The Highest Entity...
Eksistensi kuat perlambangan alam semesta...
Tiada yang bisa disejajarkan dengan mereka...
Tiada yang dapat mencapai mereka...
Tiada yang bisa mendapat gelar mereka...
Karena mereka mutlak...
Dan...
Mereka...
Eksistensi tak terduga...
The Unexpected
Discleaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Pairing: Naruto x OC (Settyna)
Warning: OOC, OC, Typo, Strong!Naruto, SuperGodlike!OC, EYD hancur.
Summary: Kegagalan membuat suatu titik kegelapan dalam dirinya bangkit. Namun, walaupun hanya setitik tetapi apa jadinya jika kegelapan tersebut malah berhasil membangkitkan sang Akhir?
Chapter 7
Brak!
Suara keras terdengar di salah satu kelas Kuoh Academy. Pelakunya tak lain adalah seorang guru pria berambut pirang yang tiba-tiba datang dengan cara yang cukup sopan, yah sopan... yaitu menendang pintu kelas.
"Duduk ketempat masing-masing!'
Seluruh murid di kelas itu langsung diam, beberapa murid yang tadinya bercakap-cakap dengan temannya langsung duduk dengan diam karena guru pirang tersebut.
"Ehem, ingat peraturan saat di jam pelajaranku! Jangan makan di dalam kelas!" Seorang murid di pojok kelas langsung tersedak mendengarnya, bukti bahwa ia sedang memakan sesuatu.
"Kau dilarang istirahat hari ini!" Kedua mata murid itu membola saat mendengar ucapan guru pirang itu.
"T-tapi sensei..."
"Itu hukuman! Jika kau ketahuan istirahat atau membeli sesuatu kekantin, kau akan mendapat hadiah spesial dariku..." murid itu bergetar ketakutan saat mendengar 'Hadiah spesial' dari guru paling menakutkan di sekolah itu.
"Jika kalian melihatnya kekantin saat jam istirahat nanti, lapor padaku! Atau kalian semua juga akan mendapatkan hadiah spesial dariku"
"Ha'i" para murid menjawab dengan suara agak pelan.
"Baiklah, sebelum memulai pelajaran. Aku ada sedikit berita..." guru itu atau lebih tepatnya Naruto menggantung ucapannya.
"Kalian hari ini kedatangan teman baru..." Naruto sedikit merapikan pakaiannya.
"Silahkan masuk..." setelah ucapan itu, seorang perempuan berambut coklat masuk kedalam kelas tersebut.
"Perkenalkan dirimu..." perempuan itu mengangguk.
"Perkenalkan, namaku Sento Isuzu. Murid pindahan dari kota Tokyo, salam kenal!" Para lelaki menatap gadis bernama Sento itu dengan mata berbinar.
"Dima-..."
"Tidak ada pertanyaan!" Ucapan salah satu murid terpotong oleh pernyataan Naruto.
"Isuzu-san, kamu duduk di belakang hyodou. Hyodou, angkat tanganmu!" Orang yang di maksud mengangkat tangannya.
"Sekarang kita mulai pelajaran!" Hingga pada akhirnya, mereka harus terpaksa belajar bersama guru paling mengerikan di Kuoh Academy.
Skip
Naruto duduk santai dikantornya. Menjadi guru di sekolah kaya memang sangat enak, bahkan ia punya kantor pribadinya sendiri.
"Huah! Jika saja ada Settyna disini..." Naruto bersender di kursinya sambil memejamkan matanya, membayangkan wajah gadis yang telah menarik hatinya itu.
Tok tok tok
Naruto membuka matanya saat mendengar suaru ketukan di pintu kantornya.
"Masuk..."
Pintu terbuka, menampakkan seorang gadis berambut coklat yang cukup ia kenali.
"Huh? Sento? Ada apa?" Beberapa saat setelah gadis itu duduk, Naruto langsung menanyakan hal itu.
"Huh... Settyna-Neesan memintamu cepat pulang hari ini." Gadis bernama Sento menjawab pertanyaan Naruto.
