How Can I Get A Lover?
by
Achan Jeevas
.
.
.
2Hyun
Kim Jonghyun x Hwang Minhyun
.
Luhan / Suga / Ren / Daniel
Kai / Sehun
.
SCoups / Aron
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 12 : Aku dan Hatiku yang Hancur
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tok Tok Tok Tok
Minhyun menghapus air matanya dan bangun dari ranjangnya untuk membukakan pintu. "Nde?"
Sosok pria paruh bayah itu menatap Minhyun khawatir karena sosok yang biasanya selalu tampil memikat kini tampak berantakan dengan mata yang sembab. "Mm… Maafkan saya tapi anda harus meninggalkan apartement ini karena–"
"Saya akan membeli apartement ini dengan harga 5x lipat." Setelah mengatakannya Minhyun langsung membanting pintu tersebut.
Ia harus mencari Kim Jonghyun segera.
.
.
"Dua hari yang lalu dia menyerahkan surat pengunduran dirinya."
Minhyun menghela nafas. Kalimat yang sama yang ia dengar sari salah satu karyawan yang bekerja ditempat kerja kekasihnya. "Apakah dia mengatakan sesuatu pada anda?"
"Tidak sama sekali."
Putra bungsu keluarga Hwang itu menundukan kepalanya dengan perlahan ia keluar dari restaurant tersebut. "Kau dimana? Mengapa kau meninggalkanku di dunia yang sudah tidak mengenal apa itu cinta. Kaulah satu-satunya penerang hidupku. Bugi-ya. Tolong jangan membuatku seperti ini."
.
.
Minhyun berdiri di balkon apartement sederhana milik sosok yang entah berda dimana itu. Ia menatap jarinya yang kosong. Satu tetes air mata kembali keluar dari mata indahnya. "Kau bahkan mengambil kembali hadiah yang kau berikan untukku."
Minhyun mendongak dan menatap langit malam yang tak berbintang. "Apa salahku, Bugi? Kenapa kau pergi meninggalkanku? Aku berjanji akan menjadi lebih baik hiks hiks asal Bugi ada disampingku. Hanya itu yang aku inginkan, Bugi. Hanya Bugi. Hiks hiks."
.
.
'Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak dap–'
Minhyun memandang nanar layar ponselnya. Sudah ratusan kali ia mencoba menelpon Jonghyun namun hanya suara operator yang terus menjawab.
Minhyun menjatuhkan ponselnya dan menatap kesamping kanannya –tempat biasa Jonghyun tidur. Tangannya terulur untuk menyentuh tempat yang sudah dingin itu, seakan-akan tidak pernah ada sosok yang dulu tidur disana.
"Aku merindukanmu."
Dan beberapa hari kemudian dilewati Minhyun bagaikan neraka abadi untuknya. Dia berada di bumi namun seseorang yang ia cintai entah ada dimana dan itu bagaikan neraka untuknya.
.
.
Minhyun menatap kosong hamparan ilalang didepannya. Ia melangkahkan kakinya menuju danau yang tersebunyi ditempat ini. Minhyun memeluk tubuhnya sendiri. Tidak ada sosok itu yang menggenggam tangannya dan menuntunnya.
Ia sendirian dan Minhyun benci sendirian.
.
.
Mata hitam jernihnya yang sembab akibat banyak mengeluarkan air mata itu menatap nanar danau didepannya dan sebuah perahu kecil.
"Pembohong." Gumamnya dengan amat pelan. Suaranya bergetar menyesakkan siapa saja yang mendengarnya. "Kau bilang ini adalah tempat yang sering kau datangi tapi kau tidak ada disini. Kau pembohong, Kim Jonghyun."
Minhyun menjatuhkan dirinya ditanah. Ia bawa lututnya didepan dadanya dan ia rangkul kedua lututnya. Matanya memandang penuh luka akan pengkhianatan yang ditorehkan oleh kekasihnya, orang yang dicintainya.
