apa kau merasa gelisah tiap kali bertemu dengan Mark hyung?"

"Ku –ku rasa iya. Dan aku tak tau kenapa."

"Apa kau merasakan sulit sekali mengontrol detak jantungmu tiap kali mengingat Mark hyung?"

Bagaimana Jaemin bisa tau? –pikir Haechan.

"I –iya. Apa aku terkena penyakit Jaem?"

"Nah itu jawabannya Lee Haechan!" Jaemin melompat dari tempat duduknya. Duduk tegap memandang Haechan dengan wajah sumringah. Akhirnya sahabatnya yang selama ini hanya jatuh hati pada buku-buku tebalnya bisa jatuh hati pada seseorang juga. Ini kemajuan. Dan Jaemin sungguh merasa bahagia akan hal ini.

"Terkadang aku heran kenapa Tuhan menciptakan otakmu dengan sangat cemerlang tapi tidak untuk urusan seperti ini." Ejek Jaemin. Haechan masih menampakkan wajah polosnya dengan dahi mengernyit berusaha keras mengerti. Sahabatnya ini benar-benar.

"Kau menyukainya. Menyukai Mark hyung." Ucap Jaemin bersungguh-sungguh.

"Be –benarkah?" Tanya Haechan gugup.

"Ish! Kau harus percaya padaku!"

Benarkah? Apakah aku menyukai Mark hyung? Tapi semua yang Jaemin katakan dan apa yang dia rasakan sejauh ini memang terasa masuk akal untuknya saat ini. Lalu, la –lalu

"Aaargh! Bagaimana ini Jaemin! Apa yang harus ku lakukan?" Haechan mengusak rambutnya frustasi. Merobohkan tubuhnya pada sofa yang dia duduki dan bergulung-gulung tidak jelas. Oke ini terlalu mendadak. Sangat mendadak. Rasanya sulit dipercaya. Apakah menyukai seseorang akan terasa seperti ini? Memikirkannya saja membuat bayangan Mark tanpa permisi bermunculan dipikirannya. Membuat Haechan semakin menutup rapat matanya dan merasakan wajahnya semakin memanas. Dapat dipastikan wajahnya sudah berubah menjadi merah sekarang. Ah aku malu!

"Hey hey tenangkan dirimu Chan!" Jaemin berusaha membujuk Haechan agar kembali tenang. Menarik lengan Haechan agar kembali duduk dan mulai memberikan pengertian untuh sahabat tersayangnya itu.

Haechan memandang Jaemin dengan wajah yang memerah menahan malu. Membuat jaemin harus menahan mati-matian tawa gelinya.

"Oh Haechanie. Sahabatku tersayang. Tak ku sangka kau akan sampai pada saat ini juga." Ujar Jaemin dengan penuh semangat dan memeluk Haechan erat sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Ini awal yang baik untukmu." Ucap Jaemin

"Dengar Chan, mulai sekarang aku ah ani –kami akan membantumu agar Mark hyung membalas perasaanmu juga. Oh aku sungguh berharap kalian segera menjalin hubungan." Jaemin melanjutkan dengan lebih antusias sambil membayangkan bagaimana rencananya akan berhasil.

"M –Mark hyung" Oke membayangkannya saja sudah membuat wajah Haechan memerah bukan main.

Dan sepertinya Haechan tidak menyadari ketika Jaemin menyebutkan 'kami' barusan. Tentu saja 'kami' yang dia maksud disini adalah deretan orang-orang yang mengusung 'mari membuat Mark dan Haechan menjalin hubungan'. Oke biarkanlah ini tetap menjadi rahasia. Bagaimana Haechan sadar kalau yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Mark Lee.

Mm sebagai permulaan –ah aku tau!

"Chan, Yuta hyung memberimu nomor ponselnya kan?" Tanya Jaemin setelah sedikit berpikir.

"Iya, kenapa?"

"Itu bagus. Sekarang hubungi dia. Mulai sekarang kau harus tetap dekat dengan Yuta hyung." Desak Jaemin dengan sumringah.

Haechan memandang heran pada Jaemin. "Dan kenapa aku harus?"

"Ish sudah turuti saja. Kau ingin tau Mark hyung itu menyukaimu juga atau tidak kan?"

"Mm te –tentu saja." Jawab Haechan malu-malu.

"Menurutku, tadi siang itu Mark hyung sedang cemburu." Ucap Jaemin menerka-nerka dengan smirk dibibirnya.

"Cemburu?"

"Iya. Ini hanya perkiraanku. Tapi aku yakin dia memang cemburu." Ucap Jaemin dengan penuh keyakinan.

Entah kenapa membayangkan Mark cemburu padanya membuat Haechan merasa ada kupu-kupu yang menggelitik di perutnya. Oh perasaan apa lagi ini? Rasanya Haechan perlu mengubur dirinya hidup-hidup sekarang. Haechan benar-benar malu.

"Nah kita akan sangat membutuhkan jasa Yuta hyung untuk mendorong Mark hyung mengungkapkan perasaannya padamu." Lanjut Jaemin.

"Tapi Jaemin, bukankah akan sangat tidak adil bagi Yuta hyung. Aku terkesan hanya memanfaatkan dia saja. Aku tidak mau!" Tolak Haechan.

"Kau tidak memanfaatkan dia Chan! Kau hanya kembali mencoba dekat seperti waktu kita di klub dulu. Dan bukannya kau sangat menyukuai sosok Yuta hyung seperti kakakmu sendiri?"

Ya perkataan Jaemin terasa masuk akal baginya. Dia menyukai Yuta hyung. Tapi sebatas suka seperti pada hyungnya sendiri. Dan karena menurut Haechan, dirinya dan Yuta memiliki banyak kecocokan, kepribadian Yuta juga menyenangkan, membuat Haechan terkadang lupa akan segalanya jika sudah bersama dengan Yuta.

Ya setidaknya sampai Haechan menemukan sesuatu atau mungkin seseorag yang dapat mengalihkan seluruh perhatiannya akan apapun –Mark.

"Kau hanya perlu melakukannya seperti biasanya. Tidak perlu ada sandiwara. Cukup jadi dirimu sendiri. Dan cobalah untuk tidak mengkhawatirkan apa yang dipikirkan Mark hyung. Biarkan bom waktu meledak dengan sendirinya. Kau paham?"

"Aku tidak begitu yakin. Tapi ku rasa aku bisa mencobanya." Ucap Haechan menyerah. Lagi pula sekarang dia mulai merasakan dorongan untuk semakin mendekat pada Mark. Dan dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Nah itu bagus!" Ujar Jaemin dengan semangat.

Sepertinya Haechan sudah sampai pada titik putar baliknya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

"Mommy, disini!" Taeyong melambai ke arah pintu masuk café yang baru saja terlihat seorang pria cantik masuk mencari keberadaannya.

Luhan –si pria cantik segera bergegas menuju meja yang ditempati dua pria cantik lainnya yang telah dia anggap seperti anaknya sendiri. Oleh karena itu Luhan memaksa Taeyong dan Jaemin untuk memanggilnya dengan sebutan mommy. Lagi pula Luhan sangat mengidam-idamkan memiliki anak yang manis. Dan putranya –Mark benar-benar tidak dapat diharapkan.

