How Can I Get A Lover?

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

Chapter 11 : Pergi Untuk Kembali

.

.

.

.

Jonghyun membuka pintu apartement kecilnya itu dan ia langsung mengernyit ketika kegelapan yang menyambutnya. Apakah Minhyun sudah tidur atau masih di luar bersama Aron?

"Minhyun-ah." Panggil Jonghyun pada kekasihnya namun tidak ada jawaban sama sekali. Jonghyun menghela nafas dan menekan saklar lampu.

"KEJUTAN!"

Jonghyun terlonjak kaget mendengar suara kekasihnya dan ia dibuat semakin terkejut ketika melihat penampilan kekasihnya yang tampak menggoda dengan kemeja kebesaran miliknya dan bando fox yang dulu ia belikan untuk Minhyun ah jangan lupakan Minhyun yang hanya memakai celana pendek saja.

"Kau mengejutkanku."

Minhyun hanya tersenyum polos lalu mendekati Jonghyun dan memeluknya erat yang langsung dibalas oleh Jonghyun. "Bugi, mandi sana! Bugi bau!"

Jonghyun menggelengkan kepalanya dengan tingkah kekasihnya. "Iya iya aku akan mandi."

Setelah mengatakannya Jonghyun langsung mengambil handuk dan baju ganti dan dengan segera memasuki kamar mandi.

.

.

Salah satu pelayan senior yang sudah bekerja cukup lama di rumah besar keluarga Hwang itu menatap keempat teman-teman Minhyun dengan bingung. "Ahjumma pikir Tuan Muda Minhyun tengah bersama kalian."

Suga menggeleng. "Minhyun… tidak bersama kami."

"Tuan Muda Minhyun mengatakan kalau ia akan menghabiskan liburan musim panasnya di rumah temannya jadi Ahjumma pikir dia bersama kalian."

"Apa Ahjumma tau alamat teman Minhyun itu?" tanya Luhan.

Pelayan itu menggeleng. "Tidak sama sekali, Tuan Muda."

Daniel, Ren, Suga dan Luhan menundukan kepala mereka. Semua ini salah mereka.

Daniel membungkuk berterimakasih pada pelayan tersebut. "Terimakasih Ahjumma atas informasinya. Kami pamit dulu."

Pelayan itu hanya mengangguk dan kembali menuju dapur.

Keempatnya kini saling berpandangan.

"Dia pasti bersama Jonghyun."

"Luhan apa kau tahu alamat rumah Jonghyun?" Suga menatap temannya yang dari China itu. "Dulu kau pernah mencari tahu informasi tentang Jonghyun kan?"

"Sayangnya di informasi itu tidak tercantum alamatnya dan jikapun kita tahu apakah kita akan kesana, mengetuk pintu rumahnya dan dengan tidak tahu malu meminta maaf seakan-akan kita tidak pernah melakukan kesalah apapun?"

Suga, Ren dan Daniel terdiam mendengar ucapan Luhan.

"Lebih baik kita menunggu sampai kuliah kembali berlangsung. Minhyun mungkin sedang berbahagia bersama Jonghyun dan kedatangan kita mungkin akan menganggunya." Ucap Luhan.

.

.

From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo

waenji nasseoreo honja inneun saebyeok gonggiga
jam mot iruge hajyo
eonjebuteonga keojyeobeorin neol hyanghan maeum
gamchul su eomna bwayo

teong bin bang gadeuk bichuneun
moonlight (moonlight)
kkumcheoreom sarajyeo gajiman (out of my life)
saehayan kaenbeoseue hanbeon deo geuryeoyo
honjaga anira mideoyo

