TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

It has been so long for an update. Please kindly re-read previous chapter if it's needed

HAPPY READING

.


Chapter 5


Jaemin mengendarai mobilnya membelah jalanan Seocho dengan pelan. Untunglah jalanan Seocho saat ini sedang lenggang karena jam makan siang kantor telah berakhir sekitar satu jam yang lalu. Jadi ia tidak akan mendapat umpatan protes dari pengendara lainnya karena kecepatannya menyetir.

Jaemin sedikit heran dengan perubahan sahabatnya sepulang dari café tempatnya menghabiskan waktu bersama senior mereka beberapa saat lalu. Jaemin tau Haechan memang pendiam. Dia hanya akan berbicara panjang jika menurutnya itu perlu. Tapi kediaman Haechan saat ini sangat aneh untuk Jaemin. Membuatnya tidak bisa menahan rasa khawatir dan penasarannya. Pasalnya Jaemin hanya meninggalkan Haechan dan Yuta beberapa menit ke kamar mandi, setelah ia kembali, malah menemukan aura aneh antar keduanya.

Mungkin Yuta memang tampak seperti sediakala masih dengan senyum lebar menyenangkannya, namun Haechan –Jaemin tidak tau apa yang membuat sahabatnya itu jadi sediam ini. Bahkan ia tak henti-hetinya menundukkan kepalanya seperti enggan membuat kontak mata dengan Yuta. Padahal Yuta terus mengajak Haechan berbicara. Menjadikan Jaemin berinisiatif untuk menimpali candaan Yuta tersebut agar suasana antar ketiganya tidak menjadi canggung.

Kediaman Haechan terus berlanjut bahkan setelah Yuta tidak ada. Membuat Jaemin sangat yakin bahwa sesuatu pastilah telah terjadi. Haechan yang biasanya akan meramaikan mobil Jaemin dengan suara merdunya, kini malah enggan mengucapkan satu kata pun. Senantiasa mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Yang demi Tuhan, sungguh membuat Jaemin tidak tahan.

"Chan kenapa kau diam saja?" Akhirnya Jaemin bertanya dengan nada khawatirnya setelah beberapa menit memikirkan apa yang salah dengan sahabatnya itu. Sesekali Jaemin akan mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya ke arah kursi sampingnya. Tempat Haechan berada.

Jaemin memang sengaja memelankan laju mobilnya, karena Jaemin harap ia dapat memberikan waktu yang cukup agar Haechan paling tidak mau membuka suara. Tapi sepertinya ia harus menelan bulat-bulat harapannya itu. Membuatnya mau tak mau bertanya pada sahabatnya itu.

Haechan yang saat itu masih setia melihat keluar jendela mobil dengan pikiran yang kian berkecamuk, mengalihkan pandangan ke arah Jaemin. Merespon pertanyaan Jaemin yang tidak tertangkap sama sekali olehnya.

"Huh?"

Jaemin semakin memandang Haechan dengan khawatir. Lihatlah, bahkan sahabatnya itu tidak mendengarkan pertanyaan kekhawatirannya barusan. Seserius itukah sampai-sampai Haechan mengabaikannya seperti ini? Jelas sekali jika memang ada hal yang mengusik sahabatnya itu. Membuatnya menghela napas dengan sabar dan mengulangi pertanyaannya.

"Apa terjadi sesuatu?"

Haechan yang kali ini telah sepenuhnya fokus mendengarkan Jaemin menggeleng dengan cepat dengan mata yang mulai gelisah. Haechan tau selamanya ia akan menjadi buku yang terbuka gamblang dan mudah dibaca untuk seorang Na Jaemin. Tapi bolehkah Haechan berharap kali ini Jaemin tidak tau? Nampaknya tidak.

"Ah tidak tidak."

Jaemin yang mendengar jawaban Haechan menghela napas jengah. Kapan Haechan akan berhenti mencoba menyembunyikan sesuatu darinya? Karena itu akan sangat percuma. Jaemin tau –selalu tau, bahkan kali ini pun, bahwa ada hal yang tidak beres dengan sahabatnya itu.

Berkali-kali Jaemin menegaskan bahwa Haechan bisa berbagi apa saja pada Jaemin, sama seperti yang sering Jaemin lakukan padanya. Menjadikan satu sama lain sebagai tenpat mencurahkan segalanya. Tapi Haechan tetap tidak bisa segamblang dirinya. Ia selalu berpikir bahwa ia dapat mengatasi semuanya sendiri, memendamnya dan tidak mau repot-repot menceritakannya karena ia takut membebani orang lain.

Jaemin sadar bahwa Haechan selalu butuh sedikit paksaan agar ia mau terbuka akan apa yang telah terjadi padanya. Dan membuat Haechan buka suara bukan perkara yang sulit untuk Jaemin. Ia hanya harus menjadi lebih keras kepala dari sahabatnya itu.

Jaemin berpikir sejenak sebelum mendadak memutuskan untuk membelokkan mobilnya menuju taman. Memarkirkan dengan benar mobilnya yang tentunya mengundang tanda tanya besar bagi Haechan. Setelah memastikan mobilnya telah terparkir dengan sempurna dan mematikannya, Jaemin melepas seat beltnya dengan tidak sabaran dan menghadapkan tubuhnya ke arah Haechan.

"Chan, kau tidak bisa membohongiku." Ujar Jaemin menatap Haechan dengan tatapan tajam memaksanya. Haechan yang ditatap demikian hanya tersenyum getir dan menundukkan kepalanya.

Haechan benci ini. Ketika ia bersikeras untuk tetap diam namun keadaan membuatnya tidak bisa mempertahankan keterdiamannya.

"Kau benar." Cicit Haechan pelan nyaris tidak terdengar oleh Jaemin.

Jaemin membenarkan posisi duduknya. Menahan diri agar tidak terlalu mengintimidasi sahabatnya itu. karena akibatnya akan sangat buruk. Jangankan bercerita, bahkan Haechan mungkin saja tidak mau membuka suara.

"Katakan, ada apa? Apa sesuatu terjadi saat ku tinggal tadi?" Ujar Jaemin dengan suara lembut dan tatapan menenangkannya.

Haechan jelas makin gelisah dengan pertanyaan Jaemin. Meskipun kini sahabatnya itu telah mengganti nada memaksa tidak sabarannya dengan lembut dan tatapan menenangkannya. Tapi tetap saja terasa sulit untuk Haechan. Bukan enggan, Haechan malah tergoda untuk menceritakan segalanya pada Jaemin, hanya saja Haechan merasa takut. Bagaimanapun juga Jaemin merupakan sahabat satu-satunya bagi Haechan. Dan pilihan untuk menyakiti hati Jaemin tidak pernah terlintas dibenaknya. Menurutnya kenyataan yang terjadi antaranya dan Yuta, bukan merupakan kabar baik untuk Jaemin. Bahkan mungkin saja bisa menyakiti sahabatnya itu.

Tapi melihat bagaimana Jaemin menatapnya penuh harap, membuat Haechan semakin tidak tega. Membuatnya mau tidak mau meyakinkan diri dan mulai membuka suara. Mengabaikan reaksi yang akan Jaemin tunjukkan nantinya. Tak apa. Jika Jaemin marah, maka Haechan bersumpah dengan sekuat tenaga akan menenangkannya.

Haechan mulai mengangkat wajahnya. Menatap mata Jaemin dengan tatapan sendunya.

"Itu, Yuta hyung –" Haechan menggantungkan perkataannya mencoba mengumpulkan keberanian.

Haruskah aku mengatakannya?

Jaemin masih diam menatap Haechan. Enggan mengeluarkan suara lagi. Hanya menunggu sahabatnya itu melanjutkan kalimatnya. Hal itu tak ayal membuat Haechan menundukkan wajahnya kembali, tidak tahan melihat Jaemin. Memainkan jemarinya secara random. Tanda bahwa ia sedang gelisah.

"Ku rasa dia menyukaiku." Cicit Haechan dengan pelan.

"Apa?" Tanya Jaemin memastikan. Bukannya Jaemin tidak mendengar apa yang Haechan katakan barusan. Meskipun sahabatnya itu mengatakannya dengan nada pelan dan ragu-ragunya, Jaemin masih bisa mendengarnya dengan jelas. Hanya saja Jaemin perlu memastikan. Karena ia tidak pernah menyangka hal itu masuk ke dalam kemungkinan jawaban yang Haechan berikan padanya.

