SWEET POISON
CHAPTER 2
KANG DANIEL X LAI GUANLIN
WANNA ONE
MALE X MALE
Guanlin turun dari taksi yang dinaikinya, si supir yang khawatir dengan keadaan Guanlin yang terlihat pucat dengan mata yang sedikit bengkak. Supir taksi itu menatapnya prihatin. "Putus cinta", fikir supir taksi itu. Pemikiran supir taksi itu memang benar kalu Guanlin baru saja mengakhiri hubungannya dengan si mantan kekasihnya. Dengan tatapan kosong Guanlin terus berjalan menuju rumahnya,sensasi basah dan dingin ia rasakan kala hujan menghujani tubuh kurusnya. Tatapan matanya yang kosong hanya memandang ke depan, membuatnya terlihat sangat putus asa, seakan-akan ia siap mengakhiri hidupnya saat ini juga, toh tubuhnya juga sudah tak bisa merasakan apapun. Kecuali,
Kecuali rasa sesak di dadanya, mungkin lebih tepatnya disebut sakit hati. Rasanya seakan-akan dadanya dihujani oleh ribuan pedang es,yang meninggalkan rasa perih dan dingin yang enggan pergi. Inikah yang orang bilang sakit hati? baru kali ini ia merasakan sakit hati karna yang ia tau dari novel-roman yang sering ia baca bahwa cinta itu indah, cinta itu kebahagiaan.
Akhirnya setelah berjalan cukup lama, Guanlin sampai di depan gedung apartemennya. Gedung apartemen tempat dia tinggal tidak terlalu besar, tetapi bersih dan terawat selain itu harga sewa per-bulan nya pun tidak terlalu mahal, jadi tidak terlalu membebankan mahasiswa perantauan sepertinya. Oh ya Guanlin sebenarnya dilahirkan di Taiwan, namun karna Guanlin merasa kalau dunia perfileman Korea Selatan lebih maju ketimbang negara asalnya jadilah dia memilih untuk berkuliah di Korea Selatan.
Di gedung apartemen ini hanya ada sekitar enam lantai dan rumah Guanlin terletak di lantai dua. Ia sengaja memilih lantai dua agar mempermudah mobilisasinya, dan beruntungnya waktu pertama kali ia pindah ke Seoul ruangan di lantai dua ada yang kosong. Sebelumnya ruangan Guanlin di tempati oleh pasangan suami istri namun mereka memilih untuk membeli sebuah rumah kecil.
Sebelum masuk ke dalam apartemennya ia menatap langin hitam yang sedang menurunkan tetesan kesedihan seakan-akan ikut bersedih atas apa yang dialami guanlin. Dalam diam Guanlin berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa aku pernah berbuat salah padanya?"
"Apa aku kurang baik dimatanaya sampai-sampai ia menghianatiku."
"Apakah aku tak pantas dicintai?"
"Apakah semuanya Hanya kebohongan."
"Aisshh, dasar lesbian, untung saja aku tak begitu mencintainya, ya aku tak begitu mencintainya. Baiklah Guanlin yang tampan hari ini kau boleh bersedih dan menangis sepuasnya, tapi hanya untuk hari ini. Besok adalah hari yang berbeda, anugrah yang berbeda, kau pasti bahagia!"
"Benar besok pasti bahagia, SEMANGAT!"
"SEMANGAT!" Guanlin berteriak sangat kencang, mencoba melampiaskan amarahnya.
Sebenarnya Guanlin ingin lebih lama menatap langit sambil berteriak tapi jika ia lakukan itu bisa-bisa ia di demo seluruh penghuni apartemen dengan alasan polusi suara dan juga badannya sudah sangat lemah karna diguyur hujan beberapa saat yang lalu. Dengan langkah pasti Guanlin memasuki rumahnya.
...
Wajahnya, ekspresi kaget di wajahnya sebenarnya sangat menghiburku. Kadar manisnya jadi berlipat ganda. Ahh aku jadi makin ingin memilikinya. Tunggu sayang, sampai kau jadi milikku, kupastikan kau takkan pernah bisa lepas dari rangkulanku sayang.
Memikirkan hal-hal yang akan aku lakukan saat pria manis itu jadi milikku sudah membuatku senyum-senyum sendiri. Yah walau jalan yang kulewati untuk memilikinya terbilang cukup ekstrim, tapi tak apalah selama akhirnya kau bisa jadi milikku.
