How Can I Get A Lover
by
Achan Van Jeevas
.
Cast :
Kim Jonghyun (JR) – Hwang Minhyun
Min Yoongi (Suga) / Lu Han (Xi Luhan) / Choi Minki (Ren) / Kang Daniel
Oh Sehun – Kim Kai
Jung Yunho – Kwon BoA – Clara (OC)
.
.
.
Chapter 3
.
.
Daniel membuka-buka isi tasnya dengan panic sehingga membuat Suga yang ada disampingnya memandangnya bingung.
"Ada apa?"
Daniel mengangkat wajahnya. "Sepertinya dompetku tertinggal, kalian duluan saja aku akan mengambilnya." Ujarnya sambil memutar jalan menuju kembali kekamar mereka.
Ren memutar matanya sambil memoleskan lipbalm dibibirnya, walaupun dia laki-laki tapi dia sangat mengagumi kecantikannya sendiri. "Selalu ceroboh."
"Kalian duluan saja aku akan menunggu Daniel ditaman, lagipula kelas kita berdua dimulai satu jam lagi." Ucap Suga sambil memandangi ketiga teman sekamarnya.
"Baiklah." Kata Luhan sambil menarik lengan Ren diikuti Minhyun yang berada dibelakang keduanya.
.
"Oh, sial. Dimana dompetku." Daniel berdiri sambil memandang keseluruh penjuru kamar asrama mereka.
Daniel menarik nafas dan mengeluarkannya sambil memejamkan matanya. "Tenang Daniel, Tenang. Tetap tenang dan mencari dompetmu." Dan dengan itu Daniel kembali bersemangat untuk mencari dompetnya.
Sepuluh menit kemudian hasilnya nihil.
"Ahhhh, dimana kau dompet….."
Daniel mengacak-acak rambut coklatnya dengan kasar.
"Ok, ok, ok. Kembali tenang dan pikirkan baik-baik… semalam kita ke Miracle Club lalu aku membayar bill, masih ada. Pulang kita naik taxi dan membayar ke supir taxi, masih ada. Lalu masuk ke asrama lewat gerbang belakang dengan aku yang membawa kucing…." Ucapan Daniel terhenti sendiri. "…kucing… Oh–"
Ting Tong…
Ting Tong…
Kaki Daniel bergerak tanpa bisa dikomando untuk membuka pintu.
"Mencari ini Daniel?" ujar sosok wanita sambil memamerkan dompet berwarna biru pada pemuda didepannya yang memandangnya dengan horror.
"..Nde, Kahi Saem."
.
.
Minhyun mendudukan dirinya disamping Luhan yang tengah membaca majalah fashion sedangkan Ren, dia duduk dibelakang bersama dengan laki-laki yang entah siapa namanya.
"Choi Ren dan pacarnya untuk hari ini." ucap Luhan melirik sekilas teman sekamarnya.
"Bukannya kemarin dia bersama laki-laki yang memiliki selera fashion aneh, yah? Mudah sekali ia move on."
"Namanya Kwon Jiyoung, Minhyun-ah." Luhan memutar matanya akan ketidak pedulian Minhyun pada sekitarnya padahal Jiyoung itu salah satu pangeran kampus. "Dan tentu saja dia mudah move on karena Ren tidak memakai perasaannya."
Minhyun memandang si China disampingnya. "Tidak memakai perasaannya? Maksudnya Ren tidak mencintai Jiyoung?"
Luhan terkekeh mendengar ucapan Minhyun. "Cinta? Came on, Minhyun-ah. Kau hidup di jaman Nenek ku yah? Sudah tidak ada cinta didunia ini."
Minhyun terdiam mendengar ucapan Luhan.
Sudah tidak ada cinta di dunia ini? dunia benar-benar sudah membusuk karena penghuninya.
.
'Diberitahukan kepada penghuni kamar 101 Asrama Laki-laki untuk berkumpul dilapangan utama kampus segera.'
Suga membuka matanya ketika mendengar kamar yang ia tempati bersama keempat temannya sejak dua tahun yang lalu disebutkan. Anak tunggal dari Nyonya Min itu segera mendudukan dirinya dikursi taman belakang kampus.
