Jungkook menguap lebar, matanya perlahan terbuka meski enggan. Beberapa kali mengerjap mengusir kantuk dan seketika ia sadar, ranjang di sampingnya kosong. Tidak ada Jimin yang tidur sembari memeluknya atau bergelung di dalam dekapnya.
Jungkook bersumpah ia akan menyeret Jimin ke ranjang kalau sampai ia menemukan Jimin tengah menggambar alih-alih beristirahat. Kemarin sore demamnya turun, ia mengeluarkan berbagai jenis aegyo demi menghindari ajakan Jungkook pergi ke dokter yang pada akhirnya membuat Jungkook menyerah.
Siapa sih yang bisa menolak wajah Jimin yang mengerjap penuh harap? Yang pasti, itu bukan Jungkook.
Malam harinya mereka makan bersama, Jimin duduk di pangkuannya dengan controller play station di genggaman dengan mulut penuh bubur yang Jungkook suapkan dari belakang. Tidur lebih awal sambil berpelukan dan ketika Jungkook bangun ia tidak menemukan Jimin di sisinya.
Ia segera membalik tubuhnya ke arah lain, mengintip sticky note kuning yang ditempelkan Jimin.
Aku bangun terlalu pagi, ingin rasanya memelukmu sampai siang tapi tidur terlalu lama membuat leherku pegal. Akhirnya aku bangun lebih dulu darimu.
Ayo bermain sedikit, cari di mana aku hari ini, ya?
Ps. Aku sudah menciummu dan mengucapkan selamat pagi. Jangan kesal begitu.
Jungkook membuka laci di nakasnya dan menyimpan sticky note itu bergabung bersama sticky note yang lain. Jungkook pikir, Jimin memang terlalu mengenalnya bahkan tanpa melihat secara langsung pun ia bisa menerka bagaimana ekspersinya saat ini.
Dan tentu saja, ia kesal sekali. Bangun tanpa menemukan pasangannya di hadapannya membuat mood Jungkook terjung payung, ia benci tidak melihat cintanya di pagi hari.
Sembari mengucek mata, Jungkook membuka pintu dan mencari Jimin ke setiap penjuru rumah.
x
x
x
Jungkook tidak menemukan Jimin di ruangan manapun. Padahal ia yakin akan menemukan Jimin di ruang kerjanya tengah menggambar namun ternyata dugaannya salah, Jimin tidak ada di sana.
Setiap ruangan rapi tanpa ada tanda Jimin ada di sana.
"Kemana sih dia?" Jungkook membuka pintu rumah mereka dan melihat ke halaman, tidak ada Jimin di luar.
Maka Jungkook masuk lagi. Berharap hari belum terlalu siang dan ia sempat membuat sarapan. Jungkook pikir, Jimin memilih waktu bermain yang salah. Ia harus berkerja dan tidak bisa terus mencari Jimin yang mungkin tengah bersembunyi.
Namun akhirnya Jungkook menyadarinya, mug yang biasa dipakainya untuk menyeduh susu tidak ada di rak. Ia segera sadar ada satu tempat yang belum ditelusinya; halaman belakang.
Ketika Jungkook membuka pintu ke halaman belakang, Jungkook melihat Jimin masih mengenakan sweater miliknya sembari duduk di salah satu kursi yang mereka tempatkan di halaman belakang untuk menikmati senja dengan dua cangkir teh hangat dan kudapan manis.
"Lama sekali, eh?" Tanya Jimin sembari bangkit mendengar suara pintu yang dibuka, ia berdiri di hadapan Jungkook dengan satu senyuman sehangat mentari pagi dan sesegar aroma embun yang menggantung di pucuk-pucuk daun.
"Aku baru bangun," kata Jungkook sembari mendekat, melihat ada dua buah mangkuk sereal dengan berbagagai macam buah di atasnya dan dua mug besar berisi susu cokelat, "menyiapkan sarapan untukku?"
Jimin mengangguk kecil, berjalan mendekat sebelum meraih salah satu tangan Jungkook untuk digenggam, "Terima kasih sudah merawatku kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu dan juga hari ini. Terima kasih sudah bersedia untuk berjuang bersamaku dan berada di sisiku," Jimin mengalihkan pandangannya dari wajah Jungkook, mendekatkan punggung tangan Jungkook ke bibirnya dan berbisik halus sekali, "aku sangat mencintaimu." Lalu ia mengecup punggung tangan Jimin.
Jungkook benci mengakuinya secara gamblang, namun ketika Jimin mengecup punggung tangannya dengan lembut, ia memberanikan diri untuk memangkas jarak antara tubuhnya dengan Jimin. Ia menyibak poni Jimin dengan sebelah tangannya yang bebas karena Jimin masih betah menempelkan bibirnya di pungung tangannya yang lain, kemudian ia membenamkan ciumannya di kulit kening Jimin yang sama halusnya dengan bagian kulitnya yang lain.
Tangan Jungkook yang masih berada di puncak kepala Jimin beralih meraih bagian belakang kepalanya ketika Jimin melepas kecup dan memanggilnya pelan, "Kook?" Tanpa berusaha melepaskan diri.