"Apakah perasaanmu padaku juga sebuah kebohongan? Hiks. Kembalilah, Bugi. Aku membutuhkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Bugi. Hiks hiks."
Satu jam, dua jam bahkan sampai matahari terbenam dengan sempurna Hwang Minhyun masih tetap ditempat tersebut. Menunggu seseorang untuk datang namun sampai malam tiba sosok itu tetap tidak datang dan untuk kesekian kalinya hati Minhyun hancur.
.
.
Entah sudah berapa jam kaki jenjangnya menyusuri jalanan yang sunyi itu, Minhyun tidak peduli. Ia terus berjalan dari tempat indah itu menuju apartement yang ia tempati sekarang. Minhyun tahu ia menyakiti dirinya sendiri tapi ia tidak peduli.
Brukk
Minhyun terduduk di trotoar ketika kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. "Bugi." Lirinya penuh kerinduan. "Kau dimana? Kembalilah, kumohon."
Namun tidak ada yang menjawab lirihan dari bibirnya yang memerah karena dinginnya malam hari.
Tes Tes
Air hujan turun membasahai bumi. Membasahai tubuh rapuh Minhyun yang masih terdiam di trotoar jalanan yang sepi. Langitpun seakan ikut menangis melihat sosok rupawan itu bersedih akan menghilangnya kekasih hatinya itu.
.
.
Jam sudah menunjukan angka 2 dini hari namun sosok tampan itu masih betah berdiri di balkon kamarnya, ia tidak repot-repot memakai baju dan memperlihatkan dada bidangnya, sosok tampan itu tidak peduli akan dinginnya malam hari ditambah hujan.
Ia menghisap rokoknya dan mengembuskan asap rokok tersebut. Disampingnya terdapat meja yang diatasnya dipenuhi dengan bungkus rokok yang sudah kosong serta botol-botol alcohol.
Mata setajam elangnya menatap langit malam. "Maafkan aku, Minhyun-ah."
.
.
.
.
Sinar matahari menelasak memasuki indra penglihatan Minhyun. mata indahnya mengerjap-erjap dan menatap bingung ruangan serba putih itu. Matanya memandang sekelilingnya dan langsung mengidentifikasi tempat tersebut sebagai kamar VIP di salah satu Rumah Sakit ternama di Seoul. Kenapa ia bisa ada dirumah sakit?
"Minhyun, kau sudah sadar?"
Kebingungan Minhyun semakin menjadi-jadi ketika melihat Luhan dan Suga ada disampingnya.
Minhyun membuka mulutnya untuk bertanya sesuatu namun tenggorokannya sangat kering dan ia begitu haus.
Melihat hal tersebut Luhan langsung mengambil gelas berisi air putih dan membantu Minhyun untuk meminumnya. "Minum dulu."
Minhyun menuruti ucapan Luhan dan setelah beberapa tegukan ia merasa lebih segar. "Kenapa aku bisa ada disini?"
"Semalam kau ditemukan pingsan di jalan pada jam satu dini hari, salah satu warga yang melihatmu langsung membawamu kerumah sakit dan untungnya ia menghubungi kontak secara acak diponselmu, yang untungnya itu adalah Luhan." Jelas Suga, matanya menatap khawatir Minhyun.
"Setelah aku datang, aku langsung meminta dokter membawamu keruang VIP." Tambah Luhan. "Minhyun-ah, ada apa denganmu? Dokter mengatakan jika kondisi tubuhmu benar-benar lemah dan kau tidak memiliki apapun didalam lambungmu selama berhari-hari."
Minhyun menatap selimut tebal berwarna putih dengan kosong. Haruskah ia mengatakannya pada keduanya.
"Minhyun, kita adalah sahabatmu."
Minhyun menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Dia pergi."
"Siapa yang pergi, Minhyun?"
"Kim Jonghyun, dia meninggalkanku."
