TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

HAPPY READING

.


Chapter 4


Gugup

Mark tidak pernah membayangkan kalau dia akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Bagi pria sehat dan normal sepertinya, keadaan saat ini sangat tidak menguntungkan untuk pertahanan dirinya. Mungkin Mark sudah berkali-kali melihat orang dalam keadaan basah kuyup. Tapi entah kenapa ketika dihadapkan dengan Haechan, semuanya berbeda. Sangat jauh berbeda.

Haechan bisa jadi menggunakan baju lengkapnya yang bahkan terlihat sopan dan tertutup. Ditambah dengan leather jacket yang dia pinjamkan ke anak itu. Tampak kebesaran yang bahkan terlihat seperti menenggelamkan tubuh mungilnya. Tapi perpaduan dari semua itu tampak begitu profokatif bagi seorang Mark Lee. Orang lain mungkin akan berpikir apa menariknya. Tapi Mark malah tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari pemandangan langka ini.

Mark mendadak merasa kerongkongannya kering. Dia menyadari –sangat menyadari bahwa dengan terus memandang sosok di hadapannya dapat membuat pertahanan dirinya roboh dengan segera. Dan Mark sangat menghindari hal itu.

Mark berdehem sekilas mencoba menjernihkan suaranya agar tidak terdengar serak. Mengalihkan pandangan matanya ke arah lain untuk menjernihkan pikirannya yang mulai keruh untuk kemudian melihat sosok manis itu lagi.

"Sebaiknya kau cepat bersihkan tubuhmu."

Untunglah Mark masih cukup rasional untuk tidak membiarkan keadaan seperti ini lebih lama lagi. Setidaknya Haechan harus memperbaiki penampilannya dulu agar Mark bisa bernapas lebih leluasa.

Haechan melihat tubuhnya sendiri dan teringat bahwa tidak ada satupun helai yang bisa diselamatkan untuk kemudian dia pakai lagi.

"Tapi bajuku –"

"Kau bisa memakai bajuku untuk sementara. Ya mungkin akan sedikit kebesaran di tubuhmu. Aku akan mengambilkannya. Tunggu di sini." Mark menjawabnya dengan cepat kemudian berlalu menuju wardrobe nya. Demi Tuhan yang Mark butuhkan saat ini hanyalah agar Haechan tampak lebih layak. Karena ketidak layakan Haechan saat ini adalah malapetaka bagi Mark.

Mark mengambil asal sepasang bajunya. Pilihannya jatuh pada sweater dan celana pendek. Hujan badai tentu akan membuat malam ini terasa lebih dingin dari biasanya dan Mark rasa memberi Haechan sweater adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

"Nah ini baju ganti dan handuknya. Ayo ku antar ke kamar mandi."

Mark berjalan lebih dulu menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur minimalisnya. Diikuti dengan Haechan yang mengekor tanpa protes masih dengan kepala yang tertunduk enggan melihat Mark.

"Kutinggal ya." Ijin Mark pergi setelah memastikan bahwa yang semua Haechan butuhkan untuk membersihkan diri telah tersedia.

"Terimakasih Mark hyung."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Satu jam telah berlalu dan Haechan masih senantiasa berada di kamar mandi. Padahal kegiatannya membersihkan diri sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.

Awalnya Haechan sangat menikmati acara berendamnya di air hangat yang telah Mark siapkan sebelumnya. Haechan bahkan melupakan kegugupannya yang entah hilang kemana. Tapi setelah dia melihat dan mengenakan baju yang diberikan Mark. Semuanya berubah.

"Aku harus bagaimana?" Haechan mondar-mandir di depan kaca besar yang langsung berhadapan dengan pintu.

"Sweater ini kebesaran dan –akh apa yang harus ku lakukan?"

Haechan cukup tau diri bahwa penampilannya saat ini bukanlah ide yang bagus. Haechan bahkan tidak pernah mengira bahwa perbedaan tubuhnya dan Mark akan sejauh ini. Lihatlah bagaimana sweater itu menenggelamkan tubuhnya dengan sempurnya. Potongan bahu tidak pada tempatnya hingga memperlihatkan kedua tulang selangkanya. Jarinya bahkan sudah tidak terlihat lagi. Jangan lupakan bahwa panjang sweater ini sudah mencapai setengah pahanya hingga celana pendek yang ia kenakan hanya terlihat sedikit karena panjangnya tepat di atas tempurung lututnya.

Toktok

"Haechan, kau baik-baik saja?"

Ketukan pada pintu membuat Haechan terlonjak kaget disusul dengan suara pria yang sangat ingin ia hindari sekarang. Setidaknya Haechan harus memperbaiki penampilannya terlebih dulu baru kemudian memiliki cukup keberanian untuk menampakkan diri. Tapi bukankah saat ini dirinya tidak memiliki pilihan lain?

Haechan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengulangi kegiatan itu selama tiga kali hitungan dengan tangan yang senantiasa diletakkan di atas dada berharap dengan begitu ia bisa menormalkan detak jantungnya dengan segera.

"Iya Mark hyung sebentar lagi aku selesai."

"Baguslah, aku buatkan coklat panas untukmu."

Haechan membalikkan tubuhnya ke arah kaca besar dibelakangnya. Menatap matanya sendiri dengan penuh keyakinan.

"Tenanglah Lee Haechan. Kau harus tetap tenang. Malam ini akan cepat berakhir. Secepat kau berlari dari Jaemin. Ya benar"

Setelah dirasa kegugupannya telah berkurang, Haechan memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan pelan ia menghampiri Mark yang ternyata sudah mendudukkan dirinya di ruang tamu.

Ehem

Haechan berdehem pelan untuk memberi tau Mark akan eksistensinya yang tentu saja ditanggapi dengan segera oleh pria itu. Mark menoleh ke arah datangnya Haechan. Namun setelah sosok Haechan tertangkap retinanya, Mark tau bahwa malam ini akan sangat berat untuk dilaluinya.

Oh Tuhan tidak kah yang tadi itu cukup?

Mark tidak ingin bersikap setidak sopan ini, tapi ia benar-benar tidak bisa menahannya. Menahan matanya untuk tidak terpaku pada sosok manis yang berdiri sambil tertunduk dihadapannya. Hell, sudahkan Mark bilang bahwa Haechan merupakan godaan terberat yang datang dengan begitu mendadak?

Jujur saja Mark sangat tidak peduli dengan dunia sekitarnya. Terlebih lagi sampai terfokus pada penampilan seseorang. Sangat membuang-buang waktu. Tapi malam ini Mark mendapati dirinya dengan sangat suka rela membuang-buang waktunya hanya untuk memandang Haechan.

Dan sekali lagi rasionalitas Mark yang untungnya masih dapat mengusainya, kembali menyadarkan Mark akan ketidak sopanannya terhadap Haechan. Memperkokoh dinding pertahanannya yang nyaris runtuh tak tersisa. Karena percayalah dibalik sosok Mark Lee yang dingin dan acuh, tersimpan sisi gelap yang tidak terduga. Dan itu tidak akan baik untuk Haechan.

"O –oh Haechan."

"Maaf aku lama." Haechan bercicit pelan nyaris tidak terdengar oleh Mark.

Dan –oh shit!

Pandangan Mark bergulir pada tulang selangka Haechan yang mengintip samar-samar. Jangan lupakan juga kaki rampingnya yang begitu indah. Kepala Mark mendadak pening dibuatnya.

