How Can I Get A Lover?

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 8 : Pernyataan Cinta (Kembang Api dan Ciuman Pertama)

.

.

.

.

.

"Sungai Han?" tanya Minhyun ketika mereka sudah berada di sungai Han.

"Nde, pemandangannya akan lebih menakjubkan jika dilihat dari sini." Jonghyun mendudukan dirinya dirumput dan menepuk sebelah kanannya. "Duduklah, Minhyun-ah."

Minhyun langsung duduk disamping kanan Jonghyun dan ia sengaja duduk dengan posisi begitu dekat dengan Jonghyun karena ia suka kehangatan yang terpancar dari tubuh Jonghyun.

"Sudah dimulai." Ucap Jonghyun.

Suara dentuman terdengar samar karena jarak dari sungai Han dengan tempat festival lumayan jauh. Mata Minhyun terbelalak melihat keindahan cahaya berwarna-warni menghias langit kota Seoul.

Pemandangan didepannya begitu indah bukan hanya karena langit malam yang berhias kembang api namun juga pada air sungai Han yang memantulkan cahaya itu. Minhyun tidak pernah melihat pemandangan kembang api semenakjubkan ini.

Jonghyun melirik sosok manis disampingnya dan tidak bisa mengedipkan matanya sedikitpun, wajah Minhyun yang manis dengan mata jernih dan murni lebih indah dari kembang api yang sudah sering ia lihat itu.

Bagaimana bisa ada sosok yang begitu sempurna didunia ini. Hwang Minhyun bagaikan bidadari yang turun dari langit dan Jonghyun yakin jika Aphrodite –Sang Dewi Kecantikan melihat wajah Minhyun maka Aphrodite akan lari dan menangis karena kalah akan kecantikan yang dimiliki oleh Minhyun. Dengan wajah yang manis, pipi chuby, mata hitam yang memancarkan kepolosan tanpa dosa serta kulit seputih porselen Minhyun adalah keindahan yang sesungguhnya.

Tanpa sadar tangan Jonghyun terangkat dan mengelus pipi chuby tersebut.

Minhyun tersentak ketika merasakan sentuhan tangan hangat Jonghyun pada pipinya. Minhyun tertegun ketika ia melihat mata hitam Jonghyun. Pipi Minhyun mengeluarkan semburat berwarna merah ketika wajah Jonghyun mendekat padanya.

Dan Minhyun dibuat lupa akan dunia ketika merasakan sentuhan pertama bibir Jonghyun pada bibirnya.

.

.

Bibir Minhyun begitu lembut dan manis, bagaikan permen kapas yang dulu disukai Jonghyun ketika masih kecil.

Ciuman itu singkat namun memiliki efek yang mendalam untuk keduanya terutama jantung mereka yang berdebar kencang.

"Minhyun."

"Jonghyun."

Jonghyun sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun terhenti ketika merasakan wajahnya terkena air.

Minhyun mendongak ketika pipinya merasakan air dingin dari langit, ia memandang langit kota Seoul.

"Gerimis." Namun setelah mengatakannya rintikan gerimis itu semakin deras

Jonghyun segera menarik tangan Minhyun dengan lembut. "Ayo meneduh."

.

.

Jonghyun menutupi kepala Minhyun dengan kedua tangannya agar sosok manis itu tidak basah kuyup, saat ini keduanya tengah berlari mencari tempat untuk meneduh.

Tangan Minhyun mencengkeram sweater Jonghyun sedangkan tubuhnya mendekap pada tubuh hangat sosok Jonghyun. Dari jarak sedekat ini Minhyun bisa mencium aroma maskulin Jonghyun.

"Mian, Minhyun-ah. Aku tidak tahu kalau malam ini akan turun hujan." Ucap Jonghyun ketika mereka sudah berteduh didepan tokoh bunga.

Minhyun menggeleng mendengar permintaan maaf Jonghyu. "Aniya, bukan salahmu. Cuaca sekarang tidak bisa ditebak."

