SWEET POISON
CHAPTER 3
KANG DANIEL X LAI GUANLIN
WANNA ONE
MALE X MALE
Sepeninggal Da Hee, tiba-tiba seseorang mendekati mejaku dan duduk di depanku. Aku yang sadar akan hal itu mengumpulkan kesadaranku dan melihat siapa yang duduk.
"Wow, ada yang kesepian ternyata. Bagaimana kalau pria tampan ini menemanimu? Mau tidak?" ternyata Jinyoung-hyung , salah satu pria yang diduga Da Hee memusatkan perhatian pada Guanlin. Sebenarnya Jinyoung bukan orang yang jahat, tapi sifatnya yang suka mengganggu dan banyaknya pemujanya baik pria atau wanita kadang membuatku merasa tidak nyama berada di dekatnya. Seperti saat ini.
"Ah, tidak usah hyung. Lagi pula aku akan segera pulang." Aku berdiri dari tempat duduk ku tapi Jinyoung-hyung dengan gesitnya berpindah tempat duduk jadi di sebelahku dan menahanku untuk tetap duduk. Dia juga merangkulku dan mendekatkan wajahnya di wajahku. "Jangan seperti itu Guanlin. Aku tau kau baru di campakan. Bagaimana kalau kau main kerumahku dan kita bisa "bermain" semalaman. Bagaimana?"
Aku tau kemana arah pembicaraan Jinyoung-hyung. Dasar otak mesum yang dia pikirkan tidak pernah jauh dari selangkangan, dasar. Tiba tiba Jinyoung-hyung mendekatkan wajahnya dan menggigit pipiku. Aku yang kaget langsung mendorongnya menajauh dariku. Dia terjatuh dari kursinya dan meringis kesakitan.
Aku baru ingat kalau aku masih ada di kantin. Ku sapu penglihatanku ke seluruh penjuru kantin. Untunglah kantin sudah sangat sepi tak ada orang lain selain kami berdua, mungkin karna kegiatan kampus yang belum aktif jadi masih jarang mahasiswa yang datang ke kampus.
Jinyoung-hyung bangun dan menatapku dengan nyalang. "Beraninya kau menolakku, kau tidak tau ya banyak orang yang mengantri untuk bisa tidur dengan orang tampan sepertiku." Dasar bajingan omongannya sungguh kasar sekali, dia pikir aku mau tidur denganya. Jangan harap.
"Maaf ya hyung. Aku memang menolakmu, dan aku tak punya niatan untuk tidur denganmu. Permisi. Oh ya satu lagi, aku masih lurus." Aku berdiri dan akan pergi menjauhinya. Tapi lagi-lagi pria itu menghalangiku dia mencengkram lenganku dengan erat. Ini sungguh sakit, aku sedikit meringis sakit saat ia melakukan itu.
"Ayolah, jangan jual mahal. Aku tau kau mau denganku. Ayo jangan buat aku memaksamu, sayang." Dasar sial senaknya saja memanggilku sayang. Ia menarikku menjauhi kantin menuju parkiran mobil. Aku baru tahu kalau ada mahasiswa yang membawa mobil, kurasa keluarganya cukup kaya sehingga ia bisa bersikap seenaknya seperti itu. Aku terus meronta saat di tarik Jinyoung-hyung. Namu tenaga Jinyoung hyung jauh lebih kuat dariku. Aku tak bisa melepaskan diri darinya. Lalu sebuah ide muncul di kepalaku.
"AHH, LIHATT ADA KUCING YANG TERBANG." Guanlin berteriak dan menunjuk ke arah belakang Jinyoung. Jinyoung yang kaget akan teriakan tiba-tiba Guanlin langsung memutar kepalanya dan secara otomatis merenggangkan cengkramannya di lengan Guanlin. Dengan sigap Guanlin menghempaskan tangan Jinyoung dan berlari sekencang mungkin.
Jinyoung yang sadar sudah dibodohi mengejar Guanlin tapi tidak berhasil karna Guanlin sudah hilang dari pandangannya.
...
Ruangan yang ia tempati lebih luas dari ruangan lain, wajar saja karna ia adalah seorang direktur suatu perusahaan. Walaupun itu bukan perusahaan yang besar tapi perkembangan perusahaan itu cukup baik dan ia yakin kalau perusahaan yang ia urus akan berjaya di masa depan.
Didepan jendala ruangan yang kedap suara itu, sesosok pria tampan sedang serius memahami isi dokumen perusahaannya. Sungguh dalam keadaan seperti ini dia terlihat sangat tampan. Kharismanya sangat memancar membuat semua wanita ingin menempati tempat spesial di hatinya.