Jungkook melepas bibirnya di kening Jimin dan menarik Jimin untuk dipeluk ia mendesau, "Jangan terus-terusan buat aku jatuh cinta padamu, Hyung."
Senyum Jimin rekah hingga pipinya memerah dan matanya menyipit dalam suka, "Kau mengakui jatuh cinta padaku?"
Biasanya Jungkook akan membalas bahwa ia tidak jatuh cinta, atau mungkin mengatai Jimin kurang pendengaran, atau mengelak dengan berlari menjauh. Namun kali ini ia ingin Jimin juga mendengar ucapannya, meski sebenarnya ia tahu Jimin pun tahu bahwa Jungkook juga mencintainya. Tidak ada salahnya bukan membuang gengsinya satu hari saja?
"Bukan hanya Hyung yang harus berterima kasih, aku juga harus. Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini, terima kasih sudah membuatku bahagia, terima kasih sudah bertahan di sisiku dan menghadapi kehidupan ini bersama. Hyung tahu meksi aku jarang mengucap cinta, meski aku jarang memberi afeksi, meski aku begini adanya, aku mencintai Hyung sama banyaknya dengan cinta yang Hyung punya untukku."
"Aey, jadi terharu." Jimin pura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tiada menuruni pipinya.
Jimin melepas dirinya dari Jungkook menariknya duduk di kursi, meski momen di mana Jungkook akan mengucapkan cinta padanya sangat jarang sekali, namun Jimin masih cukup peduli pada matahari yang mulai meninggi. Jungkook bisa terlambat bekerja kalau ia meladeni perasaannya yang jatuh semakin dalam itu.
"Ayo makan, aku hanya membuat sereal dan susu. Malas sekali rasanya menyalakan kompor pagi-pagi." Ajak Jimin.
Jungkook duduk di kursi lain dengan patuh dan menatap Jimin yang tengah menyiapkan sendok di mangkuk sereal untuknya. Ia melihat Jimin setiap hari, namun ia selalu merasa bahagia. Seperti bertemu teman lama, seperti membuka kotak bekal saat makan siang yang disiapkan Ibunya, seperti melihat cinta. Namun juga ia selalu merasa rindu. Seperti lama tidak bertemu dengan kekasih, seperti remaja yang merindukan dongeng Cinderella, seperti perantau yang rindu udara kampung halamannya.
"Kook?"
"Uh." Jungkook mengerjap melihat telapak tangan Jimin yang melambai di depan wajahnya.
"Kau melamun," Jimin mengulum senyum, "aku sudah memanggilmu berulang-ulang." Tutupnya dengan uluran mangkuk sereal.
"Masih mengantuk." Ujar Jungkook beralasan sembari menerima mangkuk serealnya.
Jimin hanya mengangguk sembari memasukan sendok kemulutnya, "Kau tampan kalau sedang menatapku dengan sorot cinta seperti itu."
Jungkook mendengus geli, "Apa sih? Siapa juga yang cinta pada Hyung."
Jimin tertawa, suara tawanya renyah dan membuat dunia Jungkook berotasi mengelilingi Park Jimin dan pesonanya yang menarik Jungkook untuk terjatuh keras dan begitu kuat, "Yeah, kau 'kan menikah denganku karena terpaksa."
Jungkook mengangguk dengan pipi kembung, "Hyung tahu itu."
Namun ketika sereal di dalam mangkuk mereka tandas dan Jimin bersiap untuk mengemasi mangkuk kotor mereka sementara Jungkook tengah memegang mug susu, Jungkook sempat bergumam. Lirih sekali. Mungkin kalau pagi tidak setenang ini, Jimin 'takkan mampu mendengarnya.
"Cium."
Hening.
"Kau bilang apa, Kook?"
Jungkook meletakkan mugnya kasar, membuat bunyi tak ringan dan tanpa ragu mengucapkan kalimatnya lebih keras, "Mau minta cium boleh tidak?"
"Apa sih kau ini," Jimin tertawa kecil sebelum mendekat dan mencium Jungkook dalam-dalam, "kalau kau mau menciumku, cium saja. Tidak perlu meminta begitu."
Maka Jungkook menarik tengkuk Jimin untuk diciumnya lebih dalam lagi.
Siapa peduli dengan matahari yang semakin tinggi itu? Karena Jungkook tidak. Selama bibir Jimin memeluk bibirnya, selama Jimin memejamkan mata dan Jungkook bebas menatapnya dengan sorot penuh cinta, ia tidak peduli pada apapun di dunia ini.
x
x
to be continue
x
x
Astaga sumpah aku makin cinta sama Jimin setelah bikin ff ini, yoloo sikapnya bikin aku pengen nikahin dia sama Jungkook aja huhuhu TT
Aku baper sama ff sendiri masaaa?
Bubye!
December D.
ps. aku nekad update dari handphone saking tidak kuatnya menahan kebahagiaan melihat foto yang Jimin update di twitter (fyi, cerita ini memang tamat di hari yang sama dengan hari penulisannya, jadi aku cuma edit aja lewat hp haha)
Apa sih Jeykey deket-deket Jimin, mana pipinya nempel di sisi pelipis Jimin pula. Aku ambyar tahu tidak?
