How Can I Get A Lover
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 14 : Suara Hatiku
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pemuda manis itu mendudukan dirinya dikursi yang memang disediakan di perpustakaan kampusnya. Ia menghela nafas dan tersenyum kecut ketika tidak ada sosok pemuda berkacamata yang duduk didepannya dan selalu focus pada buku tebal miliknya.
Seberapapun dirinya mencoba untuk melupakannya namun rasa itu terlalu menempel erat dihatinya. Dia jatuh cinta pada seseorang dan orang itu membawa pergi hatinya.
"Halo, Cantik."
Pemuda manis itu menatap tidak percaya sosok didepannya yang dengan seenak jidatnya duduk didepannya, duduk ditempat biasa orang yang ia cintai duduk disitu. Ia ingin sekali membentak pemuda tampan didepannya agar tidak duduk disitu namun apa daya. Ia tidak bisa dan ia lebih memilih membaca buku yang ia ambil.
Pemuda tampan itu yang tak lain dan tak bukan adalah putra tunggal keluarga Kim memutar matanya ketika pemuda manis didepannya tidak menghiraukan keberadaannya. "Kau ini… ada pemuda setampan aku duduk didepanmu dan kau malah focus pada buku kumal ditanganmu itu? Yang benar saja Minhyun."
Pemuda manis bernama Minhyun itu tidak membalas ucapan JR. Ia masih focus membaca buku ditangannya yang memang sudah tampak lapuk.
"Kenapa kau mendiamkanku? Apa aku kurang tampan? Oh jangan dijawab, aku adalah pria paling tampan di Korea. Jika kau mengatakan tidak berarti ada masalah dengan mata mu." Ucap JR dengan percaya diri.
Minhyun memejamkan matanya mengontrol emosinya akibat pemuda tidak tahu malu didepannya. "Ini adalah perpustakaan tempat untuk membaca buku. Jika kau tidak membaca buku lebih baik kau keluar, JR."
"Jika aku keluar maka fans-fansku yang liar akan menyerbuku. Apa kau tidak kasihan padaku." Ucap JR dengan nada pura-pura memelas.
Minhyun menatap dingin pemuda didepannya. "Itu urusanmu bukan urusanku."
"Jangan begitu dong Minhyun. Kita kan teman baik."
Pemuda manis itu mengernyitkan dahinya. "Are we? Aku tidak tahu kita berteman?"
JR memutar matanya mendapat reaksi seperti itu dari Minhyun. "Ayah kita berdua berteman baik mengapa kita tidak berteman baik?"
Minhyun menghela nafas. "Terserah kau saja, Kim."
Kini keheningan menyelimuti keduanya. Minhyun yang tengah asyik membaca dan JR yang memandangi wajah manis Minhyun.
Kesal karena terus dipandangi oleh tatapan lapar JR membuat Minhyun menurunkan buku yang ia baca. "Apa ada sesuatu di wajahku? Kenapa kau terus memandangiku?"
"Karena wajahmu terlalu manis untuk diabaikan. Walapun aku tidak terlalu suka dengan yang manis-manis tapi aku tidak masalah seumur hidupku memandangi wajah manismu." JR mengakhiri kalimatnya dengan kedipan mata.
"Hentikan omong kosongmu itu." Minhyun berdiri dari kursinya untuk pergi namun JR lebih dulu menghentikannya dengan mencengkeram lengan Minhyun. Tidak terlalu kencang karena ia tidak mau menyakiti sosok yang ia cintai itu. "Lepaskan."
"Tidak."
"Apa maumu sebenarnya, JR?" Minhyun mencoba melepaskan cengkeraman JR pada lengannya namun tidak bisa karena JR lebih kuat darinya. "Apa aku salah satu objek taruhanmu dengan teman-temanmu, heh?"
JR mendorong tubuh Minhyun dirak-rak dan langsung mengurung tubuh Minhyun diantara kedua tangannya. "Kau menyukaiku, bukan?"
Mata Minhyun melebar mendengar ucapan JR namun ia segera mendorong tubuh JR dari hadapannya. "Kau gila."
