How Can I Get A Lover
by
Achan Jeevas
.
.
.
Chapter 10 : Musim Panas (Cinta yang Panas)
.
.
.
.
"Bugi ingin makan apa?"
Jonghyun menghentikan aktivitas membaca bukunya dan menatap kekasih cantiknya yang ada didapurnya dan sepertinya Jonghyun memilih waktu yang tidak tepat –atau mungkin tepat karena ketika ia mendongak untuk melihat Minhyun, kekasihnya itu tengah menungging didepan kulkasnya sehingga memperlihatkan pantat berisi Minhyun serta kaki jenjang Minhyun yang terlihat jelas karena Minhyun hanya boxer dan kemeja putih milik Jonghyun.
"Aku ingin memakanmu." Gumam Jonghyun yang masih menatap intens pantat sexy kekasihnya.
Minhyun langsung memandang Jonghyun. "Apa? Aku tidak dengar Bugi bicara apa."
Jonghyun langsung tersadar akan ucapannya dan kembali memfokuskan matanya pada bukunya. "Aku bilang aku akan makan apa saja."
Minhyun mengangguk mengerti dan mengambil beberapa bahan makanan yang ada didalam kulkas Jonghyun –untunglah sebelum ke apartement mereka sempat berbelanja tadi.
Clara yang duduk diatas meja belajar Jonghyun menatap aneh sosok tampan tersebut. "Jangan-jangan selama ini kau kanibal yah?"
Tidak peduli dengan ucapan peri aneh itu Jonghyun hanya kembali focus pada buku ditangannya namun matanya sekali duakali melirik tubuh ramping kekasihnya. Sekali duakali setiap lima detiknya.
.
.
"Taraaa… makan malam ala chef Hwang Minhyun." Minhyun meletakan seluruh masakannya diatas meja dan tersenyum bangga melihatnya.
"Aku tidak tahu kau bisa memasak."
Minhyun cemberut mendengar ucapan kekasihnya. "Sejak kecil Mommy sering mengajariku cara memasak. Dia bilang sebagai seorang istri aku harus bisa memasak makanan yang enak untuk suami nanti." Setelah mengatakannya Minhyun memberikan wink pada Jonghyun.
Jonghyun hanya mengacak rambut hitam Minhyun dengan lembut dan mulai memakan masakan kekasihnya.
"Bagaimana rasanya?" Minhyun menatap Jonghyun dengan harap-harap cemas.
"Enak. Ini benar-benar enak."
Senyum manis langsung merekah dibibir Minhyun. "Terimakasih atas pujiannya."
"Kau akan menjadi istri yang hebat suatu hari nanti." Ucap Jonghyun sambil memandang intens Minhyun.
"Tentu saja aku akan menjadi Istri yang hebat untuk Bugi."
Kedua insan kini terlarut dalam dunia mereka tanpa menghiraukan kehadiran sosok lain yang ada disana.
"Kalian manis tapi saking manisnya membuatku ingin segera membawa kalian ke altar gereja segera." Komen Clara sambil memandangi Jonghyun dan Minhyun.
.
.
Minhyun menyandarkan kepalanya didada bidang kekasihnya sedangkan Jonghyun merangkul pinggang Minhyun. Minhyun suka posisi seperti ini.
"Besok hari pertama liburan musim panas." Gumam Minhyun.
"Ya."
"Bugi." Tangan Minhyun bergerak untuk mengelus dada bidang kekasihnya.
"Hm? Kau ingin liburan, Minhyunie?"
"Tidak. Tapi… kenapa kita tidak membuat malam musim panas ini semakin panas?"
Jonghyun yang tengah mengelus rambut lembut Minhyun terhenti mendengar ucapan kekasihnya. Ia tahu maksud ucapan Minhyun. Sangat tahu karena ia pun berpikir demikian.
"Tidurlah, Minhyunie. Kau pasti kelelahan akibat berkelahi dengan teman-temanmu tadi siang."
Mendengar ucapan Jonghyun membuat Minhyun langsung mendudukan dirinya dan menatap kecewa Jonghyun. "Bugi!"
Jonghyunpun ikut mendudukan dirinya, tangannya mengelus pipi chuby Minhyun. "Minhyunie, kau belum siap untuk hal itu, sayang."