Dan sedikit aneh saat gadis berperawakan dewasa seperti Sento memanggil Settyna yang cenderung memiliki wajah anak-anak/babyface itu dengan sebutan Nee-san(Kakak).
Yah, sebenarnya Settyna tidak mempersalahkan panggilan Sento padanya. Lagipula, Settyna mengaku bahwa umurnya satu tahun lebih muda dari Naruto. Pada saat ini atau sekarang, umur Naruto adalah 21 tahun itu berarti umur Settyna adalah 20 tahun sedangkan umur Sento barulah 17 tahun, wajar saja jika Sento memanggil Settyna dengan sebutan Nee-san.
Dan soal umur, walaupun aslinya Settyna sudah berumur milyaran tahun. Entah berapa, Settyna tidak pernah mau mengungkapkan umur aslinya.
"Uh? Aku tidak ingin terlihat tua."
Kira-kira itulah alasan Settyna setiap kali Naruto bertanya tentang umur padanya, padahal Naruto tahu alasan Settyna sebenarnya...
Oke! Lupakan tentang umur, mari kita kembali ke topik pembicaraan yang sebenarnya.
"Untuk apa?" Naruto bertanya dengan ekspresi datar dan sedikit terlihat penasaran.
"Entahlah. Yang pasti itu penting dan juga Nee-san mengancam tidak akan membelikan Nii-san ramen lagi jika Nii-san datang terlambat" Sento mengendikkan bahunya tak peduli, sementara Naruto langsung pucat saat mendengarnya.
'Tidak ada ramen... lagi?'
Sento tertawa kecil saat melihat ekspresi Naruto yang terlihat lucu. Keluarga Naruto itu unik, mulai dari Settyna, gadis tenang dan kalem tapi terkadang juga bersifat kekanakan yang polos, lalu Minato, si Pria jenius tapi dia punya sifat yang sedikit aneh, dan Naruto yang punya sifat dingin tapi entah mengapa sangat suka menggoda Settyna.
"Baiklah! Aku akan meminta izin kepada kepala sekolah dan kamu juga segeralah kembali kekelas!" Sento mengangguk lalu kemudian beranjak pergi keluar dari ruangan Naruto.
"Jikapun tidak ramen lagi, maka kamupun cukup jadi makanan favoritku, Settyna..." setelah perginya Sento, Naruto bergumam sambil tersenyum misterius.
"Khekhekhe..."
.
.
.
Skip
.
.
.
Settyna memandang televisi dengan wajah serius. Wajahnya menunjukkan ketertarikan pada acara berita di televisi tersebut.
"Uh? Zaman sekarang memang gila, mereka bahkan tidak peduli kapan akhir zaman tiba..." Settyna memasang wajah berpikir.
"Apa aku harus menunjukkan tanda-tanda?" Settyna melipat satu lengannya di dada dan satunya lagi menyentuh dagunya.
"Uuhh!" Settyna mengerang kecil.
Mata ungunya tak lepas dari televisi di depannya, dengan tubuh yang bersender di sofa ruang keluarga rumahnya itu.
Dia sedang sendirian di rumah ini, Minato sedang pergi mencari pekerjaan karena dia bilang tidak ingin terlalu merepotkan Naruto dan Settyna, sedangkan Naruto sendiri sedang bekerja di Kuoh Academy dan Gadis berambut coklat(Sento) yang numpang di rumah ini juga sedang bersekolah di tempat Naruto bekerja.
Walaupun Settyna sudah menyampaikan pesan ke Naruto melalui Sento agar segera pulang serta sedikit memberi ancaman, ada hal penting yang harus dengan cepat ia katakan pada Naruto.
"Naruto lama yah?" Settyna bergumam kecil.
Settyna berdiri, lalu melangkah pelan menuju pintu. Sesampainya disana, ia mulai membukanya dengan perlahan...
Buak!
"Itte!" Settyna mengedipkan matanya beberapa kali, menatap seseorang yang berada didepan pintu itu.
"Kamu harus hilangkan kebiasaanmu itu Settyna." Seseorang yang berada di depan pintu itu mengusap hidungnya.
