TURN BACK POINT

Cast:

Mark Lee (24)

Lee Haechan/Donghyuck (22)

Nakamoto Yuta (24)

Lee Taeyong (26)

Jung Jaehyun (26)

Lucas (24)

Na Jaemin (22)

Lee Jeno (24)

Yunho - Haechan's Appa (48)

Jaejong - Haechan's Eomma (46)

Sehun - Mark's Appa (45)

Luhan - Mark's Eomma (44)

.

Genre:

Romance, Drama, Family

.

WARNING! YAOI AREA

If you haters, just go away. I'm not bother you so please don't bother me. This fanfiction is just for YAOI tolerate

.

HAPPY READING

.


Chapter 7


"Kau benar-benar menguji pertahanan diriku Lee Haechan."

Mark mulai mengambil alih ciuman. Bergerak menghisap kedua belah bibir Haechan secara bergantian dengan sangat tidak sabaran. Tangan kanannya bahkan sudah menyerah dari tumpuannya. Mengarahkan ke leher jenjang menggoda milik pria manis di bawahnya, menariknya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.

Tidak sampai di situ, kini tangan Mark mulai bekerja melucuti kancing kemeja Haechan yang memang sudah berantakan. Memperlihatkan leher dan tulang selangkanya yang terlihat menggodanya untuk mengeksploitasinya habis-habisan.

Mata tajam Mark semakin menggelap. Tanpa membuang waktu lagi pria tampan itu langsung mendaratkan ciumannya ke arah leher jenjang milik Haechan. Mengakibatkan lenguhan-lenguhan tak tahan dan rancauan yang semakin tidak karuan dari Haechan.

"Ngh!"

Lenguhan menggoda semakin menggelitik di telinga Mark. Membakar akal sehatnya sampai tak tersisa. Menariknya untuk semakin melakukan hal yang lebih dari ini.

"Akh! Mark hyung –ngh"

Haechan menikmatinya. Maniknya timbul tenggelam menikmati apa pun itu yang Mark lakukan pada tubuhnya. Bibir ranumnya tak henti terbuka menyuarakan lenguhan-lenguhan kenikmatan yang demi Tuhan makin membakar gairah Mark.

Mark makin membenamkan kepalanya pada leher Haechan. Memberanikan diri menggigit-gigit kecil perpotongan leher menggoda itu. Dibalas dengan uluran kedua tangan Haechan yang memeluk kepala Mark seolah menyuruhnya untuk terus melakukan apa yang tengah ia lakukan.

Kegiatan mencumbunya masih berlanjut. Lenguhan kenikmatan Haechan yang makin nyaring nyatanya makin mendorong Mark untuk berbuat lebih dan lebih lagi.

Terkutuk lah suara menggoda itu.

Tangan kokohnya meraih pinggang Haechan menghalau pria manis di bawahnya untuk tidak bergerak bagai cacing kepanasan. Dan membiarkan Mark melakukan pekerjaannya dengan baik. Satu hisapan kuat diperpotongan leher yang dilakukan oleh Mark membuat tangan Haechan tak bisa tinggal diam. Terangkat meraih surai belakang Mark dan mulai menjambaknya seiring lenguhan yang makin menjadi.

Mark tersadar dari gairahnya. Menghentikan apa yang diperbuatnya masih dengan kepala yang senantiasa terbenam diperpotongan leher Haechan. Nyatanya tarikan tangan Haechan pada surainya terasa mengembalikan kesadaran Mark. Memadamkan api gairahnya meskipun lolongan menuntut untuk tetap dipuaskan oleh Haechan masih menggelitik ditelinganya. Haechan bahkan tengah memohon pada Mark untuk melanjutkan apa yang telah ia lakukan.

Tapi Mark enggan. Bagai mendapat tamparan keras di pipi tak kasat mata yang membuat hatinya ikut berdenyut sakit.

Cukup sampai di sini ia melewati batas.

Mark menghormati Haechan. Berjanji menjaganya dengan sebaik mungkin. Namun nyatanya apa yang baru saja ia perbuat seakan menampar keras harga dirinya. Melecehkan Haechan? Terlepas pria manisnya sendiri yang meminta. Tapi Mark tau ini salah. Haechan sedang dalam pengaruh alkohol jadi wajar pria manis itu bertindak di luar kedali. Dan jika Mark memanfaatkan kesempatan itu, terkutuklah ia.

Memikirkan bagaimana nanti jika ia harus mendapati manik kesukaannya memandang benci kearahnya atau bahkan tatapan kecewa dari orang-orang yang telah mempercayakan Haechan padanya, Mark tidak siap untuk itu.

Mark meraih tangan Haechan yang masih senantiasa mengukung kepalanya. Menegakkan tubuhnya menumpu pada lengan kokoh tanpa harus menindih Haechan. Mengangkat kepalanya melihat betapa sayunya manik menggoda di bawahnya dengan napas yang terengah-engah pasca kegiatan panas yang baru saja mereka berdua lakukan.

"Hah, aku nyaris gila."

Mark menatap tajam ke dalam manik Haechan. Mencoba mengais pecahan kesadarannya. Merekam benar-benar kesalahan yang ia lakukan. Mark menggelengkan kepalanya, mengusap wajahnya kasar untuk mengembalikan akal sehatnya dan mengubur gairahnya dalam-dalam.

"Tidak. Aku memang sudah gila."

Mark beranjak dari atas tubuh Haechan tanpa ada perlawanan lagi dari bocah itu. Nampaknya kesadaran Haechan sudah mulai hilang. Digantikan dengan napas teratur menandakan pria manisnya telah terlelap masuk ke dalam alam mimpi.

Mark melihat ke arah Haechan, mengamati bagaimana baju Haechan telah kusut berantakan dan terbuka di sana sini. Tangannya mengais selimut tebal di bawah kakinya yang tadi sempat ia tendang untuk menutupi seluruh tubuh provokatif itu. Duduk di pinggir ranjang mengamati bagaimana damainya wajah pria manisnya dalam tidur lelapnya. Tangan Mark terangkat menuju surai Haechan yang acak tak karuan yang membuatnya terlihat semakin menggoda hingga Mark kalap.

Pandangan Mark yang awalnya menggelap kini menjadi memandang sendu ke arah Haechan. Dada kirinya bagai dihujam ribuan jarum tak kasat mata. Penyesalan sudah memenuhinya hingga sampai ke ubun-ubun.

"Maafkan aku."

Mark berdiri dari duduknya. Membenarkan bajunya yang sama berantakannya. Tangan Haechan nampaknya melakukannya dengan sangat baik. Mengerikan. Membayangkan bagaimana pria manisnya yang tenang dan patuh berubah menjadi seganas itu kala mabuk. Sungguh, Mark bersumpah tidak akan membiarkan Haechan menyentuh alkohol lagi. Tidak akan pernah. Membayangkan bagaimana jika Haechan mabuk bersama dengan pria lain membuat emosinya naik tanpa bisa ditahan.

Mark tidak ingin membayangkannya. Itu adalah mimpi buruk.

Drrtt ddrrtt

Getar ponsel membuyarkan pikiran rumit milik Mark. Merogoh saku celananya untuk melihat siapa gerangan yang melakukan panggilan selarut ini.

Taeyong hyung is calling…

Mark merasa di tampar untuk kedua kalinya.

Belum larut rasa bersalahnya pada Haechan, kini ia harus menghadapi Taeyong.

Bagaimana bisa ia menghadapi Taeyong setelah apa yang ia perbuat pada adik tersayangnya? Mark yakin jika Taeyong tau mungkin saja ia akan datang mencincangnya habis tanpa ampun.

Taeyong mungkin memang telah mempercayakan Haechan pada Mark dan bahkan sangat mendukung hubungan mereka berdua. Tapi pasti melecehkan sang adik tidak masuk ke dalam salah satu kemungkinan yang Taeyong harapkan.

Ini semua salah gairah keparatnya. Mengambil alih akal sehatnya dan memaksa Mark harus hilang kendali. Dan kini Mark menyesal. Sangat.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mark memutuskan menggeser tombol hijau ke arah samping.

"Mark, Haechan baik?" Tanya Taeyong segera setelah Mark mengangkat panggilannya.

Mark masih mendengar riuh suara di seberang sana. Nampaknya Taeyong masih di tengah pesta tapi mencuri kesempatan untuk sekedar mengadakan panggilan memastikan keadaan sang adik. Taeyong pasti sangat khawatir saat ini. Bagaimana pun juga ia tau bahwa kakak tingkatnya itu sangat menyayangi sang adik lebih dari apa pun. Dan hal itu sukses membuat Mark makin merasa bersalah dibuatnya.

"Ya, Taeyong hyung." Jawab Mark dengan seadanya.

Taeyong menjauhkan ponselnya memandang aneh pada panggilan yang ia lakukan.

Apa Mark sudah tidur? Apa ini sudah terlalu larut?

"Kau baik? Kenapa suaramu serak?"

Mark gelisah mendengarnya. Mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin jika ia mengaku sekarang. Keadaan sangat tidak memungkinkan untuk pengakuan dosanya. Inginnya tetap tenang tapi sialnya malah membuatnya terdengar gugup seperti menyembunyikan sesuatu.

"A –ah tidak."

Taeyong kembali berceloteh tentang keadaan Haechan di seberang panggilan. Namun tidak juga mendapat respon dari Mark. Membuat Taeyong lagi-lagi menjauhkan ponselnya, kembali memerikasa apakah panggilannya terputus. Namun layar ponselnya mengatakan tidak. Detik panggilan masih terus berjalan, lalu kenapa Mark hanya diam di seberang sana?

"Mark kenapa kau diam? Kau benar-benar baik? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Taeyong yang kini mulai khawatir membayangkan sesuatu telah terjadi.

Mark menelan ludahnya susah payah. Mengusap wajahnya kasar untuk memulai menjelaskan kepada Taeyong.

"Tidak Taeyong hyung. Aku hanya, hanya –aku minta maaf."

Taeyong mengernyit di seberang sana yang tentunya tdak dapat Mark lihat. Tidak mengerti ke mana arah pembicaraan pria tampan itu.

"Untuk?"

"Hanya ingin minta maaf." Lirih Mark.

Taeyong makin mengernyitkan dahinya dalam. Mungkin Mark kelelahan. Mencoba berbaik sangka memikirkan semuanya baik-baik saja. Memutuskan untuk segera menutup panggilannya agar Mark dapat istirahat dan mengembalikan kesadarannya.

"Sepertinya kau butuh istirahat juga Mark. Terimakasih sudah mengantar Haechan. Ku tutup."

Pip

Panggilan telah terputus. Tapi Mark masih senantiasa menempelkan ponselnya ditelinga kanannya.

Kau bodoh Mark Lee.

Setelah cukup lama merutuki dirinya sendiri, Mark memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Segera membereskan kekacauan yang ada.

Saat ini ia sangat butuh mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Mendinginkan kepalanya dan sisa gairah keparatnya di bawah sana.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Suara debur ombak terdengar mengalun menenangkan. Membuat tubuh mungil yang masih senantiasa betah dalam gulungan selimut tebalnya, tambah membenamkan kepalanya dalam bantal. Disusul angin pantai yang berhembus menghantarkan hawa dingin sepagi ini.