"Aku siap, Bugi! Apalagi yang Bugi tunggu?" Minhyun menatap Jonghyun dengan tatapan yang siap saja melihatnya pasti akan rela menuruti setiap keinginannya. "Jangan-jangan selama ini Bugi tidak serius denganku yah? Bugi pasti menerima pernyataan cintaku karena Bugi hanya kasihan padaku kan? Bugi tidak mencintaiku."
Mendengar ucapan-ucapan kekasihnya membuat Jonghyun menarik tubuh Minhyun dalam pelukannya. "Tidak, Minhyunie. Bukan seperti itu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu tolong jangan mengatakan hal seperti itu lagi."
"Tapi sikap Bugi membuatku berpikir seperti kalau Bugi mencintaiku."
"Kau mau buktiku?"
Minhyun mengangguk dalam pelukannya.
"Maka bersiaplah malam ini akan menjadi malam yang panjang." Ucap Jonghyun dengan nada berbahaya.
Putra tunggal Tuan dan Nyonya Kim itu melepaskan pelukan Minhyun namun tangannya dengan lembut menarik dagu Minhyun dan mencium bibir manis Minhyun. Saat keduanya berciuman mata Jonghyun menatap tajam Clara. Clara yang masih duduk diatas meja belajar Jonghyun yang mendapatkan tatapan mengerikan langsung ketakutan dan menghilang dalam sekejap mata.
Minhyun memiringkan lehernya agar sosok tampan didepannya lebih leluasa mengecupi lehernya.
"Ahh." Desahan pertama kini keluar dari bibir pink Minhyun dan ia semakin mengeratkan pelukannya pada sosok itu, mata indahnnya tertutup.
.
Hentakan, dorongan serta suara kulit yang bertemu dengan kulit menjadi nyanyian malam yang terdengar dikamar Minhyun, suara deritan ranjang yang bertemu dengan dinding menjadi penambah bukti bahwa kegiatan ranjang mereka membara.
Tubuh Minhyun berkeringat dan terengah-engah serta desahan-desahan yang keluar dari mulutnya. "Ahh- Mmnh- Ahh ... Aaahh."
.
.
Clara menatap nyalang balkon apartement kecil Jonghyun, ia berada diluar gedung apartement tersebut. "Kenapa sih dia jahat sekali padaku. Apa di dimensi lain aku adalah penjahat dalam sebuah cerita sehingga dia selalu menyiksaku. Cih."
.
.
.
"Bugi sepertinya pagi ini aku tidak ikut Bugi ke tempat kerja, aku akan membereskan apartement ini dan Bugi apa nanti siang aku boleh mengunjungi sepupuku?"
Jonghyun yang tengah memakai kacamata menghentikan aktivitasnya. "Tentu saja boleh tapi sepupu yang mana? Aku tidak tahu kau punya sepupu."
"Namanya Aron, dia putra sulung Jaejoong Ahjusshi. Dia baru pulang dari America kemarin, dia berkuliah disana."
Jonghyun mengangguk mengerti. Dia mendekati Minhyun dan memberikan kecupan di dahi Minhyun. "Aku kerja dulu."
Minhyun tersenyum manis. "Nde. Nanti siang sebelum aku kerumah sepupuku aku akan membawakan Bugi makan siang."
"Nde."
Minhyun memandang punggung kekasihnya yang keluar dari apartement kecil namun nyaman tersebut. Apartement ini pantas dipanggil Rumah dan Rumah besar yang Minhyun miliki hanyalah sebuah bangunan tanpa kehangatan didalamnya.
Minhyun menghela nafas. Ini sudah seminggu sejak liburan musim panas dimulai dan ia sudah tinggal dengan nyaman di apartement ini. Ia memikirkan Ayah dan Kakaknya namun segera membuang pemikirannya tersebut karena ia yakin Ayahnya pasti sibuk begitu juga kakaknya dan ia juga yakin keduanya tidak akan ada dirumah.
Minhyun berdiri dari duduknya dan mulai membersihkan apartement kekasihnya walaupun apartement itu sudah bersih karena keduanya memang membenci kotor.