From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo

kkamake multteun bam
haneul neoye nundongja gateun dareul bomyeo
oneul harun eottaesseukka nan
geokjeonghaji neon an joa boyeo yeah
aesseuryeogo hajineun ma geurae maja
manyang eorinaecheoreom gureodo dwae anajulge naega
neoye ilgi majimak jul geogien
naega hangsang isseul geoya geogien

barame nallyeo heundeullineun
keoteun sairo noranbit chajaojyo
hwanage binnal naltteureul majuhamyeo
unneun urireul tteoollyeoyo
byeoltteultto jamdeun bamhaneul
moonlight (moonlight)
kkumcheoreom sarajyeo gajiman
saehayan kaenbeoseue dashi geuryeobwayo
geudaega animyeon andwaeyo

From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo

TONIGHT geudaewa hamkke
kkumsogeul nalgo shipeo
TONIGHT naegero wayo
achimi ogi jeone

From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo

From the moon, To the stars
While lingering in the universe
We got to know each other
We slide on the paint
that spread while
drawing, drawing

The air of dawn that I'm alone feels weird
I can't fall asleep
My heart towards to you grew big at some point
I can't hide it anymore

The moonlight that fully
Shines the empty room (moonlight)
It's disappearing like a dream (out of my life)
I draw one more time On a white canvas
I trust that I'm not alone

From the moon, To the stars
While lingering in the universe
We got to know each other
We slide on the paint
that spread while
drawing, drawing

On a dark night
I look at the moon that's like your eyes
How was your day,
I worry, you don't look good yeah
Don't try to hard that's right
You can act like a child I'll hold you
On the last line of your diary
I'll always be there

Between the curtain that shakes
Because of the wind, yellow light finds us
Think of us smiling
Facing the days that will shine
The night sky where the stars are asleep
moonlight (moonlight)
It's disappearing like the wind
But I draw it again on white canvas
It has to be you

From the moon, To the stars
While lingering in the universe
We got to know each other
We slide on the paint
that spread while
drawing, drawing

TONIGHT with you
I want to fly in my dreams
TONIGHT come to me
before the morning comes

From the moon, To the stars
While lingering in the universe
We got to know each other
We slide on the paint
that spread
while drawing, drawing

"Aku tidak mengerti, untuk apa semua ini Minhyun-ah?" tanya Jonghyun. Saat ini keduanya tengah berdansa dengan lagu yang mengalun indah.

Minhyun membenamkan wajahnya di dada kekasihnya. Sosok yang sudah ia berikan hatinya untuk selamanya. "Untuk Bugi. Bugi selama liburan musim panas ini selalu saja bekerja dan jarang beristirahat. Liburan itu harusnya digunakan untuk beristirahat Bugi dan lagu ini cocok untuk kita berdua."

Jonghyun tersenyum mendengar ucapan Minhyun, tangannya masih berada di pinggang ramping Minhyun dan tubuh mereka masih bergerak seirama dengan lagu tersebut.

"Apa bugi tidak lelah bekerja terus?"

Jonghyun menggeleng. "Aku lelah tapi semua itu akan sirna ketika aku pulang dan Minhyunie menyambutku dengan senyum manis."

"Gombal." Ucap Minhyun namun ia tersenyum lebar mendengarnya.

"Aku berkata jujur, Minhyunie."

Titt Tittt

Jonghyun menatap jam disamping ranjangnya yang sudah menunjukan angka 12 malam.

Minhyun menatap wajah Jonghyun, senyum manis tercetak di sudut bibirnya. "Selamat ulang tahun, Bugi."

"Hm?"

"Ini ulang tahun, Bugi. 08 Juni. Aku ingin menjadi yang pertama mengatakannya pada Bugi."

"Aku bahkan tidak ingat ini adalah hari ulang tahunku."

"Itu karena Bugi terlalu sibuk bekerja." Ucap Minhyun sambil menuju dapur. "Aku membuat kue untuk Bugi."

"Kau sudah menyiapkan semua ini?"

"Tentu saja." Minhyun meletakan kue ulang tahun buatnnya dan menyalakan lilin yang bertulis love diatasnya. "Buat permohonan dan tiup lilinnya."

"Aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu."

Mendengar ucapan Jonghyun yang seperti itu membuat Minhyun langsung mempoutkan bibirnya. "Bugiiii."

"Iya, iya." Jonghyun menutup matanya untuk membuat permohonan.

Semoga semua orang yang aku cintai akan selalu berada disampingku untuk selamanya, terutama Hwang Minhyun.

Jonghyun membuka matanya dan segera meniup lilin diatas kue buatan kekasihnya.

"Yeahhhh." Minhyun bertepuk tangan dan bersorak dengan girang.

"Aku yang ulang tahun kenapa kau yang bahagia?"

"BUGI!"

.

.

"Jadi apa permohonan Bugi tadi?" tanya Minhyun ketika keduanya sudah berbaring diranjang siap menuju alam mimpi setelah aktivitas panas mereka.

"Permohonan tidak akan terkabul jika kita mengatakannya."

"Tapi aku pacar Bugi."

"Tidurlah, Minhyun-ah."

"Tapi aku belum mengantuk."

Jonghyun mengelus rambut Minhyun dengan sayang. "Besok aku akan membawamu kesuatu tempat jadi tidurlah."

"Kita akan kencan?"

"Nde."

"Ok, Aku tidur. Selamat malam Bugi-ah dan Selamat ulang tahun." Ucap Minhyun lalu mengecup bibir kekasihnya sekilas.

.

.

Minhyun memandang jendela bus yang membawa mereka menjauh dari keramaian kota Seoul. "Kita mau kemana, Bugi?"

"Kau akan tahu nanti."

Dan Minhyun hanya mengangguk lalu menyandarkan kepalanya dibahu Jonghyun.

.

.

Minhyun hanya bisa menganga melihat pemandangan indah didepannya. Didepan matanya kini terhampar ilalang yang begitu luas indah. Ditambah dengan langit musim panas yang membuat pemandangan didepannya semakin indah dan memanjakan mata. "Bugi… ini sangat indah."

Jonghyun mengulurkan tangannya pada Minhyun. "Ayo ikut aku, ada yang lebih indah dari ini."

Dan apa yang bisa Minhyun lakukan selain memberikan tangannya pada Jonghyun.

.

Dan Minhyun sekali lagi dibuat terkagum-kagum akan pemandangan didepannya. Setelah hampir satu jam mereka berjalan menyusuri ilalang-ilalang tersebut kini rasa lelahnya dibayarkan dengan setara akan pemandangan didepannya.

Pemandangan didepannya adalah sebuah danau yang begitu indah dengan air yang bening dan pepohonan yang rindang serta langit yang begitu cerah.

"Minhyun."

"Nde?"

Jonghyun menundukan kepalanya. "Maaf aku hanya bisa membawaku ke tempat sederhana ini dan aku tidak bisa membawamu kemanapun. Kau pasti menginginkan jalan-jalan ke Jeju, Hawaii atau Bali kan?"

Mendengar ucapan kekasihnya membuat Minhyun kesal sendiri. "Bugiiii, aku tidak ingin pergi kemanpun. Aku hanya ingin selalu dengan Bugi dan apa maksud Bugi tempat ini sederhana? Ini tempat yang sangat indah. Bagaimana Bugi bisa menemukan tempat ini?"

"Ini tempat yang sering aku datangi ketika aku membutuhkan ketenangan."

"Tempat ini sangat indah, Bugi."

"Minhyunie."

"Hm?"

"Mau naik perahu?"

Bungsu keluarga Hwang itu menatap Jonghyun bingung. "Memang ada perahu?"

Jonghyun mengangguk dan menunjuk tepi Danau dan ternyata memang ada perahu kecil disana dengan sebuah dayung. Cukup untuk dua orang.

"Ayo." Jonghyun menggenggam tangan Minhyun dengan lembut dan menariknya menuju perahu.

.

