A/N:
Ohayou minna-san, mumpung lagi libur sekolah saya mau publish lanjutan fict saya ^_^
Semoga minna-san suka sama fict lanjutan ini, HAPPY READING~~~
.
.
Disclaimer: Chara semuanya punya om Masashi, saya cuma minjem
Warning: OOC, gak pake EYD, rada gaje, typo, dan kekurangan lainnya.
.
.
.
Normal P.O.V.
"Baaa!"
"Kyaaa!" teriak Ino.
Ternyata perempuan berbaju terusan hitam itu adalah Naruto yang memakai wig dan topeng hollow di wajahnya.
"Ahahaha..." Naruto tertawa sambil memegang perutnya geli. Sedangkan Ino yang terduduk di lantai memelototinya.
"Naruto! Nggak lucu!" bentak Ino.
"Ada apa?" tanya Sakura yang berlari menuruni tangga. Naruto masih setia tertawa. Sakura mengerutkan kening.
"Kenapa dia?"
"Nggak tau! Udah gila kali !" kata Ino kesal dan berjalan dengan menghentakkan kaki, kembali ke kamar. Sepertinya ia lupa tujuan awalnya.
Sakura hanya berdiri mematung di tangga. Bingung.
Keesokan paginya
Pagi yang sangat menyenangkan bagi Ino. Kenapa? Karena setelah dia menceritakan kejadian semalam ke teman-temannya. Ternyata teman-temannya juga mendapat kejutan dari Naruto semalam.
Kiba, saat akan membasuh muka tadi malam, mendapati air keran yang digunakannya mengeluarkan cairan berwarna merah seperti darah, dan hal itu sukses membuatnya berteriak kaget. Dan tepat setelah itu, Naruto muncul dengan sebuah cat air plus tawa yang membahana. Langsung saja, Kiba menyuruh Akamaru buat gigit Naru.
Sasuke. Setelah mengambil pasta yang baru dibikin di dapur tadi malam, Naruto tiba-tiba nongol dari balik pintu dengan menodong pistol mainan, sukses membuat Sasuke mengangkat tangan refleks dan membuatnya bermandikan mie pasta dan saos. Dan hal itu mengakibatkan benjol yang lumayan besar dikepala Naruto setelah dijitak oleh Sasuke.
Ten Ten dan Temari. Mendapatkan ketukan di pintu kamar pukul 3 pagi, saat pintu dibuka, tidak ada seorangpun yang berdiri di depan pintu, dan itu terus berulang selama dua tiga kali. Hal itu otomatis membuat kedua perempuan itu takut dan berlari menuju kamar Ino & friends dengan suara tawa(Naruto) menyertai mereka dari belakang.
Dan pagi ini Naruto harus membayar semua kejahilannya tadi malam, dengan menjadi boneka anak-anak perempuan selama satu hari penuh.
"Hiks, kalian jahat banget sih pada daku..." kata Naruto dengan suara lebay. Saat ini dia sedang didandani ala barbie oleh anak-anak cewek, khususnya Ino.
"Salahmu sendiri yang cari gara-gara." kata Sakura santai sambil membaca novelnya yang belum kelar. Yang lain hanya mengangguk.
"Tapi kan daku cuma bercanda..." kata Naruto masih dengan nada lebaynya.
"Bercanda kepala lu peang! Gara-gara tadi malam aku sampe mandi dua kali buat ngilangin saos yang nempel di rambutku tau! Dan itu susah ngilanginnya!" kata Kiba dengan semangat empat lima(baca:marah).
"Udah tenang-tenang." kata Shikamaru sambil megangin Kiba dari belakang, takut ada pertumpahan darah.
"Iya nih, jahil banget sih! Gara-gara tadi malam juga aku jadi korban, karena Ten Ten sama Temari langsung naik ketempat tidur & ngedorong aku sampai jatuh." kata Hinata sambil memegang bahunya yang masih agak sakit.
"Iya, sory deh. Soalnya Naruto iseng sih. Siapa yang nggak takut kalo digituin? Kalo kamar kalian yang kena pasti kalian takut juga deh" kata Ten Ten.
"Oh iya, ngomong-ngomong. Kenapa Sakura sama Shika nggak kena sih?" tanya Temari. Semua melirik ke Naruto, minus Sakura yang masih asyik baca novel.
"Kalau Sakura sama Shika sih nggak seru kalau dikerjain, patah tulang iya." kata Naruto sambil menghela nafas.
"Maksudnya?" tanya Sasuke heran.
