In The Mood For Love © Bangsterchan

Cast: BTS all members

Rated: T

Disclaimer: Semua Cast disini bukan milik saya namun mereka milik Keluarga mereka dan BigHit Entertainment (kecuali OC).

a/n: Fanfic ini murni hasil buatan saya. Apabila reader menemukan kesamaan cerita dengan karya orang lain itu bukan unsur kesengajaan. Terima Kasih.

.

.

.

Kedua mata Yoongi terbelalak. Tidak salah lagi. Pemuda yang tidak sengaja menemui Suga adalah pemuda yang sama dengan yang ia temui di toko buku kemarin. Dan pemuda itu salah mengenali Suga sebagai dirinya.

"Yoongi-ah,"

"..."

"Yoongi-ah,"

"..."

"YA MIN YOONGI!"

Yoongi tersentak. Matanya tidak fokus dan raut wajahnya terlihat berpikir.

"Kau tidak apa-apa?" Suga menatapnya khawatir.

"A-ah, t-tidak apa-apa," kata Yoongi akhirnya. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya dan mulai membuka-buka kantong berisi seragam Suga.

"Aku selalu suka jika melihat satu set seragam sekolah." Celetuk Yoongi. "tapi baru sekarang aku bisa menyentuh mereka."

Suga menatap adiknya. Terlihat jelas binar bahagia di kedua mata Yoongi hanya karena ia menyentuh seragam miliknya. Bagi Suga, mungkin semua seragam sekolah akan terasa sama. Namun Yoongi berbeda. Ia tidak pernah masuk sekolah umum. Ia selalu iri jika melihat para remaja berangkat bersama-sama menuju sekolah mereka.

Terkadang Suga merasa sangat kasihan dan sedih. Jika Suga berkunjung ke Korea maka Yoongi dengan semangat akan menariknya ke kamar dan memintanya untuk menceritakan tentang kehidupan sekolah Suga. Tiap kali melihat keantusiasan Yoongi dengan sekolah membuat Suga ingin meminta kepada orang tuanya untuk memasukkan Yoongi ke dalam sekolah umum. Tapi ia tidak bisa. Tidak dengan kondisi Yoongi sekarang ini.

.

.

.

Keesokan harinya Suga sudah berada di depan pintu masuk sekolahnya. Waktu menunjukan pukul 07.35 waktu setempat. Dua puluh lima menit lagi bel masuk dan dia harus segera bertemu dengan wali kelasnya. Ia pun dengan segera melangkahkan kaki menuju ruang guru.

Sesampainya ia di ruang guru ia langsung membuka pintu dan memandang ke sekeliling. Hanya ada empat orang yang diyakininya sebagai guru-guru yang mengajar tengah sibuk di meja mereka masing-masing.

"Permisi. Saya mencari Bang Sihyuk Seonsaengnim."

Salah satu guru wanita yang ada disana menengadahkan kepalanya padaku. "ah, sepertinya Bang Seonsaengnim telat seperti biasanya. Kau anak baru itu?"

"Iya." Suga membungkuk sopan.

"Ah, kalau begitu kau tunggu saja Bang Seonsaengnim di sofa itu. Beliau memang sering terlambat." Tukas guru wanita itu.

"Ne."

.

Sudah tiga puluh menit Suga menunggu kehadiran guru yang akan menjadi wali kelasnya itu. Dia sudah sangat terlambat mengikuti kelas paginya di hari pertama ia sekolah. Di ruang guru itu hanya ada dirinya dan seorang guru kedisiplinan yang tengah menyalin catatan pelanggaran yang para siswa-siswi perbuat pagi ini. Pelanggaran yang dimaksud adalah memakai seragam tidak rapi, rok terlalu pendek diatas lutut, tidak memakai dasi, membawa rokok dan tentunya terlambat datang ke sekolah. Sekolah tidak melarang siswa-siswinya untuk mengecat rambut ataupun memakai sepatu warna-warni.

Lamunan Suga terpecah saat didengarnya langkah kaki seseorang yang tengah berlari. Tak lama kemudian pintu ruang guru terbuka dan menampilkan sosok seorang pria tambun terengah-engah karena kelelahan.

"Anda terlambat lagi Bang Seonsaengnim," tukas sang guru kedisiplinan tanpa memandang ke arah pria yang masih berusaha menstabilkan nafasnya di ambang pintu. "kalau begini terus Kepala Sekolah bisa saja mengganti anda."

Suga melihat pria yang ternyata orang yang ditunggunya itu menundukkan kepala tanpa mengatakan apapun. Entah karena terlalu lelah atau tak tahu harus berkata apa. Pria bernama lengkap Bang Si Hyuk itu hanya diam dan melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Mengambil beberapa buku dan daftar siswa-siwa kelasnya.

"Ah, kau murid baru itu?" tanya Bang Seonsaengnim.

Suga mengangguk lalu berdiri dan membungkukkan badan. "saya diminta untuk menunggu anda."

"kalau begitu mari ikuti aku. Maaf karenaku kau harus terlambat masuk ke kelas."

