In The Mood For Love © Bangsterchan
Cast: BTS all members
Rated: T
Disclaimer: Semua Cast disini bukan milik saya namun mereka milik Keluarga mereka dan BigHit Entertainment (kecuali OC).
a/n: Fanfic ini murni hasil buatan saya. Apabila reader menemukan kesamaan cerita dengan karya orang lain itu bukan unsur kesengajaan. Terima Kasih.
.
.
.
Tak biasanya pagi itu ruang makan keluarga Min tampak sunyi. Di meja makan hanya Suga yang tengah mengolesi selai di roti tawarnya dengan malas. Ia merasa sangat tidak bersemangat hari ini. Kedua orang tuanya pagi-pagi sekali sudah berangkat ke tempat kerjanya masing-masing. Sedangkan Yoongi tentu saja belum bangun.
Suga memakan rotinya perlahan. Rasanya untuk mengunyah pun ia tak bertenaga. Namun dia merasa sangat lapar. Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Yoongi dengan mata setengah mengantuknya berjalan sempoyongan membuka kulkas dan mengambil sekarton susu coklat kesukaannya. Diambilnya gelas tinggi di rak lalu dituangkannya susu tersebut.
"Pagi," Suga menyapa. "tidurmu nyenyak?"
"Hm, pagi." Balas Yoongi. "lumayan."
Hening kembali. Kecanggungan melingkupi keduanya. Atau hanya Suga sendiri yang merasa begitu? Yang pasti keheningan ini membuatnya tidak nyaman.
"Yoongi-ah," Suga memutuskan untuk buka suara.
Dengan wajah mengantuknya, Yoongi menatap sang kakak.
"Apa?"
"Kau marah padaku?"
Kening Yoongi berkerut. "Tidak." Tegasnya.
"Kesal?"
Kerutan di keningnya bertambah. Sekarang ditambah bibir peachnya yang mengerucut.
"Tidak juga."
Kini gantian Suga yang mengernyit bingung. "Lalu kemarin kau kenapa?"
"Memangnya aku kenapa?" Yoongi balik bertanya.
Raut malas dengan mata mengantuk yang ditampilkan Yoongi membuat Suga berpikir bahwa adiknya ini tidak benar-benar mendengarkan dan mengerti apa maksudnya. Mungkin sebaiknya Suga tidak menyinggung masalah tadi malam.
.
.
.
Suga tengah melamun di kelasnya. Saat ini kondisi ruang kelas tidak begitu ramai karena memasuki jam istirahat. Kebanyakan siswa-siswi pergi ke kantin untuk makan siang ataupun sekedar nongkrong bersama teman-teman mereka yang berbeda kelas. Namun tak sedikit pula yang memilih tinggal di dalam kelas untuk belajar (mereka bukan kutu buku hanya saja terlalu maniak belajar), makan bekal yang dibawa dari rumah, bergosip, atau melamun tidak ada kerjaan seperti yang dilakukan oleh Suga sekarang.
"Suga-ssi."
Suara lembut khas perempuan menyapa indera pendengarannya. Di sebelah bangkunya berdiri seorang gadis. Gadis itu memiliki kulit putih, walau masih kalah putih dengan Suga. Rambutnya berwarna karamel bergelombang sepinggang.
"Kau siapa?" tanya Suga.
"Aku Cha Juran. Panggil saja aku Juran."
"Oh." Respon Suga tak tertarik.
Gadis bernama Cha Juran tersebut tiba-tiba saja menduduki bangku di depannya. Suga tidak terlalu akrab dengan teman-teman sekelasnya. Dan Cha Juran ini membuatnya bertanya-tanya. Ada urusan apa gadis dari keluarga Cha ini dengannya?
"Kudengar kau masuk ke sekolah ini dengan nilai tes yang sempurna." Juran membuka obrolan.
"Benarkah?"
Gadis di hadapannya mendengus dan tersenyum meremehkan.
"Aku tidak mau berbasa-basi. Aku bermaksud menngajakmu untuk bergabung dengan Grup Ivy," tukas Juran. "kau tentunya tahu kan apa itu Grup Ivy."
"Tentu saja aku tahu. Grup dimana anak-anak yang bermimpi untuk menjadi bagian dari kampus Ivy berkumpul." Suga menjelaskan.
"Baguslah. Jadi? Kau tertarik?" tanya Juran. "Dengan potensi akademikmu itu sangat disayangkan jika kau tidak masuk Harvard atau jajaran kampus Ivy lainnya."
Suga hanya menyimak apa yang dikatakan oleh gadis itu.
"Dengan masuk grup kau akan dibimbing langsung oleh konsultan yang di sewa langsung dari Ivy League. Dan dengan begitu kampus Ivy sudah didepan mata."
"Maaf. Tapi aku tidak tertarik untuk pergi ke Harvard atau kemanapun itu." Jawab Suga. "dan aku tidak mau menghabiskan masa remajaku hanya untuk belajar belajar dan belajar saja."
