How Can I Get A Lover

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 13 : Kembalinya Sang Pangeran

.

.

.

.

Ren tengah memainkan ponselnya dengan bosan. Saat ini ia berada di kantin seorang diri karena teman-temannya tengah berada didalam kelas. Kau bertanya mengapa Ren tidak masuk kelas? Well karena bungsu Choi ini bangun kesiangan dan membuatnya memilih untuk tidak masuk kelas.

Ren menatap jam rolex pemberian dari Luhan saat ia ulang tahun dan jarum jam ditangannya menunjuk angka 11 pas, berarti kelas pertama untuk hari ini sudah berakhir.

"Kenapa mereka lama sekali." Gumamnya sambil meminum jus strawberry nya.

"DOR!"

"Ohok ohok." Ren tersedak jusnya akibat teriakan mengejutkan dari si magnae roommatenya. "Daniellllll!"

Daniel hanya tertawa bahagia dan langsung mendudukan dirinya disamping Ren diikuti oleh Luhan, Suga dan Minhyun yang duduk didepan keduanya.

"Sialan kau, Kang Daniel." Umpat Ren. Mulut pemuda cantik ini memang kotor jadi harap dimaklumi.

"Hadiah untukmu karena tidak masuk kelas." Ucap Daniel dengan acuh.

"Aku tidak butuh hadiah seperti itu, dasar kelinci gendut." Ok, selain mulutnya kotor Ren juga memiliki lidah yang tajam. Untungnya keempatnya sudah terbiasa akan si Diva satu ini.

"Ren kau sungguh menyesal tidak masuk kelas pagi ini." ucap Suga menggoda bocah manja didepannya.

"Kenapa aku harus menyesal?"

"Karena sang Pangeran Kampus tadi pagi masuk kelas. Dan dia…" Luhan memberikan jeda pada kalimatnya dan menopang dagu ditangannya. "Bagaimana aku mengatakannya yah, walaupun aku sudah memiliki Kris tapi JR benar-benar tampan."

"APA?!" Ren langsung berdiri dari mejanya. "JR SUDAH KEMBALI?!"

"Ya." Ucap Suga, Daniel dan Luhan bersamaan.

"Lalu dimana dia sekarang? Dimana?" Ren bertanya pada teman-temannya itu. Well sudah bukan rahasia lagi jika Ren menyukai pria tampan dan JR sejak dulu adalah target Ren.

"JR Oppa~"

"JR Oppa, ayo makan denganku."

"Oppa, kemana saja kau selama ini? Aku sangat merindukanmu."

"JR Oppa ayo kita berkencan lagi."

Kelima laki-laki manis yang dijuluki sebagai primadona kampus itu langsung menatap kearah sumber keributan para mahasiswi.

"Tuh, dia disana." Tunjuk Luhan pada JR yang dikerubungi puluhan gadis-gadis sexy.

"Mereka seperti lalat." Ucap Suga dengan jijik menatap gerombolan para mahasiswi yang mengerubungi JR.

Ren langsung berlari mendekati JR sedangkan teman-temannya hanya menggelengkan kepala mereka dan memesan makanan.

"Menyingkir kalian, dasar Jalang!" ujar Ren sambil mendorong para mahasiswi itu –dengan tanpa perasaan menjauh dari JR.

Para mahasiwi itu ingin protes namun Ren sudah menatap tajam mereka semua dan dengan tidak rela mereka menjauh dari JR.

Setelah kepergian para mahasiswi itu Ren langsung memeluk lengan JR dengan manja. "JRie… aku sangat merindukanmu."

JR hanya diam dengan tingkah Ren.

Ren melepaskan pelukannya pada lengan JR dan mengubahnya dengan merangkul leher JR. "Kau semakin tampan dan sexy saja, JRie."

JR tersenyum menggoda, ia mengangkat tangannya dan mengelus pipi Ren. "Kalau tidak salah kau Minki bukan? Adik dari Minho dan Seungcheol? Aku kenal Seungcheol karena dia sering berpesta denganku dan dia pernah sekali menyebut namamu."

