TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Lucas (24)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

HAPPY READING

.


Chapter 6


Taeyong merasakan sebuah tangan perlahan merambat dipinggang rampingnya. Menariknya ke dalam dekapan hangat yang nyaman. Disusul dengan sebuah dagu yang bertumpu indah dibahu sempitnya.

Taeyong menyimpan ponsel yang baru saja ia gunakan untuk melakukan panggilan ke dalam saku celana. Meletakkan tangannya di atas lengan kekar prianya da menikmati terpaan napas hangat yang menerpa leher putih jenjangnya, menghantarkan getaran aneh yang entah sejak kapan disukainya.

Beberapa menit lalu, Jaehyun meninggalkan Taeyong di kamarnya untuk membersihkan diri. Tapi setelahnya, pria tampan yang telah mapan itu tidak menemukan sosok tercintanya di tempat yang sama. Membuatnya mengitari villa pribadinya dengan pakaian yang telah berganti kaos tipis putih polos, celana satin warna gelap dan handuk kecil dikepalanya.

"Dari siapa?"

Tangan Taeyong bergerak melonggarkan pelukan lengan kekar yang melingkupi tubuhnya. Membalikkan badan untuk kemudian meraih handuk di kepala Jaehyun untuk membantu prianya mengeringkan rambut basahnya.

"Jaemin."

Jaehyun mendorong pelan tubuh Taeyong hingga terantuk pagar besi balkon. Menikmati wajah cantik calon istrinya dengan background lautan dangkal lepas di bawah sana. Keduanya merupakan perpaduan yang sempurna di mata Jaehyun.

Seminggu sejak pasangan Jaehyun Taeyong beserta keluarga menginjakkan kaki di Jeju tepatnya pada resort baru milik Jaehyun, Pria tampan bertubuh kekar itu langsung memboyong Taeyong ke villa pribadinya di atas tebing curam, tepat di samping resort utama. Ingin Taeyong berada di kamar terpisah dengan Jaehyun sebelum mereka meresmikan pernikahan, tapi nampaknya Jaehyun tidak mentolerir adanya negosiasi dari pria cantiknya lagi. Tetap memaksa sang pujaan hati untuk tinggal berdua di hunian yang terpisah dari keluarga yang lain. Dalihnya ingin menikmati momen berdua karena belakangan mereka memang jarang bertemu disebabkan kesibukan masing-masing. Seakan setelah ini mereka akan jarang bertemu saja. Tapi bukankah setelah menikah Jaehyun akan memiliki akses penuh untuk menempeli Taeyong kapanpun ia mau? Sekali lagi itu semua hanya alibi Jaehyun semata. Karena menurut Jaehyun kesempatan tidak boleh disia-siakan. Dan setiap waktu yang ada harus dimanfaatkan. Berhubung sang calon mertua telah memberikan ijin penuh terhadap putra sulungnya, membuat Jaehyun berani mengambil langkah sejauh ini.

"Kau mengerjai Haechan lagi?" Tanya Jaehyun.

Taeyong terkekeh. Menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut Jaehyun dan meletakkkan handuk kecil itu di atas pagar pembatas balkon. Beralih meletakkan kedua tangannya di leher sang calon suami dengan tangan Jaehyun yang masih setia berada dipingganya.

"Aku menyebutnya mendekatkan."

Jaehyun berdecih geli. Menyentil dahi Taeyong pelan dan direspon dengan ringisan pura-pura sakit.

"Kau dan otak licikmu .."

Jaehyun menggantungkan kalimatnya. Mendekatkan wajah tampannya ke arah wajah cantik Taeyong. Dan berbisik menggoda tepat di depan bibir tipis merah milik calon istrinya tersebut.

" –aku menyukainya."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Pesawat yang ditumpangi Mark dan Haechan telah mendarat sempurna di Jeju tepat pukul 10. Keduanya bergegas menuju pintu keluar dengan mendorong masing-masing troli berisi barang bawaan mereka. Mark mengedarkan pandangannya pada deretan penjemput yang telah berjejer di balik pagar pembatas jalur keluar para penumpang. Mengenali salah satunya untuk kemudian menghampiri pria paruh baya yang merupakan staff di resort Jaehyun yang telah dikenalnya beberapa bulan terakhir.

"Mari tuan muda. Saya akan mengantarkan anda ke resort."

Haechan sendiri sejak tadi hanya diam mengekori ke manapun Mark membawanya. Sesampainya di mobil yang akan membawa mereka menuju resort, Mark mengambil alih troli milik Haechan membantu pria paruh baya yang bertugas menjemput mereka memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi belakang mobil.

Jarak antara bandara dan resort membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Sepanjang perjalanan Haechan tak henti-hentinya membulatkan mata mengagumi betapa indahnya pesona alam Jeju.

Haechan makin tak bisa menahan bibirnya untuk terbuka kala mobil yang mereka tumpangi telah memasuki gerbang masuk resort. Disambut oleh deretan pohon rindang dan terpaan sinar matahari yang mengintip dari celah-celahnya. Setelahnya terlihat hamparan bunga conola dengan tebing curam yang membatasinya dari hamparan laut dangkal. Lalu terlihat bangunan megah bergaya europian menyambutnya maniknya di atas sana.

Sesampainya di halaman parkir resort, mereka masih harus berjalan kaki menuju hunian yang telah di siapkan khusus oleh Jaehyun untuk para tamu pentingnya. Menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batuan alam mempesona dengan pohon-pohon tropis yang mengiringinya. Jalan setapak terputus, digantikan dengan pasir pantai berwarna putih gemerlap diterpa sinar matahari. Menuju bibir pantai dan disambut jalan setapak lagi yang kali ini terbuat dari kayu kokoh dengan ukiran rumit membentang sejauh lautan dangkal yang di atasnya telah dibangun hunian-hunian seperti pondok-pondok terapung. Mata Haechan berbinar indah melihatnya. Membuat Mark terkekeh mengagumi betapa polos dan menggemaskannya Haechan saat ini.

"Silahkan."

Kini mereka telah sampai di depan kamar dengan atas nama mereka. Berada dipaling ujung di sayap kiri hunian, terpisah dari yang lain, dengan pemandangan yang lebih eksotis.

"Resort utama ada ditepi tebing atas sana." Jelas pria paruh baya itu. "Untuk tamu-tamu khusus, Tuan Jaehyun secara pribadi menyiapkan hunian di sini agar lebih nyaman. Semoga anda menyukainya."

Haechan tersenyum puas, memuji hunian yang akan di tempatinya selama empat hari ke depan yang khusus di pilihkan oleh calon kakak iparnya. "Terimakasih."

"Selamat beristirahat. Saya permisi." Pria paruh baya membungkukkan tubuhnya pamit undur diri setelah merasa tugasnya telah selesai. Meninggalkan Mark dan Haechan berdua masih berdiri di tempatnya masing-masing.

Mark menghadapkan tubuhnya ke arah Haechan. Melihat Haechan yang tersenyum lembut masih dengan keterpesonaannya pada tempat ini. Tapi kentara sekali kalau tubuh mungil itu butuh istirahat pasca penerbangan yang pastinya terasa begitu melelahkan baginya. Menunda acara berkelilingnya untuk langsung bertemu dengan kedua calon mempelai. Mempersilahkan pria manis yang bersamanya untuk masuk ke dalam kamar. Karena Mark sangat yakin Haechan membutuhkan itu sekarang.

"Masuklah. Kamarku ada disebelah. Aku akan menjemputmu di jam 1." Ucap Mark dengan hangat yang membuat Haechan mengangguk patuh mengagumi betapa pria tampan itu mengerti kondisinya seharian ini.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Tepat pukul 1 siang hari, Haechan keluar dari kamarnya. Disambut dengan keberadaan Mark yang telah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Bersandar di pagar pembatas jalan setapak yang tebuat dari kayu kokoh di depan kamar miliknya.

Mark menegakkan tubuhnya melihat Haechan mulai menghampiri dirinya. Menunggu pria manis itu berdiri sejajar di tempatnya sekarang untuk kemudian berjalan pelan memulai acara berkeliling mereka.

"Apakah kita akan langsung bertemu Taeyong hyung dan Jaehyun hyung?" Tanya Haechan memecah keheningan.

Mark menimbang sebentar. Melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.

"Mau berjalan-jalan sebentar?" Tawar Mark.

Haechan mengernyitkan dahinya. Bukannya Taeyong dan Jaehyun telah menunggu kedatangan mereka? Lalu kenapa Mark malah mengulurnya?

Mark yang melihat Haechan sedikit berpikir, mulai menjelaskan. "Jaehyun hyung bilang mereka sedang mengurus sesuatu."

Meraih ponselnya yang baru saja berbunyi menandakan pesan masuk. Menyampaikan isi pesan yang diperolehnya dari Jaehyun pada Haechan. "Mungkin sekitar satu jam lagi mereka akan fitting baju."

Haechan menganggukkan kepalanya paham. Toh tidak ada salahnya berkeliling sebentar. Hitung-hitung menenangkan diri pasca penerbangan yang selalu terasa menakutkan baginya. Ia sangat membutuhkannya sekarang.

"Baiklah."

