The Unexpected
Discleaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
Pairing: Naruto x OC (Settyna)
Warning: OOC, OC, Typo, Strong!Naruto, SuperGodlike!OC, EYD hancur.
Summary: Kegagalan membuat suatu titik kegelapan dalam dirinya bangkit. Namun, walaupun hanya setitik tetapi apa jadinya jika kegelapan tersebut malah berhasil membangkitkan sang Akhir?
Chapter 9
Settyna menatap tajam pada sosok didepannya, matanya memandang tidak suka pada sosok tersebut. Sosok tersebut tak lain adalah seorang perempuan cantik dan bertubuh seksi yang memandang mereka berdua dengan tatapan menggoda.
"Apa keinginanmu!?" Settyna berucap dengan nada biacara yang cukup kasar.
"Aye... Aki-chan kok marah sih?" perempuan tersebut dengan pose yang bisa membuat pria mana saja mimisan, kecuali Naruto yang jauh lebih suka pada gadis polos seperti Settyna.
"Namaku Settyna!" tak rela dirinya dipanggil dengan nama yang tidak jelas. Aki sendiri berasal dari kata Akhir yang merupakan julukan kebesarannya sebagai The Highest Entity.
"Oh jadi kamu sudah punya nama sekarang yah? Hm... Settyna-chan?"
Settyna masih memasang tatapan tajamnya, Naruto yang merasa aura tidak mengenakan disekitarnya memutuskan untuk memeluk Settyna dari belakang dan itu sukses memunculkan semburat merah pada pipi Settyna, juga menghilangkan aura tidak mengenakan tadi.
"Aye... kamu sudah punya kekasih? Aku iri deh..." perempuan itu melangkah menuju Naruto dan Settyna dengan pelan, sesampainya dipertengahan jalan ia tiba-tiba menghilang dan muncul didekat Naruto dan Settyna.
Melancarkan tendangan pada Naruto hingga membuatnya terlempar cukup jauh, Settyna tidak bisa berkonsentrasi karena perbuatan Naruto hingga membuatnya tidak sadar dengan hal itu.
Perempuan itu memeluk Settyna, membuat si gadis kaget dan dengan sigap memberontak lalu menghantamkan lututnya tepat keperut perempuan itu, hingga membuat perempuan itu terlempar keudara.
"MESUM! LESBI! BANGSAT! ANJ*NG! B*BI!" tidak peduli dengan telinganya yang sensitif dengan suara keras, Settyna menyumpahi perempuan itu dengan segala sumpahan yang bisa ia katakan.
Sementara Naruto yang baru saja terbangun dari jatuhnya langsung sweatdrop mendengar sumpah serapah yang dengan mulusnya keluar dari mulut Settyna.
'Darimana dia belajar bicara kotor seperti itu?'
Jujur saja bagi Naruto, itu pertama kalinya ia mendengar Settyna mengucapkan sumpah serapah. Karena yang Naruto tahu, Settyna itu terlalu polos untuk berucap kata-kata kotor seperti itu.
"Settyna jahat banget sih..." perempuan aneh itu berlagak sedih, sementara Settyna sama sekali tidak memperdulikan itu, ia pergi menjauh dan mendekati Naruto.
"Apa ada yang sakit?" tanya Settyna dengan nada lembut.
"Tidak ada, hanya saja..." Naruto menatap serius pada perempuan aneh dihadapannya.
"Dia The Sea Boss..." Settyna menanggapi Naruto.
"...salah satu dari sebelas entitas tertinggi di alam semesta..." gadis manis itu melanjutkan ucapannya.
"...kupikir yang mengikuti kita selama ini adalah kakek tua yang selalu berambisi jadi yang terkuat itu..." pandangannya menajam.
"...tapi ternyata adalah yang lebih merepotkan dari itu..." ia menghela nafasnya, ia ingin segera pulang dan tidur untuk menenangkan pikirannya.
