How Can I Get A Lover
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
Chapter 7 : Kencan Pertama
.
.
.
.
.
Minhyun tengah berdiri didepan cermin dan memutar-mutar tubuhnya. "Apakah aku sudah cantik?"
"Kau selalu cantik." Puji Daniel, dia memang selalu memuji kecantikan Minhyun.
Luhan memutar matanya. "Kau sudah bertanya pertanyaan yang sama sejak dua jam yang lalu."
"Dan kau sudah berganti-ganti baju sejak dua jam yang lalu." Tambah Suga.
"Kau mau keluar? Tumben sekali kau peduli dengan penampilanmu." Kini bungsu keluarga Choi yang berbicara.
Minhyun menggigit bibir bawahnya menahan senyum lebarnya. "Aku akan kencan."
Keempat rommatenya itu membeku mendengar ucapannya namun hanya beberapa detik karena detik selanjutnya mereka berempat heboh luar biasa.
"Kau serius?"
"Kencan? Kau akan kencan?"
"Dengan siapa? Astaga!"
"Holy sh*t, Hwang. Akhirnya."
Minhyun memutar matanya melihat reaksi keempatnya, memang diantara mereka hanya dia dan Daniel yang tidak pernah tertarik dengan orang lain, well itu karena Daniel sudah memiliki tunangan sedangkan Minhyun memang tidak pernah peduli orang lain.
.
.
.
.
Jonghyun memasuki restaurant sederhana yang ada dipinggir jalan dan langsung duduk dikursi. Restaurant tersebut memang sederhana namun Jonghyun menyukai restaurant ini karena restaurant ini memengtingkan kenyamanan untuk pengunjung bukan kemewahan.
"Anda mau memesan, tuan?" tanya pelayan wanita pada Jonghyun.
"Tidak sekarang, aku sedang menunggu temanku."
Pelayan wanita itu mengangguk mengerti dan pergi menjauh dari meja Jonghyun yang ada dipaling pojok dan dekat jendela.
"Kenapa kau memilih restaurant ini?" tanya Clara yang sudah duduk didepannya.
"Ini adalah tempat favoriteku sejak lima tahun yang lalu. Harusnya kau tahu itu."
"Aku memang tahu bahwa kau sering kesini selama lima tahun terakhir namun kenapa kau memilih tempat ini untuk kencan pertamamu dengan Hwang Minhyun?"
"Ini hanya makan malam, Clara. Bukan kencan, berhenti mengatakan kencan. Dia tidak mungkin mau berkencan denganku yang jelek ini."
"Tapi kau juga berharap bahwa malam ini kalian akan berkencan bukan? Kau ingin malam ini adalah kencan pertama kalian bukan kedua teman yang hangout bersama. Kau tertarik dengan Hwang Minhyun."
Jonghyun menatap datar peri didepannya. "Dia cantik, Clara. Siapa yang tidak tertarik dengannya."
"Apa kau sejak dulu sudah tertarik dengannya? Terpikat akan kecantikannya?"
"Tidak ada manusia di bumi yang tidak terpikat dengan kecantikannya, dia bagaikan seorang Dewi."
"Dan seorang Permaisuri yang cocok untuk Kaisar sepertimu." Tambah Clara. "Kau terpikat padanya hanya karena kecantikannya saja, kah?"
Jonghyun menggeleng kecil, ia membenarkan letak kacamatanya. "Dia berbeda dengan teman-temannya, dia bertingkah hard to get dan acuh pada sekitarnya tapi kenapa sekarang dia… aku tidak tahu dengan sikapnya yang sekarang, apalagi sikapnya padaku."
Clara sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun ia merasakan Hwang Minhyun sudah masuk kedalam restaurant dan dalam sekejap Clara sudah duduk disamping Jonghyun karena ia tahu Minhyun akan duduk didepan Jonghyun.
"Bugi-ya."
Mata Jonghyun menatap tidak percaya sosok didepannya, sudah ia katakan bukan bahwa Minhyun itu cantik namun kini sosok didepannya adalah keindahan yang benar-benar nyata untuk dirinya.
"Minhyun-ah." Hanya kata itulah yang bisa Jonghyun keluarkan karena otaknya masih memproses apakah sosok didepannya nyata atau hanya ilusi semata. Minhyun benar-benar cantik dan manis dalam balutan pakaian sederhana namun entah kenapa menurut Jonghyun memancarkan aura keimutannya.
Oh, Jonghyun sejak dulu ingin sekali menggigit pipi chuby sosok didepannya dan apakah mata Jonghyun tidak salah lihat, dari jarak dekat ini dia melihat bibir Minhyun berwarna pink dan tampak lebih menggoda. Apakah Minhyun memakai lipbalm? Rasa lipbalm apa yang ia pakai, Jonghyun ingin sekali mencicipi bibir itu.
"Bangun dan tarik kursi untuknya, bodoh." Ujar Clara ketika ia tak melihat adanya gerakan dari Jonghyun.