Mark membawa langkah kakinya menyusuri pantai. Jalan yang berbeda dari yang mereka tempuh tadi. Mengundang Haechan untuk bertanya kemana pria tampan itu membawanya kali ini. "Kita mau kemana?"

"Aku akan membawamu mengelilingi resort."

Haechan melirik Mark yang masih berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan kokohnya ke dalam saku celana. Menghabiskan waktu berjalan berdua diiringi deburan ombak yang makin menambah manis suasana. Haechan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena bisa melalui waktu-waktu tak terduga seperti sekarang ini. Terlebih lagi, Mark sendiri yang berinisiatif mengajaknya.

Beberapa menit berlalu dengan keterdiaman masing-masing namun tak bisa dipungkiri dapat menghantarkan perasaan hangat pada keduanya yang diam-diam saling memendam perasaan. Hingga tak terasa Langkah kaki mereka sampai di depan sebuah tebing curam. Mark masih melanjutkan langkah kakinya yang senantiasa diekori oleh Haechan menuju balik tebing. Menemukan deretan anak tangga landai setapak menuju ke atas tebing. Yang sukses membuat Haechan kembali terpesona. Memuji bagaimana sang arsitektur resort ini memanfaatkan segala keindahan yang ada.

"Mark hyung sepertinya mengenal dengan baik tempat ini." Haechan mengutarakan isi pikirannya.

Mark menoleh ke arah Haechan, memulai menjelaskan sambil terkekeh pelan. "Ya, aku sesekali kemari. Menjadi investor tempat ini mengharuskanku melakukannya."

"Benarkah?" Haechan tidak dapat menahan mata cantiknya untuk membulat yang terlihat sangat menggemaskan sekarang bagi Mark. Tangannya terangkat mengusak surai halus milik Haechan dengan senyum menawan miliknya. Yang demi Tuhan membuat jantung Haechan terasa melompat dari tempatnya. Membuat wajahnya memerah tanpa bisa ditahan.

Selalu saja seperti ini.

Tak terasa langkah kaki mereka telah mencapai ujung tangga. Haechan mengedarkan pandangannya mengagumi apa yang terdapat di atas tebing curam ini. Hamparan bunga conola berwarna kuning menyambut manik indahnya. Ditemani hembusan angin yang membuat bunga-bunga itu bergoyang seperti menyambut kedatangan mereka berdua.

"Whoaaa tempat ini indah!" Manik Haechan membulat berbinar. Sungguh ia tidak menyangka di Jeju akan mendapatkan pemandangan seindah ini. Mengalihkan pandangannya ke arah Mark yang ternyata juga sedang menatapnya. Tersenyum semanis mungkin membuat si pria tampan terpesona bukan main. Sebelum mendengar pujian yang disertai kekehan pelan dari Haechan.

"Kau menjalankan uangmu di tempat yang tepat, Mark hyung."

Mark lagi-lagi tersenyum menawan. Entah harus berapa kali Haechan bersyukur hari ini karena Tuhan nampaknya sedang berbaik hati membiarkannya menikmati pesona dari pangeran berkuda putihnya. Yang tak henti membuatnya terpesona jatuh hati lagi dan lagi.

Mark membawa Haechan melanjutkan langkah mereka mengikuti jalan setapak yang sepertinya menuju resort utama di depan sana.

"Syukurlah jika kau menyukainya."

Haechan mengangguk antusias. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Merekam dengan benar apa yang telah membuatnya terpesona hari ini. Pemandangan dari atas sini indah. Dan kehadiran Mark disampingnya nyatanya makin menyempurnakannya.

"Eum! Aku selalu memimpikan tinggal di tempat seindah ini."

Mark memandang Haechan yang tengah tersenyum cerah. Membuat mata mereka saling bertemu pandang menyiratkan sesuatu yang mendalam antar keduanya. Menikmati bagaimana debaran jantung mereka sama menggila.

"Haruskah aku membuatkan satu untukmu?"

"Huh?" Mata Haechan mengedip lucu mendengar apa yang baru saja Mark ucapkan. Meminta penjelasan lebih lanjut namun hanya dihadiahi senyuman oleh pria tampan itu. Melanjutkan langkahnya meninggalkan Haechan yang masih senantiasa berdiri di tempatnya karena keterkejutannya.

Mark yang telah melangkah beberapa meter menghentikan kakinya, menoleh ke belakang tempat Haechan berada. Melihat bagaimana pria manisnya terpaku lucu dengan mata berkedip polos.

"Ayo kita ke resort utama. Jaehyun hyung sudah menunggu." Ujar Mark menyadarkan keterpakuan Haechan.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Malam harinya, seluruh keluarga beserta teman terdekat berkumpul di tepi pantai menikmati acara barbeque party. Sedikit bersantai setelah seminggu terakhir disibukkan dengan persiapan pernikahan yang tiada henti.

"Pemberkatan dilakukan lusa pagi di Catedral tepi pantai. Lalu pesta akan dilakukan malamnya di resort utama." Yunho memberitahukan acara inti kepada semua orang yang ikut berkumpul.

Taeyong yang baru saja bergabung dengan membawa sepirng daging hasil pekerjanya, mendudukkan tubuhnya di samping Jaehyun dan meremas tangan lebar pria yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya.

"Kau gugup?" Tanya Jaehyun menanggapi genggaman tangan Taeyong.

Taeyong memandang mata teduh Jaehyun. Menyandarkan kepalanya pada bahu lebar itu masih dengan tangan yang kini makin memeluk erat lengan pria tampan itu. "Tentu saja. Tapi asal bersamamu ku kira tak masalah."

Lucas yang kala itu hendak mengambil danging di depan Taeyong mau tidak mau melihat aksi kedua calon mempelai yang tanpa malu lagi saling menempeli satu sama lain.

"Hey hey calon pengantin tolong tahan sebentar hormon kalian sampai lusa."

Jaehyun terkekeh mendengan protesan Lucas. Mencoba membela diri dari apa yang dilakukannya bersama Taeyong. "Besok kami tidak akan bertemu, jadi wajar."

"Ya, besok kalian harus menghabiskan seharian penuh untuk pesta lajang." Ujar Jaejoong sambil menuangkan squash buatannya ke gelas milik Yunho. Dihadiahi dengan ucapan terimakasih dari sang suami.

"Haruskah kita melewatkan pesta itu?" Kini Taeyong kembali membuat pergerakan. Mengulurkan tangan lentiknya menuju pipi kanan milik Jaehyun untuk mengarahkan wajah tampan itu memandang wajahnya yang masih senantiasa terkulai indah dibahu lebar miliknya.

Lucas masih mengamati bagaimana kedua pasangan itu tidak dapat menahan diri barang sebentar saja. Membuatnya memekik heboh mencoba menyadarkan Jaehyun dan Taeyong dari ketidak layakan tindakan mereka di depan semua orang. "Oh mataku!"

Jaehyun tertawa keras. Meraih tangan Taeyong terlepas dari wajahnya dan menjauhkan kepala itu dari bahunya. Menyuruh sang calon istri untuk duduk tegak dan dihadiahi tatapan tidak suka dari Taeyong.

Akhir-akhir ini Jaehyun memang merasa Taeyong sedikit lebih manja padanya. Ingin selalu menempeli tubuhnya di manapun mereka berada.

Taeyong mendengus sebal menatap Lucas yang dicapnya sebagai pengganggu acara 'mari bermesraan' nya malam ini. "Bilang saja kau iri. Cepatlah menyusul Lucas."

Lalu manik indah turunan dari Jaejoong itu memandang ke arah pria tampan lainnya yang sedari tadi hanya diam menyimak. Sedikit menunjukkan senyum menggodanya. "Dan kau juga, Mark."

Lucas menyender lemas di tempat duduknya. Nyatanya perkataan Taeyong barusan sangat menyakiti harga dirinya. Ia mempesona tentu saja. Siapa yang tidak akan tertarik pada pria tampan sekelas Lucas? Tapi sayangnya belum ada yang menarik dimatanya.

"Jangankan menyusul hyung, calon saja kami tidak punya." Ujar Lucas dengan nada memelas.

"Aey jangan salah Lucas. Asal kau tau, mommy sudah mendapatkan calon menantu idaman mommy." Kini Luhan yang ikut mengangkat suara. Mengundang tatapan penasaran dari seluruh orang yang duduk mengelilingi meja. Terkikik geli melihat semua orang menunggu penjelasan lebih lanjut darinya.

Lucas mendekatkan tubuhnya pada meja. Mencondongkannya ke arah Luhan yang saat ini duduk di depannya.

Ini tidak baik. Lucas tidak boleh kalah langkah dari Mark. Mau ditaruh di mana wajahnya sebagai pria pencinta penuh pesona?

"Benarkah mom?"

"Iya!" Pekik Luhan yang antusias. Sebelum melayangkan manik rusanya menuju putra tampannya yang sedang menatapnya dengan pandangan tajam mengerti ke mana arah yang sang mommy ambil setelah ini. Menghadiahi Mark dengan smirk licik yang entah sejak kapan mommynya itu miliki.

"Iyakan Haechan?"

