Wajahnya mengeras, ia mengepalkan tangannya. Menatap pemandangan di depannya, pemandangan yang sebenarnya sangat tidak ingin ia lihat, darah yang membanjiri tanah, mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana, dan yang paling ia benci adalah dimana makhluk -makhluk yang diciptakan oleh zat yang sama malah saling menyerang karena keserakahan mereka. Sesuatu yang sangat ia benci...

"Aku benci ini...

...peperangan...

...yang disebabkan oleh para makhluk serakah...

...untuk memperebutkan kekuasaan...

...tanpa sedikitpun memikirkan...

...apa dampak dari perang ini...

...maka...

...dari pada itu...

...akan kubuat kalian mengetahui...

...APA YANG TELAH TERJADI!"

Awal yang mengerikan...

The Unexpected

Discleaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichie Ishibumi

Pairing: Naruto x ...?

Warning: OOC, OC, Typo, Strong!Naruto, Smart!Naru, Godlike!OC, Dll.

Summary: Kegagalan membuat suatu titik kegelapan dalam dirinya bangkit. Namun, walaupun hanya setitik tetapi apa jadinya jika kegelapan tersebut malah berhasil membangkitkan sang Akhir?

Chapter 3

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang memasuki kamarnya melewati jendela. Ia kemudian mendengar suara langkah kaki dari luar kamarnya.

"Naruto! Ini sudah pagi! Cepatlah bangun!" Suara halus dari seorang gadis terdengar oleh telinganya, membuatnya mendengus bosan. Ia sudah terbiasa oleh gadis itu, jika ia tidak bangun sekarang maka mungkin saja gadis itu akan bersikap kasar padanya.

"Baiklah..." Naruto berucap membalas kata-kata Settyna. Sementara itu, Settyna yang berada di depan pintu Naruto hanya menghela nafas.

'Jika dibandingkan dengan ingatannya dulu maka sangat berbeda jauh dengan ini' pikirnya.

'Apa mungkin karena itu?' Ia mulai penasaran tapi kemudian ia mengendikkan bahunya acuh.

'Yahh...mungkin saja' Ia lalu berbalik untuk kedapur dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Naruto.

Mereka tinggal berdua di rumah itu, rumah yang mereka dapat dari penghasilan kerja Naruto. Yah, sebenarnya Settyna bisa saja membuatkan rumah tanpa susah-susah mencari uang tetapi Naruto tidak setuju dengan itu, ia bilang bahwa dia ingin berbuat adil seperti yang manusia lainnya lakukan yaitu bekerja.

Settyna tidak bisa menentang apa yang telah Naruto putuskan, dia bukan gadis keras kepala yang selalu ingin benar. Ia paham dengan apa yang Naruto rasakan, jadi dia tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri.

Beberapa hari mereka menginap ditempat Naruto bekerja, untunglah bossnya adalah orang yang baik jadi mereka tidak sulit untuk mencari tempat inap sementara.

Tapp... Tap...

Suara langkah kaki terdengar oleh pendengaran Settyna yang sangat tajam itu, ia mengalihkan pandangannya kesumber suara.

"Sudah mandi?" Naruto mengangguk menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Settyna. Ia kemudian duduk disalah satu kursi meja makan.

"Jadi, hari ini kau berhenti jadi koki?" Pertanyaan tersebut keluar dari bibir Settyna. Naruto menatap Settyna, kemudian mendengus.

"Ya, itu karena kafe itu akan tutup" Naruto menjawab. Settyna yang mendengar jawaban itu diam sebentar dan menghela nafasnya.

"Aku jadi bingung, padahal kafe itu selalu ramai pengunjung, tapi kenapa bisa tutup?" Settyna mengucapkan itu sambil menghentikan makannya, ia tak begitu paham tentang masalah yang di hadapi boss Naruto hingga membuatnya menutup kafenya. Padahal kafe itu selalu ramai.

Naruto mengendikkan bahu, tak tahu apa jawabannya. Ia lalu menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan bahwa masih pagi.

"Besok kita akan kekota kuoh" Ucapan tiba-tiba Naruto membuat Settyna menghentikan makannya kembali.

