In The Mood For Love © Bangsterchan
Cast: BTS all members
Rated: T
Disclaimer: Semua Cast disini bukan milik saya namun mereka milik Keluarga mereka dan BigHit Entertainment (kecuali OC).
a/n: Fanfic ini murni hasil buatan saya. Apabila reader menemukan kesamaan cerita dengan karya orang lain itu bukan unsur kesengajaan. Terima Kasih.
.
.
.
Di ruangan penuh kaca telah berkumpul enam remaja lelaki. Mereka terlihat duduk melingkar dengan pemuda berambut pirang sebagai pusatnya. Atmosfir dalam ruangan yang ternyata salah satu ruangan dalam studio dance itu begitu menegangkan.
"Namjoon-ah, kenapa kau menyuruh kami berkumpul di studio Hoseok?" Seokjin memecah keheningan. Yang lain hanya menunggu tanggapan dari Namjoon.
"Aku menemukan anggota ketujuh." Jelas Namjoon.
"Benarkah?" Tanya Jimin.
Namjoon mengangguk pelan.
Well, sebelum kalian bingung, maka akan saya jelaskan. Namjoon dan kelima temannya yang lain yaitu Kim Seokjin, Jung Hoseok, Park Jimin, Kim Taehyung, dan Jeon Jungkook, membentuk sebuah tim dance yang akan mengikuti kompetisi dance nasional. Hoseok dan Jimin yang menemukan brosurnya.
Keenamnya sudah sangat akrab karena sering bermain bersama. Awalnya mereka hanya berlima, namun semenjak setengah tahun yang lalu Jungkook bergabung. Keenamnya pun memiliki keterkaitan satu sama lain. Namjoon dan Hoseok adalah teman sejak kecil mereka masuk Seoul Internasional High School bersama-sama. Walaupun mereka tidak pernah satu kelas mereka tetap sering pulang-pergi bersama-sama dengan Seokjin. Lalu Seokjin adalah tetangga Namjoon. Mereka sering bermain bersama. Lalu Taehyung adalah adik sepupu Seokjin yang tinggal dirumah Seokjin karena orangtuanya berada di Daegu. Dan Jungkook adalah Kekasih Taehyung. Lalu Jimin dan Hoseok adalah teman sekelas dan satu klub di klub Dance.
Dan Hoseok serta Jimin mengajak mereka semua untuk mengikuti kompetisi dance nasional yang akan diadakan empat bulan lagi. Persyaratan untuk kompetisi itu adalah membuat sebuah koreografi dengan lagu yang dibuat sendiri. Lagu tersebut harus memiliki lirik dan dinyanyikan. Anggota kelompok terdiri dari tujuh sampai sembilan orang. Dan mereka sayangnya kekurangan anggota. Teman-teman di klub dance Jimin dan Hoseok tidak tertarik untuk mengikuti kompetisi itu dan teman-teman Namjoon, Taehyung, dan Jungkook di klub musik hanya tertarik dengan musik klasik. Jadilah saat ini mereka kekurangan orang.
"Maksudmu apa Namjoon?" Seokjin menatap Namjoon bingung.
Namjoon tersenyum penuh arti. Diperlihatkannya MP3 Player tersebut kepada teman-temannya.
"Aku mendengarkan lagu-lagu yang berada di dalam sini. Dan kalian tahu apa yang kutemukan?" Setelah sekian lama membuat penasaran teman-temannya Namjoon akhirnya angkat bicara.
"Lalu?" Taehyung meminta Namjoon melanjutkan.
"Dan lagu-lagu yang tersimpan di dalamnya adalah hasil ciptaan pemilik benda ini sendiri." Jelas Namjoon.
Kelima temannya saling berpandangan. Pernyataan Namjoon barusan tidak membuat semuanya jelas.
"Darimana kau tahu kalau lagu itu ciptaannya sendiri?" Hoseok bertanya.
Namjoon tersenyum. "Kalian meragukanku?"
"Aku mengetahui hampir semua lagu-lagu rap milik musisi terkenal maupun musisi underground. Dan kalian pasti tidak lupa kan dengan kemampuan analisaku?!" terang Namjoon. "lagipula kemampuan rap yang dimilikinya juga bagus."
Yang lainnya hanya mengangguk.
"Sekarang yang harus kita lakukan adalah membujuk pemilik MP3 ini untuk bergabung dengan kita."
.
.
.
Seorang pemuda bersurai pink tengah kebingungan di kamarnya. Isi tas sekolahnya berhamburan di atas ranjangnya. Namun sepertinya barang yang ia cari tidak ada dimanapun di dalam tasnya.
"Kemana perginya?" Suga frustasi. Diacaknya surai pink miliknya.
"Kau mencari apa?"