"...uhh! Aku ingin segera pulang!" Settyna tiba-tiba memeluk Naruto dengan erat.
"Gendong aku..." Naruto tersenyum kecil mendengarnya kemudian ia langsung mengangkat Settyna dengan gaya Bridal Style.
"Hua! Jangan begini, dipunggung aja!" Settyna nampak protes.
"Kamu pakai rok panjang Settyna-chan, sulit menggendongmu dipunggung" Settyna terdiam mendengarnya, ia pasrah sekarang.
Settyna memakai kaos putih polos dengan cardigan biru muda yang melapisi baju kaosnya dan ia juga memakai rok panjang berwarna hitam yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Penampilan sederhana, tapi membuatnya terlihat manis.
"H-hei! Bagaimana denganku!" sementara perempuan aneh yang sejak tadi merasa diabaikan langsung berteriak protes.
"Err... sebaiknya kamu ikut kami dulu" ucap Naruto, Settyna hanya mendengar pembicaraan mereka dalam diam.
"Hm... Baiklah! Ayo!"
Merekapun meninggalkan tempat itu...
.
.
.
.
.
Skip
.
.
.
.
.
Bruk!
"Itte... mengapa aku selalu terjatuh?"
Seorang gadis berambut pirang dengan pakaian biarawati terjatuh dengan posisi yang cukup 'fenomenal'. Tak jauh dari situ, seorang pemuda berambut coklat menatap kearah 'segitiga putih' gadis itu dengan pandangan tak senonoh.
Buak!
"Itukah reaksimu ketika melihat seorang gadis terjatuh, Hyoudo-kun?" Seorang pria yang cukup dewasa memukul kepala pemuda berambut coklat tadi dengan agak keras, hingga menimbulkan benjolan disana.
"M-maaf!" Pemuda berambut coklat yang dipanggil Hyoudo atau lebih lengkapnya adalah Hyoudo Issei, salah satu siswa di Kuoh Academy itu terlihat agak takut. Sedangkan pria berambut pirang itu adalah Naruto, guru terkiller di Kuoh Academy.
Naruto tidak sengaja bertemu dengan Issei dijalan saat ia ingin pergi bekerja di Kuoh Academy dan berhubung arah mereka sama, Naruto memutuskan untuk pergi bersama Issei kesekolah.
Sebenarnya Issei tadinya berniat lari saat melihat Naruto mendekatinya, tapi saat Naruto bilang ingin jalan bersama ia pun membatalkan niatnya untuk lari. Lagipula Naruto sedang tak berada dalam sisi mengerikannya.
Kembali ke gadis tadi...
"Apa kamu tak apa-apa?" Issei mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri, si gadis menerima uluran itu.
"T-terimakasih" gadis itu berucap dengan nada yang malu-malu.
"Ah! Sama-sama" Issei tersenyum menanggapi ucapan terimakasih gadis itu. Naruto yang menonton sejak tadi hanya diam, lalu ia menoleh pada jam di tangannya.
"Sekolah masuk dua puluh menit lagi Issei" ucapan Naruto membuat Issei menoleh padanya.
"Aku duluan yah, masih ada urusan lain yang harus aku kerjakan" Issei mengangguk mengiyakan ucapan Naruto.
"Sampai berjumpa lagi..." Naruto menjauhi Issei dan gadis biarawati itu.
.
.
.
.
.
Naruto duduk santai di kantornya dengan posisi yang kurang sopan. Yah! dengan kaki yang diangkat ke mejanya, itu jelas sangatlah tidak sopan dan terlebih lagi dia adalah guru disini.
Tok! Tok! Tok!
Kedua mata berwarna langit itu mendelik kearah pintu, penasaran dengan siapa yang mengetuk pintunya pada saat jam pelajaran masih berlanjut.
"Masuk..."
Memperbaiki posisi duduknya, Naruto lalu memberi perintah untuk orang yang berada dibalik pintunya untuk masuk.
Cklek!