Luhan langsung membawa tubuh Minhyun dalam pelukannya ketika sosok yang selalu bersikap dingin itu meneteskan air matanya. Air mata yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Kami disini. Kami akan selalu ada disampingmu, Minhyun." ucap Suga yang juga ikut memeluk Minhyun.
"Dia sangat kejam. Dia membawa seluruh hatiku dengannya dan aku hancur. Aku hancur tanpanya. Tolong bawa ia kembali padaku. Aku sangat merindukannya."
.
.
Luhan menggenggam tangan Minhyun yang kembali tertidur dengan lelapnya.
Daniel dan Ren yang baru datangpun tampak khawatir akan kondisi si bungsu Hwang itu. Keduanya sudah mengetahui kondisi fisik dan hati Minhyun dari Suga.
"Kita harus menghubungi keluarga Hwang." Usul Daniel.
Ren menggeleng. "Tapi aku tidak yakin Nichkhun Ahjusshi dan Sehun Hyung akan datang. Mereka sangat sibuk."
"Tapi kita harus mencobanya." Ucap Luhan sambil melepaskan genggaman tangannya pada Minhyun dengan amat lembut. "Aku dan Suga akan mengecek apartement yang Minhyun tempati mungkin saja ada petunjuk tentang Jonghyun. Daniel, pergilah ke Hwang Nation sampaikan pada kakak Minhyun adiknya ada dirumah sakit. Terserah dia mau peduli atau tidak yang penting kita sudah menyampaikannya dan Ren, jagalah Minhyun disini."
Ren mengangguk mengerti sedangkan Luhan, Suga dan Daniel langsung keluar dari situ.
.
.
Suga dan Luhan terkejut bukan main akan kondisi apartement kecil yang Minhyun tempati, lebih tepatnya apartement kecil milik Kim Jonghyun.
Kondisinya memang tidak berantakan namun keduanya menyadari jika lantainya tidak dibersihkan selama beberapa hari, jendela balkon serta tirainya yang terbuka dan sprei yang sedikit berantakan.
Untuk mereka berdua yang sudah mengenal Minhyun selama dua tahu menyadari jika Minhyun adalah sosok yang sangat rapih dan seorang yang sangat menyukai kebersihan dan kerapihan. Dan hal didepan keduanya ini sudah masuk kekacauan untuk Minhyun.
"Cari di dapur dan kamar mandi. Temukan apapun mengenai Kim Jonghyun." Ucap Luhan pada Suga.
.
.
Daniel menatap gedung tinggi didepannya yang memiliki nama Hwang Nation. Pemimpin utama perusahaan ini adalah kakak Minhyun, Hwang Sehun. Sehun sendiri memang CEO muda yang mendapatkan perusahaan ini dari kakeknya karena Ayahnya alias Hwang Nichkhun adalah seorang Jendral di kepolisian dan tidak memiliki waktu untuk meneruskan perusahaan besar tersebut.
"Daniel? Sedang apa kau disini?"
Daniel menatap samping kanannya. "Kai-hyung?" Ia menatap bingung salah satu senior dancenya ketika ia masih SMP dulu ada didepannya memakai jas formal.
"Ya, ini aku. Dan kau belum menjawab pertanyaanku."
"Oh, Maaf. Hyung. Aku kesini ingin menemui Sehun-hyung. Ada sesuatu yang ingin aku sampai padanya."
"Sayang sekali ia masih ada di Busan dan akan pulang malam nanti. Kau bisa menyampaikannya padaku, aku akan memberitahunya ketika ia pulang. Aku adalah sekertarisnya."
"Apa kau punya nomor ponselnya, Hyung? Boleh aku minta? Aku ingin berbicara langsung padanya."
"Dia tidak akan mengangkat panggilan dari nomor asing."
"Kalau begitu bisa kau menelponnya Hyung? Dan biarkan aku berbicara padanya."
"Dia akan marah jika aku menelponnya."