Suga tidak menjawab pertanyaan Yoongi. Ia terlalu sibuk mencari benda kesayangannya. Sedangkan Yoongi hanya melihat kefrustasian sang kakak kembar dengan datar. Tidak ada niatan untuk membantu. Dengan tenang ia menikmati secangkir teh lemon hangat yang baru dibuatnya tadi.
"Mau kau cari berapa kalipun tetap tidak akan ketemu." Celetuk Yoongi.
"Apa?!"
Yoongi memasuki kamar Suga. Dilihatnya ranjang sang kakak penuh dengan buku-buku sekolah dan benda-benda lain yang biasa ia bawa ke sekolah.
"Asumsiku benda yang kau cari itu pasti kalau tidak terjatuh atau tertinggal di sekolah." Yoongi melanjutkan.
Suga kembali mengingat-ingat dimana terakhir kali ia meletakkan MP3 Player yang daritadi ia cari. Seingatnya ia menggunakannya saat jam kosong tadi pagi. Dan setelahnya menyimpannya di saku celana dan memilih melamun di dalam kelas saat jam istirahat. Suga ingat ia masih menyimpan MP3 miliknya saat menuju ke kantin.
"Ah benar! Aku menabrak seseorang tadi di sekolah." Suga mulai mendapat pencerahan. "kemungkinan besar saat kami bertabrakan tanpa sengaja MP3 ku ikut terlempar dari saku celana."
Yoongi mengangguk-angguk lucu. Ia masih berdiri sambil meminum teh lemonnya.
"Yah semoga saja ada orang yang baik hati menyimpannya lalu mengembalikannya padamu besok." Yoongi berlalu meninggalkan sang kakak yang kelihatannya semakin frustasi mengetahui kemungkinan MP3nya dicuri atau dibuang oleh cleaning service sekolahnya.
"Bagaimana kalau orang yang menemukannya mencuri lagu-laguku?"
.
.
.
Hari Minggu. Tentunya sekolah libur. Dan hari libur seperti ini dimanfaatkan oleh Yoongi untuk mendekam di studio pribadi miliknya. Oh, milik Suga juga sih. Namun lebih sering dipakai oleh Yoongi. Mereka sering membuat lagu bersama saat Suga datang berkunjung.
"Apa yang kau buat?" Suga tiba-tiba masuk menghampirinya.
"Oh. Tidak. Hanya meneruskan lagu yang sempat tertunda kemarin." Sahut Yoongi.
Mendengar jawaban Yoongi membuat Suga merengut sedih.
"Wae?"
"Hanya... teringat dengan MP3 milikku." Keluh Suga.
Yoongi mengalihkan perhatiannya ke arah Suga. "aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya kembali."
Suga menghela napas. "aku hanya sedih lagu-laguku menghilang."
"Tapi kan kau punya salinannya di laptop?" Yoongi kembali mengerjakan lagunya.
"Kau benar. Tapi kehilangan lagu bagiku sama saja mengakhiri masa depan." Tukas Suga.
Yoongi hanya menggelengkan kepala. Kakaknya ini terlalu berlebihan.
"Sudahlah. Semoga saja yang menemukannya orang yang pengertian." Suga mengangguk setuju.
.
Berdiam diri di rumah tidak membuat Suga betah. Ia bukan adiknya yang bisa berdiam diri dan bergelung dalam selimut. Mereka memang sama-sama menyukai tidur, tapi Suga tidak addict seperti Yoongi.
Dan sore harinya ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman sekitar komplek rumahnya. Siapa tahu ia bisa mendapat insipirasi untuk membuat beberapa bait lirik lagu. Ia pun meminjam sepeda milik ayahnya dan mengayuhnya perlahan. Tak lupa headphone yang melingkar di lehernya.
Ngomong-ngomong soal adiknya, Yoongi sedang berkencan dengan buku dan selimut.
Sesampainya di tempat tujuan ia pun memilih untuk menuntun sepeda sang ayah dan berjalan menuju bangku panjang terdekat. Dikenakannya headphone yang setia terkalung di lehernya dan mengeluarkan catatan kecil di saku celananya untuk menuangkan inspirasinya.
.
Hari sudah semakin sore. Namun pengunjung taman itu semakin banyak berdatangan. Angin sore yang sepoi-sepoi membuat Suga semakin terhanyut dalam dunianya. Ia tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengambil tempat di sebelahnya.
Ketenangan Suga terusik kala seseorang menarik headphone hingga terlepas. Dengan kesal Suga menoleh ke arah si pengganggu.
"Apa yang kau lakukan?" desis Suga. Matanya terbelalak kala ia mengingat pemuda di hadapannya ini.
"KAU!"
Pemuda berambut oranye itu tertawa. Suara tawanya yang konyol-menurut Suga-membuat pemuda bersurai pink itu semakin kesal.