Angin?

Haechan menghembuskan napasnya tidak suka. Mengernyitkan alisnya dan mulai menurunkan selimut yang membungkus tubuhnya menjadi sebatas pinggang.

Haechan memaksa maniknya untuk terbuka. Mencoba memahami apa yang terjadi. Berakhir dengan mengernyit mendapati sinar matahari pagi menerpa tepat diwajahnya dari sela tirai yang bergoyang karena diterpa angin.

Sejak kapan jendela kamarnya terbuka? Seingatnya selama dua hari di sini Haechan tidak pernah membuka jendela sepagi ini, karena udara pagi hari di pantai Jeju sangat mengerikan bagi seorang Lee Haechan yang memang tidak begitu tahan dingin.

Tunggu dulu, kamar?

Haechan menegakkan tubuhnya bersandar di dashboard ranjang. Gerakannya terlalu terburu-buru mengakibatkan kepalanya berputar hingga perutnya terasa ikut teraduk karenanya.

Bagaimana ia bisa berakhir dikamarnya? Seingatnya –

"Ugh." Haechan memegang kepalanya yang kini kian berputar.

"Apa yang terjadi? Kepalaku .."

Haechan memejamkan manik setengah terbukanya untuk sedikit membiasakan diri. Karena dirasanya dengan mata terbuka makin memperburuk kondisinya. Semua yang dilihatnya menjadi berputar dan memiliki bayangan masing-masing. Mengaduk isi perut Haechan dan memaksanya untuk keluar. Haechan menahan tangannya di depan mulut. Membekapnya dan menghalangi rasa mualnya.

Perasaan asing macam apa ini?

"Kau sudah bangun?"

Suara berat yang lembut menghampiri gendang pendengaran Haechan. Membuat Haechan makin mengernyitkan dahinya dalam.

Kenapa ia tidak juga dapat menangkap situasi di pagi hari ini?

Haechan memaksa maniknya untuk terbuka. Melihat ke arah sumber suara dan menemukan sosok pria tampan yang telah mencuri hatinya tengah berdiri dengan balutan kemeja putih bergaris biru muda dan celana jeans sedikit robek di lutut berwarna senada.

Diberkatilah Haechan mendapat pemandangan seindah ini di pagi harinya.

Haechan masih terpaku memandang Mark yang tengah berdiri mengamatinya. Memiringkan kepalanya sedikit berpikir karena menurutnya ada hal aneh yang masih tidak ia sadari di sini. Maniknya mulai menyapu seisi ruangan yang dapat ia kenali sebagai kamarnya selama di Jeju. Lalu –

"Mark hyung, apa yang kau lakukan dikamarku?" Haechan memandang Mark dengan mata yang mengerjap menggemaskan.

Kombinasi antara Mark dan kamarnya adalah hal yang baru untuk Haechan. Meskipun Haechan menyukainya, tapi bukan kah ini aneh?

Mark memasukkan lengan kiri berjam tangannya ke dalam saku celana. Bertanya pada Haechan dengan nada memastikan.

"Kau tak ingat?"

"Huh?"

Haechan memiringkan kepalanya makin tak mengerti. Sepagi ini, dalam keadaan baru terbangun dari tidurnya dan nyawa yang masih berpencar entah ke mana, Mark sudah menyuruhnya menggunakan otaknya. Lagi pula apa-apaan pertanyaan itu? Membuat kepala Haechan yang masih berputar tidak karuan menjadi makin buruk saja.

Mark mendengus jengah. Sebertinya pria manisnya belum mengingat malam panas yang nyaris membara mereka tadi malam. Berbalik meraih cangkir putih dimeja samping sofa yang tadi sempat dipesannya pada staff resort untuk diberikan pada Haechan. Berjalan mendekati ranjang Haechan, meraih kepala milik pria manis menggemaskan itu untuk diusap lembut surainya, lalu menyodorkan cangkir berisi cairan yang mengeluarkan kepul asap tipis dan aroma menenangkan.

"Lupakan saja. Ini teh mint untuk meredakan hangovermu."

Haechan mengulurkan tangannya menerima cangkir yang diberikan Mark. Namun matanya senantiasa memandang pria tampan dihadapannya dengan pandangan terpesona.

"Bersihkan dirimu. Ku tunggu kau di depan. Kita sarapan di resort utama." Pamit Mark dengan senyum tipis lembutnya.

Haechan masih senantiasa terpaku di tempatnya meskipun sosok tampannya sudah hilang dibalik pintu. Sampai aroma menggiurkan yang berasal dari cangkir yang berada ditangannya menyadarkannya dari keterpakuannya. Haechan menundukkan kepalanya. Melihat ke arah cangkir yang berisi cairan kuning kehijauan bening menampakkan refleksi wajahnya dengan samar yang terlihat berantakan.

Memalukan.

Haechan memukul kepalanya pelan.

Bisa-bisanya ia melupakan bagaimana penampilan tak layaknya saat bangun tidur di depan Mark. Apa yang akan dipikirkan oleh pria tampan itu nanti? Hah pasti harga jualnya sudah anjlok sekarang di mata Mark.

Haechan menghembuskan napasnya pelan. Mencoba mengabaikan segala pikiran rumitnya yang makin rumit akhir-akhir ini. Meminum cairan dalam cangkir putih itu dengan perlahan menikmati kehangatan yang sedikit demi sedikit menyebar ke seluruh tubuhnya.

Teh mint memang selalu menjadi yang terbaik di pagi hari.

Rasa berputar dikepalanya perlahan menghilang. Membuat Haechan bernapas lega dibuatnya berkat Mark dan secangkir teh paginya. Haechan tersenyum merona. Bukankah Mark itu pria yang sangat perhatian? Haechan makin jatuh hati dibutanya.

Haechan menyibak selimut yang masih membungkus setengah tubuhnya. Beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri mengingat Mark menunggunya bersiap untuk ikut sarapan.

Haechan mencuci wajahnya sekilas. Berharap dengan begini kesadarannya akan sepenuhnya terkumpul. Menumpukan tangan mungilnya dipinggiran washtafel dan memandang ke arah kaca besar di depannya.

Ia masih mengenakan bajunya semalam.

Ah benar, tadi malam pesta pernikahan Taeyong hyung dan Jaehyun hyung.

Hanya saja kerah kemejanya sudah tidak terkancing dengan benar lagi. Dua kancing teratasnya telah terbuka menampakkan leher putih mulusnya yang nampaknya sudah ternoda.

Haechan mengernyit dalam. Membuka kancing ketinganya untuk menyibak lebih lebar lagi, memastikan bercak merah samar yang sempat dilihatnya yang mengintip di balik kemejanya. Haechan menghadap agak ke samping. Menurunkan bahu kemejanya dan mempertontonkan bahu putihnya. Disambut dengan bercak merah itu yang makin terlihat jelas.

"A –apa ini?"

Tangan mungil Haechan terangkat menyentuh ke arah bercak merah diperpotongan lehernya. Mengamatinya dengan seksama. Berharap itu coretan lipstick Jaemin atau apa pun itu yang bisa dihilangkan.

Namun nihil. Bercak merah itu masih ada.

Haechan kalang kabut. Kini tangannya bergerak membuka keran washtafel, membasuh bercak merah itu dengan air yang ditampungnya ala kadar ditangan mungilnya menuju perpotongan leher. Tapi bercak merah itu tetap tidak mau menghilang.

"Tidak tidak, jangan bilang –"

Haechan bukannya tidak tau dengan bercak merah itu. Sedikit banyak berteman dengan Jaemin membuat otaknya terkontaminasi dengan hal-hal berbau asusila. Tapi kan ini, bagaimana bisa ia –

Haechan menatap tajam pantulan dirinya di cermin. Mengamati seluruh tubuhnya dan mulai memaksa otaknya untuk bekerja keras mengingat apa yang telah terjadi hingga membuatnya memiliki tanda ini.

"Ayo Haechan ingat dengan benar."

Haechan cukup dibuat frustasi karenanya. Menggigit bibirnya kuat mendapati kemungkinan kebodohan yang telah ia lakukan. Tangannya meraih surai madu halusnya dan mulai menjambaknya pelan.

Ku mohon tidak.

Potongan demi potongan kejadian semalam mulai memasuki otak cemerlang Haechan seiring kesadaran yang semakin memenuhinya. Membombardirnya dengan kenyataan yang sangat tidak ia harapkan.

Tarikan tangan mungil Haechan pada surainya kian mengerat. Matanya berubah nyalang memandang betapa mengenaskan wajah frustasinya saat ini. Sebelum berteriak keras merutuki ingatannya tentang apa yang telah dilakukannya semalam.

"AAAARGH! HAECHAN BODOH APA YANG KAU LAKUKAN! MATI SAJA KAU!"

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark dan Haechan berjalan beriringan menuju resort utama. Haechan tak hentinya menundukkan wajahnya yang terasa panas menahan malu. Sedangkan Mark, pria tampan itu tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

Haechan menggigit bibirnya gugup. Haruskah ia membuka suara? Alih-alih membuka suara, Haechan malah lebih memilih menenggelamkan dirinya di lautan. Demi Tuhan Haechan sangat malu sekarang.

Tak terasa kediaman mereka berdua membuat keduanya telah memasuki resort utama. Mark dan Haechan memasuki ruang jamuan untuk menikmati acara sarapan mereka. Yang tanpa disangka sudah terdapat pasangan pengantin baru Jaehyun dan Taeyong disalah satu meja bundar yang ada. Ia juga dapat melihat Jaemin ikut bergabung dalam meja yang sama dan nampaknya sedang membicarakan sesuatu yang lucu melihat bagaimana mereka bertiga tertawa bersama.

Jaemin tanpa sengaja melayangkan pandangannya ke pintu masuk dan mendapati Haechan berdiri canggung di samping Mark. Jaemin tertawa geli mendapati sahabatnya tampak serasi bersanding bersama Mark. Dan bukankah itu sebuah kemajuan? Karena keduanya sering terlihat datang bersama selama berada di sini.

Tanpa menunggu lagi Jaemin segera melambaikan tangan menyuruh Haechan untuk ikut bergabug bersama mereka. Mark yang juga melihatnya, melirik pada Haechan sekilas. Menyuruh pria manis itu untuk mengikuti apa yang Jaemin suruh tanpa dirinya. Karena Mark lebih memilih menikmati secangkir kopi hitamnya bersama Lucas di pojok ruangan. Haechan mengangguk melihat Mark mulai berjalan meninggalkannya. Syukurlah ia tidak harus menghabiskan sarapan paginya bersama Mark. Setidaknya Haechan dapat sedikit bernapas lega sambil menyiapkan hatinya sebelum memberanikan diri menghadapi pria tampan itu lagi.

Haechan melangkahkan kakinya pelan menuju meja yang berisi Jaehyun Taeyong dan Jaemin. Taeyong menarik kursi kosong disampingnya. Menepuk kursi itu untuk menyuruh Haechan duduk di sana.

"Haechanie, kau baik?" Tanya Taeyong dengan pandangan khawatir segera setelah Haechan duduk di kursinya.

Haechan mengangguk. Menghadiahi Taeyong dengan senyum manisnya. Meyakinkan sang kakak bahwa semuanya baik-baik saja.

