In The Mood For Love © Bangsterchan

Cast: BTS all members, Bang SiHyuk, OC.

Rated: T

Disclaimer: Semua Cast disini bukan milik saya namun mereka milik Keluarga mereka dan BigHit Entertainment (kecuali OC).

a/n: Fanfic ini murni hasil buatan saya. Apabila reader menemukan kesamaan cerita dengan karya orang lain itu bukan unsur kesengajaan. Terima Kasih.

.

.

.

Kediaman keluarga Min tampak sepi pagi ini. Namun jika kita menengok ke dalam, lebih tepatnya ke arah dapur, kita bisa melihat Nyonya Min tengah menyiapkan sarapan dibantu dengan Bibi Nam.

"Eomma," sebuah suara dibelakangnya membuat Nyonya Min menghentikan kegiatan menggoreng telurnya dan berbalik menatap kearah sumber suara serak khas bangun tidur yang sangat dikenalnya.

"Oh, Suga. Pagi." Sapa Nyonya Min pada putranya.

Suga tampak mengucek-ucek kedua matanya dan hal itu membuat Nyonya Min gemas. Apalagi dengan rambut pinknya yang berantakan.

"Cuci mukamu Suga. Kau kelihatan sangat mengantuk. Jam berapa kau tidur?" Nyonya Min bertanya.

"Tidak terlalu malam kok," Suga menjawab sebelum berlalu kembali ke kamarnya.

Nyonya Min hanya menggelengkan kepalanya maklum. Kedua putranya ini walaupun tidur lebih awal pun mereka akan tampak selalu kelelahan dan mengantuk setelah bangun. Ngomong-ngomong sepertinya Yoongi-nya belum bangun.

.

.

.

Nyonya Min telah menyelesaikan pekerjaannya memasak sarapan. Bibi Nam pun menata masakan yang mereka buat di atas meja makan. Sedangkan Nyonya Min beranjak menuju kamar kedua putranya untuk mengajak mereka sarapan bersama.

Kamar pertama yang dituju oleh Nyonya Min adalah kamar Suga. Hal pertama yang dilihat oleh Nyonya Min ketika membuka pintu kamarnya adalah Suga yang tengah menyisir rambutnya. Tampaknya Suga baru selesai mandi.

"Kau sudah rapi sekali. Mau kemana?" Suga menatap balik Ibunya yang sekarang ini tengah duduk dipinggiran ranjangnya dari balik cermin.

"Ini hanya baju rumahan biasa, Eomma," Suga menjawab.

"Segeralah turun. Eomma sudah siapkan sarapan. Eomma akan membangunkan Yoongi dulu." Suga mengangguk dan mengikuti Ibunya keluar kamar dan turun duluan karena ibunya harus membangunkan adiknya.

Nyonya Min sudah berada di dalam kamar putranya yang lain dan melihat Yoongi masih meringkuk di dalam selimut tebalnya.

"Yoongi-ah, ayo bangun ini sudah pagi." Nyonya Min mengelus rambut mint anaknya dengan lembut.

Tak berapa lama kemudian Yoongi merespon pelan dan membuka sedikit matanya.

"Eomma," panggilnya lirih khas orang bangun tidur.

Yoongi perlahan duduk di ranjangnya dibantu dengan sang Ibu. Nyonya Min merapikan rambut Yoongi yang berantakan. Namun hal itu justru membuat Yoongi semakin mengantuk dan ingin bergelung kembali ke dalam selimutnya.

"Suga sudah menunggu dibawah. Segeralah mencuci mukamu dan gosok gigi." Yoongi mengangguk dan segera beranjak menuju kamar mandi di dalam kamarnya.

.

.

.

Ketiga anggota keluarga Min saat ini tengah menikmati acara sarapan mereka. Nyonya Min sesekali memperhatikan kedua putra kembarnya.

"Suga-ah, Eomma akan mengantarmu ke sekolah barumu untuk mengurusi dokumen-dokumen kepindahanmu," Suga mendongak menatap ibunya. Keningnya berkerut bingung.

"Bukankah Appa yang akan mengantarku?" Suga menyampaikan kebingungannya. Yoongi pun baru menyadari bahwa ayah mereka belum pulang.

"Appa belum bisa pulang jadi ia meminta eomma untuk menggantikannya," jawab Nyonya Min. "kau mau ikut Yoongi?"

Yoongi menggeleng. "aku mau malas-malasan saja dirumah. Lagipula siang ini Park Seonsaengnim akan datang." Tolak Yoongi.