Uhuk

Haechan yang kala itu sedang menyumpitkan sepotong daging ke dalam mulutnya mendadak tersedak mendengar Luhan membawa-bawa namanya. Taeyong membantu menepuk pelan bahu sang adik dan menyodorkan segelas minuman untuk mendorong daging itu meluncur masuk.

Setelah dirasa daging tersebut telah tertelan sempurna. Haechan mengangkat wajahnya menatap Luhan dengan mata membulat tidak mengerti. "Huh?"

Luhan memekik gemas. Meraih tangan Jaejoong yang kala itu tepat berada di sampingnya untuk ditarik secara bar-bar. "Ugh kenapa kau bisa memiliki anak semenggemaskan ini sih Joonie hyung! Boleh ku bawa pulang tidak?"

Jaejong menghardik tidak setuju dengan permintaan Luhan. Melepas tarikan tangan Luhan dan menatap tajam istri dari rekan kerja suaminya itu.

"Enak saja! Resmikan dulu."

Mata Luhan berbinar. Menatap Jaejoong dengan penuh kesungguhan sebelum menyanggupi apa hal yang sangat diimpi-impikannya. "Secepatnya."

"Mom!" Kali ini Mark tidak dapat diam lagi. menegur sang mommy agar berhenti menggodanya dan Haechan. Lihatlah bahkan kedua wajah itu sama-sama memerah menyadari semua tatapan dan tawa menggoda dari seluruh orang yang berada di sana.

"Kalian benar-benar menggemaskan."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark dan Haechan tengah berjalan pelan menuju kamar mereka masing-masing. Menikmati setiap detik kebersamaan mereka, ditemani dengan hembusan angin laut malam yang menghantarkan deburan ombak pelan dan pemandangan pantulan cahaya bulan dipermukaannya..

"Tidak nyaman ya?" Mark akhirnya membuka suara memecah keheningan antara mereka berdua.

Sejak aksi menggoda para orang terdekatnya di acara barbeque party barusan, Haechan mendadak diam. Bahkan pria manis itu akan segera mengalihkan wajahnya ke arah lain jika secara tidak sengaja saling bertemu pandang dengan Mark. Mark juga masih bisa melihat bagaimana wajah itu berubah bersemu merah dengan mudahnya. Membuatnya menerka bahwa Haechan pasti sedang menahan rasa malunya atas kejadian tadi. Dan berjalan berdua dengan Mark nampaknya makin memperparah keadaannya.

"Huh?"

Mark memandang Haechan –memandang lamat-lamat wajah manis itu untuk mengetahui bagaimana reaksi Haechan saat ia menyebutkan apa yang mengganjal dihatinya malam ini.

"Keluarga kita."

Pikiran Haechan dipaksa menerawang ke kejadian beberapa saat lalu ketika Luhan menyebutnya sebagai menantu idaman yang disambut dengan anggukan dan tawa setuju dari seluruh keluarga.

Wajah Haechan yang tadi sempat memerah kini kembali memerah akibat ulah Mark yang menurutnya sangat tidak tau situasi karena dengan senang hati mengingatkannya kembali. Haechan mengalihkan wajahnya ke arah samping enggan menunjukkan wajah merah konyolnya pada pria yang ia sukai. Sungguh Haechan sangat mau saat ini.

"A –ah itu .."

Mark tersenyum tipis melihat bagaimana Haechan tampak menggemaskan berusaha keras menyembunyikan kegugupannya yang nyatanya terlihat sangat jelas bagi Mark. Lihatlah bahkan cara bicaranya berubah menjadi tergagap.

"Ku harap kita bisa lebih dekat lagi."

"Huh?"

Haechan kaget bukan main. Ia secara reflek menghentikan langkah dan diam terpaku di tempatnya berdiri. Jantungnya seakan berhenti secara tiba-tiba dan setelahnya dipaksa bekerja dengan menggila lagi dan lagi.

Mark ikut menghentikan langkahnya. Menatap dalam mata membulat Haechan dengan pandangan yang memancarkan keseriusan –yang diharapkannya dapat Haechan pahami. Menikmati manik menghanyutkan masing-masing dengan diiringi detak jantung bahagia dan perasaan seperti terdapat kupu-kupu tak kasat mata berterbangan diperut mereka satu sama lain.

Mark menghadiahi Haechan dengan senyum termanis miliknya yang jarang ditunjukkannya. Membuat Haechan makin tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangani keterpesonaannya. Sebelum memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka malam ini. Dan beranjak dari tempat itu meninggalkan Haechan seorang diri yang masih mencoba keras mengais napas dan mengambil alih kembali kesadaran.

"Selamat malam, Haechan."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Sehari sebelum pernikahan. Kedua calon mempelai memutuskan untuk melakukan pesta lajang masing-masing. Taeyong menghabiskan waktunya bersama sang adik dan Jaemin –sahabat adiknya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Menunggu datangnya satu orang lagi yang kabarnya hari ini baru mendarat di pulau Jeju bersama sang kekasih.

Sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Setelahnya nampak pria manis keluar dengan kemeja longgar, celana pendek, topi lebar dan kaca mata hitam. Haechan yang mengenali sosok sahabatnya segera berdiri dan melambaikan tangan. Menyerukan nama sahabatnya tersebut agar mengetahui keberadaan mereka berdua yang saat ini saling bersebrangan.

"Na Jaemin!"

Jaemin melepas kacamata hitamnya. Tersenyum cerah seperti biasanya dan melambai ke arah dua orang yang telah menunggunya. Menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrangi jalan raya yang cukup ramai siang ini. menghampiri Taeyong dan Haechan yang sedang duduk santai di meja out door sebuah café.

"Haechanie. Oh Taeyong hyung!" Jaemin memeluk mereka berdua secara bergantian sesampainya di sana.

Haechan mencubit lengan Jaemin pelan, mengerucutkan bibirnya sebelum mengutarakan suara protes pada sahabatnya itu. "Tega sekali kau baru sampai hari ini."

Jaemin yang melihatnya jelas tertawa geli. Lihatlah bukankah Haechan terlihat sangat menggemaskan saat ini? Membuatnya mencubit gemas pipi gembil sahabatnya itu.

"Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain."

Jaemin melirik Taeyong yang menahan tawanya. Mengerlingkan matanya mengingat rencana mereka beberapa hari yang lalu yang lagi-lagi berhasil dengan sempurna.

Jaemin mendudukkan dirinya di bangku kosong samping Haechan. Memajukan tubuhnya hingga menempel pada meja dan bertanya antusias pada keduanya secara bergantian. "Jadi kita akan pesta lajang seharian ini?"

Taeyong memang telah menghubunginya. Meminta Jaemin untuk datang lebih awal demi ikut serta dalam pesta lajangnya. Taeyong benar-benar menginginkan menghabiskan waktu bertiga dengan kedua adiknya itu sebelum resmi menyandang marga Jung di depan namanya.

"Kau tidak sedang dalam program diet kan?" Tanya Taeyong dengan mata memicing. Pasalnya dari mereka bertiga, Jaemin lah yang paling cerewet soal pola makan. Mungkin Taeyong juga sama pedulinya dengan Jaemin tentang proporsi badan. Tapi Taeyong akan lebih sering kalap melupakan programnya. Dan itu disebabkan oleh Jaehyun yang memang hobi sekali makan.

Sedangkan Haechan, tolong jangan bicarakan soal program diet padanya. Menurut Haechan program 'mari membuat diri sendiri kelaparan' itu sangatlah tidak ada manfaatnya. Untuk apa kita bersusah payah menahan makan hanya demi tubuh ideal? Jika kesan sang kekasih yang mereka khawatirkan, Haechan berani bersumpah bahwa tubuh Taeyong dan Jaemin selalu terlihat kurus dan mengesankan meskipun banyak kalori yang mereka makan. Lagi pula Jaehyun dan Jeno bukan tipe orang yang memaksa kekasihnya untuk menjaga tubuh proporsionalnya. Semua itu hanya keluar dari pikiran bodoh keduanya semata.

"Aku sedang. Tapi abaikan saja. Kita harus bersenang-senang hari ini." Jaemin berjanji pada dirinya sendiri akan mentolerir semuanya hari ini.

"Ck, kenapa kalian selalu mengkhawatirkan berat badan kalian? Makan ya makan saja." Ujar Haechan jengah sambil menyandarkan tubuhnya menghadiahi tatapan sulit dipercaya pada keduanya.

"Kau akan tau jika Mark telah resmi jadi kekasihmu." ujar Jaemin tak mau kalah.

Haechan menegakkan tubuhnya memandang kesal Jaemin yang selalu saja membawa-bawa nama Mark dalam bahasan mereka.

"Astaga Na Jaemin mulutmu!"

Mengundang tawa keras dari Taeyong dan Jaemin.

Nyatanya menggoda Haechan, membuatnya memekik frustasi dengan pipi memerah menahan malu, adalah hal paling menyenangkan untuk Jaemin maupun Taeyong.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Jaehyun, Jeno, Lucas dan Mark berjalan pada lorong menuju sebuah ruangan khusus dalam resort utama, yang telah dipilih Jaehyun untuk menghabiskan pesta lajangnya.