"Kenapa ia marah?" Daniel menatap tidak mengerti Kai. "Tunggu kau tadi bilang kau adalah sekertarisnya, bukannya sekertaris harus selalu ikut kemanapun bossnya pergi? Kenapa kau ada disini, Hyung?"
"Karena ia membenciku dan ini adalah hari terakhirku bekerja disini. Kemarin ia memecatku."
Daniel menatap Kai tidak percaya. "Ia memecatmu? Kenapa?"
"Karena aku mencintainya dan aku yakin ia juga mencintaiku tapi dia sudah memiliki tunangan. Ayahnya sudah menunangkannya beberapa bulan yang lalu dengan wanita pilihannya." Ujar sosok tampan itu dengan senyum kecut.
"Ma-maafkan aku, Hyung." Daniel menundukan kepalanya merasa bersalah.
Kai mengacak gemas rambut Daniel. "Bukan salahmu, Niel. Sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan padanya. Biar aku yang menyampaikannya."
"Minhyun masuk rumah sakit."
"Apa?" Kai mengenal Minhyun sejak Minhyun masih duduk dibangku SMP dimana dia dan Sehun adalah teman sekampus dan membuatnya sering mengunjungi rumah besar keluarga Hwang.
Daniel akhirnya menceritakan semuanya kepada Kai, dari awal Minhyun berpacaran dengan Jonghyun hingga kondisi Minhyun saat ini.
.
.
"Apa kau menemukan sesuatu?"
Suga menggeleng menjawab pertanyaan Luhan.
Luhan mengerang frustasi. Mereka sudah hampir tiga jam berada disini dan tidak menemukan apapun mengenai Kim Jonghyun.
"Coba cari di data mahasiswa. Cari alamat asalnya." Saran Suga.
"Sudah tapi data mahasiswanya malah tidak ada."
"Tidak ada? Bagaimana bisa tidak ada?"
Luhan mengambil ponselnya dan menelponnya pamannya. "Aku akan menelpon Pamanku."
"Halo?"
"Ahjusshi, aku membuka data mahasiswa dan kenapa mahasiswa bernama Kim Jonghyun tidak ada?" adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir mungil Luhan ketika Lee Seokhoon –pamannya mengangkat teleponnya.
"Bagaimana kau bisa membuka data mahasiswa? Kau mengheck data universitas lagi yah?"
"Tidak penting aku buka dari mana. Jawab pertanyaanku, Ahjusshi?"
"Sopanlah pada Ahjusshimu."
"Aku tidak memiliki waktu untuk bersopan santun. Temanku sedang berada diambang antara hidup dan mati karena Kim Jonghyun." Ucap Luhan. Suga yang mendengarnya hanya memutar matanya dengan kalimat hiperbola sahabatnya itu.
"Apa?"
"Jawab saja, Ahjusshi."
"Ok, ok. Kim Jonghyun sudah tidak terdaftar sebagai mahasiswa di Seoul University lagi karena masa pertukaran mahasiswanya sudah berakhir sampai libur musim panas ini."
"Apa? bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Dari awal dia memang pertukaran mahasiswa."
"Apa Ahjusshi tahu dimana kampus asalnya."
"Ahjusshi tidak tahu. Sudah, Lu. Ahjusshi sekarang sedang ada di pesawat. Ahjusshi tutup teleponnya."
"Ahjusshi? Halo, Ahjusshi? Ahjusshi? Sial!" Luhan hampir saja membanting ponselnya itu namun ia urungkan. Bisa-bisa Kris –kekasih Luhan akan membunuhnya karena di ponsel itu banyak sekali foto-foto keduanya.
.
.
Sehun menyenderkan badannya yang lelah bukan main pada kursi mobilnya. Jam sudah menunjukan angka 11 malam dan ia baru sampai di Seoul tiga jam yang lalu dan langsung menuju kantornya.
"Sehun."
Sehun terkejut ketika sosok tampan Kai tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya dan duduk disampingnya.