Pemuda tampan itu tidak bergerak sama sekali akan dorongan-dorongan Minhyun pada tubuhnya. Ia tersenyum dengan pongkah. "Tidak usah mengelak Minhyun. Ren yang mengatakanya padaku dan reaksimu itu menjawab semuanya."
JR berbohong akan Ren yang mengatakan padanya jika Minhyun menyukainya. Ren tidak mengatakan apa-apa tentang itu dan JR hanya asal bicara namun melihat reaksi Minhyun itu sepertinya memang benar jika Minhyun mencintainya sebagai JR.
Hati Minhyun mencelos mendengar nama Ren disebutkan. Sepertinya mereka berdua semalam memang bersama.
"Ya. Aku memang menyukaimu." Percuma Minhyun berbohong. Sudah saatnya rahasianya ini terbuka. "Tapi itu dulu. Dan aku merasa bodoh pernah menyukai bajingan sepertimu."
"Bajingan sepertiku, heh? Lalu seperti apa type mu, Minhyun? Nerd macam Kim Jonghyun?"
Minhyun mendongak dan menatap tidak percaya JR yang menyebut nama Jonghyun. Bagaimana JR bisa mengetahui tentang Jonghyun.
"Yah, aku tahu tentang Kim Jonghyunmu itu. Teman-temanku banyak mengatakan tentang Si Culun yang bisa menghangatkan hati dinginmu. Seperti itu kah type mu, Minhyun? seorang Nerd? Benar-benar menggelikan."
Plakkk.
Minhyun menampar pipi JR dengan keras. Matanya memancarkan kemarahan luar biasa. "Walaupun dia seorang Nerd tapi dia 100% lebih baik dari bajingan tidak tahu diri seperti kau."
JR mematung mendengar ucapan Minhyun dan pipinya memerah akibat tamparan keras itu.
Minhyun mendorong tubuh JR yang terdiam namun baru beberapa langkah sebuah tangan kekar menarik pinggangnya. Satu detik ia membalikan badannya seketika itu pula ia merasakan sesuatu yang kenyal melumat bibirnya tanpa ampun.
Minhyun memejamkan matanya ketika sosok didepannya mulai menghisap, menggigit kecil dan melumat bibirnya. Lidah sosok tampan itu sudah melesat masuk dengan mudah ketika bibir Minhyun terbuka.
"Hmm.. nghhh.." Minhyun mengeluarkan desahannya ketika bibir itu dengan lihai mendominasi bibirnya.
Brukk.
Keduanya langsung menjauhkan diri ketika mendengar suara benda terjatuh dan keduanya memandang kearah bunyi itu berasal.
Disana berdirilah seorang perempuan yang menatap keduanya dengan keterkejutan. Siapa yang tidak terkejut melihat dua orang paling populer di kampus tengah bercumbu di rak paling belakang perpustakaan.
"Ma-maafkan aku." Ucapnya dengan ketakutan. Ia segera mengambil bukunya yang terjatuh dan langsung berlari kabur.
Tangan JR yang semula ada dipinggangnya kini menyentuh kedua pipinya. Minhyun mengambil nafas dengan perlahan, matanya memandang sosok didepannya dalam diam.
"Minhyun."
Plakk
Lagi, Minhyun menampar JR dengan kekuatan yang sama ketika ia pertamakali menamparnya beberapa saat yang lalu. Ia memandang jijik sosok didepannya.
"Bajingan." dan dengan itu Minhyun langsung berlari keluar perpustakaan tanpa menoleh sama sekalipun pada sosok yang telah menghangatkan hatinya itu.
.
.
Minhyun tengah duduk dijendela kamar asrama dalam diam. Otaknya terus memutar ingatan tentang JR yang menciuminya. Hari sudah petang dan itu berarti sudah lima jam sejak kejadian itu terjadi dan Minhyun masih bisa merasakan sensasi ciuman JR.
Seumur hidupnya ia baru dua kali di cium oleh dua orang yang berbeda namun ia merasakan rasa yang sama pada pada keduanya. JR dan Jonghyun. Pertama, ciuman Jonghyun begitu lembut dan penuh cinta dan kedua ciuman JR begitu menggoda dan penuh gairah. Namun ciuman keduanya memiliki sensasi yang sama. Sama-sama membuat jantungnya menggila.