.

Kelas yang awalnya ricuh kembali tenang saat Bang Seonsaengnim memasuki ruang kelas. Bang Seonsaengnim memulai wejangan paginya sebelum memanggil Suga untuk memasuki ruangan. Para siswa-siswi terlihat antusias melihat Suga. Mungkin mereka terperangah melihat dirinya yang begitu putih. Dan dapat Suga lihat bahwa para siswi memperhatikannya dengan tatapan tidak begitu bersahabat. Suga mengerti apa yang membuat mereka seperti itu. Tentu saja, wanita mana yang tidak iri melihat kulit putih mulus dan kaki ramping yang dimiliki Suga?

"Namaku Min Suga. Aku pindahan dari Jepang." Suga memulai perkenalan.

Seluruh penghuni kelas itu hening mendengar perkenalan Suga yang dinilai terlalu singkat dan datar. Bang Seonsaengnim berdeham memecah keheningan. " baiklah Suga, kau bisa menempati kursi yang kosong. Dan sebaiknya kita segera memulai pelajaran hari ini."

.

.

.

"Yoongi-ah,"

"..."

"Min Yoongi,"

"..."

"YA!"

Yoongi tersentak dan menghentikan kegiatan mencoret-coret buku tulisnya. Dilihatnya Kim Seonsaengnim, guru privatenya, menatapnya tajam.

"Kau tidak mendengarku," Kim Seonsaengnim mendengus kesal.

Yoongi menundukkan kepalanya. Menyesal telah mengabaikan dan tak memperhatikan penjelasan gurunya.

"Maafkan saya," sesal Yoongi.

Kim Seonsaengnim menghela nafas. "apa yang membuatmu tidak fokus?"

Yoongi terdiam sejenak sebelum menggeleng perlahan. Membuat Kim Seonsaengnim lagi-lagi mendengus.

"Aku tidak mau membuang waktuku. Sudah tiga kali dalam satu hari ini kau melamun di tengah pelajaran. Kurasa hari ini cukup sampai disini," Kim Seonsaengnim membereskan peralatannya dan beranjak pergi. "aku akan kembali lagi besok. Soal yang kuberikan lanjutkan sebagai pekerjaan rumah. Aku ingin besok tidak ada satupun soal yang salah."

Yoongi seolah tak mendengar. Ia sadar bahwa seharian ini ia telah membuat gurunya kesal. Sebenarnya alasan ia terlalu banyak melamun dan termenung tidak lain dan tidak bukan adalah kakak kembarnya sendiri. Ia iri pada Suga yang bisa pergi ke sekolah dan mengenakan seragam yang sudah lama ia idamkan. Entah kenapa melihat Suga berangkat sekolah tadi membuatnya sedih. Ia ingin seperti Suga. Ah, lebih tepatnya ia ingin pergi sekolah bersama dengan Suga.

Merasa lelah dengan pikirannya, Yoongi akhirnya mulai membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya. Iapun beranjak pergi menuju kamarnya. Mungkin tidur bisa membuat perasaannya membaik.

.

Yoongi terbangun kala dirasakannya guncangan dari ranjangnya. Dilihatnya sang ayah menatapnya dengan penuh kehangatan.

"Appa,"

Tuan Min mengulurkan tangannya mengusap rambut mint milik anaknya. "kau suka sekali tidur."

Yoongi menguap dan sesekali mengucek-ucek kedua matanya. Berusaha menghilangkan kantuk yang masih menderanya.

"Appa kapan sampai?" Tuan Min membantu anaknya untuk duduk dan merapikan bantal agar anaknya dapat bersandar. Diusapnya lembut rambut anak bungsunya.

"Sekitar satu jam yang lalu," jawab sang Ayah.

Yoongi melirik kearah jam weker berbentuk Kumamonnya. Jam tiga sore. Berarti sudah enam jam dia tertidur. Dan memang pada dasarnya Yoongi sangat suka tidur bahkan sampai saat inipun ia masih merasa sangat mengantuk.

"Hey, kau masih saja mengantuk?" canda Tuan Min.

Yoongi hanya mengangguk sambil sesekali menguap. Beberapa kali matanya terpejam saking mengantuknya. Melihatnya membuat Tuan Min geleng-geleng kepala.

"Sebaiknya sekarang kamu mandi biar segar." Titah sang Ayah. Membuat Yoongi lagi-lagi hanya merespon dengan anggukan dan beranjak malas-malasan menuju kamar mandi pribadinya.

.

.

.

Malam hari di kediaman Min. Di ruang makan terlihat hanya tiga orang anggota keluarga yang mengisi meja makan. Nampaknya salah satu penghuninya yaitu Min Suga sedang tidak ada di tempat.

"Suga kemana? Apa dia belum pulang dari sekolah?" tanya Yoongi.

"Suga pergi kerumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok," jawab Nyonya Min. "dia akan kembali sebelum jam delapan nanti katanya."

"Baru masuk dia sudah dapat tugas kelompok?" tanya Yoongi lagi.