"Apa kita akan minum banyak malam ini?" Lucas bertanya dengan antusias.

Jaehyun mengedikkan bahunya. "Jika itu yang kalian mau."

Membuka pintu ruangan yang berada di depannya yang ternyata merupakan sebuah bar mewah nan elegan. Dindingnya terbuat dari kaca memperlihatkan keindahan gemerlap lampu-lampu di pinggir pantai yang mulai dinyalakan karena hari beranjak petang.

"Tapi hilangkan wanita dari daftar acara kita." Lanjut Jaehyun yang melihat mata berbinar Lucas. Sukses mendapat protesan dari adik tingkat sewaktu kuliahnya itu.

"Ah wae!"

"Karena dari kita berempat hanya kau yang masih bebas, Lucas." Kini Jeno yang membuka suara. Diikuti dengan anggukan Jaehyun.

Lucas menghempaskan tubuhnya di sofa merah yang berada di ruangan tersebut. Menatap tidak suka pada Jeno dan Jaehyun yang sepertinya melupakan kenyataan lain. "Mark juga, jika kalian lupa."

"Tapi setidaknya Mark bisa menjaga dirinya dengan baik .."

Jeno melirik rekan kerjanya yang kali ini telah berdiri di depan kaca besar. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dan melayangkan pandangannya menuju pemandangan lepas pantai di bawah sana.

" –Dan tertarik pada seseorang nampaknya membuatnya kian arogan." Jeno mengeluarkan smirk menggoda yang tentunya tidak dapat dilihat oleh Mark.

Mark itu dingin dan sangat tidak peduli dengan sekitar. Apalagi tertarik pada seseorang. Demi Tuhan sejauh Jeno mengenal Mark karena perusahaan mereka yang menjalin kerja sama, Jeno sama sekali tidak pernah melihat pria itu tertarik pada seseorang. Dan kala ia mengetahui rekan kerjanya itu ternyata menyukai sahabat dari kekasihnya, membuat dirinya terperangah bukan main.

Ternyata seorang Mark Lee bisa jatuh cinta juga.

Jaehyun ikut mendudukkan tubuhnya di samping kiri Lucas yang diikuti oleh Jeno di samping kanannya. "Aku punya tamu lain malam ini. Ku harap kalian tidak keberatan."

"Tidak masalah untuk kami." Jawab Lucas seadanya sambil meraih gelas tinggi yang baru saja dibawakan oleh seorang bar tender ke meja depan mereka.

Terdengar langkah kaki menggema semakin mendekat ke arah ruangan tempat mereka berada. Setelahnya nampak sosok lain memasuki ruangan itu dengan senyum ramah menyenangkannya.

"Ah itu dia." Ucap Jaehyun yang kali ini mampu menarik atensi Mark dari dunianya sendiri. Membalikkan tubuhnya untuk mengenali siap tamu Jaehyun kali ini.

"Hai semuanya. Perkenalkan, Nakamoto Yuta."

Mata Mark seketika menggelap. Menatap tajam ke arah Yuta dengan pandangan tidak suka miliknya. Kenapa dari semua kemungkinan tamu yang Jaehyun miliki, harus pria berdarah Jepang itu yang datang?

Yuta di sini. Di tempat yang sama dengan dirinya dan Haechan. Berarti ada kesempatan pria itu mendekati miliknya. Tentu ini bukan kenyataan yang baik untuk Mark.

"Aku menghadiri undangan Jaehyun hyung lebih awal. Jadi ku rasa tidak ada salahnya ikut ke dalam pesta lajang, benarkan?" Manik Yuta kini menatap lurus ke arah Mark. Keduanya saling bersibobrok dengan pandangan tajam. Bedanya Yuta masih dengan senyum ramahnya sedangkan Mark dengan wajah datarnya. Menguarkan aura gelap masing-masing. Yang Demi Tuhan sanggup membuat semua orang di ruangan ini mengusap tengkuk mereka.

Jeno beringsut mendekati Lucas. Berbisik dari balik kepala rekan kerjanya itu.

"Apa kau merasakan ruangan ini semakin panas?"

Lucas bersandar pada tempat duduknya. Menumpukan kaki kanan ke atas kaki kiri, melipat tangannya di depan dada dan memandang kedua pria yang saling melempar tatapan yang sulit diartikan itu dengan pandangan menilai miliknya. Mencoba membaca situasi yang ada. Sebelum menanggapi apa yang sempat Jeno utarakan.

"Percayalah Jeno, ini akan menjadi malam terpanas yang pernah ada."

Lucas berdehem sekilas berharap dapat memutus ketegangan antar keduanya, namun sepertinya nihil. Karena kedua pria tersebut masih bertahan dengan aura tidak mau kalahnya. Menarik tangan Jaehyun untuk mendekat dan membisikkan sesuatu yang sempat terlintas dibenaknya.

"Hyung sepertinya kau ingin sekali membuat dua orang ini saling beradu pukulan."

Jaehyun tertawa mendengar pikiran konyol Lucas.

"Itu tidak akan terjadi. Aku yakin mereka berdua sama-sama bisa menahan diri."

Jaehyun tau keduanya sedang terlibat dalam perebutan sesuatu. Dan sayangnya sesuatu itu adalah calon adik iparnya. Jangan tanya dari mana ia tau. Karena calon istrinya tak pernah menyembunyikan apapun yang diketahuinya. Bukan tanpa alasan Jaehyun mengundang Yuta untuk ikut serta dalam pesta lajang mereka. Jaehyun yang memang sudah sangat sayang sekali dengan Haechan memutuskan untuk sedikit melihat-lihat, menilai keduanya.

"Oh aku benar-benar merinding, sungguh!"

Lucas berteriak tidak jelas yang diabaikan oleh ke empat pria lainnya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Akhirnya hari bahagia Jaehyun dan Taeyong pun tiba. Kini Taeyong berada di ruangannya telah selesai dengan tuxedo warna putih dengan potongan yang manis lengkap dengan riasan yang makin membuat wajah cantiknya semakin cantik. Membuat semua orang akan terpesona melihatnya.

Pintu ruangan yang di tempati Taeyong terbuka. Menampakkan sosok sang appa yang telah berpakaian hitam formal dengan sebatang bunga terselip di saku dadanya.

Taeyong berdiri dari tempat duduknya. Menyambut kedatangan sang appa yang selalu terlihat tampan dan sempurna dimatanya. Yunho memeluk tubuh mungil putra sulungnya. Mengecup pucuk kepala Taeyong berkali-kali. Sebelum menarik tubuh sang putra sedikit menjauh. Memegang kedua bahu sempit itu untuk dilihatnya mata indah turunan dari sang istri.

"Maafkan appa banyak membebanimu, sayang."

"Appa." Manik Taeyong mulai berkaca-kaca mendengar sang appa berbicara demikian. Mengingat betapa sang appa telah membesarkan dan menjaganya dengan sangat baik hingga saat ini.

Tangan lebar Yunho beralih membingkai wajah cantik sang putra. Menghalau Taeyong yang nampak menahan keras air mata. "Appa hanya ingin kau bahagia."

Taeyong mengangguk mantap. Tidak ada yang salah dari cara sang appa membesarkannya. Nyatanya Taeyong sangat bersyukur dapat dilahirkan dalam keluarga ini, terlepas betapa sibuknya sang appa. Tapi Taeyong dapat memakluminya. Mensyukuri apa yang telah dimilikinya dan menyayangi sang appa tanpa keraguan.

"Aku mengerti. Aku sangat menyayangimu, appa. Terimakasih atas segalanya."

Pintu ruangan itu kembali terbuka. Kini menampakkan sosok sang eomma bersama adik tersayangnya.

"Kalian tidak berniat menangis bersama sebelum pemberkatan kan?" tatapan selidik Jaejoong di arahkan kepada Yunho dan Taeyong secara bergantian. Menebak keduanya pasti tengah terlibat dalam bahasan yang mengharukan.

"Eomma." Taeyong beralih meraih tubuh Jaejoong untuk dipeluknya erat.

Jaejoong mendekap tubuh putra sulungnya ke dalam pelukan hangat menenangkan. Mengusap dengan gerakan tangan yang lembut punggung sempit yang selama ini ikut menjaga sang adik dengan sangat baik kala ia dan Yunho tak ada.

"Kau harus menjaga riasanmu, mengerti?"

Taeyong menjauhkan tubuhnya dan mengangguk mantap menuruti perintah Jaejoong.

"Hyung cantik." Kini pujian keluar dari mulut sang adik. Taeyong terkekeh pelan. Menarik tangan adiknya untuk mendekat dan dirangkulnya bahu sang adik dengan sayang.

"Haechanie."

Jaejoong melihat jam dinding yang terpasang pada ruangan itu. Berdehem sejenak untuk mengingatkan bahwa waktunya sudah tiba dan menghentikan acara haru keluarga kecilnya tersebut. "Baiklah, eomma dan Haechan akan melihatmu di barisan depan. Dan Lee Yunho buang jauh-jauh wajah sedih itu!"

Jaejoong tidak bisa menahan tawa gelinya melihat bagaimana wajah sang suami ditekuk dengan sedih. Seminggu yang lalu ia memaksa Taeyong untuk cepat menikah, dan sekarang ia malah sedih seperti enggan melepaskan putra sulungnya. Hah benar-benar.