Minhyun menghela nafas. "Aku merindukanmu, Bugi. Kau dimana?"
Brakkk.
Minhyun langsung menatap pintu kamar asramanya dan keempat temannya langsung masuk kamar.
"Aku dengar kau dan JR berciuman di perpustakaan, apa itu benar Minhyun?" tanya Ren tanpa basa-basi sama sekali.
Minhyun kembali menghela nafas. Semuanya tersebar dengan begitu cepat. Daniel, Luhan dan Suga hanya diam. tidak mau ikut campur urusan asrama teman-temannya namun bila keadaan makin memburuk mereka pasti akan bertindak.
"Ya." Dan percuma Minhyun berbohong.
Hening menyelimuti kamar 101 ini. Mereka berempat menunggu reaksi Ren.
Sial, apakah persahabatan mereka akan hancur lagi?
"Lalu bagaimana rasanya berciuman dengannya Minhyun? Apakah dia seorang good kisser? Ya tuhannnn kau sangat beruntung berciuman dengannya. Jawab apa aku Minhyun, jawab. Apa dia good kisser. Sialan Hwang kau membuatku iriiiiii."
Keempatnya hanya cengo melihat reaksi Ren yang tidak terduga.
Minhyun memandang bingung akan reaksi Ren. "Tunggu kenapa kau bertanya seperti itu? Apa dia belum menciummu? Kau bilang kau menginap di hotel setelah berkencan dengannya?"
"Ya seteleh kencan aku memang menginap di hotel, hanya aku karena dia meninggalkanku di restaurant setelah dua menit kita sampai dan dia tidak pernah menciumkuuu." Jelas Ren.
"Dia tidak pernah mencium siapapun, Minhyun. Aku pernah bertanya-tanya pada para mahasiswi yang ia ajak kencan dan yah dia meniduri mereka tapi JR tidak pernah mencium mereka. Ya tuhan, Hwang kau benar-benar beruntunggg."
"Tunggu. Kau tidak marah?"
Kini giliran Ren yang memandang bingung Minhyun. "Kenapa aku harus marah? Dia bukan siapa-siapaku."
"Tapi kau menyukainya."
"Aku suka dia karena dia tampan dan populer."
"Apa kau… berencana untuk memiliki hubungan lebih dengan JR?" tanya Minhyun dengan ragu-ragu.
Ren mendekati Minhyun dan menyentuh kedua bahu Minhyun. "Hwang Minhyun yang rupawan walaupun Aku nakal, manja, keras kepala dan menyebalkan. Aku tahu kalau mengencani sosok yang disukai sahabat sendiri itu tidak baik. Aku lebih memilih persahabatan ini ketimbang para cowok. Lagipula aku tidak suka dengan hubungan cinta yang serius walaupun itu hanya berpacaran. Aku hanya suka berkencan."
"Dulu aku memang menyukainya Ren." Minhyun menundukan kepalanya. "Tapi itu dulu. Perasaanku untuknya sudah tidak ada lagi."
"Cobalah Minhyun, mungkin saja perasaanmu akan tumbuh kembali dan aku pikir dia juga sedang mendekatimu." Saran Luhan. "Dulu dia tidak pernah menyapamu sama sekali dan sekarang ketika ia masuk ke kelas untuk pertamakalinya ia malah mengucapkan selamat pagi padamu."
Minhyun menggeleng. Ia turun dari jendela dan duduk dikasurnya. "Seperti yang kalian katakan masa lalu hanyalah sebuah sejarah yang tidak pantas untuk di ingat lagi. Dan mungkin saja ia mendekatiku hanya untuk main-main."
"Bagaimana kalau masa lalumu adalah masa depanmu, Minhyun?" Ucap Suga. "Dan bagaimana kau berpikir ia hanya main-main ketika dia menciummu. Aku tekankan lagi. Menciummu Minhyun. Seperti yang Ren katakan ia tidak pernah mencium pasangan kencannya. Tidak pernah."