Taeyong terlihat menghembuskan napasnya lega. Merilekskan bahu tegangnya sekilas sebelum mengangkat tangan kirinya menuju kepala Haechan.

Pletak

"Argh! Kenapa hyung memukul kepalaku?" Haechan mengaduh. Mengusap kepalanya dengan mata memelas pada Taeyong. Ini masih pagi, dan kakaknya itu melakukan kekerasan padanya sepagi ini?

"Kau itu benar-benar .." Taeyong menahan geramannya. Menghasilkan gemertak giginya yang saling bergesekan.

"Untung appa dan eomma tidak tau. Jika tau, matilah kau."

Oke Haechan rasa pagi ini ia akan mendapat ceramah yang cukup panjang dari sang kakak. Taeyong selalu saja seperti itu. Tidak pernah bisa menahan bibir tipisnya untuk berceloteh panjang lebar. Hal itu semata-mata sebuah bentuk kegelisahannya. Alih-alih karena marah, Taeyong lebih kepada merasa khawatir. Itulah yang membuat Taeyong makin tertarik untuk menyampaikan wacana panjang lebar pada sang adik jika dirasa perlu. Bahkan ia yakin eomma mereka kalah cerewet dari pada Taeyong.

Taeyong bersidekap di tempatnya. Memandang Haechan dengan mata melotot berpura-pura marah –yang demi Tuhan malah terlihat menggemaskan di mata Jaehyun maupun Jaemin. Keduanya menahan tawa geli. Melihat bagaimana Haechan menunduk patuh di tempatnya selagi Taeyong menyelesaikan rentetan kata ajaibnya.

"Begitu kau bilang akan baik-baik saja huh? Baru ku tinggal sebentar tanpa pengawasan saja sudah berakhir dengan mabuk berat. Kau mau ku pukul lebih keras?"

Haechan memberanikan diri mengangkat wajahnya. Meraih lengan Taeyong dan mulai merajuk meminta pengampunan.

"Hyung, yang semalam itu tidak sengaja."

Taeyong menarik lengannya yang dirangkul oleh Haechan. Masih tetap pada keputusannya untuk bersikap tidak mudah pada sang adik.

"Tapi ketidak sengajaanmu adalah mimpi buruk bagiku."

Haechan menangkupkan kedua tangannya di depan wajah dan memandang Taeyong dengan mata yang dibuat lebih memelas lagi. Berharap kali ini dapat meluluhkan sang kakak.

"Aku akan lebih berhati-hati lagi setelah ini. Aku janji."

Hah, bagaimana Taeyong tidak luluh dengan mata berbinar menggemaskan itu? Membuat Taeyong tidak memiliki pilihan lain, hanya menghembuskan napas kesal karenanya. Pada akhirnya Taeyong memang tidak akan pernah bisa marah pada Haechan. Rasa sayangnya pada sang adik jauh lebih besar mengalahkan segalanya.

"Ku harap begitu."

Jaehyun menghampiri Haechan, berdiri di belakang kursinya dan menyodorkan jus jeruk yang baru saja ia ambil dari meja minuman. Jaehyun berinisiatif melakukannya mengingat Taeyong tidak memberi kesempatan pada Haechan bahkan untuk sekedar mengambil minumnya dan malah sibuk dengan ocehan panjangnya. Menggelengkan kepalanya dengan senyum geli, memahami bagaimana kebiasaan sang istri.

Jaehyun meletakkan gelas bening tinggi berisi jus jeruk di depan Haechan melalui uluran tangan panjangnya di balik punggung sang adik Ipar. Jaehyun masih senantiasa berdiri di tempatnya. Dahinya berkerut kala mata tajamnya tidak sengaja menangkap sesuatu aneh di balik kerah kemeja Haechan yang kali ini tertutup rapat. Jaehyun memicingkan pandangannya memastikan apa yang didapatnya. Pandangannya mendadak berubah lebih tajam menyadari apa yang coba Haechan sembunyikan. Membuat kedua pria manis lainnya mengikuti kemana arah pandangan Jaehyun.

Jaemin membolakan matanya tidak percaya. Bercak merah itu memang tengah mengintip samar mengingat kerah kemeja yang dipakai Haechan sedikit bergeser karena gerakannya bersama Taeyong tadi.

Mata runcing Jaemin secara otomatis langsung melihat ke arah Taeyong.

Ini bisa gawat.

Benar sekali Taeyong saat ini tengah mengerutkan dahinya dalam. Mencoba mengenali apa yang disembunyikan sang adik di balik kerah kemejanya yang telah menjadi pusat atensi dari tiga orang lainnya dimeja mereka.

"Tunggu dulu. Haechan kemari, lehermu –"

Haechan hanya menoleh dengan polosnya. Masih belum paham dengan apa yang membuat atensi ketiganya tertuju padanya. Jaemin mulai gusar. Ia harus melakukan sesuatu. Karena demi Tuhan ini tidak akan berakhir baik jika Taeyong mengetahuiya. Bisa-bisa Haechan atau bahkan Mark –perkiraan Jaemin sebagai si pelaku yang menyebabkan ini semua, tidak akan selamat dari Taeyong.

Semua orang tau, Taeyong adalah pihak pertama yang paling gencar mendekatkan Haechan dan Mark. Tapi tentunya Taeyong tidak akan tinggal diam jika hal-hal kelewat batas seperti ini terjadi pada sang adik mengingat betapa posesifnya ia pada Haechan.

Jaemin dengan cepat berdiri dari tempat duduknya. Berlari ke arah bangku Haechan dan menarik legan sahabatnya itu untuk berdiri menjauh dari jaungkauan Taeyong yang sukses mendapat kernyitan dalam dari pria cantik yang telah resmi menjadi istri Jaehyun itu.

"Taeyong hyung, ku rasa aku harus membawa Haechan pergi. Ada urusan mendadak." Ucap Jaemin dengan tergesa. Menyembunyikan Haechan dibalik punggungnya.

Haechan hanya menghadiahi Jaemin dengan tatapan tidak mengerti. Urusan? Seingat Haechan, mereka tidak sedang memiliki urusan apa pun.

Jaemin memandang Haechan dengan senyum memaksanya. Memaksa Haechan untuk mengangguk mengiyakan segala sandiwara yang keluar dari bibirnya. Setelahnya tangannya mulai menarik tangan sahabatnya untuk meninggalkan ruang jamuan tersebut.

"Eh? Tapi sarapan kalian –"

"Kami sarapan di luar." Teriak Jaemin sambil melambaikan tangan di ambang pintu ruangan.

Pandangan Jaehyun menggelap. Ia tentu tidak bodoh untuk mengenali apa yang coba Haechan sembunyikan mengingat ia sering melakukan hal yang serupa pada Taeyong. Tangan besarnya bergerak menuju bahu sempit Taeyong dan menenangkan istrinya itu dari keterkejutannya. Ia harap istrinya belum memahami apa yang terjadi. Karena Jaehyun yakin istrinya akan semakin membuat runyam hal ini. Jaehyun bersikeras menyembunyikan semuanya, memastikan sang istri melupakan apa yang sempat menjadi bahan pertanyaan baginya dan melakukan apa yang menurutnya perlu secara diam-diam.

Kali ini Jaehyun lah yang akan mengurus semuanya.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark memasuki ruang pertemuan resort setelah mendapat pesan dari Jaehyun jika akan di adakan pertemuan mendadak para pemegang saham. Mark mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat sepi, hanya berisi mereka berdua.

"Hyung, kenapa hanya ada kita berdua?"

Jaehyun yang awalnya menikmati pemandangan di luar jendela besar transparan membalikkan tubuhnya menghadap Mark. Menatap tajam pria yang lebih muda itu dengan pandangan mengintimidasi miliknya. Kini Jaehyun telah berubah ke mode serius dengan aura penguasanya.

"Menurutmu kenapa?"

Jaehyun mendekat ke arah meja pertemuan. Menarik kursi utama di ujung meja dan mendudukinya dengan arogan. Jaehyun menumpukan kedua tangannya pada sandaran tangan dan mulai menyangga dagunya dengan tangan kanannya. Senantiasa memandang Mark yang masih berdiri ditempatnya dengan senyum mengerikan yang mulai diperlihatkannya.

"Istriku akan berteriak marah jika tau kalau aku masih saja mengurusi pekerjaan di saat bulan madu kami. Tapi mengatakan bahwa aku menemuimu untuk berbicara sesuatu akan semakin membuat Taeyong bertanya. Dan aku tidak ingin ia tau."

Jaehyun menjeda kalimatnya. Memandang Mark yang masih diam terpaku seperti tengah berusaha memahami sesuatu.

"Aku kemari diam-diam. Ingin bicara berdua denganmu, Mark Lee."

Jaehyun mengedikkan dagunya pada kursi di hadapannya. Menyuruh Mark untuk segera duduk yang tentunya dituruti tanpa penolakan oleh pria tampan itu.

"Kau pasti tau apa yang akan kita bicarakan. Mengingat alasanku memanggilmu karena urusan pekerjaan adalah sebuah kamuflase." Tanya Jaehyun misterius.

Jaehyun yakin Mark cukup pintar untuk menyadari situasi yang terjadi saat ini. Dan melihat bagaimana Mark masih tetap tenang disela aura intimidasi yang ia keluarkan, sedikit banyak membuat Jaehyun tersenyum memuji.

"Haechan?" Tanya Mark dengan nada tenang.

Jaehyun menegakkan tubuhnya. Bersandar dengan santai. Puas akan kecepatan cara kerja Mark memahami situasi yang ada.

"Ku harap kau punya alasan yang bagus."

Mark memandang Jaehyun sedikit lama. Menimbang apakah ada baiknya jika ia menceritakan segalanya? Mark tidak ingin membela diri karena disini memang ia yang salah. Dan memutuskan untuk melemparkan dirinya secara suka rela ke kandang singa menyiapkan diri untuk diterkam ataukah tidak.

"Maafkan aku."

Pandangan Jaehyun mendadak menggelap tidak puas dengan apa yang Mark ucapkan.

"Aku kemari tidak untuk mendengar kata maafmu. Pejelasan Mark. Aku butuh penjelasan."

Mark masih diam ditempatnya. Tidak berniat melanjutkan pembelaannya. Hanya membiarkan Jaehyun menyerangnya dengan nada yang semakin lama semakin bertambah tajam.

"Kau tentu tau kan Haechan merupakan sosok berharga kami. Dan pagi ini aku mendapati sesuatu yang cukup mengejutkan."

Jaehyun tersenyum meremehkan. Sedikit geram mengingat bagaimana pagi tadi ia mendapati sesuatu yang coba disembunyikan dibalik kerah kemeja adik iparnya yang sungguh Jaehyun tidak harapkan sama sekali untuk terjadi. Setelahnya pria yang telah resmi menjadi kakak ipar Haechan itu langsung menjadikan Mark sebagai tersangka. Berakhir di tempat ini, berniat menuntut penjelasan dari pria yang lebih muda dengan sedikit peringatan untuk menegaskan batasan yang ada.

"Hyung, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Mark mulai membuka suara. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian tadi malam. Rasa bersalah kembali menyergapnya tanpa bisa ditahan. Memenuhinya dengan bayangan betapa Haechan akan sangat kecewa padanya setelah ini.