"Uhh... Maaf Naruto" Settyna mengucapkan itu dengan wajah polosnya.
"Maaf? Kamu ingin membuat hidungku pesek?" Naruto menatap Settyna dengan sorot mata tajam, bahkan jarak antara wajah mereka sangatlah dekat.
"Uhm? Aku bisa mengembalikannya seperti semula" Settyna mengucapkan itu sambil memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos. Naruto terdiam, ia benar-benar merasa gemas.
"Settyna, jangan pasang wajah seperti itu atau aku akan memakanmu..." sambil memasang wajah menyeramkan, Naruto kembali mendekatkan wajahnya pada Settyna.
"Uh? B-baiklah" semburat merah muncul di pipi Settyna.
"Hahh, jadi apa yang ingin kamu bicarakan Settyna" setelah merasa cukup berdebat dengan Settyna, Naruto memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Juga tujuan awal Naruto pulang lebih cepat.
Settyna memasang wajah serius. Sisi polosnya telah menghilang, berganti menjadi sisi dewasa yang jarang ia tampilkan.
"Sebaiknya kita masuk..." Settyna melangkahkan kakinya kedalam rumah, diikuti oleh Naruto dari belakang.
Kemudian Settyna duduk disofa ruang tamu, menghadap Naruto yang berlawanan arah dengannya.
"Setelah insiden melawan Hakuryuuko dan Ophis kemarin, para makhluk supernatural mulai mengetahui eksistensi kita." Settyna memulai pembicaraan.
Naruto terdiam, ia memasang wajah berpikir "Kalau begitu, hidup kita tidak akan tenang lagi..." Ia memijit keningnya.
"Kupikir kita akan hidup damai setelah perang dimasa lalu, tapi sekarang..." Naruto menggantung ucapannya.
"Mau tidak mau kita akan terlibat lagi kedalam dunia supernatural." Settyna melanjutkan ucapan Naruto, ia menutup kedua matanya dan mendengus pelan.
"Mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya adalah sebuah masalah" Settyna membuka matanya lalu menatap Naruto dengan serius.
"Bagaimanapun caranya, kita pasti akan terus terlibat dalam dunia mereka" lanjut gadis bermanik ungu itu.
Naruto menghela nafas, wajahnya menunjukkan ekspresi pasrah.
"Kau benar..." Ia diam sebentar.
"Padahal tujuanku hanyalah menjadi penonton dari Yang telah ditakdirkan, aku tidak pernah ingin terlibat dalam takdirnya" ia menyenderkan diri pada sofa empuk dibelakangnya.
'Aku ingin berbaring di paha Settyna' entah mengapa ia malah berpikir tidak jelas disaat ini.
"Mau bagaimana lagi..." ucap Settyna sambil memandang lurus ke bola mata biru Naruto.
"Naruto..." Naruto mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan..." Settyna berdiri dan mendekati Naruto.
"Sini..." ucapan itu membuat Naruto membulatkan matanya tapi kemudian ia mendekati Settyna yang sedang duduk dilantai.
Naruto membaringkan kepalanya dipaha Settyna dan menikmati elusan dirambutnya.
"Settyna, apakah kita akan selalu bersama?" Naruto menatap wajah Settyna yang ada diatasnya.
"Bukankah aku pernah bilang bahwa kamu akan menemaniku hingga akhir terjadi?" Settyna berucap sambil tersenyum, Naruto terdiam mendengarnya, ia merasa wajahnya memanas.
Naruto tiba-tiba duduk dan itu membuat Settyna sedikit kaget. Naruto menghadap Settyna, ia menggenggam kedua tangan mungil Settyna.
"Settyna, kurasa ini terlalu cepat tapi aku akan mengatakan ini padamu..." Naruto menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Settyna hanya diam sambil menunggu ucapan Naruto berikutnya.
"A-aku menyukaimu, tidak! T-tapi aku mencintaimu! J-jadi, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Naruto menjadi gagap. Jujur saja, ia tidak pernah mengira bahwa ia akan mengatakan hal itu sekarang tetapi ia merasa yakin ketika ia mendengar ucapan Settyna.