"Hai Taeyongie, Jaeminie. Oh mommy benar-benar merindukan kalian." Ujar Luhan ketika sudah sampai pada meja yang telah ditempati oleh Taeyong dan Jaemin. Memeluk mereka bergantian. Kemudian mendudukkan dirinya dikursi seberang mereka berdua.

"Jadi apa perkembangan yang kalian dapatkan?" Tanya Luhan langsung dengan antusias.

"Ini berita besar mom. Haechan menyukai Mark." Mulai Jaemin dengan sama antusiasnya.

Luhan melebarkan matanya. Matanya berbinar bahagia mendengar kabar dari si pria termuda diantara ketiganya. "Benarkah!" sambil memajukan tubuhnya menempel pada meja di depannya.

"Ya tentu saja. Aku sudah memastikannya sendiri." Ujap Jaemin mantap sambil menepuk dadanya bangga.

Luhan terlonjak dari duduknya dan bertepuk tangan bahagia. Menyandarkan kembali tubuhnya dengan nyaman pada sandaran kursi yang didudukinya. "Whoaa Jaeminie itu kerja bagus!"

"Oh akhirnya calon menantuku yang manis." Monolog Luhan sambil membayangkan Haechan –sang menantu idaman.

"Andai saja eommamu bisa berkumpul di sini juga Taeyongie. Mungkin akan seru sekali." Lanjut Luhan melihat pada Taeyong.

"Jangan khawatir mommy. Aku sudah melaporkannya pada eomma." Tanggap Taeyong menenangkan.

Taeyong melemparkan pandangan yang misterius pada Luhan. "Dan ku rasa dengan kehadiran Yuta akan memperlancar rencana kita."

"Yuta? Siapa itu Yuta?" Tanya Luhan yang merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh Taeyong barusan. "Apa saingan putraku yang tampan?" Tanyanya penasaran sambil memandang Taeyong dan Jaemin secara bergantian.

Jaemin yang sedang meneguk jus jerukknya hanya menanggapi dengan anggukan yang dapat dipahami oleh Luhan.

Luhan merasa seketika dirinya lemas mendengar kabar tentang kehadiran Yuta tersebut. Menyandarkan tubuhnya kembali dan terlihat tak bersemangat. "Hah ku harap Haechan tidak berubah pikiran. Aku benar-benar menginginkannya untuk menjadi menantuku."

"Tenang saja mom. Aku akan memastikannya." Ucap Taeyong menenangkan berharap mommynya itu bisa kembali ceria.

"Lagi pula aku sangat setuju Haechan dengan Mark. Menurutku mereka berdua sangat cocok." Taeyong mengerling pada Luhan ditambah dengan acungan jempol.

"Mommy juga merasa seperti itu." Tanggap Luhan masih dengan nada tidak semangatnya.

"Mark itu terlalu dingin. Seperti daddy nya. Mommy sampai khawatir kalau dia akan selamanya hidup sendiri. Benar-benar anakku yang malang." Membayangkannya saja benar-benar membuat Luhan seketika pusing. Ya Luhan sangat mengkhawatirkan putra tampannya. Kepribadian Mark memang menurun dari suaminya –Sehun. Dan Luhan harap sosok Haechan yang manis –menurutnya mampu mencairkan dinginnya Mark. Lagi pula sejak pertama kali Luhan melihat Haechan, dia sudah jatuh hati dan menandai bahwa kelak Haechanlah yang akan jadi menantunya.

"Tenanglah mom. Haechan pasti bisa mencairkan sosok Mark yang dingin itu. Ya meskipun aku belum pernah melihatnya." Ujar Jaemin menenangkan sambil memegang tangan Luhan yang gelisah pada meja.

"Tapi mereka sama-sama lambat dan terlalu buta akan hal semacam ini." Terlihat tatapan khawatir pada mata cantk luhan.

"Nah oleh karena itu disinilah kita. Membantu mereka untuk semakin dekat." Ucap Taeyong.

Luhan yang mendengarnya pun sedikit mernapas lega. "Kau benar."

Membuat si pria cantik yang memiliki umur paling matang dari ketiganya itu terdiam sedikit berpikir sesuatu yang bisa dia lakukan untuk mewujudkan keinginannya.

"Mungkin mommy harus mulai melakukan pergerakan juga." Luhan mengeluarkan smirknya. Ya dia akan berusaha keras memberi dorongan pada putranya yang tampan namun sayang sangat lamban itu.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Pagi itu Mark berakhir di ruang kerja kantornya. Mendudukkan dirinya pada kursi kebesarannya sambil melihat pada kaca besar di balik meja kerjanya, memperlihatkan jalanan Seocho yang tergolong lenggang karena saat ini masih berada pada jam kerja.

Pikiran Mark melayang pada kejadian 2 hari yang lalu. Tepatnya di acara Business Fair yang di adakan di distrik Gangnam. Acara yang dihadirinya bersama Haechan.

Entah karena apa sejak hari itu bayangannya tentang Haechan dan Yuta benar-benar sangat mengganggunya. Membuatnya merasakan kegelisahan yang tidak dia mengerti karena apa. Mark merasa kesal. Dan benar-benar butuh melampiaskannya. Tapi Mark kemudian berpikir. Kenapa dia harus sekesal ini? Tidak memiliki alasan sama sekali.

"Mark!" Panggil Sehun –sang daddy dengan suara sedikit tinggi. Membuat Mark tersadar dari lamunannya. Memutar kursinya kembali menghadap meja.

"Dad. Sejak kapan daddy di sini?"

Mark berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa yang terdapat dalam ruang kerjanya –tempat Sehun duduk saat ini.

Sehun melipat tangannya di depan dada, menumpukan kaki kanannya pada kaki kiri dan melirik Mark dengan tatapan mengintimidasinya.

"Kau bahkan tidak menyadari kapan daddy masuk ke ruanganmu?"

"Ah maafkan aku Dad. Aku sedang memikirkan sesuatu." Mark mendudukkan dirinya di sofa depan Sehun dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa tidak enak.

Sehun memicingkan matanya yang tajam pada putra semata wayangnya itu. "Daddy rasa itu sesuatu yang penting sampai membuatmu tidak fokus."

"Tidak tidak. Bukan masalah yang penting." Mark menyanggah dengan segera ucapan sang Daddy barusan.

Sehun hanya mengedikkan bahunya sekilas. "Baiklah. Jadi apa kau sudah mempelajari kontrak kerja sama yang diajukan Mr. Jang?"

Mark salah tingkah mendapat pertanyaan seperti itu. Tidak menyangka bahwa daddy nya akan datang untuk membahas pekerjaannya. "Ah itu –aku sedang mengerjakannya Dad."

"Kau seperti bukan Mark. Ini sudah lewat dua hari dan kau belum menyelesaikannya juga? Kau benar-benar lambat kali ini." Ucap Sehun kembali mengintimidasi cara kerja Mark. "Kemana perginya Mark yang biasanya?"

"Maafkan aku Dad. " Sesal Mark

"Apa ada hal yang mengganggumu?"