"Apa kau kedinginan, Minhyun-ah?" tanya Jonghyun khawatir ketika tubuh Minhyun menggigil. Hujan semakin lama semakin deras ditambah dengan angin kencang.

"Aniya, aku tidak apa-apa. Aku mengkhawatirkan para penjual di stan Festival Kembang Api, apa mereka bisa pulang dengan hujan sederas ini?"

Dalam hati Jonghyun tersenyum mendengar ucapan Minhyun, sosok cantik disampingnya ini lebih mengkhawatirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

.

.

Minhyun menghembuskan nafasnya melihat hujan yang tampaknya tidak akan reda dalam waktu dekat. "Sepertinya hujannya tidak akan reda dalam waktu dekat."

Memang sudah hampir satu jam sendiri mereka meneduh didepan tokoh bunga itu. Minhyun tidak bosan, bagaimana ia bisa bosan ketika Jonghyun duduk disampingnya dengan jarak yang sama seperti saat didekat sungai Han, dan tentang sungai Han membuat pipi Minhyun merona, ia masih bisa merasakan bibir Jonghyun yang menempel dengan sempurna pada bibirnya. Well yah intingnya Minhyun tidak bosan, ia hanya lelah dan mengantuk.

"Benar. Apa kita mencari penginapan saja? Percuma menunggu taxi, aku tidak melihat taxi sama sekali sejak tadi." Ucap Jonghyun, memang sejak satu jam yang lalu tidak ada satu taxipun lewat didepan mereka dikarenakan hujan yang kian deras dan angin kencang yang tidak membantu sama sekali.

Menunggu Bus juga percuma, posisi mereka berdua ini lumayan jauh dengan halte bus terdekat dan mereka tidak yakin jika sampai di halte akan ada bus yang datang.

Minhyun mengangguk setuju dengan ucapan Jonghyun. "Apa ada penginapan terdekat disekitar sini?"

"Ada Motel terdekat disini."

"Dimana?"

Jonghyun berdiri dari duduknya. "Diseberang jalan. Kita bisa berlari agar baju kita tidak terlalu basah."

Minhyun mengangguk dan ikut berdiri, tepat saat Minhyun berdiri tangan JR kembali menggenggam tangannya.

"Ayo, Minhyun-ah."

Minhyun kembali menatap tangannya yang digenggam oleh tangan hangat Jonghyun, Minhyun rela dibawa kemana saja oleh pemilik tangan itu. Bahkan di Altar Gereja sekalipun Minhyun mau. Sangat mau malah.

.

.

"Maaf tuan, tapi hanya sisa satu kamar yang tersisa, semuanya sudah terisi." Ujar Resepsionis pada Jonghyun.

Jonghyun membalikkan badannya untuk bertanya pada Minhyun namun Minhyun tampak focus memandang sekelilingnya, tampaknya bungsu dari keluarga Hwang itu baru pertamakali ke Motel kecil ini.

"Minhyun-ah."

Minhyun dengan segera menatap Jonghyun dan memberikan senyum manisnya. "Nde, Bugi-ya?"

Jonghyun menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. "Mm… hanya ada satu kamar, apakah kita mau mengambilnya atau mencari Motel yang lain saja?"

"Mengapa kita harus mencari Motel lain? Ambil saja, Bugi."

"Apa kau tidak apa-apa, Minhyun-ah?" tanya Jonghyun ragu-ragu. Didepannya adalah anak dari pemilik perusahaan Hwang Nation, pastinya tempat seperti ini tidak level untuknya.

Minhyun menghela nafas mendengar ucapan Jonghyun. "Bugi-ya, aku memang putra bungsu pemilik perusahaan Hwang Nation namun bukan berarti aku anak manja, ok? Lagipula kenapa memang kalau hanya motel kecil dan satu kamar?"

Jonghyun bengong dengan ucapan Minhyun, ia benar-benar salah menduga sosok didepannya itu akan berucap seperti itu. "Ah, Ok."

.

.