"Aku hanya tidak menyangka putra sulungku akan segera dimiliki orang lain." Yunho menyandarkan kepalanya pada bahu Jaejoong.

Mulai lagi.

Sejujurnya beberapa hati terakhir suaminya itu berubah menjadi sosok melankolis. Selalu mengatakan betapa sedihnya ia kala menyadari sang putra akan dimiliki pria lain.

Sering mengutarakan kalimat seperti 'Bagaimana jika ia merindukan Taeyong?' atau 'Bagaimana jika Jaehyun membawa Taeyongnya pergi jauh?' bahkan 'Bagaimana jika ia tidak dapat menemui Taeyong lagi?' Yang sungguh membuat Jaejoong geram mendengar celotehan Yunho yang sangat tidak masuk akal.

Mereka mengenal Jaehyun dengan baik. Dan sangat mengerti bahwa kemungkinan itu tidak akan terjadi. Tapi katakanlah saat ini Yunho sedang berda pada titik terbawahnya. Membuatnya tertekan dan terus mengucapkan hal-hal omong kosong yang membuat Jaejoong harus dengan sabar membujuk suaminya itu.

Jaejoong menegakkan tubuh sang suami. Memaksa manik itu untuk menatapnya. Memberikan senyum terbaiknya yang ia harap dapat menenangkan kegelisahan Yunho.

"Kau ayah terhebat, sayang. Segeralah bersiap. Aku menunggumu di depan."

Setelahnya Jaejoong dan Haechan meninggalkan ruangan itu meninggalkan Yunho dan Taeyong berdua.

Yunho menarik napas kuat-kuat. Hari ini putranya yang menikah tapi kenapa dirinya yang gugup bukan main?

"Kau siap?" Tanya Yunho mengulurkan tangan lebarnya dan disambut dengan uluran tangan Taeyong.

"Tidak pernah lebih siap dari hari ini."

Yunho menuntun Taeyong keluar dari ruangannya dan menuju pintu depan Catedral.

"Baiklah, ayo kita menuju pangeran berkuda putihmu." Taeyong tersenyum manis kea rah Yunho. Melingkarkan tangannya ke lengan sang appa untuk memulai prosesi pernikahannya.

Pintu Catedral terbuka diiringi alunan melodi pemberkatan yang terdengar indah. Sosok paling cantik hari ini terlihat berjalan anggun dengan tangan digenggaman sang appa. Jung Yunho dengan wajah stoic nya menghantarkan sang purta sulung dengan langkah pelan tapi pasti menuju pria tampan bertoxido putih senada di depan altar sana. Taeyong tidak dapat menahan senyum harunya. Tersenyum manis menatap tepat pada Jaehyun yang juga sedang menatap terpesona padanya.

Langkah keduanya telah sampai ke tempat Jaehyun berdiri menanti tepat saat melodi indah yang menghantarkannya berhenti. Yunho menggenggam tangan Taeyong dengan lembut sebelum kemudian menyerahkannya pada tangan Jaehyun.

"Jaga putraku dengan baik."

"Aku berjanji dengan hidupku, abonim."

Yunho berbalik, berjalan menuju satu kursi kosong di samping sang istri yang berada di sayap kanan deretan bangku paling depan Catedral. Diambut dengan senyuman manis Jaejoong dengan tangan yang mengusap punggung tangannya dengan lembut. Berusaha menenangkan sang suami.

"Sayang, kau adalah ayah terbaik."

Yunho menatap Jaejoong dengan sendu disertai senyum tipis miliknya. "Kau menghiburku?"

"Aku tidak. Aku mengatakan yang sejujurnya. Lihatlah di depan sana putra kita bahagia." Ucap Jaejoong meyakinkan. Dan dibalas dengan kekehan pelan dari Yunho. Menatap Taeyong dan Jaehyun yang saat ini tengah mengikat janji mereka.

"Kau benar."

Atensi Jarjoong beralih ke putra bungsunya kali ini. Menatap sang putra yang juga tengah tersenyum haru memandang sang hyung di depan sana.

"Kau juga bahagia, Haechanie?"

Haechan memandang Jaejoong dengan mata berbinar bahagia. Menjawab pertanyaan dari eommanya dengan anggukan mantap.

Jaejoong yang melihatnya ikut tersenyum puas. Mengusap lembut lengan sang putra sebelum membisikkan sesuatu ditelinganya. "Kau akan merasakannya kelak."

Haechan tersenyum malu. Menundukkan wajahnya yang sedikit memerah membayangkan dirinya berada diposisi yang sama seperti apa yang tengah Taeyong alami saat ini. Kemudian maniknya tergiur untuk bergulir ke deretan bangku sayap kiri Catedral. Mencuri pandang pada sosok pria tampan dengan setelan formalnya yang tampak menawan. Berharap mungkin saja suatu hari Tuhan berbaik hati mengabulkan keinginannya untuk bersanding dengan pria yang telah mencuri hatinya itu.

Mark

.

.


TURN BACK POINT


.

.

"Kau harus terlihat menawan." Ujar Jaemin segera setelah Haechan keluar dari kamar mandi untuk menganakan baju yang dipilihkannya. Mengeluarkan sekotak peralatan dari dalam tasnya untuk kemudian menarik Haechan mendekat.

Saat ini Jaemin sedang berada di kamar Haechan. Setelah acara pemberkatan dan sesi foto keluarga, sahabatnya itu langsung menariknya menuju kamar miliknya. Berdalih bahwa mereka berdua memerlukan persiapan yang matang. Terlebih bagi Haechan. Jaemin tidak mau sahabatnya itu tampil apa adanya seperti biasa di pesta malam nanti. Bukan berarti Haechan tidak mempesona kala ia dalam keadaan biasanya. Haechan mempesona tentu saja. Bahkan dalam kondisi berantakannya sekalipun. Dan semua orang pasti setuju akan hal itu. Hanya saja, menurut Jaemin malam ini haruslah menjadi malam yang istimewa untuk sahabatnya itu.

"Kenapa aku harus?"

Haechan berusaha menjauhkan tangan Jaemin dengan peralatan yang tidak pernah diketahuinya untuk sahabatnya itu poleskan pada wajahnya.

Persetan dengan semua riasan itu. Haechan benar-benar tidak menyukainya.

"Karena kau harus terlihat menawan malam ini!"

"Kau berbelit-belit Jaem."

Jaemin masih bersikeras dengan aksi 'mari membuat Haechan menawan'. Menarik tangan Haechan diam dikedua sisi tubuhnya, menghadiahi sahabatnya itu dengan delikan tajam agar tetap diam diposisinya.

Haechan mengeluh kekanakan. Sahabatnya itu akan sangat terlihat menakutkan baginya jika sedang dalam mode memaksanya. Dan entah kenapa perlawanan yang Haechan lakukan selalu saja gagal. Membuatnya berakhir dengan menyerahkan diri membiarkan Jaemin melakukan hal sesuka hatinya.

"Nah selesai." Jaemin memaksa Haechan berdiri menghadapnya. Memandang Haechan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai. Sebelum menepuk kedua tangannya puas dengan apa yang dilihatnya.

"Kau manis sekali Haechanie!"

Haechan kini tampak mempesona dengan kemeja putih bertuliskan barisan kalimat dan tinta-tinta abstrak di dasarnya. Dilengkapi dengan dasi dongker kecil yang dihiasi rantai yang menghiasi kerah luarnya dan beberapa lagi menghiasi pergelangan tangannya, jangan lupakan beberapa cincin perak yang melingkari jari mungilnya. Haechan mengenakan celana pendek di atas lutut bermotif garis putih dan hitam beserta ikat pinggang yang ujungnya dibiarkan menggantung begitu saja.

Lihatlah bagaimana tangan Jaemin merubah surai Haechan yang biasanya terlihat rapi menjadi berantakan menimbulkan kesan seksi tak tertahankan. Serta coretan tinta hitam diperbatasan kelopak mata indah itu yang membuat tatapannya berubah profokatif. Dan terakhir, bibir semerah cherry yang seakan berteriak menggoda setiap orang yang melihatnya untuk mendekat mencicipinya.

Haechan yang polos kini telah berubah menjadi Haechan sosok lain yang lebih menggoda. Dan Jaemin bangga dengan hasil kerjanya.

Jaemin berdiri dari duduknya di tepi ranjang Haechan. Menghampiri sahabatnya dan memegang kedua bahu itu untuk membuat Haechan memperhatikannya dengan benar.

"Sekarang dengarkan aku. Aku akan berangkat lebih dulu bersama Jeno hyung. Dan kau tunggu Mark hyung menjemputmu. Kau mengerti?"

Haechan menatap tidak suka gagasan yang baru saja dilontarkan oleh Jaemin. Meraih tangan Jaemin untuk memulai rajukannya.

Kali ini tidak lagi.

"Kenapa aku tidak berangkat bersamamu saja?" Protes Haechan dengan nada tidak sukanya.

Jaemin melipat tangannya di depan dada, menjauhkan tubuhnya dan menatap Haechan dengan tatapan tajam tidak mau dibantah.