Tapi sayang semua itu hanya akan jadi angan kosong untuk orang yang mendambanya, karna saat ini sudah ada seseorang yang menempati tempat paling spesial dihatinya.
Tok tok tok
Suara dari pintu yang diketuk mengalihkan perhatiannya dari dokumen yang tengah ia pelajari. Seseorang masuk keruangan itu. Ternyata ia adalah mata-mata yang ia tugaskan untuk mengawasi pujaan hatinya.
"Presdir ada hal penting yang harus kau ketahui." Ucap pria itu. Daniel menghentikan aktifitasnya dan mulai mendengar apa yang ingin dikatakan mata-matanya itu.
"Saya mengawasi Lai Guanlin di kampusnya. Sepengawasan saya banyak sekali pria yang mengganggu Guanlin, tapi dari semua itu ada dua pria yang saya rasa cukup bermasalah." Pria itu memberikan sebuah amplop dan di dalam amplop itu terdapat beberapa foto Guanlin saat bersama Hyunbin dan juga Jinyoung. "Di foto pertama, itu Hyunbin. Dia mengganggu Guanlin dan meremas bokongnya yang kedua itu Jinyoung. Dia menggigit pipi Guanlin dan memaksa Guanlin ikut dengannya. Tapi Guanlin berhasil kabur."
"Kerja bagus. Kau boleh keluar."
"Terima kasih Presdir."
Setelah pria itu pergi Daniel, si presdir tampan itu berteriak marah. Ia tak bisa terima ada orang asing yang menyentuh miliknya. Ya, Lai Guanlin adalah miliknya dan itu sudah pasti. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu. Seringai menyeramkan muncul di wajahnya yang tampan.
"Lihat saja, berani-beraninya kalian menyentuk milikku. Kalian akan menyesal."
….
Setelah berhasil mengelabui Jinyoung-hyung Guanlin berlari seperti seorang pencuri yang di kejar masa. Akhrinya setelah perjuangan yang tidak terlalu panjang Guanlin sampai di halte bus. Ia mengambil nafas sambil melihat sekelilingnya. Memastikan kalau Jinyoung-hyung tidak mengikuti dia. Guanlin bisa bernafas lega karna ia tak menlihat penampakan jinyoung-hyung di dekatnya.
Tak berapa lama bus datang dan Guanlin memasuki bus itu. Guanlin duduk di bangku dekat jendela. Ponsel yang di kantungi Guanlin bergetar menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Dilihatnya layar telfon, dari nomor asing. Guanlin membuka pesan itu dan membaca isinya.
Dari : 012-546-xxx-xxx
Sayang jangan kau biarkan tubuhmu itu disentuh orang lain
Karna yang kau hanya milikku, tubuhmu, hatimu, semuanya milikku
Milikku
Ingat itu sayang
M.I.L.I.K. K.U
Kerutan timbul di wajah Guanlin saat membaca pesan tadi. Orang gila mana yang mengirimkan pesan itu padanya. Apa-apan itu mengklaim aku sebagai miliknya. Aku ini bukan milik siapa-siapa. Dasar orang gila kurang kerjaan. Guanlin memutuskan untuk tidak memperdulikan pesan dari orang asing itu.
Ia pikir pesan itu paling hanya orang yang iseng dengannya seperti halnya Hyunbin dan Jinyoung. Ia menghapus semua pesan di ponselnya dan mengantongi ponselnya.
Bagi Guanlin hari ini adalah hari yang cukup panjang. Ia ingin segera sampai kerumah dan tidur di kasurnya yang nyaman. Memikirkannya saja sudah membuat Guanlin ngantuk. Ponsel milik Guanlin bergetar kembali. Kali ini getarannya lebih panjang menandakan ada telfon yang masuk. Dengan perasaan yang sedikit kesal Guanlin mengambil ponsel yang tersimpan di kantong celananya.
Ternyata telfon dari sahabatnya Seonho.
"Yaa, Guan-ah aku ada di depan rumahmu sekarang."
"Apa yang kau lakukan di depan rumahku, Yoo Seonho? Kau kurang kerjaan ya?"
"Ya, kau ini bagaimana. Kudengar kau sakit hati jadi aku ingin menghiburmu, kau ini bagaimana sih?" mendengar perkataan sahabatnya membuat seulas senyum muncul di wajah Guanlin. Sahabatnya ini memang sangat pengertian. Guanlin merasa beruntung memiliki sahabat seperti Yoo Seonho.
"Heheheeh, kau tau saja. Tunggu sebentar aku akan segera sampai."
"Ah kau ini. Baiklah cepat sampai rumah. Aku tunggu." Diseberang sana Seonho memutuskan sambungan telfon mereka. Guanlin memandangi sebentar layar telfon yang masih tertera nama Seonho. Andai saja Seonho ini wanita pasti sudah sejak lama Guanlin menjadikan Seonho kekasih.