Senyum tidak pernah menghilang dari wajah manis Minhyun. Ia benar-benar bahagia, tidak pernah ia merasakan kebahagiaan seperti ini selama bertahun-tahun. Kim Jonghyun memang pantas mendapatkan hatinya, sosok didepannya ini benar-benar membuat hidup Minhyun penuh warna.

Jonghyun sendiri ia sibuk mengayuh perahu mereka dan ketika sampai ditengah danau ia menghentikan kayuhannya dan menatap mata Minhyun.

"Minhyunie."

"Nde, Bugi-ya?"

"Aku memiliki hadiah untukmu." Jonghyun mengambil sesuatu dari saku celananya.

Mata Minhyun melebar melihat sebuah kotak kecil berbentuk hati ditangan Jonghyun. "Bugi…"

Jonghyun membuka kotak kecil tersebut dan didalamnya terdapat sebuah cincin berwarna putih dengan batu permata diatasnya namun disekitar batu permata itu juga disekelilingi oleh batu sapphire berwarna biru.

Jantung Minhyun berdetak dengan kencang dan ia benar-benar dibuat terpana akan keindahan cincin didepannya. "Bugi ini ulang tahun Bugi kenapa aku yang mendapatkan kejutan dan hadiah ini?"

Jonghyun langsung tersenyum kecut mendengar ucapan kekasihnya. Ia harusnya tahu Minhyun tidak akan menyukai cincin murah seharga 50jt Won ini. "Jadi kau tidak mau?"

"Tentu saja mau. Pakaikan." Minhyun mengulurkan tangan kirinya pada Jonghyun untuk dipakaikan cincin.

Melihat itu membuat Jonghyun tersenyum. "Aku butuh tangan kananmu bukan tangan kirimu."

Mendengar itu membuat senyum di wajah Minhyun lenyap seketika. "Jadi Bugi tidak mau memakaikan cincin di tangan kiriku?"

"Tidak sekarang, Minhyunie. Tunggu beberapa tahun kedepan." Setelah memakaikan cincin tersebut Jonghyun langsung mencium tangan Minhyun. "Aku mencintaimu, Hwang Minhyun."

"Aku juga mencintaimu, Kim Jonghyun."

.

.

Beberapa hari kemudian kini Minhyun tengah makan siang bersama Aron di restaurant tempat Jonghyun bekerja.

"Bagaimana liburanmu dengan keluargamu?" tanya Minhyun sambil menjilat es krimnya. Ini musim panas dan es krim merupakan menu wajibnya.

Beberapa hari yang lalu Aron dan keluarganya memang liburan ke Pulau Jeju mangkanya kedua sepupu ini tidak bertemu selama beberapa hari.

"Seperti biasanya Hannah dan Grace sangat manja padaku."

"Tentu saja mereka sangat manja padamu. Kau jarang pulang ke Korea."

Aron menghela nafas. "Kau tahu sendirikan selain sedang sibuk dengan kuliahku aku juga sibuk bekerja sebagai editor di perusa–Apa itu ditanganmu?"

"Sendok." Jawab Minhyun dengan enteng.

"Bukan bodoh tapi di jarimu."

Minhyun langsung tersenyum dan menunjukan jarinya yang memakai cincin didepan wajah sepupunya, ia bermaksud untuk pamer. "Kau pikir apa? Tentu saja ini Cincin. Jonghyun yang memberikannya untukku."

Aron menatap Minhyun curiga. "Pembohong. Kau pasti membeli dengan uangmu sendiri dan membual itu dari Jonghyun."

Sosok yang lebih muda dari Aron itu langsung mempoutkan bibirnya. "Bugi, Aron-hyung tidak percaya cincin ini dari Bugi!"

Sebagian para pengunjung restaurant langsung menatap Minhyun sedangkan sosok yang ditatap tidak peduli dengan tatapan mereka.

Jonghyun menggaruk lehernya dan segera mendekati meja Aron dan Minhyun. "Mm, ada apa Minhyunie?'