"Aku mungkin memang melakukan sesuatu pada Haechan. Tapi sungguh aku tidak sampai merusaknya. Setidaknya akal sehatku kembali mengambil alih di saat yang tepat. Maafkan aku Jaehyun hyung" Mark mnjelaskan sekenanya dengan nada penuh rasa bersalah miliknya.

Tatapan tajam milik Jaehyun dirasa makin menusuknya. Menguarkan aura dingin yang membuat sekujur tubuh Mark bergidik yang dengan susah payah ditahannya enggan untuk menunjukkannya.

"Kau harus ingat Mark, kami mempercayakan Haechan padamu. Tapi bukan berarti kau dapat melakukan hal sesuka hatimu." Ujar Jaehyun dengan dingin.

"Aku tau kau mencintainya. Tapi tahanlah. Bukankah sampai saat ini pun kau belum bisa menjadikannya kekasihmu? Kau benar-benar lambat."

Jaehyun menyunggingkan smirk menakutkan miliknya. Menyerang Mark dengan kata-kata yang lebih tajam dari sebelumnya.

"Dan kenyataan bahwa seseorang yang nyatanya bukan kekasih dari adik iparku dengan berani menyentuhnya, membuatku sedikit marah dan kecewa. Terlebih itu dirimu Mark. Bukankah itu sebuah kejutan?"

Jaehyun memajukan tubuhnya. Menumpukan kedua tangannya pada meja di depannya dan memastikan Mark mendengar dan memahami setiap kata yang keluar dari bibirnya. Jaehyun tentu sangat mendukung hubungan antara Mark dan Haechan. Tapi kenyataan yang didapatinya adalah sebuah pengecualian. Dan Jaehyun sangat tidak menyukainya.

"Aku mengenalmu dengan baik. Dan aku percaya kau dapat menjaga Haechan dengan baik. Mungkin semalam adalah masa sulit untukmu menahan diri. Tapi kau harus tau bahwa dalam keadaan apa pun itu kau harus bisa mengendalikan dirimu."

Mark mengerti. Semua yang dikatakan oleh Jaehyun adalah karena kakak yang telah lama dikenalnya itu mengkhawatirkan adik iparnya dengan sangat. Mungkin seluruh keluarga yang ikut mendukung hubungan mereka berdua akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Jaehyun lakukan. Tapi pria itu memilih untuk menyembunyikan semuanya dan mengambil alih seorang sendiri. Bahkan dari istrinya. Menggertaknya, memperingati batasan yang telah Mark langgar tadi malam.

Mark mengangguk menanggapi semua yang diutarakan Jaehyun. Ia salah, dan Mark mengakui hal ini. Menelan semua ucapan Jaehyun bulat-bulat. Menamatkannya lamat-lamat. Dan mendoktrin dirinya untuk bersikap lebih jantan lagi setelah ini. Walau situasi akan seberbahaya tadi malam atau mungkin lebih. Mark harus menahannya.

"Aku mengerti hyung. Aku tidak akan kelepasan lagi. Maafkan aku."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Jaemin menarik Haechan dengan tergesa ke deretan gazebo tepi tebing berpembatas. Mendudukkan dengan paksa tubuh sahabatnya itu dengan ia yang berdiri tegas di depannya. Kedua tangannya telah diletakkan dipinggang masing-masing. Menatap Haechan dengan tatapan tajam penuh aura menghakimi.

"Katakan padaku, apa yang terjadi semalam."

Masih dengan napas yang terengah, Haechan menatap Jaemin dengan pandangan tidak mengerti. Mencoba menarik tangan Jaemin untuk ikut duduk tenang yang dibalas penolakan keras oleh sahabatnya itu. Demi Tuhan kedatangan mereka yang sedikit gaduh sudah menjadi tanda tanya bagi beberapa pengunjung yang juga ikut memadati area gazebo untuk menikmati sarapan pagi mereka.

"Jaemin apa yang kau maksud?"

Jaemin menarik tangannya dari usaha Haechan meraihnya. Menjauhkan tubuhnya agar Haechan tidak bisa meraihnya lagi. Masih tetap menatap sahabatnya itu dengan pandangan lebih tajam lagi menunggu penjelasan.

"Chan kau tidak bisa membohongiku. Dan aku bukan orang bodoh yang tidak tau tanda apa dilehermu itu."

Deg

Rupanya karena itu.

Haechan mulai gelisah dalam duduknya. Tangannya reflek memegang perpotongan lehernya. Menyembunyikan apa yang tidak seharusnya diketahui orang lain termasuk Jaemin. Apa terlihat begitu jelas? Seingatnya kemeja berkerah yang ia pakai telah cukup menutupi tanda merah dilehernya.

"I –itu"

Haechan mencoba mencari alasan seperti alergi atau mungkin digigit serangga?

Maksudmu serangga besar macam Mark Lee?

Oh ayolah. Jaemin terlalu pintar dalam urusan seperti ini. Dan akan sangat tidak mungkin mengelabuhinya dengan seribu alasan milik Haechan sekali pun.

Jaemin memutar matanya jengah melihat Haechan yang sepertinya tengah berpikir keras menemukan alasan yang bagus untuk mengelabuhinya. Tidak sabar menunggu lama lagi dan memutuskan untuk menyuarakan rasa penasarannya.

"Kau melakukan sesuatu dengan Mark hyung?"

Haechan meremas celana pendek sebatas paha bawahnya. Bibirnya ia gigit kuat-kuat. Matanya melihat ke segala arah mencari ketenangan. Menjawab apa yang sempat dituduhkan oleh Jaemin barusan. Tapi sayangnya setiap kata yang ia keluarkan terdengar gagap. Jelas sekali menandakan kalau dirinya tengah gugup bukan main saat ini.

"Itu memang se –sesuatu. Ta –tapi itu tidak seperti yang kau bayangkan."

Jaemin menghembuskan napasnya keras-keras. Menatap tidak percaya dengan apa yang barusan Haechan coba jelaskan.

"Bagaimana tidak seperti yang ku bayangkan? Melihatnya saja membuat otakku berkelana membayangkan malam panas yang kalian lalui bersama tadi malam." Gertak Jaemin dengan nada kelewat keras. Tak ayal membuat semua pasang mata yang berada di sana mengalihkan atensi mereka ke arah Haechan dan Jaemin.

Jaemin sungguh salah menegajaknya bicara di tempat ini.

Haechan segera berdiri dari duduknya. Kedua tangan mungilnya bekerja membekap bibir tipis Jaemin rapat-rapat.

"Na Jaemin mulutmu! Ya Tuhan! Apa aku terlihat semurah itu dimatamu?"

Haechan mengedarkan pandangannya ke arah seluruh pengunjung dengan senyum canggung menyiratkan permohonan maaf atas keributan kecil yang mereka berdua sebabkan. Menarik Jaemin untuk duduk tenang dan mulai membuka dekapan tangannya setelah dirasa sahabatnya itu sudah mulai tenang.

"Ya untuk saat ini." Ujar Jaemin sambil mendekap kedua tangannya di depan dada dan menampakkan senyum menggodanya.

"Tapi aku berharap sungguhan terjadi sesuatu."

Demi Tuhan Haechan ingin sekali mendorong Jaemin dari atas tebing ini saking kesalnya dengan mulut berbisanya. Untung saja Jaemin merupakan sahabat kesayangan satu-satunya bagi Haechan. Jika tidak, maka Haechan akan sangat serius dengan ucapannya barusan.

Haechan menghadiahi Jaemin dengan tatapan tajamnya. "Aku tidak seperti dirimu yang suka membuat Jeno hyung melakukan hal-hal tidak senonoh padamu."

Jaemin mengibaskan tangannya. Pembicaraan mereka mulai melebar. Dan Jaemin tidak akan membiarkan Haechan mengalihkan pembicaraan kali ini. Ada hal yang lebih penting yang harus sahabatnya itu jelaskan bukan?

"Jangan mengalihkan pembicaraan Haechan. Aku bertanya padamu. Dan kau harus menceritakannya secara detail."

Jaemin makin merapatkan duduknya pada Haechan. Membuat Haechan makin merasa terpojok karenanya. Haechan mengangkat tangannya untuk menghadang tubuh Jaemin dan memberi jarak antara mereka berdua.

Siapa yang tidak gugup kalau ditanya seperti itu? Dasar Jaemin tukang paksa.

"Oke oke. Tapi singkirkan dulu semua pikiran bejatmu."

Masih bersikeras dengan rasa penasarannya, nada Jaemin masih sama terdengar tidak sabaran. Kembali mendesak Haechan untuk memulai penjelasannya.

"Aku tidak bisa. Tapi aku akan mencoba tidak menyuarakannya. Bagaimana?"

Jaemin diam di tempatnya. Memandang tepat ke manik Haechan dengan mata berbinar.

"Jadi?"

Hah

Haechan menghela napas lelah. Pada akhirnya Haechan memang tidak akan pernah bisa menang saja seperti itu.

Haechan memandang Jaemin dengan pandangan malasnya. Memulai acara menjelaskan berita besar antara ia dan Mark semalam –menurut Jaemin.

"Semalam aku mabuk."

Jaemin melebarkan matanya. Berdiri dari duduknya dengan segera. Dan berteriak kesetanan pada Haechan.

"APA? LEE HAECHAN KAU SUDAH BOSAN HID –mmpph!"

Entah sudah ke berapa kali Haechan harus membekap mulut besar Jaemin. Menarik lengan sahabatnya itu dengan keras untuk kembali duduk tenang dan memberi peringatan keras atas sikap sahabatnya yang berlebihan itu sedari tadi.

"Kecilkan suaramu bodoh! Kita mejadi pusat perhatian."

Jaemin mengabaikan peringatan Haechan dan malah menghadiahi sahabat manisnya dengan senyum bangga miliknya.

"Whoaa seorang pria baik-baik terlalu lurus macam Lee Haechan ternyata bisa seperti itu juga. Aku sungguh terkesan."

Haechan menatap Jaemin nyalang. Memicingkan matanya tak suka karena sahabatnya itu seakan menutup telinga dan hanya terfokus pada hal-hal tidak senonoh.

"Itu tidak segaja, Jaemin. Aku haus dan meneguk sembarang cairan yang berada di dalam gelas tanpa tau isinya."

"Jadi kau mabuk?" Tanya Jaemin meyakinkan.

Haechan menganggukkan kepalanya sekilas. "Aku mabuk."

Mata Jaemin kian melebar penasaran. Tubuhnya telah dicondongkan ke arah Haechan untuk menuntut penjelasan lebih lanjut. "Lalu?"

Haechan terdiam sejenak. Pikirannya mulai melayang ke kejadian tadi malam. Mengingat dengan betul setiap kejadian yang mampu diingatnya disela ketidak sadarannya.

"Lalu Mark hyung yang mengantarku ke kamar."

Sikap Jaemin makin berubah antusias mendengar kata 'kamar' keluar dari bibir Haechan.

Whoa sepertinya ceritanya akan menarik.

"Oke kamar."

Haechan memandang Jaemin, memberikan sahabatnya itu peringatan untuk tidak membayangkan hal yang lebih jauh lagi. Karena Haechan sangat yakin kalau saat ini bayangan Jaemin pastilah sedang berkelana ke hal kotor yang tidak-tidak.

