How Can I Get A Lover
by
Achan Jeevas
.
.
Cast :
[Main Cast]
Kim Jonghyun (JR) – Hwang Minhyun
Min Yoongi (Suga) / Lu Han (Xi Luhan) / Choi Minki (Ren) / Kang Daniel
[Support Cast]
Oh Sehun – Kim Kai
Jung Yunho – Kwon BoA – Clara (OC)
.
.
.
Chapter 6 : Teman
.
.
Kringg Kringg Kringg Kringgg
"WTF!"
"Akhhh, siapa yang memasang alarm sepagi ini."
"Nghhh aku baru tidur satu jam yang lalu!"
"MATIKAN ALARM SIALAN MU ITU, DANIEL SIALAN!"
Kringgg Kringgggg
"BUKAN MILIKKU, MINKI-HYUNG!"
Krin–
"Maaf, lanjutkan tidur cantik kalian." ujar Minhyun dengan suara yang tenang, tidak merasa bersalah sama sekali.
"HWANG MINHYUN, KAU MEMASANG SEPULUH ALARM!"
.
.
Minhyun menghentikan larinya setelah ia melihat kelasnya sudah didepan mata. "Hahh hahh. Tarik nafas, buang. Rilex rilex."
Dirasa sudah cukup rilex Minhyun memasuki kelasnya dengan santai dan bersikap tenang, seolah-olah ia tidak lari dari arah kantin sampai ke kelasnya.
Senyum terukir diwajah manisnya ketika ia melihat sosok yang membuatnya harus berlari-lari dipagi hari sudah ada didalam kelas.
"Annyeong, bugi-ya."
Jonghyun langsung menghentikan kegiatannya yang sedang membaca buku ketika ia mencium bau harum dari sampingnya. "Ah, Annyeonghaseyo Minhyun-sshi."
Senyum manis langsung sirna diwajah Minhyun ketika sosok berkacamata didepannya memanggilnya dengan embel-embel sshi.
"Mwoya? Kenapa kau memanggilku dengan embel-embel sshi. Kita sudah menjadi teman bukan?"
Mata Jonghyun melebar mendengar ucapan sosok manis yang sudah duduk disampingnya dengan santai. "T-teman?"
Minhyun tersenyum manis hingga sampai kematanya. "Yup. Teman. Kita adalah teman."
Jonghyun menundukan wajahnya. "Teman."
Minhyun langsung tersenyum puas melihat reaksi pistive dari Jonghyun.
"Karena kita teman jadi jangan panggil aku dengan embel-embel sshi lagi. Panggil aku Minhyun."
"Min..hyun?"
"Nah kalau seperti itu kan lebih enak didengar."
"Ok, Minhyun."
Kini ia memandangi wajah Jonghyun yang kembali focus pada buku ditangannya. Minhyun tidak akan bosan memandangi wajah sosok yang ditaksirnya itu walaupun sosok itu hanya sedang membaca dan tidak mengeluarkan banyak ekspresi.
Tunggu ditaksirnya?
Tidak, Minhyun sudah tidak berada ditahap taksir lagi tapi suka. Iyah, Hwang Minhyun menyukai Kim Jonghyun, si nerd sejatinya Seoul University.
Mungkin masih terlalu awal ditahap suka tapi bagaimana bisa seorang primadona sepertinya menyukai nerd berkacamata tebal dengan gaya ketinggalan jaman serta tidak memiliki teman sama sekali macam Kim Jonghyun.
Entahlah, Minhyun hanya merasa dia nyaman jika berada didekat Jonghyun. Walaupun terkadang merasa hanya saling diam dan focus pada buku masing-masing namun itu memberikan kenyamanan tersendiri untuk Minhyun dan ia juga bisa menjadi dirinya sendiri didepan Jonghyun, bukan Hwang Minhyun si Primadona Kampus tapi hanya Hwang Minhyun.
"Minhyun."
Minhyun tersadar dari lamunannya ketika Jonghyun menyentuh pundaknya, hanya sentuhan kecil tapi jantung Minhyun sudah berdebar kencang. "Nde?"
"Kau tidak mendengarkan ucapanku?"
Minhyun hanya bisa memberikan senyum innocentnya. "Mian."
Jonghyun menggeleng, ia tidak tahu jika primadona kampus bsia bertingkah seperti ini juga ternyata, bukan sembarang primadona kampus tapi si tidak peduli Hwang Minhyun.
