How Can I Get A Lover

by

Achan Jeevas

.

.

.

Chapter 9 : Persahabatan yang Hancur

.

.

Brakkk

Ren melempar jam weaker milik Minhyun ke lantai. "Dasar tidak tahu diri! Dia membuat image kita menjadi hancur!"

"Bisa-bisanya ia berpacaran dengan Nerd itu. Seperti tidak ada laki-laki lain saja." tambah Suga sambil memandang jijik kasur Minhyun.

"Ribuan bahkan jutaan laki-laki bertekuk lutut padanya tapi dia malah memilih culun tidak tahu diri itu." ucap Luhan sambil memainkan games pada ponselnya sedangkan Daniel hanya diam.

"Dengan dia berpacaran dengan Nerd itu membuat orang lain mengira kalau kita juga menyukai para Nerd! Arghh bahkan melihat wajah para Nerd membuatku ingin muntah." Wajah Ren tampak ingin muntah mengingat wajah-wajah jelek para Nerd.

Suga menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper mereka berlima. "Dia benar-benar menodai persahabatan kita dengan berkencan dengan cowok culun itu."

Ren melangkahkan kakinya menuju meja belajar dan mengambil dua gunting disana.

"Untuk apa gunting ini?" tanya Luhan ketika Ren melemparkan gunting padanya.

Senyum licik tercetak jelas di bibir merah muda Ren. "Untuk membalas perbuatannya karena membuat image kita hancur didepan semua orang."

Daniel langsung berdiri dan menghadang Ren yang sudah siap membuka lemari baju Minhyun. "Apa yang salah dengan jatuh cinta pada cowok culun? Minhyun yang berpacaran mengapa kita yang repot mengurusinya."

Ren mencengkeram kerah kemeja Daniel. "Apa kau tidak lihat cara mahasiswa lain yang menatap kita setelah Minhyun berpacaran dengan si Culun itu, Daniel?! Mereka mengira kita juga akan seperti Minhyun dan berpacaran dengan anak-anak Nerd! Membayangkannya saja membuatku ingin muntah!"

"Jika kau masih ingin bersama dengan kami lebih baik kau diam, Daniel." Ucap Suga sambil memandang tajam sang magnae roommatenya.

.

.

"Terimakasih, Bugi-ya."

Jonghyun mengelus rambut Minhyun dengan lembut. "Sama-sama, Minhyunie. Sekarang masuklah ke kamar asramamu."

Minhyun mengangguk lucu namun tangannya masih menggenggam lengan Jonghyun. Ia tidak peduli dengan pandangan mahasiswa lain yang berada disekitar mereka. "Besok aku ingin jalan-jalan dengan Bugi."

"Kemana?"

"Kemana saja asal dengan Bugi."

Jonghyun terkekeh mendengar jawaban manis kekasihnya itu.

.

.

Minhyun membuka pintu kamar 101 yang ia tempati dengan keempat sahabatnya itu dan ia langsung membatu melihat ranjangnya sudah hancur berantakan beserta baju-bajunya yang ada didalam lemari.

Minhyun mendekati ranjangnya dan mengambil salah satu kemeja kesayangannya yang sudah dipenuhi dengan sobekan. Ia memandang keempat sahabatnya yang menatapnya dingin –minus Daniel yang menundukan kepalanya.

"Kenapa?" tanya Minhyun pada keempatnya.

"Karena kau telah menodai persahabatan kita." ucap Luhan.

Minhyun memandang tidak mengerti keempatnya. "Menodai? Apa yang kalian maksud? Aku tidak mengerti."

"Singkatnya adalah sejak kau berkencan dengan si cowok culun itu, banyak orang yang menertawakan kami karena mau berteman dengan orang yang menyukai cowok culun."

"Hanya karena itu?"

Ren langsung menjambak rambut Minhyun. "Kau pikir ini masalah sepele? Maaf saja, Hwang tapi aku tidak suka menjadi bahan tertawaan orang lain dan aku tidak sudi berteman dengan orang yang menyukai Nerd."

Si bungsu Hwang itu langsung menepis tangan kurus Ren. "Namanya Kim Jonghyun, bukan Nerd."

Plakk

Ren menampar pipi Minhyun, amarah langsung menyulut hatinya. "Akhiri hubungan kalian jika kau masih ingin berteman dengan kami."

"Jangan menjadi pengkhianat, Minhyun." Ucap Suga.

"Aku bukan pengkhianat." Si bungsu keluarga Hwang itu memandang keempat sosok didepannya dengan muak. "Kalianlah pengkhianat disini."

Minhyun langsung mengambil koper miliknya dan memasuki seluruh pakaian yang sudah robek dan barang-barangnya yang lain. Setelah memasukan seluruh barang-barangnya Minhyun memandang keempatnya dengan tatapan berjuta makna.

"Kini aku sadar bahwa kalian yang sudah aku anggap sahabatpun ternyata tidak tulus berteman denganku. Setelah mengatahui aku berpacaran dengan cowok culun kalian merasa jijik denganku. Seolah-olah aku adalah kuman yang harus dibasmi. Seolah-olah selama dua tahun kebersamaan kita berlima tidak memiliki arti apa-apa untuk kalian."