"Tadi saat kau ke kamar mandi dia sempat membahas tentang Mark hyung. Dan saat ku tegaskan bahwa kami hanya berteman dia malah mengatakan –" Haechan menggantungkan perkataannya kembali. Membuat Jaemin menahan napas karena rasa penasaran dan tidak sabar. Haechan menghembuskan napas berat untuk kemudian menyudahi perkataannya.

" –mengatakan kalau dia masih memiliki kesempatan."

"Hah? Yuta hyung?" Tanya Jaemin masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya. Oke bolehkah Jaemin meragukan kinerja telinganya saat ini? Karena sungguh, Jaemin tidak menyangka bahwa takdir akan menuliskan kisah hingga seperti ini.

Seat belt Haechan yang masih terpasang nampaknya terasa mengikat erat tubuhnya hingga sulit bernapas. Membuatnya ikut melepasnya, sama seperti apa yang Jaemin lakukan. Dan mengarahkan tubuhnya untuk memandang tepat pada sahabatnya itu. Memulai segala penjelasannya mengingat Jaemin hanya diam terpaku setelah ia menuntaskan perkataannya. Apakah seharusnya dari awal Haechan tidak perlu mengatakannya saja?

"Jaem apa kau marah?" Haechan memandang sahabatnya dengan sendu dan nada khawatirnya.

Jaemin terlihat diam menerawang, berkecamuk dengan pikirannya yang entah apa Haechan tidak dapat menebaknya. Sebelum sesaat kemudian menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan segala pikiran rumitnya dan kembali memfokuskan perhatiannya pada Haechan.

"Aku? Untuk apa aku marah?" Jaemin mengernyit tidak mengerti atas pertanyaan Haechan.

Menurut Jaemin Haechan mendadak berubah menjadi bodoh hingga menanyakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Karena semenyebalkan apapun Haechan, Jaemin akan selalu berakhir memakluminya. Marah? Hal itu bahkan tidak pernah terlintas sama sekali dibenak Jaemin. Dan lagi pula untuk apa Jaemin marah?

"Kau kan suka sekali dengan Yuta hyung." Jawab Haechan dengan hati-hati dan wajah gelisahnya. Membuat Jaemin tidak bisa menahan untuk tertawa keras menyadari apa yang membuat sahabatnya itu gelisah dan sempat enggan membuka suara adalah karena khawatir tentang tanggapannya.

Hah yang benar saja.

Jaemin tau bahwa Haechan terkadang suka mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Dan berapa kali pun Jaemin mengatakan pada Hechan untuk mengabaikan rasa tak enaknya itu, akan selalu berakhir dengan Haechan yang mengulanginya lagi dan lagi. Membuat Jaemin berpikir, sahabatnya itu terlalu baik hati hingga terlihat bodoh.

Jaemin menghentikan tawanya melihat Haechan yang semakin murung melihatnya. Berdehem sejenak untuk menghilangkan tawanya dan mulai meluruskan kesalah pahaman Haechan.

"Haechanie kau seperti tidak tau aku saja. Aku sudah memiliki Jeno hyung. Untuk apa aku melirik pria lain? Maksudku melirik dalam artian –ya kau tau kan apa maksudku."

Haechan masih senantiasa memandang Jaemin dengan mata bulat polos muramnya. Membuat Jaemin menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mengusak gemas sahabatnya itu dan hanya memekik keras dalam hati.

Kau itu menakutkan tapi kenapa bisa terlihat begitu menggemaskan?

"Suka ku pada Yuta hyung itu hanya sebatas penggemar dan idolanya. Tidak lebih." Jelas Jaemin dengan mata yang menyiratkan sebuah keseriusan. Membuat Haechan yang mendengarnya bernapas lega. Bersyukur bahwa hal buruk itu hanya terjadi dipikirannya. Kau memang bodoh Haechan sampai meragukan Jaemin.

"Syukurlah."

Jaemin mengernyit curiga. "Apa kau bilang? Kau bersyukur karena tidak punya sainga–"

"Jaem berhenti berpikir macam-macam. Kau kan tau sendiri siapa yang ku sukai." Potong Haechan dengan segera. Menghentikan Jaemin dengan segala buruk sangkanya.

"Lalu?" Tanya Jaemin masih dengan nada menghardiknya.

Haechan memutar matanya jengah sebelum melanjutkan penjelasannya. Sahabatnya itu memang tak sabaran sekali. Selalu saja berpikir pendek tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.

"Maksudku, syukurlah karena kau hanya menyukai Jeno hyung. Dia sudah dalam kategori sempurna sekali untukmu."

Haechan yang secara tidak langsung memuji kekasih miliknya, membuat Jaemin tidak bisa menahan senyum lebarnya. Kenyataan bahwa pria sempurna itu adalah miliknya nampaknya membuat Jaemin berbangga diri.

"Iya lah Chan. Kau ini bagaimana. Aku tidak sebodoh itu untuk bermain di belakang Jeno hyung." Jaemin menepuk pelan dadanya.

Maeskipun Jaemin tipikal orang yang mudah untuk bergaul, bahkan penggemarnya banyak berkeliaran di luar sana, tak sedikit pula yang menyukainya menawarkan diri menjadi kekasihnya. Tapi sayang mata Jaemin kini hanya tertuju pada Lee Jeno. Sosok hangat penuh pesona yang memiliki segala bentuk perhatian yang Jaemin dambakan.

Jaemin memicingkan matanya sambil bersidekap. Menatap Haechan dengan mata selidiknya. "Jujur saja, kau berpikir yang tidak-tidak kan tentangku?"

Jackpot

Nyatanya dugaan Jaemin 100% benar adanya. Membuat si pelaku hanya memperlihatkan deretan gigi putih rapinya tak berdosa.

"Dasar menyebalkan."

Jaemin mempoutkan bibirnya lucu berpura-pura merajuk. Membuat Haechan tertawa senang karenanya. Sebelum mengembalikan percakapan ke yang seharusnya. Nampaknya Jaemin perlu memastikan sesuatu.

"Jadi Yuta hyung menyukaimu?"

Haechan menerawang sejenak, menghembuskan napas lelah dan kembali menekuk wajahnya.

"Itu yang ku tangkap."

"Lalu kau bagaimana?" Tanya Jaemin penasaran. Membuat Haechan entah untuk ke berapa kalinya menghela napas dengan berat, kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil menatap nyalang taman Seocho tempat mereka berada sekarang.

"Entahlah Jaem. Aku bingung harus bagaimana sekarang. Sungguh ini terlalu tiba-tiba."

Jujur saja, kemungkinan bahwa Yuta memiliki perasaan padanya tidak pernah terlintas sedikit pun dibenak Haechan. Haechan memang sangat menyukai sosok seniornya tersebut. Bahkan ia akan sangat dengan senang hati dan sukarela menghabiskan waktu berlama-lama dengan Yuta. Tapi itu bukan cinta. Haechan hanya menganggap Yuta sebagai sosok kakaknya. Sama seperti Taeyong. Tapi semua berbeda saat dirinya dihadapkan pada Mark. Tanpa perlu ditanya pun, Haechan selalu tau perbedaan keduanya.

Haechan tau setelah hari ini mungkin saja akan merubah hubungan antaranya dan Yuta. Haechan bingung harus bagaimana. Disatu sisi ia tidak ingin menghindari Yuta, tapi di sisi lain Haechan tidak bisa membohongi dirinya bahwa secara tidak langsung sikapnya akan berubah dengan sendirinya terhadap pria Jepang itu.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan menghampiri Jaejoong yang saat ini tengah berkutat di dapur memasak hidangan jamuan makan malam. Tentunya dengan beberapa maid yang membantu, dengan sang eomma sebagai chef utama.

"Eomma."

Jaejoong yang mendengar panggilan dari si bungsu menghentikan kegiatannya sejenak. Menyambut kedatangan putra kecil manisnya.

"Hai sayang."