"Jaem ku tegaskan sekali lagi padamu, kalau aku tadi malam sedang mabuk. Kau dengar?"

Jaemin mengedikkan bahunya sekilas. Melipat kedua tangannya di depan dada dan menghadiahi Haechan dengan senyum menggoda dan alis yang dinaik-naikkan.

"Aku dengar. Tapi itu tidak mengurangi poin pentingnya."

Haechan menghembuskan napas lelah untuk yang kesekian kalinya. Pandangannya nyalang dan mulai menerawang pada kejadian tadi malam. Mengerutkan dahinya mencoba mengingat sedetail mungkin dan menyampaikan sebaik yang ia bisa pada Jaemin agar sahabatnya itu tidak semakin berpikir yang tidak-tidak.

"Aku tidak begitu mengingat dengan jelas apa saja yang ku katakan. Tapi aku ingat bagaimana aku dan Mark hyung berakhir di ranjang."

Mata Jaemin membulat. Tanpa sengaja mengulang kata yang menggelitik ditelinganya dengan keras-keras.

"RANJANG?"

Oke bagaimana Jaemin tidak histeris jika Haechan membawa-bawa ranjang dalam ceritanya. Coba sebutkan siapa yang tidak akan berpikir macam-macam jika berada diposisi Jaemin saat ini.

"Astaga Na Jaemin! Aku ingin sekali menyumpal mulut besarmu itu."

Wajah Haechan memerah sempurna menahan malu. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang ternyata benar telah kembali mengundang perhatian dari semua pengunjung yang berada di sana. Semua orang menghadiahi keduanya dengan tatapan tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Bahkan ada yang sampai menutup mulutnya yang menganga. Pasti mereka telah berpikir yang tidak-tidak mendengar kata 'ranjang' yang sempat diteriakkan Jaemin keras-keras. Haechan tak hentinya merutuki mulut Jaemin yang tidak bisa di jaga sama sekali.

Jaemin yang mengerti bahwa iya sudah kelewatan kali ini, menghadiahi orang-orang yang dilihatnya dengan cengiran minta maaf. Memusatkan atensinya kembali pada Haechan dan mulai bertanya lagi. Kali ini dengan suara yang cukup pelan. Sadar diri rupanya.

"Apa kau bilang? Ranjang?"

Haechan mengangguk gugup. Dan wajahnya mulai bersemu merah, malu. Mengingat bagaimana bodohnya ia yang berbuat sesuatu sesukanya di luar nalar.

"Sepertinya akohol banyak mempengaruhiku. Aku bertindak diluar nalar. Menarik Mark hyung untuk melakukan hal lebih. Dan –dan berakhir dengan kami yang saling bercumbu."

"Kalian bercinta?"

Haechan membulatkan matanya kaget. Apa-apaan itu tadi? Yang benar saja. Bercinta heh? Membayangkannya saja tidak pernah apa lagi melakukannya. Terlebih bersama Ma –mark hyung. Oke kali ini pikiran liarnya sungguh sukses membuat wajahnya sendiri memanas.

"Tidak tidak, tentu saja tidak!"

Haechan menatap Jaemin dengan memelas sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

"Mark hyung menyudahinya. Dan setelahnya aku tidak ingat lagi. ku rasa aku sudah jatuh terlelap."

Jaemin menjauhkan badannya menatap Haechan dengan tatapan tidak percaya. Stelahnya bertepuk tangan bangga dan tersenyum menggoda.

"Whoaa, Mark hyung benar-benar menahan dirinya dengan baik." Jaemin terkikik geli membayangkan apa yang terjadi semalam.

Bukankah ini bertambah menarik? Siapa sangka Mark dan Haechan akan dihadapkan pada situasi seperti itu.

Jaemin menepuk pundak Haechan antusias dan berkata dengan nada bangganya.

"Bagus Haechanie. Kau sudah melakukan hal yang benar."

Haechan berdecih. Menyingkirkan tangan Jaemin dari bahunya dan menatap tajam sahabtanya itu.

"Benar kepalamu."

Jaemin selalu saja seperti itu.

Ddrrtt ddrrt

Getar singkat terasa dari saku celana pendeknya. Membuyarkan seluruh rasa kesal Haechan terhadap Jaemin.

Haechan meraih ponselnya untuk melihat si pengirim pesan.

Temui aku di depan lobi siang nanti. Kita perlu bicara. –Mark

Pesan dari Mark. Pria yang menjadi bahan perbincangan panas mereka.

Demi Tuhan Haechan belum siap untuk ini. Haechan tidak tau harus meletakkan wajahnya di mana. Ini benar-benar memalukan. Membayangkan yang terjadi saja sukses membuat wajah Haechan kelewat merah tak biasa.

"Kenapa?" tanya Jaemin yang melihat sahabatnya terdiam pasca melihat isi pesan pada ponselnya.

"Mark hyung." Jawab Haechan asal. Masih dengan pandangan tertuju pada ponsel dan berpikir keras harus membalas apa.

Jaemin menengokkan kepalanya ikut melihat ke arah ponsel Haechan.

"Dari Mark hyung? Ada apa?"

Haechan menyodorkan ponselnya ke arah Jaemin. Agar sahabatnya dapat melihat sendiri isi pesan dari Mark. "Meminta bertemu. Ada yang ingin dibicarakan." Ujar Haechan membeo.

Mata Jaemin seketika berubah berbinar memandang Haechan dengan penuh harap.

"Whoaa ini kabar besar Chan! Mungkin saja Mark hyung akan menyatakan perasaannya padamu!"

Tidak mau dibumbung lebih tinggi lagi, Haechan menanggapi perkataan Jaemin dengan lesu.

"Jaem jangan terlalu berhayal."

Dibalas dengan gelengan keras dari Jaemin mencoba memberi keyakinan bagi sahabatnya itu. Haechan memang kadang-kadang butuh dorongan keras untuk urusan seperti ini. Entah kenapa sahabatnya itu akan cenderung kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Dan Jaemin sangat tidak suka akan hal itu. Bagaimana pun juga, Haechan itu menarik dilihat dari segi mana pun. Dan ia sangat yakin 100% bahwa Mark pastilah sama tertariknya dengan Haechan. Hanya saja keduanya sama-sama bodoh untuk mengakuinya.

"Aku tidak. Bersugestilah yang baik maka hal-hal baik itu akan menghampirimu."

Haechan melirik Jaemin dengan ekor matanya. Menghembuaskan napas lesu dan tidak bersemangatnya.

"Entahlah Jaem. Aku masih malu sekarang. Bisakah aku tidak menemuinya dulu?" Tanya Haechan mencoba mencari dukungan untuk melarikan diri. Haechan hanya merasa belum siap menghadapi pria tampan itu. Setidaknya ia butuh waktu untuk bersembunyi sedikit lebih lama.

Jaemin berdecih kesal. Tangannya terangkat dan menyentil pelan dahi Haechan.

"Bodoh. Untuk apa kau mengulur waktu. Memang ada bedanya sekarang atau besok? Aku mengenalmu dengan baik Haechanie, dan aku bersumpah itu tidak akan ada bedanya."

Haechan menghela napas berat. Ia tidak pernah meragukan ucapan Jaemin. Karena ia yakin Jaemin akan lebih memahaminya dari pada Haechan sendiri. Menatap nyalang laut dangkal di bawah sana dan mulai memikirkan apa yang harus ia perbuat setelahnya.

"Kau benar."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Di sinilah Haechan. Berakhir di depan lobi resort utama tempat yang dijanjikan oleh Mark. Menunggu sosok itu yang sampai sekarang belum muncul juga. Tapi hal itu dirasa wajar karena Haechan memilih datang lebih awal.

Haechan menundukkan wajahnya. Memainkan jarinya random mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Mark sebentar lagi. Bagaimana pun juga Haechan masih merasa malu bukan main tentang kejadian tadi malam. Dan nampaknya tujuan Mark memintanya bertemu adalah untuk membicarakan hal itu.

Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Membuat Haechan menolehkan kepalanya melihat siapa gerangan si pelaku. Dan manik jernihnya menemukan Yuta berdiri di sana, dengan senyum menyenangkan seperti biasa.

"Yuta hyung?" Sapa Haechan yang juga sama tersenyum.

Nampaknya rasa canggungnya pada Yuta sedikit tergerus digantikan oleh rasa gelisahnya pada Mark. Dan alih-alih melarikan diri dari Yuta, saat ini Haechan akan dengan sangat senang hati memilih untuk melarikan diri dari Mark.

Yang tadi malam itu benar-benar sukses menjungkir balikkan seorang Lee Haechan.

"Kebetulan. Aku baru saja bertanya kamarmu pada resepsionis. Syukurlah kita bertemu di sini." Ujar Yuta dengan antusias.

Haechan mengernyitkan dahinya samar.

Kamarku? Untuk apa?

Melihat bagaimana Haechan tampak berpikir, Yuta memberikan senyum manis terbaiknya. Meraih tangan mungil itu dalam genggamannya yang sukses membuat Haechan kaget bukan main. Wajah Haechan merona samar. Terlepas tak ada sama sekali perasaannya untuk Yuta lebih dari seorang sosok kakak yang dikaguminya. Haechan mungkin memang tau kalau seniornya itu menaruh hati padanya tapi mendapati Yuta memberanikan diri menggenggam tangannya sedikit membuat diri Haechan gugup bukan main.

"Ayo ikut aku jalan-jalan."

Masih dengan keterkejutannya, Haechan mencoba menolak ajakan Yuta mengingat ia berdiri di sini adalah untuk menunggu sosok pria lain. Dan mendapati Yuta yang datang lebih dulu menghampirinya bukannya Mark, membuat Haechan bingung harus melakukan apa.

"Tapi yuta hyung –"

"Kenapa? Kau tidak mau menghabiskan waktu bersamaku?" Potong Yuta dengan nada sedikit memelasnya.

Haechan memang tipikal orang terlalu baik. Dan melihat bagaimana seseorang kecewa atau sedih karenanya membuatnya merasa tidak enak hati. Haechan akan selalu dengan senang hati melemparkan diri mengorbankan segala kepentingannya jika dirasa itu perlu. Dan situasi saat ini nampaknya membuat Haechan merasakan seperti berada di ujung tebing. Disatu sisi ia sudah membuat janji dengan Mark meskipun hatinya berteriak untuk melarikan diri saja, dan di sisi lain Yuta datang menawarkan tempat pelarian yang menggiurkan. Tapi Haechan tetap pada keputusannya memilih Mark dan tidak bersikap terlalu memberi harapan pada Yuta. Haechan mulai membuka suara mencoba menyampaikan alasannya untuk menolak ajakan Yuta.

"Bukan begitu, hanya saja .."

Yuta bukannya tidak tau jika pria manis di hadapannya sedang mencari alasan untuk menolak. Tapi ia tetap bersikukuh dengan keegoisannya dan tidak memberikan Haechan meskipun berupa sela kecil untuk sekedar menyelesaikan kata-katanya.

"Ayolah Haechan. Ku dengar ada festival di dekat sini. Akan ada banyak hal menarik."