Mark tau bahwa ia berakhir dengan menelan bulat-bulat pilihannya. Menyesali memilih asal sweater dan celana pendek untuk Haechan kenakan tanpa berpikir panjang. Mark tak menyangka kalau jadinya akan seperti ini. Niatnya untuk memperbaiki keadaan malah berubah menjadi bumerang untuknya sekarang. Mark rasa dirinya harus mencoba dengan sangat keras untuk tetap fokus dan tidak kelepasan. Berharap malam ini berlalu dengan cepat.

"Tak apa. Duduklah."

Haechan melangkahkan kakinya pelan menghampiri sofa yang diduduki Mark dan memutuskan untuk duduk di samping pria tampan itu.

Aroma maskulin memasuki indra penciumannya tanpa permisi. Mengacaukan akal sehat Haechan dengan sangat lancang. Sekilas Haechan tergoda untuk memandang pria di sampingnya. Namun secuil otaknya memerintahkan untuk tidak melakukannya jika tidak ingin menyesal. Tapi tentunya godaan terasa jauh lebih besar saat ini untuk Haechan. Berakhir dengan dirinya yang mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi senantiasa menunduk. Niatnya hanya melirik Mark dengan ekor matanya. Namun itu tidak cukup untuk Haechan saat ini. Haechan menolehkan kepalanya ke arah Mark untuk melihat pria yang telah sukses membobol pagar pembatas yang ia bangun kokoh bertahun-tahun.

Oh jantungku, tidak lagi.

Bukannya menyesali apa yang dia lakukan, Haechan saat ini lebih kepada mensyukuri apa yang tersaji di hadapannya. Mark dengan rambut basahnya. Bajunya juga sudah berganti dengan T-shirt panjang polos yang lengannya digulung tidak mencapai siku, berbahan jatuh dan tipis kurasa, karena Haechan sangat yakin dapat melihat dada bidang pria tampan itu tercetak menggoda meskipun samar.

Otot lengan Mark terlihat menonjol dengan jantan dikarenakan posisinya yang saat ini menumpukan siku dengan tangan saling bertaut di atas pahanya. Rahang tegas dan mata tajam itu semakin sempurna jika dilihat dari samping. Betis itu juga.

Oh Tuhan, pasti Kau sangat bermurah hati saat menciptakan makhluk di sampingku ini.

"Kau lapar? Haruskah kita memesan sesuatu?" Tanya Mark memecah pikiran liar Haechan.

Haechan yang dihadapkan dengan mata tajam Mark nampaknya masih enggan untuk tersadar dengan sempurna. Nyatanya mata itu semakin menariknya untuk tetap memandang si prita tampan. Seakan Haechan menelusuri lorong-lorong tak berujung dalam mata itu tanpa bisa melarikan diri. Dan Haechan sangat menyukainya.

Mark heran melihat Haechan masih terdiam dengan mata yang memandang tepat pada matanya.

"Haechan?"

Kini suara berat itu sukses menyadarkannya. Haechan sedikit menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya yang masih melayang entah kemana.

"A –ah ya. Tapi kurasa dengan hujan badai seperti ini jasa antar tidak akan melayani hyung."

"Benar juga."

Mark dan Haechan kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka berdua merasa sangat cunggung sekarang. Kenyataan bahwa keduanya sedang dalam satu apartemen dan hanya berdua benar-benar memperburuk keadaan.

Sejujurnya gagasan untuk memesan makanan terasa menggiurkan untuk Haechan. Karena jujur saja perutnya merasa sangat lapar saat ini. Terlebih lagi ia habis kehujanan. Dan Haechan rasa hal serupa juga terjadi pada Mark. Membuatnya sedikit memutar otak agar perut mereka berdua terisi tanpa harus menunggu hujan badai reda. Karena sekali lagi mereka tidak memiliki pilihan.

"Mm apa hyung punya bahan yang bisa di masak?"

"Aku tidak terbiasa memasak di apartemen." Mark sedikit berpikir. "Tapi ku rasa ada beberapa persediaan bahan yang pernah mommy bawakan."

"Baiklah mari kita lihat."

Haechan berdiri dari duduknya diikuti dengan Mark. Sebelum kembali tersadar akan sesuatu yang penting.

"Tapi Haechan, aku tidak bisa memasak." Ujar Mark sambil mengusap tengkuknya kaku.

Haechan terkekeh sekilas. Mulai melangkahkan kakinya menuju dapur minimalis di apartemen tersebut yang tentu saja di ikuti oleh sang tuan rumah dari belakang.

"Aku yang akan memasak."

"Tapi kau tamuku, tidak seharusnya –"

Haechan membalikkan tubuhnya mendadak membuat Mark juga menghentikan langkahnya dengan sedikit kaget. Haechan meraih tangan Mark dan menariknya untuk duduk pada meja makan dekat pantry.

"Mark hyung tenang saja. Duduk diam di sini oke."

Kembali melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin untuk mencari bahan-bahan yang ia butuhkan. Sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat isi lemari pendingin itu dengan seksama.

Oh ini tidak baik untuk Mark.

Bisakah Haechan sedikit sadar diri akan posisinya sekarang? Lihatlah bagaimana celana pendek yang dikenakannya semakin terangkat mempertontonkan pahanya akibat posisinya.

Mark membulatkan matanya dan mengalihkan pandangannya dengan segera agar tidak kelepasan. Demi Tuhan bocah itu benar-benar menguji pertahanan diri seorang Mark Lee.

"Haruskah aku membantu?" Tawar Mark dengan suara yang semakin berat masih dengan mengalihkan pandangannya enggan melihat Haechan.

"Tidak tidak biar aku saja. Anggap sebagai rasa terimakasihku karena sudah merepotkanmu."

Kini Haechan telah berdiri di balik pantry dengan beberapa bahan yang telah ia temukan. Bersiap untuk memasak makanan untuk mereka berdua dengan bahan seadanya. Jangan ragukan kemampuan Haechan dalam urusan dapur. Karena dengan memiliki eomma sekelas Jaejoong membuat Taeyong maupun Haechan menuruni bakat dari eomma mereka itu. Terkadang Jaejoong juga mengajak dua putra manisnya untuk menemaninya memasak, membuat keduanya sedikit banyak mengerti bagaimana cara menyulap bahan-bahan menjadi makanan layak makan. Sangat layak malah.

"Kau tanggung jawabku." Ucap Mark. Dan hal itu membuat Haechan terdiam merasakan getaran aneh pada hatinya.

Mark yang merasa Haechan berupah salah tingkah membenarkan perkataannya barusan.

"Ah maksudku orang tuamu dan Taeyong hyung mempercayakan dirimu padaku." Mark pabo.

"Aku tau." Jawab Haechan dengan senyum malu. Sekilas Mark dapat melihat bagaimana kedua pipi itu merona entah karena apa. Membuatnya terpesona. Dan semakin gencar memandangi wajah HAechan yang menurutnya sangatlah menggemaskan.

Beberapa menit berlalu dengan Haechan yang sibuk dengan kegiatannya memasak dan Mark yang senantiasa mengamati kegiatan Haechan. Mark yakin bahwa dirinya sangat sering melihat mommy nya memasak, tapi entah kenapa melihat Haechan memasak merupakan pemandangan yang menarik untuknya. Bagaimana tangan mungil dan lentik itu bergerak cepat memotong bahan. Memasukkannya kedalam penggorengan. Dan mata bulat yang terlihat sangat fokus itu. Seakan seluruh perhatiannya tercurah habis pada kegiatannya saat ini.

Tanpa sadar Haechan telah menyelesaikan masakannya. Menaruh dua mangkuk di meja makan dan menyodorkannya pada Mark.

"Cobalah."

"Kau tidak makan juga?"

"Aku akan. Tapi setelah Mark hyung mencobanya."