"Keluar dari mobilku, Kai." Ucap Sehun, ia tidak mau berurusan lebih lama dengan mantan kekasihnya itu.
"Tiga jam kau ada di kantor tapi kau menjauhiku."
"Kau sudah bukan lagi bagian dari kantor ini. Kau bukan apa-apa, jadi untuk apa aku membuang waktuku untuk berdekatan denganmu." Cemooh Sehun tanpa mempedulikan sosok disampingnya. "Sekarang keluar dari mobilku sebelum aku memanggil polisi."
Kai menatap Sehun dengan tajam. Ia ingin marah pada sosok cantik didepannya namun apa daya, ia tidak bisa. Tidak pernah bisa.
"Minhyun ada Seoul Hospital. Dia ada dikamar VIP No 95. Jadilah kakak yang baik dengan menemuinya." Ucap Kai sebelum ia keluar dari mobil Sehun.
Sehun terpaku mendengar ucapan Kai. Minhyun ada di rumah sakit?
.
.
"Minhyun-ah." Tangan Sehun menyentuh pipi adiknya yang tidak lagi mengeluarkan rona merahnya. Pipi dan wajah Minhyun begitu pucat. "Maafkan, Hyung."
"Kau kakaknya Minhyun?"
Sehun memutar tubuhnya dan menatap bingung sosok didepanya. "Ya. Dan siapa kau?"
"Min Suga. Aku salah satu roommate Minhyun di Asrama Seoul University. Ketiga temanku yang lain aku suruh pulang."
Sehun mengangguk mengerti. "Apa kau tahu bagaimana adikku bisa seperti ini?"
"Itu akan sangat panjang."
"Ceritakan semuanya padaku."
.
"Jadi namanya Kim Jonghyun?" ujar Sehun setelah Suga menceritakan semuanya dari awal. "Aku akan mencari tahu tentangnya."
"Kau tidak akan akan bisa melakukannya."
"Kenapa tidak bisa?" Sehun menatap bingung Suga. "Aku memiliki banyak informan yang ahli. Menurutmu bagaimana aku bisa mensukseskan perusahaanku."
"Percuma kau melakukan itu. Kami memiliki Luhan –dia bisa dibilang hacker dan kita tidak menemukan apapun tentang Kim Jonghyun. Jadi kita berempat sepakat untuk tidak akan mencari Jonghyun dan membantu Minhyun untuk move on."
Sehun terdiam mendengar ucapan Suga.
"Masa lalu hanya sebuah sejarah. Sejarah yang tidak pantas untuk di ingat lagi."
.
"Suga, kau bisa pergi. Biar aku yang menjaga Minhyun."
"Aku tidak mau." Tolak Suga.
Sehun tersenyum mendengarnya. Ia bersyukur adiknya tampaknya memiliki sahabat-sahabat yang baik. "Aku ingin menebus kesalahanku pada Minhyun dengan menjadi kakak yang baik untuknya lagi."
Dan apa yang bisa Suga lakukan selain mengangguk mengerti.
.
.
.
.
.
Minhyun membuka matanya dengan perlahan. Tubuhnya sudah lebih membaik karena semalam teman-temannya itu memberinya makan yang banyak dan itu karena mereka mengancam jika Minhyun tidak makan maka mereka juga tidak akan makan.
"Sehun-hyung." gumam Minhyun ketika melihat kakaknya tertidur dikursi. Kakaknya itu tidak memakai jas dan hanya memakai kemeja berwarna putih yang tiga kancing atasnya terbuka.
Minhyun menatap selang infus yang ada dilengannya dan dengan cepat menarik selang tersebut dan turun dari ranjang. Minhyun membuka-buka baju yang ia pakai ketika ia pingsan, setelah menemukan sesuatu yang ia cari dengan segera Minhyun keluar dari kamarnya dengan perlahan agar tidak membangunkan kakaknya.
.