"Tapi aku –"

Yuta kembali menutup mata dan telinganya. Tersenyum lebar dan menarik genggamannya pada tangan Haechan. Menarik pria manis yang dicintainya sejak lama itu untuk berjalan mengikuti langkah kakinya tanpa menunggu persetujuan dari Haechan.

"Ayo."

Yuta tau ini salah. Terlalu memaksakan kehendaknya. Dan Yuta juga tau Haechan mengikutinya bukan karena ia setuju tapi karena ia merasa tidak enak untuk menolak dan sudah kepalang tanggung untuk memutusnya di sini. Membuat Yuta melebarkan senyumnya. Mencoba menutup mata dengan jarak tak kasat mata yang mulai Haechan bangun. Berusaha keras mengikisnya dan hanya memonopoli Haechan sebanyak yang ia bisa.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Lucas berjalan keluar dari resort utama dengan clutch kesayangannya. Undangan Jaehyun adalah jelmaan paket liburan bagi Lucas. Menikmati waktunya dengan benar sebelum kembali ke Seocho dengan segudang kesibukannya. Ia bisa cepat tua jika hanya mengurusi urusan kantor bukan?

Langkah kaki Lucas berhenti tepat di depan pintu lobi. Mendapati sosok sahabatnya tengah berdiri di depan lobi seperti menunggu seseorang.

Lucas segera menghampiri Mark dan menepuk bahu kokoh itu agar menyadari keberadaannya.

"Mark apa yang kau lakukan di sini?"

Mark sempat antusias membalikkan tubuhnya berharap sosok yang di tunggunya lah yang akan muncul. Tapi ternyata malah Lucas. Membuat wajah Mark seketika berubah masam.

"Menunggu Haechan." Jawab Mark malas.

Lucas mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Mark barusan.

"Haechan tadi bukannya pergi bersama Yuta?" Tanya Lucas tidak yakin sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Mark mengerutkan dahinya tidak suka mendengar pertanyaan yang terdengar bagai sebuah pernyataan dari sahabatnya itu. mencoba bertanya meyakinkan, berharap dengan begitu ia akan mendengar kabar yang lebih baik dari itu.

"Yuta?"

Lucas memicingkan matanya sekilas mengingat dengan betul yang sempat dilihatnya dari balkon lantai dua tempatnya menghabiskan waktu bersama beberapa wanita cantik tadi.

Lucas mengangguk mantap. Dan memberikan jawaban yang sangat tidak diharapkan oleh Mark.

"Iya aku melihatnya."

Rahang Mark mengeras.

Kenapa harus pria Jepang itu lagi?

Instingnya memang tidak pernah salah. Wajar jika Mark merasa terancam setiap kali Yuta berada di tempat yang sama dengannya dan Haechan. Terbukti, pria itu akan selalu mengganggunya, mengusiknya, dan bermain api diperbatasan kepemilikannya.

Lucas yang melihat rahang Mark mengeras sedikit banyak merasa bersalah. Lucas tentu sangat paham situasi antara keduanya. Dan apa yang baru saja ia katakan nampaknya sukses membuat Mark geram. Membuatnya bergidik ngeri karena kesalahan yang tak sengaja ia lakukan. Merutuki mulutnya yang berkata seenaknya tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Lucas berdehem sejenak. Memutar otaknya untuk meredam amarah Mark yang sudah terlanjur mulai naik ke permukaan. Ini akan sangat buruk jika dibiarkan. Membuatnya dengan segala pemaksaan yang diberanikan, menarik lengan sahabatnya untuk dibawa ke tempat yang memang tengah ia tuju.

"Sudah. Ayo ikut aku saja. Kita bersenang-senang."

Ya semoga saja dengan ini Mark akan sedikit mendingin, melupakan segala amarahnya yang makin membumbung tinggi mencapai ubun-ubun.

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Mark memutar malas bola matanya. Menemani Lucas berkeliling memang sangat melelahkan. Sahabatnya itu memang tipikal orang yang tidak bisa diam. Matanya akan langsung berbinar jika melihat sesuatu yang menurutnya menarik. Begitu pula dengan urusan percintaan. Membuatnya terkesan bermain-main dan membuat semua pria maupun wanita yang terjebak ke dalam pesonanya menghela napas kecewa karena hanya dijadikan tempat persinggahan sementara.

Itu merupakan harga yang setimpal karena dengan berani melemparkan diri ke dalam pesona seorang Lucas.

Mark berdiri di depan stan yang menjual sumpit dengan ukiran-ukiran rumit yang terlihat mahal. Menunggu Lucas yang kini telah sibuk melihat satu persatu untuk memilih sepasang yang akan dibelinya. Lucas penggila barang-barang bernilai estetika. Ia akan dengan suka rela menghamburkan uang hasil kerja kerasnya demi mendapatkan barang tersebut berapapun harganya. Membuat Mark sempat berpikir mungkin saja otak Lucas sudah berpindah ke tempurung lututnya. Menurut Mark kerasionalan sahabatnya itu memang mendekati nol. Proved.

Mark berulang kali melirik pada jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Merasa waktu berharganya sangat terbuang sia-sia hanya karena ajakan Lucas. Harusnya Mark tau bahwa bersenang-senang menurut Lucas adalah membuang waktu untuknya. Di tengah kebosanan yang melanda, manik tajam Mark tidak sengaja melihat ke arah jembatan kayu yang menghubungkan tempatnya berdiri dengan stan-stan festival lainnya di seberang sungai kecil. Mata tajamnya memicing, memastikan dua orang yang tertangkap retinanya. Menemukan sosok pria manis yang ditunggunya beberapa saat lalu bersama dengan si pria Jepang –rivalnya. Bukankah ini mengejutkan?

Rahang Mark kembali mengeras setelah amarahnya sedikit reda beberapa saat lalu. Langkah kakinya secara otomatis menghampiri ke arah mereka berdua. Memutuskan untuk menyapa dan menyampaikan kelancangan pria Jepang itu yang telah menyeret pria manisnya.

Yuta nampak tengah menggoda Haechan, tersenyum dengan bahagianya. Sedangkan Haechan menikmati gula kapasnya dengan wajah yang sedikit bersemu merah karena digoda.

Jiwa kepemilikan Mark yang posesif menggeram marah.

Haechan tidak boleh merona karena pria lain. Terlebih lagi itu karena Yuta.

Mark berhenti tepat di balik punggung keduanya. Mengeluarkan suara bagai geraman singa jantan buas yang teritorialnya telah diusik oleh pejantan lain.

"Disini kau rupanya."

Merasa mengenali suara yang menjadi candunya beberapa bulan terakhir. Membuat Haechan langsung membalikkan tubuhnya dan diikuti oleh pria Jepang di sampingnya.

"Mark hyung."

Mark berdiri angkuh di tempatnya. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Mengabaikan panggilan Haechan yang nampak gelisah mendapati kehadirannya di sini dan hanya memandang tajam ke arah Yuta.

Yuta yang menyadari bahwa dirinya telah mulai memancing amarah seorang Mark Lee, mendengus geli. Balik menatap Mark dengan tatapan sama tajamnya.

Haechan melihat keduanya secara bergantian. Memandang penuh antisipasi melihat aura keduanya yang mendadak menjadi menggelap. Tubuh Haechan meremang, makin gelisah di tempatnya. Memaksa dirinya untuk memikirkan cara membuat keduanya paling tidak berhenti mencoba saling membunuh lawannya dengan tatapan masing-masing.

Haechan mulai membuka suara bermaksud menjelaskan kenapa dirinya tidak datang pada janjinya bersama Mark dan malah berakhir di sini bersama Yuta. Siapa sangka Mark akan ada di tempat yang sama? Bukankah takdir benar-benar sedang mencoba mempermainkan dirinya? Haechan tidak pernah menginginkan berada diposisi serumit ini. Tapi semuanya memang terjadi dengan tidak terduga. Dan berakhir dengan Haechan yang tidak tau harus berbuat apa untuk tidak menyakiti salah satunya.

"Mark hyung maafkan aku, aku tidak bermaksud –"

"Nakamoto."

Ucapan Haechan dipotong oleh Mark. Lelaki tampan itu nampak mengabaikan keberadaannya, hanya terfokus pada Yuta. Membuat Haechan tertohok mengira pasti Mark sangat kecewa saat ini padanya. Dan mengabaikan Haechan adalah salah satu yang dipilihnya untuk menahan betapa geramnya ia.

Yuta tersenyum mengejek. Balik menyapa Mark dengan pandangan tajam yang tak mau kalah.

"Hai Mark Lee, kita bertemu lagi."

Yuta melirik sekilas ke arah Haechan yang berdiri di samping kirinya. Tatapan pria manisnya kini telah sepenuhnya tertuju pada Mark. Membuatnya tersenyum kecut mendapati kenyataan bahwa ia telah kalah telak dari pria bermarga Lee itu.

Yuta mengerti sekarang, kemana hati Haechan berlabuh. Tapi bolehkah Yuta bersikeras menggantung harapannya di atas sana?

Yuta kembali membutakan dirinya. Memfokuskan kembali atensinya pada rivalnya yang senantiasa mengeluarkan aura membunuh yang pekat. Mencoba sedikit bermain sebelum pria manis yang dicintainya direnggut darinya sepenuhnya.

"Kau ada perlu dengan Haechan? Sayangnya Haechan sedang menghabiskan waktu bersamaku. Jadi urungkan niatmu."

Lengan kiri Yuta dengan berani meraih pinggang Haechan. Menariknya mendekat ke arah tubuh bidangnya. Haechan mendelikkan matanya kaget. Memandang Yuta dengan tatapan tidak percaya dan kegugupan yang semakin kentara. Tapi sialnya tubuh Haechan tidak dapat melakukan penolakan apa pun. Hanya mematung diam menerima seluruh perlakuan pria jepang itu. Menimbulkan geraman menakutkan keluar dari bibir tipis Mark.

Tangan itu. Tangan lancang itu. Berani-beraninya –

Mark merasa ia sedang ada diambang batas toleransinya. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Jika saja pandangan dapat membunuh, maka dapat dipastikan Yuta sudah tergolek tidak bernyawa saat ini.

Yuta menyunggingkan senyum kemenangannya. Nyatanya Haechan yang hanya diam saja masih berusaha mengatasi keterkejutannya hingga tak mampu memberikan perlawanan pada apa yang Yuta lakukan, membuat dirinya dibumbung tinggi merasa menang telak dari seorang Mark Lee. Ya setidaknya untuk saat ini.

"Begitukah?" Mark membuka suara dengan nada rendah menyeramkan. Melirik ke arah lengan Yuta yang dengan posesif mengukung tubuh mungil prianya. Beralih ke arah mata Yuta yang seakan beneriakkan kemenangannya dan menyuruhnya untuk segera enyah dari sini.

Haechan tersadar dari keterpakuannya. Tangan mungilnya bergerak meraih lengan Yuta dan melepaskan kukungan itu dengan sopan. Manik jernihnya kembali terpusat pada Mark. Mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang nampaknya semakin memburuk diantara mereka.

"Mark hyung aku –"

Mark menyerah. Seluruh tubuhnya merasa panas tidak dapat menahan lebih lama lagi. Dan melihat Haechan membuatnya semakin terluka mengenaskan nyaris tak tertolong. Memutuskan untuk menyerang pria manisnya dengan kalimat tajam yang menyiratkan betapa terlukanya ia saat ini.