"Kita bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya." Seru pemuda itu. "Jangan-jangan kita berjodoh?!"
Suga mendengus kesal. "jangan bicara seolah-olah kita saling mengenal."
"ah, kau benar. Namaku Park Jimin." Jimin mengulurkan tangannya untuk berjabat. "kau bisa memanggilku Jimin. Sekarang siapa namamu?"
Suga hanya menatap uluran tangan dari Jimin tanpa niat untuk menyambutnya.
"Kenapa aku harus mengatakan padamu siapa namaku?"
Jimin tampak berpikir. "agar kita saling mengenal. Maka kau tidak akan menganggapku orang asing. Lagipula kita satu sekolah."
"Saling mengetahui nama masing-masing tidak lantas membuat kita menjadi akrab. Sudahlah aku pergi saja." Suga membereskan catatan kecilnya. Moodnya tidak lagi bagus seperti tadi. Ia perlu berendam untuk melepaskan kekesalannya. Ia pun beranjak meninggalkan Jimin yang masih terdiam di tempat dengan menuntun sepedanya.
"Ah, ya. Kau bilang ini ketiga kalinya kita bertemu. Tapi seingatku kita hanya pernah bertemu di sini dan di sekolah." Tukas Suga. "lalu dimana lagi kita bertemu?"
Jimin tentu saja kebingungan. Apakah pemuda dihadapannya ini sudah lupa?
"Kau tidak ingat?" Jimin memastikan. "kita bertemu pertama kali di toko buku. kau lupa? Buku bersampul kupu-kupu?"
Suga semakin tidak mengerti. Ia jarang pergi ke toko buku. Ia hanya kesana jika ada perlengkapan sekolah yang perlu dibeli. Selebihnya ia tidak pernah menginjakkan kaki disana. Ia bukan Yoongi yang terlalu mencintai buku.
Tunggu! Yoongi?
Sepertinya pemuda bernama Jimin ini salah mengira aku dengan Yoongi. Batin Suga.
"Lupakan. Aku pulang saja." Tukas Suga. Ia kembali menuntun sepedanya dan pulang menuju rumahnya.
Jimin? Oh ia hanya diam tanpa kata menyaksikan kepergian Suga.
.
Setelah makan malam Suga menghampiri Yoongi di kamarnya. Dilihatnya sang adik tengah asyik memainkan laptop tanpa menghiraukan kehadirannya. Suga tahu bahwa Yoongi menyadari kehadirannya. Adiknya terlalu peka.
"Aku tadi bertemu dengan kenalanmu." Suga merebahkan dirinya disebelah Yoongi.
"Kenalanku? Siapa?" tanya Yoongi.
"Pemuda berambut oranye yang kau temui di toko buku bernama Park Jimin." Jawab Suga.
Yoongi mengerutkan kening. Keluar Rumah saja tidak pernah apalagi memiliki kenalan. Namun mendengar rambut oranye membuat Yoongi teringat.
"Ah, kami bukan kenalan. Tahu namanya saja aku tidak." Terang Yoongi.
"Eyy, benarkah? Kau yakin dia bukan pacarmu?" selidik Suga.
"Jangan konyol. Kami tidak saling mengenal kok." Yoongi tidak lagi mendengarkan Suga. Mendengar cerita Suga yang bertemu dengan pemuda itu entah kenapa membuat hati Yoongi merasa iri.
Apa? Iri? Yang benar saja.
TBC
Yah, bertemu lagi dengan Bangchan setelah berabad-abad tidak bersua XD Maafkan Bangchan yang seenaknya sendiri menghilang tanpa kabar. Sebenarnya chapter 6 sudah ada lamaaaa banget. Dan aku mau publish tapi masih galau. Soalnya chapter 7 masih stuck ditengah jalan. Bangchan sebenernya mau bikin sampe banyak chapter supaya kalian gak nunggu lama update an selanjutnya. Bangchan kudu gimana coba? T _T Selain ngestuck dichapter 7 Bangchan juga disibukkan sama Tugas Akhirnya Bangchan waktu itu. Jadi maaf beribu-ribu maaf karena membuat kalian nunggu lama. Semoga masih ada yang inget sama FF ini ya. Kalo lupa monggo dibaca ulang Chapter 1 nya hehehehhehe.
Oh iya Bangchan juga minta maaf untuk kali ini gak bales review kalian. Tapi makasiy banyak sebanyak-banyaknya karena dukungan kalian dalam bentuk apapun baik itu review, favorit, atau yang udah follow cerita ini. Ditunggu ya reviewnya untuk chapter 6 ini ^^. Maaf juga kalo Bangchan ga bisa update chapter 7 nya secepat mungkin karena bentar lagi UTS huhuhu.
Sekali lagi TERIMA KASIH BANYAK GENGSSSSSSS