Setelah mengatakannya Minhyun langsung keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan keempat temannya. Sosok yang ia miliki selama dua tahun ini.

.

.

From : Minhyunie

To : Bugi

Bugi, boleh aku datang ke apartementmu?

.

From : Bugi

To : Minhyunie

Tentu saja boleh, Minhyunie. Tapi kenapa tiba-tiba? Apa kau baik-baik saja?

.

From : Minhyunie

To : Bugi

Ok, Aku sedang dalam perjalanan kesana. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin bersama Bugi malam ini.

.

From : Bugi

To : Minhyunie

Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan Minhyunie. Gunakan Taxi jangan bus. Ini sudah malam.

.

From : Minhyunie

To : Bugi

Nde, Bugi-ya.

.

.

Tok Tok Tok

Jonghyun langsung membuka pintu apartement sederhananya itu dan keterkejutan langsung menerpanya ketika melihat wajah Minhyun yang terdapat bekas tamparan, wajah pucat kekasihnya serta koper yang dibawa kekasihnya. Minhyun bahkan masih memakai baju yang sama ketika Jonghyun mengantarkannya kembali ke asramanya.

"Minhyunie, masuklah."

Minhyun langsung memasuki apartement kecil Jonghyun namun ketika ia menyeret kopernya Jonghyun sudah lebih dulu mengambil koper tersebut dan membawakannya masuk.

Minhyun memandangi seluruh apartement sederhana yang ditempati kekasihnya itu. Well, bukan sederhana sih lebih tepatnya kecil. Apartement ini benar-banar kecil hanya berisi ranjang, satu kursi, dapur dan kamar mandi.

"Apartement Bugi mengingatkanku dengan Apartement milik Spider-man yang diperankan oleh Tobey, minus pintu apartement Bugi masih berfungsi dengan benar."

Jonghyun hanya tersenyum kecil mendengar komentar kekasih cantiknya soal apartement yang ia tinggali selama hampir dua bulan ini. Jonghyun meletakan koper milik Minhyun di sudut kamarnya dan menuju dapur untuk mengambilkan minuman untuk kekasihnya.

Minhyun langsung mendudukan dirinya dikasur Jonghyun dengan santai, seolah-olah dia sudah sering datang kesini padahal ini adalah pertamakalinya ia datang ke apartement kekasihnya.

"Minumlah." Jonghyun menyodorkan air putih didepan wajah manis Minhyun yang langsung diambil Minhyun dengan senyuman.

"Terimakasih, Bugi-ya."

Jonghyun mendudukan dirinya disamping Minhyun. "Apa kau memiliki masalah dengan teman-temanmu?"

Minhyun mengangguk. Percuma dia berbohong pada kekasihnya. "Mereka bilang kalau aku pengkhianat karena berkencan dengan seorang Nerd dan membuat mereka menjadi bahan tertawaan orang-orang karena berteman denganku yang berpacaran dengan cowok culun."

Jonghyun mencengkeram kedua tangannya mendengar ucapan Minhyun. Sungguh bila ia sedang tidak menyamar Jonghyun akan menampar satu persatu teman-teman Minhyun minus Daniel. Si kelinci itu pasti tidak ikut-ikutan.

Putra tunggal Kim Yunho dan Kim BoA itu memejamkan matanya mencoba menetralkan amarah yang menggerogoti hatinya. "Maafkan aku, Minhyun-ah. Ini semua salahku harusnya kau–"

"Bugi!" minhyun memotong ucapan Jonghyun karena ia tahu pasti apa Jonghyun akan menyalahkan dirinya sendiri. "Aku benci kalau Bugi seperti ini."

Minhyun menyentuh kedua pipi Jonghyun. Setiap kali ia melihat wajah yang berbingkai kacamata itu entah mengapa ia tampak sudah mengenal Jonghyun selama bertahun-tahun. "Aku mencintai Bugi dan aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Aku hanya mencintai Bugi dan akan selamanya mencintai Bugi."

Jonghyun tersenyum kecil, tangannya bergerak keleher Minhyun dan membawa wajah Minhyun mendekat padanya. Mengetahui apa yang akan dilakukan Jonghyun membuat Minhyun langsung memejamkan matanya.

Bibir keduanya kini sudah menempel dengan sempurna. Ciuman itu hanya ciuman lembut penuh perasaan tanpa nafsu. Hanya sebuah ciuman penuh cinta keduanya.

.

Minhyun memeluk pinggang Jonghyun dan menggunakan lengan Jonghyun sebagai bantalnya. Keduanya siap menuju alam mimpi bersama.

"Selamat malam, Minhyunie." Ucap Jonghyun sambil mengecup dahi Minhyun.

"Selamat malam juga, Jonghyunie. Mimpikan aku, yah?"

Jonghyun tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. "Pasti."

.

.

"Hari ini benar-benar panas." Ucap Minhyun sambil mengibas-ibaskan tangannya pada leher jenjangnya. Tangan satu laginya masih menempel dengan sempurna dilengan Jonghyun. Kini keduanya menuju kantin kampus mereka.