"Mandilah, Minhyun-ah." Ucap Jonghyun dengan halus ketika keduanya sudah memasuki kamar motel mereka.

"Bugi dulu saja."

"Minhyun-ah, tidak ada waktu untuk berdebat. Pergilah mandi." Jonghyun mengucapkannya dengan lembut namun Minhyun tahu bahwa ia tidak boleh membantah ucapan sosok tersebut.

"Ok, Aku mandi." Minhyun dengan segera membuka pintu yang ada didalam kamar tersebut yang pastinya adalah kamar mandi.

Setelah Minhyun masuk ke kamar mandi barulah Jonghyun memperhatikan kamar motel yang mereka sewa itu. Kamar tersebut rapih dan bersih, memiliki dua kursi kecil, televisi, lemari kayu, kamar mandi dan satu ranjang berukuran queen size.

"Hanya ada satu ranjang?" Jonghyun mengusap wajahnya dengan gusar. "Bagaimana bisa hanya ada satu ranjang?"

.

.

.

"Minhyun belum pulang juga yah?" tanya Daniel pada ketiga teman sekamarnya itu sambil memeluk bonekanya.

"Dia sedang berkencan, Niel-ah." Ucap Suga sambil membalas pesan Ibunya yang overprotective pada penampilannya.

"Kalau pulangpun pastinya larut malam, apalagi ini hujan mungkin dia tidak akan pulang." Tambah satu-satunya sosok yang berasal dari China itu. Walaupun hujan deras dan angin kencang Luhan masih asik bermain games di computer kamarnya.

"Atau mungkin dia sedang melakukan sex dengan teman kencannya itu."

Daniel, Suga dan Luhan memandang jengah Ren.

"Apa?" Ren menghentikan kegiatannya memakai masker ketika seluruh penghuni kamar Asrama laki-laki nomor 101 memandangnya. "Apa yang kalian harapkan dari berkencan selain melakukan sex dengan teman kencan kalian itu?"

Suga menatap tajam si ganjen Choi itu. "Jangan memakai kata kalian, kita tidak seperti itu. Hanya Kau Choi Minki."

.

.

.

"Bugi-ya, aku sudah selesai."

Jonghyun segera mendongak untuk menatap Minhyun namun ia segera menyesali tindakannya tersebut karena matanya langsung dihadiahi pemandangan berupa kulit putih bak porselen milik Minhyun yang hanya memakai bathrobe. Minhyun benar-benar tampak menggoda dengan rambut basahnya.

Jonghyun dengan segera memalingkan wajahnya dari mata Minhyun sebelum sesuatu yang buruk memasuki pikirannya.

"Nde, Aku akan mandi." Dengan segera Jonghyun memasuki kamar mandi.

Minhyun mengangguk dan langsung duduk diatas ranjang, matanya menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dari dalam. "Apa dia tidak tergoda denganku?"

Minhyun menggigit jarinya sendiri. Ia lalu memandang bathrobe yang ia kenakan, pikiran nakal itu segera memasuki otak jeniusnya. Minhyun berdiri dari kasur dan memandang pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar motel ini.

Tangan Minhyun dengan segera membuka bagian atas bathrobe yang ia kenakan, ia membuka setengah bagian sehingga memperlihatkan kulitnya yang putih dan mulus serta lehernya yang menggoda. Minhyun tersenyum puas melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia dengan segera kembali duduk diranjang ketika dari kamar mandi shower dimatikan.

Jonghyun keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai celana pendek dan kaos yang ia kenakan didalam sweaternya.

"Bugi-ya, mengapa kau tidak mengganti kaos dalam mu?" omel Minhyun.

Jonghyun memandang kaos yang ia kenakan. "Gwanchana. Ini tidak terlalu basah."

Minhyun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Jonghyun. "Walaupun tidak terlalu basah tapi tetap saja tidak baik untuk tubuhmu. Kau akan sakit."