"Lihat, Aron-hyung tidak percaya kalau cincin yang aku pakai ini dari Bugi. Dia bilang Aku hanya membual." Adu Minhyun pada kekasihnya sambil memeluk lengan Jonghyun. Well, siapa yang menyangka si primadona kampus yang memiliki hati dingin ini begitu manja pada kekasihnya.

"Itu memang cincin dariku, Hyung."

Minhyun menjulurkan lidahnya pada Aron. "Aku tidak berbohong."

"Ya Tuhan, kalian akan mendahuluiku?"

"Tidak, Hyung. Itu masih ditangan kanan." Ucap Jonghyun. Ia tahu dari Minhyun jika Aron sudah memiliki calon tunangan.

"Tapi beberapa tahun lagi cincin ini akan berada di jari manis tangan kiriku." Ujar Minhyun dengan penuh percaya diri. "Iri yah, Hyung? Mangkanya sana segera nikahi Luna-Noona."

"Iya, Nanti."

.

.

Dua minggu kemudian Aron berada didalam pesawat menuju America. Ia harus kembali ke America karena direktur utama tempat ia bekerja menelponnya dan menyuruhnya untuk segera kembali.

"Pembohong."

"Iyah, Hyung memang pembohong. Maafkan, hyung yah Minhyun-ah." Ucap Aron pada Minhyun lewat sambungan telepon mereka.

"Tidak mau. Aku tidak akan memaafkan Hyung. Hyung bilang kalau Hyung akan berada di Korea sampai libur musim panas berakhir tapi apa. Hyung malah akan kembali ke America. Hyung bahkan tidak mengatakannya padaku kemarin dan Hyung saat ini sudah ada di pesawat?! Aku benar-benar membencimu Hyung."

Aron menatap kursi-kursi di dalam pesawat kelas Bisnis itu dan mencari kursinya. "Maafkan aku, Minhyun-ah. Perusahaan benar-benar membutuhkanku."

"Hyung bahkan masih magang disana belum benar-benar menjadi karyawan full kenapa mereka membutuhkanmu. Banyak editor lain kan di perusahaan itu?"

Setelah menemukan tempat duduknya Aron langsung mendudukan dirinya dengan santai namun tangannya masih memegang ponselnya. "Mereka semua sedang liburan Minhyun-ah."

"Hyung juga sedang liburan."

Aron menghela nafas akan tingkah kekanakan Minhyun. Minhyun memang selalu seperti ini jika Aron akan pergi ke America. "Minhyun-ah, Hyung mau pergi dan akan kembali ke Korea saat natal dan tahun baru. Apa kau benar-benar tidak akan memaafkan Hyung? Kita nanti bertemu laginya beberapa bulan lagi loh."

"..."

"Minhyun-ah?"

"Iya, iya Aku memaafkan, Hyung. Puas?"

Aron langsung tersenyum mendengar ucapan sepupunya itu. "Sangat puas dan terimakasih sudah memaafkan, Hyung."

"Iya. Pokoknya Hyung harus berhati-hati di sana dan jangan lupa setelah sampai di America segera telepon aku."

"Siap, Tuan Muda Minhyun." Ucap Aron sambil menggoda Minhyun. "Sekarang Hyung tutup teleponnya yah, pesawat Hyung mau Take Off."

"Ok, Hati-hati Hyung."

"Iyah." Setelah mengatakannya Aron langsung mematikan ponsel miliknya.

"Dunia benar-benar sempit atau ini adalah campur tangan takdir?" ucap seseorang yang duduk disamping Aron.

Aron langsung menatap pemilik suara tersebut yang duduk disampingnya dan ia langsung menjatuhkan ponsel miliknya.

"Halo, Kwak Aron. Namaku Choi Seungcheol dan kau akan menjadi milikku segera." Ujar sosok tampan tersebut sambil mengeluarkan smirknya yang begitu sexy.