"Tentu saja panas, Minhyunie. Sebentar lagi Korea akan memasuki musim panas." Ujar Jonghyun sambil membenarkan kacamata besarnya.

Minhyun menghela nafas. "Aku benci hal-hal yang berbau panas."

Kedua lengan Minhyun kini bergelayut manja pada lengan Jonghyun. "Tapi aku suka ciuman panas dengan Bugi."

Setelah mengatakannya Minhyun memberikan senyum manisnya pada kekasihnya itu sedangkan Jonghyun hanya menggelengkan kepalanya dan mengacak-acak rambut Minhyun dengan lembut. Orang-orang yang ada disekitar merekapun tampak gemas dengan tingkah Minhyun.

Sudah dua minggu sejak Jonghyun dan Minhyun berpacaran, awalnya banyak orang yang tidak suka dan merasa aneh dengan keduanya. Pikirkan baik-baik, bagaimana bisa sosok secantik Hwang Minhyun bisa berpacaran dengan cowok seculun Kim Jonghyun. Jangankan memikirkan bagaimana bisa mereka berpacaran, memikirkan bahwa mereka berteman saja tampak mustahil.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang yang dulu merasa aneh dan menggap hubungan keduanya tidak pantas malah sekarang berpikir bahwa hubungan Jonghyun dan Minhyun tampak lucu. Seorang Nerd dan Sang Primadona Kampus. Bagaikan cerita di Novel Romansa.

Dan banyak orang juga bersyukur Minhyun berpacaran dengan Jonghyun karena mereka akhirnya bisa melihat sisi manis si dingin Hwang Minhyun. Selama dua tahun mereka hanya melihat sisi dingin Hwang Minhyun kini akhirnya mereka melihat sisi manis milik si cantik Hwang Minhyun.

"Lihat siapa yang memasuki kantin tercinta kita ini? Hwang Minhyun –Si Pengkhianat dan kekasih culunnya." Cemooh Ren ketika Jonghyun dan Minhyun baru saja memasuki kantin.

"Aku seperti melihat si Cantik dan si Buruk Rupa, yang benar-benar Buruk Rupa." Ucap Suga sambil memandang jijik Jonghyun.

"Hahahha!" sebagian mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kanti tertawa mendengar ucapan Suga.

"Jonghyun-sshi sepertinya para Nerd ingin tahu mantra apa yang kau miliki hingga kau bisa mendapatkan si Bintang kampus ini?" Luhan memandang Jonghyun dengan ekspresi penasaran yang dibuat-buat.

Minhyun melepaskan genggamannya dilengan Jonghyun dan langsung berjalan mendekati meja teman-temannya lebih tepatnya mantan teman-temannya.

Senyum tanpa makna terukir dibibirnya. "Kalian menyebutku Pengkhianat tapi kalianlah Pecundang disini. Kalian menjauhiku hanya karena aku berpacaran dengan Jonghyun. Bukankah seorang teman itu akan selalu mendukung satu sama lain tapi bukannya mendukung hubunganku kalian malah menjauhiku hanya karena ia Nerd dan kalian tidak mau lagi berteman denganku yang berpacaran dengan Nerd."

Minhyun terkekeh mengingat kejadian semalam dikamar asramanya. "Dengan alasan takut ditertawakan oleh orang-orang karena mau berteman denganku yang berpacaran dengan seorang Nerd, kalian mengusirku dari kamarku sendiri."

Tatapan Minhyun kini merendahkan mereka. "Kalianlah pecundang sesungguhnya disini."

"Kau!" Ren berdiri dari duduknya dan memandang penuh amarah Minhyun.

"Apa, Choi Ren? Aku mengatakan yang sesungguhnya. Kalian tidak mau image kalian hancur dengan berteman denganku yang berpacaran dengan Jonghyun tapi image kalian sudah hancur sejak dulu karena kalian hanyalah anak manja yang egois dan alasan tak bermutu kalian. Kalian akan membusuk dengan sifat busuk kalian."

Seluruh mahasiswa yang ada dikantin langsung berbisik-bisik mendengar seluruh ucapan Minhyun.

"Alasa yang konyol."

"Mereka memang egois."

"Bukannya memberi selamat malah menjauhi temannya sendiri."

"Teman macam apa mereka itu."

"Aku berterimakasih pada Jonghyun berkat dia kita bisa melihat senyum Minhyun selama dua tahun ini."

"Kau benar sekali. Dan apa yang teman-temannya lakukan selama dua tahun ini? Mereka tidak pernah membuat Minhyun tersenyum ataupun tertawa."

"Dasar anak-anak manja tidak tahu diri."

"Jadi apa mereka tanpa Minhyun."

Mendengar ucapan-ucapan seluruh mahasiswa dikantin membuat Ren langsung beranjak keluar dari kantin diikuti Luhan dan Suga serta Daniel yang paling belakang. Sebelum menyusul ketiganya Daniel memandang Minhyun sebentar.

.

.

TBC

26 December 2017

.