"Minhyun-ah, aku bilang tidak apa-ap–" Jonghyun tidak melanjutkan ucapannya ketika tubuh Minhyun mendekatinya sehingga Jonghyun bisa melihat dengan jelas leher putih dan menggoda milik Minhyun.

"Aku tidak mau, pokoknya Bugi tidak boleh memakai baju ini. Lepaskan bajunya, Bugi-ya. Nanti kau sakit." Minhyun menarik kaos Jonghyun.

Lamunan Jonghyun tentang leher menggoda Minhyun sirna ketika ia merasakan tangan Minhyun menarik-narik kaosnya untuk segera dilepas.

"Aniya, Minhyun-ah. Aku tidak apa-apa, Aku tidak akan sakit."

"Lepaskan bajunya, Bugi. Nanti Bugi sakit."

Kini terjadilah aksi tarik menarik kaos yang dikenakan oleh Jonghyun. Sang pemilik baju yang tidak ingin bajunya lepas dari tubuhnya sedangkan Minhyun ingin Jonghyun melepaskan bajunya yang terkena air hujan.

"Lihat, aku merasakan kaos Bugi itu basah. Bugi tidak boleh memakai kaos basah saat tidur. Tidak baik."

"Tapi tidak terlalu basah, Minhyun-ah. Aku akan baik-baik saja."

"Tidak boleh! Bugi tidak boleh memakai baju basah ini walaupun basahnya sedikit atau banyak tetap tidak boleh."

Jonghyun kehilangan keseimbangannya ketika Minhyun menarik baju yang ia kenakan dengan sekuat tenaganya sehingga Jonghyun menimpa tubuh Minhyun dan untungnya mereka terjatuh diranjang tidak dilantai.

Jonghyun dengan segera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya agar tubuhnya tidak benar-benar menimpa tubuh Minhyun seutuhnya.

Minhyun mengerjap polos ketika ia sadar ia sudah diatas ranjang dengan bathrobe yang semakin terbuka serta Kim Jonghyun yang menindihnya.

"Minhyun-ah." Bisik Jonghyun melihat pemandangan paling menggoda yang ia lihat sepanjang hidupnya berada dibawah tubuhnya.

"Bugi-ya."

Selama beberapa detik keduanya hanya saling memandang satu sama lain, saling mengagumi sosok didepan mata mereka.

Jonghyun memandang leher dan pundak mulus Minhyun yang terpampang jelas didepan matanya, dengan perlahan tangan Jonghyun terulur.

Dalam hati Minhyun tersenyum melihat kemana arah mata Jonghyun. Jonghyun pasti akan menyentuh leher dan bahunya.

Namun pikiran Minhyun langsung melesat jauh ketika tangan itu membenarkan bathrobenya untuk menutupi pundaknya yang terekspose.

"Tidurlah, Minhyun-ah. Hari sudah malam." Ujar Jonghyun sambil mengacak rambut Minhyun dengan lembut. Jonghyun segera berdiri dari tubuh Minhyun dan langsung mendudukan dirinya dikursi kecil yang ada di kamar tersebut.

Ekspresi terkejut jelas masih tercetak diwajah manis Minhyun, ia mencengkeram bathrobe yang ia kenakan, Minhyun merasa berdosa telah menggoda sosok lembut Jonghyun dan berpikir bahwa sosok yang memiliki hati seputih salju itu akan tergoda pada tubuhnya dan menyentuhnya.

Sedikit demi sedikit senyuman tercetak dibibir Minhyun, ia tidak salah jatuh cinta pada Kim Jonghyun.

.

.

.

.

Keesokan paginya keduanya berjalan beriringan menuju Asrama Laki-laki Seoul University.

"Terimakasih, Bugi-ya." Ucap Minhyun ketika mereka sudah sampai didepan gedung asrama yang ia tempati.

"Sama-sama, masuklah Minhyun-ah dan maaf soal semalam, aku tidak tahu jika semalam akan turun hujan."