"Tidak boleh! Pokoknya kau harus berangkat dengan Mark hyung. Dan tak ada penolakan."

Haechan menghembuskan napasnya lelah. Jaemin bukan orang yang bisa diajak bernegosiasi dalam hal seperti ini. Membuatnya mau tidak mau menganggukkan kepalanya dengan pandangan malas yang dialihkan ke arah lain.

"Pintar."

Jaemin beranjak memakai coatnya karena dinginnya malam ini akan terasa menusuk baginya. Mengambil tasnya dan bergegas untuk keluar dari kamar Haechan.

"Sampai jumpa, Haechanie. Dan semoga sukses."

Jaemin segera menutup pintu kamar Haechan. Meninggalkan Haechan dengan gerutuan kesalnya yang tidak dapat ia tahan lagi.

"Hah. Apa-apaan itu? Semoga sukses? Dia kira aku akan melakukan ujian atau apa. Cih menyebalkan."

Haechan mengerucutkan bibirnya dan melemparkan tubuhnya ke atas sofa single yang tersedia di kamar tersebut. Sebelum mendengar ketukan dari balik pintu kamarnya.

Pasti Mark hyung.

Haechan berlari menuju kaca besar yang dapat menampakkan refleksi seluruh tubuhnya. Mengamati penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Baiklah, mari percaya dengan apa yang dikatakan Jaemin. Ya, kau benar Haechan."

Haechan bertindak menyemangati dirinya sendiri. Memantapkan hatinya bahwa tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini. Bagaimanapun juga kini Haechan telah berubah menjadi sosok yang akan peduli dengan kesan yang diberikannya pada Mark.

Haechan meraih coatnya dan bergegas menghampiri pintu kamarnya.

Benar, itu Mark. Lelaki tampan itu tampak menunggunya di depan pintu kamar.

Seperti biasa, wajah tampan Mark selalu berhasil membuat Haechan terpesona. Haechan mengamati bagaimana penampilan Mark saat ini. Kemeja licin berwarna hitam dilengkapi sebuah jas kasual berwarna dongker. Di pergelangan tangan kirinya terlihat jam tangan metalik. Mark mengenakan celana bahan senada dengan atasannya. Dan jangan lupakan rambut hitam legamnya yang disisir asal. Hingga Haechan tidak mampu lagi menahan pujiannya dalam hati.

Kenapa dia selalu tampak tampan.

"Siap?" Tanya Mark membuyarkan keterpesonaan Haechan.

Haechan hanya menganggukkan kepalanya dengan pasti untuk membalas pertanyaan tersebut.

"Baiklah ayo." Ujar Mark masih diam di tempat seperti menunggu Haechan melakukan sesuatu.

Haechan memandang Mark dengan tatapan tidak mengerti. "Apa?"

Mata tajam Mark mengedik pada lengan kirinya yang telah sedikit ditekuk, memberi ruang untuk sebuah tangan melingkarinya.

Mengerti dengan apa yang Mark maksud, wajah Haechan mendadak memerah tanpa bisa di tahan. "Haruskah?"

"Tentu saja. Ini etika, menandakan kau membawa pasangan ke pesta."

Haechan mendelikkan matanya. Apa dia bilang?

"Pa –pasangan?"

Nyatanya Mark mengatakannya dengan nada berat kelewat datar. Tapi sanggup membuat jantung Haechan berdetak tidak karuan.

Apakah Mark tidak bisa berhenti membuat jantungnya bekerja dengan menggila barang sedetik saja?

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark dan Haechan telah sampai di Ball room resort utama. Keduanya nampak serasi seperti pasangan sungguhan dengan tangan Haechan yang senantiasa melingkar pada lengan kokoh Mark. Haechan tidak bisa lagi menahan wajahnya untuk tetap tegak. Demi Tuhan ia malu. Serasa semua tatapan tamu beralih pada kedatangan mereka berdua.

Haechan menundukkan wajahnya dan hanya mengikuti kemana Mark membawanya. Hingga beberapa orang yang nampaknya rekan kerja dari pria tampan di sampingnya itu mendekat untuk menyapa. Haechan yang canggung tentu saja melepas kaitan tangannya. Sedikit menjaga jarak dengan Mark yang sayangnya membuat dirinya terpisah karena kerumunan tamu yang semakin padat.

Haechan mengedarkan pandangannya untuk menemukan sosok itu lagi. Namun nihil. Semua orang terasa sama dengan setelan jas formalnya. Membentuk kerumunan masing-masing entah membicarakan apa.

"Haechan."

Haechan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Menemukan seorang pria tampan yang mengenakan kemeja warna biru muda dengan garis tegak dongker sepanjang kancingnya yang telah terbuka memperlihatkan dada bidangnya, dilengkapi dengan vest senada sebagai outer, dipadukan dengan celana bahan licin. Membuat penampilannya terlihat sempurna.

Haechan mengenalinya. Pria yang minggu lalu secara tidak langsung menyatakan ketertarikan padanya.

"Yuta hyung, kau disini?" Tanya Haechan dengan keterkejutannya.

Bertemu Yuta di tempat ini bukan merupakan kenyataan yang menyenangkan untuk Haechan. Pasalnya Haechan masih tidak tau harus bagaimana bersikap kepada senior yang dikaguminya itu. Mungkin sebelumnya Haechan akan sangat dengan senang hati mendempeti pria Jepang itu, tapi sekarang semuanya terasa berbeda. Seperti ada tembok tak kasat mata yang Haechan bangun diantara mereka. Enggan membiarkan Yuta untuk makin mendekatinya.

"Ya. Aku rekan kerja Jaehyun, tentu aku diundang."

Yuta mengamati penampilan Haechan malam ini. Pria manisnya terlihat makin mempesona, sangat sempurna. Membuatnya tidak bisa menahan senyum dan tatapan memunjanya.

"Mau berdansa denganku?" Ajak Yuta setelah mendengar alunan melodi mengalun santai dalam ruangan.

Haechan terkejut dengan ajakan Yuta. Jangankan berdansa, menatap Yuta saja terasa sulit untuknya sekarang. Haechan kembali mengingat bahwa ia datang bersama Mark, mencoba mencari keberadaan pria itu untuk dijadikan alasan menolak Yuta.

"Huh? Aku –"

"Ayolah."

Tapi seakan mengabaikan seluruh penolakan yang akan Haechan lontarkan, Yuta menarik tangan Haechan untuk mengikutinya. Membawanya ke arah tengah ruangan yang telah di isi oleh beberapa pasangan yang juga memutuskan untuk menikmati alunan lagu bersama.

Yuta bukannya tidak tau bahwa Haechan kini merasa tidak nyaman dengannya. Mungkin karena kesalahan mulutnya yang mengungkapkan ketertarikannya tanpa bisa ditahan. Tapi Yuta benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Membuat Haechan sadar bahwa sikap yang selama ini Yuta tujukan padanya bukan sikap yang sama ketika ia memperlakukan orang lain. Tapi karena pria Jepang itu menaruh hati padanya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan berdiri di tengah ruangan seorang diri. Menolehkan kepalanya kesegala arah, meneliti tiap kerumunan orang yang mampu dilihatnya, mencari apakah paling tidak ada seseorang yang ia kenal untuk diajak bicara. Namun nihil. Di tempat asing ini semua orang terasa asing bagi Haechan. Membuatnya yang memang tidak begitu menyukai keramaian merasa tidak nyaman.

Beberapa menit yang lalu seseorang menghampiri Yuta yang kala itu tengah menghabiskan waktu dengan Haechan, membisikkan sesuatu yang sepertinya merupakan hal yang penting hingga pria Jepang itu dengan berat hati harus mengakhiri kebersamaannya dengan Haechan.

"Haus."

Haechan melangkahkan kakinya menuju mini bar yang terdapat di sudut ruangan. Mencoba mendapatkan segelas yang diharapnya bisa menghilangkan dahaganya. Beberapa pelayan terlihat sibuk berkeliling membawa nampan berisikan gelas-gelas tinggi untuk para tamu. Haechan mendudukkan dirinya. Mengambil asal gelas berisi cairan dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Haechan meringis merasakan cairan tersebut seperti membakar tenggorokannya, tapi anehnya ia tidak dapat menahan rasa hausnya, dan nampaknya apa yang baru saja ia minum membuatnya menginginkan cairan itu lagi dan lagi.

Tak terasa sembilan gelas telah kosong. Haechan mengambil gelas ke sepuluhnya sambil memegangi kepalanya yang entah kenapa terasa berputar.

"Ugh! Kenapa kepalaku jadi pusing?"

Haechan menggelengkan kepalanya berharap pusing di kepalanya hilang. Tapi rasa berputar itu masih enggan menjauh darinya. Membuatnya tidak tahan lagi untuk tetap menahan berat kepalanya dan berakhir menumpukan kepalanya di atas meja mini bar di depannya tersebut.

"Oh astaga Haechanie!"

Haechan mendengar pekikan suara yang terasa familiar di belakang tubuhnya. Inginnya menoleh, tapi sayangnya kepalanya terlalu berat untuk diajak bekerja sama.