"Daniel-Oppa kenapa kau melamun terus? Mau melanjutkan yang tadi." Ucap wanita itu, wanita jalang yang berani-beraninya mendekati kucing manis-ku. Wanita itu maksudku Da Hee yang kini sudah menjadi mantan pacar Guanlin benar-benar tak pantas menjadi kekasih kucing manis-ku, dia tak lebih dari wanita jalang yang haus akan sex. Lihat saja hanya dengan sedikit rayuan dia mau kuajak tidur, tanpa memikirkan kalau dia sudah memiliki kekasih. Dan sialnya kekasihnya adalah kucing manis-ku. Kucing manis-ku Lai Guanlin. Lai Guanlin yang hanya untukku dan hanya akan mencintaiku.
"Ahh, Da Hee bukankah tadi itu pacarmu, kenapa kau tidak mengejarnya?" dengan senyum terpaksa aku berbicara padanya, aku berusaha menahan amarahku padanya.
"Huh, dia tidak berguna. Menciumku saja dia tidak bisa, aku tidak suka pria seperti itu." Tahan Daniel, tahan kau tak bisa langsung menghajar wanita jalang ini, bisa bisa kau di penjara. Tapi ucapannya tadi membuat hatiku sedikit senang karna ternyata Guanlin dan dia belum melakukan ha-hal yang berbau sex. Seringai kecil muncul diwajahku, tunggulah sebentar Guanlin sayang kau akan merasakan nikmatnya sex bersamaku sayang.
"Oh begitu, ahh tapi aku sedikit tidak enak padanya." Bohongku.
"Jangan dipikirkan oppa, kau hanya perlu memikirkanku." Tentu aku hanya memikirkanmu, memikirkan bagaimana memberi pelajaran padamu jalang.
"Da Hee aku harus pulang segera, ada dokumen perusaan yang harus kuselesaikan."
"oppa jangan." Dengan muka cemberut yang menurutnya imut dia mencoba mencegahku tapi wajahnya malah membuatku ingin meludahi wajahnya.
"Maaf ya, tapi kan kita sudah bersenang-senang semalam." Sebenarnya aku tidak melakukan hal yang aneh padanya. Awalnya aku memang menggodanya, lalu dengan sedikit obat penenang aku membuat dia seperti mabuk. Setelahnya wanita jalang ini kuserahkan pada anak buahku. Aku tak sedikitpun menyentuhnya tapi karna aku yang terakhir dia lihat mungkin dia berfikir bermain denganku.
"Baiklah oppa, mau ku antar?"
"Tidak usah trimakasih." Aku bangun dari ranjang dan memakai pakaianku, ku langkahkan kakiku keluar dari kamar, tapi sebelum itu aku melihan box kue yang ada di lantai. Bo x itu tidak rusak sama sekali. Aku memungutnya dan melihat isi box itu, ternyata banana muffin tebakku saat mencium aromanya. Aku tersenyum, pasti ini kue yang di jatuhkan Guanlin tadi. Aku tidak lupa berkata pada Da Hee. "Oh iya, mulai sekarang jangan hubungi aku lagi."
"Apa maksudmu oppa, kenapa kau berkata seperti itu?" Pertanyaanku dia jawab dengan pertanyaan kembali, mungkin dia kaget dengan apa yang baru aku katakana dan dia berfikir aku sungguhan tertarik padanya tapi maaf aku hanya memanfaatkanmu.
"Kau tanya alasannya, baiklah akan ku jawab. Karna aku akan sibuk beberapa bulan ke depan. Perusahaanku rencananya akan meluncurkan beberapa produk baru." Kenyataannya memang perusaan milikku akan mengeluarkan produk baru tapi tidak sampai membuatku sangat sibuk sekali. Alasan sebenarnya adalah karna aku hanya memanfaatkanmu dalam rencanaku bodoh. Segera aku keluar dari apartrmen wanita ini tapa melihat wajahnya pun aku sudah tau reaksi apa yang akan dia munculkan.
"Rencana awal berhasil, Guanlin-sayang tunggulah sebentar lagi."
…..
Bangun dengan perasaan yang masih mengganjal adalah hal yang paling menyebalkan bagi Guanlin. Semalam ia susah tidur karna memikirkan alasan kenapa dia bisa dicampakan oleh mantan pacarnya. Guanlin merasa kepalanya sangat sakit saat ia bangun dari tempat tidurnya. Guanlin berjalan menuju kamar mandi, dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin. "Sangat mengenaskan." Ucapnya mengingat lingkar hitam yang mengitari matanya serta rambut kusutnya.
