How Can I Get A Lover

by

Achan Van Jeevas

.

Cast :

Kim Jonghyun (JR) – Hwang Minhyun

Min Yoongi (Suga) / Lu Han (Xi Luhan) / Choi Minki (Ren) / Kang Daniel

Oh Sehun – Kim Kai

Jung Yunho – Kwon BoA – Clara (OC)

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

.

Suara dentuman music terdengar membahana di gedung yang dikenal sebagai Miracle Club, sebuah Club ternama yang ada di Seoul. Lautan manusia ikut bergoyang oleh alunan yang dimainkan oleh DJ. Teriakan membahana, alcohol, semuanya sudah menjadi pemandangan yang biasa disana. Club ini tidak pernah sepi pengunjung.

Daniel mencoba keluar dari lautan manusia yang menggila disekelilingnya, jam dipergelangan tangannya menunjukan angka 09:45, 15 menit lagi sebelum gerbang asrama kampus mereka ditutup dan dia tengah mencari teman-temannya yang entah ada dimana.

"Oh, Shit. Luhan… Luhan!" Daniel berjalan mendekati si China yang sudah ia kenal betul. "Luhan. Kita harus pulang. 15 menit lagi gerbang asrama akan ditutup!" teriak Daniel karena suaranya kalah dari music yang dimainkan oleh DJ.

Pemuda China yang bernama lengkap Xi Luhan masih memegangi wine merah yang ada ditangannya, matanya tidak focus dan mulutnya menggumam sesuatu. "Oh, Daniel. Arak seribu kali lebih nikmat dari wine bahkan wine merah."

Daniel memutar matanya, sangat susah jika sudah berbicara dengan rusa China yang tengah mabuk ini. Mata Daniel memandangi sekelilingnya mungkin saja dia menemukan temannya yang lain.

"Ren!" teriaknya dan berlari menuju temannya yang memiliki kecentilan luar biasa. "Ren, kita harus pulang!" ujarnya setelah berdiri disamping Ren yang tengah menari dengan entah siapa.

"Ren!"

"Oh, Daniel Bunny. Jangan mengganggu. Pergilah!" ujar Ren sambil mengibaskan tangannya, mengusir Daniel tanpa memandangnya.

Daniel menghela nafas melihat tingkah Ren yang lebih mementingkan lelaki asing ketimbang temannya, yah lelaki asing berwajah tampan.

Daniel kini berdiri sendiri ditengah lautan manusia yang semakin malam semakin menggila, wajahnya sendu dan hampir menangis. Wajah menunduk Daniel segera mendongak saat ada lengan kekar yang melingkar pinggangnnya.

"Sendirian saja manis.. mau ku temani."

Daniel geram seketika mendengarnya dan dengan kemampuan yang diajari oleh Minhyun, Daniel segera menyikut pemilik lengan mesum tersebut dan langsung berlari.

"Suga!" teriaknya setelah melihat teman satu kamarnya. "Suga!"

Suga memalingkan wajahnya dari dua wanita yang menari dengannya dan segera berjalan menuju Daniel, sebelum benar-benar meninggalkan dua wanita sexy itu Suga memberikan kedipan genit pada mereka.

"Daniel." ujarnya setelah berada didepan temannya.

"Kita harus segera kembali." Teriaknya.

"Hehhh… mengapa kita harus kembali? Semua keajaiban ada disini!" ujar Suga dengan senyum diwajahnya, lalu kembali ke dua wanita yang tadi ia tinggalkan dan kembali menari.

"Oh, Aku harus mencari Minhyun. Hanya dia yang mampu mengendalikan mereka." monolog Daniel, dia lalu berjalan kearah Suga. "Dimana Minhyun?"

"Minhyun?! Tentu saja dia ada disana." Suga menunjuk kearah yang membuat kiblat bagi lautan manusia yang ada disana.

Wajah Daniel langsung down seketika, ketika harapan terakhirnya malah lebih parah dari ketiga temannya yang lain. "Oh, No."

Hwang Minhyun temannya yang selalu ia anggap seorang Dewi kini tengah melakukan hobinya yang tak lain dan tak bukan adalah men-DJ. Tentu saja jika ia ingin pulang ia harus menunggu Minhyun yang tengah men-DJ untuk lautan manusia dan itu akan sangat lama.

.

.

Kelima remaja manis kini memandangi gerbang tinggi yang berjarak 10 meter didepan mereka dengan ekspresi sama. Datar.