"Kalau tadi malam aku nodong Shika bukan Kiba, pasti sekarang tulang hidungku retak karena gerakan refleks Shika yang terlalu bagus. Lalu, kalau tadi malam aku ngetok pintu kamar Sakura waktu tengah malam. Bisa-bisa wajahku yang bagaikan pangeran ini berubah rata karena dapat ciuman mesra dari pintu." jelas Naruto dengan lebay bin narsis. Yang lain melongo.
Tiba-tiba Sakura menutup bukunya.
"Ada yang mau main ke Danau? Mumpung lagi di gak ada kerjaan nih." kata Sakura.
"Danau, emang ada?" tanya Ten Ten.
"Iya, kemarin aku sempet liat dari jendela mobil, danaunya luas dan kayaknya bagus." kata Sakura dan beranjak dari kursi dan pergi ke kamarnya. Anak-anak yang lain saling pandang.
"Boleh juga tuh, daripada suntuk disini seharian nggak ngapa-ngapain." kata Kiba, Akamaru menggong-gong setuju.
"Tapi panas lho, ntar kalau kulitku hitam gimana?" kata Ino. Temari dan Ten Ten mengangguk setuju.
"Malas ah, memang kita kesana pake apa? Kan dari sini ke Danau itu lumayan jauh, kita kan ada diatas gunung." kata Temari.
"Sudah pasti jalan kaki. Kalau ke Danau itu dari sini paling nggak setengah jam deh jalan kaki." kata Shika yang sepertinya sudah memperkirakan jarak.
"Haaa? Capek dong, aku nggak ikut ah." kata Ten Ten. Anak cewek yang lain ngangguk.
"Jadi siapa aja yang mau ikut?" tanya Sakura yang sudah kembali dari kamar.
Saat ini dia sudah memakai jaket dan topi bertulisan nike berwarna hitam dengan sebuah tas kecil dipunggung.
"Anak cewek katanya nggak mau ikut semua." kata Kiba.
"Ooh, kalau kalian?"
"Aku ikut, malas disini, nggak ada kerjaan." kata Kiba beranjak dari duduknya.
"Aku juga ikut!" teriak Naruto semangat.
"Nggak bisa! Kita belum puas ngerjain dia." kata Ino, narik kerah baju Naruto.
"Tidaaakkk! Helep miii!" teriak Naruto dengan gaya yang sangat amat lebay.
Setelah perdebatan yang panjang...
"Oke, kalau gitu kita pergi dulu ya."kata Sakura.
"Yakin nggak ikut Shik?" tanya Sasuke.
"Iya, kan bahaya kalau anak-anak cewek ditinggal sendiri, ditengah gunung lagi." kata Shika sambil nguap dan bersender di pintu.
"Oke deh, kita pergi sekarang, biar nggak kemalaman pulangnya." kata Naruto yang akhirnya ngikut juga.
Kurang lebih satu jam kemudian...
"Katanya orang itu mau nganterin kita ke Danau." kata Naruto yang sejak tadi mencari-cari orang untuk mengantar mereka ke Danau. Kenapa mereka nggak langsung kedanau? Soalnya Sasuke pikir mereka nggak tahu tempat pasti Danau itu dimana, soalnya Sakura cuma liat sekilas. Jadilah mereka pergi kedesa terdekat dulu buat nyari tutor yang tahu daerah ini.
"Ayo dek, katanya mau ke Danau ?" tanya orang itu. Orang itu adalah seorang pemuda, memakai kacamata bulat dengan senyum ramah, memiliki tinggi badan sekitar seratus tujuh empat dengan mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut.
"Iya kak." sahut mereka serempak.
Beberapa saat kemudian...
Saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju Danau, dengan berjalan kaki mengikuti Kabuto.
"Eh, boleh saya menanyakan sesuatu?" tanya Naruto.
"Ya?"
"Kenapa penduduk desa berkelakuan aneh tadi saat kami mengatakan ingin mengunjungi Danau ini?"
"Oooh, itu, biasalah, legenda lama, mitos."kata Kabuto santai sambil terus berjalan.
"Legenda? Mitos?" gumam tanya Sasuke tidak mengerti.
"Iya, dulu ada sebuah mitos tentang danau ini yang membuat penduduk desa takut untuk kemari." kata Kabuto.
"Benarkah? Bisa kakak ceritakan?" tanya Naruto penasaran.
"Yaa..bisa sih, cuma aku juga nggak begitu tahu detailnya." kata Kabuto.
"Nggak apa-apa, paling nggak garis besarnya aja" kata Kiba.