"Tidak. Hanya saja –" Mark sedikit berpikir tentang apa yang mengusiknya. Dan pikirannya kembali melayang pada kejadian di Business Fair dua hari yang lalu.

"Hanya saja?" Tanya Sehun yang menunggu lanjutan penjelasan dari Mark.

Mark kembali tersadar dari lamunannya dan sedikit menggelengkan kepalanya. Kemudian menatap Sehun dengan tidak yakin. "Aku hanya tidak fokus."

"Dan apa yang membuatmu tidak fokus?" Nampaknya Sehun sangat tidak menerima alasan Mark yang terkesan bertele-tele. Membuatnya terus mendesak Mark untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Mark menghembuskan napas beratnya. "Entahlah aku juga tidak yakin."

Sehun mulai memikirkan apa ada yang salah dengan putranya itu sampai tak sengaja dia menebak tentang sesuatu yang tiba-tiba muncul dipikirannya. "Apa ada yang terjadi di acara Business Fair kemarin?"

Mark tersentak kaget mendengar pertanyaan sang daddy barusan. Sedikit merasa gelisah namun tetap terlihat tenang. Ya katakanlah Mark memiliki pengendalian diri yang baik. "Kenapa Daddy bertanya seperti itu?"

"Apa karena Haechan?" Satu pertanyaan lagi dari Sehun yang kali ini benar-benar membuat Mark terdiam kaku pada tempatnya.

"Apa yang –"

"Hanya menebak. Karena daddy lihat kau tidak seperti biasanya." Potong Sehun sambil terkekeh kecil. Ternyata perkiraannya benar. Sejenak bayangan Sehun kembali ke beberapa tahun silam saat dirinya pernah tak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar hanya karena Luhan. merasa saat ini apa yang dialami oleh putranya sangat mirip dengannya.

Sehun melirik Mark dan mulai membahas kejadian-kejadian yang membuatnya sedikit kesal pada putra kebanggaannya itu. "Perlukah Daddy ingatkan kau tidak memperhatikan saat rapat direksi kemarin?"

"Aku benar-benar minta maaf tentang kemarin dad." Ucap Mark dengan sorot mata yang merasa bersalah.

Sehun beralih menatap Mark dengan tajam dan mulai berbicara dengan nada berkuasanya. "Dengar Mark. Kau sekarang sudah sepenuhnya turun tangan pada perusahaan ini dan daddy sangat bertaruh banyak padamu. Cepat atau lambat kau akan jadi penerusku."

Sehun melihat Mark yang masih senantiasa terdiam. "Daddy harap kau tidak mengulanginya lagi. Entah apapun itu yang mengusikmu, jangan pernah coba-coba membawanya ke sini. Kau paham?" Sehun memberikan peringatan.

"Baik dad. Aku tidak akan mengulanginya." Jawab Mark kembali dengan sorot mata keyakinannya.

Sehun menganggukkan kepalanya sekilas. Kembali tersenyum bangga pada putranya. Melihat jam tangannya sekilas yang saat itu telah menunjukkan waktu makan siang.

"Nah sekarang ikut daddy makan siang dengan klien." Ajak Sehun dengan nada perintah yang tidak mau dibantah. Mungkin putranya perlu sedikit dipaksa untuk mengembalikan cara kerjanya yang biasanya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Hari ini terasa melelahkan untuk Mark. Tidak, kurasa sudah lewat empat hari. Entah karena apa Mark tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Dan dia benar-benar merasa kalau ini bukanlah dirinya. Seorang Mark Lee terkenal dengan pengendalian dirinya yang baik, mengabaikan apapun itu yang tidak penting untuknya. Dan menurut Mark, apa yang mengganggu pikirannya selama beberapa hari terakhir benar-benar hal yang tidak penting.

Bagaimana bisa hal yang tidak penting terasa sangat menyita pikirannya sekarang? Ini tidak benar. Benar-benar tidak benar.

Haechan. Haechan. Haechan.

Mark sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Di malam yang sudah selarut ini Mark benar-benar membutuhkan mendinginkan kepalanya. Mark melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Bersiap untuk beristirahat di ranjangnya yang nyaman.

Demi Tuhan, Mark. Berhenti memikirkannya!

Dan pria baru itu –Yuta. Haruskah aku mencari tau?

"Hah ini benar-benar menggelikan." Mark melempar handuk kecilnya dengan asal merasa kesal dengan sekelebat pikirannya barusan. Melemparkan tubuhnya pada ranjang nyamannya sebelum getar ponsel kembali mengganggunya.

Ddrrrtt ddrrtt

Mark meraih ponselnya yang bergetar di meja nakas samping ranjangnya.

Taeyong Hyung is calling…

"Iya hyung?"

"Apa kau ada acara di minggu malam?" Tanya Taeyong segera tanpa basi-basi.

"Tidak. Ada apa?" Ya di akhir pekan Mark selalu terbebas dari pekerjaannya di kantor. Membuatnya benar-benar memiliki waktu luang. Tapi tentunya hal itu tidak berlaku jika banyak pekerjaan menumpuk yang mengatri untuk segera disentuhnya hingga membuat Mark terkadang merasa sulit bahkan untuk sekedar bernapas.

"Baguslah. Kalau begitu kau harus kemari di minggu malam. Aku akan mengadakan acara baberque party di rumah." Ujar Taeyong kemudian.

Mark berpikir sejenak. "Apa akan ada banyak orang?" Ya Mark tipikal orang yang tidak menyukai keramaian. Tapi apabila itu urusan pekerjaan atau sesuatu yang dirasanya akan memberikan keuntungan, Mark akan memberikan toleransi untuk itu.

"Tidak hanya beberapa orang dekat saja."

Jawaban Taeyong yang menyebutkan hanya akan ada beberapa orang yang datang membuatnya sedikit tergiur. Toh dia tidak memiliki acara di rumah. Tidak ada salahnya bukan. "Baiklah."

"Bagus. Pastikan kau datang, oke."

"Iya Taeyong hyung."

Pip

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Terdengar suara mobil terparkir tepat di depan rumahnya. Taeyong yang saat itu berada di ruang tamu untuk mengambil ponsel tunangannya yang tertinggal, membuka pintu utama mansionnya dan menemukan Mark keluar dari mobil putih kesayangannya.

"Hei Mark kau datang." Sambut Taeyong di depan pintu. Mark yang melihat Taeyong telah berdiri di depan pintu segera menghampiri si pemilik rumah tersebut. Menyapa sekilas dengan anggukan kepala dan tersenyum tipis pada Taeyong. Taeyong memiringkan badannya untuk mempersilahkan Mark masuk.

"Ayo ke belakang." Ajak Taeyong sambil berjalan mendahului menuju halaman belakang rumah di sebelah dapur setelah menutup kembali pintu depan.

Tampak halaman belakang itu sudah di lengkapi dengan perlengkapan barbeque dan meja panjang dengan beberapa kursi yang mengeilinginya. Suasana terasa hangat dengan hiasan lampu-lampu taman yang terpantul oleh gemericik air di kolam renang. Membuat Mark benar-benar merasa nyaman di sini. Ya terlebih Taeyong menepati janjinya bahwa tidak akan ada banyak orang, hanya orang terdekat saja. Dan Mark tidak pernah menyangka kalau orang terdekat yang dimaksud oleh Taeyong adalah hanya Jaehyun, Haechan dan dirinya sendiri.