"Kuoh? Kota tempat tinggal para iblis bangsawan itu?" Settyna mengerjit heran, dia tahu bahwa Naruto itu kurang menyukai iblis tapi kenapa ia malah mengajaknya kesarang iblis.

"Aku mendapat informasi bahwa Dia ada disana" Naruto menyeringai saat mengucapkan hal itu. Seringaian yang membuat Naruto seolah-olah ingin memakan sesuatu, Settyna merinding dibuatnya.

'Beginilah Naruto kalau sudah menemukan apa yang dia inginkan' pikir Settyna.

"Mm... aku merasa tidak nyaman" gumam gadis itu sambil menunduk menghindari kontak dengan Naruto.

Naruto bisa mendengarnya dan akhirnya ia menghilangkan seringainya. Menatap Settyna yang masih menunduk dengan datar, ia kemudian berdiri dan berjalan menjauh.

"Persiapkan barangmu" Ucapan Naruto yang tidak bisa terdengar secara jelas oleh manusia biasa tapi berkat pendengaran tajam Settyna, ia mampu mendengar ucapan pelan Naruto dari kejauhan.

"Uum.." Settyna mengangguk sambil bergumam kecil. Lalu ia juga berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Dijalannya ia sempat berpikir.

'Semoga Dia tidak membuat Naruto kecewa'

Skip Time

Settyna menatap punggung Naruto yang berjalan di depannya, mereka sekarang sudah sampai di kota kuoh.

"Jadi, sekarang kita kemana?" Settyna bertanya. Gadis itu mulai menunjukkan sifat ingin tahunya.

"Cari penginapan" jawab Naruto singkat. Settyna nampak bingung dengan itu.

"Kamu belum menyiapkannya?" Settyna bertanya lagi. Naruto berhenti.

"Kau tahu bahwa kita baru disini" ucap Naruto lalu kembali melanjutkan jalannya.

"Tapi, bukankah kau punya kenalan disini?" Gadis itu memang membuat Naruto kesal.

"Ya, memang! Tapi apa yang kuharapkan darinya?" Naruto memasang wajah kesal. Dia sudah tidak tahan lagi.

"Kamukan bisa minta bantuannya" Naruto berhenti mendengarnya.

"Maaf saja, tapi aku sudah berpengalaman dengan hal seperti itu, aku tidak akan mudah percaya" jelas Naruto, ia mendelik menatap Settyna dibelakangnya.

"Tapi kan... Uah!" Naruto tidak tahan lagi, Ia langsung mendekap kedua bahu gadis itu, dan berkata.

"Sebaiknya kau diam saja dan ikuti aku" Settyna mengangguk dengan lesu tanpa mau menatap Naruto yang tepat di depannya.

Melihat ekspresi gadis manis di depannya membuat Naruto menghela nafas panjang; ia menggerakkan tangannya kekepala si gadis dan mengelusnya dengan lembut. Wajah Settyna memerah saat merasakn kepalanya di elus.

"Tetap diam dan ikuti aku" ucap Naruto memerintah.

"Mm..." Settyna menganggukkan kepalanya.

Naruto tak habis pikir bagaimana gadis yang merupakan jelmaan dari Naga Akhir itu malah mempunyai sifat yang rapuh seperti ini, apa karena pengaruh manusia? Gadis itu terkadang bersifat galak padanya tapi kalau Naruto sudah marah, gadis itu akan menjadi gadis yang lemah dan rapuh seperti saat ini.

Naruto berbalik untuk melanjutkan perjalanan mereka.

"Ayo" Naruto kemudian kembali berjalan untuk menuju tujuan mereka.

"Aku tahu penginapan disini. Jadi kau tenang saja" Ucap Naruto di saat jalannya, sedangkan Settyna hanya diam mendengarnya.

Tapi, tiba-tiba Naruto berhenti saat tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa.

'Kekkai?' pikirnya, dan nampaknya Settyna juga menyadari itu.

Sebuah kekkai transparan melingkupi sebuah taman kota kuoh, sepertinya di dalam sana ada sebuah pertarungan. Settyna penasaran dan ia langsung menarik tangan Naruto serta berteleportasi kedalam sana tanpa ketahuan.

Saat di dalam mereka berdua langsung bersembunyi dibalik pohon yang ada di tepi taman tersebut. Mereka melihat apa yang terjadi di sana.