Minhyun diam mencerna ucapan-ucapan sahabatnya. Haruskah ia membuka hatinya kembali untuk JR? Tapi ia takut jika sosok itu hanya mempermainkannya saja.
.
.
"Ngomong-ngomong sebulan lagi kampus kita akan mengadakan Festival Seni. Kalian mau ikut perform?"
"Tentu saja, aku akan perform dance." Ujar Daniel penuh semangat.
"Hey, bukankah pada malam terakhir festival selalu diadakan pesta dansa?" tanya Ren.
"Yup."
Ren melompat-lompat penuh semangat. "Oh, Aku harus shopping dan membeli pakaian yang bagus."
Keempat temannya yang lain hanya memutar matanya melihat aksi si bungsu Choi ini.
"Kalian juga harus ikut." Tunjuk Ren pada keempatnya.
.
.
.
"Jadi, aku dengar Festival Seni sebentar lagi akan di adakan, apakah kau ikut perform?" tanya JR pada Minhyun yang masih focus pada bukunya. Seperti biasa mereka berdua berada di perpustakaan.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu."
"Memang bukan urusanku tapi aku ingin melihatmu menyanyi dan memainkan piano seperti dulu. Lakukanlah untukku dan aku juga akan ikut tampil."
"Untuk apa aku melakukan itu? Kau mau menampilkan dance?"
"Tidak. Aku tidak akan perform dance. Bisa-bisa aku membuat seluruh mahasiswi di kampus masuk rumah sakit karena mimisan melihat performaku yang sexy."
Minhyun menatap datar sosok penuh percaya diri didepannya itu. "Aku tidak akan ikut berpartisipasi."
"Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang mendapatkan sorakan paling banyak maka dia menang dan yang menang akan meminta hadiah dari yang kalah. Apapun keinginan yang menang harus dituruti oleh yang kalah."
"Apapun?" tanya Minhyun memastikan.
"Apapun." Ucap JR sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Minhyun.
"Bahkan jika aku ingin kau tidak mengangguku lagi?"
JR kembali mengeluarkan smirk andalannya. "Ya, aku akan melakukannya tapi itu jika kau yang menang dan jika aku yang menang maka kau harus ke pesta dansa denganku. Deal?"
"Deal."
.
.
.
.
.
.
Satu bulan setelahnya berjalan dengan begitu cepat. Minhyun menatap dirinya sendiri di depan cermin. Sebulan ini terasa menyiksa untuknya karena setelah insiden ciuman di perpustakaan JR benar-benar terus mendekatinya namun JR juga tidak menghentikan kebiasaannya yang kencan dengan wanita yang berbeda setiap harinya.
"Kenapa dulu aku pernah menyukai bajingan seperti itu? Dan kenapa rasa itu tumbuh lagi? Bugi, aku tidak mau mengkhianatimu. Aku merindukanmu, Bugi."
"Ternyata kau belum move on juga yah?"
Minhyun membalikan badannya dan sahabat dari China nya itu mendekatinya. "Luhan."
"Kau benar-benar mencintai Jonghyun, yah?"
Minhyun mengangguk.
Luhan mendudukan dirinya disamping Minhyun. "Cinta… seperti apa cinta itu, Minhyun?"
"Cinta itu tidak bisa di deskripsikan, Lu. Kau hanya bisa merasakannya. Yang jelas cinta itu ada."
"Apa yang cinta berikan pada kita, Minhyun? Kesedihan? Kebagiaan? Penderitaan?"
"Cinta memberikan segalanya untuk kita."
.
.
.
Suara tepukan menggema di aula utama Seoul University mengakhiri performa dance Daniel yang menarikan lagu Wanna One – Energetic.
"Wow, tarian yang membuat kita semua berenergi kembali, bukan begitu?"
"Nde!" teriak semua penonton.
"Well, terimakasih Daniel-sshi atas performa penuh energimu. Sekarang mari kita sambut performa selanjutnya dan Wow, aku benar-benar tidak menyangka dia akan berpartisipasi untuk menyanyi di acara ini."
Para mahasiswa yang ada disana saling berpandangan dengan bingung. Menebak-nebak siapa gerangan sosok yang dikatakan MC.