Oh, JR yang tampan. Andai kau bukan JR sudah dipastikan Ren akan memukulmu karena berani menyebut nama aslinya yang tidak keren itu.

Walaupun dalam hati Ren merasa panas karena JR memanggil nama aslinya namun ia berpura-pura tersenyum manis. "Panggil aku Ren… atau Sayang juga tidak apa-apa."

Sebagian besar mahasiswa yang ada dikantin memandangi keduanya namun ada juga yang tidak peduli. Sebenarnya yang tidak peduli itu hanya empat orang yaitu Minhyun, Daniel, Luhan dan Suga. Mereka berempat tengah asyik makan.

"Ok, Minki. Apa kau tempat duduk yang nyaman karena aku ingin makan." Ujar JR dengan tidak peduli.

Lagi Ren merasa hatinya panas karena ucapannya tidak dihiraukan oleh si tampan didepannya ini. "Aku tahu tempat yang nyaman dan itu adalah kamar hotel bintang lima." Ren mendekatkan bibirnya ditelinga JR. "Aku bisa membuatmu sangatttt nyaman."

JR tidak mengindahkan ucapan-ucapan Ren, matanya hanya memandang satu orang yang tidak mempedulikan eksistensinya. Ia mendorong tubuh Ren darinya dan langsung mendekati meja sosok tersebut yang sedang duduk dengan teman-temannya.

"Boleh aku duduk disini?" tanya JR sambil tersenyum tampan namun sayangnya ia tersenyum tampan pada para primadona kampus yang selalu dikejar-kejar ratusan pria tampan dan senyumnya tidak berefek apa-apa untuk mereka. Mereka sudah sering mendapatkan senyum dari ratusan pria tampan.

"Kenapa kau bertanya ketika kau sudah duduk?" tanya Luhan dengan malas.

JR sudah siap membalas ucapan Luhan ketika Ren langsung duduk disebelahnya dan menempel dengan erat padanya. "Kau mau makan apa, JRie? Bagaimana kalau kita makan di caffe saja? sekalian berkencan."

JR menatap Ren dengan aneh. "Apa kita pernah berkencan sebelumnya?"

Ren terdiam, dia mengingat-ingat kembali apakah dia dan JR pernah berkencan. Pasalnya Ren itu sering sekali berkencan. "Aku tidak ingat sebenarnya tapi siapa yang peduli. Ayo kita kencan, JRie."

"Berhenti memanggilku JRie." JR menatap malas Ren. "Itu bukan namaku dan hari ini aku sudah memiliki jadwal berkencan dengan lima mahasiswi kedokteran." Setelah mengatakan itu ia segera berdiri dan pergi dari kantin.

"Memalukan sekali, Choi." Komen Suga akan sikap Ren pada JR.

"Diam kau." Ucap Ren dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dia memesan makananya dan mengobrol dengan keempatnya.

.

.

.

"Hwang kita sedang hangout dan kau malah mengerjakan tugas? Tidak seru." Suga menatap Minhyun yang focus dengan notebooknya mengerjakan tugas dari dosen-dosen.

Sial mereka baru saja masuk dan langsung dihadiahi tugas lagi, padahal mereka baru saja mengumpulkan tugas-tugas untuk musim panas mereka. Kalau Suga jadi dosen nanti ia bersumpah tidak akan memberikan tugas pada mahasiswanya karena ia sendiri terlalu malas membuat tugas.

"Sebentar lagi." Balas Minhyun tanpa memandang Suga sama sekali.

Suga memutar matanya mendengar ucapan Minhyun. Ia lebih memilih meminum frapuccino miliknya daripada memandangi Minhyun yang tengah mengerjakan tugasnya. Saat ini keduanya berada salah satu caffe yang ada di Mall terbesar di Seoul menunggu ketiga sohib mereka yang lain yang tengah berbelanja.