"Bermain pacaran bersamamu memang menyenangkan" seorang perempuan dengan pakaian yang kekurang bahan terbang di langit dengan sayap hitam seperti gagak.

"Tapi, sayangnya kau bisa menghalangi rencana tuanku, kau harus mati" perempuan itu menciptakan sebuah tombak dari cahaya dan melemparkannya kearah pemuda yang sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa dibawah sana.

"A-ap... arrrghh" tombak itu menembus tubuh pemuda itu.

"Jika kau ingin menyalahkan, silahkan salahkan tuhan yang memberimu Sacred Gear" ucap perempuan bersayap gagak itu.

"Selamat tinggal, issei-kun, hahaha" perempuan itu kemudian pergi dengan tawa merendahkan.

Sementara itu dibalik pohon tempat Naruto dan Settyna bersembunyi. Naruto mengintip adegan di sana dengan seringai di mulutnya, membuat Settyna merinding ketakutan.

'Oh God! Jangan buat Naruto menjadikan aku sebagai pelampias kesenangannya!' Batin Settyna takut. Ia kembali melihat ke arah pemuda yang terkapar disana.

Lingkaran sihir berwarna merah muncul di samping pemuda itu dan menampakkan gadis berambut merah keluar dari lingkaran sihir itu.

Naruto tetap menyeringai, lalu ia merangkul pinggang Settyna, membuat Settyna meneguk ludah paksa dengan wajah memerah.

"Teleportasikan kita, aku akan memikirkan koordinatnya" ucap Naruto sambil menyeringai menatap Settyna.

"Tapi sebelumnya... bisa hentikan seringai itu" balas Settyna dengan wajah memohon.

"Kenapa? Kau takut?" Naruto menambah seringainya sambil mengeratkan rangkulannya.

Wajah Settyna memanas, semakin merah hingga menyerupai buah tomat. Ia mengangguk menjawab pertanyaan Naruto sebelumnya dengan jujur.

"Ohh... begitu ya" Kemudian Naruto mendekap Settyna ke pohon dibelakangnya dan membisikkan sesuatu didekat telinga gadis itu.

"Bagaimana jika aku memakanmu sekarang?" Bisik Naruto menggoda sambil menghembuskan nafasnya ke telinga Settyna.

Settyna merinding, wajahnya merah padam dan sekarang dia ingin mencari alasan agar terlepas dari godaan Naruto.

"J-jadi, b-bukankah kita ingin ke penginapan..." Settyna berucap untuk mencari alasan. Naruto menyeringai.

"Cari alasan yah? Tapi baiklah, cepat teleportasikan, aku yang akan memikirkan koordinatnya." Naruto berkata dengan nada yang memerintah. Settyna menghela nafas lega, akhirnya dia bisa bebas dari Naruto.

"Baiklah..." ucap Settyna. Naruto melepas rangkulannya dan memegang tangan Settyna, ia mulai berkonsentrasi untuk menentukan lokasi tempat mereka menginap. Lalu... blesshh! Mereka menghilang ditelan cahaya terang.

Sementara itu, gadis berambut merah yang berada di dekat pemuda yang terkapar itu mengalihkan pandangannya menuju salah satu pohon yang ada disana.

'Cahaya apa itu?' Batinnya.

Skippp...

Naruto bersantai di halaman rumahnya. Yah, rumahnya... sebenarnya tadi tujuannya adalah penginapan kota kuoh tetapi dia malah salah koordinat dan malah menuju rumah yang baru saja dijual. Awalnya Naruto ingin kembali pergi menuju ke penginapan tetapi Settyna menghentikannya, dan berkata bahwa mereka akan membeli rumah itu dengan cara yang cukup curang. Naruto sebenarnya tidak mau tapi Settyna makah bilang 'biarlah, sekali-kali' Naruto hanya menghela nafasnya dan membiarkan Settyna melakukan rencananya, Settyna lalu membuat banyak uang dengan kekuatan manipulasinya hingga membuat mereka mampu membeli rumah itu.

Dan sekarang adalah hasilnya, mereka punya rumah sendiri. Walaupun dengan cara yang salah tetapi setidaknya mereka membelinya, bukan mencurinya dengan hipnotis seperti yang dilakukan Uchiha Madara di fanfic sebelah (maaf, jika tersinggung).