Aku merasa seperti sedang double date.

"Kau bisa membantu Haechan kalau mau. Aku dan Jaehyun akan membuat saus dan squash." Ucap Taeyong ada Mark yang sedari tadi senantiasa berdiri di tempat.

Mark pun melangkahkan kakinya menuju Haechan yang saat ini sedang membakar daging, beberapa sayuran, jagung dan sweet potato. Dari belakang Haechan tampak mungil dengan bahu sempitnya. Tubuhnya yang dibalut dengan sweater longgar dan celana pendek berwarna pastel membuat Haechan terlihat menyenangkan untuk dipandang oleh Mark.

"Bisa ku bantu?" Tanya Mark dari belakang Haechan.

Haechan membalikkan badannya kaget mendengar suara yang –ya mungkin sangat dia kenali sekarang. Bagaimana Haechan tidak mengenali jika suara itu selalu saja mampir di pikirannya tanpa permisi.

Haechan tersenyum manis melihat Mark. Ya mulai saat ini Haechan memutuskan untuk menikmatinya. Menikmati debaran jantungnya. Dia hanya perlu mengendalikan sikapnya mengatasi kegugupannya yang berlebihan agar tidak melakukan hal-hal bodoh di depan Mark. Seperti gemetaran yang berlebihan mungkin.

"Jika tidak merepotkan." Jawab Haechan dengan senyum manis yang menampakkan gigi rapinya.

Oh senyum itu. Mark merasakan sedikit getaran asing yang tidak dipahaminya saat melihatnya.

"Tidak tentu saja." Kali ini Mark mengambil alih sumpit yang dipegang oleh Haechan dan mulai fokus pada panggangannya.

Haechan yang melihat itu hanya mengikuti gerak-gerik Mark. Mengamati pria itu dari samping. Ya mereka berdiri berdampingan saat ini.

Haechan mengamati penampilan Mark malam ini. Masih tetap mempesona dengan celana jins dan stripe T longgarnya. Membuat Haechan betah lama-lama memandangi Mark diam-diam. Haechan tidak habis pikir. Kenapa dia selalu terlihat mempesona?

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Jaehyun, Taeyong, Mark dan Haechan kini melingkari meja yang telah penuh dengan berbagai masakan khas barbeque party. Memakannya dengan sesekali melemparkan candaan satu sama lain.

Jaehyun dan Taeyong terlihat membahas banyak hal dengan Mark. Membuat Haechan memandang mereka bertiga degan tatapan heran sambil menyumpitkan daging ke dalam mulutnya. Berpikir betapa cepatnya mereka akrab seperti sudah mengenal lama saja.

Taeyong memandang Haechan dengan senyumannya. "Kau pasti tau aku dan Jaehyun adalah teman kampus dulu."

"Iya aku tau hyung."

"Tapi mungkin kau tidak tau kalau Mark adalah adik tingkat kami di perguruan tinggi yang sama."

"Benarkah?" Tanya Haechan kaget sambil menatap Taeyong, Jaehyun dan Mark bergantian. Ketiganya terkekeh melihat Haechan membulatkan matanya lucu dengan kedipan polosnya tanda bahwa berita yang baru saja didengarnya benar-benar baru ditelinganya.

"Ya. Hyung sudah mengenal Mark sejak lama. Begitu pula dengan Jaehyun."

"Tapi hyung tidak pernah menceritakannya."

"Kau tidak tanya." Kekeh Taeyong sedikit mengejek adiknya.

Taeyong melirik sekilas pada Mark dan kembali melihat Haechan. "Dan siapa sangka bahwa Mark adalah anak dari teman appa." Taeyong mengedikkan bahunya dengan alis yang diangkat dan tatapan jahil.

Semua terasa masuk akal bagi Haechan sekarang. Bagaimana hyungnya tidak penasaran saat malam perkenalan itu. Padahal Haechan sangat tau bahwa Taeyong tipikal orang yang tidak bisa diam jika melihat orang baru. Dan lagi hyungnya itu selalu bisa menghubungi Mark. Mana mungkin orang yang notabene baru kenal bisa semudah itu untuk sekedar menghubungi meminta bantuan. Nomor ponsel, tentunya sudah dia dapatkan dari jauh-jauh hari bukan.

"Itulah mengapa hyung sering meminta bantuan Mark hyung?" Haeechan memicingkan mata tak heran pada hyungnya itu.

Taeyong mengedikkan bahunya sekilas sebelum menanggapi pertanyaan Haechan barusan. "Ya salah satunya. Salah duanya adalah karena aku mempercayakan dirimu pada Mark." Terlihat Taeyong yang kembali menapakkan senyum menggodanya.

Oke Haechan tidak terima. Jelas tidak terima dengan hal ini. Mendengus kesal sebelum menatap Taeyong kembali. "Hyung sudah ku bilang aku sudah besar."

Ketika Haechan merasa bahwa dirinya sudah cukup kesal dan dia sangat yakin bahwa nada bicaranya barusan sangat mewakili kekesalannya. Tapi lihatlah kenyataannya sekarang. Haechan lebih terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk dengan bibir yang tanpa dia sadari terpout dengan lucunya. Membuat ketiga orang yang ada di sana terkekeh menyadari ketidak sesuaian perkataan dan ekspresi yang ditunjukan Haechan.

Taeyong tertawa mengejek. "Katakan itu pada dirimu sekarang." Melihat bagaimana Haechan merajuk yang benar-benar terlihat seperti anak kecil adalah hiburan tersendiri bagi Taeyong.

Taeyong berdehem sekilas untuk menghilangkan tawanya dan mulai menatap sang adik sedikit serius. "Hyung sangat sibuk sekarang dan ku harap kau mengerti. Hyung tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu. Oleh karena itu hyung butuh orang lain untuk menjaga dirimu. Mark juga tidak keberatan, iya kan?" Tanyanya kemudian pada Mark.

Mark yang pada saat itu sedang menyumpitkan daging pada mulutnya mengangguk sekilas. Memastikan bahwa daging tersebut sudah tertelan dengan sempurna sebelum melihat ke arah Taeyong. "Tidak masalah untukku." Jawab Mark dengan tenang. Namun kini dilengkapi dengan senyuman tipisnya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Semua makanan yang tersaji beberapa saat yang lalu kini telah habis tak tersisa. Menyisakan piring-piring dan beberapa alat lainnya yang menunggu untuk dibereskan. Haechan hapal dengan kebiasaan hyungnya, sangat hapal malah. Taeyong akan cenderung melupakan segalanya jika sudah bersama dengan tunangannya –Jaehyun. Tidak tau saja bahwa Taeyong dan Jaehyun sebenarnya sengaja kali ini.

Meninggalkannya sendiri di halaman belakang membereskan semua kekacauan yang menunggu untuk dirapikan. Tapi beruntung baginya Mark berbaik hati untuk tetap tinggal membantunya membereskan beberapa peralatan.

