Jungkook tahu Jimin paling benci melihatnya terluka, Jimin benci melihatnya menangis, Jimin benci melihat Jungkook tidak bahagia.

Jungkook yakin Jimin akan berperang untuknya jika Jungkook berkata bahwa setengah populasi manusia di dunia membuatnya terluka. Jungkook tahu, ia sangat tahu.

Karena ia pun merasakan hal yang sama pada Jimin. Ia tidak suka melihat Jimin terluka, oleh siapapun itu. Sebelum mereka menikah, Jimin pernah dicemooh gara-gara tubuhnya yang bulat menggemaskan. Saat itu, Jungkook marah sekali. Terutama pada seorang wanita yang menyiram wajah Jimin dengan minuman bersoda berwarna merah saat mereka tengah berjalan di pusat perbelanjaan bersama.

Ia marah melihat wanita yang menyukainya membuat Jimin malu. Ia ingin sekali membalas wanita itu, namun Jimin melarang. Jimin bilang, ia tidak boleh mengotori tangannya sendiri dengan balas melempar kotoran pada orang yang melemparinya dengan kotoran.

Karena itu Jimin, Jungkook menurut.

Namun ketika pagi ini ia menemukan Jimin dalam pelukan alih-alih memeluknya seperti biasa, ia tahu ada hal yang salah terjadi pada Jimin.

Jungkook tahu Jimin suka dimanjakan meski ia sebenarnya lebih suka memanjakan. Jungkook tahu Jimin jarang sekali tidur dalam pelukannya kecuali saat-saat hatinya tengah buruk atau ia sedang terluka dan kesakitan.

Terluka?

"Hyung?" Kali ini Jungkook memanggil Jimin karena ia memang ingin membangunkannya. Bukan seperti hari-harinya yang lain.

Jimin tidak menjawab, namun alisnya berkerut-kerut. Seolah tidurnya tidak nyenyak.

Jungkook merasakan sebelah tangannya kebas karena Jimin menjadikannya bantal, maka dengan tangannya yang bebas ia menyentuh kening Jimin.

"Astaga, Hyung kau demam." Ucap Jungkook panik.

Perlahan Jimin membuka mata, memandang Jungkook dengan mata merah dan berair, "Sudah mau kerja?" Tanyanya dengan suara parau.

Jungkook bangkit dari tidurnya, hendak meraih ponselnya, "Tidak. Aku bisa cuti dadakan hari ini. Kau demam, Hyung. Sejak kapan?"

"Nanti kau dimarahi atasanmu, Kook." Jimin beringsut mendekat, Jungkook yang memahaminya segera melarikan pahanya ke sisi kepala Jimin dan Jimin menggunakannya sebagai bantal.

Jungkook memutar pandangan, "Appa tidak akan memarahiku, Hyung. Demi Tuhan, aku anaknya dan kau menantunya."

Dengan segera Jungkook mengambil ponselnya di atas nakas. Sibuk menekan sesuatu sebelum menempelkan ponsel itu di salah satu telinganya.

"Appa, aku tidak masuk hari ini, Jiminie Hyung sakit. Iya. Aku akan pastikan dia mau pergi ke dokter, Appa. Iya. Nanti kusampaikan. Terima kasih." Jungkook menempelkan telepon genggamnya di sisi wajah, tangannya yang lain mengurai rambut di kepala Jimin.

Membuat Jimin semakin mengantuk.

"Appa bilang aku bisa cuti hari ini untuk merawatmu, tapi kau harus ke dokter dan cepat sembuh." Kata Jungkook sembari menundukkan wajah, menatap wajah Jimin yang pucat.

"Tidak mau ke dokter." Erang Jimin manja.

Jungkook tahu Jimin tidak suka ke dokter. Ia tahu Jimin benci minum obat maka ia mencoba menenangkan Jimin dengan sebuah kecupan di kening.

"Baiklah, kalau begitu aku buatkan bubur. Kalau nanti sore masih tidak enak badan kita ke dokter, ya?"

Jimin menatap Jungkook dengan raut sedih, meski begitu dalam hatinya ia senang karena merupakan kesempatan langka Jungkook mau bicara dengan nada selembut itu padanya.

"Baiklah." Jimin mengangkat kepalanya dan membiarkan Jungkook menarik pahanya, kedua tangannya memegang kepala Jimin dan membantunya untuk rebah beralaskan bantal. Dengan telaten Jungkook meraba kening dan pipi Jimin, membuka kaus bagian depan yang dikenakannya untuk menepuk perutnya. Mengecek apakah perut Jimin kembung atau tidak.