Lalu... seperti biasa, Settyna sedang berada di dapur untuk membuat makanan untuk mereka berdua, Naruto tidak berniat menggodanya lagi seperti tadi. Tapi, sepertinya menggoda Settyna dapat ia jadikan selingan dari mengawasi 'Yang Ditakdirkan'. Ia tertawa pelan saat mengingat wajah Settyna saat ia menggodanya tadi.

Menghentikan pemikiran itu, ia kemudian membuka buku yang sedari tadi berada ditangannya, buku berjudul 'Akhir dari segala akhir' yang ia dapat dari perpustakaan semesta. Ia membaca buku itu dan melewati kata pembuka yang telah ia baca 5 tahun yang lalu.

5 tahun? Yah, begitulah. Awalnya mereka tiba disini saat Great War berlangsung beberapa ratus tahun yang lalu. Tetapi, Naruto tidak ingin terlalu lama menunggu dan akhirnya Settyna melempar dirinya dan Naruto ke masa depan jauh setelah Great War terjadi.

Selama 5 tahun ini Naruto sudah semakin dewasa, wajahnya sedikit berbeda dari dahulu, garis-garis seperti kumis kucing dipipinya sudah menghilang, kulit tannya sekarang telah menjadi putih pucat. Matanya sekarang lebih menuju biru es daripada biru langit, rambutnya sekarang lebih panjang dari dahulu (sedikit lebih pendek dari Minato). Yang paling menonjol adalah sifatnya, dulu Naruto adalah orang yang hyperaktif dan sekarang Naruto menjadi orang yang dingin dan lebih tenang.

"Naruto! Makanan sudah siap!" Teriakan itu membuat Naruto berhenti membaca bukunya. Ia menutup buku itu dan mulai menuju ruang makan.

Rumah ini cukup besar, dilengkapi oleh 4 kamar, 2 kamar mandi, Ruang tamu, Ruang keluarga, Ruang makan, Dapur, Halaman belakang yang cukup luas, Gudang, dan ada juga jalan menuju atap, untuk bersantai mungkin.

Naruto menatap makanan yang ada dimeja. Sebenarnya Naruto juga seorang koki dulunya, dia bisa memasak makanan. Bahkan, masakannya sangat terkenal di kotanya dulu. Tapi, Settyna tidak kalah pintar memasak, ia adalah gadis yang cerdas, memasak bukanlah hal yang sulit untuknya. Masakannya bisa dibilang sangat enak dan membuat Naruto menyuruh Settyna yang memasak di rumah sedangkan dirinya bekerja sebagai koki di sebuah kafe kotanya dulu.

"Apa yang kau lamunkan?" Naruto berhenti melamun dan ia menatap Settyna.

"Tidak ada" jawab Naruto singkat, membuat Settyna menghela nafas dan merekapun makan bersama.

Skip...

Besok harinya, Naruto mulai kembali mencari pekerjaan. Mulai dari sebuah restoran, lalu kesebuah supermarket, lalu ke toko, dan seterusnya. Hingga ia berhenti di sebuah sekolah, ia menatap Palang sekolah itu.

'Kuoh Academy'

"Mmm... menurut informasi dari Azazel, Dia bersekolah disini" Naruto menggumam.

Azazel? Yah, Azazel si gubernur malaikat jatuh. Ia pertama kali bertemu dengan Azazel saat mengembalikan anak buah Azazel yang membangkang. Setelah tahu identitas Azazel sebagai gubernur malaikat jatuh saat ini, ia tertarik dan mengajak Azazel bertarung. Mereka bertarung cukup lama hingga pertarungan dimenangkan oleh Naruto, mereka lalu berteman dan saling bertukar informasi sampai suatu ketika Azazel menyampaikan informasi tentang sesuatu yang selama ini ia cari.

"Bisakah aku melamar pekerjaan di sini?" Gumamnya bertanya.

"Akan kucoba" Ia berjalan menuju pos satpam.

"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang satpam disana kepada Naruto dengan sopan.

"Saya ingin melamar pekerjaan disini" balas Naruto dengan sopan juga.

"Ohh... saya akan mengantarkan anda" Satpam itu memberi isyarat kepada temannya dan temannya pun mengangguk.