"Baiklah aku akan menemui Da Hee dan menanyakan apa alasannya menduakanku, tapi sepertinya aku harus mengatasi wajah dan rambutku dulu, semangat Guanlin." Guanlin membulatkan tekat kalau dia akan menemui mantannya dan bertanya apa alasannya. Guanlin merasa kalau kali ini aku harus tampil semenawan mungkin agar mantannya itu merasa menyesal sudah menduakan pria mempesona seperti dia.
Setelah 15 menit aku habiskan di kamar mandi akhirnya aku selasai lantas ku pilih pakaian yang menurutnya paling bagus dan paling mahal yang dia miliki dan bisa membuat mantannya terpesona. Pilihannya ia jatuhkan pada kemeja putih dan sweather biru, ia rasa kombinasi pakaian itu kan sempurna di tubuhnya. Tidak lupa ia mengambil celana ripped jeans hadiah ulang tahun sepupunya tahun lalu.
Setelah siap dengan pakaian ia mulai manata rambutnya sedemikaian rupa agar terlihat tampan, ia juga menggunakan sedikit krim pelembab dan pelembab bibir yang dia tahu dari temannya temannya mahal dan limited edition. Sebenarnya bukan Guanlin yang membeli semua itu. Melainkan ibunya yang ada di Taiwan. Wanita itu fans berat drama korea terutama aktris Jun Jihyun, jadi saat ada drama baru Jun Jihyun ibunya selalu membeli semua riasan yang di gunakan artis itu, dan lagi ibunya selalu membeli dalam jumlah berlebihan dan memberikan sebagiannya pada Guanlin.
Setelah selesai dengan persiapannya Guanlin mengambil tasnya dan bergegas pergi ke kampus. Guanlin tau kalau ia bisa menemui Da Hee di kampus karna ia sangat ingat jadwal kuliah mantannya.
Setalah menempuh 15 menit perjalanan dari apartemen, Guanlin sampai di kampusnya. Dengan percaya diri ia mulai berjalan memasuki kampus. Kantin kampus adalah tempat yang ia tuju, ia tau kalau Da Hee pasti ada di kantin.
Guanlin berjalan menyusuri lorong kampus dengan langkah percaya diri bak artis yang menyebarkan pesonanya, berharap banyak wanita yang akan terpikat pesonanya.
Entah disadari atau tidak penampilan Guanlin saat ini jauh dari kata tampan ataupun keren. Malahan ia terlihat sangat manis. Wajahnya terlihat lebih cerah dan lembut, terutama pipinya yang terlihat merah muda seperti warna bunga sakura. Celana ripped jeans yang dipakainya ternyata sangat pas di kakinya bahkan terkesan ketat, membuat volume bokong-nya bertambah. Seakan-akan bokong itu minta untuk diremas ditambah lagi sweather biru yang dipakainya menambahkan kesan manis dan polos.
Dengan penampilan seperti itu jangan harap ada wanita yang meliriknya. Yang ia dapatkan hanya lah tatapan lapar dari para mahasiswa dan ada mahasiswa yang tanpa sadar membelalakan matanya sambil membuka mulut. Sepertinya ia sedang membayangkan Guanlin melakukan hal yang di inginkan. Guanlin sama sekali tidak sadar kalu sedari tadi para mahasiswa menatapnya dengan pandangan lapar sampai salah satu mahasiswa mendekatinya.
"Hai manis, mau menemaniku yang kesepian ini. Rumahku saat ini kosong loooh." Dengan tatapan yang berminat melecehkan Guanlin mahasiswa itu mencoba merayu Guanlin.
"Maaf, Hyunbin-hyung aku sedang tidak ingin berurusan denganmu. Permisi." Dengan sopan Guanlin menolak ajakan Hyunbin seniornya. Bukan Hyunbin namanya kalau ia menerima penolakan. Secepat kilat tangan Hyunbin sudah sampai di bokong sintal Guanlin. Dengan gerakan pasti Hyunbin meremas bokong Guanlin.
"YAAA, KAU BAJINGAN GILAAA!" Teriak Guanlin dengan wajah kaget atas pelecehan yang ia terima.