Seorang pria tua dengan tubuh yang agak 'gendut' memasuki ruang Naruto, sementara Naruto hanya terdiam saat melihat siapa yang masuk keruangannya.
"K-kepala sekolah?" dengan suara yang agak tergagap Naruto mengucapkan jabatan dari pria tua dihadapannya.
"Selamat pagi, Naruto-sensei" kepala sekolah memberi salam padanya.
"Selamat pagi..." Naruto membalas salam dari kepala sekolah.
"Jadi, untuk apa anda mendatangi kantor saya? Bukankah anda bisa memanggil saya kekantor anda?" tanya Naruto dengan nada yang terdengar bingung, tangannya bergerak untuk mengambil dua cangkir teh serta tak lupa dengan sebotol teh yang dibekalkan Settyna padanya.
"Hm, begini Naruto-sensei. Saya sebentar lagi pensiun dari jabatan saya dan saya membutuhkan seseorang untuk menggantikan saya..." entah mengapa, Naruto merasa ada yang aneh saat kepala sekolah mengucapkan hal itu.
"Lantas? Untuk apa anda mendatangi saya secara langsung untuk mengatakan hal itu?" Naruto masih bingung dengan perkataan kepala sekolah, ia merasa otaknya buntu disaat-saat seperti ini.
"Ehm! Saya ingin Naruto-sensei menjadi kepala sekolah berikutnya..." kepala sekolah berucap sambil menyesap teh yang dituangkan Naruto pada cangkirnya.
Naruto yang juga sedang meminum tehnya langsung tersedak saat mendengar ucapan kepala sekolah itu.
"K-kepala sekolah? T-tapi kenapa saya? Saya baru beberapa hari bekerja disini" Naruto merasa bahwa hal tersebut tidak masuk akal, dirinya baru saja menjadi guru beberapa hari disini tapi kenapa dia malah langsung dipromosikan menjadi kepala sekolah.
"Saya sudah menebak reaksi anda..." kepala sekolah tampak menggantung ucapannya.
"Saya sudah mendiskusikan ini dengan para guru dan saya merasa tidak ada yang pantas untuk menjadi kepala sekolah berikutnya kecuali anda..." dengan helaan nafas, kepala sekolah menjelaskan itu pada Naruto.
"Saya butuh alasan yang masuk akal" Naruto terlihat serius dengan ucapannya.
"Ada beberapa alasan untuk itu, salah satunya adalah anda adalah guru yang paling bertanggung jawab disini..." kepala sekolah menghela nafas kecil.
"...beberapa kelas terkenal dengan kenakalan para muridnya dan anda mampu untuk mendisiplinkan para murid tersebut tanpa mengeluh seperti guru lainnya..." lanjutnya.
"...walaupun anda agak kasar pada para murid tapi anda tak pernah sampai membuat murid sampai merasa teraniaya..."
"...para murid memang takut pada anda, namun para guru menyegani anda dalam bekerja..."
"...seperti yang saya katakan tadi, anda tidak pernah menuntut maupun mengeluh dalam pekerjaan anda, anda punya cara anda sendiri untuk membuat para murid menjadi disiplin" Naruto terdiam, ia memejamkan matanya. Jujur saja, yang kepala sekolah katakan itu memanglah benar.
Naruto punya banyak pengalaman semasa ia masih di dunia shinobi dulu, ia yang sudah pernah merasakan pahit manisnya kehidupan tentu mengerti dengan arti kepercayaan.
Dulu memang ia adalah orang yang na'if, terlalu polos hingga membuatnya berpikir bahwa semua hal dapat dicapai dengan perjuangan. Itulah yang ia lakukan, terus berjuang hanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan.
Namun buktinya, perjuangan bukanlah satu-satunya cara untuk mencapai sebuah pengakuan. Pengakuan juga bisa didapat dengan adanya kepercayaan orang lain pada kita.