Memikirkan kekasihnya membuat senyum tercetak dibibir indahnya. Jonghyun, dia adalah orang yang bekerja keras. Musim panas ini bukannya diisi dengan malas-malasan tapi setiap pagi sampai sore hari kekasihnya bekerja di perpustakaan kota, sore hari sampai jam 9 malam kekasihnya akan bekerja di restaurant –selama seminggu ini Minhyun selalu mengikuti kemanapun Jonghyun dan pada malam hari Jonghyun –juga dirinya akan belajar bersama.
.
.
Ting Tong Ting Tong
Minhyun berdiri didepan rumah besar milik pamannya tersebut sebelum kemari ia memberikan bekal makan siang untuk Jonghyun dulu.
"Minhyun?"
Minhyun tersenyum ala kadarnya. "Hai, Ahjusshi. Apa Aron ada?"
Jaejoong memutar matanya dengan tingkah keponakannya. "Kau selalu manis bila bersama Jonghyun kenapa kau juga tidak bersikap manis pada Pamanmu ini?"
Bukannya menjawab ucapan Pamannya, Minhyun malah menerobos masuk ke rumah besar tersebut. "Aron!"
"Tidak usah berteriak, aku disini." Ucap Aron yang ternyata tengah menonton TV.
Minhyun langsung mendekati Aron dan langsung memeluk sepupunya tersebut. "Aku tahu kau pasti merindukanku mangkanya aku memelukmu."
Aron memutar matanya namun membalas pelukan Minhyun. "Terserah kau saja, Hwang."
.
.
"Ayahku bilang kau sudah memiliki pacar. Aku pikir kau seorang aseksual." Ujar Aron sambil mengudap cemilan yang dibuatkan Ayahnya untuk keduanya.
"Yup, dan namanya Jonghyun." Jawab Minhyun sambil berguling-guling di karpet bulu rumah Aron.
"Dan kau tampaknya bahagia dengannya. Aku bahkan tidak bisa merasakan dinginnya hatimu lagi."
"Sangat bahagia dan apakah begitu dinginnya aku sehingga hatiku juga dingin?"
Aron mengangguk. "Ya, kau sangat dingin. Tanya saja pada semua orang."
Minhyun cemberut mendengar ucapan sepupu yang paling dekat dengannya itu.
"Lalu bagaimana dengan JR? Dulu kau bilang kau menyukainya?"
Minhyun seketika menatap Aron dengan ekspresi serius. "Itu dulu, sebelum dia menghilang entah kemana."
"Jadi kau berpacaran dengan si Jonghyun ini sebagai pelampiasan rasa kesepianmu karena sosok yang kau sukai menghilang?"
Minhyun langsung menatap tajam Aron. "Tentu saja tidak. Aku mencintai Jonghyun sebagai Jonghyun bukan untuk melampiaskan rasa kesepianku. Aku mencintainya dengan tulus dari hatiku."
Aron tersenyum mendengar jawaban Minhyun. "Kau benar-benar mencintainya, Minhyun-ah."
.
.
"Mereka melakukan apa?!" teriak Aron dan langsung menghentikan mobilnya ditengah jalan, mereka saat ini menuju Mall karena keduanya ingin berbelanja.
"Kau mendengarnya dengan jelas. Sekarang jalankan mobilnya sebelum ada yang memarahi kita karena berhenti ditengah jalan."
Tanpa banyak kata Aron langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya, melanjutkan perjalanan mereka. "Bagaimana bisa mereka berpikir seperti itu. Sosok-sosok seperti itu tidak pantas disebut teman."
Minhyun mengangkat bahunya. "Mereka hanya belum terbiasa menjadi bahan tertawaan orang, mereka seringnya menjadi pusat perhatian."
"Mereka benar-benar kekanakan. Jika aku bertemu salah satu dari mereka aku akan menampar mereka." ucap Aron sambil menahan amarahnya.
"Semoga saja mereka tidak bertemu denganmu." Harap Minhyun karena ia tidak mau teman-temannya mendapatkan amukan Aron. Aron itu baik dan perhatian namun jangan salah jika ia marah maka ia akan menjadi sosok yang mengerikan.
.
.
Minhyun tengah memilih baju –karena bajunya dirusak oleh teman-temannya dan selama seminggu ini ia selalu memakai baju Jonghyun. Ia sengaja langsung membeli banyak agar kartu kredit yang ia miliki berguna –setelah Ibunya meninggal yang diberikan Ayahnya hanyalah uang, uang dan uang.