Mark mulai meraih sendok untuk mencicipi hasil masakan Haechan. Mengangkat kedua alisnya ketika perpaduan rasa yang nikmat mulai menyebar pada indra perasanya. Oh Mark rasa akan ketagihan setelah menghabiskan semangkuk ini. Mengangkat kepalanya dengan segera, menoleh pada Haechan yang saat ini telah duduk di seberang dirinya untuk memberi tau bahwa bocah itu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

"Ini enak!"

"Benarkah?" Tanya Haechan yang memang sedang menunggu Mark untuk berkomentar tentang hasil masakannya. Tangannya yang sejak tadi bertumpu pada meja makan dengan tidak sabar semakin memajukan tubuhnya menempel pada meja makan.

Senyum Haechan tidak dapat ditahan lagi. Merekah dengan begitu manis dan mata berbinar. Membuat Mark yang masih dalam keadaan terkesan dengan masakan Haechan mau tidak mau mengalihkan rasa terkesannya menjadi kekaguman pada wajah Haechan saat ini. Manis.

"Syukurlah."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Hujan tak kunjung reda dan Haechan sangat gelisah akan hal itu. Saat ini Mark dan Haechan sudah berada di ruang tamu kembali setelah membereskan peralatan setelah acara makan malam seadanya.

Mark yang melihat Haechan gelisah dalam duduknya sambil sesekali melihat pada ponselnya bertanya penasaran.

"Kenapa?"

Haechan mengalihkan atensinya pada Mark. Menceritakan apa yang membuatnya gelisah.

"Ponselku mati dan aku belum sempat mengabari Taeyong hyung."

"Biar aku yang menghubungi Taeyong hyung. Sementara charge ponselmu."

Mark merogoh ponsel yang disimpannya pada kantung celana. Mencari sebentar kontak Taeyong kemudian melakukan panggilan.

Tidak perlu menunggu lama karena Taeyong langsung mengangkatnya pada nada tunggu pertama.

"Ya Mark? Apa kau bersama Haechan?" Tanya Taeyong segera setelah menerima panggilan dari Mark.

Mark melirik ke arah Haechan dan ternyata Haechan juga tengah melihat penuh harap kegiatannya menelpon Taeyong.

"Ya Haechan bersamaku."

Menyodorkan ponselnya pada Haechan agar bocah itu berbicara sendiri dengan hyungnya.

"Hyung ini aku." Ucap Haechan sedikit antusias. "Maafkan aku. Aku terjebak badai hujan dan sekarang sedang berada di apartemen Mark hyung."

Ijinnya hati-hati sedikit khawatir telah membuat hyungnya cemas dengan keadaan dan keberadaanya. Bagaimana ia bisa lupa. Ck.

"Apartemen Mark?" Tanya Taeyong dengan nada memastikan. Membuat Haechan salah mengartikan bahwa Taeyong saat ini pasti sedang marah karena dia tidak menghubungi dan malah berakhir di apartemen Mark.

"Aku akan pulang secepatnya jika memungkinkan."

"Ah tidak tidak Haechanie. Lebih baik kau menginap saja di sana. Hyung rasa hujan badainya akan berlangsung lama." Potong Taeyong tiba-tiba membuat Haechan heran.

Bukannya hyungnya sedang marah? Taeyong yang biasanya tidak akan mengijinkan Haechan berdiam di tempat asing. Dan menurutnya apertemen Mark masuk dalam keriteria asing karena Haechan masih tetap pada pendiriannya bahwa mereka berdua masih belum sedekat itu.

"Tapi hyung –"

"Apa kau tidak kasihan Mark harus bolak-balik mengantarmu hujan-hujanan?" Potong Taeyong lagi. Haechan melirik Mark yang senantiasa menatapnya. Hyungnya ada benarnya juga.

"Tentu saja aku kasihan." Jawab Haechan dengan nada sepelan mungkin.

"Ya sudah kalau begitu dengarkan apa kata hyung, oke."

Haechan menganggukkan kepalanya yang pastinya tidak dapat dilihat oleh Taeyong. Haechan hanya merasa bingung harus bagaimana setelah ini.

"Baik-baiklah di sana."

"Baik hyung, selamat malam."

Haechan mengakhiri penggilannya kemudian menyerahkan ponsel milik Mark yang baru saja ia gunakan kepada pemiliknya.

"Terimakasih Mark hyung."

Keduanya kembali terdiam pada pikiran masing-masing. Mark mengalihkan pandangannya pada kaca besar yang belum ditutup tirainya sehingga menampakkan keadaan di luar yang masih senantiasa hujan badan. Mengusap kedua tangannya dengan sedikit khawatir.

"Tampaknya hujan badainya akan berlangsung lama. Lebih baik kau menginap saja."

Meskipun berdua bersama haechan dalam keadaan seperti ini adalah malapetaka bagi Mark. Tapi akan lebih malapetaka lagi jika dia memaksa mengantar Haechan pulang. Sejujurnya ia tidak yakin bisa mengantar Haechan pulang dengan keadaan selamat mengingat hujan badai terjadi semakin parah.

"Kau sudah bilang kan ke Taeyong hyung?"

Haechan menunduk gugup dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Bagus. Aku akan menyiapkan kamar untukmu."

Mark berdiri dari sofa yang didudukinya bersama Haechan. Membuat Haechan melihat gerak-gerik pria itu. Haechan memutuskan untuk membuntuti Mark kemana pun pria itu pergi. Dilihatnya Mark tengah membetulkan bantal dan selimut pada ranjang yang ia tebak pasti milik pria itu. Mark berjalan ke ruang samping kamarnya yang telah disulap menjadi wardrobe, keluar dengan membawa selimut ditangannya.

"Hyung tidur di mana?" Tanya Haechan heran. Pasalnya apartemen ini hanya memiliki satu kamar karena kamar satunya telah dialihkan fungsinya menjadi wardrobe.

Seketika Haechan membayangkan kalau mereka berdua akan tidur seranjang. Memikirkannya saja sudah membuat wajah Haechan memerah parah. Demi Tuhan Haechan, tidak akan terjadi sesuatu di antara kalian. Jangan berpikir macam-macam!

"Di sofa."

Jawaban Mark membuat Haechan kaget dan tersadar dari fantasi liarnya.

"Lebih baik aku saja yang –"

"Tidak. Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu tidur di sofa. Biar aku saja. Kau tamuku dan aku lebih tua darimu."

Dan Haechan rasa dia tidak dapat membantah sekarang. Tidak ada pilihan lain selain mengiyakan. Toh Mark ada benarnya, dirinya sedang membutuhkan tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya.

"Baiklah."

Mark tersenyum melihat Haechan menuruti perintahnya yang tampak sangat manis. Membuatnya ingin mengusak rambut halus setengah kering itu. Tapi enggan karena Mark takut kelepasan melakukan yang lebih.

"Selamat malam, Haechan."

"Selamat malam, Mark hyung."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Jam di nakas sudah menunjukkan pukul 1 dini hari tapi nampaknya pria manis yang tengah bergulung di ranjang super nyaman dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya masih enggan memejamkan matanya. Entah kenapa Haechan mendadak tidak bisa tidur sampai sekarang. Padahal biasanya ia akan tidur paling larut di jam 11 malam. Mungkin karena ini tempat asing.

Sayangnya Haechan memang memiliki kebiasaan tidak bisa tidur di tempat asing. Apalagi harus sendirian. Biasanya jika keluarganya berlibur dan mengharuskan untuk menginap di suatu tempat, Haechan tidak perlu khawatir karena akan ada Taeyong yang menemaninya.

Haechan mendudukkan dirinya dan bersandar pada dashboard ranjang. Tirai di kamar Mark yang terhubung langsung ke balkon tampak bergerak-gerak tertiup angin dari celah jendela. Mungkin benar badai hujan akan terjadi sepanjang malam. Membuatnya semakin tidak nyaman untuk sekedar memejamkan mata.

