How Can I Get A Lover

by

Achan Van Jeevas

.

Cast :

Kim Jonghyun (JR) – Hwang Minhyun

Min Yoongi (Suga) / Lu Han (Xi Luhan) / Choi Minki (Ren) / Kang Daniel

Oh Sehun – Kim Kai

Jung Yunho – Kwon BoA – Clara (OC)

.

.

.

Chapter 4

.

.

"Hehehe." Daniel tertawa membaca pesan dari Seongwoo.

"Dari Seongwoo yah?"

Daniel langsung mengangguk antusias, siapa lagi sih yang membuatnya tertawa gila seperti ini kalau bukan Seongwoo walaupun yah Daniel memang suka tertawa.

"Tunanganmu itu? Kapan ia pulang ke Korea?" tanya Luhan.

Seongwoo adalah tunangannya Daniel, mereka bertunangan satu tahun yang lalu sebelum Seongwoo kembali melanjutkan study nya di Paris. Seongwoo dan Daniel itu sudah berteman sejak SMP hingga SMA mereka tetap menjadi teman dekat walaupun Seongwoo adalah kakak kelas Daniel.

Kalian bertanya sejak kapan mereka berpacaran hingga memutuskan bertunangan?

Tidak, mereka berdua tidak pernah berpacaran. Mereka menganggap satu sama lain sebagai sahabat dan partner in crime.

Saat lulus SMA, Seongwoo melanjutkan kuliah di Paris. Satu tahun kemudian Daniel melanjutkan kuliahnya dengan tetap di Korea. Saat Daniel memasuki tingkat dua Seongwoo pulang ke Korea dan tanpa basa-basi meminta Daniel untuk menikah dengannya karena menurut Seongwoo tidak akan ada yang tahan dengan tawa Daniel, ketakutannya pada hantu dan serangga selain Seongwoo seorang dan Daniel hanya mengangguk setuju. Lagipula mereka berdua juga sudah sering tidur bersama sejak Daniel kelas 2 SMA.

Sayangnya karena usia mereka masih muda akhirnya kedua orangtua mereka setuju bahwa lebih baik mereka bertunangan lebih saja.

"Saat musim panas nanti."

"Berarti musim panas ini kau tidak akan ikut liburan dengan kita?" tanya Ren. Setiap tahun sejak dua tahun yang lalu kelimanya memang sering liburan bersama-sama, well minus sang permaisuri Hwang yang lebih memilih tetap berada dirumah besarnya.

"Awal liburan musim panas mungkin aku akan ikut karena aku yakin Seongwoo-hyung akan sibuk pada perusahan Ayahnya ketika ia kembali ke Korea."

Luhan memandang Minhyun. "Kau tidak ikut lagi?"

Minhyun menggeleng. "Tidak."

"Kenapa? Lagipula rumahmu kan sepi. Ayah dan Hyungmu pasti sibuk pada pekerjaan mereka."

"Mungkin tahun ini mereka akan mengambil jatah liburan mereka." Minhyun meminum jus miliknya.

Iyah, alasan ia tidak pernah ikut liburan bersama sahabat-sahabatnya adalah karena ia ingin tetap berada dirumah dan mungkin saja Ayah serta kakaknya akan pulang dan mereka akan liburan bersama seperti dulu.

Katakan Minhyun kekanakan namun itu yang sangat Minhyun inginkan sekarang, Minhyun lelah dengan kesepian yang melanda hatinya. Hanya keempat sahabatnyalah yang bisa membuat pikirannya teralihkan dari kesepian yang ia rasakan.

Walaupun begitu keempat sahabatnya tetap tidak bisa memberikan cinta yang Minhyun inginkan. Minhyun merindukan kehangatan penuh cinta dari Ayah dan Kakaknya tapi Minhyun juga ingin lebih.

Minhyun ingin merasakan kehangatan cinta dari seseorang. Seseorang yang bisa memberikan cinta yang tulus untuknya dan seseorang yang bisa ia cintai. Namun selama dua puluh tahun hidupnya Minhyun tidak bisa memberikan cinta pada orang lain.

Minhyun memang mengagumi satu orang bahkan mungkin Minhyun sudah siap memberikan hatinya untuk sosok tersebut namun sosok itu menghilang entah kemana selama satu bulan ini tapi mungkin itu hanya cinta sepihak darinya karena ia bahkan tidak pernah berbicara dengan sosok tampan itu walaupun keduanya sering bertemu baik di kampus maupun pada acara-acara bisnis keluarga.

Minhyun langsung berdiri setelah menghabiskan minumannya dan tanpa banyak kata keempatnya juga ikut berdiri dan mengikutinya dari belakang.

.

.

Raina memandang bosan pada kelima pemuda menawan didepannya. "Sebenarnya aku tidak mau menerima kalian di perpustakaan ini, kalian hanya akan membawa penggemar-penggemar bodoh kalian datang dan membuat keributan di perpustakaan."

Ren tersenyum cerah mendengar ucapan sang penjaga perpustakaan yang cantik itu. "Kalau begitu apakah anda akan membebaskan kami?"