"Hwang Minhyun, kami persilahkan untuk menaiki panggung." Setelah mengatakannya sang MC langsung turun dari panggung.
Para penonton langsung terkejut bukan main ketika nama itu disebutkan. Hwang Minhyun yang selalu tenang dan tidak peduli akan sekitarnya ini mau tampil di atas panggung?
"Luhan, tolong katakan pendengaranku sedang bermasalah. MC tadi menyebut nama Hwang Minhyun?" Ren menatap pemuda asal China disampingnya. "Hwang Minhyun teman kita?"
"Menurutmu ada berapa Hwang Minhyun di Korea, Ren? Pantas saja dia sangat rapih tadi pagi."
.
Minhyun berjalan menaiki panggung besar itu. Dia bisa merasakan ratusan mata menatapnya. Ia tahu jika dirinya salah satu mahasiswa yang populer namun ia sangat benci menjadi pusat perhatian. Mengapa orang-orang mempedulikannya ketika Minhyun sendiri tidak mempedulikan mereka.
Minhyun mendudukan dirinya sendiri dikursi kecil yang berada didepan piano berwarna putih. Minhyun memejamkan matanya, sudah terlalu lama ia tidak menyentuh tuts-tuts piano karena kesibukannya sebagai mahasiswa.
Ia meraba dengan lembut tuts hitam putih didepannya. Dulu music adalah cintanya. Ibunya mengenalkan music padanya ketika ia masih kecil dan mereka berdua sering pergi ke konser tunggal para pianis ternama.
Piano menemaninya ketika ia bahagia, sedih, kesal, gelisah dan melampiaskan semua emosinya pada tuts-tuts tersebut tapi ketika Ibunya pergi meninggalkannya untuk selamanya saat itu pula Minhyun tidak pernah menyentuh piano lagi. Piano mengingatkannya pada Ibunya. Tiffany Hwang yang cantik yang telah pergi dan berada disamping Tuhan untuk selamanya.
From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo
Jemari lentiknya mulai menekan-nekan tuts hitam putih. Satu persatu melody indah terdengar bersamaan dengan bibir merahnya yang menyanyikan sebuah lagu.
waenji nasseoreo honja inneun saebyeok gonggiga
jam mot iruge hajyo
eonjebuteonga keojyeobeorin neol hyanghan maeum
gamchul su eomna bwayo
Suara indahnya dan permainan pianonya sukses membius semua penonton yang terpana akan penampilannya. Tidak ada yang bersuara yang ada hanyalah permainan piano dan suara lembut Hwang Minhyun.
teong bin bang gadeuk bichuneun
moonlight (moonlight)
kkumcheoreom sarajyeo gajiman (out of my life)
saehayan kaenbeoseue hanbeon deo geuryeoyo
honjaga anira mideoyo
From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo
Minhyun memejamkan matanya mengingat kenangan ia berdansa dengan seseorang dengan lagu ini yang menjadi latar belakangnya. Hingga sekarang ia masih bisa merasakan tangan itu memegang pinggangnya, aroma maskulinnya yang menenangkannya dan ciuman lembut penuh cinta itu. Minhyun masih ingat semuanya dengan jelas.
barame nallyeo heundeullineun
keoteun sairo noranbit chajaojyo
hwanage binnal naltteureul majuhamyeo
unneun urireul tteoollyeoyo
byeoltteultto jamdeun bamhaneul
moonlight (moonlight)
kkumcheoreom sarajyeo gajiman
saehayan kaenbeoseue dashi geuryeobwayo
geudaega animyeon andwaeyo
JR terdiam mendengarkan nyanyian Minyun dan permainan pianonya yang membuai semua orang namun menyikiti hatinya. Ia sakit, hatinya sakit karena membuat sosok indah itu terluka karenanya. "Dari sekian lagu mengapa kau memilih lagu itu, Minhyunie?"
"Karena lagu ini mengingatkannya padamu." Ucap Clara yang ada disamping JR.