Jonghyun langsung mengerjap mendengar ucapan Clara dan langsung berdiri untuk menarik kursi untuk sosok manis yang masih berdiri itu. "Silahkan duduk, Minhyun-ah."
Minhyun tersenyum manis. "Nde, Gomawo Bugi-ya."
Jonghyun kembali duduk dikursinya, ia ingin mengatakan sesuatu namun yang ia lakukan hanya kembali terpana dengan kecantikan Minhyun.
Clara hampir menampar wajah Jonghyun yang hanya melongo akan kecantika si bungsu Hwang. "Dasar bodoh, jangan diam saja. Katakan apa yang kau rasakan padanya sekarang."
Mata Jonghyun mengerjap-erjap ketika mendengar suara Clara. "Aku meny–"
"Bukan itu! Puji dia. Katakan dia cantik."
"Nde?" Minhyun memandang Jonghyun dengan antusias.
"A-aniya, kau cantik sekali malam ini."
Pipi chuby Minhyun seketika mengeluarkan semburat berwarna merah. "Gomawo."
Jonghyun benar-benar ingin mengigit pipi itu, pasti empuk dan lezat. "Mm, apa kau suka restaurant ini Minhyun-ah? Maaf jika restaurantnya tidak seperti yang kau bayangkan."
Minhyun menggelengkan kepalanya dengan kencang. "Aniya, tidak apa-apa. Aku juga sudah bosan dengan restaurant bintang lima dan lainnya."
"Ah, begitu kah?"
"Nde, disana membosankan dan kadang makanannya tidak enak."
"Kalau begitu kau tidak akan menyesal makan disini. Restaurant ini adalah tempat favoritku."
"Tempat favorit Bugi? Kalau begitu aku tidak sabar untuk makan makanan disini."
Jonghyun tersenyum. "Bagaimana kalau kita memesan sekarang?"
Dan dibalas anggukan semangat Minhyun.
.
.
'Forbes Korea menempatkan Kim JR di peringkat pertama sebagai remaja terkaya di Korea bahkan se-Asia. Putra tunggal dari Kim Yunho dan Kim BoA adalah pewaris sah kekayaan kedua orangtuanya. Kim Yunho dan Kim BoA sendiri adalah pasangan terkaya ketiga di dunia setelah pasangan Bill Gates/Melinda Gates dan Mark Zuckerberg/Priscilla Chan.'
Minhyun hanya menatap datar layar tv restaurant yang menyiarkan berita tersebut. "Aku seperti bercermin melihatnya."
"Nde?" tanya Jonghyun kebingungan. Saat ini keduanya tengah menunggu makanan mereka.
"JR dan Aku." Jelas Minhyun. "Kita berdua sama-sama hidup dalam bayang-bayang orangtua kita. Semua orang selalu menyangkut pautkan kita dengan orang tua kita dan itu menyebalkan."
Jonghyun mengangguk mengerti dan bertanya. "Apa kau mengenal JR?"
"Tidak mengenal dekat, aku hanya melihat dikampus dan di pesta-pesta perusahaan." Minhyun dia memandang Jonghyun yang memakai kacamata tebal andalannya dan sweater besar. "Terkadang aku merasa familiar dengan wajahmu Bugi-ya."
"Hanya firasatmu saja, Minhyun-ah." Jonghyun membenarkan letak kacamatanya dan menunduk.
Clara membulatkan matanya, ia dengan segera merapalkan sebuah mantra pada Jonghyun.
Minhyun mengedip-edipkan matanya dan mengangguk setuju. "Ya, memang hanya firasatku saja."
Clara menghela nafas lega, hari ini ia memang lupa merapalkan mantra pada Jonghyun. Jonghyun memang mengubah penampilannya menjadi nerd namun Clara juga membantu dengan merapalkan mantra pada Jonghyun agar orang-orang tidak akan ada yang menyadari bahwa Kim Jonghyun adalah JR.
"Apa kau tahu siapa nama sebenarnya JR, Minhyun-ah?" tanya Jonghyun penasaran, well sebenarnya hanya berpura-pura saja.
"Tidak tahu. Semua orang hanya tahu bahwa JR adalah singkatan dari Junior Royal. Kim Yunho dan Kim BoA menutupi dengan sempurna nama asli anak mereka."
Memang tidak ada yang mengetahui siapa nama JR sebenarnya karena Yunho dan BoA merahasiakan nama putra tunggal mereka. Tidak ada yang tahu tahu bahwa Junior Royal aka JR memiliki nama lahir Kim Jonghyun.
.
.
Minhyun mengunyah makanan didepannya dengan perlahan. "Ini enak."
"Benarkah?"
"Nde, ini enak. Astaga bagaimana aku tidak tahu restaurant dengan makanan seenak ini. Bugi-ya, kau memilih tempat yang tepat." Minhyun kembali memakan makanan didepannya namun ia mengernyit melihat makanan Jonghyun. "Bugi-ya, apa kau membenci tomat?"