Raina menyipitkan matanya memandang tajam si bungsu Choi. "Tidak. Sana bereskan buku-buku yang berantakan dan taruh ditempatnya semula dan ini." Raina memberikan kemoceng pada Luhan dan Suga. "Banyak rak-rak yang berdebu serta bersihkan meja dan kursi."

Kelima pemuda itu hanya terdiam sambil memandang Raina dengan tatapan berjuta makna.

"Tunggu apa lagi? Sana bereskan!"

Dan kelimanya langsung bergerak menuju rak-rak perpustakaan mereka yang tidak kecil itu.

"Aku mau ke rak-rak Novel." Ucap Ren lalu segera berlari meninggalkan keempatnya.

"Aku juga ingin ke rak IT." Luhan lalu bergerak kesebelah kanan menuju rak tujuannya.

"Aku apa saja asal tidak ke rak paling belakang." Rengek Daniel pada Suga dan Minhyun.

Alasan mengapa Daniel tidak mau ke rak belakang karena ada rumor bahwa ada hantu disana dan rak belakang memang jarang dikunjungi oleh mahasiswa di kampus mereka.

"Aku akan ke rak belakang." Ujar Minhyun dan langsung berlalu dari kedua temannya itu.

Kaki jenjang Minhyun membawanya menuju ujung dari perpustakaan kampusnya, syukurnya saat ini bukan masa-masa ulangan jadi tidak banyak yang datang mengunjungi perpustakaan.

Srkk.

Minhyun memejamkan matanya dan menarik nafas, mencoba untuk tidak kesal ketika ia merasakan beberapa mahasiswa mengikutinya.

"Keluar kalian." ujarnya dengan wajah datar namun tidak ada siapa-siapa disekelilingnya, hanya rak-rak besar berisi buku-buku tebal.

"Aku bilang, keluar kalian." kini Minhyun mengucapkan katanya dengan penuh penekanan.

Kini tiga orang laki-laki berbadan besar keluar dari rak-rak dan memandang Minhyun dengan tatapan lapar.

"Keluar dari sini jika kalian tidak ingin membaca buku." Ucap Minhyun dengan tenang, ia mencoba untuk tidak mempedulikan tatapan ketiganya pada tubuhnya.

"Kita memang tidak ingin membaca buku. Kita hanya ingin bermain dengan tubuhmu. Tenang saja, tidak akan lama kok. Hanya satu jam." kata laki-laki yang memiliki badan paling besar diantara ketiganya. "Satu jam untuk masing-masing dari kita hahahha."

"Buang jauh-jauh pikiran menjijikan kalian itu sebelum kalian menyesal." Desis Minhyun.

"Mengapa kita harus menyesal? Tiga lawan satu. Kau tidak bisa apa-apa, Cantik."

Minhyun menatap dingin ketiga sosok berbadan besar didepannya, tidak ada rasa takut sama sekali diwajah rupawannya.

"Kalian melupakan fakta bahwa aku memiliki daya ingat yang tinggi. Aku mengingat wajah kalian bertiga dan akan aku pastikan kalian akan langsung dikeluarkan dari kampus ini dan tidak akan ada tempat di bumi maupun langit yang menerima kehadiran kalian."

Ketiga laki-laki itu saling berpandangan, ekspresi ketakutan tercetak jelas didepan ketiganya.

"Ki-kita pergi saja." ujar sosok yang paling kiri pada kedua temannya dan tanpa banyak kata ketiganya langsung pergi dari depan Minhyun.

Minhyun menatap datar ketiga sosok tersebut lalu membalikan badannya untuk menuju tempat favoritenya di perpustakaan, rak paling belakang.

.

.

Minhyun menepuk-nepuk tangannya ketika ia telah selesai membereskan buku-buku dirak, sebagian besar buku yang ia bereskan itu buku-buku tebal yang sudah tua.

Minhyun melirik kesamping kanannya ketika ada seorang perempuan yang tampaknya adalah adik tingkatnya yang memakai kacamata super tebal menaruh buku sembarangan.

"Hey."

Perempuan berkaca mata tebal itu menghentikan langkah kakinya yang sudah siap pergi dan menatap seniornya yang tampan itu dengan gugup.

"N-nde, sunbae?" ucapnya gugup.

"Kau tadi mengambil buku itu dimana? Taruh ditempatnya semula." Perintah Minhyun.

"M-mianhamnida, sun-sunbae." Tubuh gadis itu bergetar, ia mengambil buku yang tadi ia taruh dirak yang bukan tempatnya dan membawa buku itu untuk ditaruh ditempatnya semula.

"Jika kau menaruh buku sembarangan lagi kau tidak akan selamat dariku." Minhyun meninggikan suaranya agar gadis itu mendengarnya.

"N-nde, sunbae."

Minhyun mendecih lalu duduk dilantai sambil mengeluarkan beberapa bukunya dan memasangkan earphone ditelinganya. Ia memandang kosong lorong rak-rak didepannya yang sunyi sepi.