"Ah, tidak tidak. Aku pasti sudah gila." Guanlin menggelengkan kepalanya memikirkan hal tadi. Mana mungkin Seonho menjadi perempuan. Karna terlalu memikirkan hal konyol tadi Guanlin sampai tidak sadar kalu dia sudah hampir dekat dengan halte pemberhentiannya.
Guanlin turun dari bus yang ditumpanginya. Guanlin berjalan sebentar menuju Gedung apartemennya. Saat sudah sampai di lantai dua apaertemen Guanlin melihat Seonho yang sudah ada di depan pintu rumahnya. Lucunya posisi Seonho saat ini adalah berjongkok sambil bertopang dagu. Tidak lupa pose cemberutnya yang membuat Seonho terlihat imut.
Guanlin tertawa kecil saat melihat Seonho yang menggemaskan, Guanlin ingin sekali mencubit pipi Seonho. Tapi kalu ia melakukan itu bisa-bisa Seonho marah dan memukulinya. Asal kau tau saja pukulan Seonho itu lumayan sakit. Biarpun Seonho terlihat imut tapi kalau soal tenaga jangan di remehkan. Makan saja lima kali dalam sehari sudah pasti ia memiliki tenaga yang besar.
"Ya Guanlin aku sudah lama menunggumu tau!"
"Ah, maaf-maaf aku sedang dalam masalah tadi. Tapi sekarang tidak lagi. Nah Seonho ayo masuk."
"Yeay."
Seonho bersorak kecil saat tau dia bisa masuk ke rumah Guanlin. Guanlin melihatnya dengan gemas. Melihat Seonho dan keceriannya membuat Guanlin sedikit melupakan masalah yang baru saja dihadapinya.
"Ah akhirnya aku bisa duduk di tempat yang layak." Ucapnya senang.
"Maaf- maaf Seonho-ya membuatmu menunggu. Kau mau minum apa?" Tanya Guanlin, setengah merayu Seonho agar tidak marah lagi.
"Jus jeruk hyung. Ah jangan lupa keluarkan makanan yang banyak dari lemari es mu hyung." Perintahnya tidak mau rugi.
"Ya, ya tunggu sebentar ya." Aku menuju ke dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan jus jeruk sesuai permintaan Seonho. Tidak lupa aku mengambil beberapa makanan ringan dari lemari es ku untuk Seonho. Untung saja ini masih awal bulan jadi persediaan makanan serta uangku masih cukup untuk memuaskan perut anak ayam ini.
"Ini Seonho, anak ayam yang imut, silahkan dinikmati." Guanlin berlagak seperti seorang pelayang yang melayani pangerannya.
"Makasih hyung, kau memang yang terbaik. Heheheh."
Seonho menegak jus dalam gelas sampai habis, terlihat sekali kalau dia sangat kehausan. Mungkin dia menunggu aku terlalu lama. Batin Guanlin.
"Hyung kau tidak apa-apa kan?" dengan mulut yang penuh dengan makanan Seonho bertanya padaku. Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan untuk mencubit pipi Seonho. "Ya, hyung jangan cubit pipiku."
"Ah iya-iya maaf. Lagian kau sangat menggemaskan tadi. Tadi kau tanya apa? Oh iya tenang saja aku tidak apa-apa kok."
"Da Hee itu memang keterlaluan. Berani sekali dia menduakanmu. Kau perlu aku untuk menghabisinya hyung. Ini akan menjadi menarik." Ucap Seonho dengan penuh semangat dan jangan lupakan pipinya yang masih menggembung akibat menampung beberapa makanan dalam satu waktu.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Guanlin menantangnya.
"Aku bisa berkelahi dengannya." Jawabnya penuh percaya diri. Guanlin sedikit terkikik mendengar perkataannya, bagaimana mungkin pria sekuat Seonho berkelahi dengan Da Hee yang notaben nya seorang wanita, apa kata orang nanti.
"Kau tidak malu apa? Kau kan pria dan kau juga sangat kuat." Guanlin mencoba menyadarkan kalau Seonho adalah seorang pria tulen.
"Aku kan bisa pakai wig dan pakaian wanita."
"Tidak, tidak usah. Terimakasih ya Seonho kau sangat perhatian padaku." Ucapku sambil terkikik geli.
"Ah tak masalah, aku sudah menganggap mu seperti keluarga ku sendiri. Oh ya hyung ada sesuatu yang ingin aku beritahu." Aku melihat rona merah menjalar di pipi Seonho saat berbicara tadi. Aku yakin yang ingin dia sampikan padaku pasti hal yang berhubungan dengan pacar barunya.
"Katakanlah aku akan mendengarkanmu."