Jonghyun terkejut bukan main mendengar ucapan Minhyun, mereka baru pertamakali makan bersama dan Minhyun langsung mengetahui apa yang tidak ia sukai sedangkan Kim BoA saja baru mengetahui putra semata wayangnya membenci tomat ketika usia Jonghyun 7th.
"N-nde, aku membenci tomat. Bagaimana kau tahu, Minhyun-ah?"
Minhyun dengan santai menunjuk tomat yang Jonghyun sisihkan dipiringnya. "Kau menyisihkan tomat-tomat di piringmu. Tenang saja aku juga membenci yang asin-asin. Aku alergi garam."
"Kau alergi garam?"
Si bungsu Hwang itu mengangguk. "Aku bahkan alergi dengan air mataku sendiri."
"Itu pasti susah untukmu."
"Tidak begitu susah. Aku sudah tidak pernah menangis lagi."
"Waeyo? Menangis bukan berarti kau cengeng."
"Aku hanya mengeluarkan air mataku jika aku sudah berada di ambang batasku."
.
.
"Setelah ini kita mau kemana. Bugi-ya? Nonton? Bermain games?" tanya Minhyun penuh semangat, dia sangat bahagia bisa makan malam dengan sosok yang memberinya kenyamanan itu.
Jonghyun menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Mm… Ada festival kembang api didekat sini. Apa kau mau melihatnya?"
Minhyun memiringkan kepalanya dan menatap bingung Jonghyun. "Festival kembang api?"
"Nde."
"Boleh boleh, sudah sangat lama aku tidak melihat festival kembang api secara langsung."
.
.
.
"Wahhhhh." Minhyun memandang orang-orang yang berlalu lalang didepannya dengan terkagum-kagum.
"Sepertinya kau benar-benar sudah lama tidak melihat festival kembang api lagi yah?"
"Iyah, Bugi-ya. Sudah lamaaaaaa sekali aku tidak melihat festival kembang api. Terakhir aku kesini bersama Hyungku dan saat itu aku kelas 2 SMP."
Senyum manis terukir dibibir merahnya, ia hampir lupa bagaimana rasanya bahagia karena hal sederhana seperti ini.
"Bugi-ya, lihat ada stan odeng, aku ingin makan odeng." Si primadona kampus itu berniat berlari menuju stan jajanan khas korea itu ketika tubuhnya ditubruk oleh pria berbadan besar.
"Minhyun!"
Tubuh Minhyun oleng dan ia sudah akan pasrah tubuhnya mencium jalanan dan merasakan rasa sakit namun Minhyun tidak merasakan apapun, yang ia rasakan malah lengan hangat yang memeluk pinggangnya.
Minhyun memutar kepalanya untuk melihat pemilik lengan tersebut.
"Minhyun-ah, Kau baik-baik saja?" tanya Jonghyun penuh dengan kekhawatiran.
"N-nde." Dengan jarak wajah sedekat ini membuat Minhyun merasakan hembusan nafas hangat Jonghyun. "Aku baik-baik saja. Terimakasih."
.
.
Minhyun tengah mengunyah odeng dengan khidmat ketika sesuatu menyentuh rambut hitamnya. "M-mwoya.. Apa ini?" Minhyun meraba-raba kepalanya sendiri.
Jonghyun terkekeh dengan tingkah manis Minhyun. "Aku tadi melihat stan bando dan ada yang berbentuk telinga rubah jadi aku membelinya."
"Kenapa memilih yang rubah? Kenapa tidak yang lainnya?"
"Karena Minhyunie mirip dengan rubah."
Jawaban Jonghyun sukses membuat jantung Minhyun seakan berhenti berdetak, hanya keluarganya lah yang selalu mengatakan bahwa Minhyun mirip dengan rubah bahkan Ibunya selalu memanggil Minhyun dengan sebutan little fox.
"Minhyun-ah, Gwanchana?" tanya Jonghyun khawatir ketika sosok didepannya hanya diam.
"A-ah, Nde. Aku baik-baik saja." Minhyun memberikan senyum manisnya pada Jonghyun dan kembali menyentuh bando berbentuk telinga rubahnya. "Gomawo, Bugi-ya."
"Sebentar lagi kembang apinya akan dimulai, aku tahu tempat yang bagus untuk menyaksikannya."
"Jinjja?"
"Nde, jarang ada orang yang kesana. Mereka tidak tahu pemandangan indah dari tempa itu." Jonghyun menggenggam tangan Minhyun dengan lembut. "Ayo, Minhyun-ah."
Dan apa yang bisa Minhyun lakukan selain mengikuti langkah kaki Jonghyun. Senyum terpancar diwajah cantik Minhyun, ia memandang tangannya yang digenggam oleh Jonghyun.
Hangat.
Sangat hangat dan Minhyun suka itu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
06 November 2017
.
.