"Tadi aku bertanya tumben kau datang sendiri, dimana teman-temanmu yang lain?"
"Ah, mereka berempat? Mm, kalau mereka berempat memang sering bangun siang, tidak ada yang bisa bangun pagi kecuali aku." Ujar Minhyun berbohong, ketahuilah bahwa lima penghuni kamar 101 itu tidak ada yang bisa bangun pagi bahkan si bungsu Hwang.
"Tapi kau sering datang bersama dengan mereka dan itu terkadang lima menit sebelum kuliah dimulai."
Minhyun terdiam mendengar ucapan Jonghyun, dia ketahuan. "Well itu karena aku menunggu mereka, mereka akan marah jika aku berangkat duluan. Jadi sebagai sahabat yang baik aku menunggui mereka."
Jonghyun mengangguk mengerti mendengar ucapan Minhyun.
Dalam hati Minhyun menghela nafas lega karena Jonghyun tampaknya mempercayai ucapannya.
.
.
Keempat penghuni kamar 101 minus si rubah cantik tengah melakukan live di instagram masing-masing mereka ketika Chef utama cafeteria kampus duduk didepan mereka. "Matikan siaran langsung kalian atau kalian tidak akan mendapatkan jatah makan kalian selama seminggu."
Dan dengan segera keempatnya mematikan siaran langsung mereka dan focus pada si Chef tampan yang ada didepan mereka.
"Selamat pagi, Chef Jaejoong." Ucap keempatnya dengan senyum manis namun Chef tampan itu tidak tertarik dengan senyuman mereka karena ia sudah mengenal baik si popular penghuni kamar 101.
"Kalian tahu apa yang membuat Minhyun bangun pagi?" tanya Jaejoong tanpa basa basi. "Aku hampir terkena serangan jantung saat dia sudah ada didepanku sebelum jam setengah tujuh. Satu jam lebih cepat dari biasa ia datang bersama kalian."
Keempatnya menggeleng secara bersamaan.
"Aku akan menandai kelanderku hari ini karena untuk pertamakalinya selama dua tahun ia sudah ada di cafeteria sebelum jam setengah tujuh."
"Chef, ia bahkan memasang sepuluh jam beaker pada jam enam pagi."
Jaejoong melotot kaget. "Aku akan memasak masakan paling mewah pada siapa saja yang membuat keponakanku bangun pagi."
.
.
Suga menyipitkan matanya ketika melihat Minhyun sudah ada didalam kelas dan duduk paling depan, disamping si culun anak pertukaran mahasiswa itu namun ia hanya mengangkat bahu acuh dan duduk disamping Luhan.
"Kau merasa ada yang aneh?" tanya Suga pada si rusa China disampingnya.
"Apa yang aneh selain Minhyun bisa bangun pagi." Ucap Luhan dengan cuek lalu membuka majalah yang ia rebut dari perempuan yang duduk didepannya.
.
.
Minhyun memasukan buku-bukunya setelah dosen yang mengajar keluar kelas, ia melirik sosok disampingnya yang sudah membuka laptop dan mulai mengetik.
"Kau langsung mengerjakannya?"
"Nde."
Minhyun memandang Jonghyun dengan tatapan berbagai makna. Ok, Minhyun akui ia juga memiliki otak yang pintar bahkan ia berada diurutan pertama satu angkatan tapi Luhan bilang bahwa sejak Jonghyun datang sebulan yang lalu sepertinya posisi pertama akan jatuh pada Jonghyun namun Minhyun tidak peduli, ok kembali ke point awal, walaupun Minyun pintar namun ia biasanya mengerjakan tugasnya sore harinya bukan satu detik kemudian setelah dosen yang memberi tugas keluar.
Minhyun sudah siap mengatakan sesuatu ketika lengannya ditarik oleh Luhan.
"Ada café baru di Gangnam. Café baru tapi sudah memiliki banyak pengunjung."
"Benarkah?"
"Aku melihatnya di instagram. Lagipula kita sudah lama tidak ke Gangnam."
"Kita baru dua minggu yang lalu ke Gangnam, Choi Minki."
Minhyun hanya diam mendengar celotehan teman-temannya, ia membalikan badannya untuk memandang Jonghyun dan Minhyun merasa sakit ketika Jonghyun tidak memandangnya dan focus pada laptopnya.