"Shit."

.

Minhyun menatap layar ponselnya dengan sebal. "Aron-hyung benar-benar menyebalkan."

"Minhyun?"

Minhyun menatap sosok yang memanggil namanya dan ia terkejut melihat sosok bergigi kelinci didepannya. "Daniel?"

Daniel langsung memeluk tubuh Minhyun sehingga membuat Minhyun terhuyung akibat tidak siap mendapatkan pelukan dari si kelinci bongsor.

"Maafkan aku, Minhyun. Maafkan aku dan maafkan kami semua hiks hiks."

"Niel kau menangis?"

"Hiks, Kita memang tidak pantas disebut sahabat. Maafkan kami Minhyun." Daniel mengeratkan pelukannya pada tubuh Minhyun.

"Sshhh, Tidak apa-apa. Aku mengerti kok." Minhyun mengelus rambut coklat Daniel dengan lembut.

Daniel melepaskan pelukannya pada Minhyun, ia mengusap jejak-jejak air mata yang ada di pipi chuby nya. "Aku akan menelpon yang lainnya."

"Untuk apa?"

"Untuk meminta maaf padamu. Beberapa minggu yang lalu kita datang kerumahmu dan kau tidak ada disana."

"Kalian datang kerumahku untuk meminta maaf?"

Daniel mengangguk. "Ayo, kita cari tempat yang pas untuk membicarakan masalah ini."

.

Hening kini menyelimuti mereka ada yang berani untuk mengucapkan sepatah katapun.

"Mm…" Luhan menggaruk lehernya yang tidak gatal tapi sebagai sosok tertua diantara mereka ia yang harus memulainya. "Minhyun-ah."

"Nde?"

"Kami… kami minta maaf padamu akan tingkah kami beberapa waktu yang lalu. Kami seharusnya tidak bersikap seperti itu dan jikapun kau tidak memaafkan kami, kami mengerti kok."

"Kami tahu kami salah, bukannya mendukung hubungan kalian kami malah–"

"Aku mengerti kok." Ucap Minhyun memotong kalimat Suga. "Aku mengerti akan sikap kalian, lagipula kalian kan hanya anak manja yang haus akan kepopuleran –tapi bukan kau Niel." Ucap Minhyun meledek mereka bertiga namun terselip nada candaan disana.

"Minhyun!" Suga, Luhan dan Ren berteriak bersaman namun semua itu berubah menjadi tawa menggelegar dari meja mereka.

Persahabatan yang hancur kini telah menyatu kembali dan dari lubuk hati terdalam mereka, mereka bersumpah tidak akan melakukan kebodohan yang sama lagi. Mereka adalah sahabat dan akan selamanya bersahabat.

"Ya Tuhan! Apa itu cincin di jarimu? Apa Jonghyun yang memberikannya?" tanya Ren sambil menatap cincin di jari Minhyun dan kini yang lainnya pun tampak penasaran dengan cincin indah di jari Minhyun.

Minhyun tersenyum bahagia dan memamerkan cincin pemberian kekasihnya pada sahabat-sahabatnya itu. "Nde, Jonghyun yang memberikannya padaku."

Setelah mengatakannya Minhyun sukses mendapatkan godaan dari keempatnya.

.

.

"Jonghyun."

Jonghyun menghentikan pekerjaannya mencuci piring di restaurant tempat ia bekerja dan memandang Clara. "Ada apa?"

Clara menundukan kepalanya, ia meremas gaun putih yang ia kenakan.

"Clara?"

Clara mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya. "Aku pikir ini waktu yang tepat untuk meninggalkan Minhyun, kita lihat dengan perginya kau dari hidupnya apakah dia masih akan mencintaimu atau berpaling pada yang lain."