Dulu ia berusaha keras untuk menjadi hokage, tapi ia gagal untuk mencapai impiannya itu. Sekarang, hanya dengan kepercayaan ia bisa mendapat sebuah jabatan yang tinggi.
'Kepercayaan tidak hanya diukur dengan seberapa lama orang mengenal kita, tetapi kepercayan bisa didapat dengan cara kita bertingkah serta tanggung jawab yang bisa kita emban'
Prinsip baru bagi Naruto, walaupun terdengar sedikit aneh tetapi Naruto yakin bahwa itu akan membawa pada jalan yang baik.
"Aku..."
Kepala sekolah menatapnya dengan serius, menunggu keputusan Naruto selanjutnya.
.
.
.
.
.
Settyna terlihat asik memasak sesuatu di dapur, senandung kecil yang keluar dari mulut mungilnya menjadi teman tersendiri baginya dalam memasak.
Sementara itu, disisi lain tampak perempuan aneh yang sedang membaca buku tentang resep masakan dengan wajah yang terlihat bingung.
"Aku jadi bingung dengan kata-kata yang ada dibuku ini..." perempuan itu mengungkapkan kebingungannya.
Settyna mematikan kompor lalu berbalik menghadap perempuan aneh yang sedang menatap buku dengan bingung, didepannya terdapat sebuah meja dengan peralatan dapur yang tersusun rapi diatasnya.
"Hmm..? Kamu hanya perlu memahaminya saja, tak perlu mempraktekkan semua yang ada dibuku itu. Karena terkadang resep yang tertulis disana tidak sesuai dengan seleramu" Settyna menanggapi kebingungan perempuan itu. Perempuan itu mangut-mangut mengerti.
"Pertama kali memasak, aku mencoba semua cara yang ada dibuku itu. Tapi setelah kucoba rasanya seperti kurang memuaskan, kemudian aku mencoba untuk memasak dengan variasiku sendiri dan ternyata hasilnya sangat memuaskan" Settyna terlihat semangat dalam menjelaskan itu.
"Benarkah? Kalau begitu, bisakah Settyna-chan mengajariku?" tampang perempuan memelas.
"Baiklah!"
.
.
.
.
.
Grrr...
"Jangan menghalangi jalanku!" sosok makhluk dengan wujud yang mengerikan tampak berhadapan dengan sosok naga merah raksasa.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu lewat?" Naga merah raksasa itu membalas sengit ucapan makhluk dihadapannya.
"Grr... kalau begitu" sosok makhluk mengerikan itu membuka mulutnya, disana mulai terbentuk sebuah bola berwarna hitam dengan beberapa cincin yang berputar mengelilinginya.
Naga merah itu tampak waspada dengan serangan makhluk mengerikan didepannya, lingkaran sihir merah berlapis tiga muncul untuk melindungi dirinya dari serangan tersebut.
"Pelindung macam itu tidak akan bisa melindungimu!"
Kenótita!
Serangan itu terbentuk seperti laser dan menghantam pelindung yang melindungi naga merah tersebut.
Crash!
Naga merah tersebut terbelalak saat kedua lapis pelindungnya pecah dan menyisakan satu pelindung, ia menambah kekuatannya pada pelindung terakhirnya.
Crack!
Pelindung terakhir mulai retak...
Crash!
"Gaarrrrrgggghhhh!" Sang naga merah itu mengaum penuh kesakitan saat serangan kuat itu menghantamnya.
"Itulah akibatnya jika berani melawan salah satu dari tiga peringkat teratas 'The Highest Entity', hahaha!"
Sosok mengerikan itu tertawa, gigi-gigi panjangnya yang tajam bergesekan, menimbulkan suara yang bisa membuat telinga sakit ketika mendengarnya.
.
.
.
.
.
Deg!
Settyna terlihat kaget, ia menoleh pada perempuan disampingnya.
"Apa kamu merasa ada yang aneh?" tanya gadis itu dengan pandangan yang serius.
"Hm? Aku hanya merasakan adanya The Hi-..."