Haechan menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya. Turun dari ranjang memakai sandal rumah yang nyaman. Pria manis itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari segelas air. Mungkin jika beruntung, dia akan mendapati Mark masih dalam keadaan terjaga sehingga bisa menemaninya mengobrol sekedar untuk menemaninya melewati malam ini. Ya paling tidak sampai rasa kantuk menderanya.

Haechan berjalan ke arah dapur mengambil gelas di lemari atas pantry dan mengisinya dengan air minum yang telah tersedia pada meja makan. Membawa gelas berisi air tersebut menuju ruang tamu tempat Mark tidur malam ini.

Tapi nampaknya Haechan harus menelan bulat-bulat harapannya melihat Mark masih terjaga. Karena saat ini Mark telah terlihat terlelap di sofa panjang dengan selimut yang membungkus setengah tubuhnya. Membuat secuil perasaan sedih muncul karena hal itu. Haechan tetap berjalan menghampiri pria tersebut. terdiam sejenak kemudian memutuskan mendudukkan dirinya di depan sofa yang telah di lapisi dengan karpet bulu tebal.

Tampan

Haechan tau –sangat tau kalau Mark Lee itu memang tampan. Tapi dirinya tidak pernah menyangka Mark yang dalam keadaan terlelap tampak jauh lebih tampan. Membuat Haechan betah untuk lama-lama memandangi wajah tegas itu yang kini terlihat tenang. Senyum senang tidak bisa ditahan lagi. Haechan merapatkan tubuhnya pada sofa untuk meletakkan tangannya guna menyangga kepalanya. Mungkin memandangi Mark Lee yang tertidur akan jadi hobi baru bagi Haechan.

Tanpa disadari kegiatannya itu membuat matanya terasa berat. Mungkin Haechan akan jatuh tertidur sebentar lagi. Tapi ia enggan berpindah, masih dengan posisinya terduduk di atas karpet bulu tebal dan mata yang senantiasa memandang ke arah Mark. Di sini lebih nyaman. Dan biarkan dirinya untuk tidur sebentar saja di sini.

Ya sebentar.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark menggeliatkan tubuhnya mencoba merubah posisi tidurnya. Tapi sesuatu terasa mengganjal di samping perutnya. Mark memicingkan matanya, mencoba membuka penuh matanya yang masih berat untuk melihat sesuatu itu. Tapi yang di dapatinya adalah kepala Haechan yang tidur bersandar pada sofa dengan posisi terduduk. Mark kaget bukan main. Kiranya apa yang dilakukan Haechan di sini, dalam keadaan seperti ini. Mencoba mendudukkan tubuhnya pelan tidak ingin mengusik tidur bocah itu.

Mark terdiam sejenak di posisinya. Memandang wajah Haechan yang nampak tertidur lelap dengan nyaman padahal posisinya sangat berbanding terbalik menurutnya.

Mark menurunkan tubuhnya hati-hati untuk kemudian berjongkok di depan bocah itu. Memandangi Haechan dengan senyum yang tidak dapat di tahan.

"Pasti akan sakit jika kau terus tidur diposisi ini." Ujar Mark pada Haechan yang tengah tertidur.

Mark memutuskan untuk memindahkan Haechan ke kamarnya. Meletakkan tangannya pada punggung dan tungkai kaki Haechan. Bukan perkara sulit mengangkat Haechan bagi Mark. Membawa bocah itu dalam gendongannya.

Setelah dirasanya Haechan telah berada diposisi yang pas, Mark pun mulai melangkahkan kakinya. Haechan, entah sadar atau tidak, menggesekkan kepalanya pada dada Mark seperti mencari kenyamanan. Membuat Mark terkekeh pelan akan tingkah Haechan yang menurutnya sangat menggemaskan.

Masih dengan senantiasa memandangi wajah manis itu, Mark menggendong Hechan menuju ranjang yang berada di kamarnya. Menurunkan bocah itu dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur lelapnya. Tak lupa Mark menarik selimut yang berada di bawah kaki Haechan untuk digunakan menutupi tubuh mungil itu. Badai hujan masih berlangsung membuat suhu terasa lebih dingin dari biasanya. Dan pasti Haechan merasa kedinginan.

Setelah semuanya selesai, Mark kembali terdiam. Masih dengan posisinya yang terduduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah terlelap Haechan. Tergoda untuk mendekatkan dirinya menuju wajah manis itu dan berakhir dengan menumpukan tangannya pada sisi kepala Haechan. Mark merendahkan sedikit tubuhnya hingga membuat jaraknya begitu dekat dengan wajah Haechan.

Tangannya terangkat merapikan helai-helai rambut Haechan yang menutupi pelipis hingga mata. Mata tajam Mark bergulir mengamati mata terpejam itu. Hidung mungilnya. Dan berakhir pada bibir merekah menggoda yang sedikit terbuka. Pandangan matanya berubah sayu. Terlalu fokus memandang bibir semerah cherry tersebut. Sejenak muncul perasaan tergoda untuk mencicipinya. Pikirannya bawah sadarnya mulai menyuruh untuk melakukannya. Melakukan hal yang lebih pada Haechan. Menuruti hasrat terpendamnya.

Mark semakin mendekatkan bibirnya ke bibir cherry Haechan. Namun sedetik kemudian akal sehatnya mengambil alih dengan segera. Membuat kepalanya berbalik arah sedikit ke atas dan berakhir mengecup kening Haechan agak lama. Mencoba menjernihkan pikirannya sejenak.

"Kau benar-benar godaan terbesar Lee Haechan."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan menggeliatkan tubuhnya mencari kehangatan. Sedikit memicingkan matanya yang terkena pancaran sinar matahari dari sela-sela tirai. Membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan semakin beringsut membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.

Sudah pagi

Tapi Haechan masih enggan kehilangan kenyamanan yang didapatnya dari perpaduan bantal, selimut dan ranjang.

Tunggu

Apa kau bilang ranjang?

Haechan membalik tubuhnya kembali terlentang. Sedikit mengerutkan keningnya tanda sedang berpikir. Seingat Haechan tadi malam dia memutuskan tertidur sebentar dalam keadaan duduk di karpet bulu tebal dan bersandar pada sofa yang Mark tiduri. Tapi kenapa sekarang –

Oh tidak

Haechan mendudukkan segera tubuhnya melempar asal selimutnya dan menuruni ranjang dengan cepat untuk keluar dari kamar.

Mark yang saat itu sedang berada di pantry membuat kopi paginya menghentikan kegiatannya, melihat Haechan berlari keluar dari kamar dalam keadaan berantakan. Memandang Haechan dengan tangan yang ditumpukan pada tepi pantry.

Oh lengannya tampak begitu jantan

Haechan mendadak pening dengan pemandangan pagi yang dilihatnya.

Tidak tidak Lee Haechan ini bukan saatnya

"Kau sudah bangun?"

Nyatanya suara Mark yang rendah semakin membuat Haechan hilang akal. Masih dengan keterpukauannya yang senantiasa memandang Mark.

"Apa badanmu tidak sakit?"

Tidak aku dalam keadaan sangat baik pagi ini.

"Aku terbangun dan menemukanmu tidur terduduk di lantai sambil bersandar pada sofa yang ku tiduri."

Itu karena wajah terlelapmu menyita habis seluruh perhatianku.

"Katakan berapa lama kau diposisi itu."