"Setelah ini mari kita ke restaurant tempat Jonghyun bekerja."
"Ok." Jawab Aron.
"Aku akan membayar baju-baju ini dulu."
Aron hanya mengangguk karena ia sibuk melihat jam tangan didepannya.
Minhyun berjalan menuju kasir namun karena matanya focus pada dompetnya ia tidak sengaja menabrak wanita didepannya dan membuatnya terjatuh.
"Akh! Hey, kalau jalan lihat-lihat dong!" ucap wanita itu dengan marah.
"Ada apa, Joy?" tanya sosok tampan berwajah dingin.
"Oppa, lihat dia menabrakku." Adu Joy pada kekasihnya.
Sosok tampan itu memutar matanya mendengar suara manja kekasihnya dan menatap Minhyun. "Minhyun?"
"Seungcheol-sshi?"
"Sedang apa kau disini?" Seungcheol mengulurkan tangannya untuk membantu Minhyun berdiri. "Aku pikir kau ada di Hawaii dengan yang lainnya?"
"Ah itu… aku tidak bisa ikut." Ucap Minhyun.
"Minhyun-ah, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Aron dengan khawatir ketika ia melihat Minhyun terjatuh tadi. "Dan siapa dia?"
"Aku baik-baik saja, Hyung. Tidak perlu khawatir dan dia Choi Seungcheol, kakak Ren."
"Kakak Ren? Salah satu temanmu itu?"
"Nde."
Mendengar jawaban Minhyun dengan segera Aron menatap tajam Seungcheol.
Plakkk.
Minhyun, Joy dan beberapa orang yang ada disekitar mereka menatap terkejut Aron.
"Hyung."
Seungcheol menyentuh pipinya sendiri yang baru saja mendapatkan tamparan dari sosok yang bahkan ia tidak tahu namanya.
"Berikan itu pada adikmu." Setelah mengatakan itu Aron langsung menggandeng tangan Minhyun. "Cepat bayar belanjaanmu dan kita pergi dari sini."
Namun sebelum Aron dan Minhyun pergi tangan kiri Aron –yang tidak menggandeng Minhyun ditarik oleh Seungcheol.
"Apa?" Aron menatap malas sosok tampan didepannya.
"Siapa namamu? Maukah kau berkencan denganku malam ini?"
Minhyun menatap tidak percaya Seungcheol. Apakah Seungcheol gila? Dia mengajak kencan Aron yang baru saja menamparnya yang bahkan keduanya baru bertemu saat ini.
Aron langsung menarik tangannya dari cengkeraman Seungcheol. "Aku tidak tertarik. Ayo Minhyun."
Seungcheol menatap tangannya yang baru saja menyentuh tangan Aron. Ia tersenyum. "Tapi aku tertarik padamu."
Satu fakta tentang Choi Seungcheol dia suka tantangan dan ia merasa tertantang untuk mendapatkan sosok manis tadi.
"Oppa!"
Seungcheol menatap Joy, oh yah dia lupa kalau ia kesini bersama Joy.
"Apa-apaan itu, Oppa? Aku kekasihmu."
"Aku tidak pernah menganggapmu kekasihku. Kau hanya salah satu wanita yang menjadi pemuas nafsuku." Setelah mengatakannya Seungcheol langsung pergi meninggalkan Joy.
.
.
"Hyung, berhati-hatilah padanya. Seluruh orang bermarga Choi itu ambisius, mereka akan mendapatkan apapun yang mereka inginkan dengan berbagai cara, entah itu dengan cara halus atau dengan cara kasar."
Bagaimana Minhyun tahu? Well dia tahu karena ia sering menghadiri pesta tentang bisnis dan Ren –bungsu keluarga Choi adalah teman sekamarnya.
"Tenang saja, Aku tidak akan lama berada di Korea dan aku straight Minhyun. Ingat, aku sebentar lagi akan bertunangan dengan Luna." Jawab Aron.
"Yang penting aku sudah memperingatimu, Hyung."
"Terimakasih sudah berbaik hati untuk memperingatiku tapi aku pikir peringatanmu tidak akan berguna karena seperti yang aku katakan, aku tidak akan lama di Korea.