.

.

"Aku tidak ingin pulang. Aku mau ke Miracle Club." Rengek Ren pada keempat temannya. "Kita sudah lama tidak kesana."

"Kita kesana minggu lalu, Ren. Kau lupa?" ujar Luhan sambil menyetir mobil menuju asrama mereka.

"Ayolahhh aku ingin kesana lagiiii. Sebelum tugas-tugas dosen menyerang kita have fun dulu."

"Jika ada dosenpun kau tidak mungkin mengerjakannya. Kau hanya menyontek dari kita." celetuk Daniel.

Ren berpura-pura tidak mendengar ucapan si bungsu itu. "Come on, guys. Pleaseee pleaseeee."

"Hentikan rengekanmu itu Ren. Terdengar menjijikan ditelingaku."

"Aku tidak akan berhenti merengek sampai kalian mau ke Miracle Club."

Minhyun menghela nafas akan rengekan Ren. "Sudahlah lebih baik kita kesana daripada terus mendengar rengekannya yang menyebalkan itu."

"Yeah! Hwang Minhyun, aku mencintaimu!" teriak Ren sambil memeluk Minhyun.

"Hm."

.

Suara dentuman music yang keras, tubuh yang meliuk-liuk mengikuti irama music, asap rokok dan botol-botol minuman keras adalah pemandangan yang menyambut kelimanya ketika memasuki club yang tidak pernah sepi pengunjung itu.

Ren langsung melesat mencari pria tampan sedangkan Daniel dan Luhan langsung ikut menari mengikuti music yang dimainkan DJ.

"Aku ke toilet sebentar." Ucap Suga.

Minhyun mengangguk. "Aku akan duduk dimeja bartender."

"Ok." Suga lalu berbalik menuju toilet sedangkan Minhyun berjalan ke meja bartender.

Minhyun mendudukan dirinya disana dan memesan minuman dengan kadar alcohol yang sedikit, ia tidak ingin mabuk malam ini.

"Tidak ingin men-dj, Minhyun-sshi?" tanya bartender yang memang sudah hafal dengan wajah Minhyun. "Banyak para pengunjung tetap yang merindukan dj-an mu."

Minhyun tersenyum kecil dan menggeleng. "Aku tidak sedang mood untu ber-dj."

"Apakah sedang terjadi sesuatu Minhyun-sshi? Kau tidak mood untuk ber-dj dan kau memesan minuman dengan alcohol yang sedikit. Aku tahu kau memang tidak tahan dengan alcohol tapi kau tidak pernah memesan minuman dengan kadar alcohol yang sedikit ini. Biasanya kau meminta mix drink."

"Kau sangat perhatian padaku, Jaehwan. Sampai-sampai kau mengetahui kebiasaanku. Apakah Sewoon tidak marah kekasihnya memperhatikan pria lain?" goda Minhyun pada Jaehwan –sang bartender.

"Sebagai bartender yang baik, aku harus memperhatikan setiap pengunjung apalagi pengunjung tetap seperti kau Minhyun-sshi dan aku tidak berniat untuk menduakannya. Aku terlalu mencintai Ponyo kesayanganku." Sewoon adalah kekasih Jaehwan yang juga bekerja sebagai bartender namun sift mereka berbeda. "Walaupun kau memang cantik, Minhyun-sshi."

"Aku akan mengadukan pada Sewoon kau menyebutku cantik." Ucap Minhyun dengan nada bercanda.

"Aku berbicara fakta, Minhyun-sshi."

"Ok, berhenti menggodaku, Jaehwan. Lihat banyak pelanggan yang ingin dibuatkan minuman."

Jaehwan tidak menjawab ucapan Minhyun, ia dengan segera menuju pelanggan lain dan membuatkan minuman untuk mereka.