Sang pelaku teriakan menarik tubuh Haechan hingga duduk dengan tegap. Membingkai wajah yang kini berubah memerah itu dengan kedua tangan mungilnya. Menepuk pelan pipi Haechan karena dirasa pria manis itu tidak meresponnya sama sekali.

"Hey apa yang terjadi padamu?" Tanya seseorang itu dengan nada khawatir yang sangat kentara.

Haechan membuka matanya yang terasa berat. Berusaha keras memandang si pelaku yang ternyata adalah Taeyong.

"Hyung."

Taeyong memeriksa keadaan Haechan dengan seksama. Bertanya penuh khawatir pada adiknya itu. "Kau mabuk? Kau minum ap –"

Sebelum ia melihat deretan gelas kosong di depan sang adik. " –astaga!"

Taeyong melebarkan mata bulatnya. Tidak mempercayai apa yang telah sang adik lakukan. Sepuluh gelas? Yang benar saja.

Sepanjang umurnya menjaga Haechan, demi Tuhan ia tidak pernah membiarkan adiknya itu mendekati cairan laknat tersebut. Dan malam ini, entah apa yang menyebabkan sang adik sampai harus berakhir di sini dengan deretan gelas kosong dan kesadaran yang sudah melayang, membuat Taeyong tidak bisa menahan geram.

"Hyung –hik hyung." Rancauan Haechan mengundang atensi Taeyong.

Haechan yang memang sudah terlihat tidak sanggup menahan tubuhnya untuk tetap duduk tegap, menyandarkan berat tubuhnya pada bahu sempit Taeyong.

Tangan Taeyong mengepal. Menarik lengan Haechan untuk menatapnya dan berkata penuh penekanan menyiratkan kemarahan yang disertai kekhawatiran.

"Kau harus istirahat. Ayo kembali ke kamarmu."

Haechan menarik lengannya yang di genggam oleh Taeyong. Menyandarkan tubuhnya pada meja mini bar dan kembali meraih gelas kesepuluhnya yang masih tersisa cairan separuhnya.

"Ti –hik tidak mau hyung. Aku masih –hik haus."

Taeyong menggeram marah. Merebut gelas dalam genggaman Haechan dan menaruhnya jauh agar tangan sang adik tidak dapat meraihnya lagi.

"Kau mabuk Haechan! Ayo –"

"Ada apa sayang?"

Sebuah suara dari balik punggungnya membuat Taeyong membalikkan tubuhnya. Menatap seseorang yang sangat ia kenali suaranya di luar kepala. Mencoba mencari pertolongan dari seseorang tersebut.

Beberapa saat lalu Jaehyun dan Taeyong tengah berbincang menyambut para kolega Jaehyun. Tapi mendadak sang istri melepaskan apitan tangannya pada lengan Jaehyun dan berjalan menjauh tanpa sepatah kata pun. Jaehyun yang melihatnya tentu saja cemas, mengingat Taeyong mendadak bertingkah aneh. Membuatnya pamit undur diri pada sang tamu dan memutuskan untuk mengikuti sang istri hingga maniknya menangkap sesuatu yang nampaknya membuat istrinya geram.

"Jae, Haechan mabuk." Adu Taeyong pada pria yang baru saja resmi mesnjadi suaminya.

Jaehyun yang mendengarnya mengalihkan atensinya pada sang adik ipar yang telah terkapar di bangku balik tubuh sang istri. Mengambil gelas yang masih terisi setengah cairan berada tidak jauh dari tubuh Haechan. Mengendus aromanya sejenak untuk mengenali situasi yang terjadi saat ini.

"Wine. Berapa gelas yang ia minum?" Tanya Jaehyun kepada bartender yang sedang bertugas di balik meja.

Bartender itu hanya diam menyaksikan bagaimana sang nyonya menahan marah. Jika saja ia tau kalau pria manis yang duduk terkapar ini adik ipar tuannya, ia tidak akan membiarkan Haechan semabuk ini. Tapi memang tugasnya hanya menyiapkan minuman untuk para tamu tanpa harus mengidentifikasi siapa tamu tersebut.

"Ini sudah gelas ke sepuluh tuan."

"Haechan cukup! Lepaskan gelas-gelas itu!" Taeyong berteriak marah melihat Haechan masih bersikeras meminum habis gelas ke sepuluhnya. Menyuruh sang bartender untuk menyingkirkan jauh-jauh gelas yang ada.

"Ayo bangun."

Taeyong memutar kursi Haechan, menariknya untuk berdiri dari kursinya yang masih saja mendapat penolakan keras dari sang adik.

"Ah hyung –hik aku ti –hik dak mau!"

"Sayang." Jaehyun melerai keduanya. Berniat menggantikan Taeyong yang nampak kesusahan. Sebelum tangan seseorang menyangga tubuh Haechan yang hampir saja limbung akibat aksi saling tariknya.

"Biar aku saja hyung." Tawar seseorang tersebut yang ternyata adalah Mark

Mark menegakkan badan Haechan. Membiarkan pria manis itu menumpukan berat badannya pada tubuh tegapnya.

"Kamar kami bersebelahan. Lagi pula hyung masih harus menyambut tamu yang datang."

Beberapa saat lalu, Mark bertemu dengan beberapa rekan kerjanya yang ternyata menghadiri acara yang sama. Membuatnya terlibat dalam perbincangan kecil tak lepas dari bisnis mereka.

Mark terpisah dari Haechan sesaat setelah mereka berdua memasuki ruangan pesta. Salahkan kerumunan orang yang tampak begitu banyak. Salahnya juga tidak memperhatikan pria manisnya dengan baik. Niatnya untuk mencari keberadaan Haechan setelahnya namun selalu terhalangi dengan beberapa orang yang menyapa dan mengajaknya berbicara singkat. Membuatnya harus mengurungkan niatnya mencari Haechan barang sebentar yang nyatanya tidak memakan waktu sebentar. Meyakinkan dirinya bahwa Haechan akan baik-baik saja di sini sampai urusannya selesai.

Mata tajamnya menangkap kericuhan di sudut ruangan tempat mini bar berada. Mengenali sosok mempelai pengantin tampak sedang beradu mulut dengan seseorang yang terkapar lemah. Mark yang penasaran, akhirnya mendekatkan dirinya menghampiri tempat Taeyong disusul dengan Jaehyun yang nampak telah sampai duluan. Sampai matanya menangkan seseorang yang dicarinya berada dalam keadaan yang tidak di sangka-sangka.

Mark yang khawatir mempercepat langkahnya untuk mendekat. Melihat kedua kakak beradik tersebut terlibat aksi saling menarik. Dan kemudian menyebabkan tubuh mungil pria manisnya limbung hilang keseimbangan. Untunglah Mark dapat meraih tubuh itu dengan cepat. Menahannya dan melihat kekacauan yang diperbuat Haechan.

"Mark ada benarnya sayang." Ujar Jaehyun mengusap punggung sang istri yang terasa masih tegang.

Masih dengan kekhawatirannya, Taeyong enggan melepas sang adik. "Tapi Haechan –"

"Percayakan pada Mark." Bujuk sang suami.

Taeyong menatap manik Jaehyun mencoba membujuk sang suami agar mau menuruti keinginannya yang dibalas dengan tatapan tajam menenangkan seperti mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Membuat Taeyong mau tidak mau akhirnya melepas tubuh sang adik. Mempercayakannya pada Mark.

"Baiklah. Jaga adikku baik-baik."

"Aku mengerti hyung."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark tidak pernah tau kalau ia akan berada pada posisi ini. Menangani orang mabuk merupakan kali pertama bagi seorang Mark Lee. Dan –oh Tuhan kenapa harus Haechan? Mark tidak ingin mengeluh, hanya saja akan sangat sulit mengendalikan pertahanan dirinya yang kokoh –yang sayangnya mudah goyah bahkan dengan Haechan yang masih sadar sekalipun.

Tapi rasa kekhawatirannya lebih mendominasi saat ini. Jaehyun dan Taeyong jelas tidak bisa mengantar Haechan karena malam ini merupakan malam bahagia mereka. Beberapa keluarga juga nampaknya tengah sibuk berbincang di family corner. Meminta beberapa staff mungkin akan menjadi pilihan terakhir yang paling buruk. Mark juga tidak tau kemana perginya Jaemin dan Jeno. Lucas sahabatnya mungkin saja sedang tebar pesona, dan Mark tidak akan membiarkan Haechan menjadi salah satunya. Yuta? Oh ayolah kau bercanda? Mark bersumpah tidak akan memberi kesempatan pria Jepang yang telah ia tandai sebagai musuhnya itu untuk mendekati Haechan barang sedikitpun. Membuatnya dari segala kemungkinan yang ada, melemparkan diri ke tepi pembatas pertahanan dirinya.

Setidaknya biarkan Mark membuat perjanjian terlebih dahulu pada dirinya sendiri, memantapkan dirinya, apapun yang terjadi setelah ini, akal sehatnya haruslah berada di atas gairah keparatnya. Ya mari berdo'a saja.

Untuk keselamatan Haechan tentu saja.