"Tampaknya kau menikmati waktumu."

Haechan memandang Mark dengan sendu. Mata jernihnya telah berubah berkaca-kaca. Menahan lelehan cairan hangat yang sebentar lagi mungkin saja akan terjatuh. Mendapati Mark menatapnya dengan tatapan terluka nampaknya juga melukai hati Haechan. Haechan tidak suka dengan hal itu.

Tidak jangan katakan itu.

"Kalau begitu aku permisi."

Ku mohon hentikan.

Mark membalikkan badannya. Berjalan menjauh dari tempat Haechan dan Yuta berdiri. Punggungnya terlihat kokoh dan arogan. Tapi Haechan tau ada luka di sana.

Haechan meloloskan air matanya mendapati Mark yang menyerah begitu saja. Meninggalkannya dengan segudang rasa bersalah dan membiarkan kesalah pahaman antara mereka begitu saja.

"Tidak, Mark hyung tunggu –"

Kaki kecil Haechan nyaris berlari mengejar pria tampannya. Tapi kemudian genggaman Yuta pada tangannya menghalau semuanya.

"Haechan ayo kita lanjutkan."

Haechan menatap Yuta dengan pandangan memelasnya. Memastikan Yuta melihat bagaimana ia terluka saat ini.

"Tapi Yuta hyung, aku harus –"

Yuta meraih kedua pipi Haechan. Menghapus lelehan air mata itu dari pipi gembil pria manisnya. Hatinya tercebik sakit melihat bagaimana Haechan menangisi pria lain di depan matanya. Menunjukkan bahwa hatinya telah dimiliki oleh pria lain. Dan yang paling membuat Yuta meregang kesakitan lagi adalah karena keegoisannya lah yang membuat Haechan menangis.

Yuta mengalihkan tatapannya menghindari manik Haechan. Mengubur dalam-dalam rasa bersalah dan sakitnya. Menggenggam erat tangan Haechan berharap pria manis itu tau bahwa ia juga sama tersakitinya di sini. Menarik tangan mungil itu pelan ke arah sebaliknya dari arah perginya Mark.

"Ayo aku ingin kesana."

.

.


TURN BACK POINT


.

.

Haechan yang gelisah tanpa sadar menggigit kuku ibu jarinya. Berjalan mondar-mandir di depan pintu lobi resort utama sambil melihat setiap orang yang melewatinya. Mewanti-wanti kalau saja salah satu dari mereka adalah sosok yang sedang dicarinya –Mark.

Sepulang dari acara berkeliling di festival berkat paksaan dari Yuta, dan mengingat bagaimana Mark menemukan mereka berdua dengan rahang mengeras tidak suka, sedikit banyak mengganggu pikiran Haechan hingga saat ini. Terlebih Mark meninggalkannya begitu saja dengan tatapan terluka.

Haechan takut. Takut Mark marah. Takut Mark kecewa. Takut Mark terluka.

Bagaimana pun juga Mark yang lebih dulu membuat janji dengannya. Dan dengan bodohnya Haechan menuruti ajakan Yuta untuk pergi dengannya. Salahkan pria Jepang itu yang terlalu memaksa. Membuat Haechan yang memang tipikal orang terlalu baik, tidak dapat menolak ajakan tersebut. Dan malah berakhir dengan dirinya menyesal setengah mati memikirkan reaksi Mark setelahnya.

Apalagi dengan kejadian tadi di mana Yuta yang dengan lancang memperlihatkan sikap posesifnya dengan mengukung pinggangnya tepat di depan mata Mark yang bodohnya lagi Haechan tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Membuat kesalah pahaman antara mereka berdua semakin memburuk. Meninggalkan luka dihatinya maupun pria yang dicintainya.

Haechan bodoh.

Haechan tak henti merutuki dirinya sendiri. Mengumpat dalam hati dengan segala macam umpatan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

Ia memutuskan menunggu Mark di tempat yang sempat dijanjikan oleh pria tampan tersebut. Mengingat ponsel Mark tidak dapat dihubungi sejak sore tadi. Puluhan panggilannya tidak diangkat. Begitu pula dengan pesan-pesan panjangnya yang menanyakan keberadaan pria tampan itu yang sepertinya diabaikan oleh si pemilik.

Apakah Mark sangat marah hingga tidak mau bahkan untuk sekedar mengangkat panggilannya atau membalas pesannya? Hal itu tak ayal membuat hati Haechan makin merana, menahan sakit akibat kebodohannya sendiri.

Hari semakin petang. Jam di pergelangan tangan Haechan telah menunjukkan pukul delapan malam. tapi pria yang sejak sore tadi di carinya tidak juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan kaki Haechan sudah tidak kuat menunggu sambil berdiri menopang tubuhnya lebih lama lagi. Empat jam sudah ia berdiri tanpa kepastian seperti orang bodoh di sini.

Beberapa staff yang mengenalinya sebagai adik ipar Jaehyun menanyakan apa yang sedang dilakukannya di sini. Menawarkan untuk menunggu di dalam karena udara akan terasa semakin dingin di malam hari. Tapi Haechan tetap dengan keputusannya menunggu Mark di tempatnya berdiri. Mengabaikan tubuhnya yang mulai terduduk lelah di deretan anak tangga landai dan mendekap tubuh ringkihnya seorang diri. Mencoba menghalau udara dingin menusuk kulitnya yang terasa sangat percuma. Pakaian Haechan masih sama dengan tadi pagi. Masih dengan kemeja lengan pendek dan celana sepahanya. Tak ayal membuatnya meringkuk semakin kedinginan.

Mata Haechan mulai sendu. Sepertinya seluruh keberuntungannya menjauh darinya hari ini. Demi Tuhan Haechan hanya berharap menemukan Mark secepatnya. Menjelaskan semuanya yang mungkin saja menjadi kesalah pahaman yang semakin memburuk untuk pria tampan itu.

"Mark hyung." Ujar Haechan lirih lebih kepada dirinya sendiri.

Beberapa menit setelahnya masih ia lalui dalam penantian tak berujungnya. Hidungnya sudah mulai memerah. Tubuhnya menggigil pelan. Terlihat sekali Haechan tengah kedinginan saat ini. Tapi ia enggan beranjak dari tempatnya bahkan untuk sekedar masuk ke dalam resort dan menghangatkan tubuhnya barang sebentar. Pikiran yang senantiasa berputar-putar mengganggunya, bagaimana jika Mark hyung tiba-tiba datang dan aku tidak ada di sini? Membuatnya menahan diri diambang ketidak tahanannya demi seorang Mark Lee.

Mata Haechan berubah sayu. Nampaknya kantuk mulai menyergapnya. Matanya kian memberat. Haechan memutuskan untuk menutup matanya sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Bahkan jauh lebih lelah. Ia butuh Mark untuk mengobatinya. Meskipun hanya dengan melihat sosok itu saja akan sangat lebih dari cukup untuk Haechan saat ini.

Sebuah coat tersampir di bahu sempit Haechan. Menghalau udara dingin yang semakin menusuk kulitnya. Merasakan kenyamanan yang secara tiba-tiba menyergapnya, membuat Haechan kembali terjaga. Mengangkat kepalanya dari lipatan tangan yang ia tumpukan pada lutut dan mulai mendongakkan kepala menghadap sosok pria yang tengah berjongkok di dasar tangga lebih rendah darinya.

"Sedang apa kau sendirian disini?"

Haechan membulatkan matanya dengan mata yang kembali berkaca-kaca siap meneteskan air mata entah untuk yang keberapa kali hari ini.

Akhirnya sosok yang ia tunggu muncul juga. Haechan reflek berdiri dari duduknya di ikuti dengan Mark yang melakukan hal yang sama. Mulai membombardir Mark dengan pertanyaan yang sangat menyiratkan betapa penantiannya terasa begitu lama bagi Haechan.

"Mark hyung! Kau kemana saja? Aku mencarimu."

Mark hanya tersenyum memandang Haechan yang nampak tidak sabaran. Mata bening kesukaannya sedikit memerah. Terlihat cairan yang tadi sempat menggenang di pelupuk matanya telah sukses turun membasahi pipi gembil kesukaanya. Membuat Mark merasa bersalah karenanya.

Mark mengangkat tangannya menagkup kedua pipi Haechan yang terasa dingin. Tangannya bergerak menghapus lelehan air mata yang sempat turun tanpa bisa ditahan. Mark merutuki dirinya yang dengan tega mengabaikan seluruh panggilan serta pesan dari pria manis dihadapannya ini. Ia tidak sampai berpikir bahwa sikapnya akan membuat Haechan seterluka ini. Berakhir dengan ia yang menyiksa dirinya sendiri dengan menunggu Mark yang bersikap egois di tengah malam yang dingin, seorang diri.

Haechan memejamkan matanya. Menikmati betapa usapan lembut Mark pada kedua pipinya mampu megenyahkan segala kegelisahan dihatinya. Hatinya menghangat begitu juga dengan tubuhnya yang ikut merasakan hal yang serupa. Haechan menikmati setiap detiknya. Mengais tetesan obat bagi hatinya yang terluka berkat kedatangan pria tampannya.

Haechan mulai membuka maniknya. Keduanya terlibat saling tatap dengan pandangan sama dalam menyiratkan perasaan tak kasat mata.

Haechan menatap ke arah Mark dengan penuh penyesalan yang ditahannya seharian ini. Mencoba menjelaskan kesalah pahaman terjadi.

"Mark hyung aku –"

"Mau menyusuri pantai bersamaku?" Mark memotong perkataan Haechan.

Mark tentu tau bahwa pria manisnya berniat untuk menjelaskan tentang bagaimana janji mereka gagal siang tadi, juga tentang kejadian yang sempat membuatnya tidak dapat menahan emosinya dan berakhir dengan dirinya yang uring-uringan sejak sore tadi. Mark masih belum siap untuk mendengarnya. Apa pun itu alasannya, setiap kali nama Yuta Haechan sebut, hal itu sukses membuat hati Mark seperti dihujami ribuan jarum tak kasat mata. Dan Mark sangat tidak menyukainya.

"Huh?"

Haechan mengerjapkan matanya tidak mengerti. Apakah Mark tidak marah? Kenapa pria itu malah mengajaknya untuk jalan-jalan seperti tidak terjadi apa-apa antara mereka. Ataukah Mark menghindari penjelasannya?

"Mau atau tidak?" Tawar Mark lagi melihat bagaimana Haechan memandangnya dengan tatapan heran.

Haechan melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Jarum pendeknya telah berada di tepat angka sembilan. Menatap Mark kembali untuk meyakinkan.

"Selarut ini?"

"Apa salahnya?"

Setelahnya Haechan hanya menganggukkan kepalanya. Hanya membiarkan Mark membawanya kemana pun pria tampan itu mau.

Mark tersenyum sekilas. Membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai yang tentu saja di ekori oleh Haechan.

Haechan memainkan jarinya dengan gelisah. Pasalnya semenjak beberapa menit berlalu hanya diwarnai kesunyian antara mereka berdua. Nampaknya Mark masih bersikeras mengabaikannya hingga enggan mengeluarkan sepatah kata pun. Membuat Haechan memutuskan untuk membuka suara lebih dulu. Mengutarakan sesuatu yang mengusiknya sejak tadi. Ia di sini untuk meluruskan sesuatu kan?