Sehun mengerang dari tidurnya ketika merasakan pipinya ditepuk oleh seseorang. "Pergilah."
"Aku baru sampai dan kau langsung mengusirku? Benar-benar kejam."
Sehun langsung melebarkan matanya ketika ia mendengar suara tersebut. Suara yang ia kenal betul siapa pemiliknya. "Kai? Sedang apa kau disini?"
"Menjenguk Minhyun dan aku tidak melihat Minhyun sama sekali. Dimana dia?"
Sehun langsung menatap ranjang adiknya dan tidak menemukan siapapun diatasnya. Dengan segera ia berlari kearah kamar mandi namun nihil, tidak ada siapa-siapa disana.
"Aku sudah mencarinya di kamar mandi dan ia tidak ada. Mangkanya aku membangunkanmu." Ujar Kai ketika melihat aksi mantan kekasihnya itu. "Kau tahu dimana dia?"
"Bagaimana aku tahu jika aku sendiri baru bangun, bodoh! Cari dia, Kai!" Sehun langsung keluar dari kamar adiknya itu. Perasaannya tidak enak sama sekali.
.
Maafkan aku, Minhyun-ah.
Selamat tinggal.
Sudah puluhan bahkan ratusan kali Minhyun membaca kertas ditangannya ini namun rasa sakitnya masih sama ketika ia pertama kali menemukannya.
"Aku merindukanmu, Bugi. Aku sangat merindukanmu." Minhyun menarik nafas dan berdiri dari duduknya. Ia menatap kosong pemandangan dibawahnya.
"Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini karena kehilanganmu Bugi. Aku sungguh tidak sanggup lagi." Setelah mengucapkan kalimat tersebut Minhyun meloncat dari atas gedung rumah sakit, membiarkan gravitasi menariknya.
"Minhyun!"
Namun seseorang menangkap tangannya, menggenggamnya dengan erat.
"Kau gila!" teriak Sehun pada adiknya.
"Lepaskan aku, Hyung!"
"Tidak akan!" Sehun mencoba menarik tubuh adiknya namun tenaganya lemas sekali. Ia belum makan apa-apa sejak semalam.
"Kumohon lepaskan aku."
"Jika aku melapaskanmu maka aku juga akan ikut meloncat bersamamu. Apa kau mengerti bocah bodoh?!"
Minhyun terdiam mendengar ucapan kakaknya. "Hyung."
"Sehun, Minhyun!"
.
From : My Love
Salah satu pasien mengatakan mereka melihat Minhyun kearah atap rumah sakit. Cepatlah kemari.
Kai segera memasukan ponselnya dalam sakunya ketika mendapatkan pesan dari Sehun. Ia berniat menuju atap namun tatapannya bertemu dengan Daniel dan teman-temannya yang baru memasuki rumah sakit.
"Kai-hyung?"
"Minhyun dan Sehun ada di atap rumah sakit. Sepertinya teman kalian itu berniat untuk bunuh diri."
Luhan, Suga, Ren dan Daniel membelalakan matanya mendengar kalimat Kai namun segera keempatnya juga mengikuti Kai menuju atap.
.
"Sehun, Minhyun!" Kai langsung berlari menuju Sehun dan membantu Sehun menarik Minhyun untuk naik dan usaha keduanya berhasil, Minhyun berhasil diselamtkan.
Sehun langsung memeluk erat tubuh adiknya. "Apa yang ada di otakmu itu, Hwang Minhyun!"
Keempat teman Minhyunpun sudah menangis menyaksikan sahabat mereka dan keempatnya langsung memeluk Sehun dan Minhyun.
"Hwang Minhyun bodoh!"
"Bagaimana bisa kau berpikir untuk bunuh diri, Minhyun?!"
"Jangan lakukan hal itu lagi, Minhyun. Kau membuat kami jantungan."
Minhyun terisak dalam pelukan mereka. "Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku lebih memilih mati daripada hidup tanpanya."