Sejujurnya Haechan bingung harus menyebutnya apa. Keberuntungan atau musibah? Pasalnya dia merasa senang Mark di sini namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Mark benar-benar tidak baik bagi jantungnya. Jantungnya bekerja dengan cepat, terlalu cepat untuk Haechan, memompa darah terlalu cepat hingga Haechan sempat berpikir apakah jantunya hanya memompa darah menuju wajahnya? Karena Haechan merasa wajahnya panas dan dia yakin sudah sangat terlihat merah saat ini. Haechan malu entah untuk alasan apa. Ini benar-benar menggelikan.

Keheningan terjadi sangat lama diantara keduanya. Hingga Mark memutuskan untuk mencairkan suasana.

"Kau menyukai bisnis? Ku lihat kau dari fakultas bisnis." Tanyanya asal.

Masih dengan kegiatannya membereskan piring, Haechan menjawab Mark tanpa menghentikan pekerjaannya bahkan tidak hanya untuk sekedar melihat pada Mark. Haechan sedang berusaha keras untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Ya, aku menyukainya."

"Pantas saja kau hadir pada acara Business Fair kemarin."

"Sebenarnya itu hanya kebetulan yang menguntungkan." Aku Haechan sambil terkekeh pelan.

"Appa sedang berada di China dan Taeyong hyung tidak mau menghadirinya. Jadi aku yang hadir. Dan itu tawaran yang menarik untukku." Lanjut Haechan menjelaskan.

"Aku bisa melihatnya." Mark telah menyelesaikan pekerjaannya. Duduk di tempat dan memandang Haechan. Membuat Haechan yang merasa bahwa Mark terus memandangnya jadi salah tingkah.

Haechan berdehem sekilas untuk meredakan kegugupannya. Memberanikan diri melihat ke arah Mark dan mulai melemparkan pertanyaan sebagai balasan.

"Jadi apakah memimpin perusahaan di usia semuda ini merepotkan?" Tanya Haechan asal namun sedikit penasaran. Ya mungkin saja kelak Haechan juga akan ikut andil di perusahaan appa nya sama seperti yang Mark alami. Dan Haechan rasa perlu belajar dari pakarnya.

"Sebenarnya tidak memimpin. Aku hanya membantu daddy." Jawab Mark sedikit merendah. Padahal yang Haechan tau dari eomma nya bahwa Mark merupakan calon penerus Sehun ahjussi dan kini posisinya adalah sebagai CEO muda.

"Dan aku yakin cepat atau lambat Mark hyung yang akan menggantikan Sehun ahjussi."

"Ya keharusan membuatku mau tidak mau melakukannya." Mark mengedikkan bahunya santai.

Haechan mendudukkan dirinya di kursi depan Mark dan mulai menatap Mark dengan pandangan penasarannya. "Tapi ku rasa kau akan menyukainya di lihat bagaimana tertariknya Mark hyung pada acara Business Fair kemarin."

Bayangan Haechan terbang pada acara yang dihadirinya bersama Mark lima hari yang lalu. Dan melihat seseorang memiliki pandangan ketertarikan yang sama seperti dirinya, membuat Haechan merasa menemukan belahan jiwanya.

Jangan salah mengartikan. Belahan jiwa yang dimaksud Haechan di sini tidak berarti sedalam itu. Hanya saja –hanya sebatas memiliki ketertarikan yang sama. Ya.

Ya mari lihat sampai mana definisi belahan jiwa berlaku untuk Haechan dan Mark.

"Kau tau?" Tanya Mark sedikit kaget.

Haechan terkekeh melihat kekagetan Mark. "Sesama pemuja bisnis akan tau pandangan memujanya."

"Benarkah?" Mark terkekeh sekilas. "Ya ku rasa aku juga tau."

Haechan dan Mark memutuskan untuk berpindah ke dalam karena udara malam semakin terasa menusuk kulit mereka. Berjalan berdampingan dengan tenang dan lamban seolah mereka ingin menikmati kedekatan yang tak kasat mata. Tak ingin malam ini berlalu begitu saja. Karena keduanya merasa terhitung sejak malam perkenalan itu, Mark dan Haechan tidak pernah terlibat dengan percakapan yang panjang. Ya meskipun kali ini tidak bisa dikatakan panjang. Tapi setidaknya ini kemajuan.

Mereka berhenti pada ruang keluarga yang dilengkapi dengan grand piano. Mendudukkan diri mereka di sofa yang terdapat di sana.

"Kau pasti bisa memainkannya." Ucap Mark sambil melirik pada grand piano di sampingnya.

Haechan ikut melihat pada grand piano kesayangannya. "Tentu saja. Hyung pernah menjemputku di tempat les ku kan."

Haechan menghampiri grand piano tersebut, mendudukkan dirinya disana dan mulai memainkan lullaby yang sering Jaejoong mainkan untuknya dan sang hyung sejak dia kecil. Ya katakanlah Haechan menyukai bermain piano dari eomma nya. Dan Haechan sungguh bersyukur bakat sang eomma menurun padanya.

Mark yang melihat Haechan mulai memainkan pianonya dengna nada-nada yang menenangkan, mendirikan dirinya dan menghampiri Haechan. Berdiri bersandan di grand piaono tersebut sambil memperhatikan jari mungil Haechan memainkan tuts-tuts nya dengan sangat luwes.

Sekilas Mark merasa Haechan sangat mempesona dengan mata terpejam menikmati alunan nada yang dibuatnya. Membuat Mark tersenyum tampan dan berkata dengan tidak sadar pada benarknya. Cantik.

Perpaduan antara Haechan dan grand pianonya sangat dramatis bagi Mark. Bahkan dapat membuat seorang Mark memandang dengan memuja –pandangan yang tak pernah ditujukannya untuk siapapun.

Haechan menyelesaikan lullaby nya dengan sangat apik. Menatap Mark yang berdiri menyandar pada grand pianonya sambil menyilangkan tangannya di dada yang diketahui menatapnya sedari tadi. Mark tersenyum. Dan ini benar-benar pemandangan yang baru bagi HAechan. Membuat Haechan sedikit terpana. Oh kurasa aku semakin jatuh cinta.

Haechan berdehem sejenak untuk menghilangkan kegugupannya dan menawarkan sesuatu pada Mark. "Hyung mau mencoba?" Menepuk kursi grand piano yang dia duduki.

"Tidak tidak. Aku hanya mahir memainkan gitar." Mark mengangkat tangannya.

Penjelasan Mark barusan membuat mata Haechan berbinar. "Whoaa benarkah? Mungkin lain kali kita bisa berkolaborasi."

Mark terkekeh melihat Haechan yang nampak bersemangat tentang gagasan kolaborasinya. Kolaborasi? "Ya lain kali."

"Sudah larut. Ku rasa aku harus pulang." Ujar Mark sedikit menyesal melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

"Secepat ini?" Haechan benar-benar tidak sadar dengan pertanyaannya barusan. Mulut bodoh. Haechan benar-benar merutuki mulutnya yang tidak bisa dikontrol. Menutup mulutnya dengan cepat. Dan sedikit menepuknya dengan kesal.