"Kau kembung," kata Jungkook, menutup kaus yang dipakai Jimin sebelum menarik selimut hingga ke batas dadanya, "sepertinya masuk angin. Nanti kubuatkan teh angin, ya?"

Jimin mengangguk saja. Ia tahu mungkin ini akibat dari kebiasaannya bergadang hampir setiap malam, mengerjakan webtoonnya tanpa peduli pakaiannya cukup hangat atau tidak. Namun Jungkook diam dan tidak memarahinya, Jimin pikir Jungkook mengerti mengenai tuntutan pekerjaannya.

"Berhenti bergadang, Hyung. Kau bisa kerjakan webtoonmu siang hari."

Ternyata Jungkook tidak mengerti.

"Imajinasiku lebih bagus kalau malam hari, Kook." Balas Jimin, tangannya bergerak menarik selimutnya hingga ke batas dagu. Memberi Jungkook pengertian melalui kerlingan mata.

"Aku tahu, tapi itu tidak baik untuk kesehatanmu. Aku tidak mau Hyung sakit. Hyung tahu 'kan?"

Ya. Jimin tahu. Ia melihat luka di mata Jungkook, ia tahu itu karena Jungkook terlalu menyayanginya.

"Ini seperti aku tidak bisa menjagamu dengan baik, seperti aku tidak bisa mencukupi kebutuhanmu padahal Hyung tahu, aku bisa menghidupimu. Aku lebih senang melihatmu tidur siang, bermain game, atau memelukku hingga pagi." Jungkook berujar lembut sembari mengelus pipi Jimin yang hangat.

"Maafkan aku, tapi aku juga ingin menghidupimu." Balas Jimin sembari meraih tangan Jungkook yang ada di pipinya, menariknya hanya untuk dikecup.

Jungkook tahu ini tidak akan berhasil.

"Baiklah. Sudah cukup manja-manjanya, aku akan memasak bubur untukmu."

Jungkook berniat bangkit sebelum Jimin meraih tangannya dan menceguk, "Kook?"

"Hm?"

"Cium."

Jungkook tersenyum dan menunduk. Memerangkap bibir Jimin dengan bibirnya tanpa perlu kalimat lebih panjang. Sebelah tangannya meraih sticky note di nakasnya.

x

x

x

Jungkookie, maaf kalau tidak ada kalimat manis untukmu pagi ini. Kepalaku seperti kehilangan isi, aku tidak bisa merangkai kalimat yang bisa membuatmu bahagia.

Isi kepalaku hanya wajahmu. Kali ini, kubuat dengan sepenuh hati. Cek di ruang kerjaku.

Jungkook membacanya sembari membuka ruangan tempat Jimin biasa mengerjakan webtoonnya. Ada 3 meja di dalam sana, 2 meja di sisi pintu adalah meja yang biasa digunakan oleh assistant Jimin untuk base coloring. Sedangkan meja Jimin berada di dekat jendela dengan Wacom Cintiq 24 HD ada di atas mejanya.

Jungkook mendekat dan melihat ada gambar yang dicetak oleh Jimin di sisi printer, disatukan menggunakan clip berbentuk hati.

"Komikus bodoh." Ucap Jungkook geli.

Ia melihat gambarnya dalam bentuk karakter animasi webtoon, Jungkook pikir dia tampan sekali.

Ia membuka gambar selanjutnya, lagi-lagi karakter mirip dirinya hanya saja kali ini digambar dari sisi samping. Jungkook pikir, ia masih tampan.

Ketika ia membuka gambar ketiga, Jungkook nyaris mengumpat. Karakternya dibuat dalam versi wanita yang mengenakan gaun pernikahan dengan pria tanpa wajah memeluknya dari belakang. Baiklah, ia cukup cantik kalau jadi perempuan.

Di gambar terakhir, karakter Jungkook dibuat menjadi pria yang memeluk pengantin tanpa wajah. Ia tampan sekali dalam balutan jas. Pantas saja Jimin tidak menjadikannya tokoh utama di webtoonnya, ia terlalu tampan. Sekali lagi, menurut pendapat pribadinya.

Ia tertawa geli, di balik kertas itu tertulis dengan pensil yang diarsir:

Bagaimana ini, Jungkookie? Sepertinya aku sudah terlanjur jatuh padamu, kagum padamu. Dalam bentuk apapun, kau tetap membuatku kesulitan bernapas. Aku akan jadi fans fanatikmu kalau kau jadi karakter webtoon.

Dalam hatinya ia yakin Jimin bahkan bisa mencintainya sampai mati.

x

x

x

Kali ini Jimin sudah menghabiskan bubur yang Jungkook buat. Hari masih pagi, matahari belum meninggi.