Nada suara Mark terdengar lebih berat sekarang. Dan pandangan mata itu berganti dengan tajam. Mendekati Haechan yang senantiasa terpaku di tempat tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun pada pria tampan itu. Membuat Haechan tersadar dari seluruh pikirannya. Menggaruk lengannya yang tidak gatal dengan gugup.

"Ah itu –"

"Jangan melakukan hal bodoh lagi." Potong Mark masih dengan nada kelewat tajamnya.

"Eh?"

"Jangan menyakiti dirimu sendiri, mengerti?"

Haechan sebenarnya tidak mengerti apa maksud dari ucapan Mark barusan. Apa hanya karena dirinya yang tertidur tidak tau tempat hingga membuat Mark merubah nadanya menjadi terkesan tidak suka. Mungkinkan Mark keberatan harus memindahkan tubuhnya?

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Pagi itu Mark dan Haechan berakhir di meja makan, memakan sarapan buatan Mark berupa toast dan segelas susu untuk Haechan, kopi untuk Mark. Mereka menghabiskan sarapan masing-masing dalam diam tanpa adanya percakapan yang berarti.

Setelah insiden keterkejutannya tadi, Haechan memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum sarapan. Haechan sempat menyesali apa yang ia lakukan. Merutuki dirinya yang entah apa yang dipikirkannya tadi saat tiba-tiba mencari keberadaan Mark dalam keadaan yang sangat berantakan dan malah terdiam kaku saat melihat pria tampan itu.

Bel apartemen Mark berbunyi memecah keheningan antara keduanya. Sekilas mereka saling berpandangan sebelum Mark berdiri dari kursinya untuk melihat siapa gerangan yang bertamu ke apartemennya sepagi ini. Terlebih ini hari minggu. Dan biasanya Mark tidak mendapat tamu di akhir pekan.

Tanpa melihat layar intercom, Mark langsung membuka pintu apartemennya.

Tit

Pintu terbuka menampakkan sosok yang sangat ia kenal dan Mark memandang heran sosok cantik itu. Tidak biasanya sosok itu berkunjung sepagi ini. Mungkin beberapa kali di akhir pekan ia akan datang tapi setelah semua urusan rumah selesai. Dan menurut Mark ini adalah terlalu pagi untuk menyelesaikan seluruh urusan rumah.

"Mommy? Sedang apa sepagi ini?"

Tanpa mengindahkan pertanyaan dari putra tampannya, Luhan langsung saja masuk ke dalam apartemen. Menyimpan sepatunya dan berganti dengan sandal rumah yang nyaman. Luhan mengedarkan matanya dan menemukan sosok yang dicarinya sedang berada di meja makan yang masih setia menikmati toast buatan Mark.

"Oh Haechanku yang manis."

Sapa Luhan langsung menghampiri Haechan dan mendudukkan diri di samping kursi meja makan yang Haechan tempati. Haechan yang tidak mengira kalau tamu Mark adalah Luhan kaget bukan main. Berniat menunjukkan kesopanannya dengan serta merta melepas toast yang berada di tangannya. Berdiri sejenak sambil membungkukkan badannya pada Luhan. Luhan yang melihat itu tersenyum memuji.

Haechan masih senantiasa berdiri. Masih dengan kekagetannya mendapati teman eomma nya tersebut. Terhitung, Haechan hanya sekali bertemu dengan Luhan. Dan dipertemukan lagi di sini dalam keadaan seperti ini membuat Haechan tak enak hati. Takut Luhan akan berpikir anak macam apa dia yang menginap di apartemen orang yang baru dikenalnya. Bahkan Haechan masih mengenakan pakaian Mark semalam yang menurutnya kurang sopan. Membuatnya gugup sedikit takut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelahnya.

Luhan menarik tangan Haechan yang masih senantiasa berdiri untuk duduk kembali di tempatnya. Membawa kedua tangan Haechan ke dalam genggamannya. Membuat Haechan makin tidak paham dengan apa yang terjadi di sini.

"Kau sudah sarapan? Bagaimana? Apakah tidurmu nyenyak?" Tanya Luhan dengan antusias, senyum manis dan mata berbinar.

Mark yang baru sampai di meja makan memperhatikan tingkah mommy nya yang menurutnya akan membuat Haechan tidak nyaman.

"Mommy." Mark memperingatkan Luhan memandang dengan mata seakan berkata –jangan mulai.

"Ish aku sedang bertanya pada Haechanie jangan mengganggu." Tatapnya sengit memandang putranya.

Haechan sungguh dibuat bingung dengan kejadian yang sangat tiba-tiba ini. Mengusap lengannya dengan canggung kemudian kembali menatap sosok cantik di depannya itu.

"Ah itu ahjumma –"

"Tidak tidak. Jangan panggil aku ahjumma. Panggil mommy oke? Sama seperti Mark." Potong Luhan masih dengan mata berbinarnya.

"Mo –mommy? Ta –tapi "

"Kau tidak mau? Aku benar-benar sedih sekarang."

Luhan sangat yakin kalau dirinya telah memberikan tatapan memelas terbaiknya yang sangat ampuh digunakan kepada Sehun dan Mark. Dan Luhan harap reaksi Haechan akan sama dengan keduanya.

Haechan yang melihat tatapan memelas Luhan mendadak tidak enak hati. Dengan cepat ia mencoba menenangkan Luhan dan ingin mengutarakan maksudnya.

"Eh bukan begitu maksudku ahjum –"

Wajah Luhan semakin ditekuk dengan mata berkaca-kaca, hingga mata itu terasa siap kapan saja untuk meneteskan air mata.

Mark yang melihat kelakuan mommy nya berdecak kesal.

Ck, trik lama.

Haechan tentunya bukan orang yang akan setega itu membiarkan orang lain menangis karena dirinya. Terlebih orang itu adalah teman eommanya. Dan melihat Luhan dengan wajah sedihnya karena ia enggan memanggilnya mommy, membuat Haechan merasa jahat.

Haechan menghela napas sejenak. Sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain kecuali mengiyakan keinginan Luhan.

"Baiklah, mommy." Panggil Haechan pada Luhan.

Mendengar Haechan memanggilnya mommy nampaknya membuat Luhan senang bukan main. Bahkan kini wajah Luhan yang tadinya mendung menjadi cerah kembali seperti awal kehadirannya tadi.

"Nah begitu baru benar, calon menantuku yang manis."

"Mom!" Tegur Mark dengan nada sedikit meninggi mendengar perkataan sang mommy barusan. Sedangkan Haechan hanya bisa terpaku kembali pada tempatnya masih berusaha mengatasi kekagetannya dengan mata membulat dan kerja jantungnya yang tidak bisa dikendalikan.

Haechan menundukkan wajahnya setelah di rasa wajahnya mulai panas dan ia sangat yakin sekarang wajahnya itu pasti sudah berubah warna menjadi merah padam.

Pemandangan Mark dan Haechan yang sama-sama merona hebat akibat perkataannya perihal calon menantu tampaknya menjadi hiburan tersendiri bagi Luhan. Membuatnya memekik dalam hati menahan dengan sangat kuat agar tidak kelepasan. Berusaha setenang mungkin untuk kembali menggoda keduanya. Ya lakukan dengan pelan Luhan.

Luhan memicingkan matanya memandang Mark dan Haechan bergantian ditambah dengan senyum menggodanya.

"Aey pipi kalian memerah."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mereka kini sedang dalam perjalanan. Mark memutuskan untuk segera mengantar Haechan setelah kekacauan yang dibuat sang mommy. Dan syukurlah pihak bengkel yang menangani mobil Mark sudah mengantarkan mobilnya ke alamat apartemennya pagi tadi. membuatnya tidak harus menggunakan motor dengan kondisi yang secanggung ini. Sejujurnya Mark sungguh merasa tak enak hati karena kejadian tadi. Ia sangat khawatir kalau tindakan Luhan malah membuat Haechan tidak nyaman dan enggan kembali lagi.