"Ikuti saya, tuan" Naruto mengikuti satpam itu.

Cukup lama mereka berjalan di lingkungan sekolah yang sedang dalam waktu belajar itu, membuat sekolah itu sepi. Kemudian mereka tiba di depan pintu yang di atasnya tertulis 'Ruang Kepala Sekolah'. Satpam itu mengetuk pintu sampai seseorang dari dalam memberi perintah "Masuk", mereka berdua lalu masuk dan satpam itu mengatakan tujuannya kepada kepala sekolah. Setelahnya satpam itu lalu pamit dan undur diri.

"Jadi, anda ingin melamar pekerjaan disini" tanya kepala sekolah.

"Ya..." jawab Naruto. Kepala sekolah memperhatikan Naruto dengan teliti, ia mengangguk-angguk.

'Sopan, dilihat dari penampilan dan Jenius, dapat kuketahui dari ekspresinya' pikir sang kepala sekolah.

"Jadi kau ingin jadi salah satu guru di sini" Naruto nampak kaget, jadi guru? Dia tidak pernah mengharapkan itu. Ia pikir ia hanya akan menjadi staf di sekolah ini.

"Dari wajahmu, aku tahu bahwa kau bukan orang yang bodoh tapi, kau orang yang jeniuskan?" Naruto mengakuinya. Sejak 5 tahun yang lalu, entah mengapa ia merasa bahwa dirinya semakin pintar dan otaknya terasa ringan untuk berpikir. Tapi, ia mengingat kata-kata Settyna.

'Baca buku itu dan pengetahuan akan datang padamu'

Jadi, apa mungkin kepintarannya ini berasal dari buku tebal yang diberikan Settyna dulu? Tapi, bukankah ia jarang membacanya? Tapi kenapa ia bisa sepintar ini?

"Aku akan memberikanmu test" ucapan kepala sekolah itu membuatnya berhenti memikirkannya. Kepala sekolah itu kemudian membuka laci meja dan mencari sesuatu.

"Kerjakan soal itu, jika kau berhasil mengerjakannya maka aku akan menjadikanmu sebagai guru di sekolah ini" Naruto menatap soal-soal itu dan kemudian ia membuka tutup pulpennya lalu mulai mengerjakan beberapa lembar kertas dengan 100 soal itu.

'Ini terlihat mudah'

Tidak sampai sejam ia mengerjakan soal itu lalu ia menyerahkannya kepada kepala sekolah. Sementara kepala sekolah cukup kaget saat melihat jawaban Naruto. Jawaban yang sempurna dan dia mampu mengerjakannya kurang dari satu jam? Memang jenius.

"Selamat! Kau berhasil lulus dari test! Mulai besok kau adalah guru disekolah ini!" Naruto menyeringai mendengarnya.

'Dengan ini... aku akan lebih mudah mengawasinya!'

To Be Continued

Hello! Para reader sekalian. Saya kembali dengan fanfic berjudul The Unexpected ini! Untuk word? Ini 2x lipat dari sebelumnya. Walaupun masih pendek, berhubung ini saya nulisnya di hp dan tangan saya cepat pegal. Saya juga minta maaf karena terlalu lama updatenya... yah.. saya masih ulangan dan fokus pada pelajaran. Tapi, nanti akan saya usahakan lebih cepat dari ini updatenya (gak janji loh).

Nah, untuk Pair Naruto... Setujunya bagaimana? Apakah Pair lain atau Settyna?

Untuk gambaran Settyna:

Mempunyai rambut hitam panjang hingga pinggul. Dengan poni menutupi dahinya (seperti poni ophis). Mata ungu, Wajah bulat (mirip Naruto versi henge cewek, tapi lebih kekanak-kanakan) kulit putih, tingginya hanya setinggi hidung Naruto. Sifatnya? Kadang dewasa kadang kekanak-kanakan. Trus apalagi? Tanyakan aja.

Kalo tidak bisa membayangkan Settyna itu bagaimana. Terserah kalian aja mau bagaimana membuat wajahnya, entah dari karakter anime lain kegemaran kalian ataupun kalian membuat gambaran sendiri. Yang penting rambut hitam panjang dan mata ungu.

Kalau begitu, Salam dari saya.

ByeBye...

POFT!