.
.
"Bugi, perkenalkan ini Aron-hyung, Aron-hyung ini Kim Jonghyun, kekasihku."
Aron dan Jonghyun saling berjabat tangan.
"Kim Jonghyun imnida."
"Annyeong, Jonghyun-sshi. Kwak Aron imnida dan terimakasih sudah melelehkan hati dingin sepupuku ini."
"Hyung!"
Aron dan Jonghyun hanya terkekeh kecil mendengar protesan Minhyun.
Aron mengelus rambut Minhyun dengan lembut. "Aku hanya bercanda, Minhyun-ah tapi memang benar kan kau memiliki hati yang dingin kau bahkan dijuluki Ice Prince or Ice Princess."
Minhyun memajukan bibirnya, kesal dengan ucapan-ucapan Aron sedangkan Jonghyun menyipitkan matanya melihat interaksi keduanya. Ia cemburu.
"Kalian mau pesan apa?" ucapnya datar.
"Aku pesan cinta Bugi boleh?" Minhyun mengedip-edipkan matanya dengan centil pada kekasihnya itu sedangkan Aron yang mendengarnya memutar matanya.
"Kau sudah memilikinya sejak awal, Minhyunie."
Mendapatkan balasan seperti membuat pipi Minhyun merona. "Bugi!"
.
Jonghyun menarik nafas dan membuangnya, dia terus melakukan itu selam hampir satu menit. Saat ini ia berada di dapur untuk mengambil makanan-makanan pesanan pembeli namun otaknya terus terbayang-bayang dengan interaksi Aron dan Minhyun. Mereka tampaknya sangat dekat.
"Clara."
"Hmp?" balas Clara, mulutnya penuh dengan spaghetti yang ia curi dari dapur restaurant tempat Jonghyun bekerja.
"Beritahu aku siapa itu Kwak Aron."
"Dia sepupu Minhyun."
"Lebih rincinya bodoh."
Clara menjauhkan piring berisi spaghettinya itu dan menatap lurus Jonghyun. "Namanya Kwak Aron. Umurnya 27th dan tengah melanjutkan S3 nya di New York University jurusan Jurnalistik. Ayahnya adalah Kwak Jaejoong, Paman Minhyun dan Chef di Universitas kalian."
"Apa dia menyukai Minhyun?"
"Dia sangat mencintai Minhyun…"
Tangan Jonghyun langsung terkepal mendengarnya.
"..karena Minhyun adalah sepupunya. Lagipula Kwak Aron sebentar lagi akan bertunangan dengan Park Luna. Mereka sudah berpacaran selam empat tahun. Kwak Aron dan Park Luna berpacaran karena Amber Liu yang adalah teman keduanya."
"Ok, Cukup." Setelah mengatakanya Jonghyun langsung meninggalkan Clara, pikirannya kini sudah tenang begitu juga hatinya.
Clara langsung cemberut mendapatkan sikap seperti itu dari Jonghyun. "Tidak kah kau mengucapkan terimakasih padaku?"
"Jangan mencuri makanan lagi atau aku akan mematahkan sayap jelekmu itu!"
Mendengar ucapan Jonghyun membuat Clara memajukan bibirnya beberapa centi. "Benar-benar deh! Apa salahku Yang Maha Kuasa… sehingga kau menugaskanku untuk membantu sosok menyebalkan seperti Kim Jonghyun itu. Apa di kehidupan lain aku adalah sosok wanita yang jahat yang hobby menghancurkan kebahagiaan orang lain atau aku adalah adik yang jahat yang tidur dengan pacar kakaknya sendiri?"
.
.
Luhan dan Suga tengah menyiapkan meja dan kursi untuk pesta BBQ mereka sedangkan Ren dan Daniel tengah menyiapkan peralatan BBQ. Malam ini tepat malam kelima mereka berada di Hawaii melakukan liburan musim panas mereka dan dua hari lagi mereka akan kembali ke Korea.
Daniel terdiam sambil memandangi pemanggang didepannya. "Siapa yang akan memangang BBQ nya?"
"Tentu saja Minhyun, siapa lagi diantara kita berlima yang bisa memasak." Ucap Luhan namun seketika diam ketika dia menyadari sesuatu dan kini keempatnya diselimuti dalam keheningan.