"Ah, benar. Kau harus belajar hari ini." Lanjut Nyonya Min.

Mereka bertiga menyelesaikan sarapan pagi itu. Lalu Nyonya Min dan Suga beranjak menuju kamar masing-masing untuk segera bersiap ke sekolah baru Suga. Sedangkan Yoongi melangkahkan kakinya ke dapur dan mengambil segelas air dan dengan segera meminum vitaminnya. Setelah itu Yoongi pun beranjak menuju kamarnya juga.

.

.

.

Suga dan Nyonya Min telah sampai di sebuah bangunan sekolah baru Suga yang cukup besar dan mewah. Seoul Internasional High School. Sekolah ini menjadi salah satu SMA yang paling banyak diminati oleh para remaja dan orang tua mereka. Hal ini dikarenakan status sekolah ini yang cukup bergengsi dan lulusan-lulusan terbaik mereka dapat dipastikan masuk ke dalam perguruan tinggi favorit di Korea Selatan. Bahkan pihak sekolah pun membentuk kelompok belajar khusus dengan konsultan terpercaya yang dapat mengantarkan siswanya untuk masuk ke dalam bagian dari jajaran kampus Ivy. Tentunya dengan biaya tambahan yang cukup mahal.

Kini mereka berdua telah berada di dalam kantor kepala sekolah. Nyonya Min dan Kepala Sekolah Seo tengah berbincang tentang kepindahan Suga.

"Suga telah melakukan tes seleksi masuk beberapa hari yang lalu dan hasilnya cukup memuaskan. Kami sangat senang dengan hadirnya Suga menjadi bagian dari sekolah ini." Terang Kepala Sekolah Seo. "jadi mulai besok Suga bisa mulai masuk sekolah. Besok temui saja Bang Seonsaengnim di ruang guru karena beliau adalah wali kelas Suga. Seragam bisa diambil di ruang Tata Usaha di sebelah ruangan guru dengan menunjukkan surat keterangan ini. Nantinya seragam akan diberikan bersamaan dengan jadwal pelajaran."

Nyonya Min tampak puas mendengarnya. "kalau begitu kami permisi."

Setelah berjabat tangan Suga dan Nyonya Min berpamitan dan keluar dari ruang kepala sekolah. Di tengah perjalanan menuju ruang Tata Usaha, dering ponsel membuat keduanya berhenti.

"Suga, pergilah ke ruang TU sendiri ya. Klien Eomma menelpon. Kau sudah tahu kan letak ruangannya?" Nyonya Min menyerahkan sebuah kertas kepada Suga dengan sebelah tangannya menggenggam Handphone miliknya.

Suga hanya mengambil kertas itu dalam diam dan segera beranjak dari tempat mereka berdiri. "Eomma tunggu di mobil."

.

.

.

Di tangan kiri pemuda bersurai pink itu sekarang ini telah ada dua buah kantong plastik dengan lambang milik sekolah berisi seragam sekolahnya yang baru. Ia berjalan sembari membaca jadwal pelajaran di tangan kanannya. Dan sepasang kaki di hadapannya membuat ia berhenti melangkah. Di angkatnya kepalanya dan mendapati seorang pemuda yang tidak lebih tinggi darinya itu tengah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.

"Yo! Kita bertemu lagi,"

Suga mengernyitkan dahinya bingung. Lelaki dihadapannya kini berbicara padanya seolah-olah mereka saling mengenal.

"Kau berbicara padaku?" Suga bertanya.

Mendengar balasan Suga membuat lelaki berambut oranye itu tertawa kecil. Membuat kerutan di dahi Suga semakin dalam.

"Ah, betapa menyedihkannya aku. Padahal kita baru saja bertemu kemarin tapi sekarang kau melupakanku," raut wajahnya dibuat semenyedihkan mungkin. "ah, bagaimana dengan buku kemarin? Kau sudah selesai membacanya? Apakah isinya menarik?"

Suga semakin tidak mengerti dengan perkataan pemuda itu. Hey, Suga baru datang dari Jepang kemarin dan setahunya orang yang ia temui saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Korea adalah seorang supir taksi. Dan seingatnya supir taksi yang kemarin dinaikinya tidak berambut oranye. Dan lagi, buku apa yang dimaksud pemuda dihadapannya?