"Mark hyung soal yang tadi itu aku –"

"Tidak perlu menjelaskannya. Aku tidak mau dengar apa-apa tentang Yuta." Potong Mark masih dengan keputusannya untuk tidak mendengar apa-apa lagi tentang pria Jepang yang sudah ia tandai sebagai rivalnya.

Terlepas itu kabar baik atau sebaliknya, Mark hanya merasa tidak suka jika nama Yuta disebut oleh Haechan. Hanya membiarkan kesalah pahaman yang terjadi tetap apa adanya seperti itu. Membiarkan hatinya tetap terluka tentang kejadian hari ini tanpa berniat mencari obatnya bahkan dari Haechan yang menawarkan diri sekali pun.

Haechan menundukkan kepalanya. Memandang setiap langkah kecil yang ia ambil dengan penuh rasa penyesalan. Hatinya berdenyut sakit mendapati usahanya untuk menjelaskan ditolak oleh Mark.

Apakah sebegitu tidak pentingnya dirinya untuk Mark?

"Ma –maafkan aku."

Keheningan kembali menghampiri keduanya. Demi Tuhan apakah Mark berniat melakukan ini sepanjang malam? Hanya mengajak Haechan berjalan –terus berjalan tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun dan mengabaikan pria manis itu.

Haechan mulai memutar otaknya untuk memecah keheningan kembali.

Baiklah. Jika Mark enggan maka biarkan Haechan yang melakukannya.

Seketika benak Haechan melayang ke kejadian kemarin malam yang sukses membuat pipinya memerah tanpa bisa di tahan. Apakah baik jika ia membicarakan hal itu sekarang? Tapi jika tidak, kapan lagi ia memiliki kesempatan untuk meluruskannya. Lagi pula Haechan merasa harus meminta maaf agar tidak ada kecanggungan antara keduanya.

Haechan berdehem sejenak. Mencoba menjernihkan suaranya. Dan mencari keberanian untuk membuka suara, atau paling tidak agar suaranya tidak terdengar bergetar kali ini. Demi Tuhan Haechan sangat malu.

"Mm soal yang kemarin malam .."

Belum selesai Haechan menjelaskan. Mark mendadak menghentikan langkah kakinya. Membuat Haechan yang mengekor tepat di samping agak ke belakang ikut menghentikan langkah kaki kecilnya mendadak. Menatap Mark yang saat ini tengah menatapnya dalam.

"Kau mengingatnya?"

Pertanyaan Mark membuat Haechan mendadak gugup. Wajahnya kembali memerah bahkan lebih merah dari sebelumnya.

Haechan menguatkan dirinya. Mendoktrin untuk tetap mengambil langkah apa pun yang terjadi.

Jangan melarikan diri lagi Haechan. Kau hanya harus mengatakannya. Dan semuanya akan selesai.

Nyatanya tak semudah apa yang Haechan doktrinkan pada dirinya. Segala sesuatu tentang pria tampan di hadapannya akan selalu sulit bagi Haechan.

Jantungnya berdegup dengan kencang. Wajahnya kian memanas. Memutuskan untuk segera menyuarakan kalimatnya yang terdengar tergagap tanpa sebab. Ingat, Mark selalu membuat Haechan gugup bukan main.

"Aku –aku .."

"Kau benar-benar menguji pertahanan diriku Haechan." Mark lagi-lagi memotong perkataan Haechan yang kali ini dihadiahi dengan kernyitan tidak mengerti oleh pria manis itu.

"Huh?"

Mark memandang pria manis dihadapannya dengan tajam. Haechan selalu bisa menjungkir balikkan seorang Mark Lee dengan sangat lancang. Setelah amarah yang tadi sempat dipancingnya, kini Haechan juga memaksa Mark mengingat bagaimana gairah keparatnya mengambil alih dirinya kemarin malam. Demi Tuhan Mark tidak bisa menahan diri lebih lama lagi sekarang.

Mark mengeluarkan tangannya yang sejak tadi tersimpan di saku celana dan hanya membiarkan kedua tangan itu menggantung disebelah tubuhnya. Ia melangkah lebih dekat ke arah tubuh Haechan dan mulai berbicara serius. Memberikan peringatan pada pria manis itu.

"Kau perlu tau bahwa aku bukan pria dengan pertahanan diri yang kuat. Aku juga bisa kelepasan sewaktu-waktu. Aku marah, sangat marah melihat betapa Yuta terobsesi memilikimu. Hari ini benar-benar sukses membuatku melampiaskan amarahku pada hal yang tidak perlu." Mark menggantungkan kalimatnya. Mengganti tatapan tajam yang sempat dihadiahkannya pada Haechan dengan tatapan yang lebih lembut.

"Dan soal yang kemarin malam, aku minta maaf. Harusnya aku tidak mengambil kesempatan dalam ketidak berdayaanmu."

Haechan balik memandang mata Mark dengan tatapan sendu. Menyanggah apa yang baru saja di katakan oleh Mark dan melemparkan dirinya sebagai dalang dibalik kejadian malam kemarin maupun seharian ini.

"Tidak Mark hyung. Yang kemarin malam itu sedikit banyak aku juga ikut andil. Jika saja aku dapat mengendalikan tubuhku untuk tidak berbuat yang tidak-tidak, mungkin saja kau tidak akan kelepasan."

Haechan mengambil napas dengan terengah. Menguatkan hatinya dan menghalau air matanya yang hendak menetes lagi.

"Dan soal Yuta hyung. Aku harap kau tidak salah paham. Aku sanggup menjelaskan segala yang kau minta. Jadi ku mohon dengarkan aku."

Haechan menyelesaikan kalimatnya dengan nada yang cukup lirih. Tidak dapat menahan tubuhnya lagi yang bergetar ketakutan melihat Mark dengan terluka berkata demikian. Namun karena jarak antara keduanya yang sangat dekat, membuat Mark masih bisa mendengar setiap kata yang Haechan sampaikan dengan sangat jelas. Haechan kembali kepada kebiasaannya yang senang sekali menyembunyikan wajah dengan menunduk dalam jika ia sedang gugup atau merasa bersalah. Mengepalkan kedua tangannya erat untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri untuk tidak kembali menangis. Mencoba dengan keras menghindari tatapan tajam yang masih tidak berubah dari sosok Mark.

Tangan Mark terangkat meraih dagu Haechan untuk ia angkat agar pandangan pria manis itu kembali tertuju padanya.

"Haechan .." nadanya berubah lembut begitu pun dengan pandangannya. Mark mengamati wajah mempesona itu yang kini berubah sendu. Bagaimana raut wajah Haechan yang saat ini tengah menahan rasa bersalah sekaligus tangisnya. Wajah manis itu memerah menggoda dengan alasan lain yang berhasil membuat Mark kembali goyah.

Mark memutuskan untuk menyudahi segala kesakitannya. Membuka diri menerima obatnya yang dengan suka rela menawarkan diri.

"Mungkin setelah ini kau akan marah padaku, tapi aku tidak akan menyesali apa yang ku lakukan."

Haechan menatap Mark tidak mengerti. "Apa yang –"

Belum sempat Haechan menyelesaikan kalimatnya, Mark dengan sangat berani menarik tubuh ringkih Haechan ke dalam dekapannya. Mendekatkan wajah mereka berdua dan –

Chu

Berakhir dengan memutus jarak antara mereka berdua.

Sudah sampai pada titik ini. Mark tidak dapat menahannya lagi. Hanya membiarkan dirinya mengecup bibir merah merekah Haechan yang entah sejak kapan terasa selalu memanggilnya untuk dicicipi.

Sebut saja Mark gila. Bahkan setelah kejadian tadi malam. Dan dengan ceramah panjang lebar yang tadi sempat diberikan oleh Jaehyun. Mark dan jiwa pria sejatinya selalu menyerah, tunduk berlutut pada pesona seorang Lee Haechan. Tapi setidaknya kali ini Mark telah mengultimatum dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal lebih dari ini.

Pikirannya berkelana, disela ciumannya yang makin mengeksploitasi bibir ranum dalam lumatan-lumatan memabukkan. Tangannya bahkan telah ikut andil meraih leher Haechan untuk memperdalam ciuman mereka. Begitu pula kedua tangan Haechan yang kini telah berakhir didada Mark. Mengusap dada bidang itu pelan dan meremas kemejanya menahan gejolak yang muncul tak terbendung lagi.

Manik kelam Mark terbuka disela kegiatannya, mendapati bagaimana manik Haechan tertutup rapat menikmati setiap detik lumatan mereka. Bolehkah kini Mark berharap bahwa Haechan sepenuhnya mau menjadi miliknya? Terlepas apa yang yang dikatakan Haechan kemarin malam tentang pria manis itu yang mengaku menyukainya. Ataupun hari ini ketika Yuta menunjukkan dengan sangat gamblang bahwa ia juga menginginkan hal yang sama dengannya. Tapi Mark masih meragukannya karena Haechan kala itu tengah dalam pengaruh alkohol. Dan sore tadi saat pria manisnya tidak menolak sama sekali perlakuan dari Yuta. Maka dengan besar hati kali ini Mark telah memutuskan untuk berjalan maju. Memutus ciumannya perlahan untuk mengambil apa yang sangat ia inginkan.

Masih dengan napas yang terengah-engah, Haechan memandang manik Mark dengan sayu. Menikmati bagaimana mata kelam Mark memandangnya dengan lembut dan menenggelamkannya dalam perasaan tak kasat mata.

Mark kembali membuka bibirnya membuat Haechan waspada dengan apa yang hendak Mark katakan setelahnya yang akan membuka pintu ruang hati keduanya Melepaskan perasaan yang selama ini menyesakkan dada berteriak untuk segera diungkapkan.

"Aku mencintaimu Lee Haechan."

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED


Author's corner

Maafin ya karena ini udah lewat empat hari dari jadwal update yang sudah dijanjikan. Ada sedikit rombakan dan penambahan beberapa scene. Sama pemilihan potongan sebelum ketemu kata TBC yang sedikit aku naikkan yang harusnya dari chapter selanjutnya hihi. Seriusan ini chapter terpanjang 10,5K sampe gumoh-gumoh yang finishing ulang. Anyway, makasih buat yang udah membombardirku dengan something like 'kapan update' dan 'ayo cepetan update', kalian sukses membuatku susah tidur /supergiggles/

Oke sepertinya bakal ada protes besar-besaran gara-gara si Mark yang lagi-lagi nanggung. Mark itu imannya kuat. Gaakan kelepasan sebelum ia pikir udah saatnya untuk melepaskan /giggles/

Ingin naik rate? Hmm sepertinya kalian perlu mencekokiku sesuatu yang liar. Karena sejujurnya keinginan selalu ada tapi apalah daya wkwkwk

Jangan ada yang membenci Yuta. Karena Yuta hanyalah pria yang sedang jatuh cinta. Sepakat?

Udahan ah. See you on the next chapter. You have to know this "your comment is my moodbooster", so please write down what's your mind below, aku akan sangat-sangat menunggu.

Salam Markhyuck shipper. Saranghae pyeong~