From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo
TONIGHT geudaewa hamkke
kkumsogeul nalgo shipeo
TONIGHT naegero wayo
achimi ogi jeone
From the moon, To the stars
ujureul hemaeda
seororeul alge doeeotjyo
geurigo, geurida
beonjin mulgam wie
uriga heulleonaeryeoyo
Pada nada terakhir Minhyun menyanyikannya dari dalam jiwanya yang terpendam. Ia membuka kembali matanya dan air mata itu turun membasahi pipinya. Semua orang tertegun akan air mata Minhyun, entah kenapa mereka melihat betapa rapuhnya sosok manis itu.
"Minhyun." lirih Luhan ketika melihat air mata sosok yang sudah ia anggap sebagai adik itu.
Seluruh penonton segera bertepuk tangan dengan riuh dan sorakan-sorakan membahana dari mereka.
Minhyun dengan segera menghapus air matanya yang tanpa ia sadari mengalir membasahi pipinya. Ia segera beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan panggung dengan sorakan-sorakan penonton yang memberikannya applause akan penampilannya.
.
"Minhyun, kau baik-baik saja?" tanya Daniel khawatir pada Minhyun. Daniel sengaja tidak langsung menuju teman-temannya, ia masih berada di belakang panggung menunggu Minhyun selesai tampil dan Ia ingin sekali memeluk sosok tersebut.
"I'm ok. Aku hanya terbawa suasana." Ucap Minhyun dengan singkat.
Daniel sadar bahwa jawaban Minhyun itu bohong namun ia hanya mengangguk mempercayai kebohongan Minhyun. "Ngomong-ngomong penampilanmu tadi sangat luar biasa."
"Terimakasih. Sebenarnya aku sudah lama tidak memainkan piano lagi, saat dipanggung tadi itu hanya mengalir dengan sendirinya."
"Tapi kau terlihat seperti kau sudah menyiapkannya selama berbulan-bulan."
"Tidak. Aku tidak berlatih sama sekali. Terlalu sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Ayo Daniel kita berkumpul dengan yang lainnya."
.
"Minhyun penampilanmu tadi sangat kerennnnnn." Ucap Ren ketika Daniel dan Minhyun datang.
"Terimakasih." Ucap Minhyun sambil mendudukan dirinya di kursi penonton. Ia sadar ada beberapa orang yang memandang kearahnya.
"Kau baik-baik saja, Minhyun?" tanya Luhan.
"Aku baik-baik saja, Luhan."
"Tapi saat di panggung tadi ka–"
"Aku hanya terbawa suasana." Minhyun memotong ucapan Luhan. "Aku baik-baik saja, percayalah."
.
.
"Penampilan terakhir yang sangat di tunggu-tunggu oleh kita semua. JR!"
"KYAAAA!"
"OPPA~"
"JR JR JR JR."
Minhyun hanya memutar matanya mendengar teriakan-teriakan dari penonton yang mayoritas para mahasiswi ketika mendengar nama sang pangeran kampus disebutkan.
Lampu tiba-tiba dimatikan selama beberapa saat membuat seluruh penonton kebingungan namun ketika lampu kembali dinyalakan teriakan membahana dari para mahasiswi ketika melihat JR duduk disebuah kursi. Ia memegang microphone ditangannya.
naega jom neujeotji
yeogikkaji oneun shigani
jom mani geollyeotji jom mani georeotji
gyesokhaeseo nal gidaryeotji
nal gidaryeotji nal gidaryeotji Yeah
I'm a bit late
I know it took long
For me to get here, it look a while
You kept waiting for me
Waiting for me, waiting for me
Teriakan membahana kembali terdengar lebih nyaring ketika mereka mendengar suara berat sosok tampan yang ada di atas panggung itu.
dwieseo nunmul heullineun geol bwasseo
oemyeonaesseo dagagagien neomu nan jagasseo
museun saenggakhamyeonseo nuneul gama
mureoboji anado nan da ara Yeah
maeiri jiokgateun neukkimieosseuljido
jubyeone na honjaraneun gibuni deureosseuljido
nado nae mami nae mam gatji anaseo
dagagagien neomunado beokchasseo Yeah
I saw you cry from behind
But I turned away, I was too small to approach you
You closed your eyes as you thought of something
I don't need to ask, I know everything
Even if it felt like each day was hell
Even if I felt like I was alone
My heart didn't feel like my own
So I was too overwhelmed to approach you
Suara JR benar-benar menggetarkan jiwa setiap orang yang ada disana terutama para mahasiswi ataupun submissive.