Setibanya Haechan di samping Jaejoong, tangannya meraih piring kosong lainnya yang telah disiapkan untuk mulai membantu sang eomma menata hidangan yang telah dibuatnya. Tidak seperti jamuan makan malam biasanya, malam ini Jaejoong memasak lebih awal dengan jumlah yang lebih banyak dan menu yang beragam. Ia memang sempat mendengar calon kakak iparnya akan ikut bergabung malam ini. Tapi melihat persiapan yang dilakukan oleh sang eomma, Haechan berpikir mungkin saja jamuan kali ini lebih penting, bukan hanya sekedar makan malam bersama. Dan sayangnya Haechan tidak tau itu apa.

"Apa terjadi sesuatu?" Haechan akhirnya menyampaikan rasa penasarannya pada Jaejoong sambil sesekali mengalihkan pandangannya dari piring-piring menuju sang eomma. Membuat Jaejoong ikut menghentikan kegiatannya dan menatap si bungsu.

"Hyungmu?" Tanya Jaejoong memastikan.

Haechan hanya mengangguk menanggapi pertanyaan sang eomma. Memandang Jaejoong dengan tatapan penasaran yang sarat akan kekhawatiran di sana.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. Sedikit sedih tidak dapat memberikan jawaban yang di inginkan oleh si bungsu. Memutuskan untuk kembali pada kegiatannya menata beberapa hidangan yang selesai dimasaknya pada piringnya masing-masing.

"Entahlah. Eomma tidak ikut campur tentang hal itu. Kau tau kan Appamu sangat susah untuk dibantah. Mungkin Taeyongie sedikit tertekan akan hal itu."

Jaejoong sedikit menerawang. Sejak kedatangannya dua hari yang lalu, kedua putra manisnya memang terlihat bahagia. Tapi jelas sekali di sisi lain putra sulungnya terlihat tertekan entah karena sebab apa. Jaejong sudah mencoba untuk menanyakannya pada Taeyong, tapi putra sulungnya itu hanya menghadiahinya sebuah senyuman manis dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Sebagai seorang ibu, Jaejoong tentu saja tau apa yang salah dengan putranya. Meskipun Taeyong enggan mengatakan, tapi Jaejoong bisa merasakannya. Dan keterdiaman Taeyong nampaknya membuat ibu dari dua orang putra yang sama manisnya dengan dirinya itu khawatir.

Jaejoong sempat bertanya pada Yunho. Karena ia tau, diam-diam sang suami sering menghubingi putra sulung mereka. Tapi Yunho enggan menjawab rasa penasarannya. Sang suami hanya mengatakan untuk menyiapkan segala sesuatu untuk jamuan malam ini, karena nampaknya malam ini akan ada percakapan yang sedikit serius.

"Aku tidak suka melihat Taeyong hyung sedih." Haechan berujar lirih dengan wajah murung membuat Jaejoong mau tidak mau memfokuskan atensinya kepada si bungsu. Meraih tangan kanan Haechan, menghadapkan tubuh mungil putra manisnya agar menghadap penuh padanya. Sebelum meyakinkan sang putra dengan menggenggam kedua tangannya lembut.

"Percayalah sayang, eomma dan appa juga sama halnya denganmu."

Jaejoong memberikan senyum terbaiknya pada si bungsu. Ia selalu tau kala kedua putranya ataupun suaminya sedang dalam keadaan seperti ini, maka yang harus ia lakukan pertama kali adalah memberikan senyum terbaiknya. Karena ia yakin senyumannya mampu menghantarkan paling tidak kelegaan bagi kedua putra dan suaminya.

Haechan tersenyum simpul. Mendengar sang eomma berkata demikian membuat ia setidaknya merasakan ada kelegaan tersebar di hatinya.

"Apa Jaehyun sudah datang?" Tanya Jaejong mengalihkan pembicaraan.

"Sepertinya sudah."

Sebelum turun tadi, Haechan menutup tirai kamarnya dan sempat melihat mobil sang calon kakak ipar telah terparkir rapi di halaman rumahnya. Mungki saja saat ini Jaehyun sedang bersama dengan Taeyong.

"Appamu?"

"Masih berada di ruang kerjanya, ku rasa."

Jaejoong mengangguk mengerti. Mengangkat mangkuk besar berisi sup dari pantry untuk ditata pada meja makan.

"Kalau begitu panggilkan appa ya. Eomma akan menyelesaikan ini." Pinta Jaejong pada Haechan dengan senyum manisnya.

"Baik eomma."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Kelimanya telah berkumpul di meja makan saat ini. Terlihat sang kepala keluarga dengan aura berkuasanya duduk di tengah ujung meja. Dengan sang istri dan si bungsu di samping kanannya. Dan calon menantu serta si sulung di samping kirinya.

Tidak seperti jamuan makan malam biasanya, bukan merasa sedang berada di meja makan, Haechan merasa malam ini lebih seperti sedang berada di meja persidangan. Aura hangat yang biasanya menguar, lenyap entah kemana. Haechan tau bahwa sang appa terkenal dingin dan menakutkan. Tapi semua akan berbeda jika berhubungan dengan keluarganya. Dan Haechan tidak tau kemana larinya sosok hangat sang appa.

Belum lagi ketika ia melihat Taeyong. Hyung tersayangnya itu nampak tidak seceria biasanya. Sedangkan sang eomma dan Jaehyun tetap dengan ketenangannya.

Apakah di sini hanya dirinya yang mengkhawatirkan keadaan yang tengah berlangsung?

"Jaehyun, ku dengar proyekmu di Jeju sudah selesai."

Yunho membuka pembicaraan di tengah jamuan yang dirasa Haechan sangat mencekam. Jaehyun menghentikan kegiatannya menyantap hidangan dan memandang hormat pada sang calon mertua.

"Iya abonim. Tinggal menunggu peresmian."

"Baguslah. Dan kau tentu ingat dengan perkataanmu waktu itu." Lanjut Yunho masih dengan kegiatannya menyendok hidangan pada piringnya ke dalam mulutnya. Sesekali ia memandang si calon menantu dengan ekor matanya yang tajam.

"Tentu abonim. Tapi aku menyerahkan semuanya pada Taeyong. Dari awal aku tidak pernah keberatan kalau harus menikahi Taeyong secepatnya."

Jaehyun melirik Taeyong di sampingnya yang sedari tadi hanya diam mengunci rapat suaranya. Menunduk dalam enggan memperlihatkan wajahnya. Dan hanya mengaduk makanannya tanpa berniat memakannya seperti tidak berselera.

"Jadi bagaimana Tae?"

Kini Yunho menghentikan kegiatannya. Menaruh sumpitnya pada tempatnya dan memandang meminta kepastian pada sang putra sulung. Taeyong sangat tau bahwa cepat atau lambat Yunho akan menanyakan hal itu. Tapi tetap saja Taeyong merasa belum siap. Membuatnya mengangkat wajah menatap sang appa dengan gelisah.

"Aku –"

"Appa rasa tidak ada alasan lagi untukmu menundanya." Potong Yunho tidak ingin mendengar alasan lagi dari putranya.

Demi Tuhan, Yunho hanya menginginkan anaknya segera menikah agar dirinya bisa sedikit bernapas lega karena akan ada seseorang yang dapat ia percaya untuk melanjutkan tugas Yunho menjaga putranya. Yunho sadar bahwa ia dan Jaejoong tidak pernah bisa memberikan perhatian penuh pada kedua putranya. Dan kenyataan itu membuatnya tidak tenang setiap saat. Apalagi proyeknya di China yang menyebabkan dirinya dan sang istri harus mengorbankan waktu untuk bertemu dengan kedua putra mereka secara intens.

Yunho mungkin memiliki beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Taeyong dan Haechan selama ia tidak ada. Tapi tetap saja Yunho tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Dan Yunho rasa, menyerahkan Taeyong pada Jaehyun dapat mengatasi rasa khawatirnya tersebut. Jaehyun merupakan sosok yang tepat untuk putra sulungnya. Yunho dapat mempercayainya tentu saja. Membuatnya ingin secepatnya meresmikan keduanya. Tapi nampaknya Taeyong enggan untuk memenuhi keinginannya itu.

"Tapi appa, aku –Haechanie .."

Haechan mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk tenang menyimak sambil menikmati jamuan malamnya. Haechan tau bahwa dibalik setiap alasan Taeyong pasti terselip namanya. Membuatnya merasa tidak enak hati mengetahui kenyataan bahwa selamanya sang hyung akan selalu mengutamakannya di atas kebahagiaannya sendiri.