Suga pun beranjak meninggalkan gadis yang masih terpaku itu.
Flashback
Di sebuah ruangan temaram, dua orang perempuan dengan perbedaan usia yang cukup mencolok tengah duduk memperhatikan layar LCD yang menampilkan data seorang siswa.
"Dia masuk dengan nilai tes yang tinggi. Dan dari data yang kudapatkan dari sekolah lamanya di Jepang ia menduduki peringkat satu di kelas dan di angkatannya. Sekolahnya yang dulu pun mempunyai reputasi yang luar biasa dan juga banyak prestasi di bidang kesenian maupun olahraga yang ia capai." Terang seorang perempuan paruh baya. Ia adalah salah satu konsultan grup Ivy yang di sewa oleh sekolah dan dipilih langsung oleh Ibu Juran untuk membantu anaknya.
Ya. Perempuan yang lebih muda itu adalah Cha Juran. Matanya memandang tidak bersahabat ke arah LCD.
"Lalu apa yang harus kulakukan kepadanya?" tanya Juran.
Hwang Minyoung, nama konsultan itu, tersenyum. "Dekati dia. Ajak dia bergabung ke dalam grup Ivy."
"Kenapa aku harus mengajak pesaingku untuk masuk ke grup Ivy?" Juran bertanya heran.
Konsultan Hwang masih mempertahankan senyum penuh artinya.
"Kau bisa mempelajari lawanmu sendiri. Apa 'kelemahannya' dan potensi apa yang bisa kau ambil untuk mengalahkannya. Lalu setelah kau kuasai semuanya, perlahan hancurkan dia. Dengan itu kau bisa menjadi nomor satu di sekolah.
"Dengan kehadirannya ini maka kau bisa saja tersingkir dari kualifikasi sekolah untuk diajukan ke kampus Ivy. Ingat, keberadaanmu di Grup Ivy tidak serta merta mewujudkan mimpimu menjadi bagian dari Harvard. Sekolah akan memilih satu dari beberapa siswa cerdas untuk dipromosikan di kampus Ivy. Dan sisanya berjuang dengan kakinya sendiri.
"Kau tahu sendirikan bahwa siswa yang diajukan oleh sekolah memiliki potensi yang lebih besar untuk masuk kampus Ivy dengan mudah. Min Suga bisa saja menggantikan posisimu untuk dipromosikan ke kampus Ivy."
End of Flasback
.
.
.
Suga melangkahkan kakinya dengan santai. Ia baru saja kembali dari kamar mandi dan mampir ke kantin sebentar untuk membeli susu coklat dan dengan sekejap saja ia habiskan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jas sekolahnya.
Suga berjalan tanpa memandang sekitarnya. Hal ini membuatnya tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki berambut pirang dengan postur tubuh yang lebih tinggi darinya.
"AW!"
Keduanya jatuh terduduk. Di sekitar mereka buku-buku catatan berserakan. Dengan background siswa-siswi yang memperhatikan mereka.
"Maafkan aku. Kau baik-baik saja?" lelaki bersurai pirang itu memunguti buku-buku yang berserakan itu.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena jalan sambil melamun." Tukas Suga. Ia pun membantu lelaki tersebut memunguti buku-buku catatan bahasa korea yang berserakan itu.
Suga menyerahkan buku yang telah ia ambil kepada lelaki pirang itu. Suga memperhatikan wajah yang sedikit familiar oleh indera penglihatannya itu.
Dimana aku pernah melihatnya? Batin Suga.
"Terima kasih. Seharusnya kau tidak perlu susah-susah membantuku."
"Bagaimana mungkin aku membiarkan orang yang ada didekatku mengalami kesulitan?!" tukas Suga. "kalau begitu aku duluan ke kelas,"
Lelaki bernama lengkap Kim Namjoon itu memperhatikan teman sekelasnya itu. Ah rupanya ia adalah teman sekelas Suga. Pantas saja Suga terlihat familiar. Namun sepertinya Suga masih belum sadar.
Saat hendak beranjak Namjoon melihat sebuah MP3 Player berwarna silver tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dan ia yakin itu milik Suga yang tidak sengaja terjatuh saat mereka bertabrakan tadi.
"Akan kukembalikan nanti." Diletakkannya tumpukan buku itu dilantai dan mengambil MP3 Player itu lalu menyimpannya di saku jasnya. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan menuju ruang guru untuk meletakkan buku-buku catatan tersebut di meja Ahn Seonsaengnim. Dan setelah menyelesaikan urusannya iapun beranjak menuju kelasnya karena bel istirahat berakhir telah berbunyi.
.
.
.
Dua orang remaja laki-laki berjalan beriringan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 Sore. Hari ini hari sabtu yang artinya setiap pukul tiga sore mereka harus bersiap untuk menuju gedung yang terletak di belakang gedung sekolah mereka. Kedua remaja itu adalah Kim Namjoon dan Kim Seokjin. Kedekatan mereka sering disalahartikan oleh teman-teman mereka. Namun walaupun mereka menyangkal tidak ada yang tahu isi hati mereka yang sebenarnya.