Minhyun menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak usah minta maaf, Bugi-ya. Semalam tidak akan pernah aku lupakan, terimakasih telah mengajakku makan di restaurant yang enak dan menonton kembang api di Sungai Han."

Jonghyun mengangguk mendengar ucapan Minhyun. "Sampai jumpa hari senin di kelas, Minhyun-ah."

Jonghyun sudah membalikan badannya ketika tangannya digenggam oleh Minhyun.

"Bugi."

"Nde?" Jonghyun memandang bingung Minhyun yang tampak ragu-ragu memandangnya. "Kenapa, Minhyun-ah?"

Minhyun memandang sekeliling mereka yang masih tampak sepi, ini masih jam setengah tujuh pagi dan tanpa banyak kata Minhyun segera mencondongkan tubuhnya pada Jonghyun dan mengecup bibir itu.

Ciuman itu hanya berlangsung tiga detik –Jonghyun menghitungnya, Minhyun dengan segera menjauhkan bibirnya dari Jonghyun.

"Hadiah untuk Bugi dariku karena sudah membuatku bahagia semalam." Ucap Minhyun dan dengan segera berlari memasuki gedung asramanya.

Jonghyun terdiam menatap kepergian Minhyun. Ini kali kedua dia mendapatkan ciuman dari bibir itu dan sang pemilik bibir menggoda itu selalu berlari pergi setelah melakukannya.

"Kau seperti tidak pernah dicium orang saja." ucap Clara memandang rendah Jonghyun. "Dan bukannya semalam kalian juga berciuman?"

"Ini berbeda, Clara. Setiap wanita dan pria submissive yang menciumku selalu dengan godaan dan hasrat namun ciuman yang ia berikan padaku ciuman polos tanpa dosa. Dan semalam aku yang menciumnya."

.

.

Setelah kencan pertama mereka itu, keduanya tak terpisahkan dan selalu bersama. Lebih tepatnya Minhyun yang tidak mau terpisahkan dari Jonghyun karena sang primadona berhati sedingin es itu selalu mendekati Jonghyun, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi dan lebih banyaknya secara terang-terangan.

"Bugi-ya berhenti membaca buku. Nanti nasinya dingin." Herdik Minhyun pada sosok berkacamata tebal yang selalu asyik dengan bukunya itu.

Jonghyun segera mendongak untuk melihat Minhyun, dia tidak terkejut ketika si cantik Hwang itu sudah duduk didepannya. "Ah, Minhyun-ah sejak kapan kau duduk disitu?"

"Sejak tadi. Dan jangan mengalihkan pembicaraan, Bugi harus makan atau aku yang akan menyuapi Bugi?" Minhyun sudah menyodorkan sendok berisi menu makan siangnya didepan wajah Jonghyun. "Ayo buka mulutmu Bugi."

Jonghyun memandang sekelilingnya yang tengah memperhatikan keduanya –saat ini keduanya tengah berada di kantin kampus dan walaupun keduanya duduk di pojok namun sebagian besar mata memandangi keduanya.

"Aku bisa makan sendiri Minhyun-ah." Tolak Jonghyun secara halus.

Raut muka Minhyun langsung sedih mendapat penolakan dari Jonghyun. "Jadi Bugi tidak mau aku suapi?"

"Minhyun-ah, bukan seperti itu."

"Lalu seperti apa?" bibir Minhyun maju beberapa centi, ia ngambek. "Satu suapan saja, Bugi."

"Tapi Minhyun-ah…"

"Bugiii…." Kini Minhyun menggunakan ekspresi memelasnya pada Jonghyun.

Jonghyun hanya bisa menghela nafas dan dengan perlahan memakan nasi dari sendok Minhyun.

Senyum cerah langsung muncul pada wajah Minhyun. "Sekarang Bugi makan nasi milik Bugi sendiri dan aku makan nasiku sendiri."

Minhyun lalu menyendok nasi dan lauk miliknya, ia tersenyum ketika sendok yang ia gunakan sudah tersentuh mulut Jonghyun.

Indirect Kiss.