"Hyung berhenti mengkhawatirkanku secara berlebihan. Aku akan baik-baik saja, sungguh. Aku sudah besar hyung." Ujar Haechan menatap lembut sang hyung. Meyakinkannya dengan tatapan mata yang serius.

Taeyong mendadak gusar mendengar sang adik berkata demikian.

"Tapi tetap saja kau adik kecilku. Dan kalau aku menikah dengan Jaehyun –"

Jaehyun meraih tangan kiri Taeyong yang nampak tegang meremas pahanya. Berniat menenangkan tunangannya itu. Membuat Taeyong menghentikan kalimatnya dan beralih menatap Jaehyun.

"Sayang kau tau kau selalu memiliki pilihan. Jika kau ingin tetap tinggal di rumah ini maka aku akan menurutinya." Ucap Jaehyun menenangkan. Tentu ia tak sampai hati melihat Taeyong tertekan hanya karena gagasan pernikahan. Jaehyun akan melakukan segalanya demi kebahagiaan Taeyong. Dan berjanji akan menuruti apapun itu asal Taeyongnya bahagia.

Taeyong meletakkan tangan kanannya di atas tangan Jaehyun dan mulai memberikan pengertian pada tunangannya itu.

"Tidak tidak Jaehyun. Itu tidak benar." Taeyong menggeleng keras tidak setuju dengan gagasan Jaehyun.

"Taeyong ada benarnya Jae. Sebagai seorang istri tentunya Taeyong harus ikut pulang bersamamu. Terlebih kau adalah anak tunggal. Kami juga tak sampai hati membiarkanmu yang harus mengikuti Taeyong." Tengah Jaejoong.

Taeyong menundukkan kepalanya. Merasa tertekan dengan pilihan yang ada. Disatu sisi ia ingin memenuhi keinginan sang appa. Tapi di sisi lain ia tidak bisa meninggalkan Haechan begitu saja.

"Berikan aku waktu sedikit lagi. Aku perlu memikirkan ini lebih dulu."

"Sayang, jangan memaksakan diri." Jaehyun mengusap lembut jemari Taeyong yang kini terasa sedingin es.

"Aku minta maaf terus menundanya. Aku janji akan memberi keputusan secepatnya. Maafkan aku."

Setelahnya Taeyong berdiri dari tempatnya. Melepas genggaman tangan Jaehyun. Membungkuk sopan pada semua orang yang berada di meja makan sebelum meninggalkan jamuan makan malam tersebut.

Rahang Yunho mengeras mendapati kenyataan bahwa sang putra sulung masih tetap dengan sikap keras kepalanya. Yunho memang sering menghubungi Taeyong. Menanyakan perkembangan hubungannya dengan Jaehyun. Dan sesekali akan menyuruhnya untuk segera menikah. Tapi putranya tersebut selalu memberikan alasan untuk menundanya. Dan kini Yunho tidak sedang dalam toleransi untuk menerima alasan lagi. Membuatnya memutuskan untuk bersikap tegas dan sedikit egois pada Taeyong.

Haechan sendiri hanya dapat melihat kepergian sang hyung dengan tatapan sendu tanpa bisa mencegahnya. Merasa bersalah karena secara tidak langsung semua ini terjadi karena dirinya.

"Hyung."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

"Kopimu."

Jaejoong menyodorkan secangkir cairan kafein hitam pekat di meja kerja tempat sang suami berkutat dengan tumpukan berkas yang nampaknya tidak sama sekali menarik perhatian sang pria matang dengan kacamata bacanya.

"Terimakasih."

Jaejoong tidak akan menyerah begitu saja meskipun Yunho sedang dalam mode tidak ingin dibantah. Niatnya adalah berbicara dengan sang suami tentang kejadian saat jamuan makan malam beberapa saat tadi. Toh semarah apapun sang suami, ia akan menjadi satu-satunya yang selamat dari amukan seorang Lee Yunho. Menjadikannya alasan kuat untuk tetap berdiri menantang dan berbicara tanpa keraguan.

"Sayang tidak kah kau merasa sedikit keterlaluan pada Taeyong?"

Masih dengan kegiatannya membaca berkas dan sesekali membubuhkan tanda tangan di atasnya, Yunho menjawab sang istri seperlunya tanpa repot-repot memandang istri cantiknya yang sejak tadi berdiri di samping kursi kebesarannya tersebut.

"Bagian mana yang kau sebut keterlaluan?

Jaejoong memandang Yunho dengan tatapan sendu yang pastiya tidak dilihat sama sekali oleh suaminya itu. Mengutarakan kekhawatirannya dengan nada pelan yang sendu.

"Kau memaksanya. Taeyong tertekan."

Oke Jaejoong mulai naik pitam sekarang. Lihatlah bagaimana sang suami tetap bersikukuh dengan berkas yang tidak lebih menarik dari pada dirinya. Membuatnya menggebrak meja, berteriak marah mencoba mengalihkan atensi suaminya.

"Lee Yunho, tatap aku jika sedang berbicara!"

Yunho menghela napas berat mencoba sesabar mungkin menghadapi tingkah istrinya yang sepertinya sedang tidak dalam kondisi yang baik.

"Aku sedang menangani beberapa kontrak, sayang." Ujar Yunho dengan sabar sambil menatap sang istri lembut dibalik kacamatanya.

"Persetan dengan pekerjaanmu! Hentikan sekarang, kita perlu bicara."

Hah, Jaejoong yang marah memang tidak bisa dibantah.

Tidak ingin memperpanjang masalah, Yunho akhirnya menghentikan pekerjaannya. Menutup beberapa map dan menyimpan pena yang digunakan di atasnya. Sebelum berdiri dari kursi kebesarannya menghampiri sang istri yang kini tengah melipat kedua tangannya di depan dada dan menghadiahi Yunho dengan tatapan tajam terbaik miliknya.

"Kenapa kau pemarah sekali malam ini?"

"Itu karena kau menyebalkan!"

Jaejoong semakin mendelik tajam. Bukannya terlihat menakutkan, Jaejoong malah terlihat begitu menggemaskan di mata Yunho. Jangan tanya mengapa ia dikaruniai dua putra manis menggemaskan karena keduanya merupakan titisan sempurna dari istri cantiknya ini. Terkadang ia berpikir mengapa dua-duanya harus mewarisi Jaejoong bukan dirinya. Namun kemudian Yunho selalu menemukan dirinya tersenyum bersyukur melihat kedua putra manisnya yang merupakan jiplakan nyata dari Jaejoong yang tak ayal membuatnya tidak pernah lupa untuk jatuh cinta tiap harinya.

"Baiklah, kau menang. Kita bicara di sini atau mau pindah ke ranjang?"

Tangan Yunho merambat melingkari pinggang ramping sang istri sambil menariknya mendekat. Membuat Jaejoong waspada usahanya gagal dan malah berakhir termakan rayuan sang suami.

"Lee Yunho jangan macam-macam. Aku serius."

"Aku juga serius Lee Jaejoong." Timpal Yunho dengan tidak ingin mengalah.

Jaejoong mendorong pelan tubuh sang suami agar memberinya sedikit jarak untuk tetap berpikir jernih.

"Aku tidak mau tau, kau harus meminta maaf pada Taeyong dan bilang padanya kalau kau tidak mempermasalahkan tentang pernikahan itu lagi."

Wajah Yunho mengeras mendengar perkataan sang istri. Demi Tuhan, bisakah istrinya menuruti keputusannya kali ini? Sungguh Yunho sedang tidak ingin dibantah kali ini.

"Kita tidak sedang bernegosiasi tentang hal itu."

Jangan sebut dirinya Lee Jaejoong jika berhadapan dengan suami arogannya saja gentar. Karena semenakutkan apapun seoran Lee Yunho, Jaejong adalah satu-satunya orang yang akan tetap berdiri menantangnya.

"Kau pikir aku sedang bernegosiasi? Apa dalam kepalamu hanya ada bisnis dan bisnis? Aku menyuruhmu Lee Yunho dan aku sedang tak ingin dibantah."

Yunho semakin memicingkan matanya tajam mendengar perkataan sang istri.

"Kenapa kau memanggil namaku seperti itu sedari tadi? Aku tidak suka."