"Jam berapa sekarang?" tanya Luhan.

Keempat temannya yang lain secara bersamaan melihat jam mahal dipergelangan tangan mereka. "1:46."

"Gerbang belakang." Ujar Suga.

.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ren.

"Panjat dan tidur dikamar." kata Minhyun dengan suara yang tenang.

"Tunggu." Luhan mengangkat tangannya. "Lihat disana." Tunjuknya.

Keempat temannya mengikuti arah telunjuk Luhan. Dan melihat sebuah alat yang dipasang di pojok dinding.

"Apa itu?" tanya Suga.

"Alat alarm tercanggih yang pernah aku lihat." Ujar Luhan dengan mendamba. "Alarm itu terpasang disana dan terhubung dengan alarm utama. Jika ada yang memanjat dinding, 10 detik kemudian alarm akan berbunyi. Jadi kita hanya memiliki waktu 10 detik untuk memanjat dan turun."

Suga memandangi dinding didepannya. "Kita tidak akan bisa melakukannya. Jikapun kita bisa alarm akan tetap berbunyi selagi kita berlari ke kamar asrama kita."

Ren menaruh jarinya dibawah dagunya, berpose seolah berpikir. "Kita harus membuat pengalih perhatian agar para penjaga tidak melihat kita."

Minhyun memandangi sekelilingnya dan melihat kucing jalanan yang hampir tidak memiliki bulu sama sekali tengah tertidur pulas disamping semak-semak. "Daniel, tangkap kucing itu!"

"APA?!"

Keempatnya segera memandang tajam Daniel.

"Jangan berisik dan jangan membantah." Kata Minhyun.

"No way!"

"Daniel!"

"NO!"

Luhan berjalan mendekati teman sekamarnya yang memiliki gigi kelinci manis itu dan mencubit pinggang Daniel. "Jangan membantah atau kau tidur dikamar lain."

Daniel mengerang dan segera berjalan menuju kucing itu. "Menjijikan."

Dan beberapa menit dihabiskan oleh Ren, Suga, Minhyun dan Luhan menyaksikan Daniel yang tengah menangkap kucing itu.

"Ok, Selesai. Ini." Daniel membawa kucing tersebut dengan nafas terengah-enggah dan memberikannya pada Minhyun.

Minhyun tidak mengambil kucing jalanan tersebut dan hanya memandang datar. "Pegang."

Daniel membuka mulutnya. "What?"

"Ayo panjat bersamaan."

Kelima remaja primadona kampus ternama di Seoul itu memanjat dinding belakang asrama mereka secara bersamaan.

"Daniel, cepatlah. Kau lama." keluh Ren.

"Kucing ini menggangguku."

"Masukan kucing itu di tasmu." Perintah Minhyun.

"Tidak."

"Kau tidak memiliki pilihan lain." Ujar Suga.

"Daniel, aku akan memberikan apapun untukmu asal kita tidur dikamar asrama kita." tambah Minhyun dengan nada lelah.

"Oh, menjijikan." Dan dengan berat hati Daniel memasukan kucing jalanan itu di tasnya yang bermerk.

Saat kelimanya sudah berada di atas dinding.

"Kita melompat bersamaan." Ujar Luhan dan tanpa aba-aba mereka melompat dari gerbang yang setinggi 5 meter.

Brukkkk!

"Owh, punggungku."

"Kuku indahku."

Minhyun mengerang tertahan. "Daniel. Keluarkan kucing itu dan kita segara pergi dari sini. Alarm akan berbunyi dan kita tinggalkan Kucing itu disini agar para penjaga mengira jika kucing itu yang membunyikan alarm."

"Dia, tidak mau keluar. Dasar kucing sialan. Jangan menyakar tas bermerk milikku, Idiot."

Dan setelah kucing jalanan itu keluar dari tasnya, mereka segera berlari menuju kamar asrama mereka.

.

Kedua penjaga berjalan menuju ke gerbang belakang setelah alarm berbunyi tiga detik yang lalu.

Salah satu penjaga yang memiliki tubuh lebih pendek menatap ketanah. "Ah, hanya kucing." Ujarnya setelah melihat kucing yang hanya memiliki sedikit bulu terdiam disana.

Si penjaga lain berjongkok dan melihat sesuatu yang ada dibawah tubuh kucing itu. "Aku rasa tidak." Dan ternyata benda itu tak lain dan tak bukan adalah sebuah dompet.