Mark yang memperhatikan gerak-gerik Haechan tertawa riang. Tangannya bergerak mengusak rambut Haechan. Oke kali ini Mark benar-benar tidak bisa menahan diri.

"Kau harus segera tidur." Ujar Mark sambil memundurkan tubuhnya berniat untuk pulang. Haechan ikut berdiri dan mengantarkan Mark menuju pintu depan. Mereka berjalan beriringan dengan tenang.

Kaki Haechan terasa berat enggan untuk mengakhiri malam ini dengan cepat. Menundukkan pandangannya pada langkahnya dengan wajah yang menyiratkan ke engganan.

Mark yang mencuri pandang sejak tadi pada Haechan merasa tidak tega akan hal itu. Bagaimanapun perubahan mood Haechan disebabkan oleh dirinya juga. Tapi Mark benar-benar harus mengakhiri malam ini. Sementara. Ya untuk sementara.

Mark menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Mengarahkan tubuhnya pada Haechan yang dibalas hal serupa pula oleh pria manis itu. Haechan memandang Mark dengan tatapan bingung yang masih sarat akan kesedihan. "Kalau kau mau aku bisa menjemputmu besok malam di tempat lesmu. Bagaimana?"

Ya Mark harap dengan begini mood Haechan akan kembali bagus.

Pandangan Haechan berubah berbinar seperti sedia kala. Menganggukkan kepalanya dengan mantap dan menjawab pertanyaan Mark. "Ya tentu saja. Aku mau."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan menutup pintu depan rumahnya setelah mengantarkan Mark untuk pulang. Hatinya berbunga-bunga sekarang. Bahkan senyuman tidak bisa hilang dari wajah manisnya.

"Perkembangan eh?" Tegur Taeyong yang terlihat berjalan mendekatinya bersama Jaehyun.

Haechan memutar matanya sekilas kemudian bersidekap menatap Taeyong dan Jaehyun. "Hyung kemana saja? Aku tau kalian berdua sedang dalam keadaan jatuh cinta dan benar-benar tidak bisa membendungnya. Tapi bisakah kalian tidak meninggalkanku begitu saja."

Keduanya tertawa menanggapi celotehan dari Haechan. Jaehyun mengusak rambut calon adik iparnya gemas.

"Maafkan aku. Hyungmu benar-benar memaksa dan aku tidak bisa menolaknya."

Taeyong melotot ke arah Jaehyun. Apa-apaan tunangannya itu. Melemparkan kesalahan pada dirinya. Padahal kan itu kesepakatan berdua. Cih.

"Aku bercanda baby."

Taeyong memutar matanya dan mengabaikan Jaehyun yang kali ini sudah melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang rampingnya. Mengalihkan atensinya pada adik kesayangannya.

"Jadi bagaimana? Apakah ada perkembangan?" Tanya Taeyong dengan alis yang dinaik-naikkan.

Wajah Haechan merona merah digoda oleh Taeyong. "Apa sih hyung."

Taeyong dan Jaehyun yang melihat bagaimana wajah Haechan merona merasa puas. Setelahnya Jaehyun menegur tunangannya. "Baby berhenti menggoda adikmu."

"Tapi dia benar-benar menggemaskan Jae. Lihat lihat pipinya memerah!"

"Hyung!" Oke Haechan ingin menenggelamkan dirinya pada selimut tebalnya saat ini juga. Apa-apaan pipinya ini, merona tanpa bisa ditahan.

"Sudah jangan dengarkan hyungmu." Lerai Jaehyun.

Jaehyun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu untuk mengambil barangnya. "Hyung akan menginap?" Tanya Haechan mengikuti bersama Taeyong.

"Tidak. Aku akan pulang."

Pamit Jaehyun setelah dirasa barangnya sudah masuk semua ke dalam tasnya. Menatap kakak beradik yang senantiasa berdiri di belakangnya untuk berpamitan. "Aku pulang dulu."

Jaehyun meangkahkan kakinya pada Taeyong. Meraih pinggang ramping Taeyong untuk kemudian mencium kening tunangannya itu dengan lembut. "Mm hati-hati di jalan." Jawab Taeyong setelah ciuman itu berakhir.

Mereka bertiga berjalan ke arah pintu depan. Jaehyun bersiap memasuki mobilnya sebelum membalikkan tubuhnya kembali menghampiri Taeyong. "Apa la –"

Chu

Jaehyun meraih bibir cherry Taeyong dengan cepat dan menghadiahinya dengan ciuman lembut sarat akan perasaan memuja dan tidak mau berpisah.

Haechan yang melihatnya berdehem keras untuk mengingatkan bahwa di sini masih ada dirinya yang melihat. Yang benar saja. Haechan tau bahwa hyung dan tunangannya itu seringkali tidak tau tempat.

"Ku harap kalian tidak lupa kalau di sini masih ada aku." Tegur Haechan mengingatkan.

Membuat Jaehyun terkekeh disela ciumannya dan melepas bibir cherry Taeyong.

Taeyong menatap adiknya dengan tatapan menggodanya. "Kau iri ya? Oleh karena itu cepatlah punya kekasih."

"Sudah ku bilang aku akan punya kalau sudah saatnya."

Jaehyun tau bahwa Taeyong sangat menyayangi adiknya. Mereka berdua bisa jadi terlihat sebagai brother goals. Tapi terkadang juga terlihat saling menggoda satu sama lain. Membuatnya tidak dapat menahan tawa jika melihatnya. "Aku pulang sekarang." Pamit Jaehyun mengalihkan atensi kedua kaka beradik itu.

Jaehyun melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan bersiap untuk pulang.

"Jangan lupa hubungi aku kalau sudah sampai." Lambai Taeyong mengantar kepergian Jaehyun.

Haechan mengakuinya. Mengakui bahwa hyungnya dan Jaehyun sangat cocok satu sama lain. Taeyong mungkin bisa jadi sangat dewasa saat bersama Haechan namun beda halnya jika sudah bersama Jaehyun. Sosok Jaehyun yang menenangkan, lembut dan dewasa nampaknya membuat Taeyong tergoda untuk berubah menjadi anak kecil yang haus akan perhatian. Jaehyun dapat meanjakan dan menjaga Taeyong dengan baik. Sangat baik. Membuat Haechan bersyukur hyungnya menemukan orang yang tepat.

Haechan dan Taeyong melangkahkan kaki mereka dengan beriringan menuju lantai atas untu istirahat di kamar masing-masing. Taeyong tetap mendesak Haechan dengan rasa penasarannya meskipun Taeyong sudah memperhatikan interaksi adiknya itu dengan Mark.

Ya menghilangnya Taeyong dan Jaehyun tadi memang disengaja. Taeyong berpikir mungkin ada baiknya meninggalkan Haechan dan Mark berdua agar mereka bisa mendekat satu sama lain. Dan nampaknya usahanya membuahkan hasil.

"Jadi apakah ada perkembangan?" Tanya Taeyong untuk kali ketiga. Aeyong benar-benar ingin mendengarnya langsung dari adik kesayangannya itu.