"Hmm, kalau nggak salah, ceritanya begini. Dulu, sekitar abad ke-16, ada seorang anak gadis dari desa sebelah, tidak jauh dari Oto, hilang saat naik perahu di danau itu. Karena anaknya tidak pulang-pulang ke rumah, orangtua si gadis dibantu masyarakat desa pergi mencarinya ke danau. Tapi usaha itu sia-sia, dan warga pun kembali ke Desa.
Malam harinya seorang petinggi desa bermimpi. Ia diberitahu bahwa si gadis dibawa oleh "Gadis Kecil", makhluk halus penghuni danau. Lantaran masih penasaran, keesokan hari warga kembali melakukan pencarian di danau. Air danau ditimba beramai-ramai, namun si gadis tetap saja tidak ketemu.
Orangtua si gadis yang tidak diketahui namanya sampai kini itu, akhirnya pasrah. Konon katanya, setelah kejadian itu, hal yang sama terus terulang, banyak anak gadis yang hilang saat melewati danau ini. Masyarakat setempat kemudian bersumpah tidak akan memakai perahu lagi di Danau Itu. Beberapa tokoh masyarakat Desa bahkan melarang warganya mengunjungi danau ini. Hal itu terjadi hingga beratus-ratus tahun." tutur Kabto.
"Begitu? Jadi karena itu orang-orang tadi langsung pucat pasi saat kami ingin melihat danau ini." kata Naruto.
"Yaah, begitulah. Sebenarnya yang masih percaya dengan cerita itu hanya para orang tua, kami para anak muda tidak percaya dengan mitos semacam itu. Kami sering pergi bermain didekitar danau."
"Apa kalian tidak takut kalau sampai ada anak gadis yang hilang lagi?" tanya Sakura. Kabuto mengangkat bahu.
"Danau sudah menjadi tempat bermain para remaja Desa Oto. Dan tidak ada seorangpun yang pernah hilang." jawab Kabuto.
"Begitu..."gumam Sakura.
"Kenapa? Apa kau takut kalau diculik oleh "Gadis Kecil" ?" goda Naruto, dengan senyum jahilnya.
"Kau ingin dilempar ke danau ya?" jawab Sakura sedikit sarkastik. Semua yang ada disana tertawa.
"Oke kita sudah sampai." kata Kabuto sambil menunjuk ke sebuah Danau.
Mereka memandang kesekeliling. Dihadapan mereka terdapat pemandangan danau berwarna hijau yang indah dengan pepohonan(baca:hutan) yang mengitari danau itu. Mereka menghirup nafas dalam-dalam, merasakan udara yang sejuk memasuki paru-paru mereka.
"Pemandangan yang indah" kata Sasuke.
"Yupz, benar sekali."kata Naruto semangat.
Naruto melempar ransel yang dikenakannya sembarangan dan berlari mendekati danau.
Sasuke menaruh ransel miliknya dan duduk disebuah batu diikiuti dengan Sakura yang duduk didepannya.
"Sas, bawa kamera nggak?" tanya Sakura.
"Bawa, nih." kata Sasuke dan memberikan kamera digital yang baru dikeluarkan dari ranselnya.
"Pinjem dulu ya." kata Kata, beranjak dari tempat duduknya dan mulai berkeliling untuk memotret...
Saat yang sama di villa...
Jam menunjukkan pukul 11.15 siang. Saat ini anak-anak cewek dan Shikamaru sedang berada di ruang tamu. Shikamaru berbaring di sofa sambil mendengarkan lagu melalui headset, sedangkan anak-anak cewek sedang menonton video konser SUJU(Super Junior) yang dibawa Ino.
"Eh, di pause dulu bentar, aku mau ke toilet nih." kata Ten Ten.
"Oke." jawab Ino, dia mengambil remot dan mem-pause video.
Shikamaru berdiri dari sofa dan memandang langit dari jendela. Dia mengernyitkan dahi.
"Perasaan tadi masih panas deh, kok sudah mendung aja." kata Shika.
"Eh?" Ino berdiri dan melihat keluar jendela.
"Iya ya, masa mau hujan sih? Gimana sama Saku dan yang lain nanti?"
"Kayaknya mau hujan besar deh, soalnya gelap banget sih." kata Temari.
"Lebih baik sekarang siapin lilin dulu deh, takut nanti listriknya mati." kata Shikamaru beranjak dari ruang tamu.
Shikamaru P.O.V.
Aku berjalan menuju dapur, mungkin disana ada lilin atau lampu minyak. Aku tidak mau ambil resiko mendengar suara jeritan anak-anak cewek yang bisa membuat tuli itu saat lampu mati nanti.