Mark hanya merasa perlu mengenal Haechan lebih dalam. Dan dengan membuat Haechan nyaman adalah langkah awal untuknya. Tapi pagi ini semua terasa berantakan. Mommy nya datang dengan tiba-tiba, mengabaikannya dan langsung menghampiri Haechan seolah ia tau kalau Haechan memang sedang ada di apartemennya. Dan Mark yakin mommy nya memang tau oleh karena itu dia sengaja.

Mommynya mungkin pesandiwara yang ulung. Tapi ia tidak dapat membohongi Mark. Mark bukan orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang keluarga Haechan dan keluarganya sendiri sedang lakukan. Haechan mungkin sepolos itu. Tapi berbeda dengan dirinya. Dari awal perkenalan itu Mark sudah curiga tapi tetap mengikutinya dengan tidak peduli seolah ia benar-benar tak tau apa-apa. Tapi nampaknya kini Mark terjebak pada permainan yang diikutinya. Mark menemukan dirinya mulai tertarik pada pesona seorang Lee Haechan. Di tambah kejadian semalam, membuatnya benar-benar merasa sudah kepalang tanggung untuk mundur.

"Maafkan mommy ku tadi."

Haechan menoleh ke arah Mark yang masih senantiasa fokus pada jalanan di depannya. Kembali mendudukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya gugup.

"Tak apa Mark hyung. Aku baik-baik saja."

Jika kerja jantung yang berlebihan dikatakan tidak baik. Maka Haechan memang sedang tidak dalam keadaan yang baik sekarang. Tapi anehnya ia merasa senang akan hal itu. Membayangkan kini ia dan Mark memanggil Luhan dengan sebutan yang sama. Di tambah dengan panggilan calon menantu yang Luhan tujukan padanya. Membuat Haechan tidak hentinya memerah merona.

Haechan memang sempat tidak nyaman. Tak nyaman karena memikirkan apakah Mark akan baik-baik saja dengan keadaan yang seperti ini. Terlebih tadi Mark sempat menyuarakan protesnya membuat Haechan sempat berpikir bahwa Mark mungkin saja terganggu akan hal itu. Tapi setelah beberapa saat dan Mark tidak protes lagi Haechan berpikir mungkin tidak apa-apa seperti ini. Toh yang meminta adalah Luhan sendiri. Dan ia harus tetap sopan pada teman eommanya itu. Termasuk dengan menuruti apa yang dimintanya.

"Kau bisa menolak kalau kau tidak nyaman."

"Tidak tentu saja. Lagi pula dengan begini aku jadi merasa lebih akrab dengan Luhan mommy. Mommy teman baik eomma jadi ku rasa itu suatu keharusan untukku."

Mobil Mark telah memasuki gerbang mansion keluarga Haechan. Tetap melanjukan mobilnya dan berhenti tepat di depan pintu masuk.

"Masuklah."

Haechan bersiap dengan semua barangnya. Membuka seat beltnya sebelum melihat ke arah Mark yang kini juga sedang melihatnya.

"Mark hyung hati-hati di jalan. Dan terimakasih untuk semalam." Pamit Haechan dengan senyum manis milikknya. Membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Berdiri menunggu sampai mobil itu hilang dari pandangannya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.

Haechan menutup pintu rumahnya dengan pelan dan berbalik ingin segera menuju kamarnya. Masih dengan senyum merekah yang tidak bisa ditahannya mengingat apa yang terjadi semalam hingga tadi pagi. Namun nampaknya Haechan harus mengurungkan niatnya setelah melihat sosok yang berdiri menunggunya.

"Hyung kau mengagetkanku!"

Haechan yang baru saja membalikkan badan setelah menutup pintu harus menghentikan langkahnya dengan tangan yang memegangi dadanya kaget melihat Taeyong sudah berdiri dihadapannya dengan tangan terlipat di depan dada.

Haechan memicingkan matanya melihat ada satu sosok lagi yang berdiri di belakang hyungnya.

"Dan Na Jaemin sedang apa kau di sini?"

Jaemin yang ditanya langsung memajukan tubuhnya untuk sejajar pada posisi Taeyong berdiri.

"Aku berniat mengajakmu menemaniku mencari buku. Tapi yang ku dapatkan hanya Taeyong hyung. Dan tebak berita apa yang membuatku kaget?"

Haechan mulai memutar matanya malas tau akan apa yang terjadi setelah ini.

"Kau menginap di apartemen Mark hyung? Berdua? Astaga Lee Haechan tak ku sangka kau benar-benar mengalami kemajuan sepesat ini!"

Benar kan.

Jaemin mengatakannya dengan nada yang terlampau antusias, dan jangan lupakan senyum cerah merekah di wajahnya itu. Apakah kenyataan ia menginap di apartemen Mark adalah sebuah berita besar untuk seorang Na Jaemin? Mungkin iya. Dilihat dari betapa antusiasnya Jaemin waktu itu saat dirinya cerita. Dan bagaimana sahabatnya itu mendorongnya untuk melakukan tindakan-tindakan agar Mark juga menyukainya. Termasuk melibatkan Yuta yang tidak Haechan setujui.

"Jaem ini tidak seperti yang kau bayangkan." Haechan mencoba menjelaskan pada Jaemin namun kemudian matanya bergulir ke arah Taeyong.

"Dan hyung berhenti menatapku dengan senyuman menakutkan itu!"

Haechan pamit undur diri merasa akan sangat panjang jika ia harus meladeni dua orang terdekatnya ini. Mereka berdua akan sama-sama menjadi buas tak berperasaan jika sudah penasaran. Dan hal itu merupakan sesuatu yang Haechan hindari. Bukankah mereka menakutkan?

"Aku akan ganti baju."

Haechan melangkahkan kakinya cepat menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Mengabaikan semua teriakan dari Taeyong maupun Jaemin yang masih saja mendesaknya untuk cerita. Menggodanya lebih tepatnya. Dan demi Tuhan Haechan sangat malu sekarang.

"Hey hey Haechanie! Kita belum selesai bicara!"

Setelah memastikan Haechan sudah hilang dari pandangannya, Taeyong membalikkan badan ke arah Jaemin yang berada di belakangnya. Disambut dengan pelukan sahabat adiknya itu sambil berjingkrak tidak karuan.

"Kyaaa Taeyong hyung, aku bahagia sekali!"

Taeyong yang mendengarnya juga segera memeluk Jaemin dengan sama bahagianya.

"Aku juga Jaeminie, akhirnya adikku tersayang dan Mark mengalami kemajuan!"

Jaemin melepas pelukannya dan beralih meraih tangan Taeyong.

"Kita harus merayakannya."

Luhan menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak tidak Jaeminie. Ini masih belum selesai. Kita harus berusaha lebih keras lagi sampai mereka menjadi sepasang kekasih."

"Benar juga. Call!"

Ingat dengan apa yang pernah Jaemin katakan tentang koalisi? Mereka benar-benar melakukannya. Bahkan dengan seluruh anggota keluarga. Bukankah itu sangat hebat?

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Di sini lah Haechan. Berakhir bersama Jaemin di toko buku pusat perbelanjaan untuk menemani sahabatnya itu membeli buku. Meyusuri lorong bertuliskan manajemen yang memiliki beberapa rak panjang.

"Kau mencari buku apa?"

Masih dengan matanya yang meneliti tiap judul buku yang tertata rapi di rak, Jaemin menanggapi Haechan tanpa menoleh ke sahabatnya itu. Haechan pun hanya mengokori Jaemin memperhatikan apa yang sahabatnya sedang lakukan.