geoure bichin nal jedaero chyeoda bojido mot hae
duryeoum ttaemune munteok ape han georeumeul mot tte
bada hangaunde honja tteo inneun dottae
barami dwaeseo ijen naega mireo julge
mideojulge geudaega haejweotteon geotcheoreom
ijeodo dwae jigeumkkeot apatteon geot jeonbu
ijeneun gachi georeoga
binnal su itge naraga
I couldn't even look at myself in the mirror
I couldn't take a step out the door because of my fear
Like a lone boat floating in the middle of the sea
Will you become the wind and push me?
I'll believe in you, just like you did for me
You can forget all the pain of the past
Now let's walk together
Let's fly so we can shine
Minhyun terpana akan lirik-lirik lagu yang di nyanyikan sosok diatas panggung itu –serta suara JR. Ia merasakan hatinya menghangat dan jantungnya berdebar kencang. Ia merasa setiap lirik yang dinyanyikan JR itu untuknya.
(gachi georeoga binnal su itge naraga
gachi georeoga Love)
naega eoduweosseul ttae balkge bichweojweosseonne
jamkkan gidael su itge eokkaereul billyeojweosseonne
ijen jom dandanaejyeosseo maneun geol badasseo
jeonbu da gapajul geonikka gyesok yeope isseojweo
areumdapge deo areumdapge
jinagatteon shiganboda deo areumdapge
ijen naega balkyeojulge
eonjedeunji gidaedo dwae
(Walk together, let's fly so we can shine
Walk together, love)
You shined on me brightly when I was dark
You lent me your shoulder so I could lean on you
Now I've become stronger, I received a lot
I'll pay you back for everything so keep staying by my side
Beautifully, more beautifully
More beautifully than the past
I will reveal myself
You can always lean on me
Teriakan para perempuan semakin liar mendengar suara JR yang benar-benar membuat gila.
(gachi georeoga binnal su itge naraga
gachi georeoga Love)
Yeah
(maeil naege neon seonmulgata
namane bichi doeeojun neo)
eonjedeunji gidaedo dwae (ijen)
eonjedeunji gidaedo dwae Yeah
(maeil naege neon seonmulgata
namane bichi doeeojun neo)
eonjedeunji gidaedo dwae (ijen)
eonjedeunji gidaedo dwae Yeah
naega jom neujeotji
yeogikkaji oneun shigani
jom mani geollyeotji
gyesokhaeseo nal gidaryeotji
nal gidaryeotji nal gidaryeotji
(Walk together, let's fly so we can shine
Walk together, love)
Yeah
(Every day, you're like a gift
You became my light)
You can always lean on me (now)
You can always lean on me
(Every day, you're like a gift
You became my light)
You can always lean on me (now)
You can always lean on me
I'm a bit late
I know it took long
For me to get here, it look a while
You kept waiting for me
Waiting for me, waiting for me
Seluruh penontong langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan yang begitu meriah ketika JR telah menyelesaikan penampilannya.
"OPPA!"
"JR Oppa~"
"Kyaaaa!"
"Oppa sangat tampan!"
JR tidak mengindahkan suara-suara nyaring para perempuan itu. Matanya hanya memandang pada satu sosok yang juga memandangnya.
JR membuka matanya dan mengucapkan sesuatu tanpa suara.
Aku Menang.
Minhyun yang tahu akan makna dari gerak bibir JR langsung membuang muka.
Dia kalah.
.
.
"Aku menang."
Minhyun memutar matanya. "Tentu saja kau menang. Banyak mahasiswi disana."
"Yang penting aku menang." Ujar JR tidak tahu diri.
"Terserah kau saja."
"Besok malam berdandanlah yang cantik bila perlu pakailah dress."
Minhyun menatap tajam JR namun pemuda tampan itu sudah membalikan badannya dan masuk ke mobil sport berwarna hitamnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
27 January 2018