"Ms. Kahi akan senang melihatnya." Dan memberikannya pada temannya.

Si penjaga lain hanya tersenyum melihat siapa pemilik dompet ini. "Sangat senang."

.

.

.

Sinar matahari pagi yang lembut memasuki salah satu kamar yang ada di asrama sebuah universitas ternama di Seoul, kelima penghuni kamar sudah bersiap-siap berangkat menuju kampus yang masih satu lingkungan dengan asrama mereka.

"Ini menyebalkan." Gumam Ren sambil memandangi pantulan dirinya di cermin. "Lihat wajahku. Waktu tidurku kurang dan inilah yang terjadi!"

Suga, Luhan dan Daniel memutar mata mereka mendengar keluhan teman sekamar mereka yang paling manja jika masalah kecantikannya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Semalam kita ke club itu usulan darimu." Jawab Minhyun dengan tenang sambil membereskan tasnya.

Ren semakin cemberut mendengar ucapan temannya yang paling cantik dan manis diantara mereka. "Aku lupa jika di semester ini kita memiliki jam pagi."

Minhyun menata rambut hitamnya dengan jari-jarinya dan langsung membuka pintu kamar mereka disusul oleh keempat teman sekamarnya.

Tepat saat kelimanya keluar dari kamar mereka seketika orang-orang lain yang ada dilorong asrama langsung memberi jalan untuk kelimanya.

Siapa yang tidak mengenal kelimanya selama dua tahun mereka memasuki Seoul University. Kelima Primadona kampus yang awal kedatangannyapun sudah membuat banyak masalah karena kecantikan dan kekayaan mereka.

Mari kita berkenalan dengan satu persatu dengan mereka.

Choi Ren.

Dia memiliki nama asli Choi Minki namun mengubahnya menjadi Ren karena menurutnya lebih keren. Dia adalah bungsu keluarga Choi, memiliki dua kakak laki-laki, pertama Choi Seungcheol dan Choi Minho, sangat membanggakan kecantikannya dan suka menggoda setiap laki-laki tampan dan suka memberikan nama panggilan pada teman-temannya.

Xi Luhan.

Ayahnya orang China dan Ibunya orang Korea, dia sangat lihai dalam teknologi dan tahu semua jenis teknologi karena bisnis ayahnya ada di bidang teknologi. Selain dalam teknologi dia juga pandai mencari informasi dan tahu semua informasi luar dan dalam kampus. Diantara kelimanya dia memiliki kepintaran yang setara dengan Minhyun.

Min Suga.

Suga adalah anak dari designer ternama, Ibunya sering mengiriminya baju setiap minggu untuknya dan teman-temannya, hingga saat ini tidak diketahui siapa Ayah Suga namun Suga tidak ambil pusing dengan itu.

Kang Daniel.

Daniel adalah yang paling polos dan sering menjadi sasaran empuk kejahilan keempat temannya, anggota paling ceria dan dia sangat mengagumi kepintaran dan kepribadian Minhyun. Memiliki warna rambut coklat dan mata hitam. Dia adalah yang paling muda diantara kelimanya.

Hwang Minhyun.

Anak bungsu keluarga Hwang –keluarga kaya yang menekuni bidang multinational. Minhyun itu selalu tenang dan perhatian namun tidak ada yang berani dengannya. Keempat temannyapun menganggap Minhyun adalah teman sekamar yang menakutkan jika marah, selain karena nama keluarganya juga karena tampangnya yang selalu dingin tanpa ekspresi.

Dan bagaimana kelimanya yang memiliki banyak sekali perbedaan bisa menjadi teman yang begitu klop?

Salah satu kampus terbaik di Korea ini memang menyediakan asrama untuk anak-anak yang berasal dari luar kota maupun luar negeri, terdapat dua asrama yaitu Asrama Perempuan dan Asrama Laki-laki, Asrama tersebut seperti sebuah hotel, kalian tinggal memilih mau kamar yang besar, sedang atau kecil semuanya ada.

Kembali kita focus pada kelimanya, hari pertama mereka menjadi teman sekamar adalah kesan pertama yang selalu mereka ingat.

Daniel sebagai anak yang baik adalah yang pertama memasuki kamar nomor 101 itu dan dengan santai langsung duduk dikasur yang sudah ia claim lalu dataglah Luhan, pemuda China penggila teknologi, games dan barang mahal, bukannya menyapa Daniel yang sudah berseri-seri memandangnya Luhan malah langsung duduk didepan computer dan memulai hobinya yaitu bermain games.