Suga membuka handphone nya dan melihat grup chat kamar mereka dimana ada pesan dari si magnae mereka.
Bunny Niel : "Maafkan aku."
Yang bisa Suga lakukan setelah membaca pesan tersebut langsung mengumpat kepada si pemuda kelinci tersebut.
.
Luhan dan Ren langsung mendongak ketika mendengar suara dari intercom kampus mereka, seluruh mahasiswa yang ada dikelas yang sama dengan mereka langsung memandang mereka.
Ren langsung berdiri dan meninggalkan Seungri menuju kedua teman sekamarnya. Sang bungsu keluarga Choi itu menepuk pundak Luhan.
"Beritahu Minhyun, aku ke lapangan duluan."
Luhan mendelik tajam pada Ren. "Kenapa aku?"
"Dia berada disampingmu." Ujar Ren dan langsung keluar kelas.
Luhan menggembungkan pipinya, ia memandang kesampingnya dimana sang permaisuri Hwang tengah asyik pada dunianya.
Minhyun menyumpal telinganya dengan headset sambil membaca buku tebal ditangannya, sesekali mulutnya ikut melantunkan lagu yang ia dengar.
Luhan menarik nafas lalu membuangnya, Minhyun itu kalau ada yang mengganggu dirinya yang tengah membaca maka orang tersebut tidak akan selamat dari tatapan tajamnya dan selama dua tahun berteman dengannya Luhan tetap saja merasa takut dengan tatapan tajam itu.
Luhan mencabut headset ditelinga kiri Minhyun dengan lembut namun sukses mendapatkan delikan tajam sang bungsu Hwang.
"Jangan marah dulu. Kita dipanggil untuk kelapangan, sepertinya kita ketahuan."
Delikan tajam Minhyun langsung menghilang dan ia hanya mengangguk singkat. Keduanya lalu berdiri untuk ke lapangan utama kampus mereka.
.
Kahi memandang tajam kelima primadona kampus didepannya. Julukan primadona memang pantas mereka sandang walaupun fakta bahwa mereka berlima adalah laki-laki. Kelimanya memiliki visual yang bahkan Kahi pernah dengar rekan-rekan sesama dosennya menyebutnya 'Surga kecil dunia'. Mereka tampan, rupawan, manis dan cantik.
Setiap kaum Adam maupun kaum Hawan berlomba-lomba untuk menjadi kekasih mereka namun mereka semua tahu, tidak ada yang pantas bersanding dengan mereka berlima kecuali seorang pangeran.
Selain paras mereka yang menawan, kelimanya juga memiliki otak yang cerdas bahkan Daniel dan Ren tetap masuk kejajaran 50besar ranking seluruh kampus. Dan sayangnya otak jenius kelimanya mereka buat untuk melakukan keonaran walaupun hanya si bungsu Hwang dan si tunggal Xi yang benar-benar menggunakan otak jenius mereka untuk akademik namun keduanya tetap saja ikut dalam keonaran apapun.
Kahi ingat dua tahun yang lalu saat kelimanya masih menyandang status sebagai mahasiswa baru dan dimana ada beberapa senior yang melakukan tindakan sewenang-wenang pada junior mereka. Kelimanya mengerjai senior mereka tersebut selama berhari-hari hingga senior mereka memilih pindah keluar negeri karena tidak kuat dengan kejahilan kelimanya.
"Aku menemukan ini semalam di gerbang belakang kampus." Kahi memperlihatkan dompet berwarna biru didepan kelimanya.
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" ucap Suga berpura-pura tidak tahu.
"Ini milik salah satu dari kalian berlima."
Ren memutar matanya. "Mengapa anda yakin dompet itu milik kami? Mungkin saja milik orang lain. Brand dompet seperti itu banyak dimiliki oleh orang."
Kahi tetap tersenyum. "Dompet ini limited edition dan hanya kalian berlima yang selalu memiliki barang limited edition."
"Itu bukan milik kami, Kahi Saem." Ujar Luhan dengan penuh penekanan walaupun ia tahu betul bahwa dompet itu milik Daniel.