"Itu dia!" belum sempat perempuan itu menyelesaikan perkataannya, Settyna sudah lebih dahulu memotong perkataannya.
"Entah dimana, pastinya dia sedang melakukan sebuah kekacauan!" ungkap Settyna.
"Kekacauan? Apa dia berpikir untuk memulai peperangan kembali?" perempuan itu terlihat khawatir.
Settyna bisa mengerti dengan apa yang perempuan itu rasakan...
"Sepertinya sosok itu punya kekuatan yang sangat besar..." Settyna menyampaikan opininya.
Sosok itu yang ia maksud adalah eksistensi yang baru saja mereka dua rasakan kemunculannya.
"Bahkan aku tak ragu untuk mengatakan bahwa dari segi kekuatan, ia adalah tiga peringkat teratas!" Settyna berucap.
"T-tiga peringkat teratas? Untuk apa dia kesini?" si perempuan aneh nampak kaget.
"The Highest Entity tidak pernah berpihak pada hal baik maupun hal jahat, kita netral! Kita adalah eksistensi kuat tetapi kita sering bosan, aku pernah tertidur sejak makhluk hidup belum diciptakan terkecuali kita untuk menunggu akhir zaman walaupun akhirnya terbangun! Kalian berenang bebas dialam semesta juga tanpa tujuan yang jelas dan aku yakin kalian pasti bosan dengan hal itu" Settyna berbicara dengan panjang lebar.
"Kamu benar Settyna-chan, aku bosan..." perempuan itu mendengus.
"Itu bisa menjadi alasan untuk sosok itu kesini, ditambah dengan adanya dua The Highest Entity yang berkumpul pasti akan membuatnya tertarik bukan?" perempuan itu mengangguk mendengarnya.
"Uh! Kuharap peperangan tak terjadi lagi..."
.
.
.
.
.
To Be Continued
Hm... saya kembali update di chapter 9 ini, apakah saya lama updatenya? Saya minta maaf atas hal itu.
Oh ya! Sebelumnya saya ada permintaan! Tolong dong, carikan saya karakter anime yang cocok untuk 'perempuan aneh' itu, soalnya saya merasa aneh juga kalau terus menyebutnya dengan sebutan itu. Cari yang se*si, cantik dan agak mesum/centil.
Dan adakah yang masih bingung dengan The Highest Entity? Saya akan jelaskan itu.
The Highest Entity adalah eksistensi terkuat dialam semesta, bahkan butuh lima makhluk sekuat Great Red untuk menyeimbangi kekuatan The Highest Entity peringkat terbawah. Dikatakan pada chapter sebelumnya bahwa The Highest Entity pernah berseteru milyaran tahun yang lalu yang akhirnya dihentikan oleh The Highest Entity terkuat yang masih saya rahasiakan identitasnya. The Highest Entity ada sebelas, mereka punya masing-masing peringkat yang akan terkuak di chapter-chapter kedepan termasuk Settyna dan perempuan yang bersamanya, juga sosok The Highest Entity yang muncul pada chapter ini.
Apa ada yang beranggapan bahwa Settyna itu terlalu kuat? Ya memang benar! Tetapi masih ada pantangan untuknya, masih ada eksistensi kuat lainnya yang mempunyai gelar sama sepertinya yaitu The Highest Entity lainnya yang belum diketahui identitas dan kekuatannya.
Bahkan bisa saja perempuan yang bersama Settyna sekarang bisa menyaingi kekuatannya, tapi yah... karena saya tidak ingin mengungkapkannya sekarang, jadi tunggu saja nanti.
Nah, hanya itu yang saya ucapakan sekarang...
Ngomong-ngomong saya butuh motivasi loh untuk menulis.
Kritik dan saran masih sangat dibutuhkan...
Bye...
Oh! Nanti dulu, saya ada pertanyaan tentang jabatan Naruto. Jadi, apa dia akan naik jabatan?
Jawab yah! Kalau begitu, Bye...
POFT!