Namun tanpa Minhyun sadari ketika dirinya dan keempat temannya sudah keluar dari kelas Jonghyun memandang pintu kelas dengan ekspresi tak terbaca.
"Apa ia serius ingin menjadi temanku, Clara?"
Clara menarik lapotop Jonghyun hingga laptop itu menghadap kearahnya. "Aku tidak bisa menjawab itu, Kim Jonghyun."
Jonghyun memandang peri aneh disampingnya yang tengah bermain games di laptopnya. Dengan satu gerakan yang kuat Jonghyun mendorong Clara hingga si peri gila itu terjatuh ke lantai.
Bugg
"AWW."
"Aku sedang mengerjakan tugas, bodoh." Ucap Jonghyun dengan dingin tanpa mempedulikan Clara.
.
.
.
.
"Aku masih tidak mengerti dengan rumus ini." Minhyun menunjuk asal rumus dibukunya.
Jonghyun memandang arah telunjuk Minhyun. "Ah, rumus itu. Rumus itu digunakan jika…"
Minhyun memandangi wajah serius Jonghyun yang tengah menjelaskan rumus yang sudah Minhyun hapal diluar kepala, ia hanya suka mendengarkan suara berat Jonghyun.
Saat ini hanya ada keduanya dalam kelas yang sudah kosong dan ini sudah seminggu sejak Minhyun mendeklarasikan bahwa mereka berdua adalah teman dan sudah seminggu pula ia selalu duduk disamping Jonghyun.
"..seperti itu, apa kau sudah mengerti?"
Minhyun tidak menjawab ucapan Jonghyun ia masih terpana dengan suara Jonghyun.
"Minhyun?"
"Ah, Nde? Apa?"
Jonghyun terkekeh kecil melihat reaksi Minhyun. "Apa kau sudah mengerti?"
Minhyun menggaruk kepalanya, ia memandang rumus yang ia tulis lalu menggeleng pelan. "Belum, bisa kau menjelaskannya lebih rinci lagi Bugi-ya?"
Dan dengan suka rela Jonghyun kembali menjelaskannya tanpa curiga sama sekali.
Minhyun pura-pura mengangguk mendengar ucapan Jonghyun yang menjelaskan rumus tersebut dnegan lebih rinci dan jelas.
'Bugi-ya, aku adalah salah satu pemegang ranking tertinggi di kampus ini, rumus sederhana seperti ini sudah aku hapal diluar kepala. Aku hanya pura-pura tidak mengerti agar waktu kita berdua lebih lama.'
"..dan setelah semuanya sudah dihitung maka kau akan mendapatkan hasilnya."
"Ah, sekarang aku mengerti. Gomawo Bugi-ya karena kau sekarang aku mengerti."
Jonghyun yakin lama-lama ia akan terkena diabetes karena setiap hari disuguhi dengan senyum manis Minhyun. "Ti-tidak perlu berterimakasih, kita kan teman."
Senyum manis Minhyun sirna mendengar kata teman keluar dari bibir Jonghyun namun Jonghyun tidak melihatnya karena ia sibuk memasukan buku dalam tasnya.
'Tapi aku ingin lebih dari sekedar teman Bugi-ya.'
"Bugi-ya bagaimana kalau malam minggu nanti kita keluar?"
"Keluar?"
"Iyah keluar. Teman harus sering keluar bersama-sama, seperti makan, nonton, bermain games dan lainnya."
"Oh, ok."
Dalam hati Minhyun ia sudah bersorak kegirangan. Acakan kencannya disambut dengan baik.
"Bugi saja yah yang mencari tempat-tempatnya karena aku yakin Bugi tidak akan suka dengan Club malam ataupun bar."
Apa yang bisa Jonghyun lakukan selain mengangguk.
Minhyun kembali tersenyum melihat anggukan Jonghyun, ia berdiri dari kursi yang ia duduki sambil membawa tasnya.
"Bugi-ya."
"Nde?"
Cup..
"Anggap saja hadiah sebagai karena sudah menjelaskan rumus yang tidak aku mengerti tadi."
Setelah mengatakannya Minhyun langsung berlari keluar kelas meninggalkan Jonghyun seorang diri yang masih shock karena perbuatannya.
Jonghyun menyentuh pipi kanannya yang beberapa saat lalu mendapatkan kecupan Minhyun.
.
.
.
.
.
TBC
October 21, 2017