"Aku baru dapat pacar baru hyung." Rona merah makin menjalar di pipi Seonho saat mengatakannya, beruntung sekali wanita yang bisa menjadi pacar Seonho. "Kau tau hyung dia sangat Tampan." Ya wanita tampan itu pasti sen- tu -tunggu apa katanya tadi tampan?
"Aku mendengar tadi kau mengatakan Tampan?" Aku bertanya mungkin saja pendengaranku salah.
"Hmm, memang pacarku yang sakarang memang sangat tampan. Kau tidak percaya kalu dia tampan ya hyung?"
"Bukan bukan itu maksudku. Kau berpacaran dengan pria?"
"Hmm." Seonho menganggukan kepalanya. "memangnya ada yang salah ya hyung?"
"Tentu saja salah. Kau kan juga pria" suaraku agak sedikit lebih keras saat mengatakan ini. Aku benar benar kaget saat tau kalau Seonho berkencan dengan seorang pria. Bayangkan seorang pria, bagaimana rasanya berkencan dengan seorang pria.
"Memang kenapa, kau tidak terima ya. Dia itu tampan dan menggoda."
"Dimana kau kenal dengan dia?"
"Di klub malam." Ya tuhan Seonho ku yang manis dan polos sudah ternoda. Sejak kapan dia mulai pergi ke klub malam. Aku saja yang setua ini belum pernah. Dan bagai mana bisa dia berkencan dengan sesorang yang dia temui di klub malam terlebih itu seorang pria.
"Sudah lah hyung jangan terlalu dipikirkan. Pikiranmu terlalu kolot kau tau. Biar ku tebak kau pasti belum pernah bercinta dengan pacarmu."
"YAA. Hentikan perkataan kotormu itu."
"Benar sudah pasti kau belum pernah bercinta. Kau harus mencobanya hyung. Ku yakin kau pasti ketagihan."
"Tidak aku tidak akan melakukan hal itu sebelum menikah."
"Kau itu memang kuno hyung."
"Biar saja, aku kan tidak mau melakukannya dengan pacarku."
"Aku tau sekarang." Seonho berkata sakan-akan dia menemukan solusi dari masalah yang aku alami selama ini. Padahal kurasa hal ini bukanlah sebuah masalah bagiku.
"Tau apa kau?" aku bertanya sekedar untuk menghargai Seonho yang sudah mau susah-susah berfikir. Padahal itu tak perlu.
"Kau hyung, kau harus mencari pria tampan yang super seksi untuk menjadi pacarmu. Dengan kata lain kau harus mengalami petualangan cinta yang liar dan penuh nafsu, Maka masalahmu akan selesai."
"Jangan berbicara ngawur. Mana ada pria seksi yang mau denganku. Lagipula aku tidak suka pria. Aku ini masih normal." Aku hampir kehilangan alasan saat berbicara dengan Seonho mengenai hal ini. Memang salah ya kalu aku tak mau bercinta dengan pacar wanita ku. dan kenapa juga aku harus mencari pria tampan, aku kan masih normal.
"Normal apanya? Kau bahkan tidak pernah bercinta dengan pacar wanitamu. Itu menandakan kalau kau itu tipe uke sepertiku, yang lebih suka dibawahi pria gagah."
"Sudahlah hentikan omong kosongmu."
"Aku tidak bicara omong kosong hyung. Kau mau kucarikan pria yang cocok denganmu?" Seonho mendekatkan wajahnya padaku sambil menaikkan kedua alisnya.
"Tidak terimakasih."
"Ah hyung kau tidak asik. Hyung setelah kulihat-lihat ternyata wajahmu manis juga ya. Kau terlihat sangat cocok untuk diperkosa."
"YAAA." Perkataannya sungguh sangat tidak enak untuk didengar. Aku ini tidak selemah itu, jika ada yang mau melakukan hal-hal yang tidak tidak padaku aku pasti akan melawan.
"Kau berlebihan sekali, jangan berteriak hyung telingaku bisa rusak tau."
"Kau itu ya, hahhh terserahlah." Aku menyerah bersebat dengan Seonho karna dia bisa amat keras kepala untuk mempertahankan pendapatnya. "Aku mau berbelanja, persediaan makanan ku sudah menipis. Kau mau ikut tidak." Tawarku.
"Tidak terimakasih. Belikan ice cream untuk ku ya hyung."
"Ya ya kau tolong jaga rumah."
"ai ai captain."
Aku lalu mengambil dompet dan juga jaketku, bersiap keluar rumah. Namun saat sampai di pintu Seonho berteriak.
"Hyung, semoga kau diperkosa pria seksi, semangat hyung."
"Yaa, dasar pikiran kotor. Aisshh."
