Disclaimer: Punya Bang Masashi

Warning: Typo, rada gaje, gak sesuai EYD.

Suasana di ruang kelas 3A Konoha High School saat ini sangat tenang,walaupun guru yang mengajar mereka hari ini tidak masuk karena sakit. Di kesempatan ini, ketua kelas 3A berencana mendiskusikan sesuatu dengan teman-temannya.

"Teman-teman, tolong perhatiannya sebentar." instruksi Naruto, ketua kelas. Semua murid melihat kearahnya.

"Aku mau nanya sesuatu ke kalian, kalian mau nggak liburan semester ini kita pergi ke villa keluarganya Sasuke?" tanya Naruto selaku ketua kelas.

"Villa? Emang dimana tempatnya?" tanya salah seorang murid.

"Di Oto, daerah pegunungan gitu."kata Sasuke.

"Jauh amat ! Aku nggak ikut ah." kata salah seorang murid perempuan. Dan beberapa murid lain mengiyakan.

"Jadi bagaimana? Mau nggak liburan semester nanti kita nginap di villa keluarganya Sasuke?" tanya Naruto.

"Kalau aku sih harus nanya sama ortu dulu, kalau boleh aku akan ikut."kata Sakura, bendahara kelas.

"Sama." kata Ino, teman sebangku Sakura.

"Oke, jadi gimana yang lain?" tanya Naruto.

"Aku ikut."

"Aku juga."

"Yup, saya ikut."

"Oke, kalau gitu yang sudah pasti ikut saya sendiri, Shika, Kiba, Ten Ten, Temari, dan Sasuke."kata Naruto memastikan.

Keesokan harinya.

"Naru."sapa Ino.

"Ya?"

"Aku dengan Sakura jadi ikut ke Villa, Hinata juga ikut katanya." kata Ino.

"Oke kalau gitu, jadi yang ikut ada sembilan orang ya. Nanti kalau sudah pasti, aku dan Sasuke kasih tahu kapan perginya."

"Oke."

Hari H.

"Wei Sakura! Lama banget sih, kita nunggu dari tadi nih." sembur(?) Kiba.

"Aku nggak akan telat kalau bukan gara-gara Ino tiba-tiba sms suruh bawa komik waktu aku mau berangkat tadi."kata Sakura sedikit kesal. Sementara Ino, dia cuma senyam senyum aja.

"Sudah-sudah, ayo cepat naik ke bus, kalian mau kita nyampenya malam?"kata Naruto.

Sesampainya di villa...

"Wah, villanya keren nih Sas." kata Kiba sambil celingukan.

"Ah nggak biasa aja kok. Masuk yuk."kata Sasuke.

Setelah mereka masuk kedalam, mereka berkumpul di ruang tamu.

"Oke, sekarang pembagian kamar ya. Karena disini ada empat kamar jadi satu kamar ada dua orang dan tiga orang."kata Sasuke, si pemilik villa.

"Aku sekamar sama Hinata!." kata Ino tiba-tiba.

"Aku juga."kata Sakura.

"Oke, kalau gitu Ten Ten sama Temari ya."kata Sasuke.

"Iya, nggak masalah."kata Temari hanya mengangguk.

"Selanjutnya yang cowok gimana nih?"

"Yaaah, kalau aku sih terserah aja." kata Shikamaru sambil nguap.

"Kalau begitu Shika dengan Kiba sekamar, sedangkan aku dengan Naruto, ada yang mau ditanya lagi?" kata Sasuke. Hening beberapa saat, menandakan tidak ada pertanyaan lagi.

"Kalau begitu sekarang kita beres-beres dulu setelah itu istirahat."kata Naruto sambil beranjak dari tempatnya.

NARUTO P.O.V.

"Nggh, capeknyaaa... tidur dulu ah."

Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, sedangkan Sasuke masih membereskan barang bawaannya.

"Eh Nar, tolong ambilin tas aku dong di ruang tamu."

"Baru juga rebahan Sas."protesku.