"Oh, sepertinya aku lupa mengembalikan ini padanya." Namjoon megeluarkan benda dari dalam saku celananya. Sebuah MP3 Player milik Suga.
"Milik siapa itu?" tanya Seokjin.
"Milik teman sekelasku. Kami tidak sengaja bertabrakan tadi. Dan kurasa ini miliknya," terang Namjoon. "dan aku lupa mengembalikannya."
Seokjin mengangguk. "Siapa tahu nanti kalian bertemu di sana."
"Ya, Hyung benar. Ayo!" Keduanya melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya Namjoon dan Seokjin tidak berada dalam klub yang sama. Namjoon berada dalam klub musik sedangkan Seokjin mengikuti klub bahasa. Namun keduanya sering terlihat berangkat dan pulang bersama. Menuju gedung tempat pelaksanaan kegiatan klub pun bersama-sama. Mungkin hal itulah yang membuat teman-teman mereka salah mengartikan tentang hubungan mereka. Dan sesampainya mereka disana mereka pun berpisah karena letak ruangan klub yang berbeda. Ruang klub musik ada di lantai 2 sedangkan klub bahasa berada di lantai 1.
.
.
.
Namjoon sampai terlebih dahulu dibandingkan teman-temannya yang lain. Ruangan besar yang terisi begitu banyak instrumen musik ini terlihat begitu sepi. Hanya ada Namjoon seorang. Iseng, Namjoon mengeluarkan MP3 Player dan memasangkan earphone miliknya disana. Lalu ia menekan tombol Play.
Didengarkannya musik yang mengalun dari sana. Matanya terpejam menikmati. Tak dihiraukannya dua orang remaja laki-laki yang menghampirinya. Tak lama dipandangnya kedua remaja itu dengan tatapan yangg sulit diartikan.
"Hyung. Kau kenapa?" tanya remaja dengan name tag Kim Taehyung pada Namjoon.
Remaja satunya hanya menatap mereka bingung.
"Teman-teman. Akhirnya aku temukan anggota ketujuh kita."
TBC
Hai haiii Bangchan kembali dari semedinya Bangchan XD Kalian pasti udah lama nunggunya ya sampe bosen hahahahhaha (maaf Bangchan over pede).
Maaf ya gengs, Bangchan bener-bener baru bisa update sekarang DX Bangchan juga sedih bikin kalian nunggu huhuhu.
Nah, di chapter ini kalian ada yang ngerasa familiar gak sama salah satu scene diatas? Hahhahah. Dan akhirnya member bangtan yang lain sudah keluar nih yeay.
Disini hayo siapa yang udah menggalau gara-gara MV Epilogue mereka? Bangchan nontonnya entah kenapa jadi nangis padahal gak ngerti artinya apa huhuhu. Tapi tiba2 aja nangis huhuhu.
Oke deh, Bangchan masih tunggu review kalian ya. Di mohon dengan sangat. Terima kasih buat kalian yang sudah baca dan review di chapter sebelumnya. Buat yang fav dan follow juga terima kasih.
Ini buat kalian yg review tanpa log in:
Vkris: Makasiy sudah review. Bangchan tetep seneng kok meskipun baru review. Iya sabar ya Jimin pasti ketemuan kok sama Yoongi. Ini sudah update ditunggu reviewnya ya hehehe.
Chiminsaeng: Terima kasih sudah review terima kasih juga sudah memberi saran hahahaha. Dinantikan ya sampai akhir hehehe
Yoonmin baby: kurang panjang kah? Aduh emang porsinya sengaja dibikin begitu kok hhehe. Nanti kalo kepanjangan kalian boring lagi. Ditunggu ya sampai akhir. Terima kasih sudah review hhehe.
Sgswag: Terima kasih sudah review. Ditunggu ya sampai akhir hehe.
Jenne: terima kasih sudah review. Iya ini sudah lanjut. Hehehe.
GitARMY: Yoongi gak sakit kok. Dia cuma lemah aja jadi dia perlu minum vitamin dan beberapa obat. Dia juga gak boleh kecapekan huhuhu.
Guest: terima kasih sudah review ditunggu kelanjutannya ya
Yoonminlovers: terima kasih sudah review ditunggu kelanjutannya ya
INDRIARMY: terima kasih sudah antusias dan masih menunggu ff ini. Terima kasih juga sudah kasih saran. Ditunggu ya sampai akhir heheheh
Terima kasih buat kalian yang masih setia dan antusias dengan fanfic ini hahaha. Bangchan terharu sekali melihat antusiasme kalian. Terima kasih juga atas saran kalian ya :) Aku selalu membalas tiap review dari kalian kok. Kalau kalian punya akun ffn aku pasti balasnya langsung via PM.
Pokoknya bangchan tungguin deh review dari kalian muach :*