"Perkembangan apa yang hyung maksud?"

"Kau dan Mark tentu saja."

"Hyung tidak ada apa-apa antara aku dan Mark hyung. Kami hanya berteman. Ya setidaknya aku sedikit tau tentang dirinya barusan." Haechan tersenyum sekilas mengingat menit-menit yang dia habiskan bersama Mark beberapa saat yang lalu.

"Itu awal yang bagus." Tanggap Taeyong dengan nada gembira.

"Oh iya hyung sepertinya besok malam hyung tidak perlu menjemputku di tempat les."

"Kenapa?" Tanya Taeyong heran. Pasalnya adiknya itu sangat tidak bisa jauh darinya. Dan mengantar jemput Haechan adalah rutinitas bagi Taeyong. Mendengar adiknya tidak mau dijemput nampaknya membuat Taeyong merasa sedikit terusik.

"Mark hyung yang akan menjemputku." Aku Haechan dengan malu-malu.

Oke Taeyong tidak pernah menyangka bahwa Haechan akan menjawabnya dengan jawaban barusan. Senyum lebar Taeyong tidak dapat dibendung lagi. "Whoaa Lee Haechan! Aku tidak tau kau mengambil langkah secepat ini."

Haechan yang melihat hyungnya terlampau bahagia merasa tidak enak. Apa dia salah menyampaikan maksudnya? "Ini tidak seperti yang hyung pikirkan. Tadi itu Mark hyung menawarkan diri dan aku –"

"Whoaa daebak! Jadi Mark mulai mengambil langkah sekarang." Potong Taeyong. Haechan sudah pernah bilang kan kalau hyungnya itu sangatlah tidak sabaran. Dan itu sangat menjengkelkan.

"Hyung jangan berpikir sejauh itu." Tegur Haechan.

Haechan memang sedikit berharap. Tapi dia tidak mau harapannya jatuh begitu saja. Ini hal pertama baginya dan dia benar-benar menghindari yang semacam itu.

"Ya kita lihat saja nanti." Timpal Taeyong dengan smirk misteriusnya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Ddrrtt drrtt

Haechan mengambil ponselnya disaku celananya. Saat ini dia masih setia duduk di kursi grand piano tempat lesnya. Masih menunggu guru privatnya memilihkan lagu klasik milik maestro dunia untuk Haechan coba mainkan.

Haechan memandang ponselnya dengan bingung. Pesan dari nomor tidak dikenal.

Sudah selesai?

Mark

Mark? Mark hyung? Oh astaga! Haechan terlonjak dari tempat duduknya. Segera membalas pesan dari Mark.

Sebentar lagi.

Haechan masih memandang heran ponselnya. Berpikr dari mana Mark bisa mendapat nomor ponselnya. Ah ya. Pasti Taeyong hyung.

Beberapa saat kemudian masuk balasan pesan dari Mark.

Baiklah tunggu aku.

Haechan berniat membalas pesan itu. Tapi nampaknya harus mengurungkan niatnya saat melihat guru privatnya telah kembali menghampirinya dengan buku nada di tangannya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan sudah menunggu Mark dua puluh menit yang lalu di depan tempat lesnya. Menatap khawatir jalanan di depannya. Hujan mendadak turun dengan derasnya. Di jalanan sana terlihat dipenuhi oleh kendaraan yang berjalan sedikit lambat. Mungkin karena jarak pandang dihujan yang bisa dibilang sangat deras ini membatasi pandangan pengendara.

Haechan berkali-kali melihat pada jam tangannya dan merasa khawatir pada Mark yang tidak muncul juga.

Bbrrmm

Sebuah motor merah berhenti di depannya. Si pengendara membuka helmnya dengan segera yang ternyata orang itu adalah pria yang ditunggu Haechan sejak tadi. Haechan tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya melihat keadaan Mark saat ini.

"Mark hyung. Kau basah kuyup!" Ujar Haechan menghampiri Mark yang masih setia berada di atas motornya.

"Maafkan aku. Mobilku harus masuk bengkel jadi aku membawa motorku." Mark membenarkan rambutnya dan menatap menyesal pada Haechan.

Hal ini benar-benar tidak terduga. Mobilnya mendadak tidak dapat digunakan dan mengharuskannya untuk dibawa ke bengkel dengan segera. Sayangnya mobilnya itu butuh waktu yang tidak dapat Mark toleransi untuk menjemput Haechan. Mau tidak mau Mark berakhir dengan memutar otaknya. Untung saja masih ada motor kesayangannya yang terparkir rapi di garasi rumahnya.

Dan hal tidak terduga setelahnya kembali terjadi. Ditengah perjalanan hujan mendadak turun dengan derasnya. Inginnya untuk berhenti, menunggu sampai hujan reda. Namun membayangkan Haechan menunggunya membuat Mark mau tak mau menerobos hujan lebat ini.

Mark melepas leather jacket hitamnya dan menyodorkannya pada Haechan dan menyisakan kaos putih polos tipis yang melekat pada tubuhnya. "Ini pakailah."

Haechan yang melihatnya tentu saja menolak. Mark sudah repot-repot menjemputnya. Kehujanan pula. Tentu saja Haechan tidak sampai hati membiarkan Mark bertambah basah kuyup. "Tapi Mark hyung –"

"Tak apa. Sudah terlanjur basah. Lebih baik kau yang pakai." Mark tersenyum menenangkan. Memberi pengertian bahwa dia benar-benar baik-baik saja.

Mark menyodorkan helm yang dibawanya untuk Haechan. "Ayo naik."

Tanpa menunggu lagi Haechan memakai leather jacket dan helm yang diberikan Mark. Kemudian menaiki motor tersebut.

"Pegangan yang erat. Kurasa aku akan ngebut." Mark memperingatkan sambil memakai helmnya.

Haechan tersentak mendengarnya. Dia gugup sekarang. Sangat gugup. Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan.

Jantung bodoh berhenti mendebar dengan menggila. Ini bukan saat yang tepat. Haechan senantiasa meruntuki cara kerja jantungnya yang menurutnya sangat tidak wajar.

Haechan terdiam di tempatnya menggenggamkan tangannya dengan erat masih enggan berpegangan pada Mark.

Mark yang merasa Haechan tidak menanggapi perintahnya menarik tangan kanan Haechan untuk melingkar diperut ratanya. Di ikuti dengan menarik tangan kiri Haechan setelahnya.

Haechan merasakan wajahnya sangat panas sekarang. Jangan lupa pada debaran jantungnya yang semakin menggila seakan ingin meledakkan dadanya.

Mark mulai memacu motornya membelah jalanan Seocho dengan kencang. Membuat Haechan mau tidak mau semakin mendekatkan tubuhnya pada Mark dan memeluknya semakin erat.

Debaran jantung yang tidak dapat ditahan oleh Haechan dirasa dapat dirasakan pula oleh Mark karena saat ini dadanya menempel dengan sempurna pada punggung kokoh Mark. Dan Haechan tidak dapat menahan rasa malunya karena hal itu. Namun apalah daya keadaan saat ini sangat tidak mendukung untuknya. Yang bisa Haechan lakukan setelahnya hanya menyembunyikan wajahnya di punggung kokoh milik pria tampan di depannya itu.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Beberapa menit berlalu terasa memakan waktu bertahun-tahun bagi Haechan. Baru disadarinya bahwa Mark menghentikan motornya di basement gedung yang tidak Haechan ketahui ini di mana.