Rak paling belakang ini memang adalah tempat favorite Minhyun di perpustakaan karena sepi dan hanya 0.1% dari pengunjung perpustakaan yang berani ke lorong rak ini karena banyak rumor-rumor menyeramkan tentang lorong ini dan jika boleh jujur bahwa Minhyunlah yang menyebarkan rumor itu agar tidak ada yang berani mendekati tempat favoritenya itu.

Tangan mulusnya mengambil buku jurnal miliknya yang sudah menemainya sejak dulu.

XX April 20XX

Kau tahu, Sepertinya aku benar-benar tidak akan bisa menemukan kisah cintaku didunia yang benar-benar sudah tidak mengenal apa itu cinta.

Panggil aku naïf karena aku ingin memiliki kisah cinta yang indah seperti yang diceritakan oleh Eomma dulu setiap malam sebelum aku tidur.

Lupakan dengan kisah cinta yang aku cari, aku mungkin akan berakhir dengan dijodohkan oleh Appa dengan seorang wanita yang tidak aku kenal.

Aku hanya ingin menemukan cinta yang tulus untukku, namun semua orang hanya memandangku sebagai sang bungsu Hwang, mereka mendekatiku karena wajahku, hartaku, tuubuhku dan semuanya yang berbau materi.

Minhyun menutup jurnalnya, ia kembali memandang kosong lorong rak didepannya. "Eomma, Appa dan Hyung sekarang selalu sibuk sejak Eomma pergi ke Surga."

Bungsu dari keluarga Hwang itu memejamkan matanya ketika rasa kantuk itu menyerangnya.

.

.

"Hey… Perpustakaan akan segera ditutup."

Minhyun membuka matanya perlahan-lahan hingga hingga membuat sosok didepannya terpana akan keimutannya.

"Nde?"

"Perpustakaan akan segera ditutup. Kau harus keluar." Ucap sosok laki-laki didepan Minhyun.

Minhyun mengangguk mengerti, ia tidak menatap wajah didepannya dan focus memasukan buku-bukunya kedalam tas.

Sosok yang tadi berjongkok didepan Minhyun untuk membangunkannya kini berdiri, ia berniat membereskan rak-rak disana namun ternyata rak-rak itu sudah rapih dan bersih.

"Aku sudah membereskannya." Ucap Minhyun sambil berdiri, ia menatap punggung laki-laki yang baru pertamakali ia lihat itu.

Sosok itu membalikan badannya hingga ia menatap sang primadona kampus itu dengan kacamata tebalnya.

"Ah pantas saja semuanya tampak rapih." Ucapnya dengan suara pelan namun Minhyun masih mendengarnya dengan jelas karena hanya ada mereka berdua disana.

Minhyun menatap penampilan laki-laki didepannya dengan datar, laki-laki itu benar-benar seorang nerd sejati. Baju yang ia pakai kebesaran, memakai celana bahan, rambut disisir rapih dan kaca mata tebal.

Yeoboseyo
Babeun meogeotni
Eodiseo mwo haneunji
Geokjeongdoenikka

Minhyun langsung mengangkat handphonenya. "Kenapa?"

'Dimana kau? Kami dari tadi mencarimu."

"Aku masih diperpustakaan. Kalian ada dimana?"

'Kami di kantin.'

"Ok, Aku akan kesana." Tanpa mempedulikan sosok didepannya Minhyun langsung berjalan meninggalkan sosok tersebut dan menuju kantin.

"Dia mirip dengamu." Ujar Clara yang tiba-tiba saja ada disamping JR.

"Mirip?"

"Hm." Clara menganggukan kepalanya. "Dia juga membenci dunia ini. Dunia yang penuh dengan kepalsuan ini."

.

.

.

"Baiklah, apakah ada yang mengerti dengan rumus didepan?" tanya Lee Saem pada mahasiswa didepannya dan seperti biasa ada dua tangan yang teracung bersamaan.

"Jonghyun-sshi." Tunjuk Lee saem pada sosok yang duduk dibelakang, ia menatap Minhyun sebentar yang ada disampingnya. "Minhyun-sshi, lain kali kau harus lebih cepat."

Minhyun hanya mengangkat bahu acuh. Ia kembali focus pada buku didepannya namun fokusnya terhenti ketika ia mendengar suara yang tampaknya ia tahu.

Minhyun memutar kepalanya hingga ia bisa melihat dengan jelas pemilik suara –yang tengah mengucapkan rumus-rumus.

"Dia laki-laki diperpustakaan yang membangunkanku tempo hari."

"Kau mengatakan sesuatu, Minhyunie?" tanya Luhan pada sosok disampingnya.

Minhyun menggeleng. "Tidak. Bukan sesuatu yang penting."

Dan sisa waktu mata kuliah itu dihabiskan oleh Minhyun dengan terus menerus melirik sosok nerd bernama Kim Jonghyun itu.

"Baiklah kuliah kita sampai disini. Jangan lupa tugas yang saya berikan harus kalian kumpulkan minggu depan." Perintah Lee Saem dan langsung keluar dari ruangan.

Minhyun berdiri dari kursinya namun sebelum benar-benar pergi ia membisikan sesuatu ditelinga Luhan. "Cari tahu sosok bernama Kim Jonghyun secepat yang kau bisa."

.

.

TBC