"Bukan milik kalian, yah?"
"Ya. Bukan milik kami!" ujar keempatnya minus Daniel.
"Tapi saat aku kekamar kalian dan berkata pada Daniel bahwa dompet ini benar miliknya."
Keempatnya secara bersamaan menengok kesebelah kiri mereka dimana Daniel memang keempatnya dengan tatapan memelas.
"Maafkan aku."
Ren sudah siap mengeluarkan ucapan pedasnya ketika Kahi Saem memandangnya tajam. "Aku pikir pada awal tahun ketiga ini kalian sudah berubah namun tidak sama sekali. Kalian benar-benar membuatku pusing dengan tingkah kalian."
"Kami bisa membuat pusing anda hilang Saem, yaitu dengan cara anda tidak perlu lagi memanggil kita dan membiarkan kita melakukan apapun." Ujar Ren dengan senyum manis.
Kahi menggelengkan kepalanya. "Terimakasih atas saranmu, Choi-sshi. Tapi tidak." Kahi menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. "Sebagai hukuman karena melanggar aturan jam malam maka kalian akan aku hukum dengan tetap berdiri disini hingga jam 12."
"Apa?!"
"Wtf."
"Saem.."
Kahi kembali menatap tajam kelimanya. "Tidak ada bantahan."
Ren menatap Kahi dengan tatapan memohon. "Saem, Please. Jangan lakukan ini, beri kami sanksi apapun. Memanggil orang tua kami, menskors kami. Tidak apa-apa Kahi Saem."
"Hukuman Saem itu seperti hukuman anak SD. Saat SD aku sudah ratusan kali mendapatkan hukuman seperti ini masa sampai kuliahpun hukumannya tetap seperti ini." ujar Daniel merajuk. Dari SD dia memang anak yang sangat aktif, aktif menjahili teman-teman sekelasnya, mangkanya ia sering mendapat hukuman.
"Karena aku sudah kehabisan ide untuk menghukum kalian. Selama dua tahun ini aku sudah memberikan kalian ratusan hukuman namun kalian tidak jera juga, mangkanya Saem memberikan kalian hukuman seperti ini."
Kahi sudah membalikan badannya untuk meninggalkan kelima mahasiswa biang onar tersebut namun ia kembali berbalik dan memandang kelimanya dengan tajam. "Jika ada satu diantara kalian yang pergi sebelum jam 12 siang maka kalian akan tetap berdiri sampai jam 12 malam."
Kelima pemuda rupawan itu langsung mengerang mendengar ucapan dosen wanita paling tegas di Seoul University itu.
Ren menyeka keringat yang ada didahinya. "Aku lupa membawa sunblock."
Minhyun membuka tasnya dan mengeluarkan botol sunblock dan melemparkannya pada Ren. "Aku memiliki firasat bahwa kita akan panas-panasan jadi aku membawa Sunblcok."
"Hwang Minhyun kau memang seorang Dewi." Ujar keempatnya secara bersamaan lalu memakai sunblock secara bergantian.
Hampir dua jam kelimanya tetap berdiri saling punggung memunggung ditengah lapangan kampus dan seluruh mahasiswa yang lewat pasti memang mereka berlima berkali-kali, bahkan ada yang secara terang-terangan memfoto mereka.
Sudah dijelaskan bukan bahwa kelimanya adalah primadona kampus. Apapun yang berkaitan dengan kelimanya pasti akan selalu menjadi berita utama. Lagipula siapa yang tidak mengenal mereka, baik karena diri mereka sendiri ataupun nama orang tua mereka.
"Niel, bagaimana bisa dompetmu ada pada Kahi Saem?" tanya Minhyun.
Suga mendelik tajam pada si magnae. "Ini semua salahmu. Aku harusnya tengah tidur dengan nyenyak sekarang ini."
"Jangan salahkan aku, salahkan kucing itu. Saat aku mengeluarkannya dari tasku sepertinya ia menarik dompetku." Jelas Daniel.
"Pintar sekali kucing itu mengambil dompetmu." Puji Luhan.