Sedangkan Settyna yang mendengar secara jelas apa yang diucapkan Naruto hanya tertawa kecil, memancing kebingungan dari pria dihadapannya.
"Kurasa lima tahun bukanlah waktu yang singkat Naruto-kun..." Naruto terdiam, embel-embel itu... berarti...
"Aku akan menjadi istri yang baik untukmu..." Settyna berkata dengan senyuman manis diwajahnya.
Wajah Naruto berseri-seri, Settyna menerimanya! Bahkan bukan hanya jadi kekasih, tapi Settyna bersedia menjadi istrinya!
Sedangkan Settyna yang memperhatikan gerak-gerik Naruto hanya tersenyum, mata ungunya menatap Naruto dengan teduh. Semburat merah dipipinya menambah kemanisan dari Settyna.
Prok Prok Prok
"Masa muda yang indah..." Naruto dan Settyna mengalihkan perhatian mereka kearah datangnya suara itu.
"Ups! Sepertinya aku mengganggu yah?" Seorang pria dewasa dengan rambut pirang berucap sambil memasang wajah yang seolah merasa bersalah.
"Yah! Mengganggu sekali!" Settyna berdiri, sebuah pedang panjang entah sejak kapan berada di tangannya.
"E-eh nanti dulu!"
Slash...
Minato meneguk ludahnya saat pedang panjang itu membelah udara tepat disamping wajahnya.
"Huh... untungnya aku harus bersikap sopan pada mertua" Settyna berdiri sambil melipat kedua lengannya didadanya, pedangnya sudah menghilang.
'Sopan apanya...' pikir Minato.
Naruto yang menonton itu hanya tersenyum tipis.
'Indahnya...'
Other Side
Ditempat lain, disebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar. Seorang gadis kecil berambut hitam menatap kedepannya dengan pandangan kosong, pikirannya melayang mengingat peristiwa yang terjadi dihari sebelumnya.
"The Highest Entity..." ia bergumam kecil.
Dibelakangnya, sekelompok orang berdiri dengan wajah yang terlihat penasaran. Mereka penasaran tentang apa yang dimaksud oleh gadis dihadapan mereka.
"The Highest Entity? Apa itu?" Seorang pemuda berambut perak bertanya dengan nada bingung.
"Mereka, makhluk yang berada diluar pemahaman" si gadis berbalik untuk menatap sekelompok orang dibelakangnya.
"Vali, untuk saat ini jauhi gadis itu" lanjut si gadis.
Sementara orang yang dimaksud mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti dengan yang diucapkan gadis dihadapannya.
"Gadis itu? Kenapa?" Dengan wajah bingung yang terpampang jelas diwajahnya.
"Ia bukan makhluk sembarangan..." si gadis menutup matanya.
"Dia salah satu dari The Highest Entity, eksistensi yang bahkan aku dan Great Red tidak dapat mencapainya" Vali terdiam mendengarnya, itu berarti gadis itu sangatlah kuat.
"Tapi, bukankah kamu bisa mengalahkan Great Red dengan mudah jika berhasil mengajaknya ikut bergabung dengan kita?" Benar! Apa yang dikatakan Vali memang benar, dengan adanya makhluk yang bahkan bisa mengalahkan Ophis dengan mudah, mereka akan lebih mudah mencapai tujuan mereka.
"Ya, kamu benar..." si gadis perwujudan dari Infinite Dragon itu menganggukkan kepalanya.
"Tapi, itu jika ia mau..." ia melanjutkan ucapannya.
"The Highest Entity bisa menguasai alam semesta dengan mudah jika mereka mau, tapi mereka mempunyai sifat yang tidak peduli kesekitar mereka. Yang mereka lakukan hanya menonton atau juga berenang mengelilingi alam semesta." Jelas Ophis.
Baru Vali ketahui sekarang, bahwa ada makhluk sekuat itu tapi yang mereka lakukan hanya hal-hal yang menurut Vali membosankan.