"Tidakkah kalian berlebihan?" Daniel memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Hanya karena tidak mau image kalian jelek didepan banyak orang kalian membuat persahabatan kita berlima terpecah seperti ini." Sosok paling muda diantara mereka itu menatap kosong didepannya. "Lalu untuk apa persahabatan kita selama dua tahun ini? Hanya untuk mencari image?"
Luhan, Ren dan Suga masih terdiam tanpa kata.
Brakkk.
Daniel melemparkan besi untuk memanggang dengan keras membuat Suga, Luhan dan Ren terkejut pasalnya Daniel tidak pernah marah seperti ini. Si magnae selalu menjadi sosok manis yang penurut.
"Minhyun benar tentang kita. Kita adalah pecundang. Kita tidak bisa disebut teman. Aku bahkan malu untuk memandangnya karena begitu pecundangnya aku." Air mata membasahi pipinya dan Daniel segera memasuki kamar hotel mereka meninggalkan ketiganya yang diselimuti rasa bersalah.
.
.
"Aku bisa mengantarkan kalian ke apartement kalian." tawar Aron pada keduanya.
"Tidak usah, Hyung. Kami sudah biasa jalan kaki sekalian mencari udara segar."
"Baiklah, baiklah. Terserah kalian saja. Aku duluan yah." Ucap Aron sambil memasuki mobilnya dan meninggalkan keduanya.
"Bye, Hyung. Hati-hati."
"Kalian juga hati-hati."
.
Jonghyun dan Minhyun bergandengan tangan dengan erat menuju apartement yang mereka tempati kini.
"Aku bahagia bisa memiliki Bugi dalam hidupku."
"Dan aku lebih bahagia mendapatkanmu dalam hidupku. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, Minhyunie."
Minhyun mengubah genggaman tangan keduanya dengan ia memeluk erat lengan Jonghyun. "Aku mencintaimu, Kim Jonghyun."
Jonghyun mencium kening Minhyun. "Aku juga mencintaimu, Hwang Minhyun."
.
.
.
Suara mesin mobil berhenti didepan sebuah rumah bertingkat tiga yang begitu megah itu. Sosok yang berada didalam mobil tersebut keluar dan segera memasuki rumah yang sudah ia tempati sejak kecil itu.
"Selamat datang kerumah, Tuan Muda Sehun." Beberapa pelayan membungkukan badan mereka ketika putra sulung dari tuan besar mereka pulang.
Sehun tidak membalas ucapan para pelayan tersebut dan langsung menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Ia benar-benar kelelahan akibat perjalanan bisnisnya ke Eropa selama beberapa minggu dan ia baru tiba di Korea tadi pagi namun harus segera ke kantor karena ada masalah disana.
Sehun menghentikan langkah kakinya menuju anak tangga selanjutnya ketika dia menyadari ada keganjilan diruang TV. Sehun ingat ini sudah memasuki libur musim panas namun kenapa ruang TV nya tampak sepi. Biasanya akan ada seseorang yang duduk disana menonton TV sambil bermalas-malasan.
"Ahjumma!"
"Nde, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?" tanya sosok yang sudah berkepala tiga itu. Dia adalah salah satu pelayan senior dirumah ini.
"Kemana Minhyun?"
"Lima hari yang lalu Tuan Muda Minhyun menelpon saya bahwa dia tidak akan pulang kerumah karena ia menginap dirumah temannya selama musim panas ini."
"Dimana?"
"Saya tidak tahu, Tuan Muda. Tuan Muda Minhyun tidak mengatakan tempatnya."
Sehun mengernyit bingung. Tidak biasanya adiknya itu tidak ada dirumah selama liburan musim panas. Adiknya itu biasanya ada dirumah dan bermalas-malasan.
Sehun menghela nafas, ia terkadang merasa bersalah pada adiknya itu. Ia dan Ayah mereka terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk waktu bersama sebagai keluarga. Sejak satu-satunya sosok wanita yang mereka miliki meninggal membuat keluarga ini kehilangan kehangatannya secara perlahan dan adiknyalah yang menjadi korban.
.
.
.
.
.
.
TBC
05 January 2018