Yunho menghembuskan napas lelahnya. Melepas kacamata yang masih bertengger di batang hidungnya. Menyimpannya di atas meja kerja sebelum menatap ke dalam mata istrinya secara langsung. Memberi pengertian dengan nada lembut agar sang istri mau mengert.

"Dengar, sayang. Aku memang selalu menuruti semua keinginanmu. Tapi tidak untuk kali ini. Aku menyayangimu, begitu pula kedua putra kita. Dan yang ku lakukan pada Taeyong adalah salah satu bentuk kasih sayangku padanya. Mungkin kau atau Taeyong berpikir aku memaksakan kehendakku. Tapi itu semua semata-mata untuk kebahagian Taeyong, sayang. Ku mohon mengertilah. Kau kan juga tau apa alasanku."

Jaejoong luluh mendengar sang suami terdengar putus asa. Membuatnya mendekatkan tubuhnya ke arah Yunho. Mendekap tubuh tegap pria matang tersebut dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang nyaman milik sang suami.

"Tapi Taeyong terlihat tertekan, sayang. Aku tidak tega."

Tangan kekar Yunho menyambut tubuh sang istri. Mendekapnya ke dalam pelukan yang hangat.

"Taeyong hanya terlalu menyayangi Haechan sampai lupa bahwa ia punya kebahagiaan yang perlu ia perjuangkan. Taeyong hanya perlu memantapkan dirinya untuk bisa melepas adiknya, sayang." Jelas Yunho yang kini telah meletakkan dagunya di pucuk kepala istri cantiknya.

"Aku merasa bersalah sekarang. Ini karena kita yang terlalu sibuk hingga membuat Taeyong merasa bertanggung jawab atas Haechan. Aku ibu yang buruk." Sesal Jaejong sambil mendongak memperlihatkan raut sedihnya yang demi Tuhan tidak Yunho sukai.

"Aku tau kedua putraku dengan baik." Tangan Yunho bergerak mengusap kening Jaejoong. "Mereka mengerti, sayang. Jangan pernah merasa menjadi ibu yang buruk bagi mereka."

Setelahnya Jaejoong dapat merasakan kecupan lembut dari bibir sang suami mendarat di keningnya. Membuatnya menutup mata meresapi kelegaan yang ada. Yunho selalu bisa menenangkannya. Menghilangkan segala gundahnya dan berakhir dengan ia yang selalu percaya dengan semua keputusan yang suaminya ambil. Karena Jaejoong yakin kebahagiaan dirinya dan kedua putranya sama menjadi prioritas bagi suaminya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Setelah dirinya melarikan diri di tengah jamuan makan malam, Taeyong mengasingkan diri di kamarnya. Menghabiskan waktu dengan berdiri di depan jendela yang dibiarkan terbuka membuat angin malam yang dingin memhempas kegelisahannya. Setidaknya dengan di temani taburan bintang di atas sana dapat membuat Taeyong sedikit tenang. Mengabaikan tubuhnya yang kini mungkin saja telah berubah sedingin es. Namun tetap diabaikannya.

Taeyong sadar bahwa sikapnya beberapa saat lalu yang meninggalkan jamuan makan malam begitu saja sangatlah tidak sopan. Terlebih sang appa yang nampak tidak dalam keadaan terbaiknya untuk memaklumi Taeyong. Tapi apa boleh buat. Yang Taeyong inginkan hanya waktu untuk sendiri sekarang.

Teringat akan Jaehyun, Taeyong merasa bersalah meninggalkan pria itu begitu saja. Tidak mengantarkannya pulang sampai depan pintu rumah seperti biasanya. Dan hanya melihat dari jendela kamarnya di lantai dua, mobil sang tunangan melaju keluar menuju pagar rumahnya. Jaehyun bahkan sempat mengirimi Taeyong pesan singkat berpamitan untuk pulang. Tapi keadaannya sekarang membuat Taeyong enggan bahkan hanya untuk sekedar membalas pesan.

Taeyong telah membicarakan ini sebelumnya dengan Jaehyun. Tapi tunangannya itu cenderung lebih tenang menghadapinya. Membuat Taeyong menjadi uring-uringan merasa kalau Jaehyun tidak membantu sama sekali. Dan setelah renungan yang Taeyong lakukan. Ia tau bahwa sikapnya terhadap Jaehyun adalah salah. Taeyong sepenuhnya sadar bahwa Jaehyun akan selalu memperjuangkannya, menuruti semua keinginannya, termasuk menunda pernikahan. Mengabaikan seluruh keinginannya sendiri. Tapi bolehkah Taeyong bersikap egois kali ini? Karena ia benar-benar tidak bisa memilih.

Cklek

"Hyung."

Taeyong menoleh ke arah pintu kamarnya yang kini terbuka menampakkan sosok sang adik.

"Haechanie."

Setelah peraduan batin sekitar setengah jam lamanya yang hanya dilewati Haechan dengan mondar-mandir di depan kamar sang hyung, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, Haechan memutuskan untuk memberanikan diri berbicara dengan hyungnya tersebut. Terlepas Taeyong sedang membutuhkan waktu untuk sendiri atau tidak. Haechan akan tetap pada pendiriannya untuk bicara.

"Boleh aku tidur bersamamu malam ini?"

Taeyong terkekeh mendengarnya. Menutup jendela kamarnya beserta tirai berlapis yang menghiasi dan mulai melangkahkan kakinya menuju ranjang miliknya. Menyibak selimut tebalnya sebelum menaiki ranjang tersebut dan mempersilahkan sang adik untuk bergabung bersamanya.

"Kemarilah."

Haechan yang mendengar ajakan dari sang hyung segera menutup pintu kamar, menaiki ranjang dan bergelung nyaman di bawah selimut yang sama.

Haechan menunggu Taeyong ikut berbaring bersamanya. Dan tanpa menunggu lagi Haechan segera memeluk sang hyung. Memulai sikap manjanya sebagai si bungsu.

"Hyung, aku sangat merindukanmu."

"Kita bertemu setiap hari." Ucap Taeyong sambil mengelus rambut madu halus Haechan.

Haechan yang awalnya menenggelamkan kepalanya pada dekapan nyaman sang hyung, menengadahkan kepalanya untuk menunjukkkan wajah merajuknya.

"Tapi tetap saja aku akan selalu merindukanmu kalau kau tidak ada disampingku."

Taeyong terkekeh memandang Haechan yang kini telah mulai menunjukkan sikap manjanya. Lihatlah bibir love-shape itu kini terpout lucu. Belum lagi mata bulatnya yang berbinar. Mengundang Taeyong untuk mengusak kepala sang adik dengan gemas.

"Adikku kenapa sangat menggemaskan."

Haechan kembali memeluk Taeyong dengan nyaman.

"Aku mungkin akan sangat sulit lepas darimu. Terlebih hyung adalah sosok pengganti appa dan eomma bagiku. Aku menyayangimu hyung. Sangat." Haechan memberi jeda sedikit pada kalimatnya.

"Tapi ku rasa tanggung jawabmu padaku sudah selesai."

"Huh?" Taeyong menjauhkan tubuh sang adik yang bergelung nyaman di dekapannya untuk menjauh agar Taeyong dapat melihat wajahnya. Memastikan apa yang dikatakan Haechan.

"Hyung mungkin akan selalu menganggapku sebagai adik kecilmu hingga hyung seolah lupa kalau aku sudah mulai tumbuh dewasa. Aku tidak mau hyung memaksakan diri. Mungkin beberapa tahun yang lalu, meskipun appa dan eomma jarang memiliki waktu untukku, aku akan baik-baik saja, karena aku masih memiliki hyung. Tapi sekarang, kalaupun setelah hyung menikah nanti aku tidak bisa serumah lagi dengan hyung, aku akan tetap baik-baik saja." Jelas Haechan dengan panjang. Matanya bahkan telah memancarkan keseriusan dan ketenangan yang tak pernah Taeyong lihat sebelumnya. Membuat Taeyong tidak tau harus bersikap bagaimana terhadap sang adik, hanya membalas dengan pandangan sendu miliknya.

Mungkin benar kalau dirinya menutup mata sejauh ini. Tapi bolehkah Taeyong terus menutup mata agar bisa bersama dengan adiknya? Rasanya mengakui kalau Haechan dapat hidup dengan baik tanpanya seiring kedewasaannya membuat Taeyong merasa ada ketidak relaan dihatinya.