Sesampainya didapur, aku membuka satu persatu laci meja dan mendapatkan sebuah lilin dan pematik api.
BRAK!
Suara sesuatu mengagetkanku, aku melihat kesekeliling. Dan ternyata itu suara pintu yang terdorong angin. Aku menghela nafas lega dan berjalan kearah pintu kemudian menguncinya.
Aku kembali keruang tamu, dimana anak-anak cewek sudah melanjutkan menonton video mereka. Aku menaruh lilin dan pematik api diatas meja dan kembali berbaring di sofa. untuk sesaat, entah kenapa aku merasakan firasat buruk.
Di Danau...
Naruto memandang langit diatasnya, ia mengernyitkan dahi.
"Eh, kayaknya kita harus balik sekarang deh." kata Naruto.
"Ng? Kenapa?" tanya Kiba.
"Lihat langitnya, sepertinya bakal hujan lebat." Sasuke sambil memungut ranselnya.
"Tapi kita baru sampai disini." protes Kiba.
"Kau mau kehujanan ya? Lebih baik kita balik ke villa sekarang sebelum hujannya turun." kata Sasuke dingin.
"Benar apa yang dikatakan olehnya, sepertinya malam ini akan ada badai." kata Kabuto.
"Baiklah." Kiba menghela nafas pasrah dan mengambil ranselnya, begitu juga Naruto.
"Mana Sakura?" tanya Naruto, baru sadar kalau Sakura tidak terlihat sejak tadi.
"Eh? Tadi masih ada disekitar sini kok." kata Kiba.
"Sakura!" teriak Sasuke. Hening, tidak ada jawaban, hanya desiran angin yang semakin kencang yang menjawab.
"Sial!" umpat Sasuke. "Cari dia, ada yang tidak beres." perintah Sasuke.
Sasuke dan Kiba segera berpencar mencari Sakura disekitar danau, sedangkan Naruto dan Kabuto mencari didalam hutan. Mereka berteriak memanggil nama Sakura, tapi tidak ada jawaban. Sekitar setengah jam kemudian mereka kembali berkumpul ditempat semula.
"Bagaimana?" tanya Sasuke. Semua menggeleng kepala.
"Sial! dia tidak mungkin pergi jauh, dia tidak tahu seluk beluk daerah ini."
"Aneh, tidak mungkin dia pergi secepat itu. Saat kau bicara tadi aku masih melihatnya ditepi danau sedang memotret." kata Kiba.
Wajah Naruto langsung memucat.
"Ap..apa dia...tidak..tidak mungkin.." Naruto mencoba menghapuskan kemungkinan terburuknya. Tidak mungkin Sakura tenggelam di danau, kalaupun iya, mereka pasti mendengar teriakan Sakura saat terjatuh atau suara air.
"Kita cari dia sekali lagi, mungkin dia masih ada disekitar sini." kata Naruto dan kembali memasuki hutan dibelakangnya.
Naruto P.O.V.
Sial! harusnya tadi aku mengawasi anak itu. Harusnya tadi aku tidak melepas pengawasanku.
Aku kembali memasuki hutan dan berteriak, memanggil-manggil nama Sakura. Beberapa kali aku tersandung karena tidak memperhatikan jalanku.
Perhatianku teralihkan sesaat, saat aku merasa ada yang bergerak disemak-semak. Aku menajamkan inderaku, bersiap kalau-kalau itu adalah binatang buas. Aku menunggu beberapa saat, tidak ada yang keluar dari semak itu.
Aku mendekati semak itu perlahan, tetap dalam keadaan waspada. Aku mengeluarkan pisau lipat yang selalu kubawa dari dalam saku celanaku. Kuingatkan ya, bukan hanya aku saja yang mempunyai kebiasaan membawa senjata tajam, si Sasuke juga, ini untuk keadaan darurat. Seperti saat ini misalnya.
Oke fokus, sekarang aku sedang menyingkirkan semak yang menghalangiku secara perlahan. Saat aku melihat apa yang ada dibalik semak aku membelalakkan mataku,terkejut. Aku melihat Sakura yang tergeletak ditanah dengan darah mengalir dari kepalanya.
Aku segera berlari menuju kearahnya.
"Hei! Saku! kau kenapa? jawab aku!" tidak ada jawaban. Darah dikepalanya terus mengalir. aku menggendongnya dengan hati-hati. Dan segera berjalan keluar dari hutan, ketempat teman-temanku...
TBC