Jonghyun terdiam mendengar ucapan Clara. Ia tahu hal ini akan datang cepat atau lambat. Sebelum ia menyamar menjadi nerd seperti ini ia dan Clara memang sudah merencanakan semuanya jika Jonghyun sudah memiliki kekasih maka Jonghyun akan meninggalkan kekasihnya untuk beberapa saat dan lihat apakah kekasihnya akan berpaling atau setia padanya.

"Aku mengerti."

.

.

Minhyun menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. "…lalu mereka melihat cincin dari Bugi dan menggodaku terus menerus sampai aku mau pulangpun mereka tidak berhenti menggodaku."

Jonghyun hanya tersenyum mendengar cerita Minhyun. Tangannya mengelus rambut Minhyun dengan lembut.

"Bugi, aku benar-benar sangat bahagia."

"Karena kalian sudah berbaikan?"

"Iyah, tapi bukan hanya hal itu tapi juga karena aku memiliki Bugi dalam hidupku. Terimakasih telah hadir dalam hidupku, Kim Jonghyun."

"Sama-sama, Hwang Minhyun. Terimakasih sudah mencintaiku dan terimakasih sudah menjadi seseorang yang aku cintai."

"Sama-sama, Bugi. Tolong jangan pernah meninggalkanku, aku bisa hancur bila Bugi tidak ada dalam hidupku."

"Jika aku meninggalkanmu, ingatlah bahwa aku akan selalu kembali padamu. Aku akan selalu kembali karena kau adalah pemilik sah hatiku."

.

.

Minhyun membuka matanya dengan perlahan dan ia mengernyit bingung ketika tidak mendapatkan tubuh kekasihnya disampingnya. Biasanya diantara keduanya Minhyunlah yang bangun paling pagi untuk menyiapkan sarapan.

"Bugi?"

Tidak ada jawaban dan Minhyun semakin merasa aneh ketika melihat diatas meja belajar hanya ada buku-buku miliknya. Ia dengan segera berdiri dari ranjangnya dan membuka pintu kamar mandi.

"Bugi." Namun sosok berkacamata itu tidak ada sama sekali.

Ketakutan langsung memenuhi isi kepala Minhyun. Ia kembali kedepan dan membuka lemari pakaian mereka dan seketika melebarkan matanya ketika tidak melihat baju milik Jonghyun disana dan hanya ada baju-baju miliknya.

Minhyun segera mengambil ponsel miliknya, ia mencoba menelpon kekasihnya namun hanya suara operator yang terus menerus menjawabnya. Satu jam ia mencoba namun tidak membuahkan hasil sama sekali.

Minhyun langsung melemparkan ponselnya dan memeriksa seluruh penjuru apartement kecil itu untuk mencari barang-barang kekasihnya yang mungkin saja masih tertinggal namun hingga satu jam ia mencari ia tidak menemukan apapun. Apartement kecil itu seakan tidak pernah ditinggali oleh sosok bernama Kim Jonghyun.

Minhyun terduduk lemas diatas ranjangnya –air mata sudah membanjiri pipi chubynya dan disanalah ia melihat sebuah kertas kecil. Tangan Minhyun terulur untuk mengambil kertas tersebut dan ia kembali sadar ketika melihat jarinya kosong. Tidak ada cincin di jarinya.

Minhyun mengambil kertas tersebut dan membacanya. Ia mengenal dengan baik tulisan ini. Ini tulisan Jonghyun. Sosok yang sudah memiliki hatinya dan tangisan Minhyun semakin keras ketika membaca tulisan tersebut.

Bagaimana bisa… bagaimana bisa sosok itu melakukan hal ini… bagaimana bisa sosok yang memberikannya kebahagiaan itu membawa pergi hatinya… Kim Jonghyun… kau benar-benar kejam.

Kertas itu terjatuh dari tangannya. Minhyun bahkan tidak sanggup untuk membacanya lagi.

.

.

.

.

.

.

Maafkan aku, Minhyun-ah.

Selamat tinggal.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

January 13, 2018