"Suga kan masuk pada pertengahan semester. Jadi wajar kan kalau dia sudah dapat tugas kelompok." Kali ini sang Ayah yang menjawab.

Tidak ada lagi percakapan yang berlangsung. Ketiganya menikmati makan malam dalam diam.

.

Ruang keluarga menjadi tujuan Yoongi setelah ia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sang guru private. Sekarang adalah jam tayang drama favoritnya. Dibawanya cemilan yang ia ambil dari dapur dan membawanya ke pangkuan. Terlalu asyik menonton membuatnya tidak sadar bahwa Suga sudah pulang dan memperhatikannya sedari tadi.

"Memangnya kau ini gadis ya? Menonton drama picisan seperti itu?" sindir Suga.

"Oh, kau sudah pulang. Duduklah disini." Sahut Yoongi tanpa menghiraukan kalinat sindiran yang dilemparkan Suga padanya. Ditepuknya ruang kosong disebelahnya.

"Aku mau mandi dulu." Suga berlalu menuju kamar pribadinya.

"Jangan lama-lama nanti dramanya habis." Yoongi mengunyah cemilannya tanpa memandang ke arah Suga.

"AKU TIDAK SUKA DRAMA SEPERTIMU!" Suga berteriak kesal.

Reaksi Yoongi? Ia hanya menikmati dramanya tanpa menghiraukan teriakan kakak kembarnya. Sesekali tanganya merogoh toples cemilannya.

.

Dan pada akhirnya Suga menemani Yoongi menonton drama setelah ia selesai mandi. Sesekali ia mencomot cemilan kedua-Yoongi sudah menghabiskan toples pertamanya-yang diambil oleh adiknya. Matanya menatap malas pada salah satu adegan drama yang terlalu berlebihan menurutnya. Ia sendiri bingung. Adiknya yang mengaku SWAG ini tergila-gila dengan drama?

"Sekolah barumu menyenangkan?" tanya Yoongi tanpa sekalipun mengalihkan perhatian dari drama yang ia tonton. Tangannya tak berhenti untuk menyuap keripik ke dalam mulutnya.

"Yah, tidak ada yang menarik bagiku. Sekolah lama dan sekolah baru rasanya sama saja. Hanya mungkin di sekolah yang baru makanan kantinnya lebih bervariasi." Tukas Suga.

"Oh, begitu."

Kemudian hening. Hanya terdengar suara televisi yang sedang menampilkan iklan sampo. Suara berisik yang berasal dari kunyahan keripik pun tidak lagi terdengar. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Keheningan ini begitu menyesakkan untuk Suga. Ia tidak suka adiknya yang biasa cerewet ini mendiamkannya. Keterdiaman Yoongi membuat Suga yakin ada banyak hal yang dipendam olehnya.

"Aku ke kamar dulu," Yoongi berdiri dan meletakkan toples keripiknya diatas meja.

"kau sudah meminum obatmu?"

"Hm."

Kemudian ia benar-benar meninggalkan Suga sendirian. Malam itu untuk pertama kalinya Yoongi tidak mengobrol panjang lebar dengan Suga. Dan untuk pertama kalinya Yoongi tidak lagi antusias untuk memaksa Suga bercerita tentang kesehariannya di sekolah.

TBC

Halooooo bertemu lagi dengan Bangchan Apa aku terlalu lama updatenya? Maaf ya lagi sibuk jadi belum sempat update untuk beberapa terakhir ini hehehe. Yang nungguin Jimin sama Yoongi ketemu... hmm sabar dulu ya guys. Mereka belum saatnya bertemu. Biar Suga yang mewakili 'pertemuan' Jimin dan Yoongi.

Bangchan mau tanya nih. Kalian lebih suka Jimin sama Yoongi atau Jimin sama Suga? Tulis alasannya ya.

Nah karena aku udah update chapter 4 aku juga menantikan dengan sangat review dari kalian nih. Biar aku bikinnya semangat. Review pembaca adalah semangat bagi author. Begitu juga Bangchan Ditunggu Reviewnya ya guys.

TO:

INDRIARMY: Terima kasih sudah review dan terima kasih juga sudah antusias dengan FF ini hahahaha. Yoongi homeschooling karena ibunya protektif banget sama dia. Padahal Yoongi pengen banget bisa sekolah kayak Suga. Untuk masalah Uke/Seme jujur aku belum bisa menentukan Suga termasuk kategori apa hehehe. Mungkin kita harus menunggu sampai fanfic ini habis :D Ditunggu reviewnya lagi ya

Wellery14: Terima kasih sudah review ditunggu reviewnya lagi ya

Yoonminlovers: terima kasih sudah review ya ditunggu aja, seiring berjalannya cerita pasti terlihat kok jodohnya jimin ditunggu reviewnya lagi ya

TERIMA KASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG MASIH ANTUSIAS DAN MASIH MENANTIKAN KELANJUTAN FANFIC INI (sengaja di capslock plus bold biar kelihatan hahahahaha)