"Beberapa literatur untuk mendukung penelitianku."

Jaemin telah sampai pada ujung rak dan masih belum menemukan apa yang ia cari. Memutuskan untuk mencari di rak lainnya sebelum menoleh ke Haechan.

"Aku akan mencari ke sana."

Jaemin meninggalkannya begitu saja. Membuat Haechan menghela napas sejenak. Sebelum –

"Haechan."

Haechan seperti mendengar ada suara yang memanggilnya. Mengintip pada celah rak yang satu buku tebalnya telah diambil oleh seseorang di balik rak tempatnya berdiri. Merasa bahwa panggilan itu berasal dari sana.

"Yuta hyung."

"Wah kita bertemu lagi tanpa disengaja."

Tampak sosok yang dikenalinya sebagai Yuta –sunbaenya, memutari rak menuju tempat Haechan berada. Sedang Haechan menunggu dengan diam di tempat.

"Kau di sini? Mencari sesuatu?" Tanya Yuta segera setelah berada tepat di depan Haechan.

Haechan tampak melebarkan senyumnya melihat Yuta. Tak disangka dirinya bisa bertemu dengan seniornya lagi tanpa direncanakan. Haechan memang sempat mengirim pesan pada Yuta pada malam itu. Niatnya untuk memberi tau nomor ponselnya agar Yuta bisa membuat janji kapan saja. Tentunya berkat desakan dari Jaemin.

Dan belum sempat mereka membuat jani bertemu, malah sudah dipertemukan lagi dengan tidak sengaja. Apa ini takdir?

"Hanya mengantarkan temanku."

"Sunbae!"

Teriak seseorang pada Yuta dari ujung lorong. Ah Jaemin rupanya. Sepertinya Jaemin sudah menemukan buku yang ia cari terlihat dari tangannya yang membawa buku.

Haechan terkekeh melihat Jaemin. Benar dugaannya bahwa Jaemin pasti akan sangat histeris jika bertemu dengan seniornya itu. Perlu diketahui dulu Na Jaemin merupakan fans nomor satu dari Nakamoto Yuta. Dan betapa beruntungnya dia karena berada di satu klub yang sama dengan idolanya. Kabar baiknya lagi mereka bertiga jadi sangat dekat waktu itu. Membuat Jaemin sering menyebut dirinya sebagai lucky fans.

"Nah itu jaemin."

"Oh hai Jaemin. Lama tidak bertemu." Sapa Yuta pada Jaemin yang membuat juniornya itu berlari mendekat dengan tidak sabaran.

"Oh astaga sunbae sudah sangat lama sekali. Aku merindukanmu."

Yuta terkekeh mendengar Jaemin masih saja menyebutnya sunbae. Merasa sudah lama sekali Yuta tidak mendengarnya. Yuta dulu sangat memaksa agar Jaemin memanggilnya hyung. Toh mereka dapat dikatakan dekat waktu itu. Tapi bagi Jaemin, Yuta memiliki tingkatan yang berbeda sehingga dirasanya panggilan sunbae terasa lebih pantas untuknya. Hingga sampai pada Yuta yang mengancam Jaemin dengan tidak mau bicara lagi dengan anak itu. membuat Jaemin mau tidak mau membiasakan diri memanggil Yuta dengan sebutan hyung.

"Jangan terlalu formal Jaem."

"Mian."

Jaemin makin menatap Yuta dengan mata berbinar. Meneliti penampilan sunbaenya itu dari ujung rambut ke ujung kaki. Menyadari bahwa idolanya itu semakin tampan dan dewasa sekarang. Namun masih ada senyum menawan yang dulu sempat membuat Jaemin jatuh hati.

"Yuta hyung kau terlihat semakin tampan sekarang." Puji JAemin secara terang-terangan. Membuat Yuta tertawa geli akan hal itu.

"Na Jaemin ku adukan kau ke Jeno hyung." Ancam Haechan melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya masih saja sangat berlebihan mengagumi Yuta padahal sekarang ia sudah memiliki kekasih.

Jaemin melirik Haechan dengan tajam dan sedikit memperingatkan sahabatnya itu untuk menutup mulut. "Coba saja kalau berani."

Jaemin mengalihkan atensinya kembali pada Yuta. "Yuta hyung sedang apa?"

Whoaa Na Jaemin kau benar-benar menakjubkan.

Haechan tau kalau sahabatnya mudah sekali merubah mood nya. Lihatlah bagaimana Jaemin berkata sinis padanya dan beberapa detik setelahnya kembali berkata manis pada sunbaenya. Membuat Haechan sedikit kesal karenanya. Tolong ingatkan Haechan untuk benar-benar mengadukan Jaemin pada Jeno nanti.

"Mencari beberapa buku."

Jaemin tampak menganggukkan kepalanya tanpa ingin repot-repot mengerti. Masih terlalu sibuk mengagumi sosok tampan di depannya itu.

Yuta yang melihatnya membiarkan maklum. Jaemin memang selalu seperti ini jika bertemu dengannya.

"Kalian mau makan bersamaku?" Tawar Yuta memandang keduanya bergantian.

"Tentu aku mau!"

Jaemin yang menjawabnya. Terlampau antusias. Terlampau cepat. Hingga tidak membiarkan Haechan sempat berpikir. Membuat Haechan menghela napas berat.

Hah. Jaemin memang suka seenaknya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Satu jam telah berlalu yang ketiganya habiskan untuk makan siang. Yuta memilih tempat berupa café yang menjual makanan berat maupun gudapan ringan karena ia yakin bersama dengan dua orang juniornya di masa kuliah ini tidak akan memakan waktu yang sedikit. Maka ia putuskan mencari tempat yang nyaman untuk sekedar mengobrol panjang. Memesan menu kecil setelah beberapa karbo berat yang telah mengisi lambung sekedar untuk memperpanjang waktu mereka di tempat ini.

Obrolan mereka banyak diselingi tawa. Tak jauh dari cerita nostalgia masa kuliah hingga saling melempar pertanyaan perihal keadaan masing-masing sekarang. Dan Jaemin lah yang paling antusias. Tentu Yuta akan menanggapinya dengan senang hati. Tapi bagi Haechan terkadang Jaemin itu sedikit berlebihan. Membuatnya masih tetap dengan gerutuannya.

Awas saja akan ku adukan.

"Aku ke kamar mandi sebentar." Pamit Jaemin pada Yuta dan Haechan.

Sepeninggal Jaemin, Yuta mengalihkan atensinya secara penuh pada Haechan. Merasa senang dapat bertemu dengan junior kesayangannya itu. terlebih kini mereka hanya berdua.

"Jaemin masih saja seperti itu."

Haechan yang mendengarnya tertawa riang. "Maafkan dia hyung."

"Tidak tidak. Aku senang melihatnya. Tapi aku jadi tidak enak sendiri pada kekasihnya."

Haechan tadi sempat menegaskan pada Yuta kalau Jaemin sudah memiliki kekasih super tampan bernama Jeno. Membuat Jaemin menyuarakan protesnya tidak suka karena Haechan membocorkan statusnya.

Yuta menumpukan tangannya pada meja dan menyangga kepalanya. Semakin intens memandang Haechan. Haechan yang dipandang seperti itu tentu saja merasa gugup. Membuatnya lebih memilih menundukkan kepalanya.

"Jadi apakah kau juga telah memiliki kekasih sekarang?"

"Eh?" Pertanyaan macam apa itu?

"Pria yang waktu itu bersamamu di acara Bussines Fair itu –"

Pipi Haechan mendadak merah mendengar Mark disebut-sebut. Membuatnya menyanggah dengan cepat sebelum jantungnya kembali menggila.