"Haechanie .."

"Bukankah appa dan eomma selalu mengajarkan kita untuk mandiri. Dan hyung juga seperti itu meskipun terkadang hyung masih suka memanjakanku. Hyung pasti tau kalau kita tidak mungkin bisa selamanya seperti ini. Jangan menjadikan aku penghalang untuk kebahagiaanmu hyung, aku akan sangat bersalah akan hal itu. Lagi pula apa hyung tidak kasihan dengan Jaehyun hyung? Tampaknya Jaehyun hyung ingin secepatnya memilikimu seutuhnya." Lanjut Haechan menjelaskan. Kali ini disertai nada merajuk kala ia membawa nama tunangan milik sang hyung.

Awal Taeyong menjain kasih dengan Jaehyun memang sempat membuat Haechan yang kala itu masih labil uring-uringan tidak jelas. Menuduh Jaehyun terlalu memonopoli hyung tersayangnya dan tidak memberikan ruang baginya. Sesekali hal itu membuat Taeyong mendadak sakit kepala. Mendamaikan kedua orang tersayangnya terasa sangat sulit. Namun seiring berjalannya waktu, entah apa yang telah Jaehyun lakukan untuk mengambil hati Haechan, adiknya berubah menjadi suka sekali mendempeti kekasihnya itu. Bahkan tak jarang ia yang berubah menjadi lalat pengganggu kala ketiganya menghabskan waktu bersama.

"Haechanie kau tau kau tidak seperti itu. Kau adalah salah satu kebahagiaan untuk hyung."

"Tapi aku merasa buruk akan hal itu hyung. Ku mohon mengertilah."

Haechan memberikan sorot mata memohon terbaiknya yang demi Tuhan sungguh membuat Taeyong tidak tahan. Inginnya menuruti apa keinginan sang adik. Tapi Taeyong masih merasa ada yang mengganjal dihatinya yang menyebabkan dirinya tidak tenang untuk meninggalkan sang adik dan memutuskan menikah dengan Jaehyun.

Dengan lembut Taeyong mengusap halus surai Haechan. "Lalu kalau bukan hyung siapa yang akan menjagamu?"

"Hyung mulai lagi. Sebegitukah tidak percayanya hyung padaku?" Haechan mengerucutkan bibirnya tanda merajuk. Hyungnya ini benar-benar –kapan ia akan sadar bahwa Haechan sudah cukup dewasa sekarang?

"Bukan begitu maksud hyung, hanya saja –"

"Aku janji akan mendapatkannya segera." Potong Haechan sambil mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar.

Taeyong mengernyit heran dengan apa yang dikatakan oleh adiknya barusan. "Apa?"

Haechan melihat ke arah Taeyong kembali. Memberikan sorot mata serius yang ia miliki. "Jika yang hyung minta adalah agar aku segera memiliki kekasih, aku akan memilikinya. Segera."

Taeyong mendadak kesal degan perkataan Haechan. Apa-apaan itu tadi? Haha yang benar saja.

Pletak

"Akh! Sakit hyung!"

Teriakan Haechan tersebut disebabkan oleh jitakan sayang di kening yang Taeyong hadiahkan dengan senang hati.

"Bicaramu –ya Tuhan kepalaku."

Taeyong memijat pelan kepalanya sekilas sebelum menghadiahi Haechan tatapan tajamnya. Memulai segala ocehannya karena kebodohan adiknya.

"Kau kira hyung akan menyerahkanmu pada pria sembarangan. Sebelum kau menjadikan seseorang sebagai kekasih, kau harus mendapat ijin dari hyung terlebih dahulu, kau mengerti?"

"Ish sebenarnya siapa yang menjalin hubungan disini." Gerutu Haechan pelan yang sayangnya masih dapat didengar oleh Taeyong.

"Haechan aku masih mendengarmu."

"Iya maaf."

Haechan merubah posisi dari berbaring menjadi duduk menghadap Taeyong. Masih tidak menyerah kembali mencoba meyakinkan hyungnya itu.

"Tapi aku bersungguh-sungguh hyung. Dengan ada atau tidaknya kekasih, aku tetap bisa menjaga diri. Aku janji akan baik-baik saja."

Taeyong mengangkat sebelah alisnya. "Begitukah?"

"Eum!" Angguk Haechan dengan mantap.

"Sepertinya kau ingin sekali hyung keluar dari rumah ini." Ujar Taeyong dengan sedih yang suskses membuat Haechan menjadi kalang kabut.

"Hyung! Kau tau kan maksudku tidak –"

Taeyong terkekeh, menarik lengan Haechan untuk kembali berbaring di sampingnya. Membawa tubuh mungil sang adik untuk didekapnya kembali. "Hyung tau. Hyung hanya bercanda."

Kaeduanya saling terdiam menikmati kenyamanan yang akhir-akhir ini jarang mereka rasakan.

"Apa kau akan bahagia?" Tanya Taeyong memastikan.

"Selama hyung bahagia, aku juga akan bahagia."

Taeyong melepas dekapannya dan menatap dalam mata Haechan. Mencoba mencari jawaban dalam tatapan Haechan dan hanya menemukan adanya keseriusan di sana. Membuatnya mulai membangun keyakinan bahwa apapun langkah yang dipilihnya setelah ini, tidak akan membuat baik dirinya ataupun Haechan tersakiti.

"Baiklah jika itu yang kau mau."

Setelahnya Haechan mendapati Taeyong kembali dengan senyum manis favoritnya. Membuatnya tidak dapat membendung kebahagiaannya. Karena selamanya, senyum Taeyong adalah hal yang paling Haechan ingin jaga.

"Terimakasih Haechanie."

Haechan kembali mendekap tubuh Taeyong bersyukur karena usahanya untuk meyakinkan hyungnya itu berhasil. "Aku sayang Taeyongie hyung."

Taeyong terkekeh mendengarnya. Mengusak surai milik sang adik dengan gemas dan ikut mendekap tubuh mungil itu.

"Tidurlah."

Usapan nyaman yang diberikan oleh Taeyong pada punggungnya, nampaknya membuat Haechan tidak dapat menahan matanya untuk terbuka lebih lama lagi. Nyatanya tidur bersama Taeyong adalah salah satu hal favorit untuknya. Entah mantra apa yang dilafalkan oleh hyungnya itu, yang Haechan tau Taeyong selalu bisa menenangkannya meskipun di tengah kegelisahan. Menyerah dengan kenyamanan yang menyergapnya dan menyambut mimpi indah yang kian menghampirinya.

"Kelak hyung akan sangat merindukan bisa memelukmu seperti ini."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Keesokan malamnya, Taeyong memaksa Jaehyun untuk kembali mengunjungi rumahnya tanpa memberi tau ada apa. Jaehyun yang tidak tau menau tentunya datang dengan terburu-buru sepulang dari pekerjaannya di kantor pusat di Seoul karena mengira ada sesuatu yang terjadi pada tunangannya itu. Terlebih Taeyong tidak membalas pesannya atupun mengangkat panggilannya sama sekali setelah jamuan malam kemarin. Membuat Jaehyun memikirkan sekelebat hal buruk mungkin saja telah terjadi.

Setelah memarkirkan mobilnya, Jaehyun bergegas turun dan disambut dengan Taeyong yang ternyata sudah berdiri menunggu kedatangannya di depan pintu rumah. Mendekat ke arah tunangannya itu dengan segera. Mengabsen dari ujung rambut hingga ujung kaki mengamati jika ada sesuatu yang terjadi pada Taeyong. Tapi syukurlah ketakutannya tersebut hanya terjadi di dalam pikiran buruknya. Nyatanya Taeyong masih dengan kesempurnaannya, malah sekarang tunangannya itu tengah menghadiahi Jaehyun sebuah senyum manis merekah dari bibir semerah cherry favoritnya.

Tanpamengatakan sepatah kata pun, Taeyong menarik tangan Jaehyun tergesa menuju ruang keluarga yang saat ini tengah terdapat Yunho dan Jaejoong beserta Haechan yang sedang memainkan grand pianonya.

Haechan yang melihat kehadiran sang hyung beserta tunangannya tentu saja menghentikan permainannya. Begitu pula Yunho yang tengah sibuk dengan tablet berisi garis-garis sahamnya, dan Jaejoong yang tengah membaca majalah fashion langganannya.