Jonghyun menundukan wajahnya ketika seluruh orang yang ada di kantin memandanginya, ada yang sebal, iri, jijik dan marah padanya.

Bagaimana bisa seorang Nerd dekat dengan salah satu Primadona Kampus? Itulah yang mereka semua pikirkan.

Walaupun ini sudah seminggu sejak kencan pertama keduanya dan sejak saat itu Minhyun terus mendekatinya dan mengikutinya. Seminggu ini Minhyun terus duduk disampingnya di setiap mata kuliah, selalu mengirimnya pesan dan bertanya tentang soal yang tidak ia mengerti dan selalu duduk dengannya di kantin, Minhyun tidak lagi duduk dengan teman-teman sekamarnya.

Pada hari pertama setelah mereka kencan dan hari pertama Minhyun duduk dengannya saat makan siang membuat seluruh kampus heboh. Pasalnya Minhyun tidak pernah duduk dengan orang lain selain keempat temannya. Dan ketika Minhyun duduk dengan orang lain untuk pertamakalinya dan orang yang duduk dengannya adalah anak culun bahan bully an orang membuat seluruh kampus keheranan.

.

.

"Minhyun-ah, kenapa kau tidak bersama teman-temanmu yang lain?" tanya Jonghyun ketika keduanya ada ditaman belakang kampus mereka pada sore hari.

Minhyun menutup buku yang ia baca dan memandang Jonghyun. "Memangnya kenapa aku harus bersama mereka? Aku suka disini bersama Bugi, Bugi selalu membuatku nyaman."

Seminggu mengenal lebih dekat Hwang Minhyun membuat Jonghyun tahu bahwa sosok didepannya itu terkadang bisa sangat manja dan kekanakan, berbeda dengan julukannya yang memiliki hati dingin.

"Ta-tapi banyak mahasiswa yang menjelekanmu karena kau mau berteman denganku yang jelek dan cupu ini."

"Aku tidak peduli dengan apa yang mereka lain pikirkan." Potong Minhyun. "Aku yang menjalani hidupku bukan mereka, mengapa mereka repot-repot memikirkan hidupku dan dengan siapa aku berteman."

Jonghyun terdiam mendengar ucapan Minhyun, matanya kembali focus pada buku ditangannya.

"Bugi, aku ingin bicara padamu."

"Kita sedang berbicara, Minhyun-ah."

Minhyun memutar matanya dan dengan segera merebut buku ditangan Jonghyun. Jonghyun berniat menarik bukunya yang sudah ada digenggaman Minhyun namun Minhyun langsung menyembunyikan buku tebal itu dibalik punggungnya.

"Minhyun-ah, kembalikan bukuku."

"Aku akan mengembalikan bukumu setelah aku selesai bicara, jadi Bugi harus mendengarkanku dengan baik-baik."

"Ok, Aku akan mendengarkan."

Minhyun memejamkan matanya sebentar dan menarik nafas.

"Bugi, Aku menyu–" Minhyun menggigit bibirnya. "Aniya, aku mencintamu, Kim Jonghyun. Aku cinta Bugi."

Mata Jonghyun melebar mendengar pernyataan cinta dari bibir merah Minhyun. "M-mwo?"

Minhyun menghela nafas. "Aku mengatakan ini karena Bugi tidak sadar juga dengan sikapku dan aku sudah lelah memendamnya. Aku hanya ingin Bugi tahu, itu saja. Karena aku tahu Bugi tidak mungkin memeliki perasaan lebih untukku."

Hening kini menyelimuti keduanya, namun keheningan itu hanya sementara karena Jonghyun langsung memecahkan keheningan itu.

"Aku pikir hanya aku yang merasakan perasaan ini, perasaan mencintaimu."

Minhyun mendongak dan menatap Jonghyun yang juga menatapnya dengan senyum hangat yang sampai pada hati Minhyun. "Bugi…"

"Aku juga mencintaimu, Hwang Minhyun."

.

.

.

.

.

.

TBC