"Yaah, sori deh, barangku masih belum selesai di beresin nih, tolong ya."

"Iya deh."

Aku beranjak dari tempatku dan pergi ke ruang tamu.

"Nah ini dia." kataku dan mengambil tas jinjing yang tergeletak di lantai.

"Pst."

"Eh?" aku melihat kebelakang.

"Kayaknya tadi ada suara orang deh." gumamku.

"Aaaah,paling cuma perasaan." kataku dan pergi dari tempat itu. Saat aku akan berbelok dari pintu ruang tamu, aku merasakan sekelebat bayangan lewat di belakangku, tiba-tiba aku merasakan tengkuk ku merinding. Dan saat itu juga aku segera berlari kekamarku yang ada di lantai dua.

Sasuke P.O.V.

Brakkk!

Suara debaman pintu mengagetkanku, aku menoleh dan melihat Naruto berdiri membelakangi pintu dengan wajah memerah dan ngos-ngosan seperti habis dikejar hantu.

"Kau kenapa Dobe?" tanyaku.

"Ada yang aneh dengan rumah ini."kata Naruto dengan wajah pucat.

"Hah?"

"Tadi aku mendengar suara-suara aneh di ruang tamu, dan ada bayangan hitam yang lewat di belakangku."kata Naruto. Aku terdiam sesaat.

"Kau bercanda ya?"

"Aku serius! Aku benar-benar merinding tahu!" teriak Naruto, membuat telingaku berdengung.

DHUAK!

Naruto jatuh terjungkal kedepan saat pintu terbuka dengan ganasnya(?). Sakura berdiri di ambang pintu dengan wajah mengernyit.

"Pose apa itu?" tanya Sakura dengan watados-wajah tanpa dosa- saat melihat Naruto sedang dalam posisi tertelungkup dengan pantat menungging, pose yang sangat tidak elit, pikirku.

"Pose tidur Dobe yang baru." kataku dengan santai. Sedangkan Sakura hanya ber-ooh ria.

"Pose tidur dari hongkong! Aku terjatuh waktu kau membuka pintu tahu!" kata Naruto sambil menuding(menunjuk) Yuni.

"Siapa suruh dibelakang pintu, dasar ketua kelas bego."kata Sakura dengan tajamnya.

"Ukh." sepertinya Naruto tertohok mendengar perkataan Sakura dan langsung pundung dipojokkan kamar.

"Ada apa?" tanyaku, kembali ingat kenapa Sakura ada disini.

"Tadi aku baru kepikiran, malam ini kita pesan makanan atau masak sendiri ya?" tanya Sakura.

"Hmm, kalau itu terserah kalian. Memang kalian bisa masak ya?" tanyaku.

"Kalau aku sih bisa kalo cuma masakan rumahan yang mudah-mudah, kalau yang lain aku nggak tahu deh."

"Makanannya bisa dimakan nggak?" tanya Naruto, sukses membuat sebuah bantal melayang ke arahnya.

"Makan tuh bantal." kata Sakura dengan tatapan sinis.

"Kurasa lebih baik kita pesan makanan aja, karena sepertinya bahan-bahan untuk masak nggak ada."kataku, tidak menghiraukan kejadian barusan.

"Hmm, oke deh, aku cuma mau nanya itu. Udah dulu ya."kata Sakura dan meninggalkan kamar.

Aku melirik ke arah Naruto.

"Jangan sampai yang lain tahu dengan apa yang kau alami tadi, kau tahukan kalau anak-anak cewek bisa ketakutan dan pasti nanti ribut mau pulang." kataku.

"Tapi apa nggak apa-apa? Kalau memang benar disini ada hantunya, aku takut kalau sampai ada yang celaka."

"Nggak akan terjadi apa-apa selama kita tidak berbuat sesuatu yang membuat hantu itu marah, lagipula kita disini kan mau berlibur, menghilangkan stres sehabis ujian, bukannya mau nyelidikin soal hantu"

"Hmm, benar juga sih."