"Aku sudah memikirkannya." Ucap Taeyong dengan mantap. Mengundang atensi dari Yunho, Jaejoong, Haechan bahkan Jaehyun yang masih tidak paham dengan keadaan saat ini.

"Aku bersedia menikah secepatnya." Lanjut Taeyong dengan mantap. Membuat Jaejoong memekik tertahan. Sedangkan Yunho dan Haechan tersenyum dengan bahagianya. Berbeda dengan Jaehyun yang merasa ini terlalu tiba-tiba. Namun kenyataan bahwa pria cantiknya bersedia untuk meresmikan hubungan mereka tak ayal membuat hati Jaehyun menghangat.

"Oh Taeyongie! Sayang anak kita –" Jaejong memekik bahagia dan dihadiahi pelukan hangat oleh sang suami.

Jaehyun meraih tangan tangan Taeyong. Menggenggamnya lembut sebelum mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dikecupnya kening Taeyong sedikit lama. Mencurahkan luapan perasaan bahagianya yang tidak dapat ia bendung lagi.

"Terimakasih sayang."

Haechan tersenyum haru melihat keluarganya berbahagia. Bersyukur karena setidaknya ia dapat membuat sang hyung memantapkan niatnya. Mungkin setelah ini kedua orang tuanya masih dengan kesibukannya pada bisnis mereka. Begitu pula dengan hyungnya yang akan mulai membangun keluarga kecilnya bersama pria pilihannya. Tapi Haechan berjanji, apapun yang terjadi nantinya, meskipun perlahan orang yang disayanginya mulai menjalani hidup masih-masing tanpa dirinya, Haechan akan tetap bahagia. Agar menjadi alasan mereka untuk sama bahagianya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Tanggal pernikahan telah ditetapkan. Undang telah disebarkan. Dan segala kebutuhan yang diperlukan telah disiapkan. Tinggal menunggu janji suci kedua mempelai di hadapan Tuhan.

Taeyong menjadi pihak paling antusias setelah malam itu. Membuat Haechan bersyukur akhirnya sang hyung mendapat kebahagiaan yang diimpi-impikannya. Haechan akui Jaehyun memang sosok sempurna untuk melengkapi Taeyong. Menempatkan Taeyong di atas segala-galanya. Dan Haechan sangat bersyukur akan hal itu. Setelah pernyataan Taeyong yang bersedia menikah secara tiba-tiba, Yunho segera menghubungi keluarga Jaehyun untuk kemudian bertemu membahas tentang hari baik pelaksanaan pernikahan putra mereka.

Seperti rencana semula, upacara pemberkatan dan pesta pernikahan akan dilakukan di resort baru milik Jaehyun di Jeju. Membuat seluruh keluarga harus datang lebih awal untuk ikut serta mempersiapkan segala sesuatunya. Sayangnya Haechan tidak bisa ikut keberangkatan seminggu yang lalu karena ia perlu mengurus beberapa berkas di kampusnya. Sehingga baru bisa melakukan penerbangan ke Jeju dua hari sebelum acara.

Berbicara tentang penerbangan, Haechan memiliki pengalaman buruk terhadapnya. Sewaktu ia berumur 7 tahun, penerbangan yang Haechan bersama kedua orang tuanya ambil mengalami pendaratan darurat dikarenakan kerusakan sayap kiri pesawat. Untung saja saat itu sang pilot dapat menanganinya dengan baik meskipun sempat diwarnai kepanikan dari seluruh penumpang beserta awak kapal. Dan bersyukur dalam kejadian tersebut dapat dihindari jatuhnya korban. Namun nampaknya hal tersebut tidak berakibat baik bagi kondisi psikis seorang Haechan kecil. Membuatnya memiliki phobia akan penerbangan, ketinggian dan goncangan. Yang sialnya ketiganya masih menjadi mimpi buruk bagi Haechan sampai saat ini.

Sialnya lagi, penerbangan kali ini harus ia tempuh seorang diri. Awalnya Jaemin berjanji menemani Haechan. Tapi kemudian rencana itu batal karena ia harus menyambut kedatangan kedua orang tuanya yang baru saja pulang dari Amerika. Tentu Haechan tak sampai hati tetap memaksa Jaemin untuk ikut penerbangan bersamanya. Menjadikannya harus memberanikan diri mengambil penerbangan pagi ini seorang diri.

Haechan sempat tergiur dengan tawaran Jaemin dan Jeno untuk melakukan penerbangan besok sore. Namun ia juga tidak sampai hati membuat Taeyong menunggu kehadirannya yang sudah terlewat beberapa hari. Harusnya Haechan menemani Taeyong menjelang hari-hari pernikahannya, seperti yang hyungnya minta. Tapi apalah daya ia terjebak oleh kewajiban yang tidak bisa ditinggal begitu saja. Taeyong memaklumi tentu saja. Tapi tetap saja Haechan merasa sedikit bersalah akan hal itu. Menjadikannya memaksakan diri hari ini untuk melakukan penerbangan seorang diri. Toh Seoul ke Jeju hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Dan Haechan yakin bisa bertahan. Ya semoga saja.

Haechan memasuki pesawat dengan detak jantung terlalu keras. Menduduki tempat duduk pesawat yang tampak nyaman –yang sayangnya tidak terasa nyaman sama sekali mengingat ia harus menangani ketakutannya seorang diri kali ini. Memainkan jemarinya secara random dengan bola mata yang bergulir mencari ketenangan. Sesekali ia akan memejamkan matanya erat mencoba sekuat tenaga menenangkan diri, tapi semua itu terasa percuma.

"Permisi."

Masih dengan matanya yang senantiasa terpejam, Haechan merasakan kehadiran seseorang dibangku sampingnya. Haechan rasa ia pastilah terlalu ketakutan sekarang hingga merasa familiar dengan aroma maskulin seseorang di sampingnya tersebut. Tapi setidaknya aroma itu berhasil membuat ketakutan Haechan sedikit berkurang. Mencoba menikmatinya dan kembali bernyanyi dengan suara kecil untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Kau baik-baik saja?"

Oh sepertinya Haechan mulai berhalusinasi sekarang. Setelah aroma, kini suara berat seseorang itu pun terdengar familiar untuknya. Membuatnya memutuskan membuka mata untuk memastikan sesuatu.

Seorang pria yang nampak telah duduk nyaman dibangku penumpang sampingnya tertangkap mata bening Haechan. Celana bahan dongker yang panjangnya hanya sebatas dua senti di atas mata kaki. Sepatu van touvel dengan warna senada yang terlihat cocok. Pria itu mengenakan kaos longgar tebal secerah senja di sore hari dengan kerah yang terasa menghimpit lehernya. Jangan lupakan surai hitamnya yang tampak dibiarkan berantakan membuat kesan menggiurkan tanpa bisa di tahan. Dan kacamata hitam yang terlihat arogan.

Masih tetap dengan keterpakuannya, Haechan terdiam dibangkunya sambil memandang penuh minat tanpa bisa mengalihkan atensinya. Si pria tampan yang tampak arogan tersebut mengangkat tangannya bergerak melepaskan kacamata hitamnya dan menampakkan manik hitam tajam miliknya.

Deg

Pria itu ..

"M –Mark hyung. Sedang apa –"

"Penerbangan menuju Jeju tentu saja." Mark menghadiahi Haechan dengan senyum tipis penuh pesonanya. Membuat Haechan yang memang sedang linglung semakin linglung dibuatnya. Oke ini terlalu tiba-tiba. Dan sejak kapan surai itu berubah menjadi hitam legam? Yang demi Tuhan malah membuat Haechan semakin sulit bernapas dengan benar.

"Huh?"

"Mungkin kau tidak diberitahu. Taeyong hyung memberikan tiket penerbangan padaku. Sekalian menemanimu." Jelas Mark melihat tatapan penasaran dari Haechan yang tampak menunggu penjelasan.

"Taeyong hyung bilang kau punya pengalaman buruk pada penerbangan. Dan akan sangat berbahaya membiarkanmu melakukan penerbangan sendirian."