Awalnya Mark hanya membantu memapah tubuh Haechan yang berjalan kian serampungan. Tapi setelah beberapa meter berjalan, nampaknya pria manis itu sudah tidak bisa menahan kakinya untuk tetap tegak berdiri lebih lama lagi. Membuat Mark dengan jiwa pria sejatinya menggendong Haechan di punggung lebarnya.

"Hik –Mark hyung."

Haechan yang saat ini berada di punggung Mark tidak hentinya menggerakkan tubuhnya kesana kemari. Membuat Mark harus berkali-kali membenarkan posisi gendongannya agar tubuh itu tidak terjatuh. Tubuh Haechan menggeliat tidak karuan seperti cacing kepanasan. Bahkan baju yang dikenakan keduanya terasa sudah sama kusutnya sekarang akibat tangan Haechan yang cenderung tidak mau diam.

"Mark hyung –hik Mark hyung tampan."

Satu lagi hal yang mengejutkan. Masih dengan rancauan khas orang mabuk, Haechan terlihat sangat mengerikan karena ia akan secara gamblang mengungkapkan isi hatinya. Dan melakukan sesuatu sesuai kemauannya tanpa malu-malu lagi. Sungguh setelah malam ini Mark bersumpah tidak akan membiarkan Haechan menyentuh alkohol lagi barang sedikitpun. Apa lagi harus bersama pria lain. Mark tidak sanggup membayangkannya.

Haechan mengeratkan pelukannya di leher Mark. Memajukan kepalanya dari balik punggung pria tampan tersebut. Bersikeras ingin melihat wajah tampan kesukaannya. Mark menghembuskan napas pelan dan menolehkan wajahnya ke arah kepala Haechan. Tebak apa yang ia dapat? Wajah Haechan tepat tersaji menggiurkan di hadapannya bahkan hidung mereka sudah saling menempel sekarang.

Haechan tertawa bahagia dengan mata sendu khas orang mabuk. Juga wajahnya yang kian memerah membuat Mark nyaris hilang akal dibuatnya. Bahkan di saat-saat seperti ini Mark masih sempat berpikir bahwa Haechan sangatlah menggoda.

Mark dan gairah keparatnya.

Pria tampan yang tembok pertahanannya kian menipis itu berdehem sebentar untuk menjernihkan pikirannya. Berharap dengan begitu ia dapat kembali mempertebal dinding pertahanan dirinya. Membenarkan posisi Haechan di punggungnya agar wajah Haechan menjauh dari wajahnya.

"Jangan banyak bergerak." Perintah Mark yang tentu saja tidak didengarkan sama sekali oleh Haechan. Masih dengan tingkah semaunya.

Sepuluh menit berjalan menyusuri jalan setapak yang terasa memakan waktu berabad-abad, akhirnya Mark sampai di depan kamar Haechan. Mencari akses kamar tersebut yang untungnya dengan mudah ia temukan di saku coat milik Haechan yang tadi sempat Taeyong sampirkan. Bergegas membuka pintu tersebut dan menutupnya, menghadang udara dingin malam menusuk kulit untuk ikut masuk ke dalam.

Mark mendekati ranjang besar super nyaman dan menidurkan Haechan di sana. Tak lupa melepas coat dan sepatu yang Haechan kenakan, agar pria manisnya dapat tidur dengan lebih nyaman. Meninggalkan kemeja putih dengan tulisan kalimat dan coretan tinta abstrak di dasarnya sebagian telah keluar dari himpitan celana selutut berikat pinggang itu. Sekilas Mark dapat melihat perut rata Haechan mengintip dengan samar. Membuatnya membelalakkan mata nyaris keluar.

Oh tidak lagi!

Demi Tuhan, Mark tahan dirimu!

Mark mengalihkan pandangannya untuk mengembalikan akal sehatnya. Memutuskan untuk segera keluar dari kamar yang sama sekali tidak menjanjikan sebuah ketahanan lebih lama lagi bagi seorang Mark Lee. Sebelum –

–sebuah tarikan membuatnya kembali beralih.

Tangan Mark di tarik oleh Haechan. Mark yang memang saat itu tidak siap sama sekali terlihat hilang keseimbangan dan mendarat di atas pria manis itu. Untunglah ia masih memiliki reflek yang baik sehingga kedua tangannya berakhir bertumpu di samping kepala Haechan hingga ia tidak menindih tubuh mungil itu. Namun hal yang tak diduga-duga terjadi.

Haechan bertindak lebih dengan melingkarkan tangannya di leher Mark. Membuat Mark membelalakkan matanya penuh antisipasi. Menarik pria tampan itu untuk lebih dekat ke arahnya hingga menyebabkan Mark limbung menekuk tangannya menjadi bertumpu pada siku. Jarak antara keduanya semakin dekat. Mungkin dengan sedikit dorongan lagi, keduanya akan saling meniadakan jarak dengan sangat tidak berarti.

"Mark hyung –hik jangan pergi." Rancau Haechan yang menatap tepat ke dalam mata Mark dengan tatapan sayu.

Mark tertegun. Mengamati bagaimana wajah manis dan cantik itu memerah menggoda. Mata bulatnya yang timbul tenggelam dibalik kelopak mata indahnya. Hidung mungil dan bibir love-shape merekah semerah cherry. Mengundang gairahnya muncul ke permukaan menari-nari menertawakan Mark yang sampai saat ini tidak mampu bertindak lebih jauh.

"Aku menyukai –hik Aku menyukai M –Mark hyung –hik."

Deg

"Haechan –"

Nyatanya pernyataan Haechan disela ketidak sadarannya itu membuat jantung Mark kian bekerja dengan tidak karuan. Memandang wajah Haechan dalam, mencari sesuatu. Berakhir dengan ia yang menemukan dirinya sendiri semakin hanyut ke dalam pesona seorang Lee Haechan.

"Hyung cium aku."

A –apa?

Permintaan Haechan membuat wajah Mark seketika memerah. Tidak sanggup menahan panas akibat godaan Haechan yang tiada henti.

Haechan kembali bertindak di luar nalar. Tangan mungilnya beralih dari leher menuju ke kerah kemeja Mark yang dilengkapi dengan dasi. Menariknya dengan tidak sabaran membuat Mark tercekik dan berakhir dengan menyerah mengikuti arah tarikan Haechan.

Chu

Tindakan berani Haechan sukses membuat kedua bibir itu saling menempel meniadakan jarak antar keduanya. Mark yang awalnya kalang kabut masih degan ketertegunannya, ditark ke permukaan kesadarannya setelah bibir Haechan mulai bergerak di atas bibirnya dengan gerakan seperti seorang amatir.

Dinding pertahanan diri Mark runtuh tak tersisa.

Akal sehatnya terhempas terkubur di dasar bumi paling dalam.

Digantikan dengan pusaran gairah yang menghempasnya tak tau aturan. Membuatnya terlena, lupa akan etika kesopanannya dan hanya menuruti kemana gairah tersebut menuntunnya.

Ini semua salah Haechan yang dengan sangat lancang melemparkan diri menggodanya.

"Kau benar-benar menguji pertahanan diriku Lee Haechan."

Mark mulai mengambil alih ciuman. Bergerak menghisap kedua belah bibir Haechan secara bergantian dengan sangat tidak sabaran. Tangan kanannya bahkan sudah menyerah dari tumpuannya. Mengarahkan ke leher jenjang menggoda milik pria manis di bawahnya, menariknya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.

Tidak sampai di situ, kini tangan Mark mulai bekerja melucuti kancing kemeja Haechan yang memang sudah berantakan. Memperlihatkan leher dan tulang selangkanya yang terlihat menggoda.

Mata tajam Mark semakin menggelap. Tanpa membuang waktu lagi pria tampan itu langsung mendaratkan ciumannya ke arah leher jenjang tersebut. Mengakibatkan lenguhan-lenguhan tak tahan dan rancauan yang semakin tidak karuan dari Haechan –yang Demi Tuhan terasa semakin membakar gairah seorang Mark Lee.

"Ngh!"

Lenguhan menggoda semakin menggelitik di telinga Mark. Membakar akal sehatnya sampai tak tersisa. Menariknya untuk semakin melakukan hal yang lebih dari ini.

"Akh! Mark hyung –ngh"

Mark kalap. Pada akhirnya janji untuk tetap tegak berdiri dengan dinding pertahanan yang kokoh harus ia telan mentah-mentah. Melemparkan dirinya ke jurang gairah yang menggodanya untuk berenang-renang di dalamnya. Persetan dengan etika kesopanan yang sempat ia tamatkan benar-benar pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun. Malam ini ia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Tidak setelah Haechan menariknya dengan sangat kuat ditengah ketidak sadarannya yang membuat Mark limbung luluh lantak.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's corner

Ayo main tebak-tebakan, kira-kira Mark kelepasan gak ya kali ini?

HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA

Kapan mereka jadian? Do'akan pintu hati Mark biar cepet dibukakan.

Jangan lupa tulis sesuatu dikolom komentar.

Untuk update selanjutnya mungkin akan memakan waktu semingguan karena aku harus ikut pelatihan. Huhu maafkan aku. Semoga kalian sabar menunggu.

See you on the next chapter. Salam MarkHyuck shipper. Saranghae pyeong~