"Jangan ungkit masalah itu lagi, bisa gawat kalau mereka tahu, apalagi Ino. Bisa-bisa mereka keburu paranoid duluan."

"Iya, iya aku tidur aahhh."kata Naruto dan kembali berbaring di tempat tidur...

Tengah Malam

Ino terbangun saat tengah malam, ia melihat kesekeliling. Hinata sedang tertidur lelap di sebelah kanannya, kamar saat ini dalam suasana yang cukup gelap membuatnya harus memicingkan mata. Dia menyadari Sakura tidak ada disampingnya saat meraba tempat tidur sebelah kiri.

"Sakura.." panggil Ino dengan suara pelan.

"Apa?" sebuah jawaban dari Sakura membuat Ino memalingkan wajah kearah teras kamar, disana Sakura duduk disebuah kursi goyang dibawah cahaya rembulan dengan sebuah buku kecil ditangannya

"Kau sedang apa?"tanya Ino sambil mengucek sebelah matanya.

"Baca novel, tadi baru minjam dari Sasuke." jawab Sakura.

"Emang keliatan?"

"Dengan bulan seterang ini sih keliatan. Kenapa kau bangun? Mau ke WC?" tanya Sakura.

"Hmm, sepertinya begitu."kata Ino, kemudian mengibaskan selimutnya dan turun dari tempat tidur.

INO P.O.V.

Aku menutup pintu kamar dan berjalan menuruni tangga dengan membawa senter. Seluruh villa saat ini gelap, karena Sasuke dan Naruto menyarankan mematikan lampu, untuk mengurangi pemanasan global katanya. Sampai di anak tangga terakhir aku merasa menginjak sesuatu di kakiku.

"Apa ini?" aku mengarahkan senterku ke bawah.

"Cermin? punya siapa ya?" aku mengambil cermin itu.

"Besok aja deh tanya sama yang lain."pikirku dan memasukkan cermin itu ke kantong celana.

"Hiks...hiks..."

"Eh?" aku membalikkan badanku.

"Suara apa itu?" aku melihat kesekeliling.

"Fyuuuh..."

DEGH

"Ap..apa itu tadi?" aku merasa tubuhku mulai merinding. Sesaat tadi aku merasa ada yang meniup tengkukku.

"Hiks...hiks..."

"Suara itu lagi?" aku menoleh kebelakang dan mendapatkan seseorang berdiri tidak jauh dariku. Ia memakai baju terusan berwarna hitam dan berambut hitam panjang, kedua telapak tangannya sedang menutupi wajahnya yang menunduk saat ini.

"Hinata?" tanyaku. Kenapa aku bertanya begitu? Karena hanya dia yang memiliki rambut sepanjang itu di sini. Tapi yang membuatku merasa ganjil adalah, seingatku tadi Hinata berada diatas, kenapa dia bisa berada disini sekarang?

"..." hening, perempuan itu tidak menjawabku sama sekali. Perlahan-lahan ia menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Tapi tetap saja wajahnya tidak terlihat karena masih tertutup rambut panjangnya.

"Hinata jangan main-main, nggak lucu ah."kataku dan mendekatinya.

"Hei! Berhenti dong! Kau tahu kalau aku paling takut sama yang beginian kan?" kataku, suaraku sedikit tinggi karena tegang(baca:takut). Sekarang aku berada tepat dihadapannya. Perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya, dan wajahnya pun terlihat...

A/N:

Hai minna-san~

Maaf kalau saya update fict baru, padahal yang satu belum selesai alias masih anget-angetnya XD

Entah kenapa saya pingin story saya yang satu ini ada yang versi Narutonya juga. Ini sudah pernah saya publish di FB saya.

Maaf ya kalau ada Typo, seperti ada nama orang atau tempat yang kelewatan oleh penglihatan saya(sering kejadian soalnya) yang saya gak ganti, soalnya ini aslinya versi Indonesia yang ngambil tempatnya di pegunungan daerah Kerinci, bukan Jepang jadi harus saya edit ulang semuanya.

Sekian A/N saya.

Ada yang niat ninggalin Review?