Heachan mulai melepakan pegangannya pada perut Mark dan bertanya heran. "Kita di mana?"

"Apartemenku. Ku rasa akan sangat berbahaya untuk meneruskan ke rumahmu di tengah badai seperti ini. Jadi ku putuskan berhenti di tempat terdekat." Jelas Mark sambil melepas helmnya.

Mereka berdua turun dari motor. Mark membantu Haechan melepas helmnya dan menyipannya di atas motornya.

"Ayo masuk." Ajak Mark sambil meraih tangan Haechan tanpa sadar.

Keduanya berjalan beriringan menuju lift yang akan membawa mereka ke atas –tapatnya lantai tujuh tempat apartemen Mark berada. Masih dengan tangan yang senantiasa saling menggenggam.

Pintu lift terbuka dan mereka berdua langsung masuk ke dalam. Terdiam sejenak mencoba menyesuaikan suhu tubuh mereka yang kedinginan pasca kehujanan. Mark dan Haechan melihat pantulan diri mereka pada dinding lift yang terbuat dari kaca. Sedikit berpikir ada yang aneh dari keadaan mereka sekarang. Lalu keduanya menatap satu sama lain setelahnya menurunkan pandangan meraka pada tangan mereka yang masih bertautan.

Haechan membolakan matanya kaget melihat tanganya dan Mark saling bertautan. Keduanya segera melepas tautan tangan itu setelah sadar. Mark menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan Haechan menjatuhkan matanya ke arah yang berlawanan dari tempat Mark berdiri saat ini sambil mengusap lengannya pelan. Ya Mark dan Haechan sama-sama sedang gugup sekarang.

Mark berdehem sejenak. "Maafkan aku."

"Ta –tak apa." Jawab Haechan masih dengan menundukkan kepalanya dalam.

Keduanya menjadi canggung sekarang. Kenapa lantai tujuh terasa memakan waktu yang cukup lama untuk Mark. Oke dia benar-benar merasa kegugupannya sekarang terlalu berlebihan dan tidak masuk akal.

Haechan merasa keadaan kali ini sangat tidak nyaman bagi keduanya. Membatnya berniat mencairkan suasana walaupun hanya dengan pertanyaan ringan. "Ku kira kau pulang ke rumah, hyung."

Mark melirik Haechan sekilas kemudian menatap kedepan kembali, berniat menjawab pertanyaan Haechan tanpa menatap kearah anak itu. Demi Tuhan Mark sangat gugup sekarang. Dan menatap mata Haechan bukan pilihan yang bijak untuknya saat ini.

"Karena jarak rumah dengan kantor yang sedkit memakan waktu sedangkan aku terkadang pulang larut jadi kuputuskan untuk memiliki satu unit di dekat sini. Paling tidak bisa ku gunakan saat aku benar-benar tidak bisa pulang." Jelas Mark mencoba tenang.

Ting

Pintu lift terbuka menandakan mereka telah sampai di lantai tujuh. Mark melangkahkan kakinya lebih dulu diikuti dengan Haechan di belakangnya. Mark menghentikan langkahnya di pintu yang bertuliskan nomor 82. Mendial beberapa nomor password pada pintunya dan membuka pintu tersebut setelahnya.

Mark mempersilahkan Haechan masuk. Menyimpan sepatu mereka di tempatnya dan berganti dengan sandal rumah yang nyaman. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ruang tamu apartemen.

Mark berhenti dan memandang keadaan Haechan yang tetap basah kuyup meskipun sudah memakai leather jacketnya. Menatap Haechan menyesal karenanya.

"Maafkan aku kau jadi basah kuyup seperti ini."

Haechan melihat pandangan Mark pada tubuhnya dan ikut memperhatikan keadaannya saat ini. Benar dia basah kuyup sekarang. Tapi sepertinya dingin karena basah tidak dapat Haechan rasakan karena tubuhnya sedang menahan panas yang tidak wajar karena gugup dan malu sedari tadi.

"Ah tak apa sungguh. Aku malah yang merasa tidak enak padamu hyung. Maaf merepotkanmu."

"Aku tidak merasa direpotkan. Anggaplah rumah sendiri." Ujar Mark dengan senyum hangat miliknya.

Oh tidak jangan senyum itu. Haechan merasa akan mimisan sekarang juga. Mark itu jarang tersenyum. Dan sekalinya tersenyum bisa membuat Haechan nyaris pingsan di buatnya.

Mata Haechan bergulir pada tubuh Mark yang sama basah kuyupnya dengan dirinya. Penampilan Mark saat ini benar-benar membuat wajah Haechan semakin memerah hebat. Lihatlah bagaimana kaos putih tipis basah itu mencetak tubuh bidang Mark dengan sempurna.

Haechan sadarlah!

Haechan mengalihkan pandangannya dengan segera. Memegang dadanya dengan erat enggan menatap penampilan Mark lagi. Mark yang melihat gerak-gerik Haechan sedikit mengerti dengan situasi yang melanda mereka berdua saat ini.

"Sebaiknya kau cepat bersihkan tubuhmu." Ucap Mark memecah kegugupan antara mereka berdua.

Sejenak Mark merasa keputusannya kali ini benar-benar salah. Pertama, karena dia membawa motor di saat hujan badai melanda. Kedua, karena dia membawa Haechan ke apartemennya. Ketiga, demi Tuhan mereka basah kuyup sekarang dan jika diperbolehkan Mark akan mengumpat dengan segala macam umpatan melihat penampilan mereka yang benar-benar tidak baik untuk satu sama lain. Dan yang terakhir, karena mereka cuma berdua di sini.

Ya berdua.

.

.

.

TBC

Cuap-cuap Author

Kapal MarkHyuck udah mulai berlayar lalalaaa~ Chap ini ku kasih momen MarkHyuck yang lumayan banyak.

Masih ada yang menunggu? Semoga belum ada yang bosen ya.. Anyway, jadwal updateku gak menentu dikarenakan ada kesibukan sampe gak ada waktu buat sekedar berimajinasi huwee~ Tapi tetep ku usahakan update as fast as possible, oke. Mohon pengertiannya /bow/

Dan yeaaay akhirnya aku bisa update malem, meskipun larut banget /claps/ Karena menurutku waktu yang paling tepat buat baca FF adalah saat menjelang tidur. Setuju? Dan ku yakin fanfic addict hobi ngalong.

See you on the next chapter, readerdeul. Selamat menikmati SMTOWN Live in Seoul and please support Snowball Project. Saranghae pyeong~

.

Ah yang ini urget. Adakah yang tau kenapa akun shbup terhapus dari dailymotion? Pengen nangis aja bawaannya. Asupan NCT life in Osaka ku, cuma akun itu harapanku, just like TT. Lagi nyari-nyari link engsub yang lain tapi semua link mengarah padanya. Terus aku kudu gimana? /akubenerannangiskenceng/