"Mereka tidak pernah bosan Vali..." ucap Ophis seolah dia mengetahui pikiran Vali.
"Kau pikir apa yang dilakukan Great Red selain berenang di celah dimensi?" Ophis bertanya.
'Great Red berenang dicelah dimensi demi menjaga keseimbangan dunia ini dan... nanti dulu? Berarti...'
"Mereka menjaga keseimbangan alam semesta?" Vali mengungkapkan opininya.
Ophis mengangguk "itulah mengapa alam semesta tidak runtuh setelah Tuhan dinyatakan mati" ungkapnya.
"Dulu sekali, The Highest Entity pernah berseteru, mereka bertempur dan membuat alam semesta dilanda bencana besar..."
"Tapi Tuhan berhasil menghentikan mereka bersama tangan kanannya, The Highest Entity terkuat..."
"Setelah itu, ia memberikan hampir seluruh kekuatan dan kekuasaannya pada The Highest Entity terkuat..."
"Itu juga menjadi alasan mengapa Tuhan menjadi lemah dan bisa dikalahkan saat Great War ratusan tahun yang lalu..."
"Apa kalian mengerti?" Ophis menutup ceritanya, sekelompok orang dibelakangnya mengangguk.
Ophis kembali berbalik dan memandang kedepan dengan pandangan kosongnya.
"Apakah akan terjadi kembali?"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Lanjut...
.
.
.
Dua orang dewasa terlihat sedang duduk disalah satu kursi taman kota kuah, dua orang tersebut adalah Naruto dan Settyna. Setelah beberapa hal tadi Naruto memutuskan untuk mengajak Settyna untuk jalan-jalan, yah kencan maksudnya.
Dan disinilah mereka duduk, ditaman kota kuoh yang juga merupakan tempat yang pertama kali mereka kunjungi saat baru tiba dikota ini.
Settyna mengayun-ayunkan kakinya, pandangannya lurus kedepan seolah-olah dia sedang berpikir keras. Sedangkan Naruto hanya diam sambil memperhatikan Settyna yang menurutnya sedikit aneh sekarang.
Orang melamun kok dipandangin?
Settyna dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Naruto, ia tahu kalau Naruto sedang memperhatikannya.
"Apa yang kamu lihat Naru?" Settyna bertanya dengan bingung, wajah polos khasnya ia tunjukkan pada Naruto.
"Ah! Aku hanya penasaran dengan apa yang kamu pikirkan" Naruto menatap tepat dimata Settyna.
"Uh? Aku akan memberitahukan itu nanti, yang penting sekarang..." Settyna menggantung ucapannya, ia terlihat waspada.
"Sepertinya kau sudah tahu yah?"
Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua...
Mereka berdua atau lebih khususnya Settyna membelalakan matanya...
"K-kau?"
.
.
.
.
.
To Be Continued
Helo my friend, entah masih adakah yang membaca cerita ini? Saya harap masih ada...
Maaf karena saya lama update, lagi UTS bro and sis...
Dan sebenarnya saya punya banyak ide tapi saya bingung bagaimana cara menuangkan ide itu kedalam cerita ini...
Dan kenapa Naruto dan Settyna cepat banget jadiannya? Tenang! Itu demi kelanjutan cerita ini...
Apakah ceritanya terkesan seperti drama karena lebih banyak membahas kehidupan Naruto dan Settyna? Saya janji, chapter depan udah masuk ke supernaturalnya.
Ceritanya kependekan? Chapter depan saya panjangin tapi bakalan lama updatenya (paling lama dua minggu)
Lalu untuk penampilan Settyna? Masih ada membahasnya, saya sudah memberi anda kebebasan untuk berimajinasi oke? Kalau mau author yang nentukannya, tolong carikan wajahnya yang imut yah...
Saya juga mau tanya, dari semua chapter dari cerita ini yang mana yang paling panjang dan yang mana yanh paling pendek? Tolong jawab yah...
Dan karena saya bingung mau mengatakan apa lagi jadi saya pamit undur diri...
Kritik dan saran entah itu pedas maupun manis masih dibutuhkan...
Bye...
POFT!