Guanlin yang tidak terima bokongnya dilecehkan berteriak, namun saat ia ingin membalas Hyunbin, anak itu sudah melarikan diri. Guanlin baru sadar kalau kejadian tadi disaksikan banyak mahasiswa. Ia menatap sekelilingnya dengan perasaan marah, takut dan malu yang menjadi satu. Bisa bisannya aku dilecehkan di muka umum fikirnya.
Karna malu Guanlin memilih meneruskan jalannya dan menghiraukan ucapan kotor dari mahasiswa yang melihat kejadian pelecehan tadi. Saat berjalan menuju kantinpun masih ada mahasiswa yang menggodanya seperti mengajaknya nonton, makan, memberikan nomor telefon bahkan ada yang terang terangan mencolek bahkan meremas bokongnya saat ia jalan.
Di hari itu ia sadar kalu ia tak akan berias saat pergi ke kampus. Karna ia sadar ternyata banyak predator kelebihan hormon nayana dan kehausan kasih sayang di kampusnya.
Setelah mengalami berbagai macam cobaan, Guanlin akhirnya menemukan Da Hee –mantannya- di kantin. Tepat seperti yang ia perkirakan. Tanpa menunggu lagi Guanlin mendekati mantannya. Reaksi Da Hee saat Guanlin mendeka bukanlah reaksi kaget malahan ekspresi sebal yang ia perlihatkan pada Guanlin. Lupakah dia kalau dia sudah menghianati Guanlin. Dasar wanita tidak tau malu.
"Da Hee-ah apa kau ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan." Tanya Guanlin yang sudah duduk di bangku depan Da Hee.
"Kau mau bicara apa?" balas Da Hee dengan nada yang sinis.
"Ah, itu. Aku hanya ingin meminta penjelasanmu. Maksudku apa kau tidak merasa bersalah, aku mau memberimu kesempatan untuk menjelaskan." Jelas Guanlin tidak lupa ia memberikan senyum manisnya setelah selesai berbicara.
"Kau mau tau kenapa aku menghianatimu kan?" Tanya Da Hee dengan wajah ketus miliknya
"I-iya." Guanlin sedikit kaget karna Da Hee sepertinya tahu apa yang ada di fikirannya.
"Alasannya, karna kau merebut perhatian Hyunbin-oppa." Ucapnya dengan senyum, bukan senyum tulus melainkan senyum menghina.
Guanlin kaget dengan alasan yang diberikan Da Hee. Ia tak pernah merasa merebut perhatian Hyunbin-hyung malah Hyunbin-hyung selalu menggodanya."Hah? Merebut perhatian katamu, kau pikir Hyunbin itu barang apa?"
"Dan juga bukan hanya Hyunbin-oppa tapi Jinyoung-oppa, Joshua-oppa dan masih banyak oppa yang lain. Kau sengaja ya?" kilatan amarah terlihat dari mata gadis itu
"Tidak, tidak. Aku tak tau apa yang kau bicarakan. Mereka semua itu hanya kenalanku. Kau salah paham."
"Salah paham apanya, jelas-jelas kau menggoda mereka. Seharusnya aku yang diperhatikan oleh mereka ataupun digoda mereka. Aku kan gadis paling cantik disini. Tapi aku tak percaya semua itu kau yang mendapatkannya."
"Hey hey kau salah paham semua itu tidak benar aku tid-" omongan Guanlin terhenti karna tiba-tiba Da Hee menamparnya.
"Kau jangan berlagak bodoh ya, kau itu sudah mengambil seluruh perhatian pria tampan di kampus ini. Aku muak denganmu."
Da Hee berdiri dari tempat duduk nya dan meninggalkan Guanlin. Sepeninggal Da Hee Guanlin hanya diam mematung. Dia tidak mengerti apa yang di katakan Da Hee tadi. Sungguh Guanlin tidak punya niatan untuk menarik perhatian orang-orang yang disebutkan Da Hee tadi. Guanlin juga masih normal, ia masih menyukai wanita. Tapi perkataan Da Hee tadi seoulah menghentak kesadarannya.
Apakah dimata orang lain ia terlihat seperti yang dikatakan Da Hee tadi. Apakah orang lain berfikiran kalau dia sengaja mengambil semua perhatian pria tampan di kampusnya. Semua pertanyaan itu membuat Guanlin makin pusing dan merasa mendapat masalah baru. Padahal, tujuan ia menemui Da Hee adalah menyelesaikan gundah di hatinya, tapi sudahlah tak usah terlalu dipikirkan. Lagipula ia tak pernah sengaja untuk melakukan semua hal yang di katakan Da Hee tadi.