"Dasar kucing mata duitan." Gumam Daniel sambil memaki-maki kucing jalanan semalam.
"Apa kita harus membuat terowongan rahasia agar tidak ketahuan?" ujar Ren.
"Luhan, Minhyun. Mengapa kalian tidak membuat jubah tak kasat mata saja agar kita berlima tak terlihat." Ucap Suga pada kedua temannya yang jenius.
Otak jenius Minhyun langsung terhubung ketika ia mengingat ucapan salah satu seniornya yang sudah lulus tahun lalu. "Tidak usah. Aku baru ingat beberapa bulan yang lalu salah satu senior kita mengatakan padaku bahwa digudang belakang Asrama Laki-laki ada gerbang tua yang langsung mengarahkan kita keluar wilayah kampus."
"Kenapa kau tidak mengatakannya semalammm." Erang keempatnya.
"Aku lupa." Jawab Minhyun singkat dan jelas.
"Kids." Lee Seokhoon menghampiri kelimanya.
"Hey, Saem." Ujar Ren dan Suga seenaknya sedangkan Luhan, Daniel dan Minhyun membungkuk sopan padanya.
Seokhoon hanya menggelengkan kepalanya, sudah hapal dengan sikap tidak sopan Ren dan Suga. "Aku disuruh Kahi Saem untuk mengatakan pada kalian bahwa hukuman kalian berdiri disini sudah selesai."
"Yeah!" kelimanya meloncat kegirangan dan saling berpelukan.
"Karena kalian mengganggu mahasiswa yang sedang belajar." Lanjut Seokhoon.
"Menganggu?"
"Iyah, menganggu. Mahasiswa yang tengah belajar jadi tidak focus pada materi karena mereka lebih senang memandangi kalian dari jendela." Jelas Seokhoon.
Kelimanya lalu memandangi jendela-jendela kelas dan barulah mereka sadar bahwa ada ratusan mahasiswa yang tengah memfoto mereka dari jendela ruangan.
"Masa bodoh dengan mereka yang penting hukuman kita sudah selesai."
"Siapa yang mengatakan hukuman kalian sudah selesai?" Seokhoon memandang kelimanya.
"Seokhoon Saem!" ujar kelimanya sambil menunjuk dirinya.
"Aku hanya mengatakan hukuman kalian berdiri disini sudah selesai tapi ada hukuman lain yang menanti kalian."
"Lagi?"
"Setelah ini kalian harus ke perpustakaan dan membantu Raina Saem."
"Membantu Raina Saem dalam artian kita membereskan perpustakaan." Ujar Minhyun langsung mengerti ucapan dosen didepannya.
"Perpustakaan? Kenapa harus perpustakaan?" Daniel mengeluh, ayolah kampus mereka ini adalah salah satu kampus terkenal di Korea dan pastinya perpustakaannya amat sangat besar.
"Iyah, Saem. Kenapa harus perpustakaan kenapa tidak lab saja?" Luhan menarik-narik lengan salah satu dosen yang sudah dekat dengannya itu. Lagipula Lee Seokhoon itu salah satu pamannya dari pihak ibunya.
"Tidak. Kahi Saem tidak lagi mempercayai kalian dengan lab kimia nya. Ingatkan aku siapa yang menghancurkan lab kimia sebulan yang lalu."
Ren, Suga, Luhan dan Minhyun langsung memandang Daniel.
"Jangan salahkan aku, salahkan katak itu yang melompat padaku ketika aku sedang bereksperimen sehingga membuat beberapa cairan kimia bersatu dan menghasilkan ledakan."
Keempatnya memutar mata mereka. Karena katak atau bukan Daniel memang tidak berbakat dalam lab kimia. Untungnya saat ledakan itu terjadi kelimanya sudah berlari keluar dari lab.
"Saem, boleh kita ke kantin dulu? Kita belum mengambil jatah sarapan kami pagi ini dan kita sudah berdiri dilapangan berjam-jam. Kita lapar, Saem."
"Tentu saja boleh. Kalian boleh ke perpustakaan setelah makan siang."
"Yess!"
.
.
TBC
.
.