"Minum ini." Ujar Jungkook sembri menyodorkan cangkir berisi teh berbau mint.

"Tidak ada obat 'kan?" Jimin bertanya, ia merengut seolah memperjelas keengganannya meminum obat.

Jungkook tertawa gemas, "Iya cuma teh angin. Tapi kalau nanti sore belum baikan sudah janji ke dokter, ya?"

Jimin mengangguk dan menerima uluran tangan Jungkook, menyesap teh anginnya yang berasa seperti campuran teh, mint dan jahe. Melihat binar bahagia di mata Jungkook membuat Jimin menghabiskan tehnya seperti ia menghabiskan buburnya meski sesungguhnya ia enggan.

Bagaimana bisa ia mengecewakan mata sejernih itu? Yang memandangnya penuh kasih mesti jarang diucapkan lisan?

"Pintar," Jungkook mengelus puncak kepala Jimin, memperlakukannya seperti kanak-kanak, "ganti baju, Hyung."

"Tidak mau."

Jungkook tahu pula Jimin tidak mau menggunakan pakaiannya sendiri kalau sedang sakit, kali ini pun ia mengenakan kaus putih milik Jungkook sejak malam tadi. Bentuk manjanya yang lain tentu saja.

"Pakai bajuku, Hyung." Ujar Jungkook sembari menarik keluar sweater merah miliknya dari dalam lemari.

Barulah Jimin mengangguk. Membiarkan Jungkook mengurusinya seperti bayi, membuka bajunya dan menggosokkan minyak kayu putih di punggung dan perutnya setelah menaikkan suhu pendingin ruangan, lalu membantunya mengenakan sweater.

"Tidur pukul berapa semalam?" Tanya Jungkook sembari membenahi sweaternya yang kebesaran di tubuh Jimin dan membuat bagian lehernya turun di bagian pundak.

"Tidak bisa tidur." Aku Jimin.

Jungkook menggeleng, "Padahal saat menemaniku tidur Hyung baik-baik saja."

Jimin menggaruk pipinya, "Lewat tengah malam sih Kook waktu tiba-tiba kepalaku sakit."

"Sini." Jungkook merebahkan dirinya dengan sebelah tangan terbuka.

Tanpa diminta dua kali Jimin masuk tidur beralaskan lengan Jungkook dan memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain memegang bagian dada kaus yang Jungkook kenakan, merematnya hingga kusut.

"Tidur, Hyung." Bisik Jungkook di depan kening terbuka milik Jimin yang sudah ditempelinya dengan plester penurun panas.

"Aku tidak suka pakai plester penurun panas. Ini 'kan untuk anak-anak." Gerutu Jimin. Mengalihkan pembicaraan karena ia sangat tidak suka mata jernih kekasihnya memancarkan kekhawatiran terlampau kuat.

Jungkook membenamkan dagunya di puncak kepala Jimin dan mendesau, "Memang Hyung sudah besar?"

Ia merasa Jimin memukulnya di bagian dada setelah ia menarik selimutnya sampai menutupi tubuh keduanya.

"Nanti kau kegerahan, Kookie." Bisik Jimin mengalihkan pembicaraan.

"Kau kedinginan, Hyung. Sudah tidur."

Jimin tahu Jungkook tidak suka berkeringat, namun melihat kini Jungkook memeluknya dengan selimut rapat dan pendingin ruangan yang dinaikkan suhunya membuat Jimin yakin; Jungkook sangat mencintainya.

Semua itu semakin terasa di belaian tangan Jungkook di punggungnya dan halus senandung bibirnya yang separuh terbenam di puncak kepalanya.

Sebelum gelapnya jatuh ke dalam lelap, Jimin membisik lirih sekali, "Kau tahu aku sangat mencintaimu, Kookie."

"Berhenti bilang cinta, Hyung," Jungkook mengusap peluh di pelipis Jimin, "aku sudah tahu." Ia mengakhiri ucapannya dengan satu kecupan yang dibenamkan di helain rambut Jimin.

Kini Jungkook hanya bisa melukis senyum. Siapalah dia hingga mampu untuk tidak jatuh cinta tiap Jimin mengutarakan rasa?

x

x

to be continue

x

x

Well, kalau kalian perhatikan, aku senang sekali membuat adegan seperti ini. Yang salah satunya jatuh sakit begitulah. Ini masalah selera sih, mungkin bisa jadi pembaca bosan atau mampu menebak alurnya. Tapi aku benar-benar suka adegan seperti ini dan yea, aku sampai tidak bisa mengehentikan jemariku mengetik adegan semacam ini.

Love,

December D.