Hah. Taeyong memang akan selalu melakukan segala cara untuk mendekatkan keduanya. Disela kesibukannya mengurus pernikahan, nampaknya hyungnya itu masih tidak menyerah tentang gagasan membuat Mark dan Haechan menjalin hubungan. Oh ayolah, situasi yang menyebabkan dirinya harus menghabiskan waktu berdua atas campur tangan Taeyong sangat tidak baik untuk kinerja jantungnya. Dan tidakkah hyungnya itu mengerti tentang kesulitannya bahkan hanya sekedar untuk bernapas dengan benar? Kenapa juga Mark harus bersedia ditempatkan dalam kondisi seperti ini? Haechan sangat yakin bahwa Mark cukup pintar untuk menebak apa yang telah direncanakan oleh Taeyong. Tapi melihat pria tampan itu terlihat tenang dan mengikuti saja tanpa menolak, membuat Haechan merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa bersikap sama tenangnya seperti apa yang dilakukan oleh pria tampan itu.

Pemberitahuan akan pesawat mereka yang hendak lepas landas membuat Haechan mendadak tegang. Meremas kuat sabuk pengaman yang telah dipakainya. Demi Tuhan detik-detik lepas landas terasa paling menakutkan bagi Haechan. Pikirannya telah berkelana membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi. Memaksanya mengingat kembali kejadian 15 tahun silam. Haechan memejamkan matanya, mengepalkan tangannya dengan tubuh bergetar pelan dan keringat dingin yang tak bisa ditahan.

Mark yang melihatnya tentu merasa khawatir dengan keadaan Haechan. Bahkan Haechan sudah tidak merespon panggilannya. Hanya tetap bergetar ketakutan dalam duduknya. Membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain meraih tangan Haechan dan menggenggamnya erat menyadarkan Haechan akan eksistensinya.

"Tenanglah."

Haechan menatap Mark dengan mata yang bergetar ketakutan nyaris menangis. Mark yang tidak tega melihat Haechan sebegitu ketakutannya, menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. Berharap dengan begitu Haechan akan sedikit merasa tenang dan melupakan ketakutannya.

Keduanya masih dalam posisi saling memeluk. Haechan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Mark seperti mencari perlindungan. Sedangkan Mark tak hentinya membisikkan kalimat penenang pada Haechan. Meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa menit berlalu, pesawat yang mereka tumpangi telah lepas landas dengan sempurna, meninggalkan goncangan yang sempat terasa dan mulai terbang dengan stabil. Mark melepas pelan pelukannya melihat Haechan yang tampaknya sudah sedikit lebih tenang sekarang.

"Kau baik?"

Haechan hanya menganggukkan kepalanya. Menjauhkan tubuhnya dari Mark dan kembali duduk dengan nyaman dibangkunya. Mark memperhatikan bagaimana mata bulat jernih itu bergerak gelisah meskipun Haechan sudah terlihat tenang. Membuatnya meraih tangan mungil Haechan untuk kembali digenggamnya.

"M –Mark hyung .."

"Pastikan kau menggenggam tanganku selama perjalanan. Setidaknya ini akan membuatmu merasa tenang."

Haechan tertegun memandang manik hitam tajam milik Mark kemudian beralih pada tangannya yang kini saling bertautan dengan milik pria tersebut. Mengangguk dengan patuh pada kalimat yang Mark lontarkan.

Setelahnya Mark bersandar nyaman di kursinya, memasang kacamata hitamnya kembali yang nampak arogan. Dan mengambil sebuah buku yang sengaja ia bawa untuk dibaca.

"Terimakasih, Mark hyung." Ucap Haechan dengan pelan yang hanya dibalas dengan deheman pelan oleh Mark.

Jantung Haechan terasa berdetak semakin menggila. Bukan karena rasa takutnya. Tapi karena sikap yang ditujukan Mark kepadanya. Membuatnya merasa gelisah tapi tidak dapat menyembunyikan perasaan nyamannya. Mungkin penerbangan tak akan menjadi semenakutkan biasanya asalkan ada Mark yang menemaninya. Haechan sedikit banyak mensyukuri apa yang telah Taeyong lakukan hingga mendatangkan pangeran berkuda putih penyelamat baginya.

Setengah jam penerbangan mereka telah berlangsung. Berarti kurang lebih setengah jam lagi pesawat yang mereka naiki akan mendarat di Jeju. Mark menoleh ke samping kirinya, menemukan si pria manis yang entah sejak kapan telah menarik atensinya telah tertidur nyaman bersandar dibahu lebarnya. Tangan mereka masih senantiasa saling bertautan.

Mark memiringkan kepalanya. Mengamati bagaimana wajah terlelap Haechan selalu tampak indah di matanya. Jangan lupakan bibir love-shape semerah cherry sedikit terbuka menghembuskan napas hangat yang langsung bersibobrok dengan wajah Mark. Membuatnya tergoda untuk semakin menyelami pemandangan indah dihadapannya itu. Tangan Mark terangkat menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Haechan hingga membutnya lebih leluasa untuk mengagumi wajah itu.

"Kenapa kau cantik sekali saat tertidur."

Persetan dengan kalimat 'kau bukan pria sejati' yang sering Lucas lontarkan setelah tau bahwa ia menyukai sosok cantik dan manis di sampingnya ini. Mark sadar bahwa ia memang telah jatuh hati pada Haechan. Tapi ia masih enggan mengatakan ketertarikannya pada pria manis itu dan bersikukuh dengan usahanya menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik. Nyatanya memuja Haechan secara diam-diam seperti saat ini merupakan hal favorit bagi Mark sekarang. Menunggu waktu yang lebih tepat sambil memantapkan perasaan masing-masing untuk mengatakannya secara gamblang. Kedua pihak keluarga juga nampaknya begitu mendukung keduanya untuk menjalin hubungan hingga melakukan tindakan-tindakan kekanakan. Tapi Mark ingin melakukannya dengan caranya sendiri. Menolak untuk terlalu terburu-buru dan membiarkan segalanya mengalir dengan apa adanya. Menarik Haechan secara perlahan, mengikatnya dan menjadikan Haechan miliknya dengan usahanya.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Corner

Hai~ Slitherginger is back. It's been a while. I'm so sorry TT

27 hari telah terlewati dan TBP baru update hari ini. Aku sempet khawatir kalian bakal lupa sama cerita terakhirnya kayak apa makanya diawal aku tegesin "read the previous chapter if it's needed". Kita refresh berjamaah ya wahai jemaat Markhyuck shipper tersayang~

Alhamdulillah sekarang aku agak longgar jadi bisa ngebut nulis ff lagi. Aku sulit tidur akhir-akhir ini kalian tau kenapa? Selain efek kesibukanku yang tiada akhir, faktor lainnya adalah karena tiap kali buka hp liat aplikasi FFN aku stress, buka laptop liat folder project FFN aku stress, apalagi buka akun sampe liat komenan aku tambah stress inget sama tanggungan yang belum kelar juga, just like TT. Kalian bener-benar jadi alarm otomatis buatku, jinjaro.

Bagi kalian yang udah baca My Muse beserta cuap-cuapnya, kalian pasti tau alasan kenapa TBP baru update sekarang. Malah nyampah kan jadinya di FF lain, maafkeun. Dan Bicara soal chapter ini, sejujurnya tingkat kepuasanku gak setinggi file yang hilang. Tapi ya sudahlah, udah terlanjur hilang, gabisa dibalikin juga. Orang nulis emang gitu, gabisa sama persis meskipun dari otak dan tangan yang sama. Dan sebagai permintaan maafku pada kalian yang telah setia menunggu update ff ku ini, aku udah nyiapin 3 chapter TBP ready for update /clapsclaps/ I really work hard for this TT

Nah, updatenya kapan? Hmm lemme think first, besok? Lusa? Atau tiga hari lagi mungkin? Hihi. Mari kita lihat respon kalian dulu, okay.

Anyway soal comeback NCT Dream yang tinggal menghitung hari. Pastinya kalian udah pada liat teasernya Haechan kan? Sumpah ya seriusan kenapa sih dia hobi banget bikin aku berfantasi liar! He is so damn sexy even on the cutest purest thing he ever do! Membuatku pengen bikin sesuatu yang eerr .. haha sepertinya beberapa chap TBP yang udah aku tulis butuh sedikit rombakan.

Seperti biasa cuap-cuapku selalu panjang, semoga tidak mengganggu kalian. See you next. Salam Markhyuck shipper. Saranghae pyeong~