Sambil bermain games di computer Luhan menyapa Daniel dengan ala kadarnya dan mengoceh tentang teknologi yang ada dikamar asrama mereka, Daniel yang sama sekali tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan pemuda China didepannya hanya melongo.

Lima menit kemudian datanglah Suga, pemuda semanis gula namun juga sepahit kopi hitam itu datang dengan penampilan bak supermodel, Daniel yang begitu polos tentu langsung bertanya apakah Suga seorang model dan Suga hanya memutar matanya dan mengatakan jika ibunya seorang designer dan selalu menyuruh Suga sebagai boneka percobaannya dan dengan santai Suga memberikan Daniel dan Luhan baju sebagai hadiah pertemanan.

Saat Daniel dan Suga –Luhan juga terkadang ikut mengobrol datanglah sang bungsu keluarga Choi, Ren.

Tepat saat Ren satu langkah memasuki kamar nomor 101 itu bukan sapaan kepada teman sekamarnya yang ia ucapkan namun kritikan mengenai kamar tersebut. Walaupun bibirnya masih mengeluarkan ucapan pedas kaki jenjang Ren tetap memasuki kamar dan meletakan koper-koper super besarnya dengan santai, ketiga pemuda yang sudah lebih dulu datang hanya memandangnya aneh.

Merasa sudah cukup mengkritiki isi kamar barunya, Ren barulah memandang ketiga pemuda yang sudah ada disana dan kembali mulut pedasnya mengeluarkan kritikan mengenai pakaian yang dipakai oleh ketiganya.

Daniel yang polos dan Luhan yang acuh hanya diam saja saat Ren mengkritik gaya berpakaian mereka namun tidak Suga, baju yang ia pakai adalah desain dari Ibunya dan dengan seenaknya ada anak manja yang mengkritik baju ibunya membuatnya murka dan dengan segera adu mulut terjadi diantara keduanya.

Dua puluh menit sudah keduanya beradu mulut, Daniel sudah meringkuk dipojok kamar karena katakutan dan Luhan yang sudah mencoba menengahi keduanya –karena keduanya mengganggu konsentrasinya sudah lelah dan hanya menatap keduanya dengan jengah.

Tanpa mereka sadari pintu kamar mereka kembali terbuka dan muncullah sang pemeran utama diantara mereka, dengan gerakan acuh sang pemuda cantik dan manis itu menarik kopernya dan meletakannya disamping kasur tanpa mempedulikan kedua pemuda yang tengah bertengkar hebat.

Sang pemuda kelima itu melepaskan earphone yang ia pakai dan memandang Luhan yang tampaknya sudah memandanginya dari awal ia masuk. Luhan yang mengerti tatapan sang pemuda kelima hanya mengangkat bahunya sambil menunjuk kedua pemuda yang masih bertengkar.

Sang pemuda kelima memandangi keempat pemuda lain didepannya dengan datar.

"Hwang Minhyun." Ujarnya entah pada siapa dikamar itu, suaranya sangat jernih dan merdu namun amat dingin dan sekeras batu.

"Hwang?" tanya Luhan, mengerti maksud ucapan dari pemuda yang menyebut namanya.

"Nde."

Luhan mengangguk mengerti. "Aku Xi Luhan dan yang berada dipojok kamar itu Kang Daniel, yang itu Min Suga dan yang satu laginya kemungkinan besar ia adalah Choi Ren."

Minhyun berjalan menuju salah satu meja belajar dan mengambil sesuatu dari sana dan dengan tenang berjalan diantara kedua orang yang tengah bertengkar sambil menyodorkan tangannya.

Luhan dan Daniel memandang tidak mengerti dengan si pemuda terakhir yang baru masuk tersebut sedangkan Suga dan Ren yang merasa terganggu akibat pertengkaran mereka terputus oleh orang asing yang tidak mereka ketahui hanya memandang Minhyun.

"Apa?!" ujar Suga dan Ren bersamaan.

"Ini gunting dan cutter, aku lebih suka melihat pemandangan saling memutilasi daripada beradu mulut. Gunakan ini." ujar Minhyun dengan nada tenang namun berefek mendalam bagi semuanya.

Dan itulah kisah pada hari pertama mereka bertemu.

.

.

.

.

TBC

.

.

Bye Bye bye

L.O.V.E Ya