"Lalu bagaimana dengan kami, Minhyun? Bagaimana dengan perasaan orang-orang yang akan kau tinggal pergi jika kau mati, Minhyun?!"
Minhyun terdiam dan memandang sosok-sosok yang menyekelilinginya. Kai, Sehun, Luhan, Suga, Ren dan Daniel mereka menatapnya dengan tatapan yang sama. Khawatir, takut, sedih, panic. Semuanya bercampur menjadi satu.
Minhyun memang egois. Hanya karena satu orang ia berniat meninggalkan sosok-sosok didepannya ini. Meninggalkan mereka untuk selamanya. "Maafkan aku. Maaf."
"Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi. Berjanjilah Minhyun!" ucap Luhan. Air mata sudah membasahi wajah manisnya.
"Aku berjanji."
.
.
Lima hari kemudian Minhyun keluar dari rumah sakit dan tinggal di rumah besarnya. Setiap hari keempat sahabatnya selalu datang dan bahkan sering menginap disitu. Sehun memilih untuk tidak bekerja di kantor dulu untuk menemani adiknya dan Kai juga datang walaupun tidak sering karena hubungannya dan Sehun yang canggung.
Sehun juga menyewa psikiater untuk adiknya walaupun awalnya Minhyun menolak namun Minhyun sendiri sadar bahwa ia memang butuh psikiater.
Kondisi Minhyun memang sudah membaik, ia sudah mulai mengobrol dengan teman-temannya dan mereka beberapakali berbelanja untuk menghilangkan stress –padahal mereka sedang liburan jadi tidak mungkin mereka stress dan hang out bersama.
Beberapa minggu setelah kejadian di rumah sakit kini akhirnya libur musim panas berakhir dan saatnya mereka kembali ke kampus tercinta mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan menatap penasaran suara ribu-ribut dari luar kelasnya. "Ada apa ribut-ribut begitu?"
Daniel menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu sedangkan Minhyun yang duduk disamping Luhan masih focus membaca buku tebal ditangannya, tidak menghiraukan sama sekali suara ribut-ribut tersebut.
"Kyaa kyaaa."
"Oppa~"
"Oppa, akhirnya kau kembali."
"Tampannya…."
"Oppa semakin tampan saja!"
"Sepertinya aku tahu siapa objek yang membuat keributan itu." kata Suga setelah mendengar jelas teriakan-teriakan para mahasiswi.
"JR." ucap Suga, Daniel dan Luhan secara bersamaan.
Setelah ketiganya mengatakan nama itu kini sosok tampan pemilik nama tersebut memasuki ruang kelas.
Mendengar nama sosok yang pernah disukainya itu membuat Minhyun menurunkan bukunya dan saat itulah tatapan keduanya bertubrukan.
JR masih tampan seperti biasanya dan seperti biasa setiap sel tubuhnya mengeluarkan aura sexy dan manly walaupun sosok itu hanya memakai kemeja putih serta celana kulit biasa.
Mata Minhyun menelusuri otot tubuh JR yang begitu sempurna. Dadanya begitu bidang dan bahunya yang begitu kokoh. Dan Minhyun yakin dibawah dada bidang itu terdapat abs sexy.
Tidak menyesal dulu Minhyun pernah memiliki ketertarikan berlebih pada sosok itu.
"Selamat pagi, Minhyun." sapa JR dan seketika keheningan menyelimuti mereka.
"Kau masih manis seperti biasanya, Permaisuri Hwang." Tangan JR bergerak untuk menyentuh pipi Minhyun yang tidak secuby dulu.
Plakk.
Minhyun menampar tangan JR sebelum tangan itu menyentuhnya. Minhyun menatap dingin JR.
Bukannya marah akan perlakuan Minhyun, JR malah mengeluarkan smirknya dan berjalan menuju bangku paling belakang.
Setelah duduk dibangku JR langsung menaikkan kakinya diatas meja. Sang Pangeran telah kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
22 January 2018
.
.