Minhyun meminum minumannya dengan perlahan. Minhyun masih belum menjadi dirinya sendiri walaupun ia bertingkah seakan-akan semuanya baik-baik saja didepan teman-temannya. Seakan-akan Minhyun sudah melupakan sosok itu.

Ia sadar jika keempat temannya serta Kakaknya tahu jika ia hanya berpura-pura semuanya baik-baik saja. Terkadang merekapun menatapnya dengan penuh kekhawatiran dan penuh kasihan. Seolah-olah Minhyun adalah makhluk paling menyedihkan.

Minhyun meneguk minumannya dalam sekali teguk dan segera berjalan kearah dj yang tengah memainkan musiknya. Ia akan memperlihatkan pada mereka bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak perlu dikasihani. Minhyun yang lama akan kembali. Minhyun yang dingin, Minhyun yang tidak pernah peduli akan sekitarnya, Minhyun yang ada sebelum bertemu Kim Jonghyun.

"Hey, J-Hope." Minhyun menepuk pundak sang DJ yang sudah ia kenal itu.

"Minhyun!" J-Hope memeluk tubuh Minhyun. "Welcome, Hwang Minhyun yang manis. Mau men-dj untuk kita semua, Darling?"

"With my pleasure." Dan dengan itu J-Hope menyingkir dari panggung dj, membiarkan Minhyun mengambil alih.

"Halo, Guys. This is Minhyun. Let's party till the world end!"

"Yeahhhh!"

"Minhyunn!"

"Kyaaa!"

"Party Party Party."

"Welcome back DJ Hwang."

Teriakan antusias para pengunjung Miracle Club ketika melihat salah satu DJ andalan club ini muncul kembali walaupun Minhyun tidak bekerja disini.

Luhan, Daniel dan Ren saling berpandangan melihat teman mereka mulai men-dj untuk semua orang. "Hwang Minhyun telah kembali."

.

Tanpa semua orang sadari ada sosok tampan yang memandangi Minhyun yang tengah beraksi dengan amarah.

Minhyun adalah miliknya. Semua orang tidak boleh memandangi miliknya.

.

.

"Tadi itu gila sekali, Hwang. Kau benar-benar mengagumkan saat men-dj untuk kita semua. Ohhh aku benar-benar merindukan alunan musikmu ketika men-dj. Sering-seringlah men-dj lagi untuk kita seperti dulu." Ucap Ren dengan penuh semangat.

Saat ini mereka bertiga sedang berada diparkiran menuju mobil mereka. Bertiga? Bukankah mereka berlima? Yah bertiga yaitu Suga, Ren dan Minhyun. Luhan dan Daniel tidak ada karena mereka berdua pulang lebih dulu karena diajak kencan oleh pacar mereka.

Minhyun sudah membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Ren namun terhenti ketika suara klakson yang begitu nyaring terdengar. Ketiganya berhenti disamping mobil milik Luhan –si rusa cina itu memberikan kunci mobilnya pada Suga.

Sebuah mobil lamborghini berhenti didepan mereka dan pemilik Lamborghini itu menurunkan kaca mobilnya. "Hey, Minki."

"JR!" Ren berteriak bahagia. "Astaga, aku tidak tahu kau ada disini."

"Aku hanya mampir sebentar. Ngomong-ngomong apa kau mau menemaniku malam ini?"

"Mau mau mau. Tentu saja aku mauuuuu."

JR mengeluarkan smirk sexynya. "Tunggu apalagi, Ayo masuk."

Dan tanpa membuang-buang waktu Ren langsung membuka pintu mobil JR dan masuk kedalam. "Bye, Guys."

JR tidak mengatakan apapun pada Suga dan Minhyun. Ia langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi bersama Ren.

"Mereka berdua benar-benar menyebalkan." Ucap Suga sambil membuka pintu mobil BMW milik Luhan.

Minhyun sendiri tidak mengatakan apapun dan hanya duduk disamping Suga dalam diam.