"Ah tidak tidak. Aku kan pernah mengenalkannya padamu sebagai temanku waktu itu."

"Ya waktu itu." Yuta mengingat dengan jelas apa yang Haechan katakana waktu itu. Menyebut pria itu sebagai temannya. Baginya tidak masalah selama mereka berdua belum saling memiliki. Bukankah itu berarti lampu hijau masih berlaku untuknya?

Yuta tersenyum memandang Haechan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Syukurlah kalau begitu."

"Eh?" Haechan mengernyit heran.

"Syukurlah karena aku sepertinya masih memiliki kesempatan."

Haechan kaget mendengar pengakuan Yuta barusan. Dirinya bukanlah orang bodoh yang tidak tau dengan makna tersirat seperti itu. Ditambah Yuta mengatakannya dengan sangat jelas. Membuat Haechan merasa tidak nyaman di tempat duduknya. Mencoba membenarkan letak kursinya. Namun sayang karena terlalu terburu-buru membuat sikunya terantuk siku kursi yang terbuat dari kayu keras.

"Akh."

"Haechan hati-hati!"

Yuta berdiri dari tempat duduknya. Mendekat pada Haechan yang tampak memegangi sikunya menahan sakit. Berjongkok di samping kursi Haechan untuk melihat siku itu.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Yuta sedikit khawatir meskipun yang Haechan alami hanya terantuk siku kursi.

Yuta memegang siku Haechan dan mulai mengamatinya. "Apa sakit?"

Haechan merasa tindakan Yuta terlalu tiba-tiba dan dia belum bisa mengontrol dirinya dengan benar. Tidak merespon apa yang Yuta lakukan dan hanya membiarkan Yuta bertindak mengamati sikunya.

Haechan yang sadar bahwa posisi mereka berdua yang terlampau dekat sekarang mendadak menjadi gugup. Mencoba melepaskan tangan Yuta yang masih setia pada sikunya dengan halus.

"Ta –tak apa Yuta hyung, aku baik-baik saja."

Di sisi lain, terlihat dua pria tampan dengan setelan formalnya tampak memasuki café tempat ketiganya berada. Salah satu pria tampan yang memiliki tatapan tajam tampak mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang pas membiarkan satu lainnya memilih menu. Pria tampan itu menghentikan pandangannya pada meja paling pojok dekat jendela tempat Haechan dan Yuta berada. Merasa mengenali kedua sosok tersebut.

Haechan? Dan bukankah itu Yuta?

Sayangnya yang pria itu lihat saat ini adalah keadaan yang dapat membuatnya salah paham. Karena siapapun orang yang melihatnya pasti akan menyimpulkan kalau Yuta merupakan sosok kekasih perhatian terhadap pasangannya. Dan mereka salah. Salah besar. Seperti apa yang terjadi pada pria tampan pemilik mata tajam itu.

Apa mereka memang sedekat itu?

Wajah Mark –pria tampan itu seketika mengeras melihat pemandangan yang tertangkap mata tajamnya. Membuatnya merasa terbakar entah untuk alasan apa.

"Lucas ayo kita cari café yang lain saja."

Tanpa mengindahkan Lucas yang masih sibuk melihat papan menu untuk memesan makanan, Mark melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari tempat itu.

"Eh tapi tadi kan kau bilang ingin makan spaghetti di sini."

"Tidak jadi. Aku tidak berselera." Membuka pintu café dengan tidak sabaran dan melangkah cepat dengan aura dingin menuju mobilnya.

Lucas yang melihat itu mau tidak mau mengikuti Mark. Mencoba berpikir kemungkinan yang membuat Mark berubah pikiran. Tidak biasanya Mark seperti ini.

"Aneh sekali."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Setelah acara makan siangnya dengan Lucas, Mark kembali ke kursi kebesaran ruang kerjanya. Mendudukkan dirinya sambil berpikir akan sesuatu. Sesuatu yang dilihatnya tadi di café.

Sungguh pemandangan Haechan yang menghabiskan waktu makan siangnya bersama Yuta membuat Mark terusik sekarang. Bahkan ia tidak berselera lagi dengan makan siangnya. Membuat Lucas yang memang sangat suka makan berakhir dengan menghabiskan makanan Mark.

Pintu ruang kerja Mark terbuka mengalihkan atensi Mark dari pikiran-pikiran rumitnya. Mengenali sosok paruh baya yang telah ia hubungi beberapa menit yang lalu.

"Paman kim aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Ucapnya langsung dengan nada kelewat dingin.

"Apapun tuan muda."

"Carikan informasi tentang pria bernama Nakamoto Yuta. Segera. Dan pastikan informasi yang kau dapat tidak tertinggal sedikitpun." Lanjut Mark dengan penuh penekanan.

"Baik tuan muda akan saya laksanakan."

Sepeninggal orang kepercayaan keluarga Lee itu, Mark kembali pada pikirannya tentang sosok yang sangat ingin ia ketahui. Memutar kursinya ke belakang hingga kini ia menghadap kaca besar yang memperlihatkan jalanan Seocho yang sedikit lenggang.

"Nakamoto Yuta."

Mungkin benar perasaan terusik sejak Mark bertemu Yuta pertama kali di acara Business Fair waktu itu. Pria itu memang sangat mengganggu. Menandainya sebagai calon musuh yang ternyata terasa benar adanya sekarang. Dan Yuta tidak pernah tau dengan siapa ia berurusan. Menerobos teritorial yang entah sejak kapan Mark tandai. Satu yang perlu Yuta ketahui dan Mark dengan sangat senang hati akan mengenalkan diri. Bahwa seorang Mark Lee tidak pernah berbaik hati pada musuhnya. Terlebih pada seseorang yang menyentuh miliknya.

.

.

.

.

.

TBC

Cuap-cuap Author

Ada beberapa yang mau aku sampaikan.

Maaf karena ini merupakan waktu terpanjang aku buat update. Udah lewat 8 hari dan aku bener-bener menyesal membuat kalian menunggu. Di tambah aku yang masih gak bisa nentuin jadwal tetap upload. Pengennya sih paling gak seminggu dua kali lah. Tapi keadaanku sekarang benar-benar gak bisa buat merealisasikan itu. Mohon pengertiannya ya.

Soal chapter 3 kemaren, too many typos and I'm so sorry about that. Aku selalu punya kesulitan saat proses final editing. Masih aja ada typo yang lolos. Dan itu sangat mengganggu, iya kan? Kenapa perlu final editing? Karena aku orangnya kalau udah berimajinasi jari suka jalan sendiri, fokus ke keyboard tanpa liat ke layar wkwk

Ada yang bikin aku bahagia banget. Tebak apa? Pastinya yang pertama karena dari sekian viewers masih ada yang bersedia corat-coret di kolom review. Kalian yang terbaik! Dan yang kedua karena dari beberapa yang bersedia corat-coret di kolom review, ada author-author kesukaanku. Aaakh aku baper di notice tapi dalam keadaan tulisan yang masih kayak begini. Maafkan aku. Aku bakal berusaha buat belajar lagi, ngasih yang lebih baik lagi, jadi jangan sungkan-sungkan buat menuangkan kritik dan saran ya. Aku welcome kok orangnya. Bagi yang udah sempet ngasih kritik, makasih banget. Semoga aku bisa lebih memuaskan di chapter-chapter selanjutnya.

For everyone who want to know me more, please contact me. Mungkin mau nyampein sesuatu yang gak enak kalo disampein lewat kolom review. Atau mungkin berbagi imajinasi buat project ku selanjutnya haha

.

That's all. Please love MarkHyuck more. See you on the next chapter. Saranghae pyeong~