"Maaf ya, tapi aku benar-benar sama sekali tidak mengerti yang sedang kau bicarakan. Aku rasa kau salah orang. Jadi aku permisi." Suga pergi meninggalkan pemuda bersurai oranye yang tengah terbengong-bengong melihatnya.

Pemuda bername tag Park Jimin itu hanya bisa mengernyit heran. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas sembari bergumam pelan.

"Apa saat kutinggalkan kemarin ia tertimpa buku ensiklopedia ya sampai-sampai dia lupa padaku? Dan seingatku kemarin rambutnya bukan pink deh. Ah sudahlah. Membuatku pusing saja."

.

.

.

Suga melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan menggerutu kesal. Ibunya turun di butik tadi sehingga ia pulang sendiri dengan Pak Shin, supir ibunya. Dengan langkah menghentak ia menaiki tangga dan segera membuka pintu kamar saudara kembarnya.

Dilemparnya kantong plastik berisi seragamnya ke atas ranjang adiknya lalu menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas sana. Dilihatnya sang adik tengah tertidur dengan buku berada dalam pelukannya.

"Yoongi-ah," Suga menggoyang-goyangkan lengan adiknya.

Yoongi tampak terganggu dan dengan segera membuka perlahan kedua matanya. "ada apa? Kenapa kau membangunkanku?"

"Bangunlah aku ingin cerita."

Dengan malas Yoongi beranjak bangun dan segera mendudukkan dirinya. Ditatapnya pemuda yang memiliki wajah serupa dengannya itu.

"Hm, sekarang ceritalah. Aku mendengarmu," ucap Yoongi malas.

"Tadi saat aku selesai mengambil seragamku, ada seorang pemuda aneh berbicara padaku. Ia mengatakan hal-hal yang tidak kupahami."

Yoongi mendengarkan dengan seksama walaupun awalnya ia merasa sangat terganggu karena tidur cantiknya terusik oleh kehadiran Suga.

"Memang dia mengatakan apa saja?" tanya Yoongi

"Dia bilang bahwa aku melupakannya padahal baru kemarin kami bertemu. Dan dia mengatakan masalah buku atau apalah itu. Membuatku kesal saja." Suga meremas jemarinya saking kesalnya.

Yoongi terdiam. Buku? Jangan-jangan...

"Bagaimana ciri-ciri pemuda itu?" Yoongi kembali bertanya dengan raut penasaran.

Suga terlihat mengingat-ingat postur dan fisik sang pemuda. "dia tidak begitu tinggi. Kulitnya agak tan dan rambutnya berwarna oranye."

Kedua mata Yoongi terbelalak. Tidak salah lagi. Pemuda yang tidak sengaja menemui Suga adalah pemuda yang sama dengan yang ia temui di toko buku kemarin. Dan pemuda itu salah mengenali Suga sebagai dirinya.

TBC

Bangchan kembali lagi Apa kabar kalian semua? Maaf ya kalo udah nunggu lama. Soalnya liburanku udah selesai dan di minggu pertama dosen-dosenku banyak yang kasih tugas.

Terima kasih buat kalian yang sudah review, follow, dan memfavoritkan FF aku ini. Aku senang sekali. Nah buat Chapter 3 ini aku juga menantikan review dari kalian. Sangat sangat menantikannya.

Klub Ivy yang saya buat terinspirasi dari karakter Kwon Soo Ah di Sassy Go Go

Nah ini balasan review untuk kalian yang tidak login pakai akun ffn

Yuu: Iya maaf ya updatenya lama. Iya seperti yang sudah Yuu baca mereka kembar hehehe. Jangan panggil author ya panggil Bangchan aja ditunggu reviewnya di chapter ini.

INDRIARMY: Yoongi gak sakit parah kok. Fisiknya hanya kurang kuat aja. Jadi dia perlu minum obat dan vitamin agar dia tetap sehat. Terima kasih ya sudah review. Ditunggu reviewnya di chapter ini

Temen Hoseok: Suga dan Jimin itu satu sekolah tapi mereka tidak akrab. Wah penasaran ya? Tapi sayang untuk beberapa chapter ke depan Jimin belum bisa bertemu dengan si kembar Min terima kasih sudah review. Dinantikan reviewnya di chapter ini.

Last, Saya menantikan review dari kalian ya teman-teman biar aku bisa termotivasi untuk menulis lagi. Dan maaf kalau aku telat updatenya karena jadwal kuliah, praktikum, dan kegiatan HMJ aku yang padat dan sering berbenturan.

Kita bertemu lagi di Chapter 4. Selamat membaca