"Jangan sampai mereka berdua menikah. Jika orangtuanya semenyebalkan mereka bagaimana anak mereka nanti. Dunia benar-benar akan hancur dengan datangnya anak mereka berdua." Suga terus menggumam tentang JR dan Ren tanpa mempedulikan Minhyun disampingnya yang diam saja.

Minhyun memandang hampa jalanan kota Seoul. Pikirannya melayang ke JR dan Ren. Mereka berdua akan menghabiskan malam bersama. Memikirkannya saja membuat hati Minhyun sesak bukan main.

Tunggu, hatinya sesak? Mengapa Minhyun merasa hatinya sesak membayangkan keduanya bersama. Minhyun menggelengkan kepalanya. Dia tidak peduli dengan mereka berdua. Entah mereka mau kencan atau tidur bersama. Minhyun tidak peduli. Mengapa juga Minhyun harus peduli.

"Minhyun, kau baik-baik saja?" tanya Suga khawatir karena sahabatnya itu hanya diam saja.

"Ya, aku baik-baik saja. Jangan pikirkan aku."

.

"JRie akhirnya kita bisa berkencan jugaaa." Ucap Ren dengan nada menggoda pada pemuda tampan didepannya.

JR menatap malas Ren. "Pesanlah apapun yang kau mau."

"Ok." Ren mengangkat tangannya memanggil pelayan restaurant prancis ini. Setelah memesan pesanannya Ren kembali focus pada sosok didepannya. "Kau tidak memesan?"

"Aku dengar dari teman-temanku semester kemarin Minhyun berpacaran dengan seorang Nerd, apa itu benar?" tanya JR tanpa menjawab pertanyaan Ren. Dia membawa Ren makan hanya untuk mencari tahu kondisi Minhyun ketika dia tidak ada disamping sosok manis itu.

Ren memajukan bibirnya ketika JR tidak menjawab ucapannya namun ia bahagia karena JR akhirnya berbicara panjang dengannya. "Nde, namanya Kim Jonghyun. Dia mahasiswa pertukaran menggantikanmu. Sekarang dia pergi dan kau ada disini. Aku senangggg sekali."

"Bagaimana bisa sosok semanis Minhyun berpacaran dengan Nerd, aku tidak bisa membayangkannya."

Mata Ren memancarkan keantusiasan mendengar JR menghina Nerd macam Kim Jonghyun. "Aku juga tidak tahu, JRie. Tapi Minhyun sepertinya benar-benar mencintai Kim Jonghyun itu bahkan hampir satu bulan yang lalu ketika Nerd itu pergi Minhyun sampai berniat mau bunuh diri."

"Bunuh diri?" ucapan JR memang pelan dan terkontrol namun dalam hati ia khawatir bukan main. Clara tidak mengatakan apa-apa padanya.

Ren mengangguk. "Nde, Minhyun berniat bunuh diri di atap rumah sakit tapi untungnya Kai-hyung dan Sehun-hyung berhasil menyelamatkannya."

"Atap rumah sakit?"

"Sehari sebelum Minhyun berniat bunuh diri dia masuk kerumah sakit. Kata Suga, Minhyun ditemukan oleh salah satu warga yang melihatnya pingsan di trotoar jalan dini hari saat hujan."

JR mengepalkan tangannya dengan erat. Kau menyakitinya, Jonghyun. "Lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang?"

"Setelah pulang dari Rumah Sakit dia kembali ke rumah besar Hwang bersama kakaknya, kita berempat setiap hari datang kerumahnya bahkan Sehun-hyung memanggil psikiater untuk Minhyun dan hasilnya Minhyun sudah membaik." Jelas Ren panjang lebar.

JR masih terdiam, ia mencerna setiap kalimat Ren. Ia menyakiti, Minhyun. Kau membuat hatinya hancur, Kim Jonghyun.

"Patah hati benar-benar mengerikan." Komen Ren.

"Aku pergi." JR berdiri dari kursinya.

Ren terkejut akan ucapan JR. "Pergi? Pergi kemana?"

"Ke belakang. Kau tetaplah disini." Ujar JR dan pergi menjauh dari meja Ren.

Bungsu keluarga Choi itu menatap punggung JR yang menjauh namun ia hanya mengangkat bahu dan memakan makanan prancis didepannya.

.

"Sialan kau, Clara. Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa dia berniat bunuh diri dan itu kareana aku!" teriak JR pada Clara yang duduk disampingnya. Mereka berdua kini berada didalam mobil lamborghininya.

"Jika aku mengatakannya padamu maka kau akan langsung mendatanginya dan rencana kita tidak akan berjalan lancar." Ucap Clara dengan tenang.

"Persetan dengan Rencana itu, Sialan!" JR memukul stir didepannya dengan bringas. Setelah hampir satu menit akhirnya ia menghentikan aksinya. Ia menarik nafas dan membuangnya. "Kau bilang kau akan menjaganya tapi dia hampir bunuh diri. Apa yang kau lakukan padanya ketika aku tidak ada disampingnya, Clara?"

Memang selama Jonghyun kembali menjadi JR –Sebenarnya nama itu dimiliki oleh satu orang yang sama, tugas Clara adalah melindungi Minhyun. Dan yah Clara memang selalu ada disamping Minhyun. Melihat sosok manis itu patah hati ditinggal sang kekasih pergi. Sang kekasih yang pergi untuk kembali. Kembali menjadi JR.

"Aku memperhatikannya dan yah aku tahu dia berniat untuk bunuh diri tapi aku tahu kalau Kai dan Sehun akan menyelamatkannya tepat waktu. Ia memiliki takdir yang panjang menantinya. Kematian masih jauh didepan matanya."

.

Ren menatap jam tangannya dan sudah satu jam JR pergi ke toilet dan belum kembali juga. "Sial, aku tidak memiliki nomor hp nya lagi."

"Maaf tapi restaurant kami akan tutup, Tuan."

Pemilik wajah androgyny itu menghela nafas. "Berikan aku bill nya."

"Pesanan anda sudah dibayar satu jam yang lalu." Ucap pelayan itu.

Ren menatap tidak percaya pelayan didepannya. "What? Satu jam yang lalu?"

"Iya, Tuan."

Ren menatap penuh amarah piring didepanya. JR sudah meninggalkannya sejak satu jam yang lalu. "Apa setiap pemuda tampan itu suka seenaknya. Benar-benar menyebalkan."

Setelah mengucapkan itu Ren langsung berdiri dan keluar dari restaurant prancis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun pada pelayannya. Ia kembali melihat jam tangannya. "Percuma ke asrama, gerbang pasti sudah di tutup. Lebih baik aku menginap di hotel saja."

.

Minhyun menatap kosong kasur Ren. Pemuda berwajah cantik itu masih belum pulang atau memang tidak pulang. Pasti Ren tengah menghabiskan malam yang panas dengan JR. Pasti.

.

.

"Ren, kau dimana?" tanya Luhan pada Ren melalui telepon karena pemuda centil itu masih belum masuk ke kelas saja padahal dosen akan masuk dalam lima menit lagi.

"Di hotel."

Luhan mengernyit mendengar jawaban Ren. "Sedang apa kau di hotel? Bermalam disitu?"

"Hm."

"Kau masuk ke kelas tidak?"

"Tidak, aku malas dan mengantuk."

"Well well sepertinya JR sangat ganas di ranjang yah?" goda pemuda China itu.

"Diam kau, Xi."

"Baiklah-baiklah aku tutup teleponnya." Luhan menutup ponselnya sambil menggelengkan kepalanya.

Minhyun yang memang ada disamping Luhan mendengar percakapan keduanya dan hatinya kembali merasa sesak.

Hatiku sesak karena aku merindukan Bugi. Bukan yang lain. Yah, Bukan.

.

.

.

.

.

.

TBC

25 January 2018